Berserah atau Menyerah?

 

Qur'an Surat Maryam: 6

يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ۝٦
yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba waj‘al-hu rabbi radliyyâ"karuniai aku (Seorang anak) yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya‘qub serta jadikanlah dia, wahai Tuhanku, seorang yang diridai.”Kita sudah pelajari kemarin bahwa Nabi Zakariyya ‘alaihissalam ketika berdoa ini, itu usia beliau sudah ratusan tahun, nggak lagi muda, udah di ujung usia lah, udah masa-masa terakhir lah, atau bisa dibilang kepepetdah nggak ada waktu lagi.



Nah, misal nih…

kita dalam kondisi kepepet, lagi laper banget lah, udah gemeter tuh badan, asam lambung juga dah naik, perih nahan laper.

 

Ditengah kondisi seperti itu, biasanya kita udah nggak peduli mau makan apa, bahkan kalau ada nasi doang pun, udah lah kita makan.

 

Di kondisi “last minute” gitu nggak akan lagi kepikiran buat pesen steak, pasta ataupun nasi goreng. Kenapa? karena itu butuh waktu lama buat masaknya dan lebih susah dapetnya.

 

Kalau kita udah mau telat untuk ke kampus atau ke tempat kerja misalnya. Biasanya udah nggak peduli naik apa berangkatnya, pokoknya cari yang paling cepet, adanya apa aja. Meskipun bisa dan nyaman naik mobil, tapi kalau itu butuh waktu yang lama dan bikin kita telat, yaa mending jalan kaki atau lari jika itu bisa lebih cepat.

 

Nabi Zakariya di usia yang setua itu, aku tuh sempat mikir bahwa doa beliau tuh,

 

“Yaa Allah, kasih hamba anak, apa aja deh, terserah Engkau anaknya kayak apa, yang penting aku punya anak, pokoknya punya anak, daripada enggak.”

 

Tapi nyatanya, Nabi Zakariya enggak men-downgrade doanya, tetap teguh dengan kriteria anak yang diminta, “Yaa Allah anugerahilah hamba anak, bukan sekedar anak, tapi anak yang radhiyyan, yang Engkau ridhai” tetap minta yang terbaik, bukan adanya apa.


Jangan pernah menyerah, meskipun itu dalam doa kita kepada Allah 


Sebab tak jarang dalam doa tuh kayak udah, “Yaa Allah, apa aja deh, yang penting jadi, yang penting selesai.”

 

Ketika ujian sekolah misalnya, “yaa Allah nilai berapa aja deh, yang penting lulus.”

 

Ketika nyari kerja“yaa Allah kerja apa aja deh, yang penting kerja dapet duit.”

 

Ketika belum nikah, “yaa Allah siapa aja boleh deh, yang penting aku nikah tahun ini.”

 

Ketika bimbing istri“yaa Allah terserah Engkau aja deh, dah capek aku bilangin nya”

 

Ketika ngurus anak“yaa Allah, dah nyerah aku ngurus ini anak, dah nggak tau gimana lagi, capek.”

 

Kita belajar dari Nabi Zakariyya ‘alaihissalam, jangan pernah downgrade doa kita. Kita sedang berhadapan dengan Allah Yang Maha Segalanya, lantas kenapa kita meminta seadanya, adanya apa. Bukankah itu seolah kayak ngremehin Allah banget.

 

Itulah kenapa Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam mengingatkan kita,

 

فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الجَنَّةِ، وَأَعْلَى الجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الجَنَّةِ

 

“Jika kalian meminta sesuatu kepada Allah, mintalah (surga) Firdaus. Karena surga Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy (milik) Ar-Rahman, darinya mengalirlah sungai-sungai surga.”
(HR. Bukhari no. 7423)

 

Jangan kita berdoa, “yaa Allah surga apa aja deh, yang penting masuk surga” wehh jangan. 

Langsung aja gasss minta surga firdaus.

 

Maa syaa Allah...

Menjadi muslim itu keren banget nggak sih? Kita itu diajarin untuk selalu optimis, bahkan dalam konteks doa sekalipun. 🥹


Jangan sesekali merendahkan mimpimu,

langitkanlah mimpimu hingga ia diijabah oleh Pemilik Langit.

Hati-hati dengan do'amu.

Dalam berdoa pun, Nabi Zakariya mengajarkan kepada kita tentang kehati-hatian akan permintaan kita kepada Allah. Jangan sampai kita salah dalam memberikan alasan dari setiap doa kita ke Allah.


Mudah bagi Allah untuk mengabulkan setiap permintaan.

Tapi sudahkah kita siap dengan konsekuensi dari permintaan kita itu?

 

Kita berdoa minta mobil ke Allah, misalnya.

Lalu Allah mengabulkan doa itu, akhirnya kita punya mobil baru.

 

Bagi beberapa orang ini adalah sebuah kebahagiaan, sebuah nikmat. Tapi sadar atau tidak nikmat itu bisa jadi sebab dirinya masuk ke dalam neraka. Kenapa?


Seluruh nikmat yang Allah kasih, itu memang gratis, memang nikmat dan penuh manfaat, bikin kita seneng juga di dunia ini. Tapi yang harus kita ketahui dan sadari, itu juga bisa menjadi beban berat kita di akhirat nanti.

 

Itulah kenapa orang-orang kaya itu ketinggalan 500 tahun dari orang miskin untuk duluan masuk surga. Lama banget hisabnya.

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.” (HR. Ibnu Majah no. 4122)


Maka setiap kali kita berdoa, setiap kali kita meminta kepada Allah, siapkan dulu alasannya. “Itu mau buat apa?”

 

Sebagaimana meminta anak juga.

Anak adalah amanah yang lebih berat daripada sekedar harta dunia. Sebab itulah Nabi Zakariya begitu berhati-hati dalam permintaan ini.


Iya, anak itu bisa jadi sumber kebinasaan bagi orangtuanya. Bahkan dia bisa jadi musuh dan ujian paling berat bagi orangtuanya.

 

Dunia + Akhirat.

 

Bukankah kita sering melihat di sekitar kita, para orang tua terlihat begitu “sengsara” sebab anak-anaknya. Kerja keras siang malam, ternyata uangnya disalahgunakan oleh anaknya, dibuat main hingga foya-foya.

 

Ini baru di dunia, belum nanti di akhirat.

 

Apa yang membuat Nabi Nuh ‘alaihissalam begitu sedih selain salah satunya adalah sebab kedurhakaan anaknya?

 

Apa yang membuat Nabi Ya’qub ‘alaihissalam menangis, meratapi kesedihan, bertahun-tahun hingga matanya buta selain sebab ulah anak-anaknya sendiri? Nggak ada yang bikin orangtua sedih banget, daripada melihat anak-anaknya nggak ada yang akur, bertengkar terus.

 

Nabi Zakariya ‘alaihissalam tau kisah ini. Kisah para nabi pendahulunya, terutama garis keturunan terdekat dengannya yaitu Nabi Ya’qub. Garis nasab Nabi Zakariya kalau ditarik keatas itu akan ketemu dengan Nabi Ya’qub.

 

Sebab itulah beliau begitu hati-hati, jangan sampai keturunannya seperti keturunan Nabi Ya’qub, saudara-saudaranya Nabi Yusuf, yang hanya membuat sedih orangtuanya.

 

Nggak semua anak itu menjadi sumber kebahagiaan bagi orangtuanya. Tapi semua anak pasti menjadi sumber ujian bagi orangtuanya.

 

Coba deh tanyakan kepada orang yang sudah punya anak dan masih punya orangtua.

 

Lebih nggak bisa nurutin kemauan siapa? atau lebih takut nggak bisa menuhin kemauan siapa? Kemauan anak? atau kemauan orangtua?


Itulah kenapa doa dalam meminta anak dalam Al Quran, itu selalu + detailnya. Nggak ada sekedar, “Yaa Allah berikan aku keturunan” atau “yaa Rabbi berikan aku anak” Nggak ada. Selalu + keterangan detailnya.

 

Surat As-Saffat Ayat 100 

رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

 

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”


Seperti doa Nabi Ibrahim ‘alaihisalam ini. Nggak sekedar minta anak, tapi anak + shalih.

 

Di sekitar kita akhir-akhir ini kak Wullie mungkin banyak yang sedang promil, menjadi penjuang dua garis biru.  Maka hal ini bisa jadi reminder bagi mereka.

 

Bukan Allah tidak mengabulkan doamu, tapi sudahkah tepat alasanmu dalam memintanya? Sudahkan kamu benar-benar siap dengan segala konsekuensinya?

 

Allah itu lebih menyayangi kita dibandingkan ibu kita sendiri. Kalau kita kurang tepat dalam memberikan alasan dari setiap doa kita, tentu Allah tidak akan memberinya sekarang.

 

Allah selalu mengabulkan doa kita pada waktu yang tepat, pada kondisi kita yang juga benar-benar siap.

 

Mobil mewah itu memang terlihat baik. Tapi jika mobil itu Allah berikan kepada anak kost; harus bayar pajak belasan juta, service mobil rutin, bukankah nikmat mobil itu malah jadi siksaan baginya.

 

Berarti nggak boleh nih doa minta mobil mewah?

Boleh banget, tapi berdoalah juga agar disiapkan kondisi kita ketika menerima nikmat itu.

 

Tips berdoa:

Jangan sekedar meminta X tapi juga mintalah akar disiapkan diri untuk bisa menerima X itu dengan baik, mensyukurinya dengan baik, menjadikankan sebagai jalan ibadah kepada Allah.


Buat para penjuang dua garis biru, mungkin selama ini kita hanya berdoa, “Yaa Allah berikan aku keturuan yang shalih” tapi coba deh tambahin doanya, “dan siapkanlah diriku ini yaa Rabb untuk bisa menerima nikmat itu.”

 

Buat yang belum menikah, jangan hanya sekedar, “yaa Allah berikan aku pasangan yang shalih” tapi juga “dan jadikanlah aku siap dan pantas untuk menerima semua itu.”

 

Kali ini kita belajar bahwa berdoa itu nggak sekedar tentang permintaan, tapi juga tentang ALASAN + KESIAPAN DIRI.

Putus asa aja, yuk!

 Ingat ini, 

“Pintu langit itu akan terbuka, jika seluruh pintu dunia sudah tertutup.”

 

Berputus asa itu nggak selalu berarti berhenti berharap, ia juga bisa berarti manusia sedang berada dalam titik kesadarannya, “Aku udah nggak bisa lagi ngandelin apapun selain Allah.”

 

Saat manusia masih merasa, “ada peluang lewat usahaku.” maka itu belum sepenuh tawakkal. Dia masih bergantung pada usahanya, meskipun itu hanya sedikit.

 

Saat sepenuh usaha, ikhtiar kita, semuanya sudah menemukan jalan buntu, maka disitulah sepenuh tawakkal itu hadir.

 

Pintu tawakkal itu akan terbuka, jika seluruh pintu ikhtiar dunia sudah tertutup.

 

Betapa indahnya kita sebagai seorang mukmin, sebagai orang-orang beriman, sebagai ummat Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam. Sebab saat seluruh pintu dunia sudah tertutup sekalipun, kita masih punya pintu langit.

 

Maka kita harus sadar akan hal ini:

 

Misal saat usaha, ikhtiar kita semuanya telah menemui jalan buntu, kegagalan datang bertubi-tubi, itu adalah bukan tanda Allah nggak sayang kepada kita. Justru itu adalah tanda Allah begitu menyayangi kita,

 

“Wahai hamba-Ku,

kamu nggak cocok pakai pintu dunia,

kamu terlalu istimewa untuk berjalan di jalan yang biasa,

 

Pakai jalan ini,

Aku ingin kamu memakai pintu Langit.”

 

Ternyata dalam kegagalan dan keterpurukan kita pun, Allah masih begitu menyayangi diri kita. Allah nggak pernah ninggalin kita, bahkan saat kita sudah jatuh, sejatuh-jatuhnya.

 

Astaghfirullah,

ampuni kami yaa Rabb…

yang sering mengira Engkau sudah nggak sayang lagi.

Yang serius, ngapa?

 “Kalau seseorang itu tidak bangun malam untuk shalat tahajjud, itu artinya dia sama sekali tidak serius dengan cita-citanya” ~ kata seorang guru. 

Pertanyaannya, kapan kita seriusan punya cita-cita? 

Aku yang sudah berusaha menuju 47 tahun ini kayanya udah lama gak punya cita-cita yang gimana-gimana. Padahal, semakin berusia harusnya cita-cita kita pun menjadi semakin besar dan semakin intangible. 

Giliran iya punya cita-cita, trus gak serius. Jadi perjalanannya jauh banget ya, sementara sekarang; punya cita-cita yang amat sangat kepengen banget aja tidak ada. 

Huftness. 

Padahal, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Bayangkan aja sebutir nasi di piring kita yang sudah menempuh perjalanan jauh mulai dari bibit, ditanam di sawah, tumbuh, diserang hama tapi bertahan, dipanen, disosoh kulitnya, dibersihkan, ditimbang per 5 kg, dikemas, dikirim dari tempatnya menuju jakarta. Lalu kita beli di supermarket, kita angkut, kita tempatkan di tempat beras, kita ambil cup demi cup, kita cuci dan masukkan ke rice cooker, sampai akhirnya terhidang di piring makan. 

“Yaa Rabb…

ketika sudah menjadi rezekiku,

ketika sudah Engkau tetapkan dia sebagai nikmatku,

 

begitu jauh dan lama prosesnya sebutir nasi ini,

Engkaupun datangkan dia kepadaku

 

maka jika sebutir nasih saja sudah Engkau tetapkan jalannya untuk datang kepadaku, bagaimana mungkin Engkau tidak tetapkan jodohku untuk datang kepadaku”

 

Salah satu cara agar kita bisa semakin merasakan bagaimana Allah menyayangi diri kita dalah dengann kita belajar untuk melihat yang ada disekeliling kita dengan kacamata iman.

 

Semuanya yang terjadi adalah kasih sayang Allah.

Jangan membatasi apa yang Allah tidak batasi

 


Tuhan kita itu Allah loh…

Rabb kita itu Allah loh…

 

Maka jangan sesekali kita membatasi apa yang Allah sendiri tidak membatasinya. Jangan sesekali mengatakan mustahil pada hal yang Allah pun belum mengatakan hal itu mustahil, nggak mungkin untuk terjadi. 

 

Kalau kita terlalu mengandalkan kemampuan diri, ketahuilah kemampuan diri kita sebagai manusia itu sangat terbatas. Sandarkan segala sesuatunya kepada Allah, sebab Allah itu Maha Tak Terbatas.

 

Sungguh surah Maryam seperti energi langit bagi diri kita untuk menghadapi segala apapun yang ada di bumi ini. Menghapus semua rasa takut, rasa tidak percaya diri, insecure dari setiap masalah atau tantangan yang kita hadapi.


Minta, berdo'a sama Allah yang tak berbatas, yang bahkan sudah memberi sebelum kita meminta. 

Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...