Who doesn't like veggie? High five!
Because I don't like veggie, so is my son.
So lately I tried to inhibit habit of eating veggie to Malicca.
Because I am working, breakfast is the only time we can dine together.
So, eating veggie let us in the morning.
The thing about cooking veggie is, it looks simple but it is hard to cook.
Over-cooked will only ruin the vitamins and its colors.
Thanks to Ibu Kembar who gave me the tips to cook sauted broccoli garlic.
And bigger thanks, because Malicca likes it even more.
The steps are easy.
Boil water and cook broccoli until its color becomes darker and a bit soft.
Dry the broccoli and put them on a dish.
Next, get some vegetable oil or olive oil into the frying pan.
Put chopped garlic and saute.
Put a little bit margarine and salt.
Do not wait until the garlic is brown. Brownish color means over-cooked and it tastes a bit bitter.
Cook it half-done then pour the salty margarine sauce onto the broccoli and top with grated cheese if you like.
Sauted broccoli garlic is now ready to be served.
Let's take a step back
Life should not be that hard. Whether if you are a little kid
and doesn’t know what to do or whether you are old and sick, life could have
been simpler after all.
Why do people get married in the first place? Why do people
have kids in the end? Why do people work for a living, but they don’t have a
life? Why do people busy with themselves and forgetting that they are part of
their family, a root of who they are and where they are from.
Every family has its own story. Like a unique code that’s
entitled on our last name. Unfortunately we only remember the story as opening and ending, leaving the rest as stories of our own.
Why when we reach productive era, we act like there are so
many important things to do? As if we are the president who run the country, as
if someone is going to die if we skip a day from our office. Why do we always
lack of time for our parents as if they will always be young and healthy as
ever?
Our love to our family might last forever, but not their
physical.
Far we have gone, today. Let's take a step back for a while, to embrace where we belong. To be home.
Far we have gone, today. Let's take a step back for a while, to embrace where we belong. To be home.
Amazing
It is amazing how your brain easily forgets the pain as you find a better replacement.
It is amazing how your heart easily forgives as you find a more exciting things that suddenly appear.
And you would laugh yourself, while saying "I have been through that" and feel glad that you turned out fine nonetheless.
God, you have created such a perfect creature called human. They heal themselves.
It is amazing how your heart easily forgives as you find a more exciting things that suddenly appear.
And you would laugh yourself, while saying "I have been through that" and feel glad that you turned out fine nonetheless.
God, you have created such a perfect creature called human. They heal themselves.
What's stopping you?
Is it another
girl? Then you will find physical is forgivable. In time.
Is it money? Then
you will find, talk is the best security you can have in this life. No better
investment than communication with your partner.
Or those little
things like putting down the toilet ring for you? Then you will find there
are many other big things in life you must face.
So, what’s
stopping you from trying harder for someone you love most?
To me, it
is when he decided to quit. Just quit.
Hari ini
Rumah ini luasnya masih sama seperti kemarin, dua hari yang lalu, masih sama seperti pertama kali dibangun. Tidak ada yang bergeser, tidak ada yang mengkisut atau memekar. Tapi entah kenapa, hari ini rasanya seperti rumah ini tiga kali lebih luas. Tiga kali lebih lapang sehingga menyapunya hampir menghabiskan seluruh tenagaku. Entah kenapa, jalinan-jalinan benang pel yang sesungguhnya telah taut menaut tidak bisa segera menyelesaikan mili demi mili lantai ini hingga habislah seluruh tenagaku mengusapnya.
Jari-jariku, tidak habis untuk menghitung berapa jumlah orang yang tinggal di dalamnya. Tapi kenapa nafasku ikut tersengal-sengal mengikuti putaran baling mesin cuci yang menggiling pakaian serasa laundri kelurahan.
Lelah memang lebih cepat terasa dan terasa sesak saat kita merasa sendiri. Ya, ... merasa.
Kalau sakit pun, seringkali sebaris pertanyaan "Gimana, sudah baikkan?" bisa menyembuhkan. Karena kita tahu, kita tidak sendiri. Ada seseorang nun jauh di luar sana yang sedang memikirkan keadaan kita.
Hari yang mendung.
Jari-jariku, tidak habis untuk menghitung berapa jumlah orang yang tinggal di dalamnya. Tapi kenapa nafasku ikut tersengal-sengal mengikuti putaran baling mesin cuci yang menggiling pakaian serasa laundri kelurahan.
Lelah memang lebih cepat terasa dan terasa sesak saat kita merasa sendiri. Ya, ... merasa.
Kalau sakit pun, seringkali sebaris pertanyaan "Gimana, sudah baikkan?" bisa menyembuhkan. Karena kita tahu, kita tidak sendiri. Ada seseorang nun jauh di luar sana yang sedang memikirkan keadaan kita.
Hari yang mendung.
Tentang kita belakangan ini
Pernahlah, sekali atau dua kali mencuri dengar mereka yang
sedang berkeluh kesah tentang pekerjaannya. Lain waktu, tentang bosnya. Atau,
tentang kebijakan perusahaan dimana mereka bekerja. Atau tentang gaji, lembur, banyak macamlah. Hal ini makin
lama makin sering kesebut. Entah karena memang hal ini menjadi problem semua
pegawai tepatnya pekerja di Jakarta, atau memang hal ini sedang berakrab-akrab
ria sama ijk.
Tadi pagi misalnya. Aku mencuri dengar dua orang karyawati
di lift gedung. Si A lagi bercerita kemarin dia jadi ‘tempat sampah’ pacarnya
yang curhat tentang pekerjaannya.
A bilang, lelakinya itu sampai menitikkan air mata (aihhh...) saat
bercerita bahwa dia ditegur oleh atasannya karena datang terlambat. Dia bilang,
dia jarang sekali terlambat. Kalaupun terlambat paling hanya 3 atau 5 menit
dari waktu kerja yang ditentukan (yaitu jam 8). Suatu pagi, dia merasa lapar
sekali. Jadi, sebelum masuk dia mampir sebentar ke warung depan kantor untuk
sarapan. Begitu masuk, jam sudah menunjukkan pukul 08.15 pagi dan ditegurlah ia
oleh sang supervisor. Mutunglah deh. Saat curhat dengan si A itulah akhirnya
cowok itu mengutarakan niatnya untuk berhenti bekerja di perusahaan tersebut.
Dan dengan alasan ‘ketidakbahagiaan’, si A mengizinkan si cowok untuk resign.
Lain waktu lagi, seorang teman curhat juga tentang etos
kerja anak buahnya. Yang mana, sebagian dari mereka tidak memiliki tanggung
jawab dengan pekerjaan mereka. Seringkali beralasan sakit atau saudaranya
meninggal (mungkin untuk yang ke sekian kalinya si nenek atau kakek atau bibi
atau paman meninggal dan dijadikan alasan untuk tidak masuk kantor). Sayangnya, di kantor temenku itu sistemnya kaya mesin. Tiap orang dalam tim mengerjakan pekerjaan yang beda. Jadi kalau ada yang nggak masuk satu orang aja, terhentilah semua prosesnya.
Akhirnya, dengan berat hati temanku harus
memberikan Surat Peringatan kepada anak itu. Yang mana, justru ditantang balik
untuk segera memberikan SP-3 karena sebenarnya dia juga udah nggak betah kerja
di perusahaan tersebut. *Kemudian hening ... krik krik krik....*
Oh, well.
Untuk si A yang menitikkan air mata saat curhat sama
pacarnya, mungkin niatnya untuk resign bukan karena satu hal tersebut. Pasti
ada deh hal lain yang sifatnya akumulatif dan dia udah nggak tahan lagi untuk
menghadapi beban-beban itu. Begitu pula halnya dengan si anak yang minta di
SP-3. Pasti banyak ketidakpuasan atau inspirasi-inspirasi yang terhambat sampai dia udah sebegitu muaknya bekerja di sana.
Pertanyaannya sekarang, apa iya sulit sekali untuk membuat
kita merasa cukup dan terpuaskan?
Ada satu pertanyaan yang menghantui aku waktu aku lagi
asyik metikin rumput liar di halaman rumah minggu lalu. Konon katanya cari kerja itu susah,
tapi kenapa kok nyari pembantu juga minta ampun susah? Apa sebenarnya yang susah itu
adalah nyari orang yang mau kerja?
Apa sebenarnya kita sekarang ini mikirnya mau enaknya aja dan merasa berhak
untuk selalu mendapatkan lebih atas apa yang telah kita kerjakan? Ataukah ego kita ini yang udah tumbuh tambah
besar? Tapi ya itu, cuma ego doang aja yang tambah gede, yang laen nggak ikutan -_-
Dulu, orang tua kita bisa betah puluhan tahun kerja di
kantoran. Entah itu kantor pemerintahan atau swasta. Bukan berarti kita harus stay di perusahaan yang sama sampe puluhan taun, tapi ... apa iya kita kalah kuat mental dibanding mereka?
Atau memang kita, penduduk Jakarta, sudah sebegitu stresnya
dan permasalahan sudah sebegitu kompleksnya sampe hal-hal kecil aja bisa bikin
bête?
Tapi gimana, sebelum ada pilihan musti dikerjain juga, kan?
Dan setiap pilihan yang mementingkan diri sendiri itu, pasti harus ada
kontribusi kepentingan orang lain yang diabaikan. Jadi, sementara belum ada pilihan,
ya sudahlah yah … don’t sweat little things. Otak udah tipis dipake mikir hal-hal
kecil yang bikin kesel tapi skill untuk nyaring prioritas justru nggak diupgrade - upgrade.
Let's just do it, dan kalau bisa, perluas pilihan di tengah jalan.
Ps:
Kita di sini termasuk aku, and this is a little note for
myself as well.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
The first time I celebrated my birthday was when I was nine years old. It took me quite sometime to convince my mother how I wanted to have...
-
If only we don’t need any secure feeling, Maslow would not put it in the basic pyramid of human’s needs. But he eventually did, because he k...
