Nah, misal nih…
kita dalam kondisi kepepet, lagi laper banget lah, udah gemeter tuh badan, asam lambung juga dah naik, perih nahan laper.
Ditengah kondisi seperti itu, biasanya kita udah nggak peduli mau makan apa, bahkan kalau ada nasi doang pun, udah lah kita makan.
Di kondisi “last minute” gitu nggak akan lagi kepikiran buat pesen steak, pasta ataupun nasi goreng. Kenapa? karena itu butuh waktu lama buat masaknya dan lebih susah dapetnya.
Kalau kita udah mau telat untuk ke kampus atau ke tempat kerja misalnya. Biasanya udah nggak peduli naik apa berangkatnya, pokoknya cari yang paling cepet, adanya apa aja. Meskipun bisa dan nyaman naik mobil, tapi kalau itu butuh waktu yang lama dan bikin kita telat, yaa mending jalan kaki atau lari jika itu bisa lebih cepat.
Nabi Zakariya di usia yang setua itu, aku tuh sempat mikir bahwa doa beliau tuh,
“Yaa Allah, kasih hamba anak, apa aja deh, terserah Engkau anaknya kayak apa, yang penting aku punya anak, pokoknya punya anak, daripada enggak.”
Tapi nyatanya, Nabi Zakariya enggak men-downgrade doanya, tetap teguh dengan kriteria anak yang diminta, “Yaa Allah anugerahilah hamba anak, bukan sekedar anak, tapi anak yang radhiyyan, yang Engkau ridhai” tetap minta yang terbaik, bukan adanya apa.
Jangan pernah menyerah, meskipun itu dalam doa kita kepada Allah
Sebab tak jarang dalam doa tuh kayak udah, “Yaa Allah, apa aja deh, yang penting jadi, yang penting selesai.”
Ketika ujian sekolah misalnya, “yaa Allah nilai berapa aja deh, yang penting lulus.”
Ketika nyari kerja, “yaa Allah kerja apa aja deh, yang penting kerja dapet duit.”
Ketika belum nikah, “yaa Allah siapa aja boleh deh, yang penting aku nikah tahun ini.”
Ketika bimbing istri, “yaa Allah terserah Engkau aja deh, dah capek aku bilangin nya”
Ketika ngurus anak, “yaa Allah, dah nyerah aku ngurus ini anak, dah nggak tau gimana lagi, capek.”
Kita belajar dari Nabi Zakariyya ‘alaihissalam, jangan pernah downgrade doa kita. Kita sedang berhadapan dengan Allah Yang Maha Segalanya, lantas kenapa kita meminta seadanya, adanya apa. Bukankah itu seolah kayak ngremehin Allah banget.
Itulah kenapa Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam mengingatkan kita,
فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الجَنَّةِ، وَأَعْلَى الجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الجَنَّةِ
“Jika kalian meminta sesuatu kepada Allah, mintalah (surga) Firdaus. Karena surga Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy (milik) Ar-Rahman, darinya mengalirlah sungai-sungai surga.”
(HR. Bukhari no. 7423)
Jangan kita berdoa, “yaa Allah surga apa aja deh, yang penting masuk surga” wehh jangan.
Langsung aja gasss minta surga firdaus.
Maa syaa Allah...
Menjadi muslim itu keren banget nggak sih? Kita itu diajarin untuk selalu optimis, bahkan dalam konteks doa sekalipun. 
Jangan sesekali merendahkan mimpimu,
langitkanlah mimpimu hingga ia diijabah oleh Pemilik Langit.
No comments:
Post a Comment