Skip to main content

Halo Juni

Beberapa bulan (uhm ... atau tahun ya?) terakhir ini, saya paling males sama yang namanya jalan-jalan yang radiusnya lebih dari 10 kilometer. Semua itu tepatnya sejak saya bekerja di kawasan thamrin beberapa tahun lalu dan terus terbawa sampai sekarang. Kalau ditanya kenapa, jawabnya standar: macet! Iya, jawaban pertama yang terlintas memang pasti yang satu itu. Tapi ternyata, lebih dari itu. Karena jawabannya lebih ke malas daripada ke macet.

Sejak ngantor di kawasan thamrin saya jadi akrab dengan yang namanya teknologi mas ojek. Padahal sebelumnya, saya paling takut sama naik motor. Tapi keadaan memaksa saya untuk memberanikan diri naik ojek ketimbang saya harus bangun lebih pagi untuk bisa bawa mobil sendiri.

Akhirnya, walau sudah pindah ngantor dan lokasinya cuma 5 kilometer; saya kerapkali juga naik ojek. Sudah keenakan kayanya. Tinggal hop in, menikmati pemandangan, sampe deh. Cepat, lagi! Bahkan saat hamil besar pun saya masih suka naik ojek saking malasnyaaaaaa!

Selain itu, bersuamikan Ariawan yang selalu memberikan full-service saat bepergian, membuat saya makin malas lagi. Karena saya tinggal bawa badan dan anak-anak, duduk, disetirin, semua akomodasi dan perlengkapan pasti ditangani sendiri sama Ariawan tanpa pernah ada yang tertinggal atau tercecer. Saya tinggal menyiapkan dan menempatkan semua bawaan di satu tempat. Atau membuat list apa yang harus dibawa dan voila! Semua sudah masuk di bagasi.

Tapi kemudian saya berpikir, saya enggak bisa begitu terus. Lama-lama saya jadi merasa enggak gesit lagi. Lemot pun. Karena itulah, selepas Luna 6 bulan dan sudah bisa pakai carseat menghadap depan; saya langsung ganti carseat. Karena itulah modal utama buat bisa jalan-jalan menunaikan semua kepentingan tanpa harus menunggu weekend tiba dan ngerepotin Ariawan lagi (walau saya yakin seyakin-yakinnya dia tidak merasa direpotkan, ya).

Setelah itu, modal yang ke dua yaitu infant carier. Yes, saya sebenernya lebih suka pakai ini ketimbang bawa stroller. Makanya seneng banget dapat kado baby wrap dari seorang teman. Tapi karena Luna sudah lumayan besar dan berat (8 kiloan), akhirnya sekarang lebih suka pakai infant carier chicco yang kita beli waktu laper mata jaman hamil (untungnya kepake sih hehehe).

Dan di bulan Juni ini, saya berniat untuk memulai lagi jalan-jalan kecil yang bisa memuaskan hati semua. Tentunya, dengan budget yang kecil juga. Minggu ini, kita mengawalinya dengan jalan-jalan mencoba city tour bus.

Kita parkir di IRTI monas lalu jalan kaki ke halte bus Balai Kota. Karena niat awalnya adalah mengunjungi Mesjid Istiqlal setelah selesai touring dengan bis tingkat yang relatif baru itulah, kenapa kita pilih Monas dan bukan Grand Indonesia. Sayangnya, waktu menunggu bus terlalu lama untuk bisa mampir ke Istiqlal. Kakak Titan terpaksa kecewa. Next time ya nak, karena kali ini kita harus buru-buru cari makanan karena belum makan siang. Dari Balai Kota kita ke jalan sabang dan berlabuh di Bakmi Mangga Besar. Bakso gepengnya enak banget, lebih enak dari bakso Afung. Tapi mie dan kwetiaw (yang mereka bilang andalan), menurut saya sih biasa banget. Dari sana, kita melaju ke sentra ikan hias. Kali ini untuk memuaskan hasrat Luna yang lagi senang sama ikan. Dan bener deh, sampe sana mukanya bahagia banget bisa ketemu clown fish, dori, ikan neon dan ikan-ikan lainnya *tepok-tepok dinding akuarium*

Karena peraturannya adalah hanya bisa pergi sekali di sabtu / minggu (mengingat Luna yang masih bayi), besoknya kita piknik di rumah aki yang cuma selangkahan kaki dari rumah. Kebetulan pohon jambu bol memang lagi berbuah dan siap dipanen, pas deh buat manjat-manjat (walau pakai tangga juga sih, hahaha).

Well, semoga bisa terus punya waktu dan energi untuk minggu-minggu selanjutnya. Amin!






Comments

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…