Showing posts with label Count every blessings. Show all posts
Showing posts with label Count every blessings. Show all posts

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.

www.thestorygoeshere-blog.tumblr.com 


Dream.

We need to have dreams.
You know,
something to keep us alive.
Something to look forward of what's in front.

They said.

Ever since, I kept wondering what my dreams are.
I kept looking.
I kept asking.

Until I saw you were dreaming that night
and said my name out loud.
I smiled.

I don't need a dream.
I am happy enough to live a life someone is dreaming about.

Doubled visions.

I experienced the double visions lately. A little accident occurred and needed to have a doctor put a medicated soft lense to heal the cornea faster. Only for a few days.
Hopefully,
my eye gets better,
visions get clearer,
and I am becoming wiser.

Hahaha.

And then I felt funny. I felt everything indeed has double standards.
About what the norms says, what we believe in, what we feel, what we think, nothing is really fixed anyways.

And then I felt the world is slowing down. Suddenly I have much time to do many things. To pray longer, to take care what I have left behind, to say hi to an old friends, to be eager to wait for my kids to do my instructions (if you don't want to call them 'orders' ha ha!).

And then I felt lucky for my life. I felt so blessed surrounded by people who loves me and their persistence to stick around.

Alhamdulillah.


Everyone is facing a battle we don't know.

Pagi hari waktu mau berangkat kerja, sebenarnya badan udah ngilu-ngilu enggak enak dari malamnya. Tapi, teman-teman bilang itu cuma sindrom kerja. It happens all the time. Khususnya, setiap habis liburan. Padahal, di kerjaan ini aku cuma dikontrak 10 hari. Masa iya masih harus punya sindrom juga, padahal udah libur 2 tahun?

Briefing pun berjalan lancar. Alhamdulillah koneksi internet hari ini bersahabat. Telecon dengan 5 negara enggak menemui gangguan apapun selain gangguan konsentrasi; karena team leader di ujung sana mukanya mirip banget sama matt damon. Sigh, ... aren't i too old for this hahaha.

Asik-asik kerja, badan tiba-tiba menggigil. Kirain cuma masalah ac aja. Dengan malu hati, dikeluarinlah wind breaker yang biasa dipake naik ojek jadi penghangat tubuh di ruangan itu. Tentunya, ... enggak stylish banget. Warna turquoise gonjreng juga bikin orang nengok dan bertanya "kedinginan???" ... "Bingiiiiiiits" jawab aku.

Jam 4 sore, udah bener-bener enggak tahan lagi. Segera manggil kamen rider kesayangan alias bang iwan ojek yang untungnya, segera datang. Karena enggak tahan dengan dinginnya kantor, akhirnya aku memilih untuk nunggu di halte pinggir jalan aja. Yap, masih dengan pakaian lengkap dong. Udahlah pakai kaos tangan panjang, long vest, plus wind breaker.

Bang Iwan pun ngebut, demi mencapai apotik terdekat dari rumah untuk beli obat. Di kepala yang udah berat banget ini plus ditambah beban helm, udah jelas mau beli apa. Obat dewa aku cuma cefixime dan pantozol.

Begitu sampai apotik, tanpa lepas helm aku langsung lari ke kasir penerimaan resep. Tapi di sana ada bapak tua yang lagi galau memilih obat. Demi rasa hormat karena dia udah datang duluan, aku tunggu dengan sabar. Bapak itu banyak tanya-tanya, salah satunya bertanya tentang obat platogrik. Aku terhenyak. Oh, itu kan obatnya mamah. Dari situ aku langsung menguping.

Rupanya, platogrik terlalu mahal buatnya. Mungkin, harus dikonsumsi jangka panjang jadi harus dipikirkan konsistensinya. Kemudian si bapak bertanya tentang isi, miligram, merk lain, alternatif ini dan itu. Menelfon, konfirmasi ini dan itu, ada kali setengah jam. Sementara kepala udah beraaat banget. Tapi bapak itu mengingatkan sama orang tuaku juga. Mungkin, eh ... pastinya, ini yang terjadi juga sama mereka. Sakit di masa tua, sedih banget rasanya. Harus mengkonsumsi obat jangka panjang yang sudah enggak lagi ditanggung kantor. Enggak terasa tiba-tiba malah jadi nangis. Rasa amarah dan ketidaksabaran tiba-tiba hilang aja gitu.

I was totally sick. I had a fever for 39,6. I felt bad. But I thank god, I did not make myself even worse by getting angry for the old man. Indeed, everyone is facing a battle we don't know.

Just be nice.
Hope I can always be a nice person. A nice daughter.


Anak perempuan antar ayah ke dokter. Rapinya si ayah.

Anak perempuan antar ibu ke dokter. Pakai kaos kaki warna warni. 


Vitamin Sea

Bubu pengen ngabisin cuti.
Luna lagi seneng nonton Ponyo.
Titan, masih juga keranjingan sama perahu.
Jadi rasanya memang tepat kalau tema liburan kita kali ini adalah P A N T A I

Awalnya, kita berencana untuk ke Belitung. Tapi ternyata setelah tanya-tanya, fasilitas water sport di sana masih kurang mumpuni dan island hoppingnya pun lumayan agak jauh, kurang cocok buat Luna yang masih umur 2 tahun dan takutnya panik saat naik perahu.

Pilihan ke dua sempet tanya-tanya ke roemah pulomanuk  yang ternyata punya si director iklan Isaac Wee. Udah sempat imel-imelan, tapi setelah dipikir-pikir, situasi pantai selatan terlalu hardcore buat anak-anak karena berbatu dan berkarang. Ombaknya yang besar pun lebih cocok untuk para surfer ketimbang bocah-bocah yang kangen laut.

Akhirnya, kita memutuskan untuk pergi ke Pulau Umang. Jauh sih naik mobilnya, tapi Luna bisa survive waktu road trip ke jawa tengah. So, perjalanan 6 jam kayanya sih bakalan aman-aman aja. Naik perahu ke pulaunya pun enggak lama, cuma sekitar 10 menit. Jadi cukup amanlah ya buat Luna dan kayanya cukup mengakomodir keinginan semua pihak. Bisa main pasir, bisa berenang, bisa mancing, bisa naik perahu, bisa water sport.

Dua hari setelah Luna sembuh, kita berangkat. Jam enam pagi dari rumah. Sengaja berangkat pagi supaya anak-anak masih bobo jadi bisa melanjutkan tidur di mobil. Selalu lebih aman begitu daripada nungguin mereka bangun, sarapan trus berangkat. Kemungkinan cranky lebih kecil kalau mereka berangkat tidur malam udah siap dengan baju pergi dan paginya kita angkut sama bantal-bantalnya ke mobil hahaha! Bagian belakang mobil pun sudah disulap jadi empuk dengan tumpukan bed cover.

Bener aja. Anak-anak mulai bangun jam sepuluhan saat kita sudah menembus Pandeglang. Bangun dengan segar lalu asyik ngemil arem-arem dan bloeder bekalan sambil lihat-lihat pemandangan.

Sampai di daerah Sumur sekitar jam 11. Sempat menunggu sebentar sebelum akhirnya kita menyeberang dengan motor boat. Untungnya lagi si pulau umang ini ada parking lot nya dan dijagain 24 jam sama security. Yah, nggak perlu khawatir lah ya.

Pulau Umang memang langitnya enggak sebiru Belitung. Tapi kalau untuk bawa anak-anak, buat saya sih cukup. Anak-anak juga happy banget. Bisa main pasir, bisa berburu kerang cantik, bisa melihat ikan-ikan lucu dari dermaga yang cuma 50 meter dari pantai. Luna juga kesampean liat 'Ponyo' dalam bentuk ubur-ubur mungil. Kita juga sempat main ke Pulau Oar juga yang letaknya bersebelahan dengan pulau Umang.

Untuk resortnya sendiri, maintenancenya memang sudah kendor. Tapi masih terlihat sisa-sisa kejayaan mereka. Agak sayang sih. Tapi buat saya selama ac masih OK dan ada water heater, itu udah cukup.

Buat biaya, kemarin kita dapat harga paket. Untuk 2 orang dewasa 1 anak dan 1 balita; kita kena sekitar 3,2 juta rupiah. Sudah termasuk makan 6 kali dan penjemputan kapal. Untuk trip ke pulau Oar, kita dikenakan harga 50.000 per orang dewasa dan 30.000 untuk anak (batita enggak dihitung). Untuk snorkling, 75.000 per orang.

Yang menyenangkan lagi adalah, stafnya ramah-ramah banget! Di hari keberangkatan kita rajin banget di SMS untuk update posisi, didoain semoga lancar dan juga diingetin untuk makan siang plus dikasih tau spot makan siang yang OK di perjalanan. Sampai di sana pun mereka memantau terus kegiatan kita dan setiap waktu makan kita pasti di SMS kalau makanannya sudah siap. Personal banget, ya. Dan kemarin itu kita beruntung banget memutuskan untuk pergi saat weekdays, karena begitu kita check out datanglah rombongan perusahaan sebanyak 150 orang ha ha ha!

Well, happy happy happy ... kapan-kapan mau kok balik lagi.

Settingannya cocok untuk honeymooners ya hahaha 

Rumahnya sebenarnya terlalu besar untuk kita ber-4 yang senengnya bobo usel-uselan 

Pulau Oar, the snorkeling spot

Sulit dikatakan Luna ngantuk atau khawatir

Kakak Titan's thingy. 

Belajar survival, bagaimana membuat api. 

Bikin kandang umang-umang. Pantes namanya pulau umang, banyak umang dimana-mana. 




Ada botol whiskey nyamperin, kita isilah dengan doa.  
Pulangnya mampir ke Mercu Suar di Carita




All in all, it was happiness for all. Setelah dipikir-pikir, kayanya ini trip liburan pertama yang isinya cuma kita berempat aja. Karena biasanya kalau jalan-jalan kita selalu ajakin aki-nini atau uwak dan ponakan-ponakan.

Ternyata, perlu juga sering-sering pergi liburan berempat aja.

Fridate with the girls




I am a mother goin' out with my mother. 

Jumat kemarin, kita niat pergi agak jauh. Dharmawangsa Square. Well, waktu yang kurang tepat untuk jalan-jalan sih sebenarnya. You know, ... Jakarta's traffic on friday. Tapi karena mood lagi mendukung dan memang ada tujuan yang dicari, yaitu mencari tas sekolah buat kakak Titan yang sudah 3 tahun enggak diganti, akhirnya kita pergi juga walaupun harus menunggu taksi dari jam 11 dan baru dapat jam setengah dua.

Seperti yang diperkirakan, ... macet. Saya lupa ada pembangunan fly over di depan Rumah Sakit Pertamina yang mengekor ke Sinabung dan Barito, rute perjalanan kami. Alhamdulillah, sampai dengan aman enggak pake nagging. Tentunya, berkat nenen sepanjang jalan dan si bocah tertidur pulas.

Sebelumnya udah browsing-browsing sih, tas kaya apa yang bakalan dibeli. Titan memang sangat picky dengan semua outfit yang bakal dia pakai. Sebelumnya sudah ngubek-ngubek Gramedia, tapi enggak ada satu pun tas yang dia suka. Ada sih sempet lirik-lirik Jansport Original yang modelnya vintage gitu, tapi kok ya harganya satu jutaan. Lebay banget, kata bundanya. Mending buat bayar asuransi kesehatan dan sisanya buat kontrol ke dokter gigi hahaha.

Akhirnya kembali ke selera tas dia waktu di TK, Sugar Booger. Ngubek-ngubek instagram, akhirnya nemu perpanjangan si Ore Originals ini yaitu di MomsAndI di Kemang. Tapi kok ya Kemang ya. Jauh sih enggak terlalu, tapi macetnya ... aduhai!
Kemudian saya baru ingat, satu tempat dimana saya membeli Sugar Booger ini pertama kali. Setelah saya google dan dapat nomer telfonnya, itulah kenapa akhirnya kita ke sana langsung. Karena online store-nya enggak update dengan produk terbaru mereka. Nama tokonya Little Toes, di sayap ujung (yang saya selalu lupa sayap sejajar Ranch Market atau justru di ujung lain).

Begitu masuk langsung kalap dengan barang yang lucu-lucu. Si Sugar Booger ini, seperti biasa, lebih banyak koleksi lunch sack dan Kiddie backpack nya yang banyak. Luna juga udah sibuk pilih-pilih. Di pojokan, baru deh kelihatan koleksi zippy backpack yang lebih cocok untuk anak SD. Meskipun enggak selengkap yang saya harap, Alhamdulillah yang kira-kira Titan suka ada di sana. Bahannya kanvas ringan, strap di pundak enggak terlalu lebar, enggak terlalu banyak kantong, ukurannya juga enggak terlalu besar dan enggak terlalu kecil. Cukuplah untuk bawa folder PR dia berukuran kertas folio, dua buku tulis, sarung, peci, snack box dan tempat minum. Dan yang penting, dia pasti suka gambarnya. Dan yang penting lagi, harganya juga masuk akal. Rp. 295.000 aja, jauh lebih murah dibanding harga di website Ore Original. Sedangkan Lunch sack buat Luna, harganya Rp. 200.000

Yeay! Akhirnya dapat juga tas buat si kakak! 
Tapi sebenernya bukan itu aja sih highlight Fridate kita. 

Setelah dapat barang, ktia jalan-jalan sebentar uji nyali ke Tulisan dan ... omagah, hobo yang aku mau adaaaa! Buru-buru lah kita keluar dari toko daripada impulsif beli hahaha. Sekali lagi, mending uang 1,5 juta bisa beli emas 3 gram *kekepin kartu debit*

Dari situ kita lunchie ke Street Canteens, soalnya Luna belum mamam. Sampai sana pesan bihun sop ayam buat Luna dan es jelly. Buat aku dan mamah pesan pempek. Eh ternyata pempek di sana enak juga. Nah, disitulah saya mencuri dengar sambil nyuapin Luna. Jadi, ya .. wajar ya kalau dengernya kepotong-potong hehehe.

Di sebelah saya ada ibu dan anaknya. Si ibu asyik main tab kecil dan anaknya sibuk dengan MacBook Airnya. Anaknya cowok, kayanya sih di tahun akhir SMA atau mungkin sudah lulus. Karena musik yang agak bising, saya enggak bisa jelas mendengar apa yang diomongin si Anak while ibunya mendengarkan sambil terus main gadget.

Ibunya cantik. Umurnya kayanya lima puluhan, tulangnya kecil. Jadi walaupun badannya agak gemuk, tetap terlihat tangan dan kakinya jenjang. Slender, kalau kata orang sana bilang. Dia pakai short overall warna pink lembut dan dalemannya kaos oblong putih yang pas di badan. Rambutnya hitam dan panjang, digulung ke atas.  Enggak pakai bulu mata palsu, enggak pakai make up berat. Cantik, deh. Saya jadi memotret diri saya, apakah saya jadi mamah asyik empat belas tahun nanti. Yang bikin saya tertarik adalah, she looks like a simply straight mom. Di sela-sela percakapan mereka, dia berkata "No, itu salah lu. Harusnya, ... bla bla bla" trus anaknya nerusin omongannya lagi tanpa nada defensive. Trus ibunya nyambung lagi "Dengar. Dengar mama. Kita pengen lu pergi buat belajar. That's it. Pikirin itu." Trus dia langsung melambaikan tangan minta bon. Anaknya langsung terdiam dan menghabiskan minumannya. Saat si ibu berdiri untuk membayar ke kasir, baru deh saya bisa lihat sepatu lucu yang dipakainya: Pump shoes tikus dari Marc Jacob's warna pink. Oh la laaaa, saya pengen banget sepatu itu. Krik krik ... krik krik ....

Asumsi saya, mereka lagi sibuk berdebat soal nerusin sekolah ke luar negeri dan negara mana yang akan dituju. Si anak milih negara yang banyak temen-temennya, ibunya pengen anaknya pergi ke luar negeri buat sekolah dan bukan buat main. Saya membanthin, semoga bisa menabung dan menyekolahkan anak-anak ke luar. Atau, semoga anak-anak tumbuh pintar untuk dapat bea siswa. Amin. Setelah mereka ke luar restoran, saya mulai memakan pempek saya yang sudah dingin karena tadi nyuapin Luna dulu. Sekarang sih luna lagi makan dessert es jelly sama Nini.

Sambil makan mata saya menerawang, dan jatuh ke dua ibu-anak yang lewat di depan restoran. Si anak umurnya tiga puluhan, ibunya mungkin sudah enam puluhan. Anaknya nyante banget, pakai sleeveless long dress warna hitam dengan rambut digulung ke atas. Enggak pakai make-up. Sementara ibunya sasakan, baju rapi dan di tangannya men'cantel' handbag Coach. Kayanya sih mereka dari salon. Seketika saya mikir. Kapan ya, saya bisa berduaan gitu bermewah-mewah sama mamah. Kapan saya ya, bisa beliin mamah tas bermerk. Kapan saya bisa ajak di ke spa untuk pijat, merendam kakinya yang sehari-hari sibuk menyapu dan ke pasar pakai air hangat, disikat dan dikutek. Pijat punggungnya yang sudah pengapuran dengan batu panas dan pijat ala thai.

Mamah saya itu tidak terbiasa memanjakan dirinya. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat bikin reservasi berdua di Puri Santi Spa Cipete. Tadinya sih mau surprise, tapi dia kan gitu. Kalau enggak ada tujuan yang jelas, enggak akan mau pergi dari rumah. Tapi begitu dikasih tau mau diajak ke spa, langsung ditolak mentah-mentah. She is just not used to. She felt awkward. Nyalon? Sama juga. Buat dia nyalon itu cuma untuk potong rambut dan pulang. Pernah saya pesan mbak pijat yang datang ke rumah. Udah hati-hati banget pesannya, terapis yang spesialisasinya pijat Jawa. Eh, sampe rumah malah disuruh ngerokin. Way beyond her skills dan akhirnya Mamah enggak puas juga dengan pelayanannya. Ya wajar, sih.

Setelah kejadian itu, saya enggak pernah lagi kasih-kasih surprise yang 'enggak mamah banget'. Tapi ngasih tas branded buat mamah? Harusnya sih mamah seneng-seneng aja ya dikasih model apapun selama bukan backpack. Tapi ya itu, ... ternyata saya masih sibuk merhatiin keluarga saya aja. Memakmurkan anak-anak. Mengirim mereka kekolah yang baik dan memberi mereka pengalaman di suasana baru.

Itulah bedanya saya dan mamah. Saya cuma mikirin keluarga saya, tapi Mamah bisa mikirin anaknya dan semua keluarga anaknya. Umur memang tidak berbohong ya. Semoga saya bisa bijak kaya mamah nantinya.

Amin. 


Si bocah asyik makan bihun sup satu pot besar

Yes, this is it! Vintage drawings. 

Weekend Getaway


Well, I need to warn you that his post will be cheesy. 
You can stop now, or enjoy my cheesiness. And laugh on it. 


I forgot the last time I visited Bandung.
Maybe, four years ago; if I am not mistaken.
I came with a rumble heart.
I did not do much, and nothing could make me feel missing that town for the next couple of years.
Until last weekend.
When we had to, because of a wedding.

For me, it was more like becoming a chaperone for my parents who insisted to go to Bandung.
Sounds boring, I know.
But it turned out fun, for we treated it like having a holiday.

First thing first for a holiday is, that we all need to have fun. All happy & tired at the same level. Therefore, we decided not to take a car and let the tiredness goes to the driver (only).

Second first thing first is that we all need to explore, trying out new things we never had before. So we delisted the option of renting a car from Jakarta and decided to go by train. Afterall, four out of six people in the house never had the train experience to Bandung before.
Thanks to tiket.com, we finally managed to book the ticket for the long weekend. There was a bit mistake in booking the seats, that we (me, bubu, titan and la luna) went to different compartment with aki and nini. But hey, it turned out to be a bless. When La Luna and Titan got bored, they could walk around to visit aki and nini. Big yeay for Bunda. It is going to be my trick on travelling with toddlers.

Third first thing first for a holiday is that we all want comforts. Since we are six, we need to hire two cabs anyway. So, why don't we all seat together comfortably in an Alphard silver bird and watch the Mayday strike from the big window? The cost is slightly the same with the double blue bird. I feel like a winner for being luxurious and mreki at the same time.
In Bandung, there was a driver who had already waiting for us. He was a very good one. He took small streets and alley ways to avoid the hellish Bandung on weekend so we managed to keep track on our plans. Two thumbs up! You can have his number, just ask me.

Last but not least, that it is very important to make everybody happy. Elders got to the wedding, youngsters got to new places. Since our time was very limited, we could only go to Floating market. But kids got the climax for the holiday: the becak ride!

We were so happy! Tired, but yes ... happy.
The train ride was so exciting and there was a tour guide who told us about the ancient sites like Sasaksaat tunnel (the third longest train tunnel in the world) and Cisomang Bridge (the highest train bridge in Indonesia). The foods were so so, and the cleanliness was a bit poor. But it was okay for a tree hours ride. Still it hurt when the train reached Bekasi and we could start smelling the carbon monoxide.

It had been 17 months since our last holiday, a road trip to Yogya - Solo.
Now I am craving for more.








































The Best



"are you happy to have me as your mom?"

"yes, I am."


"have you ever think of a better mom? 

and you wish her to be your mom? 

"no, you are the best mom."


"you are the best kid also. 

you and la luna are my precious."



we kissed and went to bed. 







A Little Note

Let me take you to one of my emotional post.

Never at once; someone who got married with the reason of building life together, wanted a divorce. But who knows things that would came up along the marriage? A divorce is the last thing someone would do. Not because they are not strong enough. It is because they are tired to wake up on the same day everyday. Maybe, it is because they urge the need of moving on their life.

And so I did.

The best thing of the worst things happened was, we decided it together. We got to the court together. We wrote the testimony together, consulted every lines to each other and made sure they are accepted by both parties.

What we started well must end well.

And here comes the saddest part, our son. God knows the regrets we had, and still having, for what he has been through.  We did mistakes for our marriage, we cannot do mistake to our son.  If anyone would ever asked how me and my ex could still meet each other nicely and peacefully, the answer will only be one: it is because the love for our son is so great. Even greater than the love we have for ourselves that we need to lower down our ego, to be stronger to keep catering the past to the present.

And as everyone wanted, our life moves on. But the past can never be forgotten, can never be erased. For now our past have merged together with the present. I am blessed for having a husband who is open minded to accept my ex to come over to our house for a Fridate with our son. To find someone who loves you and wanted to marry you might be hard. But I can tell you, finding someone who wanted to marry you and love not only you but also the ones you love, is way harder. And I am blessed once again for finding one.

I remember the letter my son wrote for his step father on father's day last year.
"Terima kasih Bubu, sudah kasih tahu Titan kalau Titan salah. Terima Kasih. Happy Bubu's day"

:')

Today, I found he wrote another letter. Not for me or his bubu, it was for his cousin. But he showed me and he made me smile.  He wrote about what he likes, what makes him feel bored, what the weird things happening, and most important is how he live a happy life and live a happy family.

Our life might not perfect, Malicca. But your happiness is what I can always promise you that I will try my best. Let's be happy with our limitations. Let's make peace with ourselves and all the things or people we ever hate.

7 y.o big brother lulled her 1,5 y.o little sister while mom was driving.

The little note.

What I always witness before bed time. 



...

I am blessed.
Thank you God, for giving such kind and wonderful people in my life.
Having them makes me think that no such little hatred deserves a space in my brain.


Responsibly Happy


Menjelang tahun baru 2015, kami sekeluarga mengalami perubahan-perubahan besar. Perubahan yang membiasakan kami untuk hidup lebih 'seadanya' dengan mengurangi fasilitas-fasilitas yang berlebihan. Kenapa? Karena ternyata tanpa kita sadari, selama ini kita hidup terlalu manja. Baik anak-anak maupun saya. 

Mulai Masak Sendiri

Sebenernya agak malu cerita tentang hal yang satu ini: sekian tahun berumah tangga dan punya rumah sendiri, baru sekarang pontang-panting nyiapin asupan makanan buat sendiri, suami dan tentunya anak-anak.

Lah, ... emang selama ini begimanaaaaaaa?

Nah, ini nih bagian malunya. Karena saya selama ini bekerja, jadinya urusan makan malam dan makan anak-anak saya catering sama ibu. Bukan saja karena lebih simpel, tapi karena masakan ibu saya luar biasa enaknya (ya, menurut saya sih ... anaknya! Hahaha). Paling weekend saya masak lucu-lucuan, atau masak buat anak-anak. Sisanya mah ... cincay! 

Nah, sejak pertengahan Desember 2014 lalu, saya memutuskan untuk berbelanja dan memasak sendiri saja. Sudah saatnya saya menjadi istri dan ibu yang lebih bertanggung jawab terhadap makanan orang-orang rumah. Setiap weekend, saya dan suami belanja kebutuhan untuk seminggu ke depan di pasar basah. Memilih binatang- binatang yang akan kami konsumsi lima hari ke depan plus beli bumbu-bumbu. Saya ingat betul belanja perdana saya untuk kebutuhan dapur yang masih nol hanyalah sekitar tiga ratus lima puluh ribu saja. Tentunya belum termasuk sayur, yang saya pikir lebih baik beli harian aja di tukang sayur supaya masih segar saat dimasak. Kami pulang setelah berhasil memenuhi 2 tas envirosax kami (duh, mesti banget ya disebut merknya? Hahaha ... karena belanja di pasar juga harus tetap gaya!) dengan ikan, udang, cumi, ayam dan bumbu-bumbu. Hari itu, saya memasak perdana dengan menu tenggiri bakar bumbu kuning. Ih, hebat ya? Hahahaha ... sama sekali enggak. Terima kasih sama uda penjual bumbu, saya tinggal bilang "Uda, minta bumbu ikan bakar 3000 ya!" 

Untuk belanja bulanan di Superindo, saya pecah menjadi belanja 2 mingguan. Belanja sayur harian di tukang sayur yang tidak menghabiskan lebih dari sepuluh ribu,  beli telur 1 kg untuk satu minggu di warung depan dan beli roti di Indomaret atau Alfa Mart sebutuhnya saja. Biasanya sih mampir ke sana setelah jemput Titan dari sekolah. Oh iya, belanja kecil-kecil di Indomaret ini ternyata kalau dikumpul-kumpul jadi jajanan mahal, lho! Untuk menyiasatinya, saya beli kartu Indomaret yang bisa di top - up di ATM. Jadi setiap bulan jajanan Indomaret sudah ada platformnya. Lumayan juga kartunya bisa dipakai buat e-toll :) 

Dengan masak sendiri ini, Alhamdulillah kita semua belajar banyak. Karena suami enggak suka makan makanan ala carte yang kebule-bulean (padahal itu yang gampang dimasak hahaha), saya harus belajar masak makanan Indonesia. Walau akhirannya lebih banyak tumis sih, hehehe. Yang jelas, Ariawan membawa bekal makan siangnya sendiri. Biasanya, bekal ke kantor ini adalah left-over foods dari dinner semalam. Kalau kebetulan habis, baru deh masak lagi, jadilah musti bangun lebih pagi. 

Selain itu, mulai juga mikir tentang menu sehat yang minimal minyak. Rebus dan bakar, kalau bisa. Buat nasi, saya campur beras putih dengan sedikit beras merah menjadikannya beras pink yang lucu hahaha. Titan yang picky eater, Alhamdulillah kebiasaan makannya mulai membaik. Makan apapun yang bundanya masak, suka atau enggak suka. Karena ibunya ini sudah terlalu lelah kalau harus masak menu yang berbeda lagi buat dia. Tentunya pilihan menu juga enggak aneh-aneh sih. Dikira-kira aja yang anak-anak bisa suka. 

Buat menghemat waktu dan siap-siap kalau kepepet, saya selalu menyimpan tempe / tahu bacem dan ayam segar berbumbu di lemari es. Kapanpun dibutuhkan, tinggal buka container trus goreng. Kalau lagi males masak, kadang pesen juga sih ke delivery Sederhana atau makan di luar hahaha.

Cutting off the bills

Kemanjaan kita berikutnya adalah ketergantungan terhadap water heater. Ow yeah. Akibat tagihan listrik yang melonjak akhir-akhir ini karena memang TDLnya naik, akhirnya kabel water heater pun saya cabut. Tadinya sih cuma pengen tahu aja, apakah setelah dadah-dadah sama air hangat tagihan listrik bisa berkurang. Eh, ternyata benar, tagihan listrik berkurang tiga puluh persen. 

Awalnya sedih juga, kasihan luna yang masih umur satu tahun. Kasihan Titan yang harus mandi pagi dengan air dingin. Tapi ternyata, Alhamdulillah Luna baik-baik aja. Dia malah seneng banget bisa main di bawah keran. Dan Titan, sejak mandi pakai air dingin, mandi paginya jadi super cepat dan akhirnya ke sekolah pun tidak lagi telat. Super yeay!

Tinggal first media aja nih, langganan TV kabel tapi enggak pernah ditonton. Mau diputusin, kita masih butuh internetnya. Karena kalau hanya berlangganan internet aja, justru lebih mahal jatuhnya. Bisa enam ratus ribuan per bulan. So, ya sudahlah ya kita merem aja. 

So yeah, these are just the beginning of our thrifty lifting journey. Semoga besok-besok bisa lebih menghargai seadanya hidup, menghargai apa yang ada. 

Amin. 




uda - uda si jago bumbu

sayur lodeh, ikan asin, sambel, tempe dan empal goreng

bekal kakak titan

temen weekly shopping

The last day of 2014

i am not the kind of person who make new year's resolution. maybe because i know those would only be plans. maybe because i have learnt, that if you want something; you would have did it already.

i am the kind of person who prefer to reflect, or make reviews of what i have gone through.
like today, the last day of the year 2014.

two thousand and fourteen has been generous. it gives me experience being a full-time mom. it has been luxurious, though i struggled for quite sometimes. now i can enjoy it better. i start to have the acceptance of me not being updated or less exposed with news. i start to accept the single income situation and have become the expert of cutting off budgets and wish-lists.

when you don't know, things are much simpler. 

two thousand and fourteen has been a detour of my parenting style. has been a not-so-cool mom , because i have just realised there are so many things i have missed in nurturing and growing titan and la luna yet i tried to catch up within a short period of time.

and it was not good. 

about chances, two thousand and fourteen has given me the chance to achieve what every mothers in the world dream of: working in pajamas. i also had the chance to start my own small home industry, and it has been a great growth.

dream comes true? or dreams are about to be made?

about time, two thousand and fourteen gave me a major turn-over about the time for myself. the time to browse internet, to have a long-hour lunches, long-chat with strangers and close friends; the time i had been having for 34 years. last year i learnt to surrender myself to pieces. to listen and do things at the same time. saying the same thing over and over, almost every day, almost every hour. i miss me, to be honest. but me is what i have for the rest of my life.

worry, i should not. there is time for everything.  

two thousand and fourteen was also the year of thorough contemplation and what-if wonders about retirement. twenty years from now will not be a long time, and i have not prepared it. thus, these topic links back to the parenting detour: that i don't want to create hassles for my kids during my old days. i want to be independent with independent income, and so i can enjoy my retirement and my children can enjoy their time building their own families and their personal agendas.

amien to that. 

so yes,
i hope 2014 has brought you good too and i am sure the best are yet to come in 2015.
happy new year!


The last sunrise of 2014, taken from titan's window. 

mubarak wish

Semakin tua (nunjuk diri sendiri), lebaran itu malah bikin sedih. Jauh dari kehebohan beli baju baru atau rencana bepergian. Lebaran itu ... seperti bom waktu dimana kebersamaan bersama keluarga seperti yang selalu aku rasain bisa saja tiba-tiba berakhir.

Semakin tua, lebaran malah jadi semakin sepi. Anggota keluarga yang datang dan pergi meninggalkan kami yang tersisa. Tapi Alhamdulillah, selama 34 tahun lebaranku selalu didampingi dan mendampingi kedua orang tercintaku, mamah dan bapak. Ditambah lagi dengan satelit-satelitku yang mampu menjaga gravitasi sehingga aku tetap bisa mengorbit.

Cukup. Buatku itu sudah cukup.
Cuma satu harapku, semoga kami masih diberi kesehatan dan umur yang panjang untuk bisa berlebaran di tahun-tahun mendatang.

Amin.

Selamat lebaran Malicca, bapak, mamah dan La Luna

That fuzzy feeling



How I love that feeling, inviting my friends to my house and cook for them. Not because I am such a good cook, despite of the taste; I like the idea of sharing and have a good conversation over foods.
I think me mom inherited it to me.

We have prepared this since two weeks ago. Enggar (@petitedevotchka) specially flew from Makassar. Aria (@tweetarwah) intentionally came over after his long-haul offline session with his 'beloved' clients. Heikal (@heikalsiregar), yes, he was all behind these things: his farewell. And of course least but not least my hubster Ariawan (thank you for the perfect juicy steak ya sayang). Not to forget Malicca as our cherry on top that night.

It happened so fast we did not have the chance to take pictures. Good conversation flooding as we pour more and more wine, mojitos, Sheridan and finally ... virgin Absolut Tropical.  Me the preggy woman just looked at them happily as they tossed more and more, spooning my Kiwi float over and over. Oh, it was the first time Malicca tasted white wine by the way.

Deep inside, there was fuzzy feeling.

I always love when friends and families come to our house. But tonight, it is because Heikal is leaving soon for his Phd in London. While Enggar is preparing her submission too - which I feel that she will make it next year to Queensland - I feel sad and a bit empty when they went home.

If only we had done this more often. And not only that. If only taking postgraduate is not the only possible way to live abroad. I would have done anything (unless leaving my family) to get the tickets. Now I can only count on my hubster to get us out of this country, and I feel pathetic because of it. I want to do something too. Something that fasten the process and make sure the tickets on hand. But no, not taking post graduate. My kids deserve the education more than me.

Ariawan seemed understood whats in my head. As we take our guests out, he said to me "Next year, okay? We are going next year."

Where? I did not ask. But I trust him. Even if I didn't, I just want to have the faith that we can.

Inshaa Allah.




One of those days

Hari Minggu kemarin: one of the happiest days in my life.
Seringkali, di kepala ini ada banyak banget rencana. Tapi entah kenapa suka tetiba gagal atau belum juga terwujud nyata cuma karena 'belum kepengen' ngerjain.
Timing emang beda sama momentum. Dan ternyata emang momentum itu nggak bisa ditebak kapan datengnya.

Seperti hari ini.

Udah lama banget aku dan suami 'ngerasani' rumput-rumput liar di halaman depan (yang udah mulai nular ke belakang). Apalagi, sejak si bocah nemu pohon cabe-cabean, makin pasrahlah kita. Tau nggak pohon cabe-cabean? Ituuu yang buahnya panjang-panjang kira-kira 2 sentimeter, kalo udah mengering dan warnanya coklat bisa direndem di air dan dia akan meledak. Naaaaaah! Exactly! Bijinya itu jadi nyebar kemana-mana termasuk ke habitat halaman belakang yang memang udah setengah dipasrahin karena ada dua penghuni cantik lucu berbulu tapi nakalnya minta ampun! Alias, ... dua ekor kelinci. Pohon liar cabe-cabean itu jadi tumbuh dimana-mana. Skala pertumbuhannya jauuuuuuh lebih cepat daripada pohon pandan bali di pojokan -__-

Di hari minggu pagi yang indah ini, si bumil ini tetiba terbangun. Dengan agak ragu dia bangunin tuh suaminya yang lagi bobok enak-enak.

"Bubu, beli rumput yuk!"

Tanpa disangka-sangka, si Bubu menjawab "Hayuk!"

Wah, si bumil takut dirinya berubah pikiran. Secepat kilat dia ganti baju, sarapan dan masuk mobil. Si bocah bahkan ditinggalin di kamar. Well, karena dia masih tidur juga sih dan sabtu kemarin seharian kecapean muter-muter mulai dari pameran flona di lapangan banteng, ke planetarium trus ke museum joeang '45 HANYA untuk ngeliat mobil dinas pak karno @__@

Beberapa hari sebelumnya saya emang bertanya-tanya sama temen kantor saya, Ajat, yang ternyata tau dimana tempat beli rumput. Letaknya ternyata sangat dekat dari rumah. Emang dasar nggak pernah menjelajah daerah sekitar ya... setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga sama penjual rumput.

Ho ho ho, inilah namanya hidayah. Niat tanya-tanya, ternyata abangnya nantangin untuk pasang pagi itu juga. Oh, senang sekali bisa instan seperti ini. Setelah tawar-menawar, akhirnya kita deal. Pasang 25 meter persegi rumput gajah mini plus nambah tanah.

Sambil nunggu mobil pick up ngangkut rumput dan tanah, kita jalan-jalan ke samping. Eh nemu tukang batu alam. Pembukaannya aku cuma bilang gini "Bang, mana batu yang paling murah?" Dan ternyata bener, batu koral adalah batu hias yang paling murah dibanding yang lain. Harganya lima belas ribu per karung sementara batu yang lain bisa empat puluh ribuan. Ah, kapok deh pakai batu hias. Kalau nggak warnanya luntur, dia yang nyerap kotoran. Ujung-ujungnya jadi berubah warna. Kalau batu koral udah ketebak, kalau nggak jadi hitam kalau kena air atau paling juga berlumut. Okelah, angkut deh tuh batu!
Abis itu kita mampir sebentar ke toko pot untuk beli beberapa pot gantung dan pot untuk mecahin pohon-pohon yang udah bergumul di pot yang udah terlalu kecil buat mereka.

Sampe rumah, si jagoan kecil baru aja bangun. Alhamdulillah .... ngambeknya nggak kelamaan karena aku langsung nawarin project kegiatan hari minggu: berkebun!
Sengaja tadi di toko pot beli beberapa pot untuk menyemai dan pupuk kompos.
Dasar anaknya mauan dan emang seneng melakukan apa aja, mulai deh dia seru bertanam.

Nggak lama kemudian mobil rumput pun datang dan si abang segera cangkul-cangkul rumput liar.
DIE YOU DIE, WEEDS!!!!!

Sekarang, halaman depan sudah rapi. Buah sawo yang lagi rajin berbuah pun udah aku plastik-plastikin supaya nggak dimakan codot. Bubu and Malicca looked happy too! Walaupun kita bertiga sempet tepar dan teramaze-amaze sama si bapak yang nggak hentinya tekun nyangkulin tanah dan nanemin rumput.

Sorenya, saat aku lagi bikin minuman dingin, tiba-tiba si jagoan kecil masuk dan menghampiri.
"Bunda seneng nggak Titan bantu-bantu hari ini?"

Aku cuma senyum, berlutut mensejajarkan mata dengannya.
"I am sooo very happy! Terima kasih yah, rumahnya sudah cantik sekarang."

Dia cuma mencibir malu. Tapi akhirnya jawab juga sih ....
"Titan juga seneng. Apalagi punya project holiday nanem-nanem di pot yang tadi bunda beliin"

Oh ... yes, this is definitely one of the bestttttttest day in my life.
Thank you, Bubu!
Thank you, Titan!





Are we worth the way we live?

Someone introduced me the question long ago, in order to shock me to start my financial plan. I think she did hit me on my face. She looked at my wish list(s) and sighed.

Are you worth these luxuries?
You can have everything, but not now. 
Instead, you could rethink of it, you could sleep on it, or you could just made it.

Then I shared the question to a friend of mine when he was about to buy an iPhone.
He waited months for his bonus compliment.
He sold his Sony Playstation.
He waited another months to save and shrimp for the iPhone.
He joined the long queue for the iPhone launch held by a provider, and back home for nothing; for he did not have any credit cards.
He finally bought the iPhone a few months later.
But then sold it anyway for emergency, and brought another one. The S series. 

"Are you worth the iPhone? Are you worth the life you live in?" I asked him when I knew how mad he had gone upside-down because of the quarter-bitten apple.

"Of course! I have worked hard after all this time!" He said (and sounded upset to me), then I got silent.

Do I really need that pricey present for myself too? After all I did? For the hard working, for all disappointments, for all those waits and winnings?
Am I worth a fluffy comforter, breakfast in bed and the warm bubble bath in luxurious hotel?
Am I worth days of me time enjoying a beach holiday?
Am I worth a shoe, limited edition bags and other pricey things?

I might be am.
Or, might be not.

Now it has been years. I do not know how my friend runs his life now, but the question still lives in me.



Kamits Manits





Paling enak itu, kalau nggak nyadar ada hari libur di tengah minggu.
Ditambah dengan matahari dan es lemon tea madu.

The best present

Slowly the smells got into my nostrils.
The sweet whimsical smell that came from whitish petals of my favorite flowers that my hubby prepared the night before.

Then I woke up.
I realized I was now 34,
and this was what I saw.


I smiled looked at their faces.
Men of my life, so peaceful in their sleep.
With their wandering mind that came in the form of dream,
but they were not my dream.
They are my life.

I looked around.
And these were what I saw in the corner.



And I went outside.
Nothing was in my mind and the air was so clear. 
I looked around the house. 
Just to feel every existence. 

And not long after that, a voice called me. 
It was my mother and father. 
Gave me a big bear hug and wished me a happy birthday. 

And a bonus.



What else I have not got? 
This is the best birthday feeling I ever had.
Alhamdulillah.

Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...