sudah beberapa hari ini aku selalu terbangun di penghujung malam
di batas hembus terdingin dan diantaranya
salahkan pada perubahan hormonal trimester ketiga
salahkan pada mimpi-mimpi yang kerap berujung nyata
salahkan pada kantung seni yang semakin terhimpit, kemudian menyungai
mengalir sepanjang malam
salahkan pada mereka-mereka yang suka mampir memberi pengingat
kalau sudah begini, aku hanya berserah diri
apa gunanya kantuk jika mata tak kunjung ingin menutup
biasanya aku keluar mencari hangat
si kecil di dalam perut pun biasanya ikut menggeliat
ke kiri, ke kanan, berkecipak bahagia melihat susu coklat hangat
tidak banyak yang kulihat, ... dan aku memang tidak berharap melihat sesuatu yang lain dari biasanya
mata bisa diatur, tapi telinga bersikeras untuk meliar
kudengar dengkur tidur kedua lelakiku, halus dan berirama
lalu dengung dispenser, kelotek musang di loteng, beberapa suara mendebam yang tak kutahu darimana asalnya
malam tiba-tiba menjadi ramai dengan perhelatan suara
dan tiba-tiba, aku jadi mendengar semuanya
aku memutuskan untuk kembali ke kamar
cukup celotek keyboard komputer yang menemaniku malam ini
sudah lama rasanya tidak menulis
merindu dengan rima, bermesra dengan alur pikir maju-mundur, melukis dan merangkai kata-kata, atau sekedar menjatuhkan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab
mungkin benar kata orang, seringkali seni harus lahir dari rasa sakit
kemana rasa sakit itu?
atau karena aku telah hidup berbahagia dibanding tahun-tahun gelapku sebelumnya?
mungkin
atau mungkin terlalu banyak drama tidak penting yang menyempal mulut dan pikiranku setiap harinya
drama media sosial
drama penduduk negara ketiga
drama konflik selebriti dan politik yang sama sekali tidak pernah menarik
aku muak
semuak hari ini aku melihat puncak keapatisan seorang teman, seorang warga, seorang laki-laki dan entah apa lagi namanya:
dua orang abege mengendarai sepeda motor. tanpa helm. motor mogok di tikungan jalan kecil dan mobil pun tidak dapat menyalip. abege 1 sebagai supir tidak tahu apa yang harus dilakukan. ia menggebrak-gebrak soket spedometer berharap mesin kembali menyala. abege ke-2? asyik duduk di belakang dengan mata tak lepas dari gadgetnya. cuek, bahkan kaki asyik menangkring pada pedal dan membiarkan si teman menumpu beban motor dan beban dirinya yang tidak kecil.
menyedihkan. ada apa dengan kita?
Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts
Hujan malam ini
Rintik yang meniti detik
Titik-titik yang menggenjot
tirai malam,
Menyelimuti dunia dengan
dinginnya
Dan menggelitik dengan
embunnya, titik demi titik
Apa yang paling menyenangkan
dari hujan? Untukku, saat bulirnya pertama kali menapak tanah lalu menyerap dan
menguap membawa serta bau tanah dan rerumputan. Ingin rasanya mengumpul
harumnya dalam botol, menutup lalu mendistilasinya. Akan kuhirup baunya, di
suatu saat dimana aku rindu.
Waktu kecil, aku senang
bermandi hujan. Berlari dan menari di tengahnya dan menengadah sambil memejam.
Terasa bulir-bulir menjatuhi muka lalu perlahan menggelosor ke sela kaos dan
celana dalam. Dingin. Satu-satunya cara untuk tetap hangat adalah dengan terus
bergerak. Tertawa. Berbecek-becek menyiprat-cipratkan lumpur ke sekeliling.
Hingga akhirnya mama memanggil dan menyuruhku mandi. Oh, tidak perlu air panas.
Satu lagi yang menjadi kesukaanku. Setelah berhujan-hujan, air bak mandi pasti
terasa hangat. Lalu kuguyur tubuh kecilku banyak-banyak.
Kebiasaanku menyambut hujan
berubah saat remaja. Kini aku lebih suka menunggunya di teras rumah. Menunggu
hujan angin yang kemudian menyapukan butir-butir air lembut ke wajahku. Lalu
aku akan memejam, merasakan bajuku yang mulai lembab. Kemudian kuyup. Lalu
kembali aku mandi dan menggelung di dalam selimut.
Satu dekade kemudian, aku
lebih suka menyambut hujan dengan seseorang. Berdansa di tengahnya sambil
mendengarkan musik kecil dari benang-benang putih yang merasuki telinga. Lalu
aku akan mengalungkan tanganku ke lehernya dan menunggunya menciumku. Atau, aku menciumnya. Tak masalah.
Stop. Tidak pernah kejadian.
Pertama, karena tidak ada
yang rela iPodnya kehujanan.
Ke dua, karena malu dilihat
orang.
Ke tiga, takut ketagihan.
Heran betapa cepat aku
menua. Karena kali ini, di usia ini, di malam ini, di detik ini, yang aku
inginkan di saat hujan malam ini adalah bercerita. Kepada mereka, mahluk-mahluk
kecil yang tak berdosa. Yang akan bergelung, berpasang-pasang kaki saling
menumpang dan menindih dalam satu selimut besar bermotif kotak-kotak dan
terbuat dari kain flannel. Lalu aku bercerita, tentang aku, tentang kakek nenek
mereka, tentang kamu, tentang mereka, tentang mengapa kita semua di sini. Tentang
apa saja.
Itu yang kuinginkan untuk
hujan malam ini.
Sang Penjaga
"Aku sudah memaafkanmu."Kata perempuan itu. Dan saat itu juga, sebuah pintu entah dari mana datangnya tiba-tiba menganga. Lalu menyemburlah bias-bias cahaya yang mendesing beribu sumpah serapah kepada laki-laki di seberang perempuan itu.
Malam itu begitu gelap. Tidak terdengar apa-apa selain derap suara kaki kuda yang sayup-sayup terdengar di kejauhan, namun tidak pernah terlihat wujudnya. Jalan di depan begitu sempit dan tertutup dengan pasir serta rerumputan kering yang merunduk seolah tergilas oleh kereta-kereta kuda yang tak pernah terlihat itu. Setiap kita menghembus nafas, asap kabut mengepul seolah malam itu begitu dingin. Kadang aku menggigil, tapi karena takut. Kutemukan diriku berkeringat, bukan karena langkahku yang menderu; tapi karena dadaku yang berdentam begitu kencang.
Pernahkah kamu mendengar tentang penjaga perempuan? Bukan, bukan perempuan penjaga. Perempuan penjaga, yang aku tahu, begitu cantik rupanya. Ia menjaga setiap insan di dunia. Dialah ibunda, dialah perempuan penjaga.
Sementara penjaga perempuan, tak terperi rupanya. Kamu tidak akan pernah bisa menduga seperti apa rupa penjagamu karena mereka berbeda-beda, tergantung siapa yang mereka jaga. Dialah bentuk terburuk sekaligus terkuat.
Ya, mereka menjaga setiap perempuan yang berdiri di muka bumi.
Dulunya, mereka adalah doa-doa. Mereka melayang-layang dengan lembut di udara. Seperti ubur-ubur lembut di tengah samudra, berenang-renang kesana kemari tak tentu arah. Menunggu. Kadang mereka menggelitik siapapun yang tak sengaja bersentuhan dengannya. Lalu, saat seorang ibu mengejan untuk mengeluarkan setiap bayi bayi dari rahimnya, leher mereka seperti tercekik. Lalu mereka terenggut dan ikut terlahir bersama bayi-bayi tersebut. Hanya saja, dengan bentuk yang jauh berbeda.
Dulunya, mereka juga adalah penjaga laki-laki. Mereka mengajarkan laki-laki bagaimana untuk menjadi berani dan mengajarkan bagaimana menjaga ibu dan semua perempuan-perempuan yang berdiri di muka bumi. Sayang, mereka lalu terbunuh oleh mimpi. Mimpi-mimpi kotor penuh mani yang menggelontor dan menyebabkan mereka tenggelam. Sejak saat itu, laki-laki ditakdirkan untuk menjaga dirinya sendiri. Ya, sendiri.
Sebagian dari mereka tetap menjaga perempuan. Setiap rasa sakit yang dialami oleh perempuan adalah doa yang membuat mereka semakin kuat. Dan setiap menstruasi, penjaga-penjaga perempuan itu seperti terlahir kembali. Mereka tak pernah mati, dan setia melindungi sang perempuan hingga mereka mati.
Tiba-tiba derap kaki kuda itu mendekat ke telinga. Begitu dekat hingga aku menyadari bahwa itu bukan suara derap kaki. Tapi penggal nafas yang terasa panas dan sayup-sayup terdengar ribuan mulut membisikkan sebuah kata berkali-kali, lagi dan lagi.
"Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati...."
Aku teringat sesaat sebelum aku berada di sini. Aku menangis karena sakit. Aku menangis karena cinta. Dan aku menangis karena aku berhasil memaafkan laki-laki yang berdiri di hadapanku.
Aku memaafkannya, tapi tidak dengan penjaga-penjagaku. Dan saat itulah pintu lorong tiba-tiba terbuka dan membawaku kemari, tempat dimana aku harus berperang dengan penjagaku sendiri.
Malam itu begitu gelap. Tidak terdengar apa-apa selain derap suara kaki kuda yang sayup-sayup terdengar di kejauhan, namun tidak pernah terlihat wujudnya. Jalan di depan begitu sempit dan tertutup dengan pasir serta rerumputan kering yang merunduk seolah tergilas oleh kereta-kereta kuda yang tak pernah terlihat itu. Setiap kita menghembus nafas, asap kabut mengepul seolah malam itu begitu dingin. Kadang aku menggigil, tapi karena takut. Kutemukan diriku berkeringat, bukan karena langkahku yang menderu; tapi karena dadaku yang berdentam begitu kencang.
Pernahkah kamu mendengar tentang penjaga perempuan? Bukan, bukan perempuan penjaga. Perempuan penjaga, yang aku tahu, begitu cantik rupanya. Ia menjaga setiap insan di dunia. Dialah ibunda, dialah perempuan penjaga.
Sementara penjaga perempuan, tak terperi rupanya. Kamu tidak akan pernah bisa menduga seperti apa rupa penjagamu karena mereka berbeda-beda, tergantung siapa yang mereka jaga. Dialah bentuk terburuk sekaligus terkuat.
Ya, mereka menjaga setiap perempuan yang berdiri di muka bumi.
Dulunya, mereka adalah doa-doa. Mereka melayang-layang dengan lembut di udara. Seperti ubur-ubur lembut di tengah samudra, berenang-renang kesana kemari tak tentu arah. Menunggu. Kadang mereka menggelitik siapapun yang tak sengaja bersentuhan dengannya. Lalu, saat seorang ibu mengejan untuk mengeluarkan setiap bayi bayi dari rahimnya, leher mereka seperti tercekik. Lalu mereka terenggut dan ikut terlahir bersama bayi-bayi tersebut. Hanya saja, dengan bentuk yang jauh berbeda.
Dulunya, mereka juga adalah penjaga laki-laki. Mereka mengajarkan laki-laki bagaimana untuk menjadi berani dan mengajarkan bagaimana menjaga ibu dan semua perempuan-perempuan yang berdiri di muka bumi. Sayang, mereka lalu terbunuh oleh mimpi. Mimpi-mimpi kotor penuh mani yang menggelontor dan menyebabkan mereka tenggelam. Sejak saat itu, laki-laki ditakdirkan untuk menjaga dirinya sendiri. Ya, sendiri.
Sebagian dari mereka tetap menjaga perempuan. Setiap rasa sakit yang dialami oleh perempuan adalah doa yang membuat mereka semakin kuat. Dan setiap menstruasi, penjaga-penjaga perempuan itu seperti terlahir kembali. Mereka tak pernah mati, dan setia melindungi sang perempuan hingga mereka mati.
Tiba-tiba derap kaki kuda itu mendekat ke telinga. Begitu dekat hingga aku menyadari bahwa itu bukan suara derap kaki. Tapi penggal nafas yang terasa panas dan sayup-sayup terdengar ribuan mulut membisikkan sebuah kata berkali-kali, lagi dan lagi.
"Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati...."
Aku teringat sesaat sebelum aku berada di sini. Aku menangis karena sakit. Aku menangis karena cinta. Dan aku menangis karena aku berhasil memaafkan laki-laki yang berdiri di hadapanku.
Aku memaafkannya, tapi tidak dengan penjaga-penjagaku. Dan saat itulah pintu lorong tiba-tiba terbuka dan membawaku kemari, tempat dimana aku harus berperang dengan penjagaku sendiri.
![]() |
| Photo by Annie Leibovitz |
Anggur terbaik di dunia
Botol anggur merah di hadapanku tiga perempat kosong. Seperempatnya sebentar lagi akan masuk ke kerongkongan dan merayapi saluran cerna sampai akhirnya menyerap dan bersatu dengan detak. Detak dalam detik yang menggelitik otak hingga membuatku mabuk.
Lalu kamu hanya tertawa. Kamu bilang, anggur tidak akan membuatku mabuk.
Siapa bilang aku mabuk anggur? Aku mabuk kamu! Kataku. Tentunya, dalam hati.
Anggur itu minuman para dewa. Mereka yang membuatnya, bukan manusia. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi setelah anggur-anggur itu ditutup dan dibiarkan tanpa usaha. Hingga akhirnya berbagai rasa tercipta dan terasa begitu nikmat saat ia menyentuh ujung bibirmu. Katamu.
Kudengarkan kata-katamu dengan telingaku. Tapi tidak dengan pikiranku. Karena manusia-manusia kecil di dalam kepalaku lebih berani untuk mandiri dan menentukan sikap mereka. Dan kali ini, mereka memutuskan untuk sibuk dengan dunianya sendiri.
Tapi … dewa? Bagiku semuanya justru sangat humanis. Karena membuat anggur itu sama dengan menyimpan perasaanku untuk kamu. Kupetik, dan kusimpan bertahun-tahun. Aku tutup rapat, dan tak pernah kubiarkan alkoholnya bocor ke udara. Hingga saatnya tiba, ia akan meletup dengan sendirinya. Memberi hawa yang membuatmu terlena dan efeknya sama memabukkannya.
Kamu masih terus bicara. Sampai akhirnya kamu berkata. Ah, anggur ini telah membuatmu mengantuk. Oh, berapa kali harus aku bilang. Aku tidak mengantuk. Aku mabuk. Aku mabuk kamu! Kataku. Tentunya, dalam hati.
Tapi kamu tidak akan percaya kalau aku mabuk. Karena menurut kamu, anggur itu tidak memabukkan. Ya, kan? Kamu memang tidak pernah percaya aku. Tapi aku percaya kamu telah kembali. Dan kamu membawa anggur merah yang terbaik di dunia. Untuk aku. Darah yang mengalir dalam nadimu.
©wulliewullie.blogspot.com
Lalu kamu hanya tertawa. Kamu bilang, anggur tidak akan membuatku mabuk.
Siapa bilang aku mabuk anggur? Aku mabuk kamu! Kataku. Tentunya, dalam hati.
Anggur itu minuman para dewa. Mereka yang membuatnya, bukan manusia. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi setelah anggur-anggur itu ditutup dan dibiarkan tanpa usaha. Hingga akhirnya berbagai rasa tercipta dan terasa begitu nikmat saat ia menyentuh ujung bibirmu. Katamu.
Kudengarkan kata-katamu dengan telingaku. Tapi tidak dengan pikiranku. Karena manusia-manusia kecil di dalam kepalaku lebih berani untuk mandiri dan menentukan sikap mereka. Dan kali ini, mereka memutuskan untuk sibuk dengan dunianya sendiri.
Tapi … dewa? Bagiku semuanya justru sangat humanis. Karena membuat anggur itu sama dengan menyimpan perasaanku untuk kamu. Kupetik, dan kusimpan bertahun-tahun. Aku tutup rapat, dan tak pernah kubiarkan alkoholnya bocor ke udara. Hingga saatnya tiba, ia akan meletup dengan sendirinya. Memberi hawa yang membuatmu terlena dan efeknya sama memabukkannya.
Kamu masih terus bicara. Sampai akhirnya kamu berkata. Ah, anggur ini telah membuatmu mengantuk. Oh, berapa kali harus aku bilang. Aku tidak mengantuk. Aku mabuk. Aku mabuk kamu! Kataku. Tentunya, dalam hati.
Tapi kamu tidak akan percaya kalau aku mabuk. Karena menurut kamu, anggur itu tidak memabukkan. Ya, kan? Kamu memang tidak pernah percaya aku. Tapi aku percaya kamu telah kembali. Dan kamu membawa anggur merah yang terbaik di dunia. Untuk aku. Darah yang mengalir dalam nadimu.
©wulliewullie.blogspot.com
Embun Pagi
Pagi yang dingin. Dan batang-batang syaraf di otakku yang setengah beku terbata-bata berbisik kepada tungkai leherku supaya memutar posisinya; supaya kedua bola mataku tak perlu berputar demi menyapa jendela bisu di sampingku. Dia memang bisu, tapi kebisuan selalu bisa menyatakan kesungguhan. Dan benar saja. Kulihat barisan rerumputan yang menampakkan kesungguhan mereka hari ini: menolak upacara penyambutan menyongsong mentari. Bersama dengan embun pagi, mereka saling berdekatan merapatkan barisan. Berhimpitan dan bertindihan; merungkut dan menggelayut di setiap ujung rumput.
Perlahan, jariku bergerak lalu mampir ke bibir kaca yang bisu. Kupejamkan mata dan membiarkan jariku menari, merasakan setiap dingin dan kebekuan di ujung jari. Tak ingin berhenti, hingga kemudian kudengar gema kesunyiannya yang mengalun indah di telinga. Kudekatkan bibirku. Dan kubiarkan ia menyecap tetes embun yang mengkerayapi kebisuan. Dinginnya tak tertahankan, seperti bunga es yang menutupi ujung-ujung syaraf lidah dan membuatnya patah. Hingga tak mampu lagi ia merangkai kata-kata; bahkan yang paling sederhana. Aku menarik nafas panjang. Kata-kata penggambar rasa memang tak pernah sederhana.
Dan pikiranku yang setengah beku pun mencoba untuk merangkak ke belakang, menghinggapi langit semalam yang penuh kesedihan. Sedari senja langit telah menurunkan tirai gelapnya dan seketika itu pula tiba-tiba panggung banjir air mata. Tak ada lagi sandiwara. Tak ada lagi tepuk tangan, meninggalkan penonton-penonton yang menggigil kedinginan. Hingga akhirnya fajar menjelang dan bayang kaki pun menjenjang.
Pagi ini, tak nampak bunga bakung yang biasanya menebar wangi. Tak terlihat cericit burung yang sibuk bernyanyi. Tak muncul pula rama-rama yang sibuk menyedot madu muda kembang tetangga. Tak banyak yang bisa kulihat hari ini, pandanganku terhalang tirai kabut putih yang tebal. Bukan, ... warna kabut bukan putih; tapi pedih. Karena ke arah sana kamu pergi.
Dengan berat, deru nafasku yang hangat mulai menghapus jejak tari jemari. Dan perlahan-lahan tirai pun menggulung, menyisakan kabut tipis yang membubung lalu lenyap ditelan hari. Dan saat itulah mataku terbuka.
Selamat pagi.
©wulliewullie.blogspot.com
Bintang Jatuh
Aku ingin terbang, itulah mengapa aku tak habisnya mencinta bintang. Setiap malam aku hanya bisa menatap tanpa pernah bisa menyapa. Inginkah kamu mengenal bahasanya? Kelip yang disampaikan satu bintang begitu jelas hingga dijawab bintang lain di semesta jagat. Terkadang tabir halus di angkasa pun bermurah hati, membiarkanku melihat mereka menari membentuk satu konstelasi.
Dan saat itu, aku tidak peduli lagi apa itu surga. Tentang sungai susu yang mengalir, tentang tujuh puluh bidadari perawan yang menunggu untuk digilir. Aku tak peduli. Aku mungkin tak percaya. Di sini, Aku sedang menemukan surgaku. Di bawah bentang bintang yang bercakap riang. Dan saat tabir gelap memutuskan untuk menjadi begitu pekat, aku hanya mampu menggeliat dan berharap ini hanyalah satu dari ribuan malam yang tak perlu diingat.
Aku bukan malaikat. Aku tidak punya sayap lebar yang siap mengantarku ke langit ke tujuh. Dan doaku tak sepanjang untaian asmaNYA yang tak henti dilafalkan semesta. Tapi aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya di atas sana. Dan selalu berharap satu bintang akan menjelma.
* * *
Suaraku habis. Setiap pekik membuatku tercekik hingga mataku mendelik. Tak pakai ancang-ancang, tiba-tiba aku menderu kencang. Membelah langit dengan wajah sengit. Hanya awan-awan lembut itu yang menyambut, dan merekalah yang menyapu kalut.
Aku terjatuh.
* * *
Aku tak percaya. Satu bintang menjelma dan ia memanggilku Bunda.
* * *
Aku takut. Aku bergelimang dalam kalut. Aku asing. Aku pusing. Aku panik. Aku menangis sampai tenggorokanku tercekik. Siapa dia yang sedang memelukku? Bola matanya begitu kecil, namun bayangan di permukaannya yang bening terlihat begitu besar. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak mengenal itu dan ini. Namun ia berjanji untuk mengajari, di suatu saat nanti.
* * *
“Selamat tidur Titan”
©wulliewullie.blogspot.com
Dan saat itu, aku tidak peduli lagi apa itu surga. Tentang sungai susu yang mengalir, tentang tujuh puluh bidadari perawan yang menunggu untuk digilir. Aku tak peduli. Aku mungkin tak percaya. Di sini, Aku sedang menemukan surgaku. Di bawah bentang bintang yang bercakap riang. Dan saat tabir gelap memutuskan untuk menjadi begitu pekat, aku hanya mampu menggeliat dan berharap ini hanyalah satu dari ribuan malam yang tak perlu diingat.
Aku bukan malaikat. Aku tidak punya sayap lebar yang siap mengantarku ke langit ke tujuh. Dan doaku tak sepanjang untaian asmaNYA yang tak henti dilafalkan semesta. Tapi aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya di atas sana. Dan selalu berharap satu bintang akan menjelma.
* * *
Suaraku habis. Setiap pekik membuatku tercekik hingga mataku mendelik. Tak pakai ancang-ancang, tiba-tiba aku menderu kencang. Membelah langit dengan wajah sengit. Hanya awan-awan lembut itu yang menyambut, dan merekalah yang menyapu kalut.
Aku terjatuh.
* * *
Aku tak percaya. Satu bintang menjelma dan ia memanggilku Bunda.
* * *
Aku takut. Aku bergelimang dalam kalut. Aku asing. Aku pusing. Aku panik. Aku menangis sampai tenggorokanku tercekik. Siapa dia yang sedang memelukku? Bola matanya begitu kecil, namun bayangan di permukaannya yang bening terlihat begitu besar. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak mengenal itu dan ini. Namun ia berjanji untuk mengajari, di suatu saat nanti.
* * *
“Selamat tidur Titan”
©wulliewullie.blogspot.com
aku
aku ingin menjadi debu
yang melayang di udara dan menyatu dengan bintang di langit biru
sehingga saat kamu merindu, kamu hanya perlu memegang nadimu dan melihat kerlipku bersama dengan kerlip ribuan bintang di langit yang membentang.
dan aku akan datang.
untuk titan, aku mencintaimu dengan segenap hidupku. juga matiku.
23:30
yang melayang di udara dan menyatu dengan bintang di langit biru
sehingga saat kamu merindu, kamu hanya perlu memegang nadimu dan melihat kerlipku bersama dengan kerlip ribuan bintang di langit yang membentang.
dan aku akan datang.
untuk titan, aku mencintaimu dengan segenap hidupku. juga matiku.
23:30
Kabut kalut
Perempuan itu bersidekap, memeluk erat lututnya di depan perapian. Pandangan di keping jendela di belakangnya mengabur terhalang tirai kabut yang menggelayut. Tubuhnya begitu dekat dengan perapian. Mencari hangat. Begitu dekat hingga lidah-lidah api itu hampir menjilat. Ia menunduk dalam-dalam dan mengayunkankan tubuhnya. Ke depan lalu ke belakang. Terus dan terus, seperti ayunan pikiran-pikiran yang tak rela berhenti bermain di kepalanya.
Seprai belacu putih yang menutupi tubuhnya pun luruh mempeloroti punggungnya. Punggung yang kekar, dengan buku-buku tulang tengkuk yang bersembulan. Benjol seperti bayang rembulan di perempat bulan. Dan tersingkaplah pundaknya yang lebar, tempat bersandarnya lelaki-lelaki pelancong yang tak mengerti arah pulang. Lelaki-lelaki renta semangat dan rentan angin malam yang acapkali menerpa di waktu malam.
Dingin. Tubuhnya mengisut seiring angin malam yang tak ampun menghantam tubuhnya. Darah beku sebeku hati terperangkap di dalam pembuluh-pembuluh yang tak lagi lentur. Lidahnya kaku. Bibirnya kelu hingga tak mampu lagi menyecap hangatnya liur lelaki yang tak henti menciumi bibirnya. Lalu pundaknya. Lalu punggungnya.
Menerawang, perempuan itu bertanya lirih. “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
Belum sempat lelaki itu menjawab, perempuan itu menyambung kata-katanya, “… diantara kita?”
Dan lelaki itu menghela nafas panjang dan menyandarkan dagunya di bahu jenjang perempuan itu dan mempererat pelukannya. Matanya menerobos ke sela-sela lidah api yang menjilat ganas. Lidah-lidah api yang menunggunya di ujung kehidupan. Yang akan memanggangnya hidup-hidup sampai ia mati lalu hidup lagi. Dan mati lagi. Matang bersaus dosa.
Seketika mata lelaki itu mencembung, dan lunturlah air matanya. Terseok-seok di pipinya, menghapus semua nafsunya. Dan saat itu, luruhlah tirai-tirai di sekeliling berganti dengan kobaran api yang menggelora menari-nari dan perlahan menjilati tubuhnya.
“Ampun, Tuhan.” Isak dia sambil berbisik lirih.
Sementar itu, si perempuan terdiam. Tak lama, menjelmalah lelaki di hadapannya menjadi seorang anak laki-laki yang menunduk ketakutan. Wajahnya pias. Rambutnya kusut. Matanya yang bulat dan bening berteriak betapa takutnya ia akan apa yang telah dilakukannya. Seperti pencuri tak siap dihukum mati. Mulutnya menganga dan ia terisak tanpa suara. Habis ditelan dosa.
Perempuan itu, dengan hati beku namun tubuhnya penuh dengan kehangatan. Ia beringsut menghampiri anak lelaki di hadapannya. Memegang dagunya dan menatap matanya. Mata mereka pun kini beradu. Saling bercermin di beningnya bola mata yang basah. Menatap dalam-dalam hingga tenggelam. Jauh ke dalam. Sampai kaki mereka tak mampu lagi meliar mencari pijak. Lelah. Pasrah. Menyerah. Dan saat itulah, mereka berbagi nafas yang tersisa.
Tiba-tiba perempuan dingin itu memecah kebekuannya sendiri. Dengan lembut ia berkata, “Kita hanya jatuh cinta. Begitu sederhana.” Lalu dipeluknya si anak sambil terus mengayun. Ke depan lalu ke belakang. Lama-kelamaan lidah-lidah api di perapian itu pun menjelma menjadi sulur-sulur cantik yang menggelepar, lalu pecah menjadi ribuan kupu-kupu. Terbang ke luar jendela melalui celah kecil di dinding yang tak kasat mata.
“Cinta, akan selalu menemukan jalannya. Kalau memang kamu percaya. Dan kalau memang itu betul-betul cinta.” Katanya.
Anak kecil itu mendongak dan hendak menjawab. Tapi segera perempuan itu mendekapnya hangat dan menutup bibirnya dengan jarinya. “Psssst … tidak usah berkata apa-apa. Setiap jengkal dinding ini sudah terlalu sesak dengan guratan rasa dan kata yang pernah kita pahatkan. Kasihan, jangan lagi bebankan ia dengan asa. Sudah. Cukup”
“Tapi ….” Suara anak itu tercekat.
“Aku tahu.” Kata si perempuan memotong kata-kata anak lelaki. “Kamu takut? Aku juga. Tapi kamu harus tahu, di setiap rasa takut hadir sebuah harapan.” Kata perempuan itu sambil mengangkat tangannya ke hadapan si anak lelaki. Dan seekor kupu-kupu putih hinggap di jari tangannya.
“Itulah kenapa kita masih di sini.” Katanya seraya membelai sayap si kupu-kupu.
©www.wulliewullie.blogspot.com
Seprai belacu putih yang menutupi tubuhnya pun luruh mempeloroti punggungnya. Punggung yang kekar, dengan buku-buku tulang tengkuk yang bersembulan. Benjol seperti bayang rembulan di perempat bulan. Dan tersingkaplah pundaknya yang lebar, tempat bersandarnya lelaki-lelaki pelancong yang tak mengerti arah pulang. Lelaki-lelaki renta semangat dan rentan angin malam yang acapkali menerpa di waktu malam.
Dingin. Tubuhnya mengisut seiring angin malam yang tak ampun menghantam tubuhnya. Darah beku sebeku hati terperangkap di dalam pembuluh-pembuluh yang tak lagi lentur. Lidahnya kaku. Bibirnya kelu hingga tak mampu lagi menyecap hangatnya liur lelaki yang tak henti menciumi bibirnya. Lalu pundaknya. Lalu punggungnya.
Menerawang, perempuan itu bertanya lirih. “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
Belum sempat lelaki itu menjawab, perempuan itu menyambung kata-katanya, “… diantara kita?”
Dan lelaki itu menghela nafas panjang dan menyandarkan dagunya di bahu jenjang perempuan itu dan mempererat pelukannya. Matanya menerobos ke sela-sela lidah api yang menjilat ganas. Lidah-lidah api yang menunggunya di ujung kehidupan. Yang akan memanggangnya hidup-hidup sampai ia mati lalu hidup lagi. Dan mati lagi. Matang bersaus dosa.
Seketika mata lelaki itu mencembung, dan lunturlah air matanya. Terseok-seok di pipinya, menghapus semua nafsunya. Dan saat itu, luruhlah tirai-tirai di sekeliling berganti dengan kobaran api yang menggelora menari-nari dan perlahan menjilati tubuhnya.
“Ampun, Tuhan.” Isak dia sambil berbisik lirih.
Sementar itu, si perempuan terdiam. Tak lama, menjelmalah lelaki di hadapannya menjadi seorang anak laki-laki yang menunduk ketakutan. Wajahnya pias. Rambutnya kusut. Matanya yang bulat dan bening berteriak betapa takutnya ia akan apa yang telah dilakukannya. Seperti pencuri tak siap dihukum mati. Mulutnya menganga dan ia terisak tanpa suara. Habis ditelan dosa.
Perempuan itu, dengan hati beku namun tubuhnya penuh dengan kehangatan. Ia beringsut menghampiri anak lelaki di hadapannya. Memegang dagunya dan menatap matanya. Mata mereka pun kini beradu. Saling bercermin di beningnya bola mata yang basah. Menatap dalam-dalam hingga tenggelam. Jauh ke dalam. Sampai kaki mereka tak mampu lagi meliar mencari pijak. Lelah. Pasrah. Menyerah. Dan saat itulah, mereka berbagi nafas yang tersisa.
Tiba-tiba perempuan dingin itu memecah kebekuannya sendiri. Dengan lembut ia berkata, “Kita hanya jatuh cinta. Begitu sederhana.” Lalu dipeluknya si anak sambil terus mengayun. Ke depan lalu ke belakang. Lama-kelamaan lidah-lidah api di perapian itu pun menjelma menjadi sulur-sulur cantik yang menggelepar, lalu pecah menjadi ribuan kupu-kupu. Terbang ke luar jendela melalui celah kecil di dinding yang tak kasat mata.
“Cinta, akan selalu menemukan jalannya. Kalau memang kamu percaya. Dan kalau memang itu betul-betul cinta.” Katanya.
Anak kecil itu mendongak dan hendak menjawab. Tapi segera perempuan itu mendekapnya hangat dan menutup bibirnya dengan jarinya. “Psssst … tidak usah berkata apa-apa. Setiap jengkal dinding ini sudah terlalu sesak dengan guratan rasa dan kata yang pernah kita pahatkan. Kasihan, jangan lagi bebankan ia dengan asa. Sudah. Cukup”
“Tapi ….” Suara anak itu tercekat.
“Aku tahu.” Kata si perempuan memotong kata-kata anak lelaki. “Kamu takut? Aku juga. Tapi kamu harus tahu, di setiap rasa takut hadir sebuah harapan.” Kata perempuan itu sambil mengangkat tangannya ke hadapan si anak lelaki. Dan seekor kupu-kupu putih hinggap di jari tangannya.
“Itulah kenapa kita masih di sini.” Katanya seraya membelai sayap si kupu-kupu.
©www.wulliewullie.blogspot.com
bayang dalam gelap
di batas mimpi
dan embun pagi
rembulan masih menyisakan senyumnya
sisa semalam
dan pagi datang dalam hitungan jengkal
siap mencabik gelap
membangunkan yang masih terlelap
aku?
masih di sini.
terpaku
... berpikir mengapa harus berhenti.kalau memang itu yang harus terjadi.
04:56 am, dalam perjalanan pulang mengejar bayang.
dan embun pagi
rembulan masih menyisakan senyumnya
sisa semalam
dan pagi datang dalam hitungan jengkal
siap mencabik gelap
membangunkan yang masih terlelap
aku?
masih di sini.
terpaku
... berpikir mengapa harus berhenti.kalau memang itu yang harus terjadi.
04:56 am, dalam perjalanan pulang mengejar bayang.
Layang. Terbang. Pulang.
Akulah sang layang. Merentang, membentang, menari-nari di angkasa; gemulai mengikuti kemana angin bertiup. Berteman langit dan pepohonan, berpayung pelangi, bermata embun pagi. Menyapa burung, bernafas debu, telingaku meliar mendengarkan setiap bisikan.
Aku menatap ke kejauhan. Melampaui pandanganmu.
Ada jingga yang menyapaku di penghujung hari. Seraya melambaikan tangannya, ia berkata “Sampai Jumpa!” Dan aku pun tersenyum. “Aku tidak pernah pergi. Aku selalu di sini. Dan kutahu kamu akan datang lagi esok hari.” Kataku dalam hati.
Lalu aku dengarkan ceritamu, burung kecil bersayap mungil. Sayap yang mengantarmu menjelajah angkasa, meniti setiap lekuk angin dan menyecap gelombang dengan ujung jemari kaki.
Dan aku melihat batas biru diantara langit dan pelupuk mataku. Menggelegak, melambai-lambai memanggilku dari jauh. Aku membalas lambaiannya. Aku di sini. Kamu di sana. Ada antara disela-sela. Kamu terlihat begitu damai, tapi aku tidak pernah tahu betapa dalam kamu menyimpan. Aku hanya bisa melihat derumu dan mendengar desahmu. Dan bagiku, itu cukup.
Aku tidak sendiri di kegelapan. Ada jutaan bintang yang bernyanyi mengantarku ke alam mimpi. Dan embun pagi yang menyelimuti sekaligus menepis dahaga di setiap titiknya; membangunkanku di pagi hari.
Akulah sang layang. Dengan ribuan kilometer benang membentang. Rindu terbang.
Aku menatap ke kejauhan. Melampaui pandanganmu.
Ada jingga yang menyapaku di penghujung hari. Seraya melambaikan tangannya, ia berkata “Sampai Jumpa!” Dan aku pun tersenyum. “Aku tidak pernah pergi. Aku selalu di sini. Dan kutahu kamu akan datang lagi esok hari.” Kataku dalam hati.
Lalu aku dengarkan ceritamu, burung kecil bersayap mungil. Sayap yang mengantarmu menjelajah angkasa, meniti setiap lekuk angin dan menyecap gelombang dengan ujung jemari kaki.
Dan aku melihat batas biru diantara langit dan pelupuk mataku. Menggelegak, melambai-lambai memanggilku dari jauh. Aku membalas lambaiannya. Aku di sini. Kamu di sana. Ada antara disela-sela. Kamu terlihat begitu damai, tapi aku tidak pernah tahu betapa dalam kamu menyimpan. Aku hanya bisa melihat derumu dan mendengar desahmu. Dan bagiku, itu cukup.
Aku tidak sendiri di kegelapan. Ada jutaan bintang yang bernyanyi mengantarku ke alam mimpi. Dan embun pagi yang menyelimuti sekaligus menepis dahaga di setiap titiknya; membangunkanku di pagi hari.
Akulah sang layang. Dengan ribuan kilometer benang membentang. Rindu terbang.
sore yang indah
Mereka duduk di beranda. Dengan sebatang rokok di tangan masing – masing. Bara merahnya perlahan melahap puntung tanpa bantuan hisapan. Tak pernah salah satu dari mereka bisa menerka, waktu yang berserak terkumpul menjadi sebuah rasa tanpa disengaja.
Di sebuah sore yang indah.
Di sebuah kafetaria, dia duduk sendiri. Menikmati setiap detik yang bergulir. Tanpa lagi memikirkan kemarin dan hari esok. Bahkan tak ada sisa tadi pagi. Yang ada hanya saat ini, pertama kali dalam hidupnya menjadi sahabat bagi dirinya sendiri.
Di sebuah sore yang indah.
Seorang laki-laki menggelendot manja di pundak seorang perempuan, sibuk menghirup aroma kuduknya. Perlahan tangannya bergerak ke depan, memeluk perempuan itu. Dia tak ingin berkedip, supaya tak akan lepas pandangan darinya. Ingin menikmati setiap sepersekian detik yang tersisa, dia tidak tahu perempuan di depannya berderai air mata tanpa suara. Apa yang selalu diinginkannya kini hadir di depan mata. Tapi bukan untuk waktu yang lama. Dan tak akan jadi miliknya.
Di sebuah sore yang indah.
Satu orang telah berhasil mengerti apa artinya cinta. Saat dia membuka dirinya untuk menjadi sakit dan terpuruk dengan penghianatan orang yang dia percaya.
Di sebuah sore yang indah.
Seorang laki-laki duduk sambil membaca buku. Halaman demi halaman yang membalik dan aksara yang dilafalkannya dalam hati, tak ada yang menempel karena kosongnya hati. Dia tidak percaya mimpi. Dia tidak mengenal fiksi. Tapi tak pernah dia kehilangan harapan akan datangnya sebuah sore yang indah.
Seperti hari ini.
Di sebuah sore yang indah.
Di sebuah kafetaria, dia duduk sendiri. Menikmati setiap detik yang bergulir. Tanpa lagi memikirkan kemarin dan hari esok. Bahkan tak ada sisa tadi pagi. Yang ada hanya saat ini, pertama kali dalam hidupnya menjadi sahabat bagi dirinya sendiri.
Di sebuah sore yang indah.
Seorang laki-laki menggelendot manja di pundak seorang perempuan, sibuk menghirup aroma kuduknya. Perlahan tangannya bergerak ke depan, memeluk perempuan itu. Dia tak ingin berkedip, supaya tak akan lepas pandangan darinya. Ingin menikmati setiap sepersekian detik yang tersisa, dia tidak tahu perempuan di depannya berderai air mata tanpa suara. Apa yang selalu diinginkannya kini hadir di depan mata. Tapi bukan untuk waktu yang lama. Dan tak akan jadi miliknya.
Di sebuah sore yang indah.
Satu orang telah berhasil mengerti apa artinya cinta. Saat dia membuka dirinya untuk menjadi sakit dan terpuruk dengan penghianatan orang yang dia percaya.
Di sebuah sore yang indah.
Seorang laki-laki duduk sambil membaca buku. Halaman demi halaman yang membalik dan aksara yang dilafalkannya dalam hati, tak ada yang menempel karena kosongnya hati. Dia tidak percaya mimpi. Dia tidak mengenal fiksi. Tapi tak pernah dia kehilangan harapan akan datangnya sebuah sore yang indah.
Seperti hari ini.
Lentera Langit
Dulu, dulu sekali. Langit begitu terang benderang dengan kemilau bintang. Semua saling beradu jauh melemparkan cahayanya. Tidak, mereka tidak akan membutakanmu. Cahaya mereka begitu terang, namun juga begitu lembut. Cahaya gemintang itu akan terbias di bola mata mereka yang kamu sayang saat kamu memandangnya.
Di langit yang dulunya terang itulah duduk seorang peri di ujung biduk rembulan dengan cahayanya yang temaram. Sendirian dan kedinginan, ia memandang ke kejauhan. Di belakangnya, menggantunglah lentera-lentera langit malam yang biasa kamu sebut bintang. Dan peri dengan sayap kecil inilah yang menjaga agar lentera-lentera itu agar senantiasa bercahaya. Sayap kecilnya telah mengantarnya menjelajah angkasa selama jutaan tahun lamanya. Ia berkelana mencari bintang-bintang yang mulai temaram. Dan jari-jarinya yang mungil akan menggosok permukaan setiap bintang supaya kembali bercahaya. Dan ia akan mengecupnya, supaya apinya kembali terang. Seperti dulu.
Tiba – tiba sebuah lentera yang menggantung di atas peri itu bergetar hebat. Tanpa ragu-ragu, peri itu segera mengambil ancang-ancang dan siap terbang. Dibungkukannya tubuhnya dan kaki kirinya yang mungil pun maju, bersiap mengambil langkah seribu. Dan … hop! Ia pun terbang. Tapi telat. Lentera yang bergetar hebat itu terlanjur jatuh. Meninggalkan buntut panjang yang berwarna keperakan dan melintas di kegelapan. Dan peri itu hanya menatap diam.
Setiap anak manusia menangis, gugurlah satu bintang di angkasa. Karenanya, hilanglah satu cahaya yang menerangi wajah sang peri. Hanya kamu yang bisa mengembalikan kilau mereka. Melalui tawa dan hangatnya pelukmu.
Fur Titan.
Di langit yang dulunya terang itulah duduk seorang peri di ujung biduk rembulan dengan cahayanya yang temaram. Sendirian dan kedinginan, ia memandang ke kejauhan. Di belakangnya, menggantunglah lentera-lentera langit malam yang biasa kamu sebut bintang. Dan peri dengan sayap kecil inilah yang menjaga agar lentera-lentera itu agar senantiasa bercahaya. Sayap kecilnya telah mengantarnya menjelajah angkasa selama jutaan tahun lamanya. Ia berkelana mencari bintang-bintang yang mulai temaram. Dan jari-jarinya yang mungil akan menggosok permukaan setiap bintang supaya kembali bercahaya. Dan ia akan mengecupnya, supaya apinya kembali terang. Seperti dulu.
Tiba – tiba sebuah lentera yang menggantung di atas peri itu bergetar hebat. Tanpa ragu-ragu, peri itu segera mengambil ancang-ancang dan siap terbang. Dibungkukannya tubuhnya dan kaki kirinya yang mungil pun maju, bersiap mengambil langkah seribu. Dan … hop! Ia pun terbang. Tapi telat. Lentera yang bergetar hebat itu terlanjur jatuh. Meninggalkan buntut panjang yang berwarna keperakan dan melintas di kegelapan. Dan peri itu hanya menatap diam.
Setiap anak manusia menangis, gugurlah satu bintang di angkasa. Karenanya, hilanglah satu cahaya yang menerangi wajah sang peri. Hanya kamu yang bisa mengembalikan kilau mereka. Melalui tawa dan hangatnya pelukmu.
Fur Titan.
pagi itu akhirnya datang juga
angin yang bertiup pelan disela kudukku malah membuatku terbangun, dan aku menatap ke kejauhan
membentanglah lautan biru yang luas berbatas pandang
tak ada fatamorgana
sebuah garis dengan jelas membelah samudra dan langit cantik di atasnya
baru saja, sang awan menumpahkan amarahnya
baru saja, langit menumpahkan tangisnya
angin pun tak kalah gaya, ia ikut mengacaukan segalanya
saling mengejar dan terus menyakiti
sampai akhirnya datanglah matahari
pagi yang indah itu akhirnya datang
dan laut selepas badai memang jauh lebih tenang
aku duduk sendiri
dulu, ada istana pasir di sini
namun sang ombak menjilatnya untuk yang kesekian kali
tanpa perlawanan,
saat ini aku hanya ingin menggenggam butiran yang tersisa
kan kupunguti satu per satu butiran yang menempel di telapak tangan
di sela kuku-kuku
yang berceceran di jalan
untuk kubawa pulang
tapi itu nanti
saat ini aku hanya ingin menikmati
membiarkan ombak-ombak kecil tertawa
membiarkan telingaku meliar
berserah pada angin yang mendesah
inilah titik yang pernah kutanya
titik yang memaksaku berhenti
untuk merasa sakitnya sakit
untuk aku bisa mengerti
dan itulah indahnya menjadi seorang manusia
titik
membentanglah lautan biru yang luas berbatas pandang
tak ada fatamorgana
sebuah garis dengan jelas membelah samudra dan langit cantik di atasnya
baru saja, sang awan menumpahkan amarahnya
baru saja, langit menumpahkan tangisnya
angin pun tak kalah gaya, ia ikut mengacaukan segalanya
saling mengejar dan terus menyakiti
sampai akhirnya datanglah matahari
pagi yang indah itu akhirnya datang
dan laut selepas badai memang jauh lebih tenang
aku duduk sendiri
dulu, ada istana pasir di sini
namun sang ombak menjilatnya untuk yang kesekian kali
tanpa perlawanan,
saat ini aku hanya ingin menggenggam butiran yang tersisa
kan kupunguti satu per satu butiran yang menempel di telapak tangan
di sela kuku-kuku
yang berceceran di jalan
untuk kubawa pulang
tapi itu nanti
saat ini aku hanya ingin menikmati
membiarkan ombak-ombak kecil tertawa
membiarkan telingaku meliar
berserah pada angin yang mendesah
inilah titik yang pernah kutanya
titik yang memaksaku berhenti
untuk merasa sakitnya sakit
untuk aku bisa mengerti
dan itulah indahnya menjadi seorang manusia
titik
Temui aku lagi di sini (2)
selamat malam,
sampai kaku mulutku lelah ribuan kali menyebut
dan bintang yang biasa kusematkan di matamu, kian meredup
tak lagi pendarnya mampu menemani
dan cerita-cerita yang biasa kubisikkan menumpuk
acak-acakan tak berurutan ujung dan pangkal
tirai antara kamu dan aku yang mendesah hangat seperti sinar mentari pagi
membentang laksana jeda di antara dua galaksi
dan putaran bulan mengitari bumi
melintasi matahari, kini dan nanti
perlahan menggumpal mewujudkan aku dan kamu dalam satuan waktu
dan sinar itu pun melesat diantara kedip mata
menyisakan sedikit rasa
sayapmu yang dulunya kecil kini membentang siap menantang
cukuplah aku mengajarimu tentang kebebasan, seperti kamu mengajariku apa arti pulang
saatnya kamu pergi.
temui aku lagi
di sini
sampai kaku mulutku lelah ribuan kali menyebut
dan bintang yang biasa kusematkan di matamu, kian meredup
tak lagi pendarnya mampu menemani
dan cerita-cerita yang biasa kubisikkan menumpuk
acak-acakan tak berurutan ujung dan pangkal
tirai antara kamu dan aku yang mendesah hangat seperti sinar mentari pagi
membentang laksana jeda di antara dua galaksi
dan putaran bulan mengitari bumi
melintasi matahari, kini dan nanti
perlahan menggumpal mewujudkan aku dan kamu dalam satuan waktu
dan sinar itu pun melesat diantara kedip mata
menyisakan sedikit rasa
sayapmu yang dulunya kecil kini membentang siap menantang
cukuplah aku mengajarimu tentang kebebasan, seperti kamu mengajariku apa arti pulang
saatnya kamu pergi.
temui aku lagi
di sini
Temui aku lagi di sini (1)
selamat pagi,
lalu kukembalikan ke langit bintang yang pendarnya menemanimu semalam
dan kulipat cerita-cerita yang kubisikkan di mimpimu
lalu kubuka tirai harimu
agar hangatnya menjemputmu
sampai nanti,
temui aku lagi
di sini
lalu kukembalikan ke langit bintang yang pendarnya menemanimu semalam
dan kulipat cerita-cerita yang kubisikkan di mimpimu
lalu kubuka tirai harimu
agar hangatnya menjemputmu
sampai nanti,
temui aku lagi
di sini
Pulang
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Lalu tanpa ba-bi-bu, ibu jariku mulai menari di atas keypad hibrida handphone dan walkman-ku.
When is your flight? Save flight, get well soon … jangan lupa pulang ya!
Dan tak berapa lama, ciptaan hibrida itu bergetar. Sebuah amplop muncul di permukaannya. Dengan sekali klik, amplop itu mudah sekali digelitik untuk membuka rahasia pengirimnya.
“Thanks, dear friend!”
Dan tiba-tiba Pikiranku pergi meninggalkan raganya. Ia menari dengan leluasa tanpa perlu merasa berdosa. Seperti biasa. Lalu kamu melesat secepat kilat ke ujung langit. Tanpa pamit. Dan meninggalkanku dalam kehampaan. Dalam ribuan kuadrat pertanyaan. Di saat yang sama, di ujung sana, kamu tersenyum ke arahku. “Dari sini, aku selalu bisa memandangmu.” Katamu, masih duduk santai di tepian bintang. Kecil, namun kamu begitu terang di langit malam yang tak lagi perawan. Tak ada lagi selaput kabut yang membatasi. Aku dan kamu.
Pulanglah, pikiranku.
Seperti dia yang kini pulang ke pelukan ibunya. Lalu ia bergelung dalam pelukan erat. Mendekap hangat. Menyusu. Kali ini tanpa nafsu. Mulutnya mencucu sambil mendengarkan irama detak jantung perempuan yang pernah meregang nyawa melahirkannya. Lalu tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir di kedua sudut matanya. Sama hangatnya dengan susu yang sedang mengalir di kerongkongannya. Kehangatan itu mendesis, mengiris-iris sepi di sekujur tubuhnya yang dingin. Terlalu lama diterpa angin. Bukan ia tak ingin pulang. Hanya saja, ia telah lama hilang.
Kenapa kamu inginkan aku pulang? Tanyamu. Masih sambil duduk santai di tepi bintang. Kelap-kelip di tengah gelapnya malam. Pulang. Artinya kembali ke sarang. Tempat dimana seharusnya aku atau kamu tidak pernah merasa terbuang. Tapi kamu yang ingin aku pergi dari kepalamu! Kamu yang mengusirku, ingat? Kata kamu aku bejat. Aku pikiran laknat. Aku harus disunat. Karenanya aku minggat!
Lalu meledaklah tangisnya. Dan saat itu langit seolah menggelegar seperti serpihan kelopak mawar yang tersebar di galaksi. Berkelap-kelip di tengah gelapnya malam, serpihan air matamu menjelma serupa bintang. Yang tak terlihat di langit siang. Yang memang tak pernah muncul di saat aku berpikir terang.
Dan kamu selalu di sana. Dengan wajah malu-malu kamu menampakkan diri dalam kegelapan yang terdalam. Di batas mimpi. Antara sepi dan embun pagi. Antara ingin dan pasti.
Langit terang benderang.
Kegelapan bertabur bintang.
Dan aku berada di kedua ambang.
Kapan kamu pulang? Aku mendesah putus asa. “Kapanpun kamu inginkan, perempuan suci.” Katamu.
Dan aku hanya terpaku. Tergugu. Apalah aku tanpa kamu. Apalah suci tanpa benci. Apalah pahala tanpa dosa. Dan aku tertunduk. Menatapi kakiku yang jenjang dan telanjang. Yang telah menjejak ribuan ranjang.
Dan detik itu juga kamu hinggap di benakku. Melilitku dengan sayap lembutmu. Menggelitikku dengan lidahmu. Menelanjangiku hanya dengan satu kedipan matamu. Lalu aku pun berteriak. Bukan! Bukan minta tolong. Tapi seperti anjing yang melolong. Penuh kerinduan.
Kamu pulang. Dan aku seakan terbang melayang.
Dan aku akan mengejarmu.
Sampai kamu pergi lagi.
Di batas mimpi dan embun pagi, 8 juni 2009, 02:30:57
When is your flight? Save flight, get well soon … jangan lupa pulang ya!
Dan tak berapa lama, ciptaan hibrida itu bergetar. Sebuah amplop muncul di permukaannya. Dengan sekali klik, amplop itu mudah sekali digelitik untuk membuka rahasia pengirimnya.
“Thanks, dear friend!”
Dan tiba-tiba Pikiranku pergi meninggalkan raganya. Ia menari dengan leluasa tanpa perlu merasa berdosa. Seperti biasa. Lalu kamu melesat secepat kilat ke ujung langit. Tanpa pamit. Dan meninggalkanku dalam kehampaan. Dalam ribuan kuadrat pertanyaan. Di saat yang sama, di ujung sana, kamu tersenyum ke arahku. “Dari sini, aku selalu bisa memandangmu.” Katamu, masih duduk santai di tepian bintang. Kecil, namun kamu begitu terang di langit malam yang tak lagi perawan. Tak ada lagi selaput kabut yang membatasi. Aku dan kamu.
Pulanglah, pikiranku.
Seperti dia yang kini pulang ke pelukan ibunya. Lalu ia bergelung dalam pelukan erat. Mendekap hangat. Menyusu. Kali ini tanpa nafsu. Mulutnya mencucu sambil mendengarkan irama detak jantung perempuan yang pernah meregang nyawa melahirkannya. Lalu tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir di kedua sudut matanya. Sama hangatnya dengan susu yang sedang mengalir di kerongkongannya. Kehangatan itu mendesis, mengiris-iris sepi di sekujur tubuhnya yang dingin. Terlalu lama diterpa angin. Bukan ia tak ingin pulang. Hanya saja, ia telah lama hilang.
Kenapa kamu inginkan aku pulang? Tanyamu. Masih sambil duduk santai di tepi bintang. Kelap-kelip di tengah gelapnya malam. Pulang. Artinya kembali ke sarang. Tempat dimana seharusnya aku atau kamu tidak pernah merasa terbuang. Tapi kamu yang ingin aku pergi dari kepalamu! Kamu yang mengusirku, ingat? Kata kamu aku bejat. Aku pikiran laknat. Aku harus disunat. Karenanya aku minggat!
Lalu meledaklah tangisnya. Dan saat itu langit seolah menggelegar seperti serpihan kelopak mawar yang tersebar di galaksi. Berkelap-kelip di tengah gelapnya malam, serpihan air matamu menjelma serupa bintang. Yang tak terlihat di langit siang. Yang memang tak pernah muncul di saat aku berpikir terang.
Dan kamu selalu di sana. Dengan wajah malu-malu kamu menampakkan diri dalam kegelapan yang terdalam. Di batas mimpi. Antara sepi dan embun pagi. Antara ingin dan pasti.
Langit terang benderang.
Kegelapan bertabur bintang.
Dan aku berada di kedua ambang.
Kapan kamu pulang? Aku mendesah putus asa. “Kapanpun kamu inginkan, perempuan suci.” Katamu.
Dan aku hanya terpaku. Tergugu. Apalah aku tanpa kamu. Apalah suci tanpa benci. Apalah pahala tanpa dosa. Dan aku tertunduk. Menatapi kakiku yang jenjang dan telanjang. Yang telah menjejak ribuan ranjang.
Dan detik itu juga kamu hinggap di benakku. Melilitku dengan sayap lembutmu. Menggelitikku dengan lidahmu. Menelanjangiku hanya dengan satu kedipan matamu. Lalu aku pun berteriak. Bukan! Bukan minta tolong. Tapi seperti anjing yang melolong. Penuh kerinduan.
Kamu pulang. Dan aku seakan terbang melayang.
Dan aku akan mengejarmu.
Sampai kamu pergi lagi.
Di batas mimpi dan embun pagi, 8 juni 2009, 02:30:57
Perempuan Sederhana
Dingin pagi itu menggigit. surya yang rabun ayam. Bulu kuduk segera berdiri menyambut tetes embun yang begitu murni. Kusibak jendela. Dan tertatih, perempuan tua itu melewati rumahku. Membawa cangkul, membawa arit dan sekantung karung beras kosong temuan dari tempat sampah. Tentu bukan bekas karung beras miliknya. Mana pernah punya?
...
Mata surya mulai terbuka. Semua denyut kehidupan mulai berdetak. Begitu pula denyut hidupku.
Dan perempuan itu kembali . Kini makin jelas rautnya. Gurat kehidupan menggelayuti matanya. Mengikis senyumannya. Dengan cangkul dan arit di tangan kanan. Dan setengah karung bunga mawar kuburan di kanannya. Hasil petikan di pagi buta. Kakinya yang titpis, lebar dan memekar, bertelanjang menjejak aspal yang mulai panas.
Di depan rumahnya menunggu anaknya. Nongkrong di warung sambil merokok dan minum kopi. ”Hari ini gue pengen makan kepiting, Mak!”
Perempuan itu diam. Diam sediam diamnya batu yang tetap diam terkikis air. Yang hanya diam dikerayapi lumut. Membisu di bawah telapak kaki anjing.
Lalu ia berdoa. Sebuah doa yang sederhana. Ia berdoa, agar banyak orang yang mati hari ini. Lebih banyak dari kemarin. Agar bunganya laku. Agar anaknya bisa makan kepiting.
January 29th 2009
...
Mata surya mulai terbuka. Semua denyut kehidupan mulai berdetak. Begitu pula denyut hidupku.
Dan perempuan itu kembali . Kini makin jelas rautnya. Gurat kehidupan menggelayuti matanya. Mengikis senyumannya. Dengan cangkul dan arit di tangan kanan. Dan setengah karung bunga mawar kuburan di kanannya. Hasil petikan di pagi buta. Kakinya yang titpis, lebar dan memekar, bertelanjang menjejak aspal yang mulai panas.
Di depan rumahnya menunggu anaknya. Nongkrong di warung sambil merokok dan minum kopi. ”Hari ini gue pengen makan kepiting, Mak!”
Perempuan itu diam. Diam sediam diamnya batu yang tetap diam terkikis air. Yang hanya diam dikerayapi lumut. Membisu di bawah telapak kaki anjing.
Lalu ia berdoa. Sebuah doa yang sederhana. Ia berdoa, agar banyak orang yang mati hari ini. Lebih banyak dari kemarin. Agar bunganya laku. Agar anaknya bisa makan kepiting.
January 29th 2009
Tersesat
Aku tidak mengerti kenapa aku ada di sini.
Tiba-tiba aku hanya bisa terkaku. Semua di sekelilingku bergerak begitu cepat. Semua suara-suara di sekitarku berteriak hebat. Dimana aku? Kenapa aku di sini? Siapa kamu? Siapa dia? Apakah kamu sama denganku? Aku sibuk mencari jawaban-jawaban, sementara pertanyaan-pertanyaan tak habis-habis menderu. Sekencang angin yang bertiup ke arahku. Seerat jemariku berusaha berpegang.
Berpegang, … ya berpegang.
Tapi apa yang sedang aku pegang? Jemariku memekar. Tulang-tulang lunak yang mengubungkan ruas demi ruas jariku terasa begitu kaku. Seluruh permukaan tubuhku berkeringat. Aku tidak pernah berdiri di permukaan seperti ini. Kaku, keras, ... warnanya bening. Aku bisa melihat apa di balik permukaan ini. Tanah? Dedaunan? Tembok? ... setahuku, tidak seperti ini bentuknya. Air? Ya, beningnya seperti air. Tapi kenapa bentuknya keras? Bukankah air mengalir dan kita tidak akan pernah bisa berdiri di permukaannya? Aku tidak tahu banyak tentang diriku. Tapi aku tahu, pastinya aku bukan Yesus. Maka aku tak mungkin sedang berada di atas air.
Tiba-tiba , … tak ada lagi angin yang menderuku. Tak ada lagi getaran hebat di permukaan tempatku berjejak. Tiba-tiba semuanya berhenti. Aku menunggu sejenak. Dua jenak. Tiga jenak. Empat jenak. Sampai jantungku berhenti berdetak. Sesaat, tidak ada yang bergerak.
Kuberanikan diri untuk membuka mata.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Tiba-tiba kulihat sebuah mata yang begitu besaaaar dan berwarna merah. Ia menatap tajam ke arahku. Cahayanya berpendar, menusuk bola mataku. Aku segera memejamkan mata. Aku takut. Aku menunduk dalam-dalam. Siapakah kamu? Kenapa matamu besar dan berwarna merah seperti itu? Kamukah malaikat pencabut nyawa? Beginikah caramu memberitahu ajalku sudah tiba?
Sejenak kaki dan tanganku melemas. Aku menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dan tak berapa lama, tiba-tiba aku merasa semuanya bergetar kembali. Angin keras menerpa tubuh dan wajahku kembali. Ah, … kakiku hampir tak menjejak!!! Setengah tubuhku terbang ke udara. Keringat mulai mengucur di sekujur tubuhku. Kini posisiku terbalik, kedua kakiku di udara, tangan dan kepalau bertahan di permukaan yang entah apa namanya. Kurentangkan jari-jariku selebar mungkin, dan kutekan ujung-ujung jari supaya angin tak meniupku. Aku belum ingin mati.
Dan di situlah aku melihat sesuatu di balik permukaan bening ini. Aku melihat mata itu lagi. Tapi kali ini ukurannya lebih kecil dan berwarna hitam. Sepasang jumlahnya. Hey, ... mata itu milik seorang perempuan dan ia sedang menunjuk-tunjukkan jarinya ke arahku. Di sampingnya ada seorang laki-laki. Perempuan itu terus menunjuk-tunjuk diriku, sambil mulutnya berkata-kata. Tapi aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti bahasa manusia.
Dan sejak itu, perlahan angin-angin yang menderuku sirna. Mata-mata merah yang memandangku tak ada lagi saat kuberanikan diri untuk membuka mata. Aku hanya mendengar suara berdebam dan setelah itu ... hening.
Inikah kiamat?
Perlahan aku mulai merayap. Lalu kutemukan lembaran daun yang lebar di hadapanku. Kujajaki perlahan dan … hop! Aku berada di puncak dedaunan rimbun yang permukaanya tertutup air embun. Kujulurkan lidahku. Kurasakan gelembung-gelembung itu memecah dan membasahi tenggorokanku. Aku memang tak tahu banyak tentang diriku. Tapi aku tahu, aku sedang menemukan surgaku.
March 22nd, 2006
Tiba-tiba aku hanya bisa terkaku. Semua di sekelilingku bergerak begitu cepat. Semua suara-suara di sekitarku berteriak hebat. Dimana aku? Kenapa aku di sini? Siapa kamu? Siapa dia? Apakah kamu sama denganku? Aku sibuk mencari jawaban-jawaban, sementara pertanyaan-pertanyaan tak habis-habis menderu. Sekencang angin yang bertiup ke arahku. Seerat jemariku berusaha berpegang.
Berpegang, … ya berpegang.
Tapi apa yang sedang aku pegang? Jemariku memekar. Tulang-tulang lunak yang mengubungkan ruas demi ruas jariku terasa begitu kaku. Seluruh permukaan tubuhku berkeringat. Aku tidak pernah berdiri di permukaan seperti ini. Kaku, keras, ... warnanya bening. Aku bisa melihat apa di balik permukaan ini. Tanah? Dedaunan? Tembok? ... setahuku, tidak seperti ini bentuknya. Air? Ya, beningnya seperti air. Tapi kenapa bentuknya keras? Bukankah air mengalir dan kita tidak akan pernah bisa berdiri di permukaannya? Aku tidak tahu banyak tentang diriku. Tapi aku tahu, pastinya aku bukan Yesus. Maka aku tak mungkin sedang berada di atas air.
Tiba-tiba , … tak ada lagi angin yang menderuku. Tak ada lagi getaran hebat di permukaan tempatku berjejak. Tiba-tiba semuanya berhenti. Aku menunggu sejenak. Dua jenak. Tiga jenak. Empat jenak. Sampai jantungku berhenti berdetak. Sesaat, tidak ada yang bergerak.
Kuberanikan diri untuk membuka mata.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Tiba-tiba kulihat sebuah mata yang begitu besaaaar dan berwarna merah. Ia menatap tajam ke arahku. Cahayanya berpendar, menusuk bola mataku. Aku segera memejamkan mata. Aku takut. Aku menunduk dalam-dalam. Siapakah kamu? Kenapa matamu besar dan berwarna merah seperti itu? Kamukah malaikat pencabut nyawa? Beginikah caramu memberitahu ajalku sudah tiba?
Sejenak kaki dan tanganku melemas. Aku menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dan tak berapa lama, tiba-tiba aku merasa semuanya bergetar kembali. Angin keras menerpa tubuh dan wajahku kembali. Ah, … kakiku hampir tak menjejak!!! Setengah tubuhku terbang ke udara. Keringat mulai mengucur di sekujur tubuhku. Kini posisiku terbalik, kedua kakiku di udara, tangan dan kepalau bertahan di permukaan yang entah apa namanya. Kurentangkan jari-jariku selebar mungkin, dan kutekan ujung-ujung jari supaya angin tak meniupku. Aku belum ingin mati.
Dan di situlah aku melihat sesuatu di balik permukaan bening ini. Aku melihat mata itu lagi. Tapi kali ini ukurannya lebih kecil dan berwarna hitam. Sepasang jumlahnya. Hey, ... mata itu milik seorang perempuan dan ia sedang menunjuk-tunjukkan jarinya ke arahku. Di sampingnya ada seorang laki-laki. Perempuan itu terus menunjuk-tunjuk diriku, sambil mulutnya berkata-kata. Tapi aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti bahasa manusia.
Dan sejak itu, perlahan angin-angin yang menderuku sirna. Mata-mata merah yang memandangku tak ada lagi saat kuberanikan diri untuk membuka mata. Aku hanya mendengar suara berdebam dan setelah itu ... hening.
Inikah kiamat?
Perlahan aku mulai merayap. Lalu kutemukan lembaran daun yang lebar di hadapanku. Kujajaki perlahan dan … hop! Aku berada di puncak dedaunan rimbun yang permukaanya tertutup air embun. Kujulurkan lidahku. Kurasakan gelembung-gelembung itu memecah dan membasahi tenggorokanku. Aku memang tak tahu banyak tentang diriku. Tapi aku tahu, aku sedang menemukan surgaku.
March 22nd, 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
The first time I celebrated my birthday was when I was nine years old. It took me quite sometime to convince my mother how I wanted to have...
-
If only we don’t need any secure feeling, Maslow would not put it in the basic pyramid of human’s needs. But he eventually did, because he k...

