Showing posts with label ramadhan2014. Show all posts
Showing posts with label ramadhan2014. Show all posts
ramadhan 2014, hari #17 : children have the biggest survival rate


jam satu siang lewat tiga puluh menit.
ada janji initial meeting awal tahun di sekolah titan, ... ya; di jam yang sama.
tapi mobil mogok, kelamaan enggak dipakai dan enggak dipanasin jadi ngambek.
rumah pun kosong, enggak bisa titip la luna.

akhirnya,
dengan segenap keberanian melanggar peraturan dan melewati batas kenormalan penjagaan kenyamaan anak yang dibuat sendiri, aku, titan, luna dan aki meluncur ke sekolah titan naik motor.
di hari panas bulan puasa, saat luna genap berusia 1 tahun 1 hari.

sepanjang jalan, aku mentertawakan diri sendiri.
mentertawakan keadaan, tepatnya. padahal kesalnya bukan main. sama dengan level panas matahari siang itu.  tapi saking kesalnya, bawaannya malah jadi pengen ketawa. apalagi melihat titan ketawa-ketawa senang karena naik motor rame-rame.
luna aku ikat dengan wrapper di dada. mukanya tegang dan takut, merungkut di dada sambil melihat-lihat pemandangan. kali pertama dia naik motor. saat pulang, mukanya sudah lebih santai dan terkantuk-kantuk tertiup angin.
pelan-pelan, ayahku memegang kemudi dengan tenang. seperti biasa, ia selalu ada saat aku membutuhkan. he is the only superhero that is real in my life.

ternyata, anak-anak merasa baik-baik saja. 
diantara deretan alphard yang berjejer dan kita datang berempat naik motor. 
seorang anak perempuan yang baru lulus satu hari dari tahap perbayian dan bergaul dengan asap kendaraan; meski berjarak tidak lebih dari 2 kilometer, dan menentang matahari. 
mereka, baik baik saja. 

kadang (baca: seringkali), kita terbatas dengan batas-batas yang kita buat sendiri. 

aku memang harus lebih banyak belajar dari anak-anak. 
dalam keadaan apapun, mereka selalu menemukan celah dan cara untuk bermain. atau menikmati keadaan. thank you for teaching me such a thing, kids. like always. 













ramadhan 2014, hari # 16 : kali pertama sang bulan kelilingi matahari


enggak ada kata lain yang terucap selain syukur. 

atas kebersamaan yang masih bisa kami dulang bersama di bulan ramadhan ini. 
dan mengucap doa, 
untuk sang bulan yang mulai menjejak. 

selamat ulang tahun, sayang. 

amin untuk semua yang baik-baik. 
















ramadhan 2014, hari #15 : UKM united


wajar kalau ternyata, pembeli awal UKM adalah teman-teman dekat dan saudara-saudara kita sendiri.
tak lain ya karena lingkupnya kecil. cuma tau dari mulut ke mulut.
tapi ternyata, kepuasannya jauh lebih besar.
dan hari ini kami bersatu, meramaikan hari raya dengan hantaran karya tangan-tangan kami.

every minutes well spent.
i bet the kids had the same feeling too.

buat karya hari ini bisa diintip di instagram @bebikinan & @skoci_






ramadhan 2014, hari #11 : sahabat

ternyata, punya anak perempuan itu beda rasanya dengan punya anak laki-laki.
sulit dijelaskan, tapi bisa dirasakan.
tahun lalu, tuhan memberi berkah ramadhan terbesar untukku, mengirimkan bulan ke pelukan.
alhamdulillah, berkahnya makin terasa besar hari demi hari. hingga hari ini, dia berjalan menggandeng tanganku.

lengkap rasanya.

punya anak laki-laki yang sangat melindungi, dan punya anak perempuan yang semoga bisa menjadi sahabat hingga aku tua nanti.





























ramadhan 2014, hari #10 : sisi baik

nini ditinggalin pembantunya yang baru 10 bulan, tapi saya yang ngerasain patah hati. masalahnya ibu saya itu sudah sepuh, tapi buat dia standar rumah bersih itu tinggi sekali. jadi, kalau rumah enggak bersih dia pasti bersih-bersih; enggak peduli dia sudah sepuh, lagi berpuasa, dan punya kecenderungan bagi vertigonya untuk kambuh kalau kecapekan. 

tapi ada satu hal yang selalu saya dapati kalau pembantu pulang kampung. rumah jadi lebih rapi dan bersih. padahal, biasanya, mau dibersihin setiap hari pun tetap aja keadaan rumah sore hari itu selalu berdebu dan enggak rapi. 

ternyata, kalau enggak ada pembantu, masing-masing penghuni rumah jadi lebih sadar diri. lebih punya empati dan rasa tanggung jawab menjaga rumah tetap bersih. karena, kalau enggak, mereka-mereka juga yang harus membersihkan. 


*selonjoran kaki dulu, sebelom kebut-kebut lagi* 
ramadhan 2014, hari #9 : down with typhoid

buka puasa jam 3, karena tiba-tiba badan menggigil dan panas tinggi. 
si bakteri nakal datang kembali. 
Ramadhan 2014, hari #8 : menolak lupa

... tapi jadinya malah lupa. 

setahun yang lalu, perut masih membuncit dengan derita sakit punggung dan pinggang yang luar biasa. tak tahunya, seminggu kemudian lahirlah si bayi mungil. sejak itu, saya lupa apa yang terjadi dan tahu-tahu, hari ini tawaf keliling mall untuk mencari kado ulang tahunnya yang pertama. 

dibandingkan dengan titan dulu, saya hampir ingat setiap milestonesnya. ingat juga hal-hal lucu yang pertama kali dilakukan olehnya. tapi dengan luna, waktu terasa terlalu cepat berlalu sehingga otak saya kurang bisa merekam setiap kejadian. 

apa karena sekarang saya yang mengasuhnya sendiri setiap detiknya? jadi, terlalu banyak hal mengagumkan yang terjadi hingga kapasitas memori saya tumpah ruah? 

tapi biarlah. walau saya lupa, semoga dia ingat kebersamaan kami di setiap detiknya. 
karena saya, tidak lupa rasanya. 




ramadhan 2014, hari #7 : puasa daging, a mind banging. 

agak shock membaca status facebook seorang teman hari ini, tentang alasan dia untuk tidak menjadi golput pada pemilu 9 juli nanti. ada banyak alasan, tapi yang membuat saya tercengang adalah karena dia peduli pada tingkat perekonomian yang lebih baik, yang bisa membuat keluarganya berhenti berpuasa makan daging yang sudah setahun ini tidak dia beli di pasar karena harga daging yang melambung tinggi dan tak kunjung kembali. 

terdengar memprihatinkan, walau saya tahu ia tidak berasal dari tingkat ekonomi yang rendah. ia seorang pns kementrian luar negeri yang baru setahun ini menjejak kembali ke indonesia, bersuamikan seorang pengusaha. anak-anaknya bersekolah di sebuah sekolah internasional di cibubur, dan merupakan salah satu klien financial planner ternama di Indonesia. 

dengan semua latar belakang itu, ... mereka puasa makan daging? 

bukannya nyinyir, tapi sebaliknya, saya kagum. sangat kagum. saya selalu kagum pada orang-orang yang berkomitmen tinggi. memiliki skala prioritas. dari sekelumit latar belakangnya, saya sangat faham bahwa prioritas hidupnya adalah pendidikan anak-anak dan kemapanan ekonomi saat mereka pensiun nanti. demi itu semua, mereka rela puasa makan daging. 

dulu, saat saya lagi 'kepincut' sama barang fancy, saya sering berkelakar tentang sekolah anak saya, apakah sebaiknya saya pindahkan saja ke sekolah yang jauh lebih murah; supaya saya bisa beli kate spade setiap bulan hahaha. kini saya percaya, bahwa ada orang-orang seperti itu. enggak masalah juga, karena ini masalah skala prioritas. setiap keluarga kan punya prioritas masing-masing. 

kalau buat saya (dan ariawan mengamininya), saya memilih untuk berlibur di rumah saja; membatasi jalan-jalan ke mall, demi anak-anak bisa mendapatkan pendidikan terbaik bahkan kuliah dan bekerja di luar negeri. 

tapi apa iya, saya juga harus berpuasa makan daging? masih bingung, tapi kayanya bisa dicoba sih. demi kate spade? *ngarep.com* ... enggaklah, demi anak-anak dan menghabiskan masa pensiun di highbury. 

amin. 

ramadhan 2014, hari #6,7,8 : menyambut sepi

kesepian itu adalah kehilangan 1/3 hati untuk beberapa hari. 
titan menginap di rumah eyang - neni.

:'(
ramadhan 2014, hari #5 : jokowi

coba, facebook siapa yang timeline-nya beberapa bulan ini enggak ramai dengan pendapat politik mulai dari sumber bener sampai sumber caur? dari yang masuk akal sampai akal-akalan, dari yang tadinya teman baik terus jadi sensi-sensian. 

hei, paling tidak, hal itu mengartikan proses pembelajaran demokrasi mulai membaik. hanya saja, bangsa indonesia belum siap untuk go-digital dimana semua pendapat (jadinya) seperti harus dibahas dan dibumbui. that is so much not the point. 
kalau dalam teori komunikasi, lama-lama yang namanya informasi memang akan menjadi semakin tidak jelas. tapi itu yang akan membuat kita, manusia, akan terus dan terus berkomunikasi demi informasi yang paling benar yang kita ingin dengar. 
catat, yang ingin kita dengar. 

so, what's the point of jadi ikutan misuh-misuh di sosmed, kalau pada akhirnya hanya ingin mendengar apa yang kita ingin dengar.  

saya sendiri, bukan fanboy-nya pemberitaan politik. dalam hal ini, pemilihan presiden. bukan juga timses jokowi. tapi karena saya harus memilih, saya akan memilih yang terbaik dari pilihan sampah yang ada: jokowi.

jawabnya simpel. inget postingan saya tentang jalan-jalan naik city tour? nah, itu. hanya karena hal kecil itu: jokowi mampu membangkitkan rasa apatis dan menjinakkan amarah saya terhadap kota jakarta hingga saya berani memutuskan untuk membawa seorang bayi untuk jalan-jalan memanfaatkan fasilitas kota.  jalanan yang bersih dan taman-taman yang kini menjadi lebih baik, hanya dengan mewajibkan setiap gedung untuk merawat tanaman di halaman depan gedung mereka lalu mengizinkan mendirikan sebuah monumen kecil sebagai rasa penghargaan terhadap pihak yang telah memeliharanya. 

buat saya, ketegasan seperti itu yang saya butuhkan. ketegasan yang membawa manfaat. bukan ketegasan otoriter militerism. dengan kata lain, jokowi telah mengembalikan harapan saya pada sebuah kota yang lebih baik untuk membesarkan anak-anak. 

memberi kesempatan lima tahun ke depan untuk pihak lawan, mungkin tidak terlalu berarti bagi saya. siapapun yang menang, buat saya mungkin akan begini-begini saja. tapi lima tahun ke depan, ternyata adalah sebuah waktu yang panjang untuk anak-anak saya. by the time, titan inshaa allah akan berumur 12 tahun dan la luna 6 tahun. sudah berapa milestones yang akan mereka lewati? tentunya banyak sekali. jadi kalau saya golput atau pihak sebelah menang, apakah masa depan anak-anak yang harus saya korbankan? 

tentu tidak, kan? 



ramadhan 2014, hari #4 : redemption

enggak ada orang tua yang sempurna. itu pasti. namun saat kita, orang tua, menyadari kesalahan yang telah kita perbuat terhadap anak-anak, sulit rasanya untuk tidak 'membayar' mereka dengan hal-hal yang mereka sukai. 

rasa bersalah itu terkadang memang mengalahkan segalanya. semakin susah lagi kalau anak sudah mulai mengerti 'pola' orang tua untuk menebus kesalahan. bisa-bisa, kita yang 'habis' dimanfaatkan. 

setiap orang tua sadar nggak sih, dengan keadaan itu? 

untuk menghindari hal itu, saya lebih suka mengajak anak-anak bicara ketimbang membayar mereka dengan hal-hal yang mereka sukai. saya lebih suka menarik mereka ke kamar lalu bicara empat mata tentang kesalahan yang saya buat; atau tentang keadaan yang tidak mengenakkan yang terpaksa terjadi terhadap mereka. saya lebih suka meminta maaf, atau berdiskusi bagaimana untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. dan saat mereka bertanya kenapa kenapa dan kenapa tentang suatu keadaan, terkadang saya lebih lega jika menjawabnya dengan "ya mungkin memang sudah harus begini, sudah kejadian juga, sekarang gimana cara supaya kita semua sama-sama enak." 

membayar kesalahan itu sangat tidak mengenakkan. buat yang bikin salah, atau yang dibayar. karena seringkali kesalahan itu justru tidak terbayar. apalagi kalau kesalahan kita menyangkut dengan waktu yang terbuang. siapa yang bisa bayar waktu? sampai kapan pun enggak akan bisa dibeli untuk kembali. 






ramadhan 2014, hari #3 : keep stirring

kadang, kalau hari lagi melelahkan: luna susah makan, titan enggak mau belajar dan enggak mau makan, rumah acak-acakan, kamar mandi belum dicuci, pakaian masih di dalam mesin cuci tak sempat dijemur, suami pulang malam dan lelah, ... namun kami masih berdiri berduaan di tengah malam. mengaduk gula. 

saat semua itu terjadi, cuma satu pertanyaan yang timbul di kepala saya:
"sebenernya worth it nggak sih, bisnis yang sedang saya rintis ini?" 

tapi saat itu juga, suami selalu memberi kekuatan yang luar biasa besar dengan kata-kata sederhananya. 
"dijalanin aja, siapa tahu. karena kita enggak pernah tahu. 
kamu tuh hebat, saat enggak bekerja aja, masih bisa menghasilkan."

enam bulan lalu, awal-awal kesenangan baru ini bermula, saya suka becanda. saya bilang ke suami, saya ingin mengaduk gula sampai la luna kuliah nanti. lucu kan, saat nanti umur kita enam puluhan, kita masih bisa traktir temen-temennya anak-anak. hasil dari mengumpulkan recehan yang sedang kita lakukan hari ini. 

saat saya sedang lelah, ariawan selalu mengingatkan tentang becandaan saya itu. 
"ayo dong, semangat. katanya mau ngaduk sampai luna kuliah."  dan tuhan memang tidak tidur. alhamdulillah banget, berkah ramadhan, minggu pertama di bulan juli ini diawali dengan 25 pesanan. 

saya jadi ingat kata-kata teman baik saya, heikal. 
"it takes courage to start, and a power to stop." 

and so help us, god. 

ramadhan 2014, hari #2: mother and daughter

saya dan ibu sedang duduk di meja makan, mereka-reka penganan bukaan yang enak di lidah. seperti biasa, luna mengekor kemana pun saya pergi. 

saya: 
kamu enggak bosan ya lun, ngintilin bunda terus? 
dari lahir, lho. enggak sedetik pun bunda boleh jauh dari kamu. 

ibu saya: 
ya enggak ya lun ya?
apalagi nanti kalau bundanya harus tugas ke luar kota, pasti deh kehilangan. 

habis itu, saya dan ibu membahas sesuatu yang personal tentang lelaki-lelaki kami. dan beliau pun tertawa. terbahak-bahak, sampai saya tiba-tiba tercekat. berusaha mengingat kapan terakhir saya dan ibu tertawa bersama selepas itu. gagal. lupa total. 

iya, ya. 
enggak usah luna, ternyata saya yang sudah berusia 35 tahun pun enggak bisa jauh dari ibunda. dan melihatnya tertawa selepas tadi karena hal yang kecil, membuat saya sadar bahwa yang saya inginkan hanyalah melihat ibu bahagia. namun entah sudah berapa lama saya mungkin melupakan beliau. sibuk dengan kehidupan saya sendiri. 

sekarang, saya punya anak perempuan. 
terkadang ada juga terselip rasa khawatir. well, setiap ibu dan anak perempuannya pasti pernah bertengkar ya. diem-dieman. nah, apakah saya bisa menjadi seperti ibu saya, yang membuat saya ingin terus berdekatan dengannya. apakah saya bisa seikhlas ibu saya, yang tak lelah mendoa dan mau menerima setiap tindakan dan keputusan apapun yang saya buat. ataukah sebaliknya, saya akan menua dalam kesendirian. hanya karena saya terlalu merepotkan atau enggak oke untuk diajak temenan. 

walau rasanya egois untuk berharap anak-anak akan terus 'meriung' masa tua saya nanti, tidak dapat ditampik bahwa perasaan itu ada. 

mendidik anak laki-laki adalah menyiapkan mereka untuk bisa terbang. 
tapi mendidik anak perempuan adalah untuk  mengingatkan mereka agar tidak lupa kembali ke sarang. 

semoga saya bisa menjadi ibu yang lebih baik dari hari ini. semoga saya selalu bisa menjadi  penguat dan sahabat untuk anak-anak saya. seperti apa yang dilakukan ibu saya, untuk saya. 

amin. 

ramadhan 2014, hari #1: hikmah besar dari si kecil

sesuatu yang mampu menghikmah itu memang harus bersifat personal, jadi bisa mengena dan membekas. termasuk juga ramadhan. pesan massive yang diucapkan hampir semua ulama hanyalah pengingat, belum tentu semua orang memaknai hikmah ramadhan dengan cara yang sama. 

begitu juga dengan saya. lupa kapan terakhir mendulang hikmah ramadhan sepenuh hati, yang diiringi dengan perbaikan diri. tapi saya selalu bersyukur setiap ramadhan tiba, karena masih diberi kesempatan untuk bisa berbuka bersama keluarga besar di rumah orang tua. dulu waktu masih bekerja, saya selalu berusaha untuk berbuka di rumah saat buka puasa hari pertama. apakah itu pulang tenggo ataupun sengaja mengambil cuti.


khusus tahun ini, saat menjelang detik-detik terakhir memasuki ramadhan pun, hati saya rasanya hambar. saya kurang tergiur dengan iming-iming bulan pengampunan dosa dan mendulang pahala. karena menurut saya, yang namanya ibadah ya sudahlah mutlak untuk yang di atas. enggak perlu dihitung-hitung dan diharap balasnya. just do it. lalu berserah. kalaupun dibalas, ya alhamdulillah. banget. 


namun demi allah yang maha membolak-balikkan hati. tiba-tiba saya ingin menjalani ramadhan ini dengan lebih baik. jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. titik baliknya adalah karena saya ingat, pada ramadhan tahun lalu saya memiliki seorang anak perempuan. tanggal empat belas juli, tepat di hari ke empat belas ramadhan saat bulan membulat penuh dan saya beri ia nama la luna. kini ia tumbuh besar dan sehat dalam hitungan waktu yang tidak saya sadari. 


melalui ramadhan ini luna mengajarkan saya untuk menjadi lebih baik. diri yang lebih baik untuk saya sendiri. anak yang lebih baik untuk kedua orang tua saya. ibu yang lebih baik untuk anak-anak saya. istri yang lebih baik bagi suami. 


allah memberi hikmah ramadhan hari ini kepada saya, tidak melalui ulama ataupun takbir dan takzim yang agung. tapi melalui la luna, seorang bayi yang kecil. 


Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...