Showing posts with label Daily ponder. Show all posts
Showing posts with label Daily ponder. Show all posts

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.

www.thestorygoeshere-blog.tumblr.com 


Doubled visions.

I experienced the double visions lately. A little accident occurred and needed to have a doctor put a medicated soft lense to heal the cornea faster. Only for a few days.
Hopefully,
my eye gets better,
visions get clearer,
and I am becoming wiser.

Hahaha.

And then I felt funny. I felt everything indeed has double standards.
About what the norms says, what we believe in, what we feel, what we think, nothing is really fixed anyways.

And then I felt the world is slowing down. Suddenly I have much time to do many things. To pray longer, to take care what I have left behind, to say hi to an old friends, to be eager to wait for my kids to do my instructions (if you don't want to call them 'orders' ha ha!).

And then I felt lucky for my life. I felt so blessed surrounded by people who loves me and their persistence to stick around.

Alhamdulillah.


Just because

Alhamdulillah,
minggu ini Titan mulai privat mengaji.
Mainstream? Maybe.
Cliche? Maybe.
Rising a good child, guaranteed? Probably no.
Heaven, guaranteed? Definitely no.
But this is how I was raised,
and I am thankful I was raised this way.

Hopefully Titan is too.

Fridate with the girls




I am a mother goin' out with my mother. 

Jumat kemarin, kita niat pergi agak jauh. Dharmawangsa Square. Well, waktu yang kurang tepat untuk jalan-jalan sih sebenarnya. You know, ... Jakarta's traffic on friday. Tapi karena mood lagi mendukung dan memang ada tujuan yang dicari, yaitu mencari tas sekolah buat kakak Titan yang sudah 3 tahun enggak diganti, akhirnya kita pergi juga walaupun harus menunggu taksi dari jam 11 dan baru dapat jam setengah dua.

Seperti yang diperkirakan, ... macet. Saya lupa ada pembangunan fly over di depan Rumah Sakit Pertamina yang mengekor ke Sinabung dan Barito, rute perjalanan kami. Alhamdulillah, sampai dengan aman enggak pake nagging. Tentunya, berkat nenen sepanjang jalan dan si bocah tertidur pulas.

Sebelumnya udah browsing-browsing sih, tas kaya apa yang bakalan dibeli. Titan memang sangat picky dengan semua outfit yang bakal dia pakai. Sebelumnya sudah ngubek-ngubek Gramedia, tapi enggak ada satu pun tas yang dia suka. Ada sih sempet lirik-lirik Jansport Original yang modelnya vintage gitu, tapi kok ya harganya satu jutaan. Lebay banget, kata bundanya. Mending buat bayar asuransi kesehatan dan sisanya buat kontrol ke dokter gigi hahaha.

Akhirnya kembali ke selera tas dia waktu di TK, Sugar Booger. Ngubek-ngubek instagram, akhirnya nemu perpanjangan si Ore Originals ini yaitu di MomsAndI di Kemang. Tapi kok ya Kemang ya. Jauh sih enggak terlalu, tapi macetnya ... aduhai!
Kemudian saya baru ingat, satu tempat dimana saya membeli Sugar Booger ini pertama kali. Setelah saya google dan dapat nomer telfonnya, itulah kenapa akhirnya kita ke sana langsung. Karena online store-nya enggak update dengan produk terbaru mereka. Nama tokonya Little Toes, di sayap ujung (yang saya selalu lupa sayap sejajar Ranch Market atau justru di ujung lain).

Begitu masuk langsung kalap dengan barang yang lucu-lucu. Si Sugar Booger ini, seperti biasa, lebih banyak koleksi lunch sack dan Kiddie backpack nya yang banyak. Luna juga udah sibuk pilih-pilih. Di pojokan, baru deh kelihatan koleksi zippy backpack yang lebih cocok untuk anak SD. Meskipun enggak selengkap yang saya harap, Alhamdulillah yang kira-kira Titan suka ada di sana. Bahannya kanvas ringan, strap di pundak enggak terlalu lebar, enggak terlalu banyak kantong, ukurannya juga enggak terlalu besar dan enggak terlalu kecil. Cukuplah untuk bawa folder PR dia berukuran kertas folio, dua buku tulis, sarung, peci, snack box dan tempat minum. Dan yang penting, dia pasti suka gambarnya. Dan yang penting lagi, harganya juga masuk akal. Rp. 295.000 aja, jauh lebih murah dibanding harga di website Ore Original. Sedangkan Lunch sack buat Luna, harganya Rp. 200.000

Yeay! Akhirnya dapat juga tas buat si kakak! 
Tapi sebenernya bukan itu aja sih highlight Fridate kita. 

Setelah dapat barang, ktia jalan-jalan sebentar uji nyali ke Tulisan dan ... omagah, hobo yang aku mau adaaaa! Buru-buru lah kita keluar dari toko daripada impulsif beli hahaha. Sekali lagi, mending uang 1,5 juta bisa beli emas 3 gram *kekepin kartu debit*

Dari situ kita lunchie ke Street Canteens, soalnya Luna belum mamam. Sampai sana pesan bihun sop ayam buat Luna dan es jelly. Buat aku dan mamah pesan pempek. Eh ternyata pempek di sana enak juga. Nah, disitulah saya mencuri dengar sambil nyuapin Luna. Jadi, ya .. wajar ya kalau dengernya kepotong-potong hehehe.

Di sebelah saya ada ibu dan anaknya. Si ibu asyik main tab kecil dan anaknya sibuk dengan MacBook Airnya. Anaknya cowok, kayanya sih di tahun akhir SMA atau mungkin sudah lulus. Karena musik yang agak bising, saya enggak bisa jelas mendengar apa yang diomongin si Anak while ibunya mendengarkan sambil terus main gadget.

Ibunya cantik. Umurnya kayanya lima puluhan, tulangnya kecil. Jadi walaupun badannya agak gemuk, tetap terlihat tangan dan kakinya jenjang. Slender, kalau kata orang sana bilang. Dia pakai short overall warna pink lembut dan dalemannya kaos oblong putih yang pas di badan. Rambutnya hitam dan panjang, digulung ke atas.  Enggak pakai bulu mata palsu, enggak pakai make up berat. Cantik, deh. Saya jadi memotret diri saya, apakah saya jadi mamah asyik empat belas tahun nanti. Yang bikin saya tertarik adalah, she looks like a simply straight mom. Di sela-sela percakapan mereka, dia berkata "No, itu salah lu. Harusnya, ... bla bla bla" trus anaknya nerusin omongannya lagi tanpa nada defensive. Trus ibunya nyambung lagi "Dengar. Dengar mama. Kita pengen lu pergi buat belajar. That's it. Pikirin itu." Trus dia langsung melambaikan tangan minta bon. Anaknya langsung terdiam dan menghabiskan minumannya. Saat si ibu berdiri untuk membayar ke kasir, baru deh saya bisa lihat sepatu lucu yang dipakainya: Pump shoes tikus dari Marc Jacob's warna pink. Oh la laaaa, saya pengen banget sepatu itu. Krik krik ... krik krik ....

Asumsi saya, mereka lagi sibuk berdebat soal nerusin sekolah ke luar negeri dan negara mana yang akan dituju. Si anak milih negara yang banyak temen-temennya, ibunya pengen anaknya pergi ke luar negeri buat sekolah dan bukan buat main. Saya membanthin, semoga bisa menabung dan menyekolahkan anak-anak ke luar. Atau, semoga anak-anak tumbuh pintar untuk dapat bea siswa. Amin. Setelah mereka ke luar restoran, saya mulai memakan pempek saya yang sudah dingin karena tadi nyuapin Luna dulu. Sekarang sih luna lagi makan dessert es jelly sama Nini.

Sambil makan mata saya menerawang, dan jatuh ke dua ibu-anak yang lewat di depan restoran. Si anak umurnya tiga puluhan, ibunya mungkin sudah enam puluhan. Anaknya nyante banget, pakai sleeveless long dress warna hitam dengan rambut digulung ke atas. Enggak pakai make-up. Sementara ibunya sasakan, baju rapi dan di tangannya men'cantel' handbag Coach. Kayanya sih mereka dari salon. Seketika saya mikir. Kapan ya, saya bisa berduaan gitu bermewah-mewah sama mamah. Kapan saya ya, bisa beliin mamah tas bermerk. Kapan saya bisa ajak di ke spa untuk pijat, merendam kakinya yang sehari-hari sibuk menyapu dan ke pasar pakai air hangat, disikat dan dikutek. Pijat punggungnya yang sudah pengapuran dengan batu panas dan pijat ala thai.

Mamah saya itu tidak terbiasa memanjakan dirinya. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat bikin reservasi berdua di Puri Santi Spa Cipete. Tadinya sih mau surprise, tapi dia kan gitu. Kalau enggak ada tujuan yang jelas, enggak akan mau pergi dari rumah. Tapi begitu dikasih tau mau diajak ke spa, langsung ditolak mentah-mentah. She is just not used to. She felt awkward. Nyalon? Sama juga. Buat dia nyalon itu cuma untuk potong rambut dan pulang. Pernah saya pesan mbak pijat yang datang ke rumah. Udah hati-hati banget pesannya, terapis yang spesialisasinya pijat Jawa. Eh, sampe rumah malah disuruh ngerokin. Way beyond her skills dan akhirnya Mamah enggak puas juga dengan pelayanannya. Ya wajar, sih.

Setelah kejadian itu, saya enggak pernah lagi kasih-kasih surprise yang 'enggak mamah banget'. Tapi ngasih tas branded buat mamah? Harusnya sih mamah seneng-seneng aja ya dikasih model apapun selama bukan backpack. Tapi ya itu, ... ternyata saya masih sibuk merhatiin keluarga saya aja. Memakmurkan anak-anak. Mengirim mereka kekolah yang baik dan memberi mereka pengalaman di suasana baru.

Itulah bedanya saya dan mamah. Saya cuma mikirin keluarga saya, tapi Mamah bisa mikirin anaknya dan semua keluarga anaknya. Umur memang tidak berbohong ya. Semoga saya bisa bijak kaya mamah nantinya.

Amin. 


Si bocah asyik makan bihun sup satu pot besar

Yes, this is it! Vintage drawings. 

A Little Note

Let me take you to one of my emotional post.

Never at once; someone who got married with the reason of building life together, wanted a divorce. But who knows things that would came up along the marriage? A divorce is the last thing someone would do. Not because they are not strong enough. It is because they are tired to wake up on the same day everyday. Maybe, it is because they urge the need of moving on their life.

And so I did.

The best thing of the worst things happened was, we decided it together. We got to the court together. We wrote the testimony together, consulted every lines to each other and made sure they are accepted by both parties.

What we started well must end well.

And here comes the saddest part, our son. God knows the regrets we had, and still having, for what he has been through.  We did mistakes for our marriage, we cannot do mistake to our son.  If anyone would ever asked how me and my ex could still meet each other nicely and peacefully, the answer will only be one: it is because the love for our son is so great. Even greater than the love we have for ourselves that we need to lower down our ego, to be stronger to keep catering the past to the present.

And as everyone wanted, our life moves on. But the past can never be forgotten, can never be erased. For now our past have merged together with the present. I am blessed for having a husband who is open minded to accept my ex to come over to our house for a Fridate with our son. To find someone who loves you and wanted to marry you might be hard. But I can tell you, finding someone who wanted to marry you and love not only you but also the ones you love, is way harder. And I am blessed once again for finding one.

I remember the letter my son wrote for his step father on father's day last year.
"Terima kasih Bubu, sudah kasih tahu Titan kalau Titan salah. Terima Kasih. Happy Bubu's day"

:')

Today, I found he wrote another letter. Not for me or his bubu, it was for his cousin. But he showed me and he made me smile.  He wrote about what he likes, what makes him feel bored, what the weird things happening, and most important is how he live a happy life and live a happy family.

Our life might not perfect, Malicca. But your happiness is what I can always promise you that I will try my best. Let's be happy with our limitations. Let's make peace with ourselves and all the things or people we ever hate.

7 y.o big brother lulled her 1,5 y.o little sister while mom was driving.

The little note.

What I always witness before bed time. 



...

I am blessed.
Thank you God, for giving such kind and wonderful people in my life.
Having them makes me think that no such little hatred deserves a space in my brain.


The last day of 2014

i am not the kind of person who make new year's resolution. maybe because i know those would only be plans. maybe because i have learnt, that if you want something; you would have did it already.

i am the kind of person who prefer to reflect, or make reviews of what i have gone through.
like today, the last day of the year 2014.

two thousand and fourteen has been generous. it gives me experience being a full-time mom. it has been luxurious, though i struggled for quite sometimes. now i can enjoy it better. i start to have the acceptance of me not being updated or less exposed with news. i start to accept the single income situation and have become the expert of cutting off budgets and wish-lists.

when you don't know, things are much simpler. 

two thousand and fourteen has been a detour of my parenting style. has been a not-so-cool mom , because i have just realised there are so many things i have missed in nurturing and growing titan and la luna yet i tried to catch up within a short period of time.

and it was not good. 

about chances, two thousand and fourteen has given me the chance to achieve what every mothers in the world dream of: working in pajamas. i also had the chance to start my own small home industry, and it has been a great growth.

dream comes true? or dreams are about to be made?

about time, two thousand and fourteen gave me a major turn-over about the time for myself. the time to browse internet, to have a long-hour lunches, long-chat with strangers and close friends; the time i had been having for 34 years. last year i learnt to surrender myself to pieces. to listen and do things at the same time. saying the same thing over and over, almost every day, almost every hour. i miss me, to be honest. but me is what i have for the rest of my life.

worry, i should not. there is time for everything.  

two thousand and fourteen was also the year of thorough contemplation and what-if wonders about retirement. twenty years from now will not be a long time, and i have not prepared it. thus, these topic links back to the parenting detour: that i don't want to create hassles for my kids during my old days. i want to be independent with independent income, and so i can enjoy my retirement and my children can enjoy their time building their own families and their personal agendas.

amien to that. 

so yes,
i hope 2014 has brought you good too and i am sure the best are yet to come in 2015.
happy new year!


The last sunrise of 2014, taken from titan's window. 

Bunda, kenapa orang masuk penjara?

Me and my son on a fine morning, earlier back then.



Malicca:
Nda, kenapa orang masuk penjara?

Me:
Hmmm, ... mau jawaban jujur atau mau jawaban bener?

Malicca:
Apa bedanya?

Me:
Pilih dulu, dong.

Malicca:
Apa aja tadi pilihannya?

Me:
Mau tau jawaban bener, atau jawaban jujur?

Malicca:
Hmmm ... yang bener apa?

Me:
Jawaban benernya, orang masuk penjara karena dia berbuat salah atau melanggar hukum.

Malicca:
Kalau jawaban jujur?

Me:
Jawaban benar itu, ya benar.
Jawaban yang jujur itu, jawaban asli sesuai fakta. Yang benar-benar terjadi.
Enggak selalu benar, sih.

Jawaban jujur tentang kenapa orang masuk penjara adalah,
1. Karena dia berbuat salah, ... DAN ketahuan.
2. Orang masuk penjara karena, ... dia enggak bisa membuktikan bahwa dia benar.

Malicca: diam.

Me (dalam hati):
I know, son.
You might not understand me.
But I know you will, someday.


mubarak wish

Semakin tua (nunjuk diri sendiri), lebaran itu malah bikin sedih. Jauh dari kehebohan beli baju baru atau rencana bepergian. Lebaran itu ... seperti bom waktu dimana kebersamaan bersama keluarga seperti yang selalu aku rasain bisa saja tiba-tiba berakhir.

Semakin tua, lebaran malah jadi semakin sepi. Anggota keluarga yang datang dan pergi meninggalkan kami yang tersisa. Tapi Alhamdulillah, selama 34 tahun lebaranku selalu didampingi dan mendampingi kedua orang tercintaku, mamah dan bapak. Ditambah lagi dengan satelit-satelitku yang mampu menjaga gravitasi sehingga aku tetap bisa mengorbit.

Cukup. Buatku itu sudah cukup.
Cuma satu harapku, semoga kami masih diberi kesehatan dan umur yang panjang untuk bisa berlebaran di tahun-tahun mendatang.

Amin.

Selamat lebaran Malicca, bapak, mamah dan La Luna

That fuzzy feeling



How I love that feeling, inviting my friends to my house and cook for them. Not because I am such a good cook, despite of the taste; I like the idea of sharing and have a good conversation over foods.
I think me mom inherited it to me.

We have prepared this since two weeks ago. Enggar (@petitedevotchka) specially flew from Makassar. Aria (@tweetarwah) intentionally came over after his long-haul offline session with his 'beloved' clients. Heikal (@heikalsiregar), yes, he was all behind these things: his farewell. And of course least but not least my hubster Ariawan (thank you for the perfect juicy steak ya sayang). Not to forget Malicca as our cherry on top that night.

It happened so fast we did not have the chance to take pictures. Good conversation flooding as we pour more and more wine, mojitos, Sheridan and finally ... virgin Absolut Tropical.  Me the preggy woman just looked at them happily as they tossed more and more, spooning my Kiwi float over and over. Oh, it was the first time Malicca tasted white wine by the way.

Deep inside, there was fuzzy feeling.

I always love when friends and families come to our house. But tonight, it is because Heikal is leaving soon for his Phd in London. While Enggar is preparing her submission too - which I feel that she will make it next year to Queensland - I feel sad and a bit empty when they went home.

If only we had done this more often. And not only that. If only taking postgraduate is not the only possible way to live abroad. I would have done anything (unless leaving my family) to get the tickets. Now I can only count on my hubster to get us out of this country, and I feel pathetic because of it. I want to do something too. Something that fasten the process and make sure the tickets on hand. But no, not taking post graduate. My kids deserve the education more than me.

Ariawan seemed understood whats in my head. As we take our guests out, he said to me "Next year, okay? We are going next year."

Where? I did not ask. But I trust him. Even if I didn't, I just want to have the faith that we can.

Inshaa Allah.




Are we worth the way we live?

Someone introduced me the question long ago, in order to shock me to start my financial plan. I think she did hit me on my face. She looked at my wish list(s) and sighed.

Are you worth these luxuries?
You can have everything, but not now. 
Instead, you could rethink of it, you could sleep on it, or you could just made it.

Then I shared the question to a friend of mine when he was about to buy an iPhone.
He waited months for his bonus compliment.
He sold his Sony Playstation.
He waited another months to save and shrimp for the iPhone.
He joined the long queue for the iPhone launch held by a provider, and back home for nothing; for he did not have any credit cards.
He finally bought the iPhone a few months later.
But then sold it anyway for emergency, and brought another one. The S series. 

"Are you worth the iPhone? Are you worth the life you live in?" I asked him when I knew how mad he had gone upside-down because of the quarter-bitten apple.

"Of course! I have worked hard after all this time!" He said (and sounded upset to me), then I got silent.

Do I really need that pricey present for myself too? After all I did? For the hard working, for all disappointments, for all those waits and winnings?
Am I worth a fluffy comforter, breakfast in bed and the warm bubble bath in luxurious hotel?
Am I worth days of me time enjoying a beach holiday?
Am I worth a shoe, limited edition bags and other pricey things?

I might be am.
Or, might be not.

Now it has been years. I do not know how my friend runs his life now, but the question still lives in me.



Lemon

I am sure you have gone a situation when your physical was in an automatic mode doing something; your mind was weaving beautiful words translating what your brain was thinking.

Exactly what I am doing at the moment.

I am making a steam Dory. My hands are in their automatic mode chopping the garlic, onion, spread them together with the salt and coriander to its body.

So this is my life now, I said. What would be next? Then something stops me and replies me in polite. She tells me to do what life is offering me. Just do. 

I lay the dory in a layer of aluminum foil then put some lemon on top of it. I fold exactly like my husband taught me and so the aluminum will not leak and let the water soak the fish while it is baked. 

Then I really stop thinking about what would happen next.

Period. Is it what my life now? Really? I did not even trust my self I have become numb. What? Numb? It is the only word I never wanted to be. But looking at me now, I probably am. Without me realizing it, I might have reached that point of loosing my sense. I don’t care much more about people and what happens around the globe. Because even I do something about it, sometimes things just do not change, and I got tired of trying.

Yeah, tired. Bad things could happen when we feel tired. We become more sensitive and hard to understand others yet we tend to demand people to understand us. Tiredness impairs judgments most of the times. You got tired of hoping to others and you can only trust yourself. But sometimes you got tired of pushing yourself more and you got the maximum tiredness. There. Maybe there where the numb came from.

If it happens, make sure you got a hook to hang on. To me, it is my children. My dreams might have died long ago, but not theirs.

I put the dory in the oven for 20 minutes. It looks good, but tastes a bit sour this time. Too much lemon. Just like what life give us sometimes? 




sang penghujung

sudah beberapa hari ini aku selalu terbangun di penghujung malam
di batas hembus terdingin dan diantaranya
salahkan pada perubahan hormonal trimester ketiga
salahkan pada mimpi-mimpi yang kerap berujung nyata
salahkan pada kantung seni yang semakin terhimpit, kemudian menyungai
mengalir sepanjang malam
salahkan pada mereka-mereka yang suka mampir memberi pengingat

kalau sudah begini, aku hanya berserah diri
apa gunanya kantuk jika mata tak kunjung ingin menutup

biasanya aku keluar mencari hangat
si kecil di dalam perut pun biasanya ikut menggeliat
ke kiri, ke kanan, berkecipak bahagia melihat susu coklat hangat

tidak banyak yang kulihat, ... dan aku memang tidak berharap melihat sesuatu yang lain dari biasanya
mata bisa diatur, tapi telinga bersikeras untuk meliar
kudengar dengkur tidur kedua lelakiku, halus dan berirama
lalu dengung dispenser, kelotek musang di loteng, beberapa suara mendebam yang tak kutahu darimana asalnya

malam tiba-tiba menjadi ramai dengan perhelatan suara
dan tiba-tiba, aku jadi mendengar semuanya

aku memutuskan untuk kembali ke kamar
cukup celotek keyboard komputer yang menemaniku malam ini

sudah lama rasanya tidak menulis
merindu dengan rima, bermesra dengan alur pikir maju-mundur, melukis dan merangkai kata-kata, atau sekedar menjatuhkan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab
mungkin benar kata orang, seringkali seni harus lahir dari rasa sakit
kemana rasa sakit itu?
atau karena aku telah hidup berbahagia dibanding tahun-tahun gelapku sebelumnya?

mungkin

atau mungkin terlalu banyak drama tidak penting yang menyempal mulut dan pikiranku setiap harinya
drama media sosial
drama penduduk negara ketiga
drama konflik selebriti dan politik yang sama sekali tidak pernah menarik

aku muak

semuak hari ini aku melihat puncak keapatisan seorang teman, seorang warga, seorang laki-laki dan entah apa lagi namanya:

dua orang abege mengendarai sepeda motor. tanpa helm. motor mogok di tikungan jalan kecil dan mobil pun tidak dapat menyalip. abege 1 sebagai supir tidak tahu apa yang harus dilakukan. ia menggebrak-gebrak soket spedometer berharap mesin kembali menyala. abege ke-2? asyik duduk di belakang dengan mata tak lepas dari gadgetnya. cuek, bahkan kaki asyik menangkring pada pedal dan membiarkan si teman menumpu beban motor dan beban dirinya yang tidak kecil.

menyedihkan. ada apa dengan kita?


Me. Now

This is me. Now.

I am 34 y.o, 32 weeks pregnant, have gained 13,5 kilograms and still crawling up (which I hope it would not be much), still supervising the shoot for TV commercials (this is the second continuity day by the way), and still driving my own. Sometimes, abang ojek is pretty handy too.

My life now is a bit ... tiring, if I may say.

Different from when I conceived Malicca, everything was easier. Of course, because I was only 28 by then. I was splurged by the easiness of finding food stalls around my office in Blok M, and my office mates always asked me "Bumil mau mau makan apa hari ini?" ... day and night. My previous office also paid so much attention to pregnant women that I wasn't given so much tasks outside office. Rather they put me on floating system so I could do more in the office for other teams. I had chances to have a power nap in my first semester, I did not have to drive myself, and as cherry on top ... I still lived with my parents at that time, with no obligations and 247 full-womb-service. I also said No to many things. I immediately stop as I see stairways. I drink my vitamin and calcium regularly, like a Swiss watch precision. I said NO to Teh Botol, Indomie and other artificials. I was a happy being the whole term, ... maybe that is why Malicca born as a happy child. Full of laughter, positive and friendly.

It is true what people said. That every pregnancy is different. Conceiving a baby after 6 years, I almost forgot what it felt like. My body, my metabolism, my brain functionals, all are way different now. To add with, my life now is a bit challenging. Workload, get domesticated with no maid and taking care of my kindergarten kid challenging behaviour and his never ending school projects all-together, ... they are such a production and is so time and energy consuming. These are the things I cannot have one by one. They happen together and me with the water-melony belly needs to juggle.

Is my life so struggling like you imagine?

I thought so too. But you know what, despite of the office thingy, I am happy.
This is what my life suppose to be. Being a wife, a mother and a working mom. To wake up earlier and prepare lunch boxes for hubby and son, to assist my son doing his school projects and get involved with the school community and activities, go to work, cook our dinner soon as I get back home. Sounds like I want to have every checklists a perfect mom has, ... but no I am not.  I know I cannot be perfect,  I just want to be capable.

Then when things getting rough, I have learnt that all I have to do is ask for a hand. Like the last shooting day in weekend. My hubby and son took me to the shooting location. My son was there beside me all day to entertain me, and there always bright sides in every dark. I taught him what a film production is. What director, setting, lighting, characters and scripts are. My hubby left for a few hours and got  back with 4 orange trees I longed to have for my garden: Jeruk Nipis, Jeruk Limau, Jeruk lemon he forgot but substituted it with Jeruk Intan (that smells like jasmine) and Jeruk Kesturi.

I have learnt that no matter how hard our life is, it is very helpful to realize we have people around to give some help. And all we need to do is ask. Even a little hand can help, like how Malicca took a picture of me today.











Udah ah, capek!

Beberapa hari yang lalu, di saat-saat penyesuaian diri dengan kehadiran sepasang suami-istri ART baru, pengen banget blogging soal betapa janggalnya perasaan ini dengan kehadiran mereka. Maklum, sudah lebih dari 3 tahun terakhi ini di rumah memang isinya kita sekeluarga aja.

Terakhir kita punya asisten yaitu waktu Titan umur 3 tahun. Mba Dewi, namanya. Setelah hidup bersama kita lebih dari 2,5 tahun lamanya; akhirnya Mba Dewi memutuskan untuk keluar dengan alasan menikah.

Sejak masa-masa setelah Mbak Dewi, banyak juga asisten yang datang dan pergi. Coba sini, coba sana, tapi enggak ada yang cocok banget dan bisa bertahan sebulan. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk berhenti pakai in-house ART. Selain Titan sudah mandiri, terus terang hati ini juga masih malas melatih asisten baru. Harus membiasakan diri lagi, menilai-nilai lagi. Ah... capeklah pokoknya.

Akhirnya, kita pakai jasa mba setrika yang pulang-pergi aja. Nyuci baju pun aku lebih suka sendiri. Selain memang karena suka wangi detergen, aku kurang (baca: ENGGAK) percaya dengan standar bersihnya mereka. Kadang si Mbak infal ini juga aku minta tolong untuk sapu-sapu dan pel. Tapi ya gitu deh, beda banget sama kalo kita yang bebersih. Debu enggak di lap, kolong-kolong pun nggak ikut disapu dan di pel.

*BIG SIGH*

So yes, for the past three years, kita semua bantu membantu merapikan rumah.
Kadang rapi banget, seringkali sih ... rapi seadanya :)

Setelah Mbak Dewi, beberapa asisten yang berniat kerja datang dan pergi. Rata-rata enggak sampai sebulan. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi mencari, kecuali kalo ditawarin.

Sampai beberapa hari yang lalu, sepasang suami-istri kenalan asisten ortu datang dan berniat bekerja di rumah. Tadinya aku agak ragu, tapi suami minta untuk mencoba dengan alasan perut ini yang semakin besar; takutnya jadi capek kalau harus ngurus rumah sendiri.

Bener aja, mereka bertahan hanya sampai empat hari saja. Mereka keluar dengan alasan tidak cocok dan tidak nyaman di hati bekerja di sini.

Bingung juga ya, mau yang seperti apa sih suasana kerja yang cocok dengan mereka? Gaji UMR bersih, makan dan kebutuhan pribadi semua ditanggung. Jaminan rawat inap di RS, jam kerja mulai dari jam 7 pagi sampai waktunya Titan mandi jam 5 sore. Cuci piring bekas makan malam aja kita nyuci sendiri. Di rumah juga nggak banyak yang dikerjain karena aku dan suami bekerja, Titan sekolah sampai jam 3. Si Mbak bisa tidur, nonton TV, ngobrol sama tetangga, terserah deh bisa ngapain aja. Khusus untuk kasus yang terakhir, pasangan suami-istri pula. Mau ngapain aja sama life partner pun bisa. Mau nyari yang kaya gimana lagi, coba?  

Tapi setelah aku pikir-pikir, mau seprofesional apapun sikap kita terhadap asisten, semua memang kembali lagi dengan mentalitas. Ini cuma sekelumit cerita dari aku, tapi ternyata banyak sekali cerita seperti ini. Dan sedihnya, bukan cuma di kalangan asisten rumah tangga yang (maaf) pendidikannya rendah. Tapi, juga banyak cerita yang dari kalangan kita yang (katanya) golongan makan bangku sekolahan.

Ada apa sih sebenarnya dengan kita? Apa iya mencari pekerjaan itu susah? Atau mungkin  mencari orang yang benar-benar mau kerja, itu yang lebih susah? Inikah kenapa banyak sekali pengangguran? Inikah kenapa banyak sekali yang bercita-cita untuk pensiun dini? Inikah kenapa banyak sekali yang pengen punya usaha sendiri daripada kerja sama orang lain dan sakit hati kalau disuruh-suruh?

Jaman emang sudah makin maju, dan semua orang dari semua golongan ekonomi; punya preference sendiri-sendiri. Tapi masalahnya, kalau kehidupan enggak sesuai dengan preference kita; apa iya kita mau berhenti dengan mudah?

There. Seringkali yang begini ini yang bikin aku jadi males berurusan dengan orang-orang kaya gini.
Bikin cape karena enggak bisa diterima dengan akal sehat.
Udah ah, cape!
Emang paling bener ngandelin diri sendiri dan enggak berharap sama orang lain.

Selamat datang (lagi) weekend penuh kegiatan bersih-bersih! *Ambil sapu dan kemoceng*
Exit door is the most obvious door with a sign. It is so easy to quit.


Impian semua BuMil

Buat ibu-ibu hamil, kayanya nggak 'klop' kalau belum browsing-browsing stroller ya. Bisa dipastikan hampir semua ibu-ibu hamil pengen beli stroller. Karena emang lucu-lucu banget bentuknya. Dan stroller itu jadi seringkali jadi simbol status sosial kalo kita lagi jalan-jalan ke mall. Ya, kan? Coba aja, kalau liat ibu-ibu strolling Maxi Cosy stroller, minimal tasnya Kate Spade deh hihihihihi....

Begitu juga dengan aku. Belum apa-apa, yang diliat-liat itu adalah stroller. Belum juga hamilnya keliatan membuncit, udah sibuuuk aja browsing-browsing belanja online atau mampir ke Mothercare buat liat-liat stroller. Bahkan, sampai rajin banget baca review merk apa yang paling OK.
Sampai-sampai aku punya kriteria stroller OK sendiri:
1. Bisa 2 muka, menghadap atau membelakangi si pendorong.
2. Yang ringan dan mudah dilipat. Supaya, kalau pergi sendiri nggak repot.
3. Modelnya ringkes tapi bisa mulai dari umur 0 sampai 3 tahunan.
4. Kalau ada bonus infant car seat, wah itu bisa jadi added value banget
5. Nah ini, last but not least, ... the price!

Betapa lucunya stroller-stroller itu, sampai kita kadang nggak peduli bahwa stroller yang rodanya besar dan biasanya cuma terdiri atas 3 roda itu sebenarnya didisain untuk country strolling alias jalan-jalan di daerah berbatu atau kasar. Jadi, nggak cocok kalau dibawanya ke Mall.

Kadang, eh... sering deeeeeeh, ujung-ujungnya stroller dipakai untuk naruh barang dan didorong oleh baby sitter. Bayinya? Ya tentu lagi digendong sama ibunya. Lebih nyaman, lebih interaktif, lebih empuk, sehingga waktu mau ditaruh kembali ke stroller si bayinya nangis deh.
Akhirnya, stroller itu cuma jadi trolley buat naro barang belanjaan.

Nah, sebenarnya stroller ini ternyata agak kurang berguna buat aku. Karena jarang jalan-jalan juga sih hehehe. Berdasarkan pengalaman anak pertama yang enggak mau ditaruh di stroller, akhirnya sekalinya jalan-jalan pun jarang sekali bawa stroller. Ditambah lagi, saya suka merasa geli sendiri kalau melihat anak sudah besar dan sudah bisa jalan tapi masih aja didorong-dorong di kereta bayi.

Akhirnya, stroller pun dengan cepat berpindah tangan kepada yang lebih membutuhkan. Dan Malicca, untungnya dia lebih suka jalan kaki. Kalau udah capek, nggak ada deh tuh gendong-gendong. Mending pulang aja.

Buat aku, berdasarkan pengalaman juga sih, yang justru sangat berguna adalah carseat. Sampai Malicca umur 3 tahun, carseat itu masih terpakai. Banyak orang yang bilang "Tapi anakku enggak mau didudukin di carseat. Gimana dong?" Ya, ... kalau dibiasainnya umur setahun sih jelas-jelas anaknya pasti enggak mau ya. Tapi coba kalau udah dibiasain sejak lahir. Karena itu, kalau bisa nemu carseat yang bisa recline, bisa untuk newborn sampai berat 18 kg, rasanya kaya dapet arisan!

Etapi yah... tetep loh di hamil kali ini aku punya stroller impian yang cocoooook sekali dengan kriteria saya. Tadaaaaaaa.... the all in one stroller for infant to toddler :) Sayangnya, harganya tidak sesuai dengan kriteria aku :)


I miss those

I used to think that I am one of those people who cannot travel alone. Including hanging out to a mall. But then, I tried. I still remember when it was. Right after I finished my violin class on my second year of college. I brought my violin and went to Kinokuniya bookstore, alone.

Amazingly, I felt enjoyed.

Where was the scary feeling?
Where was the awkward feeling when crowds looked at me as if they were thinking something bad about me?
Where was the uneasy feeling of having something unplanned?
Where was the worry?

I did not know why, and how, but they were all gone.
Of course there was a little bit of uneasy feeling. First cut is always the deepest.
But I managed it.

Up to this moment, I am still think that way. That I cannot go alone. But then, life shoves me down my throat to get this life alone, sometimes. Many times, to be exact. Started from a must I travel alone for work, or when things turn solo for me.

Now, it has been a while since I last travel alone or juggle the life solo.
Not that I am not grateful of having my family and spouse around, but honestly I kinda miss those solo moment. Specially the solo traveling part. Because sometimes, I found my hidden self when I travel alone. I felt rejuvenated. I felt blessed of having people around me. I felt glad I met strangers and asked their help to take a photo of me and asked for directions. I was never really alone.

... yea, I miss those.

Anyways,
maybe its time for me to share and give-in to merge myself into others.
Maybe I had enough time dingled-dangled life all by myself.
Maybe I had those moments of me-time in an amazing wonderland, in winter, in the desert, in a turbulence and stormy flight that made me say God's name thousand times.

Yet still I think "I want to be alone" is the biggest lie in the world.



Storm
Quiet lake
Bright lights
Fajr.
Groomed to be my travel buddy
Me and my little travel buddy going down town
No stroller for the little traveller





A day in a copywriter's life


Dari atas sini, terlihat seorang istri yang sedang memasak tumis dengan penuh antusias. Minyak yang menggolak panas siap menggoseng irisan bawang merah dan bawang putih. Lalu dimasukkannya irisan terasi dan potongan sayur yang sudah dicuci bersih.

“Cih, ... tumis kangkung?!!! Dulu juga aku masak itu.” 

Tiba-tiba terdengar suara wanita lain yang membathin.

“Semua sudah kulakukan untuk masak yang terbaik bagi keluarga. Tapi apa hasilnya?” 

Lanjut wanita itu lagi.

Tiba-tiba wanita yang sedang sibuk memasak itu mengeluarkan satu bungkus bumbu masak ke dalam wajan.

“Apa itu? Bumbu masak Surius? ah... kenapa aku tidak pernah tahu rahasia itu! Ah, seandainya saja aku pakai, mungkin lain lagi ceritanya. aku pasti bisa menjadi istri yang lebih baik. Ibu yang lebih dicintai anak-anak.” 

Kata suara hati itu kembali bergumam.

Camera berputar arah, ternyata yang berbicara adalah seekor cicak yang sedang mengamati seorang Ibu yang sedang memasak di dapur.

Ibu Cicak itu pun kemudian menatap dengan nanar. Tak terasa air mata jatuh di pelupuk matanya.

Tiba-tiba, di dinding terlihat satu ekor cicak lain yang merayap menghampiri cicak pertama

“Istriku!” 

Kata cicak ke dua.

Serta merta cicak pertama terkaget-kaget melihat cicak ke dua. Tak ayal lagi, cicak ke dua segera menghampiri cicak pertama dan memeluknya.

“Suamiku! Demi apa, kita bertemu kembali? Maafkan aku, suamiku. Seharusnya aku bisa memasak lebih enak untukmu dan anak-anak di kehidupanku yang lalu."

Kata Ibu Cicak.

“Maafkan aku juga yang selalu mencela masakanmu.”

Kata Bapak Cicak.

Dan kedua cicak itu pun menangis terharu sambil berpelukan, menyaksikan kebahagiaan keluarga di bawah yang bersuka-cita dengan tumis kangkung mereka. 


Muncullah packshot. Lalu slogan. Tipikal. 

Hujan malam ini


Rintik yang meniti detik
Titik-titik yang menggenjot tirai malam,
Menyelimuti dunia dengan dinginnya
Dan menggelitik dengan embunnya, titik demi titik

Apa yang paling menyenangkan dari hujan? Untukku, saat bulirnya pertama kali menapak tanah lalu menyerap dan menguap membawa serta bau tanah dan rerumputan. Ingin rasanya mengumpul harumnya dalam botol, menutup lalu mendistilasinya. Akan kuhirup baunya, di suatu saat dimana aku rindu.

Waktu kecil, aku senang bermandi hujan. Berlari dan menari di tengahnya dan menengadah sambil memejam. Terasa bulir-bulir menjatuhi muka lalu perlahan menggelosor ke sela kaos dan celana dalam. Dingin. Satu-satunya cara untuk tetap hangat adalah dengan terus bergerak. Tertawa. Berbecek-becek menyiprat-cipratkan lumpur ke sekeliling. Hingga akhirnya mama memanggil dan menyuruhku mandi. Oh, tidak perlu air panas. Satu lagi yang menjadi kesukaanku. Setelah berhujan-hujan, air bak mandi pasti terasa hangat. Lalu kuguyur tubuh kecilku banyak-banyak.

Kebiasaanku menyambut hujan berubah saat remaja. Kini aku lebih suka menunggunya di teras rumah. Menunggu hujan angin yang kemudian menyapukan butir-butir air lembut ke wajahku. Lalu aku akan memejam, merasakan bajuku yang mulai lembab. Kemudian kuyup. Lalu kembali aku mandi dan menggelung di dalam selimut.

Satu dekade kemudian, aku lebih suka menyambut hujan dengan seseorang. Berdansa di tengahnya sambil mendengarkan musik kecil dari benang-benang putih yang merasuki telinga. Lalu aku akan mengalungkan tanganku ke lehernya dan menunggunya menciumku. Atau, aku menciumnya. Tak masalah.

Stop. Tidak pernah kejadian.

Pertama, karena tidak ada yang rela iPodnya kehujanan.
Ke dua, karena malu dilihat orang.
Ke tiga, takut ketagihan.

Heran betapa cepat aku menua. Karena kali ini, di usia ini, di malam ini, di detik ini, yang aku inginkan di saat hujan malam ini adalah bercerita. Kepada mereka, mahluk-mahluk kecil yang tak berdosa. Yang akan bergelung, berpasang-pasang kaki saling menumpang dan menindih dalam satu selimut besar bermotif kotak-kotak dan terbuat dari kain flannel. Lalu aku bercerita, tentang aku, tentang kakek nenek mereka, tentang kamu, tentang mereka, tentang mengapa kita semua di sini. Tentang apa saja.

Itu yang kuinginkan untuk hujan malam ini.

Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...