Banyak anak, banyak rejeki kata orang-orang. Ya rejeki anak.
Kalau ada seorang bapak yang tidak menafkahi anaknya, maka celakalah ia. Karena sebagian dari harta yang ia makan atau simpan, adalah harta anaknya.
Bersyukur. Yang banyak.
Jadi orang jangan terlalu pilih-pilih. Makan yang ada. Kerjakan yang ada. Enggak usah baru mau kerja kalau begini dan begitu. Inshaa Allah, kalau dimulai kerjaan yang enggak enak berujung dengan kerjaan yang lebih enak. Daripada menunggu dapat kerjaan enak.
Bekerjalah. Anak-anak harus melihat bagaimana orang tuanya bekerja.
Showing posts with label #aSLAPintheface. Show all posts
Showing posts with label #aSLAPintheface. Show all posts
2017: what dad says about husband & wifey
Chapter 1:
Enggak ada suami istri itu saling tanya "Lantas, mau kamu gimana?" dan mensyaratkan satu dengan lain untuk menjadi orang yang dikehendaki pasangannya. Saya rasa tidak begitu cara berumah tangga. Karena nanti, kalau sewaktu-waktu orang itu kembali kepada karakter dirinya, ya bisa ribut lagi dengan alasan "Kan dulu sudah ada perjanjian mau begini. Atau begitu. Tapi enggak kejadian."
Menurut saya, dengan saling sayang, semua ketidaksempurnaan akan tertutup. Nah, bagaimana memelihara sayang itu?
Dengan menjaga omongan. Jangan berkata yang kasar kepada istri atau suami.
Saling menghormati. Hargai setiap jerih upaya masing-masing dan hargai saat mau waktu sendiri. Karena di kantor mungkin sedang capek, mungkin sedang ada masalah, kadang tidak semua bisa dibicarakan saat itu juga kepada pasangan.
Ke tiga, ya disyukuri. Bersyukur dengan apa yang ada. Jangan cari yang enggak ada.
Chapter 2:
"Tidak semua perkataan perempuan / istri itu harus dimengerti. Cukup didengarkan saja. Karena namanya perempuan, kadang lompatan konteks pembicaraan itu terlalu cepat dan jauh; padahal kita (lelaki) masih mikir dengan apa yang baru saja dia katakan. Nah, kalau sudah lompat-lompat gitu ya didengarkan saja. Enggak perlu dimengerti isinya. Yang perlu dimengerti adalah, bahwa dia lagi butuh didengarkan."
Enggak ada suami istri itu saling tanya "Lantas, mau kamu gimana?" dan mensyaratkan satu dengan lain untuk menjadi orang yang dikehendaki pasangannya. Saya rasa tidak begitu cara berumah tangga. Karena nanti, kalau sewaktu-waktu orang itu kembali kepada karakter dirinya, ya bisa ribut lagi dengan alasan "Kan dulu sudah ada perjanjian mau begini. Atau begitu. Tapi enggak kejadian."
Menurut saya, dengan saling sayang, semua ketidaksempurnaan akan tertutup. Nah, bagaimana memelihara sayang itu?
Dengan menjaga omongan. Jangan berkata yang kasar kepada istri atau suami.
Saling menghormati. Hargai setiap jerih upaya masing-masing dan hargai saat mau waktu sendiri. Karena di kantor mungkin sedang capek, mungkin sedang ada masalah, kadang tidak semua bisa dibicarakan saat itu juga kepada pasangan.
Ke tiga, ya disyukuri. Bersyukur dengan apa yang ada. Jangan cari yang enggak ada.
Chapter 2:
"Tidak semua perkataan perempuan / istri itu harus dimengerti. Cukup didengarkan saja. Karena namanya perempuan, kadang lompatan konteks pembicaraan itu terlalu cepat dan jauh; padahal kita (lelaki) masih mikir dengan apa yang baru saja dia katakan. Nah, kalau sudah lompat-lompat gitu ya didengarkan saja. Enggak perlu dimengerti isinya. Yang perlu dimengerti adalah, bahwa dia lagi butuh didengarkan."
2017: Tentang Tuhan
Nooooo!
Get out, get out!
I want to get out!
Bunda, wake up! Do not sleep there, there's a snake!
Kata Luna, di suatu pagi buta, terbangun dari mimpinya.
There was a snake.
It is small. It is bleeding.
It is okay. Ada bunda dan bubu, jangan takut lagi. Seprainya sudah diangkat, sudah diganti enggak ada lagi ular dan darah. Lagian, itu mimpi bukan betul-betul kejadian.
Ada Bunda ya.
Emang Bunda enggak takut ular?
And I was like hit by thunder.
Of course, I am sooooo afraid with snakes.
And Luna knows that.
Hmmm, aku takut juga sih sama ular.
Nanti kalau ada lagi, kita pukul aja. Oke?
Luna thinks for a while.
Luna mau berdoa aja.
I might have died being hit by thunder twice.
But her words are so ... thundering and englightening.
And I think it was the moment she learns about the Almighty.
The concept of God when she has no trust on power within and around her.
... and I learnt a lesson.
Get out, get out!
I want to get out!
Bunda, wake up! Do not sleep there, there's a snake!
Kata Luna, di suatu pagi buta, terbangun dari mimpinya.
There was a snake.
It is small. It is bleeding.
It is okay. Ada bunda dan bubu, jangan takut lagi. Seprainya sudah diangkat, sudah diganti enggak ada lagi ular dan darah. Lagian, itu mimpi bukan betul-betul kejadian.
Ada Bunda ya.
Emang Bunda enggak takut ular?
And I was like hit by thunder.
Of course, I am sooooo afraid with snakes.
And Luna knows that.
Hmmm, aku takut juga sih sama ular.
Nanti kalau ada lagi, kita pukul aja. Oke?
Luna thinks for a while.
Luna mau berdoa aja.
I might have died being hit by thunder twice.
But her words are so ... thundering and englightening.
And I think it was the moment she learns about the Almighty.
The concept of God when she has no trust on power within and around her.
... and I learnt a lesson.
2017 tentang fungsi dan hati
Selama sekian tahun, weekend seringkali disisipi dengan reminder-reminder untuk menjadi normal dengan mandi. Pagi atau sore, atau salah satu diantaranya. Karena sewajarnya mandi itu dua kali sehari.
"Sudah mandi belum?"
"Guys, mandi."
"Kok belum mandi?"
"Ya ampuuuuuuun pada belum mandiiiiii... mandi sana!"
Hingga, hari itu tiba. Hari yang wajar. Dimana setiap weekend tiba, tidak lagi menjadi weekend yang tidak normal karena dia dan mereka selalu mandi dan wangi tanpa disuruh.
Lalu?
Iya, lalu apa kalau sudah mandi?
Tidak lantas setelah mandi kemudian dihujani pujian-pujian surgawi, ternyata.
Tidak semerta-merta setelah mandi akan dipeluk dan dicium juga, ternyata.
Sudah mandi, ya sudah. Hening.
Lalu, yang kemarin ribut-ribut suruh mandi itu untuk apa?
Saat itu, saat dimana semua berjalan normal, weekend jadi enggak normal lagi. Karena enggak ada lagi suruh-suruhan mandi, suruh-suruhan makan, dan jadinya diem-diem aja. Dan seseorang baru saja terhenyak, bahwa selama ini sehari-hari komunikasi mereka hanyalah sebatas fungsi.
Di tahun 2017 ini, dikasih kesempatan untuk belajar (lagi) memilih mana hal penting yang lebih penting dari semua hal. Belajar untuk bertanya ke diri sendiri soal 'then what if they do what I say?' sebelum meminta suami dan anak-anak melakukan sesuatu.
Month 2 Day 5
Ternyata,
cuma butuh waktu 2 bulan 5 hari
untuk bisa bikin mengumpat lagi ha ha ha!
Tae, ah!
Kampret!
Dammit!
Shit!
Bencong!
Ya, ... mayan banyak ya ternyata.
Kalau saya bisa ingat kapan mulai suka mengumpat, saya juga ingat kapan mulai menghentikan kebiasaan jelek itu. Gara-garanya, pas ketemu ariawan setelah dia pulang dari pergi jauh. Sampai akhirnya kita menikah, cuma dia yang selalu ingetin saya kalo swearing itu nggak baik dan dia nggak suka sama orang yang suka mengumpat. Kadang suka defense sih, bahwa umpatan-umpatan saya itu cuma ekspresi, bukan maksutan untuk menyumpahi. Bahkan bos-bos expat di kantor pun sering banget shat shit shat shit dan fak fuk fak fuk sama orang. Tapi terus dia cerita, seumur-umur dia kerja dan sekolah di sana-sini, belum pernah dia temui orang bule yang ngasal shat shit shat shit atau fak fuk fak fuk sama orang. Karena kata kata effin' itu udah tingkatan yang sangat tidak sopan, dan yang ngomong kata itu pun dipertimbangkan sebagai orang yang tidak berpendidikan.
Lah, terus? Apa cuma orang iklan aja ya, yang menganggap fak fuk shat shit itu biasa? Is it a trend, maybe? Biar dibilang kekinian? Atau biar dibilang orang bebas?
Yang jelas sih saya sempat berhenti mengumpat. Ndelalah kok ya cuma butuh waktu 2 bulan 5 hari untuk mengumpat lagi di depan suami gegara arloji saya pecah karena si mas yang mengganti baterai enggak bener kerjanya.
Bangke! Kata saya.
Pak suami langsung ngeliatin.
Oops!
Everyone is facing a battle we don't know.
Pagi hari waktu mau berangkat kerja, sebenarnya badan udah ngilu-ngilu enggak enak dari malamnya. Tapi, teman-teman bilang itu cuma sindrom kerja. It happens all the time. Khususnya, setiap habis liburan. Padahal, di kerjaan ini aku cuma dikontrak 10 hari. Masa iya masih harus punya sindrom juga, padahal udah libur 2 tahun?
Briefing pun berjalan lancar. Alhamdulillah koneksi internet hari ini bersahabat. Telecon dengan 5 negara enggak menemui gangguan apapun selain gangguan konsentrasi; karena team leader di ujung sana mukanya mirip banget sama matt damon. Sigh, ... aren't i too old for this hahaha.
Asik-asik kerja, badan tiba-tiba menggigil. Kirain cuma masalah ac aja. Dengan malu hati, dikeluarinlah wind breaker yang biasa dipake naik ojek jadi penghangat tubuh di ruangan itu. Tentunya, ... enggak stylish banget. Warna turquoise gonjreng juga bikin orang nengok dan bertanya "kedinginan???" ... "Bingiiiiiiits" jawab aku.
Jam 4 sore, udah bener-bener enggak tahan lagi. Segera manggil kamen rider kesayangan alias bang iwan ojek yang untungnya, segera datang. Karena enggak tahan dengan dinginnya kantor, akhirnya aku memilih untuk nunggu di halte pinggir jalan aja. Yap, masih dengan pakaian lengkap dong. Udahlah pakai kaos tangan panjang, long vest, plus wind breaker.
Bang Iwan pun ngebut, demi mencapai apotik terdekat dari rumah untuk beli obat. Di kepala yang udah berat banget ini plus ditambah beban helm, udah jelas mau beli apa. Obat dewa aku cuma cefixime dan pantozol.
Begitu sampai apotik, tanpa lepas helm aku langsung lari ke kasir penerimaan resep. Tapi di sana ada bapak tua yang lagi galau memilih obat. Demi rasa hormat karena dia udah datang duluan, aku tunggu dengan sabar. Bapak itu banyak tanya-tanya, salah satunya bertanya tentang obat platogrik. Aku terhenyak. Oh, itu kan obatnya mamah. Dari situ aku langsung menguping.
Rupanya, platogrik terlalu mahal buatnya. Mungkin, harus dikonsumsi jangka panjang jadi harus dipikirkan konsistensinya. Kemudian si bapak bertanya tentang isi, miligram, merk lain, alternatif ini dan itu. Menelfon, konfirmasi ini dan itu, ada kali setengah jam. Sementara kepala udah beraaat banget. Tapi bapak itu mengingatkan sama orang tuaku juga. Mungkin, eh ... pastinya, ini yang terjadi juga sama mereka. Sakit di masa tua, sedih banget rasanya. Harus mengkonsumsi obat jangka panjang yang sudah enggak lagi ditanggung kantor. Enggak terasa tiba-tiba malah jadi nangis. Rasa amarah dan ketidaksabaran tiba-tiba hilang aja gitu.
I was totally sick. I had a fever for 39,6. I felt bad. But I thank god, I did not make myself even worse by getting angry for the old man. Indeed, everyone is facing a battle we don't know.
Just be nice.
Hope I can always be a nice person. A nice daughter.
Briefing pun berjalan lancar. Alhamdulillah koneksi internet hari ini bersahabat. Telecon dengan 5 negara enggak menemui gangguan apapun selain gangguan konsentrasi; karena team leader di ujung sana mukanya mirip banget sama matt damon. Sigh, ... aren't i too old for this hahaha.
Asik-asik kerja, badan tiba-tiba menggigil. Kirain cuma masalah ac aja. Dengan malu hati, dikeluarinlah wind breaker yang biasa dipake naik ojek jadi penghangat tubuh di ruangan itu. Tentunya, ... enggak stylish banget. Warna turquoise gonjreng juga bikin orang nengok dan bertanya "kedinginan???" ... "Bingiiiiiiits" jawab aku.
Jam 4 sore, udah bener-bener enggak tahan lagi. Segera manggil kamen rider kesayangan alias bang iwan ojek yang untungnya, segera datang. Karena enggak tahan dengan dinginnya kantor, akhirnya aku memilih untuk nunggu di halte pinggir jalan aja. Yap, masih dengan pakaian lengkap dong. Udahlah pakai kaos tangan panjang, long vest, plus wind breaker.
Bang Iwan pun ngebut, demi mencapai apotik terdekat dari rumah untuk beli obat. Di kepala yang udah berat banget ini plus ditambah beban helm, udah jelas mau beli apa. Obat dewa aku cuma cefixime dan pantozol.
Begitu sampai apotik, tanpa lepas helm aku langsung lari ke kasir penerimaan resep. Tapi di sana ada bapak tua yang lagi galau memilih obat. Demi rasa hormat karena dia udah datang duluan, aku tunggu dengan sabar. Bapak itu banyak tanya-tanya, salah satunya bertanya tentang obat platogrik. Aku terhenyak. Oh, itu kan obatnya mamah. Dari situ aku langsung menguping.
Rupanya, platogrik terlalu mahal buatnya. Mungkin, harus dikonsumsi jangka panjang jadi harus dipikirkan konsistensinya. Kemudian si bapak bertanya tentang isi, miligram, merk lain, alternatif ini dan itu. Menelfon, konfirmasi ini dan itu, ada kali setengah jam. Sementara kepala udah beraaat banget. Tapi bapak itu mengingatkan sama orang tuaku juga. Mungkin, eh ... pastinya, ini yang terjadi juga sama mereka. Sakit di masa tua, sedih banget rasanya. Harus mengkonsumsi obat jangka panjang yang sudah enggak lagi ditanggung kantor. Enggak terasa tiba-tiba malah jadi nangis. Rasa amarah dan ketidaksabaran tiba-tiba hilang aja gitu.
I was totally sick. I had a fever for 39,6. I felt bad. But I thank god, I did not make myself even worse by getting angry for the old man. Indeed, everyone is facing a battle we don't know.
Just be nice.
Hope I can always be a nice person. A nice daughter.
![]() |
| Anak perempuan antar ayah ke dokter. Rapinya si ayah. |
![]() |
| Anak perempuan antar ibu ke dokter. Pakai kaos kaki warna warni. |
What I should be drinking more often
"Bunda,
I think you should drink
more low fat milk"
Malicca Titan, 7 tahun 9 bulan
sambil elus-elus perut bundanya.
Bunda, kenapa orang masuk penjara?
Me and my son on a fine morning, earlier back then.
Malicca:
Nda, kenapa orang masuk penjara?
Me:
Hmmm, ... mau jawaban jujur atau mau jawaban bener?
Malicca:
Apa bedanya?
Me:
Pilih dulu, dong.
Malicca:
Apa aja tadi pilihannya?
Me:
Mau tau jawaban bener, atau jawaban jujur?
Malicca:
Hmmm ... yang bener apa?
Me:
Jawaban benernya, orang masuk penjara karena dia berbuat salah atau melanggar hukum.
Malicca:
Kalau jawaban jujur?
Me:
Jawaban benar itu, ya benar.
Jawaban yang jujur itu, jawaban asli sesuai fakta. Yang benar-benar terjadi.
Enggak selalu benar, sih.
Jawaban jujur tentang kenapa orang masuk penjara adalah,
1. Karena dia berbuat salah, ... DAN ketahuan.
2. Orang masuk penjara karena, ... dia enggak bisa membuktikan bahwa dia benar.
Malicca: diam.
Me (dalam hati):
I know, son.
You might not understand me.
But I know you will, someday.
Malicca:
Nda, kenapa orang masuk penjara?
Me:
Hmmm, ... mau jawaban jujur atau mau jawaban bener?
Malicca:
Apa bedanya?
Me:
Pilih dulu, dong.
Malicca:
Apa aja tadi pilihannya?
Me:
Mau tau jawaban bener, atau jawaban jujur?
Malicca:
Hmmm ... yang bener apa?
Me:
Jawaban benernya, orang masuk penjara karena dia berbuat salah atau melanggar hukum.
Malicca:
Kalau jawaban jujur?
Me:
Jawaban benar itu, ya benar.
Jawaban yang jujur itu, jawaban asli sesuai fakta. Yang benar-benar terjadi.
Enggak selalu benar, sih.
Jawaban jujur tentang kenapa orang masuk penjara adalah,
1. Karena dia berbuat salah, ... DAN ketahuan.
2. Orang masuk penjara karena, ... dia enggak bisa membuktikan bahwa dia benar.
Malicca: diam.
Me (dalam hati):
I know, son.
You might not understand me.
But I know you will, someday.
learning style
why do we have different learning styles?
because each people has different brain. different size, different capacity, different connections amongst its nerves.
this post was inspired by malicca, my second grader who has hard time taking orders and listen to his mom. me.
maybe, because he is in the phase of being rebellious. this shall pass, some said.
okay, that was the shortest and easiest answer a parent can make. but what if it is not? what if he is just being ... him? and the phase would not be a phase but be a forever and ever?
then i start to ponder what have gone wrong. after a few cups of coffee and lots and lots and lots of this jaw of mine did its exercise *read: munching* ... well, maybe, i have treated him the wrong way.
maybe i did not clear enough. or blame my tone of voice that is a bit cartoony. or maybe i talked too much. or maybe he did not understand the words i use. or maybe he is overload with all the distractions around him. or maybe he was thinking of his world in minecraft. are they the reasons why he did not listen to what i said?
then i took a little detour of what might gone wrong. i did a few research from the internet and rechecked his teachers, in a sum up, malicca is a highly visual kid with a little bit kinaesthetic style of learning.
he visuals things, on his sketches and mind. sometimes he just laugh seeing someone, simply because he creates a story in his mind. he quickly grabs everything he sees that interests him and put them in his memory lane. he quickly spots a thing that interests him within seconds as our car passes by.
yes, what interests him, is the key. now you can imagine how boring a house chore for him. how to make them interesting so they can interest him? that is the question.
so, then i changed my way of giving orders. i write all the things he has to do, in this case: his daily chores. i write every order on a piece of paper and put it on the spot where he is obliged to do the chores. it started from where to put his shoes, bags, what to do after school, what to do before shower, before bed ... every single thing. and because he also has a mixed learning style with kinaesthetic, so on the first day of the launch of the chore visual kit; i took him for a tour around the house. just like a roommate giving a tour to his room. what are the do and the don'ts by presenting the visual kits that will help him what to do.
amazingly, it works. well, at least for the past three weeks.
then i also got another conclusion about why he did not hear me much. that maybe, i should have listened to him more.
#jleb
because each people has different brain. different size, different capacity, different connections amongst its nerves.
this post was inspired by malicca, my second grader who has hard time taking orders and listen to his mom. me.
maybe, because he is in the phase of being rebellious. this shall pass, some said.
okay, that was the shortest and easiest answer a parent can make. but what if it is not? what if he is just being ... him? and the phase would not be a phase but be a forever and ever?
then i start to ponder what have gone wrong. after a few cups of coffee and lots and lots and lots of this jaw of mine did its exercise *read: munching* ... well, maybe, i have treated him the wrong way.
maybe i did not clear enough. or blame my tone of voice that is a bit cartoony. or maybe i talked too much. or maybe he did not understand the words i use. or maybe he is overload with all the distractions around him. or maybe he was thinking of his world in minecraft. are they the reasons why he did not listen to what i said?
then i took a little detour of what might gone wrong. i did a few research from the internet and rechecked his teachers, in a sum up, malicca is a highly visual kid with a little bit kinaesthetic style of learning.
he visuals things, on his sketches and mind. sometimes he just laugh seeing someone, simply because he creates a story in his mind. he quickly grabs everything he sees that interests him and put them in his memory lane. he quickly spots a thing that interests him within seconds as our car passes by.
yes, what interests him, is the key. now you can imagine how boring a house chore for him. how to make them interesting so they can interest him? that is the question.
so, then i changed my way of giving orders. i write all the things he has to do, in this case: his daily chores. i write every order on a piece of paper and put it on the spot where he is obliged to do the chores. it started from where to put his shoes, bags, what to do after school, what to do before shower, before bed ... every single thing. and because he also has a mixed learning style with kinaesthetic, so on the first day of the launch of the chore visual kit; i took him for a tour around the house. just like a roommate giving a tour to his room. what are the do and the don'ts by presenting the visual kits that will help him what to do.
amazingly, it works. well, at least for the past three weeks.
then i also got another conclusion about why he did not hear me much. that maybe, i should have listened to him more.
#jleb
one of that #jleb moment
me:
Tan, kok bunda perhatiin udah lama sih enggak sholat ke mesjid sama aki?
t:
Abis titan sebel, suka dipaksa Iqro sama Aki. Dimarahin, lagi.
me:
oh, gitu. oke.
Tan, kok bunda perhatiin udah lama sih enggak sholat ke mesjid sama aki?
t:
Abis titan sebel, suka dipaksa Iqro sama Aki. Dimarahin, lagi.
me:
oh, gitu. oke.
a love letter
Dear Malicca,
you have been giving me things all along.
Start from your paintings, drawings, stories you made yourself or letters.
Today, I got another letter from you.
But of all letters you gave me, this one is a bit different.
I felt this one is more ... personal.
It was like you wrote it from the bottom of your heart.
It was like you were telling me how disappointed you were (because I left you to the office),
... but you loved me nevertheless (I knew it from your closing lines).
Terima kasih ya sayang,
and one thing for sure;
I never felt a single bit of boredom taking care of you and your little sister.
You are my children.
It is just sometimes, ... or many times,
mom got to do what mom got to do.
And you will know, those are all for you.
I love you nonetheless!
you have been giving me things all along.
Start from your paintings, drawings, stories you made yourself or letters.
Today, I got another letter from you.
But of all letters you gave me, this one is a bit different.
I felt this one is more ... personal.
It was like you wrote it from the bottom of your heart.
It was like you were telling me how disappointed you were (because I left you to the office),
... but you loved me nevertheless (I knew it from your closing lines).
Terima kasih ya sayang,
and one thing for sure;
I never felt a single bit of boredom taking care of you and your little sister.
You are my children.
It is just sometimes, ... or many times,
mom got to do what mom got to do.
And you will know, those are all for you.
I love you nonetheless!
... but there are some rules.
Mencontek ibunya (dan juga di lingkungannya), sekarang Titan juga suka ikut-ikutan bikin rules.
Rules yang dia ciptakan terakhir adalah rules saat dia membaca cerita sebelum tidur, baru aja dibikin tadi malam.
T: OK Bunda, I will read you bedtime story but there are some rules.
B: Uh? What rules?
T: Listen carefully. No questions and no photo-photo and upload them to Path.
#Ouch
#Jleb
B: Okay! (but I will surely put this in my blog!)
*selimutan, umpetin handphone dan akhirnya ketiduran bareng*
Rules yang dia ciptakan terakhir adalah rules saat dia membaca cerita sebelum tidur, baru aja dibikin tadi malam.
T: OK Bunda, I will read you bedtime story but there are some rules.
B: Uh? What rules?
T: Listen carefully. No questions and no photo-photo and upload them to Path.
#Ouch
#Jleb
B: Okay! (but I will surely put this in my blog!)
*selimutan, umpetin handphone dan akhirnya ketiduran bareng*
"If someone gets angry, ..." and so you said so
Malicca,
Not only you started not wanting me to read a bedtime story for you - and prefer you tell me your story to me - lately, you also started to give me some advice - which I respect.
Here was what you said to me few days ago:
"Bunda, kalau ada orang lagi marah jangan diajak ngomong dulu. Biarin aja dia marah dulu sampai habis marahnya, baru habis itu boleh diajak ngomong. Soalnya nanti dia tambah marah kalau masih marah trus ditanya-tanya dan diajak ngobrol."
Okay, I will surely remember that :)
Not only you started not wanting me to read a bedtime story for you - and prefer you tell me your story to me - lately, you also started to give me some advice - which I respect.
Here was what you said to me few days ago:
"Bunda, kalau ada orang lagi marah jangan diajak ngomong dulu. Biarin aja dia marah dulu sampai habis marahnya, baru habis itu boleh diajak ngomong. Soalnya nanti dia tambah marah kalau masih marah trus ditanya-tanya dan diajak ngobrol."
Okay, I will surely remember that :)
lil' boss says....
Setiap hari kamu pergi ke sekolah diantar aki naik motor,
kamu selalu minta Bunda untuk mengantar sampai di pintu pagar.
supaya bisa kissie-kissie bunda, kissie-kissie adek bayi boink boink boink and throw a wave while saying "bubye bunda, happy-happy at the office!"
tapi hari ini enggak cuma itu.
kamu juga sisipin pesan lain.
"Jangan sakit lagi ya bunda, jangan sakit lagi kaya kemarin ya. sehat-sehat, k?"
awritey little boss!
*elus-elus kepala*
kamu selalu minta Bunda untuk mengantar sampai di pintu pagar.
supaya bisa kissie-kissie bunda, kissie-kissie adek bayi boink boink boink and throw a wave while saying "bubye bunda, happy-happy at the office!"
tapi hari ini enggak cuma itu.
kamu juga sisipin pesan lain.
"Jangan sakit lagi ya bunda, jangan sakit lagi kaya kemarin ya. sehat-sehat, k?"
awritey little boss!
*elus-elus kepala*
If son is monkey and so is Mommy, don't you think?
Yes Malicca,
you were absolutely rrrrrrrrright!
Okay,
it was one night when we were sitting together watching TV.
It was not Animal Planet, for sure.
But I wonder why there was a bunch of monkeys on the TV Screen.
Amongst them, was a baby monkey.
So cute.
Out of curiosity, I said this to you.
"Look! There's Titan. When did you do the shooting?"
The next scene was the baby monkey jumped up to his mom.
And you answered me, in flat voice and flat face.
"Iya, tuh lagi digendong sama Bunda kan?"
-__-
Sometimes I wonder where did you get those wittiness.
Oh, yea I know.
you were absolutely rrrrrrrrright!
Okay,
it was one night when we were sitting together watching TV.
It was not Animal Planet, for sure.
But I wonder why there was a bunch of monkeys on the TV Screen.
Amongst them, was a baby monkey.
So cute.
Out of curiosity, I said this to you.
"Look! There's Titan. When did you do the shooting?"
The next scene was the baby monkey jumped up to his mom.
And you answered me, in flat voice and flat face.
"Iya, tuh lagi digendong sama Bunda kan?"
-__-
Sometimes I wonder where did you get those wittiness.
Oh, yea I know.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...


