Berserah atau Menyerah?

 

Qur'an Surat Maryam: 6

يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ۝٦
yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba waj‘al-hu rabbi radliyyâ"karuniai aku (Seorang anak) yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya‘qub serta jadikanlah dia, wahai Tuhanku, seorang yang diridai.”Kita sudah pelajari kemarin bahwa Nabi Zakariyya ‘alaihissalam ketika berdoa ini, itu usia beliau sudah ratusan tahun, nggak lagi muda, udah di ujung usia lah, udah masa-masa terakhir lah, atau bisa dibilang kepepet, dah nggak ada waktu lagi.

Nah, misal nih…

kita dalam kondisi kepepet, lagi laper banget lah, udah gemeter tuh badan, asam lambung juga dah naik, perih nahan laper.

 

Ditengah kondisi seperti itu, biasanya kita udah nggak peduli mau makan apa, bahkan kalau ada nasi doang pun, udah lah kita makan.

 

Di kondisi “last minute” gitu nggak akan lagi kepikiran buat pesen steak, pasta ataupun nasi goreng. Kenapa? karena itu butuh waktu lama buat masaknya dan lebih susah dapetnya.

 

Kalau kita udah mau telat untuk ke kampus atau ke tempat kerja misalnya. Biasanya udah nggak peduli naik apa berangkatnya, pokoknya cari yang paling cepet, adanya apa aja. Meskipun bisa dan nyaman naik mobil, tapi kalau itu butuh waktu yang lama dan bikin kita telat, yaa mending jalan kaki atau lari jika itu bisa lebih cepat.

 

Nabi Zakariya di usia yang setua itu, aku tuh sempat mikir bahwa doa beliau tuh,

 

“Yaa Allah, kasih hamba anak, apa aja deh, terserah Engkau anaknya kayak apa, yang penting aku punya anak, pokoknya punya anak, daripada enggak.”

 

Tapi nyatanya, Nabi Zakariya enggak men-downgrade doanya, tetap teguh dengan kriteria anak yang diminta, “Yaa Allah anugerahilah hamba anak, bukan sekedar anak, tapi anak yang radhiyyan, yang Engkau ridhai” tetap minta yang terbaik, bukan adanya apa.


Jangan pernah menyerah, meskipun itu dalam doa kita kepada Allah 


Sebab tak jarang dalam doa tuh kayak udah, “Yaa Allah, apa aja deh, yang penting jadi, yang penting selesai.”

 

Ketika ujian sekolah misalnya, “yaa Allah nilai berapa aja deh, yang penting lulus.”

 

Ketika nyari kerja“yaa Allah kerja apa aja deh, yang penting kerja dapet duit.”

 

Ketika belum nikah, “yaa Allah siapa aja boleh deh, yang penting aku nikah tahun ini.”

 

Ketika bimbing istri“yaa Allah terserah Engkau aja deh, dah capek aku bilangin nya”

 

Ketika ngurus anak“yaa Allah, dah nyerah aku ngurus ini anak, dah nggak tau gimana lagi, capek.”

 

Kita belajar dari Nabi Zakariyya ‘alaihissalam, jangan pernah downgrade doa kita. Kita sedang berhadapan dengan Allah Yang Maha Segalanya, lantas kenapa kita meminta seadanya, adanya apa. Bukankah itu seolah kayak ngremehin Allah banget.

 

Itulah kenapa Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam mengingatkan kita,

 

فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الجَنَّةِ، وَأَعْلَى الجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الجَنَّةِ

 

“Jika kalian meminta sesuatu kepada Allah, mintalah (surga) Firdaus. Karena surga Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy (milik) Ar-Rahman, darinya mengalirlah sungai-sungai surga.”
(HR. Bukhari no. 7423)

 

Jangan kita berdoa, “yaa Allah surga apa aja deh, yang penting masuk surga” wehh jangan. 

Langsung aja gasss minta surga firdaus.

 

Maa syaa Allah...

Menjadi muslim itu keren banget nggak sih? Kita itu diajarin untuk selalu optimis, bahkan dalam konteks doa sekalipun. 🥹


Jangan sesekali merendahkan mimpimu,

langitkanlah mimpimu hingga ia diijabah oleh Pemilik Langit.

Hati-hati dengan do'amu.

Dalam berdoa pun, Nabi Zakariya mengajarkan kepada kita tentang kehati-hatian akan permintaan kita kepada Allah. Jangan sampai kita salah dalam memberikan alasan dari setiap doa kita ke Allah.


Mudah bagi Allah untuk mengabulkan setiap permintaan.

Tapi sudahkah kita siap dengan konsekuensi dari permintaan kita itu?

 

Kita berdoa minta mobil ke Allah, misalnya.

Lalu Allah mengabulkan doa itu, akhirnya kita punya mobil baru.

 

Bagi beberapa orang ini adalah sebuah kebahagiaan, sebuah nikmat. Tapi sadar atau tidak nikmat itu bisa jadi sebab dirinya masuk ke dalam neraka. Kenapa?


Seluruh nikmat yang Allah kasih, itu memang gratis, memang nikmat dan penuh manfaat, bikin kita seneng juga di dunia ini. Tapi yang harus kita ketahui dan sadari, itu juga bisa menjadi beban berat kita di akhirat nanti.

 

Itulah kenapa orang-orang kaya itu ketinggalan 500 tahun dari orang miskin untuk duluan masuk surga. Lama banget hisabnya.

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.” (HR. Ibnu Majah no. 4122)


Maka setiap kali kita berdoa, setiap kali kita meminta kepada Allah, siapkan dulu alasannya. “Itu mau buat apa?”

 

Sebagaimana meminta anak juga.

Anak adalah amanah yang lebih berat daripada sekedar harta dunia. Sebab itulah Nabi Zakariya begitu berhati-hati dalam permintaan ini.


Iya, anak itu bisa jadi sumber kebinasaan bagi orangtuanya. Bahkan dia bisa jadi musuh dan ujian paling berat bagi orangtuanya.

 

Dunia + Akhirat.

 

Bukankah kita sering melihat di sekitar kita, para orang tua terlihat begitu “sengsara” sebab anak-anaknya. Kerja keras siang malam, ternyata uangnya disalahgunakan oleh anaknya, dibuat main hingga foya-foya.

 

Ini baru di dunia, belum nanti di akhirat.

 

Apa yang membuat Nabi Nuh ‘alaihissalam begitu sedih selain salah satunya adalah sebab kedurhakaan anaknya?

 

Apa yang membuat Nabi Ya’qub ‘alaihissalam menangis, meratapi kesedihan, bertahun-tahun hingga matanya buta selain sebab ulah anak-anaknya sendiri? Nggak ada yang bikin orangtua sedih banget, daripada melihat anak-anaknya nggak ada yang akur, bertengkar terus.

 

Nabi Zakariya ‘alaihissalam tau kisah ini. Kisah para nabi pendahulunya, terutama garis keturunan terdekat dengannya yaitu Nabi Ya’qub. Garis nasab Nabi Zakariya kalau ditarik keatas itu akan ketemu dengan Nabi Ya’qub.

 

Sebab itulah beliau begitu hati-hati, jangan sampai keturunannya seperti keturunan Nabi Ya’qub, saudara-saudaranya Nabi Yusuf, yang hanya membuat sedih orangtuanya.

 

Nggak semua anak itu menjadi sumber kebahagiaan bagi orangtuanya. Tapi semua anak pasti menjadi sumber ujian bagi orangtuanya.

 

Coba deh tanyakan kepada orang yang sudah punya anak dan masih punya orangtua.

 

Lebih nggak bisa nurutin kemauan siapa? atau lebih takut nggak bisa menuhin kemauan siapa? Kemauan anak? atau kemauan orangtua?


Itulah kenapa doa dalam meminta anak dalam Al Quran, itu selalu + detailnya. Nggak ada sekedar, “Yaa Allah berikan aku keturunan” atau “yaa Rabbi berikan aku anak” Nggak ada. Selalu + keterangan detailnya.

 

Surat As-Saffat Ayat 100 

رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

 

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”


Seperti doa Nabi Ibrahim ‘alaihisalam ini. Nggak sekedar minta anak, tapi anak + shalih.

 

Di sekitar kita akhir-akhir ini kak Wullie mungkin banyak yang sedang promil, menjadi penjuang dua garis biru.  Maka hal ini bisa jadi reminder bagi mereka.

 

Bukan Allah tidak mengabulkan doamu, tapi sudahkah tepat alasanmu dalam memintanya? Sudahkan kamu benar-benar siap dengan segala konsekuensinya?

 

Allah itu lebih menyayangi kita dibandingkan ibu kita sendiri. Kalau kita kurang tepat dalam memberikan alasan dari setiap doa kita, tentu Allah tidak akan memberinya sekarang.

 

Allah selalu mengabulkan doa kita pada waktu yang tepat, pada kondisi kita yang juga benar-benar siap.

 

Mobil mewah itu memang terlihat baik. Tapi jika mobil itu Allah berikan kepada anak kost; harus bayar pajak belasan juta, service mobil rutin, bukankah nikmat mobil itu malah jadi siksaan baginya.

 

Berarti nggak boleh nih doa minta mobil mewah?

Boleh banget, tapi berdoalah juga agar disiapkan kondisi kita ketika menerima nikmat itu.

 

Tips berdoa:

Jangan sekedar meminta X tapi juga mintalah akar disiapkan diri untuk bisa menerima X itu dengan baik, mensyukurinya dengan baik, menjadikankan sebagai jalan ibadah kepada Allah.


Buat para penjuang dua garis biru, mungkin selama ini kita hanya berdoa, “Yaa Allah berikan aku keturuan yang shalih” tapi coba deh tambahin doanya, “dan siapkanlah diriku ini yaa Rabb untuk bisa menerima nikmat itu.”

 

Buat yang belum menikah, jangan hanya sekedar, “yaa Allah berikan aku pasangan yang shalih” tapi juga “dan jadikanlah aku siap dan pantas untuk menerima semua itu.”

 

Kali ini kita belajar bahwa berdoa itu nggak sekedar tentang permintaan, tapi juga tentang ALASAN + KESIAPAN DIRI.

Putus asa aja, yuk!

 Ingat ini, 

“Pintu langit itu akan terbuka, jika seluruh pintu dunia sudah tertutup.”

 

Berputus asa itu nggak selalu berarti berhenti berharap, ia juga bisa berarti manusia sedang berada dalam titik kesadarannya, “Aku udah nggak bisa lagi ngandelin apapun selain Allah.”

 

Saat manusia masih merasa, “ada peluang lewat usahaku.” maka itu belum sepenuh tawakkal. Dia masih bergantung pada usahanya, meskipun itu hanya sedikit.

 

Saat sepenuh usaha, ikhtiar kita, semuanya sudah menemukan jalan buntu, maka disitulah sepenuh tawakkal itu hadir.

 

Pintu tawakkal itu akan terbuka, jika seluruh pintu ikhtiar dunia sudah tertutup.

 

Betapa indahnya kita sebagai seorang mukmin, sebagai orang-orang beriman, sebagai ummat Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam. Sebab saat seluruh pintu dunia sudah tertutup sekalipun, kita masih punya pintu langit.

 

Maka kita harus sadar akan hal ini:

 

Misal saat usaha, ikhtiar kita semuanya telah menemui jalan buntu, kegagalan datang bertubi-tubi, itu adalah bukan tanda Allah nggak sayang kepada kita. Justru itu adalah tanda Allah begitu menyayangi kita,

 

“Wahai hamba-Ku,

kamu nggak cocok pakai pintu dunia,

kamu terlalu istimewa untuk berjalan di jalan yang biasa,

 

Pakai jalan ini,

Aku ingin kamu memakai pintu Langit.”

 

Ternyata dalam kegagalan dan keterpurukan kita pun, Allah masih begitu menyayangi diri kita. Allah nggak pernah ninggalin kita, bahkan saat kita sudah jatuh, sejatuh-jatuhnya.

 

Astaghfirullah,

ampuni kami yaa Rabb…

yang sering mengira Engkau sudah nggak sayang lagi.

Yang serius, ngapa?

 “Kalau seseorang itu tidak bangun malam untuk shalat tahajjud, itu artinya dia sama sekali tidak serius dengan cita-citanya” ~ kata seorang guru. 

Pertanyaannya, kapan kita seriusan punya cita-cita? 

Aku yang sudah berusaha menuju 47 tahun ini kayanya udah lama gak punya cita-cita yang gimana-gimana. Padahal, semakin berusia harusnya cita-cita kita pun menjadi semakin besar dan semakin intangible. 

Giliran iya punya cita-cita, trus gak serius. Jadi perjalanannya jauh banget ya, sementara sekarang; punya cita-cita yang amat sangat kepengen banget aja tidak ada. 

Huftness. 

Padahal, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Bayangkan aja sebutir nasi di piring kita yang sudah menempuh perjalanan jauh mulai dari bibit, ditanam di sawah, tumbuh, diserang hama tapi bertahan, dipanen, disosoh kulitnya, dibersihkan, ditimbang per 5 kg, dikemas, dikirim dari tempatnya menuju jakarta. Lalu kita beli di supermarket, kita angkut, kita tempatkan di tempat beras, kita ambil cup demi cup, kita cuci dan masukkan ke rice cooker, sampai akhirnya terhidang di piring makan. 

“Yaa Rabb…

ketika sudah menjadi rezekiku,

ketika sudah Engkau tetapkan dia sebagai nikmatku,

 

begitu jauh dan lama prosesnya sebutir nasi ini,

Engkaupun datangkan dia kepadaku

 

maka jika sebutir nasih saja sudah Engkau tetapkan jalannya untuk datang kepadaku, bagaimana mungkin Engkau tidak tetapkan jodohku untuk datang kepadaku”

 

Salah satu cara agar kita bisa semakin merasakan bagaimana Allah menyayangi diri kita dalah dengann kita belajar untuk melihat yang ada disekeliling kita dengan kacamata iman.

 

Semuanya yang terjadi adalah kasih sayang Allah.

Jangan membatasi apa yang Allah tidak batasi

 


Tuhan kita itu Allah loh…

Rabb kita itu Allah loh…

 

Maka jangan sesekali kita membatasi apa yang Allah sendiri tidak membatasinya. Jangan sesekali mengatakan mustahil pada hal yang Allah pun belum mengatakan hal itu mustahil, nggak mungkin untuk terjadi. 

 

Kalau kita terlalu mengandalkan kemampuan diri, ketahuilah kemampuan diri kita sebagai manusia itu sangat terbatas. Sandarkan segala sesuatunya kepada Allah, sebab Allah itu Maha Tak Terbatas.

 

Sungguh surah Maryam seperti energi langit bagi diri kita untuk menghadapi segala apapun yang ada di bumi ini. Menghapus semua rasa takut, rasa tidak percaya diri, insecure dari setiap masalah atau tantangan yang kita hadapi.


Minta, berdo'a sama Allah yang tak berbatas, yang bahkan sudah memberi sebelum kita meminta. 

QS. Maryam, ayat 3

 


اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ نِدَاۤءً خَفِيًّا ۝٣idz nâdâ rabbahû nidâ'an khafiyyâ(yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lirih.Nida’ itu kenceng dan nampak. Khofiyya itu lembut dan tersembunyi

Gimana caranya, sebuah suara yang kenceng dan nampak tapi dia juga lembut dan tersembunyi?

 

Itu kan kayak “Api yang ber-air” “Gelap yang ber-cahaya” “Tinggi yang merendah”

Kalau kita buka tafsirnya Imam Ar Razi,

 

 أَنَّهُ أَتَى بِأَقْصَى مَا قَدَرَ عَلَيْهِ مِنْ رَفْعِ الصَّوْتِ

bahwa ia telah mengerahkan sekuat tenaga untuk meninggikan suaranya.

 

إِلَّا أَنَّ الصَّوْتَ كَانَ ضَعِيفًا لِنِهَايَةِ الضَّعْفِ بِسَبَبِ الْكِبَرِ

Namun suaranya tetap lemah karena sangat lemahnya tubuh akibat usia tua.

 

فَكَانَ نِدَاءً نَظَرًا إِلَى قَصْدِهِ، وَخَفِيًّا نَظَرًا إِلَى الْوَاقِعِ

Maka hal itu disebut seruan (nidā’) jika dilihat dari niatnya, dan disebut lembut (khafiyy) jika dilihat dari kenyataannya.


Mungkin pernah yaa, di posisi lagi nangis, dah lama banget itu nangisnya, sampai nyesek-nyesek di dada, sambil teriak, tapi nggak ada suaranya, mau teriak tuh nggak keluar suaranya.

 

Nangis yang paling menyesakkan, atau yang paling puncak, adalah nangis yang nggak ada suaranya.


Nabi Zakariya ‘alaihissalam itu sudah sekuat tenaga bersuara, tapi karena beliau sudah tua, maka yang terdengar hanya sayup-sayup halus, bisikan lembut.

 

Nida’an Khofiyya adalah menggambarkan keseriusan doa Nabi Zakariya, ada kesungguhan disana, ada rasa sepenuh harap nan tulus.

 

Mungkin kita sering mendengar tentang orang yang sudah berusaha habis-habisan. Tapi kali ini, kita belajar tentang seorang yang berdoa habis-habisan.

Seluruh energi, sepenuh hati, sekuat harap; kesemuanya untuk doa itu.

 

Pada setiap yang kita inginkan dan cita-citakan, sudahkah kita beneran “serius” dalam berdoa kepada Allah?


Sebagian materi dari Melawan Kemustahilan, Tadabbur surat Maryam, by Qur'an Review



QS. Maryam 1-2

 

كٓهٰيٰـعٓـصٓ​

Kāf Hā Yā` 'Aīn Ṣād.

ذِكۡرُ رَحۡمَتِ رَبِّكَ عَـبۡدَهٗ زَكَرِيَّا ​

(Yang dibacakan ini adalah) 
penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria,


Insights: 
Ayat 1 adalah tentang hal yang kita tidak tahu artinya. 
Ayat 2 adalah tentang kasih sayang Allah. 

Bahwa terkadang, kasih sayang Allah itu adalah hal yang kita tidak ketahui atau sadari. 
Kita nggak tahu bahwa selama ini ternyata Allah menyayangi kita. 
Kita nggak sadar bahwa selama ini kita selalu dalam penjagaan Allah. 
Buktinya sering kan, kita ngeluh saat hal gak enak kejadian sama kita. Padahal selalu ada hikmah kasih sayang Allah dibalik kejadian yang tidak enak itu. 

Seperti dalam surat Maryam ini, dimana Maryam mengandung seorang anak tanpa bapak. 

POV manusia:  “Kasihan Maryam, lahirin anak tanpa bapak”

POV Allah:  “Kasih sayang yang berlimpah keberkahan hadir melalui anaknya, menjadikan ibunya menjadi wanita mulia di langit dan di bumi”


Semoga kita termasuk mereka yang selalu yakin bahwa Allah selalu sayang kita, apapun yang terjadi. Dan termasuk mereka yang ikhlas dengan rahasia yang tetap menjadi rahasia milikNya. 


Kita memang nggak tahu gimana cara Allah menyayangi, tapi kita tahu bahwa apa yang Allah lakukan kepada kita, adalah bentuk sayang-Nya. 


Source: Kelas Qur'an Review





Perlahan, ... tapi jalan.

 Usia 40-an tuh... kayak masuk bab baru yang nggak pernah kita latihanin sebelumnya.

Ternyata bener ya, apa yang Rasulullah bilang... di usia ini, kita mulai gentar.
Katanya ini tanda cinta Allah—karena kita (mungkin) sedang memasuki paruh hidup.
Waktunya refleksi. Waktunya pulang ke diri sendiri.

40-an ku dimulai dengan kehilangan Papa.
Sosok yang selama ini jadi invisible spine buat aku.
Yang selalu bilang, “Kamu harus berani, kamu anak perempuan papa. Kamu nggak jalan sendirian.”
Dan ternyata, aku memang nggak pernah sendirian. Ada beliau. Ada Allah.

Kalau kamu juga lagi ada di usia ini, kemungkinan kamu Gen X atau early millennial. Congrats ya, kita udah ngelewatin banyak banget perubahan pola pikir dunia. Dari era kaset ke Spotify. Dari SMS 160 karakter ke voice note 2 menit. Dan kita adaptif banget!

Usia 40-an itu unik. Kita masih bisa hype, tapi juga (katanya) udah lebih bijak (... seharusnya sih he he he... ) Kita udah bisa ngerem, tapi masih penasaran. Udah bisa bilang “nggak,” tapi masih suka FOMO juga.

Yang bikin geli, anak-anak kita—Gen Z, Gen Alpha—udah nganggep kita boomer. Padahal kita ngerasa masih muda banget ya kan?? Mereka anggap kita satu generasi sama kakek-neneknya. Excuse me??

Tapi jujurly…

Aku bersyukur jadi generasi yang kenal teknologi, tapi masih punya unggah-ungguh dari orang tua.
Kita tuh jembatan. Bisa ngobrol sama Gen Z, tapi juga nyambung sama orang tua.

Cuma kadang aku juga overwhelmed. Ngikutin obrolan anak-anak tuh kayak decode alien language: Dari tungtungtung sahur ke stecu ke slang TikTok yang lain. The world is too customised I can’t see the trend anymore.

Beberapa teman baru mulai manjat tangga korporat. Beberapa udah muak dan keluar. Termasuk aku. Yang pertama kadang merasa telat, yang kedua kadang merasa kepagian. Padahal… papa pensiun umur 55. Lah aku bentar lagi dong?? Panik sesaat. Lalu chill lagi.

We’re at that age: Old enough to know better, yet too young to stop messing it up. Dan mungkin… itu nggak apa-apa.

Jadi, buat kamu yang lagi ada di fase ini juga…
Tenang. Kita nggak sendirian.
Kita generasi tengah-tengah yang sedang belajar terus, salah terus, bener terus—campur aduk.
Kadang overthinking, kadang pasrah ngopi aja dulu.

Tapi satu hal yang pasti:
Kita tuh masih terus tumbuh.
Dan tumbuh itu, meski nggak selalu nyaman, tetap bagian dari rahmat-Nya.

Here’s to us, yang sedang menua dengan rasa syukur dan (sedikit) humor.
Pelan-pelan aja, tapi tetap jalan.
Karena katanya…
life begins at 40, but wisdom starts when you’re ready to listen.

Happy 45th Me!

 How is it like to be a 45 years old? 


Well, 

I have been a 45 for 8 straight days and I keep delaying writing this blog, just to have more time to think about what 45 really means. 

Is it about the willing of no fear and be able to do anything I want? At least that what came to my thought as I woke up early in the morning that day. "I am 45 now, ... I think I can say and do whatever I want now. " Then what, bequeathing all the responsibilities to someone else? Ha ha ha 

Then I am thinking about how life is about the conclusion, the situation we are in when we die. Oh yeah, surely not ready. 

Then that particular moment has become a whole day, 

and a day after, 

and another day after, 

more days, 

up to this day. 

My 45 has become the early days of worrying about the future. It feels the time flies too fast, my eldest is now going to a university, my youngest is now has become a fully grown woman (physically) with all the whir wind, typhonic mood, ... and I feel lonely. 

As I tried to escape to some peers of mind, I have also realized that everyone is busy with their life. Its like 40s are about money. Some peers are crazy about preparing more and more income basket and been trying hard to catch up the shine she missed a few years back. As for the other is busy trying to get money with the least effort she could do. Another one is still busy preparing the champions of her life. 

Being zen in this hustle bustle life is such an effort. 

The buzzing in my mind are just too loud to shut.

Have I taken the wrong path? Have I mistakenly led my children so that they don't have any acknowledgements? 

45 is indeed to take a step back and to go back to the almighty. 

But why is it so challenging?  

What do you wish for

As Bi asih was burried into her grave, 
I saw Oom Mumu's eyes with dried tears and lips pushed down his jaw
to undescribeable sadness. 

He witnessed his sons and in laws 
burried her deeper: his one and only wife 
as his love will be forever flying around him. 

I saw him prayed for her from afar, 
and somehow I'm praying for myself too. 

Ya Allah, berikan aku seorang suami yang bisa mengantarku ke liang lahat dengan syariatmu. menyolatkanku, memandikanku, menerima tubuhku di dalam sana dan meyusun bebatuan di punggungku. Seorang suami yang bisa membawaku menuju gerbang surgamu, dan mempertemukanku kembali dengannya di kehidupan akhiratku. 

Aamin, Allahumma Aamin. 


BEING FORTY: Maret untuk Bapak

Bapak,
how are you up there? it has been a while.

Pak,
begitu banyak kejadian yang menimpa bumi sepeninggalnya bapak.
Mulai Monas digundulin, tahun baru yang dihiasi banjir, sampai harga masker per boxnya bisa mencapai jutaan gegara pandemik virus Cofid-19 di Wuhan.

Setelah beberapa bulan, akhirnya virus itu sampai juga ke Indonesia.
Yang diumumin Jokowi sih, ada 2 penderita domisilinya di Depok.
(Ngomong-ngomong ya Pak, presiden junjungan kita di periode lalu itu; sekarang kuring banget deh. Aneh bangeeeeeet, jatuhnya jadi sama aja seperti orang-orang aji mumpung yang berada di pemerintahan. Apalagi kombo sama Anies yg jadi gubernur ... aduh aduh aduh!)

Pak,
kalau bapak masih ada, Bapak pasti bingung deh kalau ke Superindo sekarang-sekarang ini.
Sampai nyari jahe dan bawang bombai aja susah lho, Pak. Semua diborong. Apalagi yang berbau antiseptik, sampe alkohol 70% aja bisa habis! Anehnya, tissue antiseptik merk Dettol kok masih banyak, ... apa karena ada tulisannya NO ALCOHOL ?

Gitulah, Pak
Sepeninggalnya Bapak, manusia nggak jauh berubah.
Ya sama aja, atau mungkin jadi lebih buruk.
Kalau bapak bisa lihat kita di sini dari atas sana,
pasti lagi geleng-geleng kepala ngeliat kelakuan kita
Pasti bapak gemes pengen bilang
"Oooooooy, di sini semua itu gak penting!"

Bapak sehat-sehat ya, di sana
Jangan punya anak perempuan lain ya di sana
Uwy aja
Insya Allah kita ketemu lagi di sana ya, Pak

Miss You!

BEING FORTY: Mimpi di hari ke-116

hari ke dua,
hari ke tiga,
hari ke sekian puluh,
bertanya-tanya kenapa bapak ngga juga datang ke dalam mimpi

entah kenapa juga seperti harus didatangi, ya?

kadang terbersit rasa ingin tahu gimana di sana,
sering juga bertanya apa ada pesan-pesan yang belum tersampaikan
(ini tipikal orang indonesia ya, dan aku emang orang indonesia ternyata)
ha ha ha

dan hari itu; luna sudah beberapa hari demam tinggi
jam dua tiga puluh dini hari, datanglah aki

*pintu belakang membuka

Nnnaaaaa, ...
Nnnaaaaa, ...
Nna sakit apa?

Ia datang memakai baju putih,
baju koko yang biasa dia pakai ke masjid depan
di mimpi itu aku tersadar, bahwa aki sudah tidak ada
tapi tak peduli kupeluk dan kucium, tapi nampaknya ia tidak peduli
karena segera mendekati si kecil yang terbaring dengan handuk kompres.

Nna sakit apa?
Ah, ini sih bentar lagi juga sehat bisa sekolah lagi
Nna sholat dong,
Kalau Nna sholat sekarang, nanti sholatnya pasti lebih banyak dari aki

Dan aku terbangun.
Merindu dalam gelap.

Besoknya Luna sembuh.
Dan lusa kembali ke sekolah.

BEING FORTY: gegar part

Foto yang menjadi latar belakang blog (pada saat ini), diambil di suatu malam di hari-hari pertama saya bergabung bersama Romp. Tak lain daripada sebuah advertising agency, industri dimana saya selama puluhan tahun ini berkutat untuk menghidupi keluarga (semoga berkah), membangun pertemanan (semoga pertemanan baik) dan berkarya (semoga, dan ini yang paling saya takutkan, dapat berguna).

Sebuah headphone full-ear, lampu yang bercahaya dan 1 pot tumbuhan dari Ikea ternyata cukup menggambarkan suasana hati, at least saat posting ini ditulis ya. Suasana hati dan kepala yang sedang gegar dengan bakti dan guna saya terhadap kehidupan.

Asumsi saya, ini semua karena bidang pekerjaan saya yang sifatnya sagatlah artificial dan materialistik. lalu, sempat diri ini mempertanyakan, apakah bidang ini masih relevan dengan saya dan ke depannya nanti.

Di sebuah pagi yang indah, saat saya dalam perjalanan menuju kantor, tentunya dengan semangat yang hilang selama beberapa hari ini, dan juga dengan sikap mengabaikan hampir semua email update tentang pekerjaan dan deck-deck presentasi yang harus saya cek, tiba-tiba ada notifikasi email masuk. Oh, dari siapa ya? Wah, ternyata dari Pak Bos. Sosok yang walau juga lebih tua dari saya, masih tetap memiliki sihir di industri ini.

Email itu berjudul Food for Thoughts. Nah, ini dia! Kapan ya terakhir kali kepala ini dikasih makan?
Ternyata isinya adalah sebuah artikel yang diambil dari sebuah website berbayar (Creative Review) yang selalu ada di angan-angan saya untuk subscribe - tapi nggak pernah kejadian (eh, kaya pernah denger di tempat lain juga ya hahaha). Begini isi artikelnya:

What to do if your job makes you unhappy
By  07/10/2019
We all have bad days at work – but what should you do if your job is making you miserable? We asked careers coach Kat Koh for advice on dealing with short- and long-term unhappiness
Even the most exciting and fun creative jobs have their downsides, whether it’s punishing deadlines, tricky clients or having to work to meagre budgets. No matter how much you love what you do, you can guarantee that at some point, there will be days when work puts you in a bad mood.
But unhappiness at work could also be a sign that you’ve fallen out of love with your job. All too often, creatives spend years in roles that don’t make them happy, either because they’re scared to leave, or because it can be painful to admit that the job you thought you wanted – the one you studied, interned and slogged to get – isn’t as enjoyable as you’d hoped.

It’s a situation that Kat Koh, a careers coach for creative people, knows all too well. Koh started out as an art curator, working at MoMA, the Brooklyn Museum in New York, San Francisco’s San José Museum and the Venice Architecture Biennale. But after years of studying art history, and gaining experience at leading museums, she found that curation wasn’t quite what she imagined.
“What I realised through being a junior curator at these places was that my favourite part of the job was sitting down with artists or designers or filmmakers, whoever we were working with to put on an exhibition, and helping them work through conceptual ideas, and [decide] what would be their contribution to this – but I only got to do that around 10% of the time,” she explains.” The other 90% of the time, I was doing a bunch of other stuff that I really didn’t care for and so, after years and years of this, I realised I had to leave.”

We all get overwhelmed or bored or burnt out from time to time, and it doesn’t necessarily mean that your career is not going well or there’s something that isn’t working
“I really sat on this decision and I wouldn’t recommend it. I knew I wasn’t happy, but I felt so bought in, because I’d done a PhD programme, and I was in all this student debt … but [eventually], I thought, there must be something I can do where I can do this more than 10% of the time,” she adds. “I didn’t know what that job was, but I found my own careers coach to help me in this process … and I realised through getting coached that if I could support creatives in this way, then I’d be spending 90% of the time doing what I could do only 10% of the time as a curator.”
Koh left the art world, retrained as a careers coach and has since worked with over 1,000 people, from product designers to filmmakers and entrepreneurs. Her clients range from junior designers fresh out of college to creative directors in their 40s, and most come to Koh because they’re feeling unsatisfied at work and want to make a change.

As Koh points out, it’s perfectly normal to feel unhappy at work, but there’s a difference between short- and long-term unhappiness. Feeling frustrated isn’t necessarily a signal that it’s time to quit your job – it could just be that you’re just overwhelmed and need to take some time out.
“We all get overwhelmed or bored or burnt out from time to time, and it doesn’t necessarily mean that your career is not going well or there’s something that isn’t working,” says Koh. “We’re so hyper-connected all the time and as someone who lives in San Francisco, I’m acutely aware of this. The phones we have, the computers we have, the software we use, there are brilliant people who are paid lots of money to think of brilliant ways to make you stay on them … and that’s very fatiguing, so it might just be that perhaps you need a break from it all. A lot of creatives work mostly on the computer, so the number one thing I’d suggest is going on a bit of a detox, even for a day.” For those who are feeling particularly overwhelmed, she advises spending a weekend catching up with loved ones and doing something you enjoy – whether it’s painting, making something tangible or going for a run. It might sound like common sense, but as Tanya Livesey recently explored in CR, rest is important for wellbeing and creativity.

If that doesn’t help, Koh recommends an exercise that, ironically, is borrowed from the tech world. “There’s something that is used quite often in tech called a retrospective. Often, it’s done after any major project is finished, and there are four columns: what went well, what can be improved, what do we want to do differently next time, and what still puzzles us? I’d recommend doing a present-day retrospective on your job – what are you really happy about, what is not going so well that could use some improvement, and in terms of the next time column, it could be rephrased to say, how do I want to move things forward?… What still puzzles you is a great one that I always recommend people spend some time with – what is still confusing or unclear to you about your current job or the work that you’re doing?”

The vast majority of folks that are very unhappy that I speak to are unhappy because they’ve been asking themselves, what should I do next? What is wrong?
If your unhappiness persists, then Koh believes it’s time to assess whether your job is really for you – or whether it might be time to make a change. But this realisation can often bring with it fresh anxiety over what to do next.
This is perfectly normal  – after all, human brains are hard-wired to fear uncertainty, and Koh says she is yet to meet someone who isn’t anxious at the prospect of changing jobs or careers, but it can leave people feeling stuck and unsure about what their next step should be.
This can be particularly stressful for creatives who pride themselves on creative problem-solving. “Creatives can be really hard on themselves about this – people will say but I’m a creative and I can’t think my way out of this, I feel so stuck, but there’s nothing wrong with them, and nothing bad happening to you – it’s just your brain doing its job because change is afoot,” says Koh. However, Koh believes that many people also feel anxious because they’re asking themselves all the wrong questions.

“The vast majority of folks that are very unhappy that I speak to [are unhappy] because they’ve been asking themselves, what should I do next? What is wrong? Questions that start with what? What should I do next is a great example, because as we know, you can just hop on the internet and there are so many possibilities, and everyone has an opinion – your parents have an opinion, your partner has an opinion, everyone has something to say – so this question causes a lot of swirl, and it can keep people in a holding pattern for a decade if you let it. I’m going to be bold and say this is the wrong question you should be asking when you’re unhappy,” she explains.
Instead, Koh believes it’s important to focus on the whys: “Starting with the question why is much more helpful, because why is connected to what’s meaningful and important to you. It could be why do you love this kind of work? Or why do you love design? Why do you love this company? Why do you hate this company?

“We’re bombarded with information all the team, so if you’re not clear on what’s important to you in your next job, whether it’s flexible working, or collaboration … it can be easy to get distracted thinking, maybe this is [the answer], or maybe that’s it – but when you clarify what’s meaningful to you, it gives you ground to stand on. It’s a great question to come back to when you feel like you keep coming back to the same question.”
If someone works at a really cool design house, often people will be really excited for them. Internally, they might be having a very different experience
Koh says this method has helped many of her clients figure out their next step – in some cases leading to promotion and in others, to a whole new career path. “One of my clients, when we first started working together, was the only designer in a very big company in New York. He was constantly getting pulled into meetings to represent design, and he didn’t have any creative time – so one of the things we clarified was that he wanted to be part of a collaborative, creative team of designers, and he also wanted to be a design leader. He’s now a head of design at the company, and he has five direct reports.”

Another of Koh’s clients left her job as an in-house creative director to set up her own graphic design practice, but soon became frustrated with the fact that she was spending most of her time on computers. After taking up painting, she discovered the world of surface design, and now splits her time between screen-based and physical work.
In the creative industries in particular, people can often be reluctant to admit they’re unhappy at work – especially if their job is one that might, on the surface, seem like a dream role.  “If someone works at a really cool design house, often people will be really excited for them and say that’s so cool that you work there. Internally, they might be having a very different experience, but there is this feeling of who can I really talk to about this, because everyone keeps saying you have such a great job, why would you be unhappy?”

As someone who has made a career out of helping creatives who are feeling stuck, frustrated or unsatisfied, Koh is keen to point out that it’s not uncommon – especially if you’ve reached a point where it’s time to make a change, either because you feel you’ve outgrown your job, or because you’ve decided it isn’t for you.
The most important thing if you’ve found yourself in this position, says Koh, is to identify the cause of your unhappiness through identifying what makes you happy – and what doesn’t – before you start trying to work out how to get yourself out of it.
“Just like certain recipes must be followed in a certain order and the meal is disastrous if you don’t, I really believe that the order in which you ask these questions is really important, because when you get clear, the part of your brain that is excellent at coming up with ideas and problem solving, that can kick into gear in an amazing focused way, rather than like a firecracker … once you have that clarity, then you can get up and do other things in your life and not worry so much because you’ve laid out a plan and a path.”
Hmmm, gak hepi boleh. 
Tapi jangan kelamaan. 

Kayanya trik ini nggak cuma relate di sikap bekerja ya, tapi juga di segala aspek kehidupan. Selama hal ini nggak bikin menderita banget, mungkin saatnya punya distraksi baru. Bukan berarti nggak hepi juga. At least buat aku. Karena somehow, industri ini memberikan kejujuran walau juga outputnya (lebih banyak) tentang situasi idealnya dan bukan gambaran realistis. Kenapa jujur? Karena di industri ini aku mampu mentertawai diri sendiri (again, walau lebih banyak mentertawai orang lain ya). Ditambah lagi, nobody dies. 

Lalu, apakah hal ini membuatku berhenti dari gegarku? 
Tunggu di cerita gegar part 2, ya. 
Insya Allah. 

Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...