Showing posts with label #MomToMoms. Show all posts
Showing posts with label #MomToMoms. Show all posts

titanica system

dulu, jaman-jaman baru kerja di advertising barang tiga tahunan, selalu muak sama insight yang satu ini: bahwa, orang tua akan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.
yang ada di kepala pada saat itu tuh, ya: planner gak kreatif. klien yang cliche. basiiii, semua juga tauuuuuuu! nah, sekarang, setelah sekian belas tahun di advertising dan hampir satu dekade jadi ibu, mulai sadar sama arti preposisi itu dengan sejleb-jlebnya. dan hal itu udah bukan insight lagi. tapi fakta.

soal mengusahakan yang terbaik tuh lagi kejadian banget nih sama aku dan titan. cuma masalahnya, kalau anaknya yang ngadepin sebuah masalah; apa iya kita orang tuanya yang harus mengusahakan yang terbaik? kan enggak gitu ya.
setiap anak pasti punya masalah deh. jangan percaya sama postingan ibu-ibu yang isinya cuma ngepost hal-hal baik aja dari anaknya. jadi, kangan sedih kalau menjelang pre-teens gini masalah-masalah 'pelik' mulai bermunculan. kenapa pelik? karena, seringkali, target operasi kita enggak merasa bahwa mereka punya masalah ha ha ha!

jadi, sebenarnya apa sih masalahnya?  

gini. i know ini salah gue juga sih, membiarkan anak-anak kurang disiplin. selama ini kita (orang rumah) selalu ribut dengan kebiasaan titan yang nggak teratur. mulai dari perlengkapan perang dia yang ditinggalin dimana-mana mulai dari pena, tinta,  botol minum yang tak kembali, uang yang hilang bahkan sepatu aja bisa ketinggalan sebelah di mall dan tas kumon aja bisa hilang enggak bisa di-trace ada dimana ... d'oooooooh!

dan yang bikin makin rumit adalah; si anak tidak pernah merasa bahwa semua itu adalah problem. buat dia, harus bertelanjang kaki muter-muter mall (karena sepatunya ilang satu) was fine. tenang-tenang, ketinggalannya bukan karena dia lenggang kangkung sepatunya copot trus dia diem-diem aja ya. my son is not that stupid to do that hahaha ... tapi, karena dia mau duduk di stroller. sepatunya, dicopot dulu sebelum dia naik stroller ... tapi lupa diambil hahahaha. berasa masuk masjid, mungkin.

nah, cukup soal sepatu hilang di mall. kali ini problemnya sangat serius. kemarin saat PSTC (parents student and teacher conference) aku a.k.a bundanya syiok banget saat gurunya mengungkapkan bahwa titan menghilangkan project-log 1 term yang mengakibatkan bu guru harus menurunkan point nilai di rapor. emaknya udah spaneng, anak masih senyum-senyum aja. clearly that this little guy has no problem with that, miss. sementara bundanya udah tergerih-gerih pisau rasanya sementara muka pasti udah merah kaya kepiting rebus saking malunya. nanti dikira enggak ngurusin anak pun. huft

menurut gurunya, titan ini pelupa. mungkin ada benernya, walau judgement dari kita orang tuanya lebih sadis: simply nggak bertanggung jawab aja. 

anak ini memang karakternya nggak mempan dikasih reward / punishment. titan itu tipe yang menghindari resiko. jadi, kalau belum ada resiko nabrak sesuatu di depan mata seperti titanic yang menabrak gunung es, maka dia akan santai-santai aja. akan terus berlayar di sepoi-sepoi angin sampai akhirnya ketiduran.

tapi kan enggak semua resiko terlihat ya. kalau masalah enggak naik kelas, masih bisa diulang di tahun setelahnya (walaupun ini juga pasti bikin gue nangis kalo inget bayarannya sih yaaa). tapi dalam hidup, ada kalanya, saat kita bertabrakan dengan resiko; kita enggak bisa kembali dan harus rela kehilangan. nah, rela menerima kehilangan kan pembelajaran yang beda lagi deh. seumur hidup belajarnya. 

so, beberapa waktu yang lalu, kita ngobrol berdua. terutama soal cara belajar yang paling efektif buat titan. kita ngebahas lagu atau percakapan dalam film yang dia hafal dari awal sampe akhir. kita ngebahas kumon yang dulu dia nangis-nangis ngerjainnya dan sekarang merasa terbantu banget. 

akhirnya kita menyimpulkan bahwa cara belajar buat Titan yang paling efektif adalah dengan cara repetisi dan menstimulasi dengan audio/visual. nonton film UP lalu menggambar rumahnya berkali-kali, berhari-hari sampai bertahun-tahun melukis dengan tema yang sama.
Nonton film Titanic dan menggambar kapalnya sampai beberapa versi mulai dari titanic, britannic dan lusitania. semuanya karena dia selalu looping film, lagu dan buku yang dia suka.
anak ini memang bukan tipe yang punya photographic memory. tapi memorynya harus terbentuk perlahan secara reguler. intinya: repetisi.
leganya, drilling kumon yang harus dia kerjain setiap hari itu ternyata adalah salah satu metode belajar yang cocok buat dia. karena anak ini, bukan tipe yang kalau bosan akan melarikan diri. tapi terus dikerjain walau nggak tahu akan berakhir kemana. the good thing is, anak ini tekun. kuat ditempa berbagai kondisi.

soal pelupa? nah, yang satu ini juga kita bahas kemarin. kita bahas anatomi tubuh manusia yang paling penting: otak. kita ngobrol soal neuron-neuron di otak itu semakin tua semakin dikit yang akan saling tersambung, beda kaya waktu kita kecil sebesar luna. semua dipikirin, semua ditanyain. kalau sudah tua, udah malas mikir dan akhirnya yang menebal itu bagian yang itu-itu aja. akhirnya titan mengerti deh kenapa dia tipe pembelajar repetisi, karena memang cara kerja otak pun seperti itu. kalau bagian titan lupa naro barang dimana, pasti karena bagian itu enggak tebal. jadi solusinya, harus berlatih naro barang dan jadwal yang lebih teratur untuk diulang-ulang terus setiap hari. 

untuk bisa melakukan semua itu, titan harus dibantu dengan visual. karena memang ternyata anaknya audio-visual banget. akhirnya kita berdua menemukan sistem supaya enggak ada lagi pekerjaan sekolah yang tertinggal, enggak ada lagi barang yang hilang. 

selain sistemnya itu sendiri, kemaren kita juga bahas bagian yang paling penting dari sistem: yaitu kemauan / motivasi yang dikendalikan oleh otak untuk menjalani sistem itu. mau sistem paling canggih, kalau kita enggak mau ngejalaninnya ya sama aja.

untuk memotivasi titan lebih semangat, kita sepakat untuk membuat logo korporasi. karena sistemnya milik titan, maka logonya pun ya logo titan. perusahaan milik titan. namanya titanica. taglinenya: everything is possible. 

alhamdulillah, dua minggu pertama sejak sistem ini launching semuanya berjalan lancar. enggak ada project yang tertinggal, bahkan beberapa project diselesaikan sebelum deadlinenya.

semoga, solusi kali ini membuahkan hasil maksimal ya. enggak mentok lagi di tengah jalan seperti yang lalu-lalu ha ha ha
semangat terus ya, nak. semoga, di masa depan nanti, kalau bunda udah nggak bisa bantu; kamu bisa bantu diri sendiri cari solusi untuk semua masalah kamu :)





bantu otak untuk mengigat  pekerjaan dengan mengelompokkan pekerjaan dalam bindex



detail pekerjaan enggak perlu diingat, ditulis aja di job order. ingat yang penting-penting aja





kalau semua harus diingat ya pasti lupa. ditulis aja di memo kecil yang dibawa kemana-mana



everything has a home. coba kalau diulang terus naronya di sini, pasti nggak hilang 












The terrible two

La Luna is two years and four months now. Day by day, I am starting to realize how drama queen she has become. Sometimes I got easily ticked off. Sometimes, I pretend being a deaf when she tantrums. Here are some lists.

"The world revolves around me"
This is the first drama of all. When she talks, she will not allow you look at other spot. She would just pull off your jaw so you can see her in the eye. And watch she talks, sings or do something.

"If I am upset, I will make sure your life is miserable too."
She cried and cried and will not let you do your things. She will try harder to make you upset too. Like screaming while stepping on your toe, or throw your things to the trash bin, everything but a peaceful you.

"Everything needs to be done, my way. "
If you get wrong doing it, she would ask you to do it again.
Or, a tantrum.

"If I don't get what I want, so does everyone else. "
She is not getting an ice cream because she is having fever. Then she would grab anyone's ice cream and throw them away.

I wonder whether these things happen to La Luna only, or it is so typical of raising a daughter. Sadly and luckily, these also happen to most moms with daughters. I asked a friend when I will get through this phase. She laughed. Hard. Apparently the drama will always come up. In another form as our daughter grows.

Good God!

"Guys, how can you fall in love with us?"


"Jadi orang tua itu, harus mau repot lho!"
-Dr. Waldi, Spa-




His Facebook status today. Of course, with a story behind it. 
The story of a parent who gave their son homeopathy sedative, because they think their son is hyperactive. Dr. Waldi thinks that the child have so much energy and his parents need to channel it instead of giving him sedatives. 

Jleb moment for me. 

I am too lazy to take Luna for a walk, everyday. 
I am too lazy to take her bounce a ball or ride a tricycle, every afternoon.
I prefer her to squeeze playdough and paint, everyday.
And so I can watch her under aircon, and so I could peep my mobile, and so I could play the music on, and so I don't need to make nonsense conversations with the neighbour. 

Oh, two years and I haven't been a better parent.

Maaf ya Titan, La Luna, bunda janji akan jadi lebih baik.
Dan lebih sabar.
Bear with me. 

Those who took swimming lessons, for dinner

I think,
one of the bless for a wife is to have a husband who will eat anything she cooks for him.
Imagine if you have to take another complaints after hours of cooking and clean up all the dirty utensils after you cook. What even more hurting is when he doesn't touch the food at all.
Aw, it is so rude!

Since Ariawan changed his eating habit to food combining, I must say that I am a little bit out of hands. Morning is easy. Lunch is a bit tricky. But dinner, is the hardest part because I need to vary my recipes of cooking animals. The two legged animals are boring, the four legged animals are hard to bite (because I don't have pressure cooker) and those with fins are smelly.

I managed to bake the fins tonight, anyway. Tasted so so, hubby and kids did not look excited but they ate it anyway. Need to try harder next time.


Garlic, pepper, lemon, honey

The cuttlefish are good, however.


Akhirnya, saat itu datang juga.

Kali ke dua mencoba menyapih Luna. Malam ini tepat malam ke tujuh Luna bisa bobo malam tanpa nenen. Perlahan mulai hilang crankynya, walau masih kebangun tengah malam mencari sudut kenyamanannya di dadaku.

Ternyata benar, menyapih itu butuh kekuatan dan keberanian bagi keduanya. Like it takes two to tango, masing-masing saling menguatkan. Terima kasih pada alam, yang membuat semua ini terjadi. Karena kalau enggak ada edisi muntah-muntah lagi seperti Juli lalu; mungkin saat ini Luna masih nenen juga.

Aku enggak pernah nge-set timing kapan Luna harus berhenti menyusu, karena seperti yang pernah aku ceritain di sini beberapa bulan lalu; kegiatan ini sama-sama menyenangkan buat kita berdua. Jadi mau sampai 3 tahun atau 4 tahun pun aku enggak keberatan. Tapi, terima kasih sama dokter rossie yang mengingatkan, kalau umur 3 tahun fase oral harus sudah selesai. Itu artinya, fase nenen dan coba-coba semua masuk ke mulut udah harus selesai. Luna sudah harus bisa dididik untuk berhenti itu semua. Plus, toilet training. Wah, ... tugas yang berat untuk umur 2 tahun ya.

And I am so proud, my baby girl is getting through them so very well. Kalau mau ke belakang, udah bilang dan langsung lari sambil copot celana sendiri. Walaupun masih suka ketuker mau poop atau mau pee. And for the weaning part, ... it is gorgeous.

Betapa hebatnya masa menyusui, namun enggak kalah hebat juga masa-masa menyapih. Setelah seminggu ini disapih, mamnya makin lahap dan semua mau dicobain. She gained another 500 grams within a week. Dan yang paling signifikan adalah, dia makin berani mengeksplorasi lingkungan sekitar. Bangun tidur sendiri, buka pintu dan mencari sendiri dimana ibunya. Kalau dibawa ke tempat umum pun dia sudah mau jalan-jalan sendiri dan menyapa orang-orang asing. Mau bobo pun sekarang mau di sekitar bubunya instead of under my armpit hehehe.

So what are the tips for this lovely weaning with love?
1. Understanding. Understand that both mom and kid needs time and follow your motherly intuition to notice which time is the right time.
2. Talk talk and talk. Give her understanding in a way she understands. Di kasus Luna, kayanya anaknya tipe benefit oriented. Jadi, daripada aku kasih tau dia soal sekarang udah gede dan anak gede enggak menyusu lagi; aku kasih tau dia kalau menyusu takutnya akan muntah-muntah lagi (dan memang itu kejadiannya, bukan bohong) ... and it works.
3. Load some more lots of activities to distract her from thinking of leyeh-leyeh sambil nenen
4. Introduce more variants of taste and textures to the tongue.
5. Some 'old school' tricks like putting band aids or even lipstick to your breast might needed, never be ashamed or feeling guilty just because of that.

And it's all folks!


Put up lots of activities ... 


... I mean LOTS!!! 

These are the series of persuading face 'Minta Nenen' 



Forgetting this, forgetting that. breaking this and breaking that.



A little note:
Need to set up a good example. So from this moment, since my kid starts reading my blog too, I need to write with the correct spelling, punctuation and capitalisation.

So help me God.


Okay.
Up to this moment, I am still observing what kind of type my kids are. Those who tend to avoid risks or those who has oriented with benefits. Surely two of the types need different approaches.
But along the way, my children easily swifts from one to another. So I got confused in giving the right approach and I became inconsistent. That happens quite often.

So, to us, while I am conveying myself what types my kids are, logical consequences still applies the best for them. There are always consequences behind our every actions.

What is bothering me a lot these days are how careless Titan is. I wonder why I did not notice this back then. Well, maybe I had always thought he is a little boy and I needed to remind him over and over. But now he is eight and he is physically looks pretty big on my eyes, reminding him over and over and he kept forgetting what I said is no longer funny. Not funny at all. It is like you kept saying the same thing to an alien. And the big questions arose: Until when? What if I die and nobody remind him anymore? Well, then I must make action.

Our family needs 1 kilogram of eggs every week. Many times, I ask Titan to buy at the nearest warung if we ran out the eggs out of my grocery schedule. About fourteen eggs in every kilograms, and he came back with only eight or ten. The rests have broken into pieces and so I need to wash all the eggs and keep them in the sun e few hours to dry up. It always happen and I kept asking him and no progress.
So what I did was, I talk to him. For every egg he breaks it is equal with the amount of the day when he cannot eat it. And he was the king of egg. For his french toast, for his scramble, for his telur dadar kornet. No naggings. I just tell him.

His iPod. The first generation of iPod touch and I gave it as his first birthday. He always left it somewhere, for it has gone for like ... four years and we managed to find it again. One night he left it at nini's house and went straight to sleep. I woke him up and tell him to get his iPod. I put it in the drawer and lock it and said he cannot use it for a month. No naggings. I just tell him.

His bike. He always put it wherever he likes and blocking other cars. What I did was, I called him to clean it and put it on the garage. Put a padlock and said he cannot use it for a week. No naggings. I just tell him.

His meal. He often ask for more menus I cook and left it unfinished. What I did was, He need to prepare his own meal for a week. No naggings. I just tell him.

The conclusion about careless kid is, that they need to be responsible of what they have done. And, parents need to be consistent and so they trust us. I know it is hard. Big time.


when to shut out, when to shut up

setting: 
nini lagi sibuk mencuci, titan sibuk nggerecokin. trolly cucian dipakai main kereta-keretaan, padahal trollynya trolly dari plastik macam trolly di ace hardware. 

nini: 
titan, keranjangnya jangan dinaikin nanti rodanya masuk. 

titan: 
rodanya masuk gimana, ni? *sambil terus mainan trolly*

nini: 
mblesek!

titan: 
luna kok boleh? 

nini: 
beratan kamu apa luna? 

titan: 
luna juga berat ni, titan aja nggak kuat gendongnya

nini: 
ah, kamu nih ngejawab aja deh

titan: 
lho, kan tadi nini nanya kan? 


diem-diem saya ketawa aja di pojokan, sambil asyik nerusin cuci piring. anakku yang satu ini emang ampun deh kalau menjawab kata-kata nini dan akinya. pretty logical. apalagi terlatih sama bubunya yang obrolannya suka mengacaukan logika.

kejadian kaya gini sering banget kejadian di rumah, terutama antara titan dengan aki dan nininya. maklum, generation gap dan beda pola pengasuhan. nini dididik dengan cara feodal, yang mana orang tua itu udah kaya dewa. sedangkan aki, dididik dalam nuansa militer yang harus tunduk dengan perintah. ya jauh banget sama keadaan titan sekarang yang orang tuanya demokratis. paling enggak, mencoba untuk demokratis.

dengan situasi seperti ini, biasanya saya diam dan jadi pengamat aja. kalau sudah selesai dan peperangan berakhir damai, ya sudah. tapi kalau tidak berakhir damai; saya akan suruh titan minta maaf sama aki atau nininya. buat saya, yang penting adalah membiarkan anak mempertahankan argumen dengan logikanya.

kadang suka keceplosan juga sih kalo ini lagi kejadian sama saya. "because i told you so" atau "because i am your mom" keluar juga kalau mood lagi jelek plus tangan dan isi kepala yang lagi ribet. yang lebih parah kata-kata "udah jangan banyak omong!" yang biasanya dicounter dengan "dulu aja, titan disuruh belajar ngomong. sekarang ngomong banyak-banyak enggak boleh."

hadeuh.

umur-umur segini emang lagi ampun-ampunan membantahnya. kadang pegel juga. satu-satunya yang bisa memenangkan perdebatan dengan dia hanyalah bubunya. itu karena bubunya lebih suka mengacaukan logikanya, supaya logikanya terus berkembang. kalau dengan saya, sepertinya dia lebih menahan perdebatan karena saya adalah ibunya. daripada ribet nanti idup gue jadi susah, mending nurut aja - that a kind of attitude hahaha.

jadi, sekarang saya sangat menghindari tiga kalimat di atas dan lebih fokus pada ngajarin titan gimana untuk tau kapan timing yang tepat untuk berdebat dan kapan harus memilih diam.

timing yang tepat untuk memilih diam adalah saat keadaan lagi panik atau genting dan membutuhkan keputusan cepat seperti saat dua ban mobil yang lagi kita kendarai tetiba kempes dan kita harus sibuk berdebat keras tentang apa bedanya roda dan ban; daripada diskusi mencari tukang tambal ban di tengah malam.

ke dua, juga waktu-waktu yang singkat seperti saat jeda waktu antara bangun tidur dan pergi ke sekolah.

yang ke tiga, nah ini butuh skill khusus. yaitu saat mood lawan bicara sedang tidak bagus. well, untuk yang satu ini titan masih agak kurang peka nih. masih harus diasah skillnya, hehehe.

let's see how long this will end.
not that soon, i guess.


Responsibly Happy


Menjelang tahun baru 2015, kami sekeluarga mengalami perubahan-perubahan besar. Perubahan yang membiasakan kami untuk hidup lebih 'seadanya' dengan mengurangi fasilitas-fasilitas yang berlebihan. Kenapa? Karena ternyata tanpa kita sadari, selama ini kita hidup terlalu manja. Baik anak-anak maupun saya. 

Mulai Masak Sendiri

Sebenernya agak malu cerita tentang hal yang satu ini: sekian tahun berumah tangga dan punya rumah sendiri, baru sekarang pontang-panting nyiapin asupan makanan buat sendiri, suami dan tentunya anak-anak.

Lah, ... emang selama ini begimanaaaaaaa?

Nah, ini nih bagian malunya. Karena saya selama ini bekerja, jadinya urusan makan malam dan makan anak-anak saya catering sama ibu. Bukan saja karena lebih simpel, tapi karena masakan ibu saya luar biasa enaknya (ya, menurut saya sih ... anaknya! Hahaha). Paling weekend saya masak lucu-lucuan, atau masak buat anak-anak. Sisanya mah ... cincay! 

Nah, sejak pertengahan Desember 2014 lalu, saya memutuskan untuk berbelanja dan memasak sendiri saja. Sudah saatnya saya menjadi istri dan ibu yang lebih bertanggung jawab terhadap makanan orang-orang rumah. Setiap weekend, saya dan suami belanja kebutuhan untuk seminggu ke depan di pasar basah. Memilih binatang- binatang yang akan kami konsumsi lima hari ke depan plus beli bumbu-bumbu. Saya ingat betul belanja perdana saya untuk kebutuhan dapur yang masih nol hanyalah sekitar tiga ratus lima puluh ribu saja. Tentunya belum termasuk sayur, yang saya pikir lebih baik beli harian aja di tukang sayur supaya masih segar saat dimasak. Kami pulang setelah berhasil memenuhi 2 tas envirosax kami (duh, mesti banget ya disebut merknya? Hahaha ... karena belanja di pasar juga harus tetap gaya!) dengan ikan, udang, cumi, ayam dan bumbu-bumbu. Hari itu, saya memasak perdana dengan menu tenggiri bakar bumbu kuning. Ih, hebat ya? Hahahaha ... sama sekali enggak. Terima kasih sama uda penjual bumbu, saya tinggal bilang "Uda, minta bumbu ikan bakar 3000 ya!" 

Untuk belanja bulanan di Superindo, saya pecah menjadi belanja 2 mingguan. Belanja sayur harian di tukang sayur yang tidak menghabiskan lebih dari sepuluh ribu,  beli telur 1 kg untuk satu minggu di warung depan dan beli roti di Indomaret atau Alfa Mart sebutuhnya saja. Biasanya sih mampir ke sana setelah jemput Titan dari sekolah. Oh iya, belanja kecil-kecil di Indomaret ini ternyata kalau dikumpul-kumpul jadi jajanan mahal, lho! Untuk menyiasatinya, saya beli kartu Indomaret yang bisa di top - up di ATM. Jadi setiap bulan jajanan Indomaret sudah ada platformnya. Lumayan juga kartunya bisa dipakai buat e-toll :) 

Dengan masak sendiri ini, Alhamdulillah kita semua belajar banyak. Karena suami enggak suka makan makanan ala carte yang kebule-bulean (padahal itu yang gampang dimasak hahaha), saya harus belajar masak makanan Indonesia. Walau akhirannya lebih banyak tumis sih, hehehe. Yang jelas, Ariawan membawa bekal makan siangnya sendiri. Biasanya, bekal ke kantor ini adalah left-over foods dari dinner semalam. Kalau kebetulan habis, baru deh masak lagi, jadilah musti bangun lebih pagi. 

Selain itu, mulai juga mikir tentang menu sehat yang minimal minyak. Rebus dan bakar, kalau bisa. Buat nasi, saya campur beras putih dengan sedikit beras merah menjadikannya beras pink yang lucu hahaha. Titan yang picky eater, Alhamdulillah kebiasaan makannya mulai membaik. Makan apapun yang bundanya masak, suka atau enggak suka. Karena ibunya ini sudah terlalu lelah kalau harus masak menu yang berbeda lagi buat dia. Tentunya pilihan menu juga enggak aneh-aneh sih. Dikira-kira aja yang anak-anak bisa suka. 

Buat menghemat waktu dan siap-siap kalau kepepet, saya selalu menyimpan tempe / tahu bacem dan ayam segar berbumbu di lemari es. Kapanpun dibutuhkan, tinggal buka container trus goreng. Kalau lagi males masak, kadang pesen juga sih ke delivery Sederhana atau makan di luar hahaha.

Cutting off the bills

Kemanjaan kita berikutnya adalah ketergantungan terhadap water heater. Ow yeah. Akibat tagihan listrik yang melonjak akhir-akhir ini karena memang TDLnya naik, akhirnya kabel water heater pun saya cabut. Tadinya sih cuma pengen tahu aja, apakah setelah dadah-dadah sama air hangat tagihan listrik bisa berkurang. Eh, ternyata benar, tagihan listrik berkurang tiga puluh persen. 

Awalnya sedih juga, kasihan luna yang masih umur satu tahun. Kasihan Titan yang harus mandi pagi dengan air dingin. Tapi ternyata, Alhamdulillah Luna baik-baik aja. Dia malah seneng banget bisa main di bawah keran. Dan Titan, sejak mandi pakai air dingin, mandi paginya jadi super cepat dan akhirnya ke sekolah pun tidak lagi telat. Super yeay!

Tinggal first media aja nih, langganan TV kabel tapi enggak pernah ditonton. Mau diputusin, kita masih butuh internetnya. Karena kalau hanya berlangganan internet aja, justru lebih mahal jatuhnya. Bisa enam ratus ribuan per bulan. So, ya sudahlah ya kita merem aja. 

So yeah, these are just the beginning of our thrifty lifting journey. Semoga besok-besok bisa lebih menghargai seadanya hidup, menghargai apa yang ada. 

Amin. 




uda - uda si jago bumbu

sayur lodeh, ikan asin, sambel, tempe dan empal goreng

bekal kakak titan

temen weekly shopping

"I take the consequence and I am fine."

Yup. That's my son.
Untuk sekilas, terkesan keren ya hahaha. Cuma, akhir-akhir ini saya agak dibikin pusing karenanya.

Umur Titan sekarang 8 tahun kurang 4 bulan. Sejak kecil, saya selalu mengajarkan dia untuk membuat pilihan sendiri dan menerima konsekuensinya. Mulai dari memilih pakaian sehabis mandi, sampai menerima konsekuensi harus ke dokter sendiri kalau sakit karena menolak makan. Pada kenyataannya sih saya antar dia ke dokter, tapi saya cuma bertugas mengantar. Mendaftar dan bicara pada dokter, itu kesepakatan yang harus dia lakukan sendiri. Saya masih ingat benar, saat itu Titan berusia 4 tahun lebih sedikit dan dia melakukannya dengan baik.

Akhir-akhir ini, saya terpaksa jadi harus terdiam (karena mikir harus bagaimana) melihat karma sendiri. Entah harus bangga atau enggak, yang jelas sih saya bingung. Saya ceritain ya beberapa kejadiannya.

Beberapa bulan lalu, saya; luna dan titan jalan-jalan ke mall. Bagian bawah stroller Luna (yang biasanya berupa kantong), lupa saya pasang setelah beberapa hari sebelumnya saya cuci. Hari itu, bergantianlah Luna saya gendong dan Titan duduk di atas stroller sambil tumpang kaki dan melepas sepatu. Sepatunya kemana? Sepatunya, dengan santai Titan taruh di kolong dimana kantong tersebut biasanya berada. Sayangnya, Titan kurang teliti untuk mengetahui bahwa ia menaruh sepatu di tempat yang tidak ada penahannya. Alhasil, sepatunya tertinggal entah kemana. 
Saya baru 'ngeh' kejadian ini saat makan siang, melihat dia berjalan santai sambil cekeran. Mukanya biasa aja gitu, kaya enggak ada yang salah. 

"Lho, sepatu Titan kemana?"

"Uhmmm ... tadi waktu duduk di stroller aku lepas sepatu dan aku taruh di kolong, tapi ternyata bawahnya enggak ada dan Titan enggak tahu." 

"Jadi daritadi kamu cekeran gini?" 

"Iya."

Melihat mukanya yang santai, saya juga enggak panik. Cuma mikir aja, jatuh dimana kira-kira itu sepatu. Titan juga enggak minta beliin sendal atau mencari gantinya. Enggak juga merasa ada yang salah dengan keliling-keliling mall cekeran. Enggak merasa malu juga diliatin orang. Biasa aja. Dia tahu dia salah, dan dia terima konsekuensinya: cekeran keliling mall. Enggak berani minta beli gantinya, karena dia tahu dia salah. Mungkin karena dia juga mengerti, bahwa ibunya ini enggak akan membelikan gantinya. 
Untung parkir dekat sekali dengan pintu keluar di basement. Saya hanya minta dia untuk tunggu di lantai yang bersih dan tidak ikut berjalan di parkiran karena pasti lantainya panas dilalui ribuan mobil. Dan kami pun pulang. 

Cerita ke dua.

Hampir sama dengan cerita pertama, tiba-tiba di mall saya melihat Titan berkaos kaki tapi bersandal jepit buluk. 

"Lho, kok pakai kaos kaki tapi pakai sendal jepit? Kotor banget lagi sendalnya. Ketinggalan di mobil ya, sepatunya? Yuk, mau balik lagi?"

"It is okay, Bunda. Aku lupa bawa sepatu. Tadi setelah pakai kaos kaki, aku main-main dulu di halaman pakai sendal trus kelupaan deh pakai sepatunya."

"Oh, ya kalau gitu dibuka aja kaos kakinya. Pakai sendalnya aja."

"No, it is okay. Sendalnya kotor, aku enggak mau kakinya jadi kotor. Gini ajalah."

Trus jalan deh dia kaya anak lagi sakit panas pakai kaos kaki tapi pakai sendal jepit. 

Cerita lainnya.

Karena capek dan bosan setiap hari harus 'berantem' soal bangun pagi dan buru-buru pergi ke sekolah, pada term kemarin saya merubah trik. Saya benar-benar jadi fasilitator aja, dimana Titan yang atur waktunya sendiri. Pagi-pagi, saya ingatkan dia untuk bangun. Ingatkan untuk menyegerakan makan dan berangkat sekolah. Yang biasanya saya ikut senewen, di term kemarin saya berusaha untuk santai. Pun urusan belajar. Kalau mau belajar hayuk, kalau lagi malas ya enggak papa. 
Hasilnya pada PSTC kemarin: telat 19x dan harus ikut remedial (tambahan jam pelajaran) setiap hari senin dan kamis. 

"Titan, kalau telat tuh rasanya gimana ya?" 

"Biasa aja. Malu sih, dikit. Tapi ya enggak papa."

"Enggak dihukum?"

"Enggak ada hukumannya, Nda."

"Missnya enggak marah?"

"Enggaklah, masa guru marah-marah. Ya paling di - remind aja." 

"Karena kamu telat, kamu jadi harus stay di sekolah lebih lama. Enggak enak, kan?"

"Enggak papa, Nda. Enak kok, Titan malah lebih fokus belajarnya karena cuma sedikit muridnya kalau pas remedial." 

"Jadi menurut kamu telat enggak papa?"

"Ehm ... enggak baik sih, tapi kalau jadi harus stay lebih lama ya enggak papa juga." 



hhh!

untuk ibu rumah tangga yang sendirian ngurus dua anak dan rumah (dan saya yakin bukan cuma saya aja yang mengalami ini), menunaikan perjanjian ke dokter bukanlah perkara mudah. pertama, meluangkan waktu untuk riset mencari dokter yang sesuai kata hati dan bisa diterima logika. ke dua, mengatur jadwal yang sesuai dengan aktivitas ibu, aktivitas rutin balita dan tentunya aktivitas si kakak; yang mana dialah yang harus bertemu dengan dokter matanya untuk cek up.

saya enggak sebegitu rajinnya setiap tahun cek mata anak-anak, tapi buat titan; sejak lahir ini sudah yang ke tiga kalinya ke dokter mata. sebelumnya karena mata bintitan dan belekan terus, nah kali ini memang sengaja diniatin cek up karena kekhawatiran saya atas durasi main minecraftnya akhir-akhir ini. saya memang paling parno kalau sudah berurusan dengan mata. pernah saya ke dokter mata hanya karena kelilipan yang sudah seminggu lebih enggak kelar-kelar. ternyata benar, kelilipan serbuk entah apa yang amit-amit kecilnya dan karena saya kucek dan rendam pakai boorwater berhari-hari, malah kornea yang tergores dan luka. setelah itu, ... that's it. gak ada lagi main-main soal mata apalagi mata anak-anak. saat saya ragu, mending saya angkut ke dokter.

akhirnya jadwal pun disetujui. hari senin, jam 4 sore. habis sekolah langsung cus ke rumah sakit. sengaja saya kosongkan aktivitas di jam 3 - 7 buat saya dan anak-anak. saya siapkan semua yang dibutuhkan di jam-jam tersebut sejak pagi dan memundurkan jam tidur dan makan siang la luna supaya jam 3 - 4 dia udah fully loaded perut dan matanya. buat antisipasi, saya juga berbekal makan malam buat titan dan luna. well, bukannya pelit. tapi, knowing nih anak dua termasuk golongan picky eater dan enggak punya luxurious time untuk mampir-mampir ke restoran karena yakin banget harus segera pulang mengingat besok masih hari sekolah dan bocah kecil musti bobo.

sebelumnya, saya mau bilang terima kasih pada mereka yang menemukan carseat. duduk anteng di belakang sambil nonton, saya dan laluna jemput kakak titan ke sekolah dan cus langsung ke jakarta eye center di bilangan kedoya; gedung baru yang belum pernah saya kunjungi sejak mereka pindah dari jalan panjang.

sejak awal saya mendaftar  sampai saya dapat sms reminder sehari sebelum hari H sampai pak satpam yang sangat membantu mendorongkan stroller dan mengambilkan kartu antrian, saya langsung sreg dengan pelayanan di rumah sakit ini.

setelah proses administrasi dan mengganti kartu-kartu yang hilang karena sudah lama enggak cek up, akhirnya kita melaju ke lantai 4, lantai khusus anak-anak. sampai sana sudah ada mbak yang menjemput di lift dan membantu saya membawa semua kerepotan. tiga jam penantian, enggak terasa karena anak-anak dimanja dengan edutoys yang ada di sana. la luna senang sekali, dan saat itulah baru saya tersadar ternyata dia sudah bisa main duplo dan sudah mulai butuh kegiatan motorik kasar yang lebih menantang dibanding sekedar main bola dan lari-lari di rumput.

titan pun dipanggil untuk melakukan serangkaian tes. ternyata kali ini dia udah enggak norak lagi melihat gambar balon udara di monitor komputer dan bisa duduk lebih tenang dibanding saat tes mata di optik beberapa waktu lalu. cuma norak waktu tes otot mata aja, yang tiba-tiba matanya ditiup angin dan dia segera protes "Itu mataku ditempel kancing kaya coraline ya, Bunda?" habis itu tes jarak baca.

setelah ketiga tes tersebut, kirain udah bakalan cepet-cepet dipanggil. ternyata, kita baru dipanggil 2 jam kemudian. melihat anak-anak asyik main dan ruang menyusui udah kaya kamar sendiri, saya anteng-anteng aja. saya paling seneng kalau tahu ada dokter anak yang telaten memeriksa pasiennya dan mau berlama-lama melayani pertanyaan-pertanyaan bodoh dari ibu bapaknya. lagian, udah terbiasa juga sama dokter alerginya titan yang sekali melayani pasien bisa 20 - 40 menit sendiri.

akhirnya titan dipanggil. ada beberapa pemeriksaan lagi di dalam. dokternya juga asyik, bisa menggali titan kenapa harus berlama-lama di depan komputer saat main minecraft dan menjelaskan apa akibatnya bagi mata. menyimpulkan bahwa jatah jadi jauh berkurang: nonton tv 1 jam sehari (which, nggak pernah nonton tv juga sih dia), main minecraft 1 jam seminggu dan makan sayur brokoli, bayam, wortel, tomat is a must. nah, kalau dokternya yang ngomong, baru deh ni anak umur 7 tahun mau nurut.

terus gimana dengan matanya yang kemarin di optik seis didiagnosa silinder 3/4? ternyata sehat-sehat aja. alhamdulillah. tapi, dokternya menemukan kejanggalan yang selama ini saya pertanyakan. namanya: tics.

jadi, dulu waktu titan sekolah tk kecil di bee school, dia suka banget gerak-gerakin pipi, pangkal hidung, gerenyet-gerenyet enggak jelas, tanpa ia sadari. saya tegur berkali-kali malah semakin jadi. akhirnya, setelah saya diamkan (karena putus asa) ... kebiasaan itu menghilang dengan sendirinya. entah, setelah berapa lama.

nah, kebiasaan itu pun sekarang muncul lagi. tepatnya, setelah saya perhatikan, dia datang ketika titan kehilangan dua gigi serinya bagian atas. awalnya saya kira karena gerakan enggak enak mulut yang tadinya berisi gigi penuh harus kosong di tengah-tengah. tapi lama kelamaan saya curiga, kok gerakannya sama seperti waktu dia di tk kecil dulu.

ternyata, menurut dokter, itulah yang dinamakan dengan tics. sebuah kelainan syaraf karena berlebihnya rangsang dari otak. tics belum ada obatnya, karena sebabnya lebih kepada genetik dan emosional. biasanya, anak-anak yang mengalami tics sedang dilanda stress. tics ini lebih banyak menyerang anak laki-laki, sekitar 6 dari 100 anak.

setelah googling ke sana kemari, saya menyesal sekali karena pernah memarahi titan dengan kebiasaan buruknya itu. karena menurut artikel, semakin ditekan maka semakin menjadi-jadi kebiasaannya itu. trus, titan stress apa dong? setelah saya pikir-pikir, dulu titan sangat tidak suka dengan sekolah bee school. sampai-sampai dia menangis tiap kali mau masuk sekolah. karena tahu cuma akan sekolah setahun, saya enggak segera memindahkan titan dari sekolah lamanya ke sekolah yang memang kami tuju sejak awal. setelah pindah, mungkin itulah kenapa sindrom ticsnya hilang dengan sendirinya. nah kalau sekarang? karena tics muncul setelah giginya ompong, kemungkinan besar dia lagi kena krisis PD, apalagi ada anak cewe di kelasnya yang dia taksir, sama-sama ompong; tapi udah numbuh satu. wah, merasa kalah set kali ya!

akhirnya, sekarang sebelum tidur saya selalu pijat wajah titan dengan tetesan minyak aromateapi. titan nyebutnya 'pijat ramuan' dan kayanya dia sangat menikmatinya karena saya sok-sokan pijat pakai teknik relaksasi ala-ala spa hahaha ... selain itu, saya juga berusaha untuk menjadi pendengar yang lebih baik.

titan, 
you are important and you are loved. isn't it all enough? 
worry not, my dear.

learning style

why do we have different learning styles?
because each people has different brain. different size, different capacity, different connections amongst its nerves.

this post was inspired by malicca, my second grader who has hard time taking orders and listen to his mom. me.

maybe, because he is in the phase of being rebellious. this shall pass, some said.
okay, that was the shortest and easiest answer a parent can make. but what if it is not? what if he is just being ... him? and the phase would not be a phase but be a forever and ever?
then i start to ponder what have gone wrong. after a few cups of coffee and lots and lots and lots of this jaw of mine did its exercise *read: munching* ... well, maybe, i have treated him the wrong way.

maybe i did not clear enough. or blame my tone of voice that is a bit cartoony. or maybe i talked too much. or maybe he did not understand the words i use. or maybe he is overload with all the distractions around him. or maybe he was thinking of his world in minecraft. are they the reasons why he did not listen to what i said?

then i took a little detour of what might gone wrong. i  did a few research from the internet and rechecked his teachers, in a sum up, malicca is a highly visual kid with a little bit kinaesthetic style of learning.

he visuals things, on his sketches and mind. sometimes he just laugh seeing someone, simply because he creates a story in his mind. he quickly grabs everything he sees that interests him and put them in his memory lane. he quickly spots a thing that interests him within seconds as our car passes by.

yes, what interests him, is the key. now you can imagine how boring a house chore for him. how to make them interesting so they can interest him? that is the question.

so, then i changed my way of giving orders. i write all the things he has to do, in this case: his daily chores. i write every order on a piece of paper and put it on the spot where he is obliged to do the chores. it started from where to put his shoes, bags, what to do after school, what to do before shower, before bed ... every single thing. and because he also has a mixed learning style with kinaesthetic, so on the first day of the launch of the chore visual kit; i took him for a tour around the house. just like a roommate giving a tour to his room. what are the do and the don'ts by presenting the visual kits that will help him what to do.

amazingly, it works. well, at least for the past three weeks.

then i also got another conclusion about why he did not hear me much. that maybe, i should have listened to him more.

#jleb

telat dan telat banget

masih berkutat dengan anak yang terlalu santai berangkat sekolah dan akhirnya ... telat!
ternyata saya masih belum legowo untuk menjadi fasilitas belajar. masih nervous kalau liat si anak nyantai dan enggak merasa ada yang salah kalau telat datang ke sekolah.

saya orang  yang percaya, kalau saya ninggalin rumah sambil misuh-misuh, pasti sepanjang jalan sampai ke tempat tujuan itu enggak lancar. banyak yang bikin kesel dan semuanya jadi enggak bener. begitu juga pagi ini.

saya bangunin titan sekali, and thats it. anaknya manis banget, lima belas menit kemudian kucuk kucuk turun tangga dan mandi. tapi along the way, karena dia merasa sudah bangun cepat, maka bersantai-santailah dia melakukan ritual-ritualnya. dia enggak ngerti, bahwa dia bangun cepat pun harinya sudah siang. alhasil, ya jadi telat juga berangkatnya. ndelalah di jalan kena metromini mogok pas banget di depan mata, trus kejebat gridlock di perempatan.

di perjalanan, sontak dong saya nyerocos.
paling juga nggak didengerin sih sama anaknya -__-
sampai akhirnya saya mengajukan sebuah ide.

"malicca, karena kamu enggak merasa rugi juga kalau telat (he did say that before), dan anyways sudah telat juga nih kita, yuk kita ngopi-ngopi dulu aja di McD atau sruput-sruput Slurpee di Sevel. toh udah telat juga, kan? bedanya, kita santai-santai dulu... oh, bunda ding yang santai-santai. kan kamu udah santai-santai tadi pagi. luna juga udah nangis-nangis tuh bosen, abis macet banget siiiih."

"nggak mau, nda. nanti jadi telat banget."

"whats the difference between telat dan telat banget? gak ada itu yang namanya telat banget. telat ya telat aja, thats it. kalau udah telat, ya udah. telat. gak usah pake banget. thats what we do with timing. tepat atau telat."

anaknya diem aja.
saya pasang sen mau melipir ke sevel yang udah ngiming-ngiming slurpee cotton candy.

aselik deh, saya udah niat banget mau nyevel karena kesel terkena macet ngga jelas ini. gara-gara tol jorr sudah dibuka tapi akses luarnya masih berantakan, gini deh akibatnya. tapi tiba-tiba titan protes berat.

"oke, oke! aku enggak akan telat lagi. beneran! 
kamu jalan terus aja, jangan mampir beli slurpee."

saya pasang muka datar, walau dalam hati senyum-senyum dan terus jalan enggak jadi melipir.
ya, gak ngaruh juga sih.
tetep telat.

banget.


7ime for manners

supaya bisa makan dengan nyaman, saya biasanya nyiapin minum dulu sebelum mulai makan. begitu juga tadi malam. segelas besar teh manis hangat udah nangkring di atas meja, reward buat saya saat selesai makan nanti. ouw, ... nggak sabar pengen menenggak teh manis anget itu ... gluk gluk gluk!

tiba-tiba, di tengah makan, ada tangan kecil menyambar gelas gendut teh hangat saya.
"eh, enak aja. it is not yours."
"dikit aja, nda. dikiiiit aja."
"enggak boleh, that is mine."
"bunda pelit"
"emang!"

lalu, saya melanjutkan makan dan melihat si bocah tujuh tahun bersungut-sungut sambil mengambil gelas dan mulai menuang air teh dan gula. saya liatin aja sambil senyum-senyum dan bilang "nah, itu kan bisa bikin sendiri. masa buat diri sendiri aja males, sih? jangan dong."
ndelalah, si anak malah pasang tampang bete dan memutar bola matanya. DI. DEPAN. SAYA.
saya langsung melengos, enggak mau liat.

setelah makan, dan minum teh anget saya dengan mood yang udah setengah kacau gara-gara ngeliat Titan berbuat enggak sopan kaya gitu, akhirnya Titan saya tarik ke kamar dan ajak dia bersih-bersih bersiap tidur. sambil cuci muka juga, saya mulai deh nyerocos tentang siapa saya dan kenapa dia harus pay some respect to older people.

anaknya diam aja. merasa salah. saat ditanya "kamu mengerti?" dia sih angguk-angguk aja. mari kita lihat aja apa dia bakal begitu lagi ke depannya.

tapi beneran deh, anak umur 7 tahun itu mulai memasuki alam gemet-gemet nyebelin. testing the limits dan mulai coba-coba ngomong atau berbuat enggak sopan, sesuatu yang mereka belum pernah lakukan sebelumnya and trying out a new things (specially the bad ones) are always fun, right?

sabar-sabar ya, Nda.
*pukpuk kepala sendiri*


a little detour


"Nda, kamu enggak capek ngeburu-buru Titan seeetiap pagi, untuk pergi sekolah?"
tanya ariawan suatu pagi.
*saya diam. ya capek sih. dan saya yakin, ariawan tau itu. makanya dia nanya.*
"yang perlu sekolah itu, anaknya atau kamu?"

*glek*


pertanyaan itu tiba-tiba membangunkan saya dari mimpi kelamaan jadi pelindung anak-anak. padahal, jauh di balik kekhawatiran terlambat sekolah; ada kekhawatiran lain lagi. yaitu keinginan untuk tetap bisa mengontrol ekspektasi hari itu. berangkat tepat waktu, itu berarti pulang ke rumah tepat waktu, luna sarapan tepat waktu, saya mandi tepat waktu, luna tidur siang tepat waktu, saya istirahat tepat waktu, semua tepat waktu dan hari itu pun berjalan normal sesuai dengan time slot yang sudah saya harapkan.

iyes, pengharapan saya sendiri.

tapi, saya malah jadi lupa; bahwa harapan supaya anak-anak jadi anak yang bertanggung jawab bisa dimulai dengan membiarkan mereka belajar memanfaatkan waktu mereka sendiri. kenapa sih saya enggak membiarkan saja dia bangun sendiri. biarin deh, telat juga. toh dia yang akan ngerasain jalan di lorong kelas sendirian sementara teman-temannya sudah masuk kelas. toh dia yang akan menghadapi guru piket dan mengisi formulir keterlambatan dengan susah payah karena panjaaang dan menulis sambil berdiri itu rasanya enggak enak. toh nantinya dia juga yang harus catch up workshop-workshop yang tertinggal.

kalau saya tidak membiarkannya melakukan kesalahan sekarang, lalu kapan lagi? apa dia harus belajar dengan keras soal time-management saat dia bekerja nanti? saat ada interview pekerjaan di sebuah perusahaan bonafid? atau saat ada presentasi ke klien? atau saat ada jadwal penerbangan?

tapiii, apa kata dunia nanti? dikiranya ibu macam apa saya ini, enggak bisa urus anak? 
"i am such a tiger mom, why can't you do it too?" ... kata belahan kepala saya yang lain sibuk banget protes kalau saya berbuat seperti yang di atas. 

tapi, setelah saya pikir-pikir; apa yang ariawan omongin ada benarnya juga. bener banget, malah. hanya saja soal menjadi ikhlas melihat anak berbuat salah dan menerima konsekuensinya, melihat dia lelet di segala sesuatunya, ... saya masih harus belajar banyak. banget. 

itu satu. 

yang ke dua, ariawan juga terkaget-kaget saat saya bercerita kalau saya ngedampingin titan bikin PR, setelah dia selesai kemudian saya periksain satu-satu dan minta titan untuk merevisi kalau ada yang salah. 

menurut ariawan, itu adalah hal paling salah yang sering dilakukan orang tua. karena menurut dia, saya telah merampas rasa percaya diri titan untuk presentasi hasil karyanya di depan guru, dengan menjadi reviewer tugas-tugasnya. sementara, otoritas untuk mereview tidak berada di saya; melainkan ada pada gurunya. proses belajar sebenarnya justru terletak pada saat titan presentasi hasil karyanya, murni tanpa campur tangan dan embel-embel revisi atau bantuan dari saya. dengan begitu, rasa percaya diri dan bangga terhadap hasil karyanya akan terbentuk.
selain itu, proses belajar juga terjadi saat saya mengetahui apakah gurunya telah mereview dengan baik, ... atau tidak. 

hooo, ... well well masih musti belajar lagiiiii dan berusaha lebih ikhlas lagi ngeliat anak bikin salah 
-__-






guru yang baik. gimana, sih?

titan udah tiga minggu ini efektif belajar di kelas dua. selain duitnya, yang lain enggak berasa udah berjalan sejauh ini. yes, memasuki tahun ke tiga sekolah high scope. memasuki tahun ini, jujur saya agak deg-degan. guru di grade 1 bisa bilang bahwa pengajaran tidak memberatkan pada akademis, tapi di kelas 2 ini mereka wanti-wanti bahwa beban akademis pasti akan meningkat.

lalu, hal pertama yang saya cari tahu saat initial meeting dengan principal adalah, mencari tahu siapa guru-guru titan nanti. dan menurut teman-teman sesama orang tua murid, kelas titan mendapat guru terbaik yang pernah mereka temui: Miss P.

pertama saya bingung, seperti apa sih guru yang OK banget itu?

hari demi hari, saya mengumpulkan fakta seperti apa si miss P ini. berusaha untuk memahami apa maksud teman-teman dengan definisi guru terbaik di sekolah. well, saya enggak punya checklist dan kriteria sendiri tentang guru terbaik, tapi so far ini yang saya dapat.

pertama.
di hari pertama titan masuk sekolah, saat saya menjemput; miss P menghampiri saya dan berpesan:
"Ibu, tolong dibantu supervisi di rumah. Tadi, saat review, Malicca kurang detail dengan penulisan huruf besar dan huruf kecil. Kemudian saya suruh hapus dan perbaiki. Tapi, masih salah. Akhirnya saya contohkan, dan dia tinggal copy paste aja. Tapi, masih salah juga. Nanti di rumah, dilatih aja ya Ibu."

ke dua.
kemarin, titan mengingatkan saya bahwa miss P mengingatkan supaya orang tua selalu menandatangani setiap pengumuman yang ditulis di buku agenda.

ke tiga.
setiap minggu, saya selalu mendapatkan email mengenai progress report kegiatan anak di sekolah. tapi sudah beberapa hari ini, di agenda titan selalu ditulis bahan-bahan pelajaran mereka dalam bentuk link-link website yang bisa saya akses, bukan per minggu tapi hampir setiap harinya. jadi, saya enggak deg-degan lagi sudah belajar apa saja anak-anak di sekolah hari ini. karena, maklum, sekolahnya titan ini enggak pakai buku sama sekali. jadi emang sering banget orang tua bertanya-tanya sudah sepinter apa anaknya dibanding anak-anak lain yang di sekolahnya pakai text book. catatan-catatan kecil dari miss P ini menolong sekali. bangeeeet. enggak seperti tahun lalu dimana saya agak lost track dengan bahan pelajaran titan sehingga saya harus provide buku-buku text book sendiri.

well, udah ada tiga poin yang saya rasain untuk kategori guru terbaik ini. semoga bakal nambah lagi di minggu-minggu berikut. amin!




I feel happy today

I think I have just written about this a few days ago.
Today I had the chance to de-list my uh-so-lazy-to-get-out-of-the-house and meet my besties yana and lita , of course with Luna.

And the moment finally came, when Luna threw tantrums and just could-not-stop-crying and refused to seat in her carseat. She cried almost the whole journey from Matari to Puri Indah Mall, ... and back! I tried to stay calm though, thanks to Yana and Lita who stayed calm too. The only thing I regretted was to let her off her carseat, yet she kept crying anyway.

I knew this day would come. So tomorrow hopefully I am well-trained enough to hear her nags, annoying I-want-my-mommy-tantrums-and-cry... while I am driving. And hopefully, she will learn too that I will never give up.

Thank you Yana for the lovely pic!
Oh, and do you see the beautiful doll in polkadot? Its name is Luna, by @kuklagram (instagram)
Go check their instagram feeds and be prepared to fall in love with their handmade hugs :)




It's time for some manners

dulu, awal-awal saya jadi freelancer dan sebelum luna lahir, saya dan titan emang suka jalan bareng berduaan aja. entah itu ngemall, minum kopi sehabis pulang sekolah atau sekedar belanja bulanan atau mingguan ke supermarket. setelah sekian lama absen dari nge-date berduaan, tadi malam akhirnya kita kesampean lagi untuk jalan bareng. sayangnya, tujuannya ke tempat yang rada enggak enak: rumah sakit, karena saya terkena radang telinga hanya gegara keisengan mainan kilikan kuping yang terbuat dari bulu burung dara hasil mungut di halaman.

tapi bukan sakit telinganya yang pengen saya ceritain, melainkan cerita tentang titannya. entah kenapa, kalau pergi berduaan dia tiba-tiba dia jadi gentleman banget ngejagain bundanya ini. kaya semalam yang tiba-tiba turun hujan saat kita mau pergi. saya memang masih rapi-rapi, saat titan bilang gini:

nda, titan ke rumah nini dulu ya. nanti kalau bunda sudah siap, panggil titan aja nanti titan payungin.

it is okay, nanti bunda lari aja ke rumah nini trus kita berangkat. okay?

no no, kalau gitu titan di sini aja nunggu bunda, trus kita payungan bareng ke rumah nini.

lho, kenapa?

it is raining. i won't let you to get wet by running around to nini's house

how very nice of you, nak. oke bunda cepet-cepet deh rapi-rapinya ya.



*bunda is blushing*


di perjalanan, kita ketawa-ketawa dan ngobrol panjang x tinggi x lebar sampai lupa ngebahas apa. entah kenapa kalau berduaan aja; saya lebih bisa menempatkan diri jadi temannya ketimbang jadi emak bawel hehehe.

di kesempatan kaya gini, biasanya saya juga 'mengisi' titan. karena dia kalau jalan masih pecicilan, kemarin saya minta dia untuk jalan seperti laki-laki.

"walk like a man. spine up, chin up and walk beside your woman. not in the front, not at her back." 

dia mencoba mentaati kata-kata saya, tapi segera pecicilan lagi setelah melihat gerai donat.

*phewww... boys will be boys*

puncaknya, adalah ketika kita nunggu obat. di samping saya duduk seorang laki-laki yang sudah berumur. tiba-tiba titan menghampiri saya sambil berkata "bunda, is he chinese?"

*dueng! kalo di film kartun, kaya pengen ngeluarin martil balon besar dari dalam tas buat noyor kepalanya titan. atau melesep ke dalam tanah juga boleh.*

karena dia terus bertanya (dengan suara agak keras), akhirnya saya berkata
"nanti ya, bunda jawab kalau kita sudah di mobil."
"Oke!" Katanya senang.

Sampai mobil, dia langsung mengingatkan saya. tapi pertanyaannya berubah.

"Bunda, I already know that the old man is chinese. tapi kenapa bunda ngebahasnya harus di mobil?"

Akhirnya, sambil nyupir saya bilang gini.

"Titan, ada beberapa hal yang tidak boleh dibahas di depan umum. tepatnya, tiga hal. bunda kasih tau ya; apa aja tiga hal itu. pertama, ras manusia. manusia itu banyak jenisnya; ada orang cina yang matanya sipit. ada orang bule yang kulitnya putih, matanya biru dan rambutnya pirang. ada orang negro yang warna kulitnya hitam sehitam-hitamnya. itu namanya ras. nah, kita enggak boleh ngomongin soal ras di tempat umum. kenapa? karena ras itu sifatnya fisik. coba titan inget-inget. mata, warna kulit, warna rambut, semua itu fisik kan? nah, kita enggak boleh membahas tentang fisik orang lain; karena itu bisa menyinggung perasaan mereka."

Titan ngangguk-angguk.

"ke dua, agama. sangat enggak sopan bertanya ke orang lain "agama kamu apa?" atau kalau kita udah tau dia agama islam, kita tanya-tanya ke dia "kamu sholat enggak? kamu zakatnya berapa?" nah, agama itu urusannya sama allah, kita enggak boleh urusan sama agama orang.

Emangnya kenapa, Nda? Titan suka ngebahas di sekolah siapa yang christian, siapa yang budhist, temen-temen titan enggak papa tuh.

iya, tapi kalau masih kecil kan biasanya nanyanya tanpa maksud apa-apa. kalau sudah besar, seringkali nanya soal agama itu jadi sensitif. orang jadi merasa enggak enak ditanyain tentang agamanya.

iya, tapi kenapa?

karena, enggak semua orang menjalankan perintah agamanya. dan biasanya, kalau ketahuan enggak menjalankan perintah agamanya, jadi merasa malu. kalau kita tanya-tanya trus ternyata pertanyaan kita bikin orang lain merasa malu atau tersinggung, kan enggak enak. iya kan?

o, gitu. jadi enggak boleh karena takut malu ya.

saat itu saya mau meralat lagi, tapi untuk di tahap ini biarlah itu yang dia mengerti.

nah, yang ke tiga, tentang disabilities atau ketidakmampuan orang. misalnya, ngebahas orang yang enggak bisa lihat, enggak bisa ngomong, enggak bisa jalan, di depan orangnya. nah, itu juga enggak boleh ya. kenapa? karena bisa membuat orang tersinggung dan jadi enggak enak juga. Okay?

ooo ya ya ya, titan ngerti sekarang.

good boy! sekarang kita sudah sampe, boleh tolong buka pintu gerbangnya?

Oke, Bunda!

sembari nunggu titan buka pintu gerbang, saya jadi mikir. para ahli di luar sana itu pintar sekali ya, dan mereka bener banget kalau di usia tujuh tahun itu anak melompati sebuah milestone yang sungguh pesat. dan itulah sebabnya, di saat umur tujuhlah kita harus mulai bisa menanamkan bibit empati, logika dan sopan santun kepada anak-anak. karena pada saat yang sama, mereka mulai mengerti hal-hal yang abstrak, yang tidak mereka dapat di masa-masa penjelajahan di tahun-tahun sebelumnya.

Oh no, welcome school years!
*pukpuk diri sendiri*


It's time for some manners


what's in it for me?

hello again, long weekend! dan pagi ini saya janji main perang-perangan air di halaman belakang sama titan. tapi, saya bilang, setelah semua morning errands saya beres.

selesai nyapu lantai atas, bawah, ngejemur cucian, saya cuci piring dan berniat untuk segera masak makan siang buat luna. tiba-tiba titan ambil alat pel.
"bunda, di lantai atas sudah di pel belum?"
"belum." kata saya.
"i will help you on that"

enggak lama kemudian, mulai terdengar dia geser-geser kotak mainan dan ngepel lantai.

"terima kasih ya, titan bundanya sudah dibantuin. kalau dibantuin pekerjaan bunda jadi lebih cepat selesai (dan kita bisa main lebih cepat - lanjutannya but I kept it in my heart)" ... spesial untuk anak ini, berlaku hukum some things are better left unsaid. karena kalau terlalu jelas, titan suka malah jadi males. jadi kalau saya ingin dia bantu-bantu saya; harus agak tricky gitu deeeeh.

enggak lama, titan datang sambil terengah-engah.
"tangga juga sudah titan pel, lho nda!"

saya senyum trus usap-usap kepalanya sambil bilang terima kasih. kebetulan dia selesai saya pun selesai dan kita mulai berperang.

a note to self, kalau mau anak ikut bantu kerjaan rumah; paling enggak ada dua cara yang bisa kita lakukan:

1. beri dia tugas tetap (kalau buat titan, ini juga saya lakukan sih. tapi ya gitu deh, masih harus ingetin lagi lagi lagi dan lagi. salah satu tugas tetap dia adalah membereskan mainan dan alat tulis, menjemur handuk bekas mandi, taruh seragam ke kotak cucian, taruh lunch box, botol minum, gelas & piring bekas dia makan ke tempat cuci piring, buka gerbang pagar kalau kita mau pergi dan pulang dari pergi plus angkat jemuran kalau hujan).

2. kasih reward di depan bahwa akan ada rangkaian kejutan setelah semua pekerjaan selesai. nah, sepertinya ini lebih works buat titan. mungkin dia adalah anak tipe "what's in it for me?" jadi saya harus pinter-pinter dagang sama dia.




The simplest, yet the hardest.

Yesterday I learnt that polite people are hard to find nowadays. Now I understand why my mom have been always fussy about etiquette. Because yes, it is a lifetime and constant reminder. Because to be a better person, we need to learn and be reminded in every single day.

I write this post not because I want to be praised. I write this so I can remember this story and read the silver linings.

Months ago, I decided to donate my expressed breast milk because La Luna did not really need it since she got me around to nurse. I blasted a message through socmed and I made a promise to myself that I would give the 29 bottles to anyone who called me first.  And I did.

The bottles went to a 2 months baby girl, whose mother could not produce much amount of breastmilk because she had to spend most of her times taking care of the baby girl's 5 year old brother. To me it sounded like a cliche reason compared to premature babies, or babies whose mothers was sick and could not breastfeed because medical reasons, or other 'serious' reasons.

But then again, I made my promise. I would give the bottles to whoever called me first and she did.

We did few WhatsApp messaging, and I gave her some instructions of how to bring the breastmilk home safely. A few hours later, her husband came to pick up the bottles. He waited outside while having a cigarette. He popped-in his head to my door and asked me some questions. I felt funny having a chat with a stranger like that. Well, even a stranger should come inside. Sit politely, then make a conversation with the owner of the house. Isn't it a 101 etiquette?

From the conversation, I knew his wife who called me this morning, the baby girl's mother, the one who asked my breast milk, was actually in the car. She did not even bother to pop her head out of the window pane to say thank you or said good bye. And what would happen next was too easy to predict. No more WhatsApp messaging after that, even to say thank you.

Three months later, which was yesterday, I contacted her again whether she wanted more expressed breastmilk. My baby girl already started to wean and I needed bigger space in the fridge, so I decided to donate the rest of the expressed breastmilk. Then why that woman again? Because in my religion, babies who drank breastmilk from other woman, is also considered her son / daughter too. So yes, I won't bother of having another 'kids', then I decided to give the rest 44 bottles for the baby girl who was 5 months already.

Again, we had the WhatsApp messaging and she said her husband would pick up the bottles. "I would not be at home when your husband arrived, but I already left a note to the maid" I said to her. Then she said OK.

The funny feeling came again when I went home and listened to what my (actually my mom's) maid said about the guy who picked up the bottles.

"Ibu, tadi bapaknya yang ngambil susu rempong banget deh. Mana enggak mau turun dari mobil, aku bolak-balik berapa kali tuh ya. Pertama ambil tas. Terus kasihin susunya. Eh taunya botolnya ada yang nge-pop trus jatuh ke bawah mobil. dia minta cuciin. aku balik dulu ke rumah, tak cuci trus siram air panas trus kasihin lagi. Aduuuuh, ... mbok ya turun gitu ya dari mobil jadi orang enggak usah bolak-balik."

I smiled. At that time, I felt a big pity for the baby girl.

If parents cannot be polite to other people even those who had helped them, how could they teach politeness to their kids?

If it was all about thank you (a nice gesture of receiving things) that is so hard to utter, then how about sorry? Because Thank you and sorry. They may sound simple, yet the hardest to do.

Thank you Mamah, for teaching me and (still) reminding me of those bits and bobs. About what to do to people, to older people. About what to do when people offer me somethings, about how to do small talks, about never bring home foods from formal events unless you know the host to the bone.

So my children, Malicca and La Luna, I will do the same thing too like my mother does to me. Someday you will understand why.

family recipe

my mom has a very tasty recipe for making corn cream soup.
like always, no exact measurement.
let me share you the family secret recipe.

grate some fresh sweet corn and squeeze them with a napkin to get the thick liquid.
cook the corn liquid and add some chicken broth until you get the consistency you want.
add the chicken and carrots (both already cut in cubes size, smaller size for the carrot)
add some salt and pepper as you like, and topped with grated cheddar cheese when you serve (hot is better). you can add the cooking cream too if you like bold taste of milk.

little Luna loves it a lot. of course, without the chicken and cheese (yet!)







Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...