Showing posts with label womanhood. Show all posts
Showing posts with label womanhood. Show all posts

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.

www.thestorygoeshere-blog.tumblr.com 


The terrible two

La Luna is two years and four months now. Day by day, I am starting to realize how drama queen she has become. Sometimes I got easily ticked off. Sometimes, I pretend being a deaf when she tantrums. Here are some lists.

"The world revolves around me"
This is the first drama of all. When she talks, she will not allow you look at other spot. She would just pull off your jaw so you can see her in the eye. And watch she talks, sings or do something.

"If I am upset, I will make sure your life is miserable too."
She cried and cried and will not let you do your things. She will try harder to make you upset too. Like screaming while stepping on your toe, or throw your things to the trash bin, everything but a peaceful you.

"Everything needs to be done, my way. "
If you get wrong doing it, she would ask you to do it again.
Or, a tantrum.

"If I don't get what I want, so does everyone else. "
She is not getting an ice cream because she is having fever. Then she would grab anyone's ice cream and throw them away.

I wonder whether these things happen to La Luna only, or it is so typical of raising a daughter. Sadly and luckily, these also happen to most moms with daughters. I asked a friend when I will get through this phase. She laughed. Hard. Apparently the drama will always come up. In another form as our daughter grows.

Good God!

"Guys, how can you fall in love with us?"

Those who took swimming lessons, for dinner

I think,
one of the bless for a wife is to have a husband who will eat anything she cooks for him.
Imagine if you have to take another complaints after hours of cooking and clean up all the dirty utensils after you cook. What even more hurting is when he doesn't touch the food at all.
Aw, it is so rude!

Since Ariawan changed his eating habit to food combining, I must say that I am a little bit out of hands. Morning is easy. Lunch is a bit tricky. But dinner, is the hardest part because I need to vary my recipes of cooking animals. The two legged animals are boring, the four legged animals are hard to bite (because I don't have pressure cooker) and those with fins are smelly.

I managed to bake the fins tonight, anyway. Tasted so so, hubby and kids did not look excited but they ate it anyway. Need to try harder next time.


Garlic, pepper, lemon, honey

The cuttlefish are good, however.


Diet? What diet?

Saat suami memutuskan untuk diet, maka itulah saatnya sang istri menderita kepusingan yang amat sangat. Pusing mikirin musti ngasih makan apa.

Lima tahun yang lalu beratnya bubu masih ideal. Hasil dari sepedaan naik turun bukit kalo kuliah ditambah kelupaan makan karena deadline tugas-tugas dan analisa riset yang ditagih mulu sama profesornya.
Sampe Jakarta, tingkat stres yang lebih besar dan kurang beraktivitas fisik bikin bubu melar abis-abisan. Belum lagi kalo ngantor naik ojek yang tinggal menclok. Beda dengan nyetir sendiri yang sebenernya masih memperkanankan adanya gerakan, mikir dan jalan dari parkiran ke tempat duduk di kantor. Tapi memang kondisi jalanan jakarta makin devilish aja setiap harinya.
Trus lagi, bubu punya kebiasaan enggak bisa lihat makanan sisa. Katanya sih dulunya hidup susah, jadi kasian kalau liat makanan dibuang-buang. Akhirnya dimakanlah itu makanan kalau titan, luna dan aku enggak habis.

And so the story goes, menggelembunglah badannya. Dua puluh kilo lebih dicapai dalam empat tahun. Hingga beberapa hari kemarin, dia mengeluh badannya mulai enggak enak dan sering pusing. Akhirnya dia memutuskan mau merubah pola makan.

Jeng-jeng! This is it. Dulu-dulu saya yang paksa dia untuk makan yang baik. Tapi kalau dia menggelendut seperti sekarang ini ya sebenernya salah saya juga ya. Kan saya yang sediain makannya. Dan juga cemilan-cemilan di rumah. Dan juga ramen-ramen instan itu yang Masya Allah enaknya apalagi kalo dimakan tengah malam. Plus soda-soda yang tersembunyi di lemari supaya enggak dilihat anak-anak, tapi siap dikonsumsi bubu - bundanya hahahahaha. Culas.

Akhirnya mulailah saya googling. Sempet tanya-tanya temen juga yang punya catering diet mayo. Sempet tanya nutrisi-nutrisi macam Moment dan Herbal Life. Googling diet berdasarkan tipe darah. Wah, tapi ternyata saya malah jadi mendapatkan berita-berita yang justru bertolak belakang. Disinyalir diet mayo itu sebenarnya bogus atau termasuk dalam kategori hoax. Karena ternyata Mayo Clinic enggak pernah mengeluarkan statement resep diet tersebut karena mereka percaya kesehatan bukan cuma dilihat dari pola makan.
Kalau minum suplemen, kayanya bubu bukan tipe yang mau makan suplemen-suplemen aneh-aneh gitu. Dia orangnya termasuk yang hati-hati kalau minum obat. Lagi pusing atau flu aja belum tentu dia mau minum obat, apalagi suplemen diet? A big NO NO lah kayanya.
Diet berdasarkan golongan darah? Nah, ternyata setelah baca-baca literatur, golongan darah O itu ribet banget dietnya. Saya yang skip lah kalo ini. Trus gimana dong?

Akhirnya saya teringat nama erikar lebang dengan food combiningnya. Sebenernya udah lama juga sih denger-denger soal food combining ini. Dan setelah baca-baca, ternyata food combining memang bukan jenis pola makan baru. Dietnya Rasulullah juga sebenernya model-model begini (katanya) hihihihi.
Akhirnya aku kumpulin tuh alasan-alasan kenapa memilih food combining. Karena bubu tuh bukan tipe orang yang suka diet, tapi makanan tanpa rasa pun pasti susah dia telan. Kasian kalau musti diet tersiksa. Saat aku mengajukan proposal, tak disangka tak dinyana dia menjawab "Aku nunut waeeeeee, Nda!" Hahahaha ... tau gitu kasih buah aja pagi-siang-malam.

Tanpa persiapan gimana-gimana, akhirnya dimulailah program diet itu keesokan harinya. Karena inti food combining cuma ini:




Alhamdulillah banget punya suami yang mangap aja dikasih apaan aja. Hari pertama sarapan aku kasih jus buah yang rasanya masih enak. Makan siang dan malam sih biasa sesuai bagan di atas. Cuma untuk malam hari, selalu ditutup lagi dengan jus. Di hari ke dua, mulai jahil masukin sedikit oats. Seret. Iya bu, ini air putihnya kalau seret. Hari ke tiga, mulai disisipin sayur mentah di jusnya. Kok hijau? Iya, kecemplung pok choi tadi. Tapi tetep ditelen dengan sukses.

Rupanya bubu udah bener-bener niat nurunin berat badan, nurut aja sama apa yang dikasih istrinya dan tanya-tanya kalau ada makanan godaan di kantor.

"Nda, boleh makan cakwe nggak?"
"Sebenernya sih enggak. Tapi kasian kamu. Boleh deh, tapi satu aja. Peres minyaknya."

"Nda, Jumat kan ada catering. Menunya lodeh, ayam goreng sama nasi. Yang enggak boleh dimakan yang mana?"
"Terserah maunya nasi + lodeh atau lodeh + ayam?"
"Yah ternyata sayurnya ada udang dan tahunya"
"Tahunya boleh, udangnya jangan. Protein hewan kan buat malam aja. Kaya singa bu, abis mamam daging trus bobo."
"Oke Oke"

Hahahahaha apapun dietnya emang paling bener drive dari diri sendiri, ya. Alhamdulillah memasuki hari ke empat dari berat 79 kg tadi pagi beratnya bubu udah 76 kg. Mukanya seneng banget.

"Bu, enak gak sarapan makan buah doang?"
"Gak enak, mending gak usah sarapan aja"
"Tapi nanti makan siangnya nggragas."
"Iya juga sih"
"Lagian enggak boleh, menyalahi siklus tubuh."
"Aku nunut wae lah, Ndaaaaaa"

Hahahahaha ... oh iya, buat yang mau tau tentang si food combining itu bisa google aja webnya erikar lebang, ya.

Fridate with the girls




I am a mother goin' out with my mother. 

Jumat kemarin, kita niat pergi agak jauh. Dharmawangsa Square. Well, waktu yang kurang tepat untuk jalan-jalan sih sebenarnya. You know, ... Jakarta's traffic on friday. Tapi karena mood lagi mendukung dan memang ada tujuan yang dicari, yaitu mencari tas sekolah buat kakak Titan yang sudah 3 tahun enggak diganti, akhirnya kita pergi juga walaupun harus menunggu taksi dari jam 11 dan baru dapat jam setengah dua.

Seperti yang diperkirakan, ... macet. Saya lupa ada pembangunan fly over di depan Rumah Sakit Pertamina yang mengekor ke Sinabung dan Barito, rute perjalanan kami. Alhamdulillah, sampai dengan aman enggak pake nagging. Tentunya, berkat nenen sepanjang jalan dan si bocah tertidur pulas.

Sebelumnya udah browsing-browsing sih, tas kaya apa yang bakalan dibeli. Titan memang sangat picky dengan semua outfit yang bakal dia pakai. Sebelumnya sudah ngubek-ngubek Gramedia, tapi enggak ada satu pun tas yang dia suka. Ada sih sempet lirik-lirik Jansport Original yang modelnya vintage gitu, tapi kok ya harganya satu jutaan. Lebay banget, kata bundanya. Mending buat bayar asuransi kesehatan dan sisanya buat kontrol ke dokter gigi hahaha.

Akhirnya kembali ke selera tas dia waktu di TK, Sugar Booger. Ngubek-ngubek instagram, akhirnya nemu perpanjangan si Ore Originals ini yaitu di MomsAndI di Kemang. Tapi kok ya Kemang ya. Jauh sih enggak terlalu, tapi macetnya ... aduhai!
Kemudian saya baru ingat, satu tempat dimana saya membeli Sugar Booger ini pertama kali. Setelah saya google dan dapat nomer telfonnya, itulah kenapa akhirnya kita ke sana langsung. Karena online store-nya enggak update dengan produk terbaru mereka. Nama tokonya Little Toes, di sayap ujung (yang saya selalu lupa sayap sejajar Ranch Market atau justru di ujung lain).

Begitu masuk langsung kalap dengan barang yang lucu-lucu. Si Sugar Booger ini, seperti biasa, lebih banyak koleksi lunch sack dan Kiddie backpack nya yang banyak. Luna juga udah sibuk pilih-pilih. Di pojokan, baru deh kelihatan koleksi zippy backpack yang lebih cocok untuk anak SD. Meskipun enggak selengkap yang saya harap, Alhamdulillah yang kira-kira Titan suka ada di sana. Bahannya kanvas ringan, strap di pundak enggak terlalu lebar, enggak terlalu banyak kantong, ukurannya juga enggak terlalu besar dan enggak terlalu kecil. Cukuplah untuk bawa folder PR dia berukuran kertas folio, dua buku tulis, sarung, peci, snack box dan tempat minum. Dan yang penting, dia pasti suka gambarnya. Dan yang penting lagi, harganya juga masuk akal. Rp. 295.000 aja, jauh lebih murah dibanding harga di website Ore Original. Sedangkan Lunch sack buat Luna, harganya Rp. 200.000

Yeay! Akhirnya dapat juga tas buat si kakak! 
Tapi sebenernya bukan itu aja sih highlight Fridate kita. 

Setelah dapat barang, ktia jalan-jalan sebentar uji nyali ke Tulisan dan ... omagah, hobo yang aku mau adaaaa! Buru-buru lah kita keluar dari toko daripada impulsif beli hahaha. Sekali lagi, mending uang 1,5 juta bisa beli emas 3 gram *kekepin kartu debit*

Dari situ kita lunchie ke Street Canteens, soalnya Luna belum mamam. Sampai sana pesan bihun sop ayam buat Luna dan es jelly. Buat aku dan mamah pesan pempek. Eh ternyata pempek di sana enak juga. Nah, disitulah saya mencuri dengar sambil nyuapin Luna. Jadi, ya .. wajar ya kalau dengernya kepotong-potong hehehe.

Di sebelah saya ada ibu dan anaknya. Si ibu asyik main tab kecil dan anaknya sibuk dengan MacBook Airnya. Anaknya cowok, kayanya sih di tahun akhir SMA atau mungkin sudah lulus. Karena musik yang agak bising, saya enggak bisa jelas mendengar apa yang diomongin si Anak while ibunya mendengarkan sambil terus main gadget.

Ibunya cantik. Umurnya kayanya lima puluhan, tulangnya kecil. Jadi walaupun badannya agak gemuk, tetap terlihat tangan dan kakinya jenjang. Slender, kalau kata orang sana bilang. Dia pakai short overall warna pink lembut dan dalemannya kaos oblong putih yang pas di badan. Rambutnya hitam dan panjang, digulung ke atas.  Enggak pakai bulu mata palsu, enggak pakai make up berat. Cantik, deh. Saya jadi memotret diri saya, apakah saya jadi mamah asyik empat belas tahun nanti. Yang bikin saya tertarik adalah, she looks like a simply straight mom. Di sela-sela percakapan mereka, dia berkata "No, itu salah lu. Harusnya, ... bla bla bla" trus anaknya nerusin omongannya lagi tanpa nada defensive. Trus ibunya nyambung lagi "Dengar. Dengar mama. Kita pengen lu pergi buat belajar. That's it. Pikirin itu." Trus dia langsung melambaikan tangan minta bon. Anaknya langsung terdiam dan menghabiskan minumannya. Saat si ibu berdiri untuk membayar ke kasir, baru deh saya bisa lihat sepatu lucu yang dipakainya: Pump shoes tikus dari Marc Jacob's warna pink. Oh la laaaa, saya pengen banget sepatu itu. Krik krik ... krik krik ....

Asumsi saya, mereka lagi sibuk berdebat soal nerusin sekolah ke luar negeri dan negara mana yang akan dituju. Si anak milih negara yang banyak temen-temennya, ibunya pengen anaknya pergi ke luar negeri buat sekolah dan bukan buat main. Saya membanthin, semoga bisa menabung dan menyekolahkan anak-anak ke luar. Atau, semoga anak-anak tumbuh pintar untuk dapat bea siswa. Amin. Setelah mereka ke luar restoran, saya mulai memakan pempek saya yang sudah dingin karena tadi nyuapin Luna dulu. Sekarang sih luna lagi makan dessert es jelly sama Nini.

Sambil makan mata saya menerawang, dan jatuh ke dua ibu-anak yang lewat di depan restoran. Si anak umurnya tiga puluhan, ibunya mungkin sudah enam puluhan. Anaknya nyante banget, pakai sleeveless long dress warna hitam dengan rambut digulung ke atas. Enggak pakai make-up. Sementara ibunya sasakan, baju rapi dan di tangannya men'cantel' handbag Coach. Kayanya sih mereka dari salon. Seketika saya mikir. Kapan ya, saya bisa berduaan gitu bermewah-mewah sama mamah. Kapan saya ya, bisa beliin mamah tas bermerk. Kapan saya bisa ajak di ke spa untuk pijat, merendam kakinya yang sehari-hari sibuk menyapu dan ke pasar pakai air hangat, disikat dan dikutek. Pijat punggungnya yang sudah pengapuran dengan batu panas dan pijat ala thai.

Mamah saya itu tidak terbiasa memanjakan dirinya. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat bikin reservasi berdua di Puri Santi Spa Cipete. Tadinya sih mau surprise, tapi dia kan gitu. Kalau enggak ada tujuan yang jelas, enggak akan mau pergi dari rumah. Tapi begitu dikasih tau mau diajak ke spa, langsung ditolak mentah-mentah. She is just not used to. She felt awkward. Nyalon? Sama juga. Buat dia nyalon itu cuma untuk potong rambut dan pulang. Pernah saya pesan mbak pijat yang datang ke rumah. Udah hati-hati banget pesannya, terapis yang spesialisasinya pijat Jawa. Eh, sampe rumah malah disuruh ngerokin. Way beyond her skills dan akhirnya Mamah enggak puas juga dengan pelayanannya. Ya wajar, sih.

Setelah kejadian itu, saya enggak pernah lagi kasih-kasih surprise yang 'enggak mamah banget'. Tapi ngasih tas branded buat mamah? Harusnya sih mamah seneng-seneng aja ya dikasih model apapun selama bukan backpack. Tapi ya itu, ... ternyata saya masih sibuk merhatiin keluarga saya aja. Memakmurkan anak-anak. Mengirim mereka kekolah yang baik dan memberi mereka pengalaman di suasana baru.

Itulah bedanya saya dan mamah. Saya cuma mikirin keluarga saya, tapi Mamah bisa mikirin anaknya dan semua keluarga anaknya. Umur memang tidak berbohong ya. Semoga saya bisa bijak kaya mamah nantinya.

Amin. 


Si bocah asyik makan bihun sup satu pot besar

Yes, this is it! Vintage drawings. 

About Us

to titan and la luna.

i want to tell you a little story about the love bubu and I have. neither the sweetest nor the coolest love tale you will ever known, but i hope it can give you two a little up when you are feeling down.

if ever someone asked me, your mom, how much i love your bubu; i would say ... i do. though i found it hard to express my love for him, but i do. though i found it hard to remember when i have thought of him, but i still do. and i know he loves me too.

our love does not come in a form of fancy dinner or having a wefie in instagram. our love does not go through a journey in the background of a beautiful landscape. our love does not told in a long scripted messages through whatsapp or a bombastic 'nocturnal' activity. neither a fancy birthday gifts, surprise parties, big feasts, "have a nice day or lunch or dinner or meeting" texts.

our love just come in a more humble and reachable way. like late-at-night-wake-ups to bring a glass of water when I or him caught a cough. comes in an always-alert sleeping and woken up just to feel one of us is moving though it was just a little bit. comes in an acceptance of the surround snores. comes in a lunch box he brings to work everyday and eats whatever inside. comes in a working so hard he hardly cut his nails and I did it for him when he was asleep.

boring as it may sound, but if you two ever experience this feelings; you two will know how comforting it is. though sometimes i think bubu does not need a wife. he cooks, he plants, he repairs, he builds, he works, he can take care of himself, and these make me learn a lot from him.

when you know you are loved by someone who can enjoy life by himself, you know you can live with him and love life together. 



Responsibly Happy


Menjelang tahun baru 2015, kami sekeluarga mengalami perubahan-perubahan besar. Perubahan yang membiasakan kami untuk hidup lebih 'seadanya' dengan mengurangi fasilitas-fasilitas yang berlebihan. Kenapa? Karena ternyata tanpa kita sadari, selama ini kita hidup terlalu manja. Baik anak-anak maupun saya. 

Mulai Masak Sendiri

Sebenernya agak malu cerita tentang hal yang satu ini: sekian tahun berumah tangga dan punya rumah sendiri, baru sekarang pontang-panting nyiapin asupan makanan buat sendiri, suami dan tentunya anak-anak.

Lah, ... emang selama ini begimanaaaaaaa?

Nah, ini nih bagian malunya. Karena saya selama ini bekerja, jadinya urusan makan malam dan makan anak-anak saya catering sama ibu. Bukan saja karena lebih simpel, tapi karena masakan ibu saya luar biasa enaknya (ya, menurut saya sih ... anaknya! Hahaha). Paling weekend saya masak lucu-lucuan, atau masak buat anak-anak. Sisanya mah ... cincay! 

Nah, sejak pertengahan Desember 2014 lalu, saya memutuskan untuk berbelanja dan memasak sendiri saja. Sudah saatnya saya menjadi istri dan ibu yang lebih bertanggung jawab terhadap makanan orang-orang rumah. Setiap weekend, saya dan suami belanja kebutuhan untuk seminggu ke depan di pasar basah. Memilih binatang- binatang yang akan kami konsumsi lima hari ke depan plus beli bumbu-bumbu. Saya ingat betul belanja perdana saya untuk kebutuhan dapur yang masih nol hanyalah sekitar tiga ratus lima puluh ribu saja. Tentunya belum termasuk sayur, yang saya pikir lebih baik beli harian aja di tukang sayur supaya masih segar saat dimasak. Kami pulang setelah berhasil memenuhi 2 tas envirosax kami (duh, mesti banget ya disebut merknya? Hahaha ... karena belanja di pasar juga harus tetap gaya!) dengan ikan, udang, cumi, ayam dan bumbu-bumbu. Hari itu, saya memasak perdana dengan menu tenggiri bakar bumbu kuning. Ih, hebat ya? Hahahaha ... sama sekali enggak. Terima kasih sama uda penjual bumbu, saya tinggal bilang "Uda, minta bumbu ikan bakar 3000 ya!" 

Untuk belanja bulanan di Superindo, saya pecah menjadi belanja 2 mingguan. Belanja sayur harian di tukang sayur yang tidak menghabiskan lebih dari sepuluh ribu,  beli telur 1 kg untuk satu minggu di warung depan dan beli roti di Indomaret atau Alfa Mart sebutuhnya saja. Biasanya sih mampir ke sana setelah jemput Titan dari sekolah. Oh iya, belanja kecil-kecil di Indomaret ini ternyata kalau dikumpul-kumpul jadi jajanan mahal, lho! Untuk menyiasatinya, saya beli kartu Indomaret yang bisa di top - up di ATM. Jadi setiap bulan jajanan Indomaret sudah ada platformnya. Lumayan juga kartunya bisa dipakai buat e-toll :) 

Dengan masak sendiri ini, Alhamdulillah kita semua belajar banyak. Karena suami enggak suka makan makanan ala carte yang kebule-bulean (padahal itu yang gampang dimasak hahaha), saya harus belajar masak makanan Indonesia. Walau akhirannya lebih banyak tumis sih, hehehe. Yang jelas, Ariawan membawa bekal makan siangnya sendiri. Biasanya, bekal ke kantor ini adalah left-over foods dari dinner semalam. Kalau kebetulan habis, baru deh masak lagi, jadilah musti bangun lebih pagi. 

Selain itu, mulai juga mikir tentang menu sehat yang minimal minyak. Rebus dan bakar, kalau bisa. Buat nasi, saya campur beras putih dengan sedikit beras merah menjadikannya beras pink yang lucu hahaha. Titan yang picky eater, Alhamdulillah kebiasaan makannya mulai membaik. Makan apapun yang bundanya masak, suka atau enggak suka. Karena ibunya ini sudah terlalu lelah kalau harus masak menu yang berbeda lagi buat dia. Tentunya pilihan menu juga enggak aneh-aneh sih. Dikira-kira aja yang anak-anak bisa suka. 

Buat menghemat waktu dan siap-siap kalau kepepet, saya selalu menyimpan tempe / tahu bacem dan ayam segar berbumbu di lemari es. Kapanpun dibutuhkan, tinggal buka container trus goreng. Kalau lagi males masak, kadang pesen juga sih ke delivery Sederhana atau makan di luar hahaha.

Cutting off the bills

Kemanjaan kita berikutnya adalah ketergantungan terhadap water heater. Ow yeah. Akibat tagihan listrik yang melonjak akhir-akhir ini karena memang TDLnya naik, akhirnya kabel water heater pun saya cabut. Tadinya sih cuma pengen tahu aja, apakah setelah dadah-dadah sama air hangat tagihan listrik bisa berkurang. Eh, ternyata benar, tagihan listrik berkurang tiga puluh persen. 

Awalnya sedih juga, kasihan luna yang masih umur satu tahun. Kasihan Titan yang harus mandi pagi dengan air dingin. Tapi ternyata, Alhamdulillah Luna baik-baik aja. Dia malah seneng banget bisa main di bawah keran. Dan Titan, sejak mandi pakai air dingin, mandi paginya jadi super cepat dan akhirnya ke sekolah pun tidak lagi telat. Super yeay!

Tinggal first media aja nih, langganan TV kabel tapi enggak pernah ditonton. Mau diputusin, kita masih butuh internetnya. Karena kalau hanya berlangganan internet aja, justru lebih mahal jatuhnya. Bisa enam ratus ribuan per bulan. So, ya sudahlah ya kita merem aja. 

So yeah, these are just the beginning of our thrifty lifting journey. Semoga besok-besok bisa lebih menghargai seadanya hidup, menghargai apa yang ada. 

Amin. 




uda - uda si jago bumbu

sayur lodeh, ikan asin, sambel, tempe dan empal goreng

bekal kakak titan

temen weekly shopping

my jobdesk

sebagai ibu dan sebagai perempuan, saya sadar sesadar-sadarnya dan menyadari benar bahwa salah satu job description saya adalah untuk menjadi bawel.

nanti ini ya

nanti itu ya

jangan lupa ini

jangan lupa itu

habis itu, ini

nanti kalau ini, begitu

bener ya, janji?

kok gitu?

kok gini? kenapa?

harusnya enggak gitu, tapi

...

masih banyak lagi.


nah, kalau yang dewasa merasa level kebawelan saya terlalu amat sangat merongrong,
well ... mungkin ada yang salah dengan pendewasaan kamu.


Me. Now

This is me. Now.

I am 34 y.o, 32 weeks pregnant, have gained 13,5 kilograms and still crawling up (which I hope it would not be much), still supervising the shoot for TV commercials (this is the second continuity day by the way), and still driving my own. Sometimes, abang ojek is pretty handy too.

My life now is a bit ... tiring, if I may say.

Different from when I conceived Malicca, everything was easier. Of course, because I was only 28 by then. I was splurged by the easiness of finding food stalls around my office in Blok M, and my office mates always asked me "Bumil mau mau makan apa hari ini?" ... day and night. My previous office also paid so much attention to pregnant women that I wasn't given so much tasks outside office. Rather they put me on floating system so I could do more in the office for other teams. I had chances to have a power nap in my first semester, I did not have to drive myself, and as cherry on top ... I still lived with my parents at that time, with no obligations and 247 full-womb-service. I also said No to many things. I immediately stop as I see stairways. I drink my vitamin and calcium regularly, like a Swiss watch precision. I said NO to Teh Botol, Indomie and other artificials. I was a happy being the whole term, ... maybe that is why Malicca born as a happy child. Full of laughter, positive and friendly.

It is true what people said. That every pregnancy is different. Conceiving a baby after 6 years, I almost forgot what it felt like. My body, my metabolism, my brain functionals, all are way different now. To add with, my life now is a bit challenging. Workload, get domesticated with no maid and taking care of my kindergarten kid challenging behaviour and his never ending school projects all-together, ... they are such a production and is so time and energy consuming. These are the things I cannot have one by one. They happen together and me with the water-melony belly needs to juggle.

Is my life so struggling like you imagine?

I thought so too. But you know what, despite of the office thingy, I am happy.
This is what my life suppose to be. Being a wife, a mother and a working mom. To wake up earlier and prepare lunch boxes for hubby and son, to assist my son doing his school projects and get involved with the school community and activities, go to work, cook our dinner soon as I get back home. Sounds like I want to have every checklists a perfect mom has, ... but no I am not.  I know I cannot be perfect,  I just want to be capable.

Then when things getting rough, I have learnt that all I have to do is ask for a hand. Like the last shooting day in weekend. My hubby and son took me to the shooting location. My son was there beside me all day to entertain me, and there always bright sides in every dark. I taught him what a film production is. What director, setting, lighting, characters and scripts are. My hubby left for a few hours and got  back with 4 orange trees I longed to have for my garden: Jeruk Nipis, Jeruk Limau, Jeruk lemon he forgot but substituted it with Jeruk Intan (that smells like jasmine) and Jeruk Kesturi.

I have learnt that no matter how hard our life is, it is very helpful to realize we have people around to give some help. And all we need to do is ask. Even a little hand can help, like how Malicca took a picture of me today.











Happy birthday to you



Post it di atas, adalah kado ulang tahun untuk suami tercinta tahun lalu :)
Kok cuma Post It??????
Iyaaaaaaa... karena gue bingung mau kasih apaaaaaaa :'(
Akhirnya, pada waktu itu gue cuma kasih segepok Post It dan dia boleh minta APA AJJJJJAH sebanyak lembaran Post It itu, and all he needed to do was jot it down the Post It.

Tapi ... knowing my husband, and he loves me very much, tidak pernah satu lembar pun dipakai untuk meminta. Akibatnya Post It itu dipakai Titan buat gambar-gambar -__-

Tahun ini, kebingungan kembali melanda.
Akhirnya, aku cuma pesan kue untuk dikirim ke kantornya (yea, things he did for me and I copied him minus the flower bouquet) dan beli kue kecil untuk tiup lilin pagi hari. Dan malamnya, kita makan nasi kuning bareng di rumah orang tuaku.

No luxurious gifts, no fancy dinner,  a birthday is only another ordinary day for both of us.
Hey, are we aging or what? :)

Well, just see the brighter side. That we might have everything, and to have each other is the greatest thing :) And specially for 2013,  the baby inside ma belly is the greatest birthday gift for both of us as Ariens.

Happy birthday yah suamiku.
Semoga sehat selalu dan berumur panjang, hingga aku bisa mencintaimu lebih lama lagi :) 



Udah ah, capek!

Beberapa hari yang lalu, di saat-saat penyesuaian diri dengan kehadiran sepasang suami-istri ART baru, pengen banget blogging soal betapa janggalnya perasaan ini dengan kehadiran mereka. Maklum, sudah lebih dari 3 tahun terakhi ini di rumah memang isinya kita sekeluarga aja.

Terakhir kita punya asisten yaitu waktu Titan umur 3 tahun. Mba Dewi, namanya. Setelah hidup bersama kita lebih dari 2,5 tahun lamanya; akhirnya Mba Dewi memutuskan untuk keluar dengan alasan menikah.

Sejak masa-masa setelah Mbak Dewi, banyak juga asisten yang datang dan pergi. Coba sini, coba sana, tapi enggak ada yang cocok banget dan bisa bertahan sebulan. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk berhenti pakai in-house ART. Selain Titan sudah mandiri, terus terang hati ini juga masih malas melatih asisten baru. Harus membiasakan diri lagi, menilai-nilai lagi. Ah... capeklah pokoknya.

Akhirnya, kita pakai jasa mba setrika yang pulang-pergi aja. Nyuci baju pun aku lebih suka sendiri. Selain memang karena suka wangi detergen, aku kurang (baca: ENGGAK) percaya dengan standar bersihnya mereka. Kadang si Mbak infal ini juga aku minta tolong untuk sapu-sapu dan pel. Tapi ya gitu deh, beda banget sama kalo kita yang bebersih. Debu enggak di lap, kolong-kolong pun nggak ikut disapu dan di pel.

*BIG SIGH*

So yes, for the past three years, kita semua bantu membantu merapikan rumah.
Kadang rapi banget, seringkali sih ... rapi seadanya :)

Setelah Mbak Dewi, beberapa asisten yang berniat kerja datang dan pergi. Rata-rata enggak sampai sebulan. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi mencari, kecuali kalo ditawarin.

Sampai beberapa hari yang lalu, sepasang suami-istri kenalan asisten ortu datang dan berniat bekerja di rumah. Tadinya aku agak ragu, tapi suami minta untuk mencoba dengan alasan perut ini yang semakin besar; takutnya jadi capek kalau harus ngurus rumah sendiri.

Bener aja, mereka bertahan hanya sampai empat hari saja. Mereka keluar dengan alasan tidak cocok dan tidak nyaman di hati bekerja di sini.

Bingung juga ya, mau yang seperti apa sih suasana kerja yang cocok dengan mereka? Gaji UMR bersih, makan dan kebutuhan pribadi semua ditanggung. Jaminan rawat inap di RS, jam kerja mulai dari jam 7 pagi sampai waktunya Titan mandi jam 5 sore. Cuci piring bekas makan malam aja kita nyuci sendiri. Di rumah juga nggak banyak yang dikerjain karena aku dan suami bekerja, Titan sekolah sampai jam 3. Si Mbak bisa tidur, nonton TV, ngobrol sama tetangga, terserah deh bisa ngapain aja. Khusus untuk kasus yang terakhir, pasangan suami-istri pula. Mau ngapain aja sama life partner pun bisa. Mau nyari yang kaya gimana lagi, coba?  

Tapi setelah aku pikir-pikir, mau seprofesional apapun sikap kita terhadap asisten, semua memang kembali lagi dengan mentalitas. Ini cuma sekelumit cerita dari aku, tapi ternyata banyak sekali cerita seperti ini. Dan sedihnya, bukan cuma di kalangan asisten rumah tangga yang (maaf) pendidikannya rendah. Tapi, juga banyak cerita yang dari kalangan kita yang (katanya) golongan makan bangku sekolahan.

Ada apa sih sebenarnya dengan kita? Apa iya mencari pekerjaan itu susah? Atau mungkin  mencari orang yang benar-benar mau kerja, itu yang lebih susah? Inikah kenapa banyak sekali pengangguran? Inikah kenapa banyak sekali yang bercita-cita untuk pensiun dini? Inikah kenapa banyak sekali yang pengen punya usaha sendiri daripada kerja sama orang lain dan sakit hati kalau disuruh-suruh?

Jaman emang sudah makin maju, dan semua orang dari semua golongan ekonomi; punya preference sendiri-sendiri. Tapi masalahnya, kalau kehidupan enggak sesuai dengan preference kita; apa iya kita mau berhenti dengan mudah?

There. Seringkali yang begini ini yang bikin aku jadi males berurusan dengan orang-orang kaya gini.
Bikin cape karena enggak bisa diterima dengan akal sehat.
Udah ah, cape!
Emang paling bener ngandelin diri sendiri dan enggak berharap sama orang lain.

Selamat datang (lagi) weekend penuh kegiatan bersih-bersih! *Ambil sapu dan kemoceng*
Exit door is the most obvious door with a sign. It is so easy to quit.


Impian semua BuMil

Buat ibu-ibu hamil, kayanya nggak 'klop' kalau belum browsing-browsing stroller ya. Bisa dipastikan hampir semua ibu-ibu hamil pengen beli stroller. Karena emang lucu-lucu banget bentuknya. Dan stroller itu jadi seringkali jadi simbol status sosial kalo kita lagi jalan-jalan ke mall. Ya, kan? Coba aja, kalau liat ibu-ibu strolling Maxi Cosy stroller, minimal tasnya Kate Spade deh hihihihihi....

Begitu juga dengan aku. Belum apa-apa, yang diliat-liat itu adalah stroller. Belum juga hamilnya keliatan membuncit, udah sibuuuk aja browsing-browsing belanja online atau mampir ke Mothercare buat liat-liat stroller. Bahkan, sampai rajin banget baca review merk apa yang paling OK.
Sampai-sampai aku punya kriteria stroller OK sendiri:
1. Bisa 2 muka, menghadap atau membelakangi si pendorong.
2. Yang ringan dan mudah dilipat. Supaya, kalau pergi sendiri nggak repot.
3. Modelnya ringkes tapi bisa mulai dari umur 0 sampai 3 tahunan.
4. Kalau ada bonus infant car seat, wah itu bisa jadi added value banget
5. Nah ini, last but not least, ... the price!

Betapa lucunya stroller-stroller itu, sampai kita kadang nggak peduli bahwa stroller yang rodanya besar dan biasanya cuma terdiri atas 3 roda itu sebenarnya didisain untuk country strolling alias jalan-jalan di daerah berbatu atau kasar. Jadi, nggak cocok kalau dibawanya ke Mall.

Kadang, eh... sering deeeeeeh, ujung-ujungnya stroller dipakai untuk naruh barang dan didorong oleh baby sitter. Bayinya? Ya tentu lagi digendong sama ibunya. Lebih nyaman, lebih interaktif, lebih empuk, sehingga waktu mau ditaruh kembali ke stroller si bayinya nangis deh.
Akhirnya, stroller itu cuma jadi trolley buat naro barang belanjaan.

Nah, sebenarnya stroller ini ternyata agak kurang berguna buat aku. Karena jarang jalan-jalan juga sih hehehe. Berdasarkan pengalaman anak pertama yang enggak mau ditaruh di stroller, akhirnya sekalinya jalan-jalan pun jarang sekali bawa stroller. Ditambah lagi, saya suka merasa geli sendiri kalau melihat anak sudah besar dan sudah bisa jalan tapi masih aja didorong-dorong di kereta bayi.

Akhirnya, stroller pun dengan cepat berpindah tangan kepada yang lebih membutuhkan. Dan Malicca, untungnya dia lebih suka jalan kaki. Kalau udah capek, nggak ada deh tuh gendong-gendong. Mending pulang aja.

Buat aku, berdasarkan pengalaman juga sih, yang justru sangat berguna adalah carseat. Sampai Malicca umur 3 tahun, carseat itu masih terpakai. Banyak orang yang bilang "Tapi anakku enggak mau didudukin di carseat. Gimana dong?" Ya, ... kalau dibiasainnya umur setahun sih jelas-jelas anaknya pasti enggak mau ya. Tapi coba kalau udah dibiasain sejak lahir. Karena itu, kalau bisa nemu carseat yang bisa recline, bisa untuk newborn sampai berat 18 kg, rasanya kaya dapet arisan!

Etapi yah... tetep loh di hamil kali ini aku punya stroller impian yang cocoooook sekali dengan kriteria saya. Tadaaaaaaa.... the all in one stroller for infant to toddler :) Sayangnya, harganya tidak sesuai dengan kriteria aku :)





What other things in life you want to ask 
when you have such a loving hubby who cooked you
a warm chocolate melt?
Love you Bubu! 

Black Hole

Don't let the name fool you. Black hole is anything but the empty space. 
It is a super-massive star that goes off, loses its gravity and falls to the end of nowhere. 
It sucks everything around it. 
It is pitch black, not ever a light can get through. 
It wiped off its trace, then it is gone.

Have you ever feel being like the dead star?

On a one fine day, you suddenly lost your gravity and fall to the deepest ground. 
Being sucked and sucks everything around you. 
So deep you will lost your breath and falls deeper and deeper and deeper.
You go down under to the bottomless you don't know where you are, what to do, what to feel.
Fading out.

To me, black hole comes in a form of a test pack.


























Harga diri lelaki


Hari ini panas banget. Matahari lagi sale besar-besaran rupanya. AC udah pol gini, masih aja berasa panasnya menyengat di muka. Mana macet pula. Pipi kanan jadi konstan kena paparan sinar matahari, cocok jadi alas panggangan roti.

Tanganku lurus memegang stir. Ngebayangin rasanya nyetir mobil impian yang nangkring di sebelah. Volvo XC70 tahun 2008 * bukan merk sebenarnya *. Blah, tuh mobil udah 4 tahun yang lalu launching, masih aja belom kebeli-beli sampe sekarang.

Tapi inilah salah satu hiburanku kalau terhadang macet. Liat kiri-kanan memperhatikan mobil-mobil impian yang lucu. Kadang ternganga-nganga sendiri, lebih seringnya sih senyum-senyum sambil berkata dalam hati “Lucu juga ternyata si mobil itu. Ganti itu aja apa ya… ah tapi sayang ah” – kemudian hening dan tidak ada suatu tindak lanjut apapun. Klasik.

Tiba-tiba mataku terpaku pada sebuah sticker di Kopaja. Nah, ini juga salah satu hiburanku nih. Maklum, secara kerjaan jadi copywriter ya Cyin… wajib hukumnya mencerna sticker-sticker penuh hiburan yang ditempel di kaca belakang Kopaja atau Metromini.

“Harga diri lelaki terletak pada pekerjaannya.” Itu kata sticker si Kopaja.

Jleb jleb jleb, ketusuk kata-kata itu lebih menyakitkan daripada ketusuk pisau beneran – asal jangan ketusuk sampe mati ya.

Mau enggak mau, setiap orang di permukaan bumi ini memang harus bekerja. Ya iyalah, itu udah fitrahnya. Anak burung aja tau diri, bahwa ibunya enggak akan nyuapin dia terus. Suatu hari nanti dia harus usaha menyambung hidup sendiri.

Tinggal di Jakarta, sebenarnya sudah merupakan kelebihan tersendiri. Coba, apa sih yang enggak laku dijual di kota ini? Mulai dari jualan aneka patung (terdiri dari patung kuda, patung Yesus dan abjad Hijaiyah berlafalkan Allah) yang dijual di lampu-lampu merah, keripik singkong dengan kadar MSG tingkat dewa yang tetap aja lulus badan POM, jualan cireng atau cilok yang bermodalkan sagu, sasa dan saos pewarna, sampe jualan ide abstrak.

Jadi, sticker itu memang benar adanya. Alasan apa lagi yang bikin laki-laki enggak bekerja? Salah siapa, kalau enggak ada sesuatu pun dari diri ini yang bisa dijual? Kalah sama cilok, lu!

Kembali ke harga diri, … mungkin bagi sebagian orang harga diri itu terletak dari keteguhannya untuk tidak mau bekerja dibawah perintah orang lain. Well, … kalau terlahir jadi anaknya Bakri * bukan nama sebenarnya * sih monggo ya. Tapi aku yakin, seorang Anindya Bakri pun * bukan nama sebenarnya * enggak gini-gini amat. Tapi justru seringnya, manusia-manusia seperti ini justru berawal dari mimpi dan hanya mimpi tanpa tahu bagaimana mewujudkannya dan bagaimana mengukur rasio kemampuan dan keberhasilan.

Istilah kerennya sih, “Enggak ngaca, cyin.”

Mau single atau berkeluarga, status pengangguran terselubung ini emang nggak keren. It is just wrong in many levels. Hanya saja, kalau udah berkeluarga, efek kehancurannya memang lebih dahsyat.

Anehnya, mereka-mereka ini suka merasa enggak ada yang salah. You know why? Karena mereka selalu punya alasan gini: “Aku kerja kok. Cuma ya memang kliennya enggak selalu ada.” Atau “Aku self-employed, I work anytime or anywhere I want.”

Yea rite, … denial is not the only river in Egypt – dikutip dari Antologi Rasa.

Jadi gimana dong?

Ya enggak gimana-gimana.  Berdoa aja supaya lelaki-lelaki itu sadar bahwa mereka salah jalan. Berdoa aja supaya mereka dapat hidayah dan orang yang terkorbankan diberi kesabaran dan kelapangan dada menerima kenyataan bahwa mereka hanyalah korban. Bahkan anak-anak mereka, semua jadi korban. Kita mau ngomong apa sama orang-orang yang tega mengorbankan anak sendiri? Ngomong sampe kejang juga gak akan bikin mereka berubah.

Tiba-tiba kusadari dadaku berdebar-debar menahan emosi. Stiker itu menusuk hati banget. Tak sadar tanganku segera menyambar ponsel di dashboard dan otomatis menekan sebuah nomor.

Ah, ada suara lelakiku di ujung sana yang selalu berhasil membawaku menapak bumi dan menghentikan semua kinerja hamster-hamster di kepala.

“Tin tiiiiiiiiiiin!” Kata suara dari mobil belakang.





I am a true believer of 'Whats good to get into your mouth is also good for your skin'. After series of looking for the perfect scrub bean in my kitchen - from coffee to oatmeal to tea to skim milk powder - I found Gulaku sugar stick has the 'just right' texture for scrubbing. 

You only need to add it with a little drop of liquid ( I use full cream milk today), let it sit for a few minutes (just check the textures of the sugar crystal cubes until you find it perfect for your skin) and go scrub. You can also use honey, olive oil or your prefered moisturizer.

B(ex)t Friend


To some, the words 'best friend' could mean nothing. 
To me, however, best friend means a lot. 

I might not be the perfect person to tell things about friendship, for I may not be a perfect friend or best friend for my friends. I sometimes lie, I sometimes weren't there for them when they need me, I sometimes tell them things they want to hear and not things they need to hear, I sometimes just want to be alone. 

There are many kind of friends. There are childhood friends, devoted friends who always willing to lend their ears for you to trash or come to visit you in the middle of stormy night, travel buddies, party friends who can make you laugh and sing all night, gossip friends where you can get your latest updates, social media friends who we rarely meet but knows a lot about us based on their assumptions, office friends with whom you have lunch, parenting friends with whom we can squeeze their tips and tricks in parenting, and of course the hi-bye friends. 

We all have those categories. Don't we? And both are usually know where to stand. 

Expectation that doesn't meet up is sucks. So is having a friend who want to be your friend only when she / he wants to. 


At first you were friends. Then become good friend that leads to best friend. Wished you both can be best friends forever and promised you to come to your wedding and blah blah blah... and on one perfect day, she / he leaves you in despair without reasons. 
But (still) trying to be a best friend, we usually say "Oh, what is wrong? You know where to find me when you need me, okay?" 
We all know that 'Nothing is wrong' or 'I want to be alone' is the biggest lie in the world, and staying honest is always a tough option. That would include telling your friend why you want to cut off the friendship. 
But hey my friend, once you lied, please also keep the lie that we ever have that friendship. So you don't have to come back and ask it back. 

Oh, there is usually a reason: "I want to be alone." This, my friend, in bitch's glossary means "Back off! I mean... now!" 






Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...