Putus asa aja, yuk!

 Ingat ini, 

“Pintu langit itu akan terbuka, jika seluruh pintu dunia sudah tertutup.”

 

Berputus asa itu nggak selalu berarti berhenti berharap, ia juga bisa berarti manusia sedang berada dalam titik kesadarannya, “Aku udah nggak bisa lagi ngandelin apapun selain Allah.”

 

Saat manusia masih merasa, “ada peluang lewat usahaku.” maka itu belum sepenuh tawakkal. Dia masih bergantung pada usahanya, meskipun itu hanya sedikit.

 

Saat sepenuh usaha, ikhtiar kita, semuanya sudah menemukan jalan buntu, maka disitulah sepenuh tawakkal itu hadir.

 

Pintu tawakkal itu akan terbuka, jika seluruh pintu ikhtiar dunia sudah tertutup.

 

Betapa indahnya kita sebagai seorang mukmin, sebagai orang-orang beriman, sebagai ummat Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam. Sebab saat seluruh pintu dunia sudah tertutup sekalipun, kita masih punya pintu langit.

 

Maka kita harus sadar akan hal ini:

 

Misal saat usaha, ikhtiar kita semuanya telah menemui jalan buntu, kegagalan datang bertubi-tubi, itu adalah bukan tanda Allah nggak sayang kepada kita. Justru itu adalah tanda Allah begitu menyayangi kita,

 

“Wahai hamba-Ku,

kamu nggak cocok pakai pintu dunia,

kamu terlalu istimewa untuk berjalan di jalan yang biasa,

 

Pakai jalan ini,

Aku ingin kamu memakai pintu Langit.”

 

Ternyata dalam kegagalan dan keterpurukan kita pun, Allah masih begitu menyayangi diri kita. Allah nggak pernah ninggalin kita, bahkan saat kita sudah jatuh, sejatuh-jatuhnya.

 

Astaghfirullah,

ampuni kami yaa Rabb…

yang sering mengira Engkau sudah nggak sayang lagi.

Yang serius, ngapa?

 “Kalau seseorang itu tidak bangun malam untuk shalat tahajjud, itu artinya dia sama sekali tidak serius dengan cita-citanya” ~ kata seorang guru. 

Pertanyaannya, kapan kita seriusan punya cita-cita? 

Aku yang sudah berusaha menuju 47 tahun ini kayanya udah lama gak punya cita-cita yang gimana-gimana. Padahal, semakin berusia harusnya cita-cita kita pun menjadi semakin besar dan semakin intangible. 

Giliran iya punya cita-cita, trus gak serius. Jadi perjalanannya jauh banget ya, sementara sekarang; punya cita-cita yang amat sangat kepengen banget aja tidak ada. 

Huftness. 

Padahal, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Bayangkan aja sebutir nasi di piring kita yang sudah menempuh perjalanan jauh mulai dari bibit, ditanam di sawah, tumbuh, diserang hama tapi bertahan, dipanen, disosoh kulitnya, dibersihkan, ditimbang per 5 kg, dikemas, dikirim dari tempatnya menuju jakarta. Lalu kita beli di supermarket, kita angkut, kita tempatkan di tempat beras, kita ambil cup demi cup, kita cuci dan masukkan ke rice cooker, sampai akhirnya terhidang di piring makan. 

“Yaa Rabb…

ketika sudah menjadi rezekiku,

ketika sudah Engkau tetapkan dia sebagai nikmatku,

 

begitu jauh dan lama prosesnya sebutir nasi ini,

Engkaupun datangkan dia kepadaku

 

maka jika sebutir nasih saja sudah Engkau tetapkan jalannya untuk datang kepadaku, bagaimana mungkin Engkau tidak tetapkan jodohku untuk datang kepadaku”

 

Salah satu cara agar kita bisa semakin merasakan bagaimana Allah menyayangi diri kita dalah dengann kita belajar untuk melihat yang ada disekeliling kita dengan kacamata iman.

 

Semuanya yang terjadi adalah kasih sayang Allah.

Jangan membatasi apa yang Allah tidak batasi

 


Tuhan kita itu Allah loh…

Rabb kita itu Allah loh…

 

Maka jangan sesekali kita membatasi apa yang Allah sendiri tidak membatasinya. Jangan sesekali mengatakan mustahil pada hal yang Allah pun belum mengatakan hal itu mustahil, nggak mungkin untuk terjadi. 

 

Kalau kita terlalu mengandalkan kemampuan diri, ketahuilah kemampuan diri kita sebagai manusia itu sangat terbatas. Sandarkan segala sesuatunya kepada Allah, sebab Allah itu Maha Tak Terbatas.

 

Sungguh surah Maryam seperti energi langit bagi diri kita untuk menghadapi segala apapun yang ada di bumi ini. Menghapus semua rasa takut, rasa tidak percaya diri, insecure dari setiap masalah atau tantangan yang kita hadapi.


Minta, berdo'a sama Allah yang tak berbatas, yang bahkan sudah memberi sebelum kita meminta. 

QS. Maryam, ayat 3

 


اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ نِدَاۤءً خَفِيًّا ۝٣idz nâdâ rabbahû nidâ'an khafiyyâ(yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lirih.Nida’ itu kenceng dan nampak. Khofiyya itu lembut dan tersembunyi

Gimana caranya, sebuah suara yang kenceng dan nampak tapi dia juga lembut dan tersembunyi?

 

Itu kan kayak “Api yang ber-air” “Gelap yang ber-cahaya” “Tinggi yang merendah”

Kalau kita buka tafsirnya Imam Ar Razi,

 

 أَنَّهُ أَتَى بِأَقْصَى مَا قَدَرَ عَلَيْهِ مِنْ رَفْعِ الصَّوْتِ

bahwa ia telah mengerahkan sekuat tenaga untuk meninggikan suaranya.

 

إِلَّا أَنَّ الصَّوْتَ كَانَ ضَعِيفًا لِنِهَايَةِ الضَّعْفِ بِسَبَبِ الْكِبَرِ

Namun suaranya tetap lemah karena sangat lemahnya tubuh akibat usia tua.

 

فَكَانَ نِدَاءً نَظَرًا إِلَى قَصْدِهِ، وَخَفِيًّا نَظَرًا إِلَى الْوَاقِعِ

Maka hal itu disebut seruan (nidā’) jika dilihat dari niatnya, dan disebut lembut (khafiyy) jika dilihat dari kenyataannya.


Mungkin pernah yaa, di posisi lagi nangis, dah lama banget itu nangisnya, sampai nyesek-nyesek di dada, sambil teriak, tapi nggak ada suaranya, mau teriak tuh nggak keluar suaranya.

 

Nangis yang paling menyesakkan, atau yang paling puncak, adalah nangis yang nggak ada suaranya.


Nabi Zakariya ‘alaihissalam itu sudah sekuat tenaga bersuara, tapi karena beliau sudah tua, maka yang terdengar hanya sayup-sayup halus, bisikan lembut.

 

Nida’an Khofiyya adalah menggambarkan keseriusan doa Nabi Zakariya, ada kesungguhan disana, ada rasa sepenuh harap nan tulus.

 

Mungkin kita sering mendengar tentang orang yang sudah berusaha habis-habisan. Tapi kali ini, kita belajar tentang seorang yang berdoa habis-habisan.

Seluruh energi, sepenuh hati, sekuat harap; kesemuanya untuk doa itu.

 

Pada setiap yang kita inginkan dan cita-citakan, sudahkah kita beneran “serius” dalam berdoa kepada Allah?


Sebagian materi dari Melawan Kemustahilan, Tadabbur surat Maryam, by Qur'an Review



QS. Maryam 1-2

 

كٓهٰيٰـعٓـصٓ​

Kāf Hā Yā` 'Aīn Ṣād.

ذِكۡرُ رَحۡمَتِ رَبِّكَ عَـبۡدَهٗ زَكَرِيَّا ​

(Yang dibacakan ini adalah) 
penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria,


Insights: 
Ayat 1 adalah tentang hal yang kita tidak tahu artinya. 
Ayat 2 adalah tentang kasih sayang Allah. 

Bahwa terkadang, kasih sayang Allah itu adalah hal yang kita tidak ketahui atau sadari. 
Kita nggak tahu bahwa selama ini ternyata Allah menyayangi kita. 
Kita nggak sadar bahwa selama ini kita selalu dalam penjagaan Allah. 
Buktinya sering kan, kita ngeluh saat hal gak enak kejadian sama kita. Padahal selalu ada hikmah kasih sayang Allah dibalik kejadian yang tidak enak itu. 

Seperti dalam surat Maryam ini, dimana Maryam mengandung seorang anak tanpa bapak. 

POV manusia:  “Kasihan Maryam, lahirin anak tanpa bapak”

POV Allah:  “Kasih sayang yang berlimpah keberkahan hadir melalui anaknya, menjadikan ibunya menjadi wanita mulia di langit dan di bumi”


Semoga kita termasuk mereka yang selalu yakin bahwa Allah selalu sayang kita, apapun yang terjadi. Dan termasuk mereka yang ikhlas dengan rahasia yang tetap menjadi rahasia milikNya. 


Kita memang nggak tahu gimana cara Allah menyayangi, tapi kita tahu bahwa apa yang Allah lakukan kepada kita, adalah bentuk sayang-Nya. 


Source: Kelas Qur'an Review





Perlahan, ... tapi jalan.

 Usia 40-an tuh... kayak masuk bab baru yang nggak pernah kita latihanin sebelumnya.

Ternyata bener ya, apa yang Rasulullah bilang... di usia ini, kita mulai gentar.
Katanya ini tanda cinta Allah—karena kita (mungkin) sedang memasuki paruh hidup.
Waktunya refleksi. Waktunya pulang ke diri sendiri.

40-an ku dimulai dengan kehilangan Papa.
Sosok yang selama ini jadi invisible spine buat aku.
Yang selalu bilang, “Kamu harus berani, kamu anak perempuan papa. Kamu nggak jalan sendirian.”
Dan ternyata, aku memang nggak pernah sendirian. Ada beliau. Ada Allah.

Kalau kamu juga lagi ada di usia ini, kemungkinan kamu Gen X atau early millennial. Congrats ya, kita udah ngelewatin banyak banget perubahan pola pikir dunia. Dari era kaset ke Spotify. Dari SMS 160 karakter ke voice note 2 menit. Dan kita adaptif banget!

Usia 40-an itu unik. Kita masih bisa hype, tapi juga (katanya) udah lebih bijak (... seharusnya sih he he he... ) Kita udah bisa ngerem, tapi masih penasaran. Udah bisa bilang “nggak,” tapi masih suka FOMO juga.

Yang bikin geli, anak-anak kita—Gen Z, Gen Alpha—udah nganggep kita boomer. Padahal kita ngerasa masih muda banget ya kan?? Mereka anggap kita satu generasi sama kakek-neneknya. Excuse me??

Tapi jujurly…

Aku bersyukur jadi generasi yang kenal teknologi, tapi masih punya unggah-ungguh dari orang tua.
Kita tuh jembatan. Bisa ngobrol sama Gen Z, tapi juga nyambung sama orang tua.

Cuma kadang aku juga overwhelmed. Ngikutin obrolan anak-anak tuh kayak decode alien language: Dari tungtungtung sahur ke stecu ke slang TikTok yang lain. The world is too customised I can’t see the trend anymore.

Beberapa teman baru mulai manjat tangga korporat. Beberapa udah muak dan keluar. Termasuk aku. Yang pertama kadang merasa telat, yang kedua kadang merasa kepagian. Padahal… papa pensiun umur 55. Lah aku bentar lagi dong?? Panik sesaat. Lalu chill lagi.

We’re at that age: Old enough to know better, yet too young to stop messing it up. Dan mungkin… itu nggak apa-apa.

Jadi, buat kamu yang lagi ada di fase ini juga…
Tenang. Kita nggak sendirian.
Kita generasi tengah-tengah yang sedang belajar terus, salah terus, bener terus—campur aduk.
Kadang overthinking, kadang pasrah ngopi aja dulu.

Tapi satu hal yang pasti:
Kita tuh masih terus tumbuh.
Dan tumbuh itu, meski nggak selalu nyaman, tetap bagian dari rahmat-Nya.

Here’s to us, yang sedang menua dengan rasa syukur dan (sedikit) humor.
Pelan-pelan aja, tapi tetap jalan.
Karena katanya…
life begins at 40, but wisdom starts when you’re ready to listen.

Happy 45th Me!

 How is it like to be a 45 years old? 


Well, 

I have been a 45 for 8 straight days and I keep delaying writing this blog, just to have more time to think about what 45 really means. 

Is it about the willing of no fear and be able to do anything I want? At least that what came to my thought as I woke up early in the morning that day. "I am 45 now, ... I think I can say and do whatever I want now. " Then what, bequeathing all the responsibilities to someone else? Ha ha ha 

Then I am thinking about how life is about the conclusion, the situation we are in when we die. Oh yeah, surely not ready. 

Then that particular moment has become a whole day, 

and a day after, 

and another day after, 

more days, 

up to this day. 

My 45 has become the early days of worrying about the future. It feels the time flies too fast, my eldest is now going to a university, my youngest is now has become a fully grown woman (physically) with all the whir wind, typhonic mood, ... and I feel lonely. 

As I tried to escape to some peers of mind, I have also realized that everyone is busy with their life. Its like 40s are about money. Some peers are crazy about preparing more and more income basket and been trying hard to catch up the shine she missed a few years back. As for the other is busy trying to get money with the least effort she could do. Another one is still busy preparing the champions of her life. 

Being zen in this hustle bustle life is such an effort. 

The buzzing in my mind are just too loud to shut.

Have I taken the wrong path? Have I mistakenly led my children so that they don't have any acknowledgements? 

45 is indeed to take a step back and to go back to the almighty. 

But why is it so challenging?  

Putus asa aja, yuk!

  Ingat ini,  “Pintu langit itu akan terbuka, jika seluruh pintu dunia sudah tertutup.”   Berputus asa itu nggak selalu berarti berhenti ber...