jatuh cinta
bukan akhir segalanya.
tapi awal, ... entah itu berkah atau bencana.
sampai timbullah masalah-masalah
"Maaf" tak cukup saat salah satu diantara kita berbuat salah.
hanya aku, atau kamu
sendiri
mencoba menelaah
apa yang membuat kita saling jatuh cinta
saling percaya,
sampai akhirnya mengucap kata
hanya aku, atau kamu
sendiri
mencoba mencerna
apakah semua itu masih ada
seperti sedia kala
cinta itu
jatuh,
makanya kita tidak menyangka
jatuh,
karena tak ada yang sanggup melawan gravitasnya
cinta itu
saat semua tak lagi bernalar
saat semua tak lagi mampu terujar
yang sulit hanyalah belajar
jatuh cinta
lagi,
lagi,
lagi dan
lagi.
sampai aku mengerti
mengapa aku ingin kamu di sini
sampai kapan pun.
dedicated to Pumpy
Auriga
Auriga.
Kau datang lagi dengan biduk rembulan yang kau dayung menyeberangi langit kelam malam ini, menapaki setiap jengkal dimensi. Bercahayakan lentera dan lidah-lidah api yang menjilati kaki langit, merangkak berusaha menyibak rahasia malam.
Auriga.
Kau tak datang sendiri. Kabut tak ingin menutupi seolah tak kuasa menahan diri menyingkap mantra cantik raksasa yang maha mencipta dan maha rahasia.
Auriga.
Kau bawakan aku Rigel yang terang dan Scorpius yang menatap nanar di kejauhan. Lalu kau hampiri wajahku dengan ujung-ujung sayap langit utara yang pekat. Berhiaskan ribuan kunang-kunang yang saling berkedip seperti jutaan confetti yang kau semburkan, merajai kegelapan.
Auriga.
Senantiasa kau tunduk dan berdoa atas segala hiruk pikuk di tempatku berdiri. Seperti punduk. Dan senantiasa kau selalu ada di sana, menantiku untuk tak hentinya menatapmu. Seperti malam ini.
Auriga.
Cukuplah semua jadi rahasia kita berdua.
Kau datang lagi dengan biduk rembulan yang kau dayung menyeberangi langit kelam malam ini, menapaki setiap jengkal dimensi. Bercahayakan lentera dan lidah-lidah api yang menjilati kaki langit, merangkak berusaha menyibak rahasia malam.
Auriga.
Kau tak datang sendiri. Kabut tak ingin menutupi seolah tak kuasa menahan diri menyingkap mantra cantik raksasa yang maha mencipta dan maha rahasia.
Auriga.
Kau bawakan aku Rigel yang terang dan Scorpius yang menatap nanar di kejauhan. Lalu kau hampiri wajahku dengan ujung-ujung sayap langit utara yang pekat. Berhiaskan ribuan kunang-kunang yang saling berkedip seperti jutaan confetti yang kau semburkan, merajai kegelapan.
Auriga.
Senantiasa kau tunduk dan berdoa atas segala hiruk pikuk di tempatku berdiri. Seperti punduk. Dan senantiasa kau selalu ada di sana, menantiku untuk tak hentinya menatapmu. Seperti malam ini.
Auriga.
Cukuplah semua jadi rahasia kita berdua.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
It’s been years. Probably, … eight years. We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit. But after weeks of considera...
-
Di suatu malam yang sunyi dan dingin, langit begitu gelap. Namun, ada seorang wanita yang tidak dapat terlelap. Dari semua mimpi yang tela...