Janji

Dari hari Kamis minggu lalu, titan menginap di rumah eyang. Titan bilang, dia akan kembali hari senin. Seperti biasa, saya bekali semua keperluan dia sampai vitamin; jadwal dan tentunya ... workbook. Supaya dia mengerti, liburan bukan berarti kebebasan yang sebebas-bebasnya. Masih ada kewajiban belajar dan mengulang pelajaran yang masih harus dia lakukan. Kesannya kejam ya, tapi beneran kok. Workbooknya Titan itu menyenangkan banget untuk dikerjain; jadi saya tidak merasa berdosa mewajibkannya untuk tetap belajar saat liburan :)

Nah, hari ini hari senin. Pagi-pagi saya sudah telfon dia untuk bertanya; apakah dia puasa atau enggak. Karena kalau enggak puasa, saya mau masak makanan kesukaan dia. Ternyata Titan enggak puasa, karena enggak bangun sahur dan dia minta dimasakin ikan dori goreng ala-ala bunda untuk makan malam.

Tiba-tiba, sorenya saya terserang demam dan ikan dori masih tergeletak belum sempat dibumbuin. Karena proses pengolahannya bakalan cepet, saya enggak khawatir sih. Tinggal tabur-tabur garam, lada hitam dan bawang putih bubuk, gulingin di telur dan tepung roti, goreng, jadi deh! Jadi saya biarkan aja si ikan di kulkas dan berniat baru akan diolah saat titan pulang nanti.

Tiba-tiba telfon saya berdering, di ujung telfon terdengar suara isak tangis yang sulit berhenti.

Saya: Halo? Titan?
Titan: *nangis sesunggukan*
Saya: Halo, Titan kalau nangis bunda enggak bisa dengar suaranya. Yuk coba berhenti dulu nangisnya, ada apa?"
Titan: *makin keras nangisnya*
Saya: Titan, yuk coba tarik nafas dulu yuk. Satu, ... tarik nafas ... keluarin lagi. Dua, tarik nafas ... keluarin lagi. Yuk, sekarang cerita sama Bunda kenapa?
Titan: Nda, ... Titan belum pengen pulang *dengan suara patah-patah*
Saya: Oh gituuu ... masih pengen main di sana ya
Titan: Iya ...
Saya: Trus, kenapa nangis? kan kalau masih pengen nginep di rumah eyang, itu artinya titan masih senang ada di sana. Lalu kenapa nangis?
Titan: Soalnya Titan sudah janji sama Bunda pulang hari ini
Saya: Oh gituuu .... Ya udah, terima kasih ya; sudah ingat janjinya.
Titan: Tapi Titan masih pengen nginep di sini, Nda. Boleh enggak?

Seketika saya teringat, saya pernah membahas soal ini sama Titan beberapa waktu lalu. Masalah yang sama, cuma saat itu saya tidak mengabulkan permintaannya HANYA karena dia sudah berjanji untuk pulang pada hari X, hari yang ia tentukan sendiri, dan saya meminta titan untuk berkomitmen terhadap janjinya.

Mungkin, itu sebabnya dia sekarang nangis-nangis di telfon. Takut dimintai pertanggungjawaban dan mungkin males juga harus bersilat lidah dengan emaknya ini, yang pasti enggak akan mudah.
Tapi, di satu sisi, kali ini saya ingin membiarkan dia untuk menginap lebih lama. Toh, menurut laporan dia menunaikan janji-janjinya yang lain seperti ngerjain workbook, minum susu dua kali sehari dan makan sayur. Lagipula saya lagi terserang demam, kasihan kalau dia pulang saya lagi tak berdaya untuk mengajaknya main. Akhirnya, ...

Saya: Oke, boleh kok nginep lagi. Lagipula bundanya lagi sakit, takutnya nanti kita enggak bisa main bareng. Mau sampai kapan?
Titan: Bunda sakit apa?
Saya: *dalam hati seneng juga nih, ditanyain begini. Padahal jelas-jelas tadi saya nanyain mau sampai kapan dia nginep di rumah eyangnya* ... Bunda sakit panas aja, kok. Titan mau sampai hari apa nginep di sana?
Titan: sampai hari Rabu ya, Nda. Bunda cepet sembuh ya.
Saya: Terima kasih ya doanya, sayang. Oke, Titan boleh kok nginep sampai hari Rabu. Bunda tunggu ya ... have fun!

Setelah menutup telfon, saya jadi mikir. Bener enggak sih, tindakan saya? Apakah saya baru saja mentolerir keingkaran janji? Idealnya, seharusnya Titan tetap pulang hari ini. Masalah mau nginep lagi, kan tinggal berangkat lagi balik ke rumah eyangnya. Janji adalah janji dan dia sudah berjanji untuk pulang.

Tapi, di satu sisi, saya sudah cukup bangga dia ingat akan janjinya dan berani berdiskusi untuk meminta dispensasi *walau dengan air mata sesunggukan*

:)

ramadhan 2014, hari #9 : down with typhoid

buka puasa jam 3, karena tiba-tiba badan menggigil dan panas tinggi. 
si bakteri nakal datang kembali. 
Ramadhan 2014, hari #8 : menolak lupa

... tapi jadinya malah lupa. 

setahun yang lalu, perut masih membuncit dengan derita sakit punggung dan pinggang yang luar biasa. tak tahunya, seminggu kemudian lahirlah si bayi mungil. sejak itu, saya lupa apa yang terjadi dan tahu-tahu, hari ini tawaf keliling mall untuk mencari kado ulang tahunnya yang pertama. 

dibandingkan dengan titan dulu, saya hampir ingat setiap milestonesnya. ingat juga hal-hal lucu yang pertama kali dilakukan olehnya. tapi dengan luna, waktu terasa terlalu cepat berlalu sehingga otak saya kurang bisa merekam setiap kejadian. 

apa karena sekarang saya yang mengasuhnya sendiri setiap detiknya? jadi, terlalu banyak hal mengagumkan yang terjadi hingga kapasitas memori saya tumpah ruah? 

tapi biarlah. walau saya lupa, semoga dia ingat kebersamaan kami di setiap detiknya. 
karena saya, tidak lupa rasanya. 




ramadhan 2014, hari #7 : puasa daging, a mind banging. 

agak shock membaca status facebook seorang teman hari ini, tentang alasan dia untuk tidak menjadi golput pada pemilu 9 juli nanti. ada banyak alasan, tapi yang membuat saya tercengang adalah karena dia peduli pada tingkat perekonomian yang lebih baik, yang bisa membuat keluarganya berhenti berpuasa makan daging yang sudah setahun ini tidak dia beli di pasar karena harga daging yang melambung tinggi dan tak kunjung kembali. 

terdengar memprihatinkan, walau saya tahu ia tidak berasal dari tingkat ekonomi yang rendah. ia seorang pns kementrian luar negeri yang baru setahun ini menjejak kembali ke indonesia, bersuamikan seorang pengusaha. anak-anaknya bersekolah di sebuah sekolah internasional di cibubur, dan merupakan salah satu klien financial planner ternama di Indonesia. 

dengan semua latar belakang itu, ... mereka puasa makan daging? 

bukannya nyinyir, tapi sebaliknya, saya kagum. sangat kagum. saya selalu kagum pada orang-orang yang berkomitmen tinggi. memiliki skala prioritas. dari sekelumit latar belakangnya, saya sangat faham bahwa prioritas hidupnya adalah pendidikan anak-anak dan kemapanan ekonomi saat mereka pensiun nanti. demi itu semua, mereka rela puasa makan daging. 

dulu, saat saya lagi 'kepincut' sama barang fancy, saya sering berkelakar tentang sekolah anak saya, apakah sebaiknya saya pindahkan saja ke sekolah yang jauh lebih murah; supaya saya bisa beli kate spade setiap bulan hahaha. kini saya percaya, bahwa ada orang-orang seperti itu. enggak masalah juga, karena ini masalah skala prioritas. setiap keluarga kan punya prioritas masing-masing. 

kalau buat saya (dan ariawan mengamininya), saya memilih untuk berlibur di rumah saja; membatasi jalan-jalan ke mall, demi anak-anak bisa mendapatkan pendidikan terbaik bahkan kuliah dan bekerja di luar negeri. 

tapi apa iya, saya juga harus berpuasa makan daging? masih bingung, tapi kayanya bisa dicoba sih. demi kate spade? *ngarep.com* ... enggaklah, demi anak-anak dan menghabiskan masa pensiun di highbury. 

amin. 

ramadhan 2014, hari #6,7,8 : menyambut sepi

kesepian itu adalah kehilangan 1/3 hati untuk beberapa hari. 
titan menginap di rumah eyang - neni.

:'(
ramadhan 2014, hari #5 : jokowi

coba, facebook siapa yang timeline-nya beberapa bulan ini enggak ramai dengan pendapat politik mulai dari sumber bener sampai sumber caur? dari yang masuk akal sampai akal-akalan, dari yang tadinya teman baik terus jadi sensi-sensian. 

hei, paling tidak, hal itu mengartikan proses pembelajaran demokrasi mulai membaik. hanya saja, bangsa indonesia belum siap untuk go-digital dimana semua pendapat (jadinya) seperti harus dibahas dan dibumbui. that is so much not the point. 
kalau dalam teori komunikasi, lama-lama yang namanya informasi memang akan menjadi semakin tidak jelas. tapi itu yang akan membuat kita, manusia, akan terus dan terus berkomunikasi demi informasi yang paling benar yang kita ingin dengar. 
catat, yang ingin kita dengar. 

so, what's the point of jadi ikutan misuh-misuh di sosmed, kalau pada akhirnya hanya ingin mendengar apa yang kita ingin dengar.  

saya sendiri, bukan fanboy-nya pemberitaan politik. dalam hal ini, pemilihan presiden. bukan juga timses jokowi. tapi karena saya harus memilih, saya akan memilih yang terbaik dari pilihan sampah yang ada: jokowi.

jawabnya simpel. inget postingan saya tentang jalan-jalan naik city tour? nah, itu. hanya karena hal kecil itu: jokowi mampu membangkitkan rasa apatis dan menjinakkan amarah saya terhadap kota jakarta hingga saya berani memutuskan untuk membawa seorang bayi untuk jalan-jalan memanfaatkan fasilitas kota.  jalanan yang bersih dan taman-taman yang kini menjadi lebih baik, hanya dengan mewajibkan setiap gedung untuk merawat tanaman di halaman depan gedung mereka lalu mengizinkan mendirikan sebuah monumen kecil sebagai rasa penghargaan terhadap pihak yang telah memeliharanya. 

buat saya, ketegasan seperti itu yang saya butuhkan. ketegasan yang membawa manfaat. bukan ketegasan otoriter militerism. dengan kata lain, jokowi telah mengembalikan harapan saya pada sebuah kota yang lebih baik untuk membesarkan anak-anak. 

memberi kesempatan lima tahun ke depan untuk pihak lawan, mungkin tidak terlalu berarti bagi saya. siapapun yang menang, buat saya mungkin akan begini-begini saja. tapi lima tahun ke depan, ternyata adalah sebuah waktu yang panjang untuk anak-anak saya. by the time, titan inshaa allah akan berumur 12 tahun dan la luna 6 tahun. sudah berapa milestones yang akan mereka lewati? tentunya banyak sekali. jadi kalau saya golput atau pihak sebelah menang, apakah masa depan anak-anak yang harus saya korbankan? 

tentu tidak, kan? 



ramadhan 2014, hari #4 : redemption

enggak ada orang tua yang sempurna. itu pasti. namun saat kita, orang tua, menyadari kesalahan yang telah kita perbuat terhadap anak-anak, sulit rasanya untuk tidak 'membayar' mereka dengan hal-hal yang mereka sukai. 

rasa bersalah itu terkadang memang mengalahkan segalanya. semakin susah lagi kalau anak sudah mulai mengerti 'pola' orang tua untuk menebus kesalahan. bisa-bisa, kita yang 'habis' dimanfaatkan. 

setiap orang tua sadar nggak sih, dengan keadaan itu? 

untuk menghindari hal itu, saya lebih suka mengajak anak-anak bicara ketimbang membayar mereka dengan hal-hal yang mereka sukai. saya lebih suka menarik mereka ke kamar lalu bicara empat mata tentang kesalahan yang saya buat; atau tentang keadaan yang tidak mengenakkan yang terpaksa terjadi terhadap mereka. saya lebih suka meminta maaf, atau berdiskusi bagaimana untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. dan saat mereka bertanya kenapa kenapa dan kenapa tentang suatu keadaan, terkadang saya lebih lega jika menjawabnya dengan "ya mungkin memang sudah harus begini, sudah kejadian juga, sekarang gimana cara supaya kita semua sama-sama enak." 

membayar kesalahan itu sangat tidak mengenakkan. buat yang bikin salah, atau yang dibayar. karena seringkali kesalahan itu justru tidak terbayar. apalagi kalau kesalahan kita menyangkut dengan waktu yang terbuang. siapa yang bisa bayar waktu? sampai kapan pun enggak akan bisa dibeli untuk kembali. 

as posted in here. 
ramadhan 2014, hari #4 : redemption

enggak ada orang tua yang sempurna. itu pasti. namun saat kita, orang tua, menyadari kesalahan yang telah kita perbuat terhadap anak-anak, sulit rasanya untuk tidak 'membayar' mereka dengan hal-hal yang mereka sukai. 

rasa bersalah itu terkadang memang mengalahkan segalanya. semakin susah lagi kalau anak sudah mulai mengerti 'pola' orang tua untuk menebus kesalahan. bisa-bisa, kita yang 'habis' dimanfaatkan. 

setiap orang tua sadar nggak sih, dengan keadaan itu? 

untuk menghindari hal itu, saya lebih suka mengajak anak-anak bicara ketimbang membayar mereka dengan hal-hal yang mereka sukai. saya lebih suka menarik mereka ke kamar lalu bicara empat mata tentang kesalahan yang saya buat; atau tentang keadaan yang tidak mengenakkan yang terpaksa terjadi terhadap mereka. saya lebih suka meminta maaf, atau berdiskusi bagaimana untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. dan saat mereka bertanya kenapa kenapa dan kenapa tentang suatu keadaan, terkadang saya lebih lega jika menjawabnya dengan "ya mungkin memang sudah harus begini, sudah kejadian juga, sekarang gimana cara supaya kita semua sama-sama enak." 

membayar kesalahan itu sangat tidak mengenakkan. buat yang bikin salah, atau yang dibayar. karena seringkali kesalahan itu justru tidak terbayar. apalagi kalau kesalahan kita menyangkut dengan waktu yang terbuang. siapa yang bisa bayar waktu? sampai kapan pun enggak akan bisa dibeli untuk kembali. 






ramadhan 2014, hari #3 : keep stirring

kadang, kalau hari lagi melelahkan: luna susah makan, titan enggak mau belajar dan enggak mau makan, rumah acak-acakan, kamar mandi belum dicuci, pakaian masih di dalam mesin cuci tak sempat dijemur, suami pulang malam dan lelah, ... namun kami masih berdiri berduaan di tengah malam. mengaduk gula. 

saat semua itu terjadi, cuma satu pertanyaan yang timbul di kepala saya:
"sebenernya worth it nggak sih, bisnis yang sedang saya rintis ini?" 

tapi saat itu juga, suami selalu memberi kekuatan yang luar biasa besar dengan kata-kata sederhananya. 
"dijalanin aja, siapa tahu. karena kita enggak pernah tahu. 
kamu tuh hebat, saat enggak bekerja aja, masih bisa menghasilkan."

enam bulan lalu, awal-awal kesenangan baru ini bermula, saya suka becanda. saya bilang ke suami, saya ingin mengaduk gula sampai la luna kuliah nanti. lucu kan, saat nanti umur kita enam puluhan, kita masih bisa traktir temen-temennya anak-anak. hasil dari mengumpulkan recehan yang sedang kita lakukan hari ini. 

saat saya sedang lelah, ariawan selalu mengingatkan tentang becandaan saya itu. 
"ayo dong, semangat. katanya mau ngaduk sampai luna kuliah."  dan tuhan memang tidak tidur. alhamdulillah banget, berkah ramadhan, minggu pertama di bulan juli ini diawali dengan 25 pesanan. 

saya jadi ingat kata-kata teman baik saya, heikal. 
"it takes courage to start, and a power to stop." 

and so help us, god. 




mendidik anak laki-laki, 
adalah menyiapkan mereka untuk bisa terbang. 
tapi mendidik anak perempuan, 
adalah untuk  mengingatkan mereka agar tidak lupa kembali ke sarang. 

ramadhan 2014, hari #2: mother and daughter

saya dan ibu sedang duduk di meja makan, mereka-reka penganan bukaan yang enak di lidah. seperti biasa, luna mengekor kemana pun saya pergi. 

saya: 
kamu enggak bosan ya lun, ngintilin bunda terus? 
dari lahir, lho. enggak sedetik pun bunda boleh jauh dari kamu. 

ibu saya: 
ya enggak ya lun ya?
apalagi nanti kalau bundanya harus tugas ke luar kota, pasti deh kehilangan. 

habis itu, saya dan ibu membahas sesuatu yang personal tentang lelaki-lelaki kami. dan beliau pun tertawa. terbahak-bahak, sampai saya tiba-tiba tercekat. berusaha mengingat kapan terakhir saya dan ibu tertawa bersama selepas itu. gagal. lupa total. 

iya, ya. 
enggak usah luna, ternyata saya yang sudah berusia 35 tahun pun enggak bisa jauh dari ibunda. dan melihatnya tertawa selepas tadi karena hal yang kecil, membuat saya sadar bahwa yang saya inginkan hanyalah melihat ibu bahagia. namun entah sudah berapa lama saya mungkin melupakan beliau. sibuk dengan kehidupan saya sendiri. 

sekarang, saya punya anak perempuan. 
terkadang ada juga terselip rasa khawatir. well, setiap ibu dan anak perempuannya pasti pernah bertengkar ya. diem-dieman. nah, apakah saya bisa menjadi seperti ibu saya, yang membuat saya ingin terus berdekatan dengannya. apakah saya bisa seikhlas ibu saya, yang tak lelah mendoa dan mau menerima setiap tindakan dan keputusan apapun yang saya buat. ataukah sebaliknya, saya akan menua dalam kesendirian. hanya karena saya terlalu merepotkan atau enggak oke untuk diajak temenan. 

walau rasanya egois untuk berharap anak-anak akan terus 'meriung' masa tua saya nanti, tidak dapat ditampik bahwa perasaan itu ada. 

mendidik anak laki-laki adalah menyiapkan mereka untuk bisa terbang. 
tapi mendidik anak perempuan adalah untuk  mengingatkan mereka agar tidak lupa kembali ke sarang. 

semoga saya bisa menjadi ibu yang lebih baik dari hari ini. semoga saya selalu bisa menjadi  penguat dan sahabat untuk anak-anak saya. seperti apa yang dilakukan ibu saya, untuk saya. 

amin. 

ramadhan 2014, hari #1: hikmah besar dari si kecil

sesuatu yang mampu menghikmah itu memang harus bersifat personal, jadi bisa mengena dan membekas. termasuk juga ramadhan. pesan massive yang diucapkan hampir semua ulama hanyalah pengingat, belum tentu semua orang memaknai hikmah ramadhan dengan cara yang sama. 

begitu juga dengan saya. lupa kapan terakhir mendulang hikmah ramadhan sepenuh hati, yang diiringi dengan perbaikan diri. tapi saya selalu bersyukur setiap ramadhan tiba, karena masih diberi kesempatan untuk bisa berbuka bersama keluarga besar di rumah orang tua. dulu waktu masih bekerja, saya selalu berusaha untuk berbuka di rumah saat buka puasa hari pertama. apakah itu pulang tenggo ataupun sengaja mengambil cuti.


khusus tahun ini, saat menjelang detik-detik terakhir memasuki ramadhan pun, hati saya rasanya hambar. saya kurang tergiur dengan iming-iming bulan pengampunan dosa dan mendulang pahala. karena menurut saya, yang namanya ibadah ya sudahlah mutlak untuk yang di atas. enggak perlu dihitung-hitung dan diharap balasnya. just do it. lalu berserah. kalaupun dibalas, ya alhamdulillah. banget. 


namun demi allah yang maha membolak-balikkan hati. tiba-tiba saya ingin menjalani ramadhan ini dengan lebih baik. jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. titik baliknya adalah karena saya ingat, pada ramadhan tahun lalu saya memiliki seorang anak perempuan. tanggal empat belas juli, tepat di hari ke empat belas ramadhan saat bulan membulat penuh dan saya beri ia nama la luna. kini ia tumbuh besar dan sehat dalam hitungan waktu yang tidak saya sadari. 


melalui ramadhan ini luna mengajarkan saya untuk menjadi lebih baik. diri yang lebih baik untuk saya sendiri. anak yang lebih baik untuk kedua orang tua saya. ibu yang lebih baik untuk anak-anak saya. istri yang lebih baik bagi suami. 


allah memberi hikmah ramadhan hari ini kepada saya, tidak melalui ulama ataupun takbir dan takzim yang agung. tapi melalui la luna, seorang bayi yang kecil. 


the power of waiting

hello, it is been a while.
well, big boy is having a long holiday and little girl has been exercising her little steps. hence, cellphone is away most of the times and laptop has been occupied for the past week. yes, that would include night time; the time slot I used to blog.

so, what's new?

la luna is 11 and 2 weeks already. yesterday, june 26th 2014 was her official day of the ability to walk herself. started with four or five little steps and she gets scared sometimes, but i am sure she will walk independently real soon.

while mum, is officially having her back-ache back. maybe 6 years is a tad long for having a second child. I completely forget every phases of child development and body needs longer time to adjust. yet the joints start clanking and energy has lessen.

yes, in other words: i am aging. 

hitting her first year in a few weeks, there has been a significant emotional leap with la luna. she screams and nags more often than she used to. it is like she is showing the world that there are two queens in the house and she gotta be the number one. ow, chill baby chill. you can be the queen even the mightiest queen, but i - am - your - boss *thunder striking*

while practising her walk, she often finger-points to direct where we should go. but many times, i also have another direction to go just to turn off the lights or get some drink, then comes the conflict: where should we go then?

when it happens, i usually tell her to go with me first and we can go anywhere she likes after. but as predicted she would throw tantrums. so i let myself go off her grip and tell she can go there herself and i will catch her up soon. or, if she wants, she could wait for me. i said i would only take a while and i would be back.

of course, she would cry to see me leaving her. but i hope she will get my point someday: that people have other things to do and she is not the centre of the universe that everyone must evolve around her all the time. and also i hope she would learn that waiting for a moment would not hurt at all. 

anyways,
i said about my laptop has been occupied. did i say it was all about minecraft? hahaha. well yes, for the past year titan has been focussing in two things: titanic and minecraft. i don't mind with the first one, but minecraft was a bit draggy for me because it brought so many problems.

titan knew the game from his cousin, dinda, who is now 12 years old. ariawan downloaded it the first time on his tab, with a demo version. but then problem came along: titan could not get his eyes off the tab the whole weekend, forgetting his meal and shower,  then ariawan erased it off. people are disappointed.

having another style of parenting, dinda's parent bought her a tab that of course has a minecraft apps. at first, titan was so patient looking at dinda building things but then he lost his patient and came another problem : cousins fight.

me and ariawan stayed to our decision, that no matter what happens there will be no minecraft in the house. but then big boy got another solution for his minecraft cravings: he asked his uwak to install minecraft on his computer. so dinda can play on her tab and he can play on uwak's computer. the world was peaceful for a while. of course, because my lovely satellite was missing for hours and days. his eyes were tuned on a computer i could not supervise, because he played it on his uwak's computer at nini's house.

one day, i checked out uwak's computer just to find out what had been going with the minecraft thingy. well, titan built so many amazing things; actually. but my worries came to life, i found that the computer was not protected and was not prepared to share with the kids. so i tell titan not to play again with other people's computer and i promise i will buy him the licensed minecraft so he can go online and build a proper minecraft city with other friends. he looked happy and asked me:
"when?" 
of course, i said "later. but not now". 
"when is later?" he pushed. 
"on june, while you are having a long holiday. but with agreements." 
"like always ya, Bunda."
"like always."
"what are those?"
"there is a time for everything. when is for playing minecraft, when is to have your meals, when is to take shower, and to balance your eyes that has would be tortured; you have to eat veggies and fruits. to balance your right brain in making buildings, you would also have to do the worksheets i will give you be it math or english. in school days, mineraft is only available of weekend; 6 hours a day."
he took a deep breath and said nothing for a while. but then he answered "ok, bismillah. i hope i can do all of those."
"remember, it will only take a little click to uninstall your imaginary world"
"iyaaaaa ... jangan dong!" 

 *hand shake* 

preparing this minecraft thingy was a bit of production. i asked a lot to my friends who are real gamers, because, honestly; i am not a gamer at all. but then the best advice came from titan's other cousin who lives in adelaide: anindya, she is 10 years old and has been playing minecraft for years even for school project. thanks to her, now we got a family-friendly server that has complicated forms just to make sure my son will behave nicely and are waiting for its joining approval (good god, what took them so long to approve us?!) and to add with, i also have my personal minecraft pro handy to catch-up with today's world. 

on june 23rd 2014, after a long waiting phase, titan finally got his own licensed minecraft. his eyes widened when he saw me typed the credit card number on minecraft.net that was ... on sale! *lol, mom will always be mom*  and he screamed as the download done. i promised him that i would learn to play it too as a gratitude for him for putting his top-notch-patient on the highest level. 


i hope someday you will learn that good things comes for those who wait. and i hope you will also respect my effort to learn new things of your generation's.




coins of wish

hari ini pulang sekolah titan bawa celengan yang dia buat sendiri di sekolah.
terus, dia minta koin sama saya.

t:
nda, titan minta koin dong. i want to make some wishes. 

sambil memasukkan koin yang saya kumpulin dari dompet, tas dan sudut-sudut, titan ngomong gini.

t:
i wish ... nda, batuk bahasa inggrisnya apa? cough ya? i wish my cough will be over soon (koin pertama)

i wish, when i grow up, i can be a chef or a captain (koin ke tiga)

when i grow up, i wish i have a big house (koin ke empat)

when i grow up, i wish i will be a rich man and not forgetting god and nice behave (koin ke lima)

when i grow up, i wish i can marry Naira (koin ke enam)

when i grow up, i wish me and Naira can have a big house (koin ke tujuh) 

di sela-sela doanya, saya mengamini setiap harapannya. 

t:
bunda, i still have one coin. it is for you. what do you wish? 

me:
ooo thank you! 
i wish my children to be healthy and happy, 
i wish me and bubu and nini and aki will be healthy too 
so we can watch you and la luna grow big and tall and watch you marry Naira

t:
amiiiiin!



one of that #jleb moment

me:
Tan, kok bunda perhatiin udah lama sih enggak sholat ke mesjid sama aki?

t:
Abis titan sebel, suka dipaksa Iqro sama Aki. Dimarahin, lagi.

me:
oh, gitu. oke.

I feel happy today

I think I have just written about this a few days ago.
Today I had the chance to de-list my uh-so-lazy-to-get-out-of-the-house and meet my besties yana and lita , of course with Luna.

And the moment finally came, when Luna threw tantrums and just could-not-stop-crying and refused to seat in her carseat. She cried almost the whole journey from Matari to Puri Indah Mall, ... and back! I tried to stay calm though, thanks to Yana and Lita who stayed calm too. The only thing I regretted was to let her off her carseat, yet she kept crying anyway.

I knew this day would come. So tomorrow hopefully I am well-trained enough to hear her nags, annoying I-want-my-mommy-tantrums-and-cry... while I am driving. And hopefully, she will learn too that I will never give up.

Thank you Yana for the lovely pic!
Oh, and do you see the beautiful doll in polkadot? Its name is Luna, by @kuklagram (instagram)
Go check their instagram feeds and be prepared to fall in love with their handmade hugs :)




Bussiness Day 2014

Halo halo, ketemu lagi dengan bussiness day tahun ini! Business day tahun lalu, bisa dibaca di sini ya :)

So yes, bussiness daynya titan tahun ini agak berbeda dengan tahun lalu. Kalau dulu kan orang tua harus menyumbang materi jualan selain yang disiapkan oleh murid-murid dan guru. Nah, kali ini, orang tua hanya bertugas untuk mensupervisi aja rangkaian kegiatan yang harus dilakukan anak-anak. So, inilah kira-kira rantai acaranya!

Business day tahun ini diselenggarakan pada hari Jumat, 30 Mei 2014. Nah, kerepotan-kerepotannya dimulai sejak awal Mei. Pertama-tama, anak-anak membuat sebuah perusahaan. Kelasnya Titan ngasih nama Fun Day Market, karena topik term 4 kali ini adalah tentang siang dan malam. Saya ingat suatu hari sepulang sekolah, Titan menghampiri saya dan bercerita nama perusahaan dari dialah yang mendapat voting terbanyak di kelas (wah, emaknya aja belasan tahun jadi copywriter belom pernah berhasil bikin nama brand :D )

Keesokan harinya, Titan dapat copy Surat Perjanjian Kerja yang harus ditandatangani oleh orang tua. Isinya adalah list down pekerjaan-pekerjaan rumah yang bisa dia lakukan di rumah. Setiap harinya ada 10 jenis pekerjaan yang bernilai seribu rupiah. Kerja? Like seriously? Iya, tahun ini mereka harus bekerja untuk mendapatkan modal. Beda dengan tahun lalu dimana modal diberikan dalam bentuk barang oleh orang tua. But me being tough, tanda tangan hanya didapat dengan cara interview. Titan sempat keberatan. Tapi saya bilang, kalau sudah besar; kalau mau kerja ya harus interview dulu. Akhirnya Titan setuju. Interviewnya sama bubu dan harus bikin janji dulu sebelumnya. Titan pun siap tiga puluh menit sebelum waktu yang dijanjikan. Sayangnya, video interviewnya kegedean untuk diupload di sini. Tapi kira-kira beginilah petikannya.

Selamat siang bubu, titan dari fun day market mau bekerja di rumah. Jadi, nanti kan kita juga akan presentasi sama investor, tapi selain itu kita juga harus cari dana. Nah, uangnya didapat dari bekerja. 

Kamu minta digaji berapa?

Tuh, di situ ada kok harganya *dan Titan pun disuruh berhitung* 

Oke, kamu serius mau bekerja? 

Iyalah, kan butuh uangnya. 

Trus kamu mau digaji harian atau bulanan? 

Hmmm... enggak sebulan. Kerjanya cuma dua minggu sampai tanggal 15 Mei.

Wah kerja apaan cuma dua minggu? *sambil becanda ketawa-ketawa*

Kan udah dibilang, kerja buat Fun Day Market *titan jawab serius* 

Oke-oke, kamu diterima kerja di sini. Selanjutnya nanti urusannya sama Bunda ya, dia yang jadi supervisor kamu. Kamu nurut-nurutlah sama supervisor bunda, dengerin setiap instruksi

*Dan mereka pun salaman hahaha*

Keesokan harinya adalah hari presentasi dengan investor. Siapakah mereka? Mereka adalah ibu kepala sekolah dan seorang guru. Investor akan meminjamkan uang satu juta untuk setiap kelas, dan uang itu harus dikembalikan kepada pihak sekolah *bunda smirks*

Saya enggak sempat hadir di hari presentasi. Tapi Titan cerita, the presentation was good. Dia kebagian untuk presentasi mengenai drinks booth.

Beberapa hari kemudian, Titan humming-humming lagu. Awalnya sih belum nyadar lagu apa itu sampai akhirnya dia sendiri yang cerita kalau besok adalah jadwal untuk campaign ke kelas-kelas mempromosikan perusahaan kelasnya. Dan mereka punya jingle sendiri.

Ayo siapa yang lagi lapar? 
Ayo siapa yang lagi haus? 
Ayo ayo, datang ke Fun Day Mart; semua ada semua lezat
Nasi bakar, dimsum, donat, kebab juga ice tea yogurt dan bubble tea
Ayo datang ke Fun Day mart, dari K-1/ B
Fun day mart!

Dan sebelum tidur, dia sempat bilang gini:

Nda, Titan besok jangan sampai lupa ya harus ngomong apa pas campaign ke kelas-kelas.

Lho, gimana sih? Maksudnya Titan mengingatkan diri sendiri ya? 

Iya. 

Emang besok harus ngomong apa? 

For drinks, there will be yogurt, lemon tea and ice bubble!

Nah, itu hafal. 

Iya, Titan udah hafal sih. Cuma takut lupa aja. 

Tenang, pasti bisaaaa ... kalaupun lupa yang enggak papa juga. Santai aja, tapi Bunda yakin Titan sih pasti bisa. 

Hari-hari pun berlalu. Dua hari pertama kerja di rumah sih rajin. Mulai bangun tidur beresin ranjang, naruh cucian kotor, siapin makan dan makan sendiri. Basically apa yang dia kerjain sehari-hari sih, tapi kali ini dibayar. Dan ternyata sama aja, banyak bolongnya hahaha. Akibatnya, Titan cuma dapat tujuh puluh enam ribu rupiah, padahal seharusnya dia bisa dapat seratus lima puluh ribu rupiah.

Dan hari itu pun tiba. Ni anak yang biasanya bangun pagi susah banget, kali ini bangun sedikit lebih cepat. Enggak sabar kayanya mau jualan :D Well, saya sendiri baru bisa datang jam sepuluh sama Luna dan stay di sana sampai toko tutup jam dua belas siang. Ngapai aja saya di sana? Uhm ... bolak balik beli makanan dan minuman hahaha. Beneran, ice bubblenya enyaaaaak!

Good job ya, Titan! Good job kids and teachers!

SPK
The K-1/B Team
Malicca was in HR
The Plan - Do - Review, High Scope's credo

The Business Plan

The Poster Advertisement

Food Corner
Pelanggan Pertama

Opening Song










Thrifty Living

Kehilangan sebagian pendapatan memang enggak mudah. Dan itulah yang terjadi sejak saya memutuskan untuk jadi ibu rumah tangga dan sama sekali tidak bekerja. Kegiatan bebikinan dan freelancing kayanya belum mumpuni untuk dibilang bekerja; karena memang belum stabil dan belum memfokuskan diri ke arah situ.

Setelah ngejalanin, ternyata saya butuh waktu enam bulan untuk menjadi terbiasa dan bisa menari lagi dengan irama yang baru. Agak lama, saya akui.

Manusia, memang seringkali harus dipaksa dulu untuk 'bisa'. Karena itu, penting untuk set-up target harus menyisihkan berapa banyak setiap bulannya. Itu yang bikin saya mau enggak mau jadi harus mau untuk memotong banyak hal yang (mungkin) bisa dibilang kurang penting. Kalau target sih, biasa, dana pendidikan anak hehehe. Karena buat saya dan Ariawan, itu yang terpenting dari semua yang paling penting.

Lalu, gimana menyiasatinya? Saya bukan ahli keuangan, bukan juga frugal mama. Tips yang mau saya share ini lebih ke pengalaman aja.

Hal yang pertama kali saya lakukan untuk bisa menabung lebih banyak adalah dengan memotong pengeluaran. Pos yang mana, saya tahu banget: belanja bulanan. Karena terus terang, saya paling gampang tergoda kalau ke supermarket ketimbang ke department store. Setelah ditilik lagi, ternyata saya banyak melakukan keborosan di sana. Pantas saya jadi agak malas belanja bulanan akhir-akhir ini. Padahal, biasanya saya paling suka melakukan hal itu. Semacam terapi, beli bumbu atau cemilan yang lucu-lucu hihihi.

Apa aja yang bisa di cut? In my case, contohnya gampang banget: shampo! Sebelumnya, saya; Ariawan; Titan dan Luna pakai shampo yang berbeda-beda. Sekarang saya convert shampo saya, Titan dan Ariawan jadi satu shampo keluarga. Begitu juga dengan sabun. Let us just stick to medicated soap yet so gentle for the skin. Exception for Luna, yang masih harus stick to Sebamed karena masih merah-merah dan kering kulitnya kalau pakai sabun & shampo wangi.

*kcring*

Ke dua, pick our battle. Banyak barang yang jenisnya berbeda tapi fungsinya sama aja. Sebelumnya, saya pakai detergen, pengharum dan kemudian pelicin pakaian. Bok, demi baju wangi yang akhirnya pakai parfum juga; akhirnya saya pilih detergen konsentrat yang mengandung pengharum dan pelembut. Supaya tetap wangi, jangan jemur pakaian terlalu lama karena bisa jadi bau matahari.

*kcring*

Ke tiga, belanja sekaligus banyak supaya bisa menghindari belanja-belanja kecil ke minimarket yang berakhir dengan belanja banyak. Ini juga berlaku untuk cemilan anak-anak. So, daripada Titan merengek ke Indomaret untuk sebatang Paddle Pop dan saya berakhir dengan 2 kantong belanja, akhirnya saya nyetok es krim dalam pint di rumah. Begitu juga dengan biskuit dan cemilan lain. Belanja mingguan hanya berlaku untuk sayur dan buah.

Ke empat, minimise luxury. Saya punya 3 kamar mandi yang harus diurus. Sebelumnya, saya merasa harus ada pembersih keramik, tissue toilet dan alat mandi di setiap kamar mandi. Sekarang, pembersih keramik dipakai untuk ketiga kamar mandi. Tissue toilet hanya berlaku di kamar mandi tamu. Alat mandi hanya ada di kamar mandi yang biasa dipakai mandi oleh masing-masing orang. Otomatis, jumlah belanjaan pun berkurang.

Ke lima, downgrade ke merk yang lebih murah tapi tetap berkualitas. Misalnya, tau enggak kalau Neutrogena dan Clean & Clear diproduksi oleh pabrik yang sama yaitu Johnson & Johnson? Dan produk Deep Cleansingnya Clean & Clear menurut saya memberikan efek yang sama dengan Neutrogena tube. Merk L'oreal punya second line Maybeline, yang harganya lebih murah. Pond's age miracle serum tidak kalah bagus dengan serum SK II (paling tidak, mantan klien Pond's saya yang bilang hahaha). In my case, saya ganti sabun cuci muka Clinique dengan sabun muka dari Estetiderma.

PR saya yang masih belum bisa berkurang adalah pemakaian listrik. Dalihnya sih karena saya pakai slow cooker, sterilizer, water heater dan AC yang hampir menyala sepanjang hari. TV sih emang kita keluarga yang jarang nonton TV, so worry not for the box. Tapi masa sih listrik enggak bisa dikurangi juga? Pasti ada deh caranya, somehow somewhat.

Ada yang tahu?






Halo Juni

Beberapa bulan (uhm ... atau tahun ya?) terakhir ini, saya paling males sama yang namanya jalan-jalan yang radiusnya lebih dari 10 kilometer. Semua itu tepatnya sejak saya bekerja di kawasan thamrin beberapa tahun lalu dan terus terbawa sampai sekarang. Kalau ditanya kenapa, jawabnya standar: macet! Iya, jawaban pertama yang terlintas memang pasti yang satu itu. Tapi ternyata, lebih dari itu. Karena jawabannya lebih ke malas daripada ke macet.

Sejak ngantor di kawasan thamrin saya jadi akrab dengan yang namanya teknologi mas ojek. Padahal sebelumnya, saya paling takut sama naik motor. Tapi keadaan memaksa saya untuk memberanikan diri naik ojek ketimbang saya harus bangun lebih pagi untuk bisa bawa mobil sendiri.

Akhirnya, walau sudah pindah ngantor dan lokasinya cuma 5 kilometer; saya kerapkali juga naik ojek. Sudah keenakan kayanya. Tinggal hop in, menikmati pemandangan, sampe deh. Cepat, lagi! Bahkan saat hamil besar pun saya masih suka naik ojek saking malasnyaaaaaa!

Selain itu, bersuamikan Ariawan yang selalu memberikan full-service saat bepergian, membuat saya makin malas lagi. Karena saya tinggal bawa badan dan anak-anak, duduk, disetirin, semua akomodasi dan perlengkapan pasti ditangani sendiri sama Ariawan tanpa pernah ada yang tertinggal atau tercecer. Saya tinggal menyiapkan dan menempatkan semua bawaan di satu tempat. Atau membuat list apa yang harus dibawa dan voila! Semua sudah masuk di bagasi.

Tapi kemudian saya berpikir, saya enggak bisa begitu terus. Lama-lama saya jadi merasa enggak gesit lagi. Lemot pun. Karena itulah, selepas Luna 6 bulan dan sudah bisa pakai carseat menghadap depan; saya langsung ganti carseat. Karena itulah modal utama buat bisa jalan-jalan menunaikan semua kepentingan tanpa harus menunggu weekend tiba dan ngerepotin Ariawan lagi (walau saya yakin seyakin-yakinnya dia tidak merasa direpotkan, ya).

Setelah itu, modal yang ke dua yaitu infant carier. Yes, saya sebenernya lebih suka pakai ini ketimbang bawa stroller. Makanya seneng banget dapat kado baby wrap dari seorang teman. Tapi karena Luna sudah lumayan besar dan berat (8 kiloan), akhirnya sekarang lebih suka pakai infant carier chicco yang kita beli waktu laper mata jaman hamil (untungnya kepake sih hehehe).

Dan di bulan Juni ini, saya berniat untuk memulai lagi jalan-jalan kecil yang bisa memuaskan hati semua. Tentunya, dengan budget yang kecil juga. Minggu ini, kita mengawalinya dengan jalan-jalan mencoba city tour bus.

Kita parkir di IRTI monas lalu jalan kaki ke halte bus Balai Kota. Karena niat awalnya adalah mengunjungi Mesjid Istiqlal setelah selesai touring dengan bis tingkat yang relatif baru itulah, kenapa kita pilih Monas dan bukan Grand Indonesia. Sayangnya, waktu menunggu bus terlalu lama untuk bisa mampir ke Istiqlal. Kakak Titan terpaksa kecewa. Next time ya nak, karena kali ini kita harus buru-buru cari makanan karena belum makan siang. Dari Balai Kota kita ke jalan sabang dan berlabuh di Bakmi Mangga Besar. Bakso gepengnya enak banget, lebih enak dari bakso Afung. Tapi mie dan kwetiaw (yang mereka bilang andalan), menurut saya sih biasa banget. Dari sana, kita melaju ke sentra ikan hias. Kali ini untuk memuaskan hasrat Luna yang lagi senang sama ikan. Dan bener deh, sampe sana mukanya bahagia banget bisa ketemu clown fish, dori, ikan neon dan ikan-ikan lainnya *tepok-tepok dinding akuarium*

Karena peraturannya adalah hanya bisa pergi sekali di sabtu / minggu (mengingat Luna yang masih bayi), besoknya kita piknik di rumah aki yang cuma selangkahan kaki dari rumah. Kebetulan pohon jambu bol memang lagi berbuah dan siap dipanen, pas deh buat manjat-manjat (walau pakai tangga juga sih, hahaha).

Well, semoga bisa terus punya waktu dan energi untuk minggu-minggu selanjutnya. Amin!






Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...