Showing posts with label #MaliccaMomment. Show all posts
Showing posts with label #MaliccaMomment. Show all posts

titanica system

dulu, jaman-jaman baru kerja di advertising barang tiga tahunan, selalu muak sama insight yang satu ini: bahwa, orang tua akan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.
yang ada di kepala pada saat itu tuh, ya: planner gak kreatif. klien yang cliche. basiiii, semua juga tauuuuuuu! nah, sekarang, setelah sekian belas tahun di advertising dan hampir satu dekade jadi ibu, mulai sadar sama arti preposisi itu dengan sejleb-jlebnya. dan hal itu udah bukan insight lagi. tapi fakta.

soal mengusahakan yang terbaik tuh lagi kejadian banget nih sama aku dan titan. cuma masalahnya, kalau anaknya yang ngadepin sebuah masalah; apa iya kita orang tuanya yang harus mengusahakan yang terbaik? kan enggak gitu ya.
setiap anak pasti punya masalah deh. jangan percaya sama postingan ibu-ibu yang isinya cuma ngepost hal-hal baik aja dari anaknya. jadi, kangan sedih kalau menjelang pre-teens gini masalah-masalah 'pelik' mulai bermunculan. kenapa pelik? karena, seringkali, target operasi kita enggak merasa bahwa mereka punya masalah ha ha ha!

jadi, sebenarnya apa sih masalahnya?  

gini. i know ini salah gue juga sih, membiarkan anak-anak kurang disiplin. selama ini kita (orang rumah) selalu ribut dengan kebiasaan titan yang nggak teratur. mulai dari perlengkapan perang dia yang ditinggalin dimana-mana mulai dari pena, tinta,  botol minum yang tak kembali, uang yang hilang bahkan sepatu aja bisa ketinggalan sebelah di mall dan tas kumon aja bisa hilang enggak bisa di-trace ada dimana ... d'oooooooh!

dan yang bikin makin rumit adalah; si anak tidak pernah merasa bahwa semua itu adalah problem. buat dia, harus bertelanjang kaki muter-muter mall (karena sepatunya ilang satu) was fine. tenang-tenang, ketinggalannya bukan karena dia lenggang kangkung sepatunya copot trus dia diem-diem aja ya. my son is not that stupid to do that hahaha ... tapi, karena dia mau duduk di stroller. sepatunya, dicopot dulu sebelum dia naik stroller ... tapi lupa diambil hahahaha. berasa masuk masjid, mungkin.

nah, cukup soal sepatu hilang di mall. kali ini problemnya sangat serius. kemarin saat PSTC (parents student and teacher conference) aku a.k.a bundanya syiok banget saat gurunya mengungkapkan bahwa titan menghilangkan project-log 1 term yang mengakibatkan bu guru harus menurunkan point nilai di rapor. emaknya udah spaneng, anak masih senyum-senyum aja. clearly that this little guy has no problem with that, miss. sementara bundanya udah tergerih-gerih pisau rasanya sementara muka pasti udah merah kaya kepiting rebus saking malunya. nanti dikira enggak ngurusin anak pun. huft

menurut gurunya, titan ini pelupa. mungkin ada benernya, walau judgement dari kita orang tuanya lebih sadis: simply nggak bertanggung jawab aja. 

anak ini memang karakternya nggak mempan dikasih reward / punishment. titan itu tipe yang menghindari resiko. jadi, kalau belum ada resiko nabrak sesuatu di depan mata seperti titanic yang menabrak gunung es, maka dia akan santai-santai aja. akan terus berlayar di sepoi-sepoi angin sampai akhirnya ketiduran.

tapi kan enggak semua resiko terlihat ya. kalau masalah enggak naik kelas, masih bisa diulang di tahun setelahnya (walaupun ini juga pasti bikin gue nangis kalo inget bayarannya sih yaaa). tapi dalam hidup, ada kalanya, saat kita bertabrakan dengan resiko; kita enggak bisa kembali dan harus rela kehilangan. nah, rela menerima kehilangan kan pembelajaran yang beda lagi deh. seumur hidup belajarnya. 

so, beberapa waktu yang lalu, kita ngobrol berdua. terutama soal cara belajar yang paling efektif buat titan. kita ngebahas lagu atau percakapan dalam film yang dia hafal dari awal sampe akhir. kita ngebahas kumon yang dulu dia nangis-nangis ngerjainnya dan sekarang merasa terbantu banget. 

akhirnya kita menyimpulkan bahwa cara belajar buat Titan yang paling efektif adalah dengan cara repetisi dan menstimulasi dengan audio/visual. nonton film UP lalu menggambar rumahnya berkali-kali, berhari-hari sampai bertahun-tahun melukis dengan tema yang sama.
Nonton film Titanic dan menggambar kapalnya sampai beberapa versi mulai dari titanic, britannic dan lusitania. semuanya karena dia selalu looping film, lagu dan buku yang dia suka.
anak ini memang bukan tipe yang punya photographic memory. tapi memorynya harus terbentuk perlahan secara reguler. intinya: repetisi.
leganya, drilling kumon yang harus dia kerjain setiap hari itu ternyata adalah salah satu metode belajar yang cocok buat dia. karena anak ini, bukan tipe yang kalau bosan akan melarikan diri. tapi terus dikerjain walau nggak tahu akan berakhir kemana. the good thing is, anak ini tekun. kuat ditempa berbagai kondisi.

soal pelupa? nah, yang satu ini juga kita bahas kemarin. kita bahas anatomi tubuh manusia yang paling penting: otak. kita ngobrol soal neuron-neuron di otak itu semakin tua semakin dikit yang akan saling tersambung, beda kaya waktu kita kecil sebesar luna. semua dipikirin, semua ditanyain. kalau sudah tua, udah malas mikir dan akhirnya yang menebal itu bagian yang itu-itu aja. akhirnya titan mengerti deh kenapa dia tipe pembelajar repetisi, karena memang cara kerja otak pun seperti itu. kalau bagian titan lupa naro barang dimana, pasti karena bagian itu enggak tebal. jadi solusinya, harus berlatih naro barang dan jadwal yang lebih teratur untuk diulang-ulang terus setiap hari. 

untuk bisa melakukan semua itu, titan harus dibantu dengan visual. karena memang ternyata anaknya audio-visual banget. akhirnya kita berdua menemukan sistem supaya enggak ada lagi pekerjaan sekolah yang tertinggal, enggak ada lagi barang yang hilang. 

selain sistemnya itu sendiri, kemaren kita juga bahas bagian yang paling penting dari sistem: yaitu kemauan / motivasi yang dikendalikan oleh otak untuk menjalani sistem itu. mau sistem paling canggih, kalau kita enggak mau ngejalaninnya ya sama aja.

untuk memotivasi titan lebih semangat, kita sepakat untuk membuat logo korporasi. karena sistemnya milik titan, maka logonya pun ya logo titan. perusahaan milik titan. namanya titanica. taglinenya: everything is possible. 

alhamdulillah, dua minggu pertama sejak sistem ini launching semuanya berjalan lancar. enggak ada project yang tertinggal, bahkan beberapa project diselesaikan sebelum deadlinenya.

semoga, solusi kali ini membuahkan hasil maksimal ya. enggak mentok lagi di tengah jalan seperti yang lalu-lalu ha ha ha
semangat terus ya, nak. semoga, di masa depan nanti, kalau bunda udah nggak bisa bantu; kamu bisa bantu diri sendiri cari solusi untuk semua masalah kamu :)





bantu otak untuk mengigat  pekerjaan dengan mengelompokkan pekerjaan dalam bindex



detail pekerjaan enggak perlu diingat, ditulis aja di job order. ingat yang penting-penting aja





kalau semua harus diingat ya pasti lupa. ditulis aja di memo kecil yang dibawa kemana-mana



everything has a home. coba kalau diulang terus naronya di sini, pasti nggak hilang 












Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess they made today, somehow relieved me. As I cleaned them up, I felt like taking a detour of what happened today. As if I was there with them, and those are the reasons why I am smiling though I felt sleepy and tired.

"Sorry babies, I was three hours late. I will make up some other time."







october.

october is still in the beginning. it was wet and i could smell the fresh smell of the grass, even if it was not raining. october  used to be my favorite month. it was autumn, it was dry and the cold breeze can easily breaks my nose membrane and i got nose bleed. the day i found you.

it has been years ago. now i feel october in new breeze. this time, october felt a bit rush.

earliest october was the day of a mega pitch. three pitch presentations in a day. it was like our blood and flesh were torn apart preparing the whole things. one of the pitches was also one of the backbone clients, that also brought the feeling of having the pitch felt like a burden. i could not imagine how many cut offs there would be if we lose.

the second day, was also one of the biggest day for my son and also for me. the day my one and only son got circumcised. at his 9 years of age, he decided to surrender himself to one of the deepest pain in life. his cry resembled the day he lost his eyang and also resembled the night he missed his father when there were just the two of us. i took a hold on him. i hugged him tight and looked deep into his eyes. telling him to be patient and how proud i am to have such a brave kid like him. i could not see what the doctor did to his thing, i prefered to look just into his eyes. from the beginning to the end.

the eleventh day, would also be one of the big day. having a kid went to school everyday was already such a production. i just could imagine having two. but yes, i will.
little luna could wait to go to school. the day we got the acceptance letter, the swimming bag, the t-shirt, she wore them all together and handed out the letter i needed to sign. what would happen next, i could imagine. would she get cranky, would the separation anxiety rise, would she refused to have breakfast, would there be another imaginary friend coming out as a self defense just like titan did, would there be a problem since she is a kind of aggressive girl. oh boy, i really could not imagine.

i hope everything would be just fine. another steps to be a better mom, better parent and a better me.
bismillah.

sorry.

dear titan, 

one day when you were 9 years old, i found this letter at the office. 
you put it in between my laptop. 
i startled. 
i felt ... sad. 

if only you knew, 
every mothers in the whole wide world will always forgive their children. 
so that they won't have to ask forgiveness again and again. 
so that they won't have to kneeled-down just to ask one. 

as much as mothers will want you to learn from your mistakes, 
we don't really want you to make ones. 
because your mistake means our failure in raising you. 

but all in all, 
i am proud of you. 
it is not easy to ask forgiveness.
but i somehow know, 
your forever-child-heart will make you one of the most courageous man alive. 

love you, 
you know i always do. 




It hurts, son.

What do you see when you see your child?

I can still remember his first cry.
Soft and weak, I almost lost my breath when I kissed him the first time.
He was the one who saved my life, one day in a misty night.
I can still remember how he got stuttered when I taught him how to read.
The feeling when he gave me little flowers, those he found on his evening walk.
The first time he led a prayer.
How he was proud of me and showed it off to his school friends.
How I see big things sparkling in his eyes, those times when everything is big things.

But then that day came.
The day I never thought it would happen soon.
The day he deceived me.

It did not take long for me to realize he is lying.
But I must say he is good.
Everyone is good when it is about self defense, aren't they?
And seeing that, I cannot tell how hurt I was.

"I am your mother, how could you lie to me?"
"I should be the one who protects you, why are you protecting yourself from your protector?"
"Where did you get the idea from? Did you pick it from me to be the best liar?"
Those were what comes to mind but I did not utter.

There I realize that my baby boy has all grown up in another step.
He is completely human with his shields to protect himself.
My little guy he is.
He is not an angel, afterall.


Malicca, you learnt best to survive by lying at the age of 8 years and 9 months.

The hardest part

Ngerasain sakitnya kontraksi 26 jam, checked.
Ngerasain dikhianatin, checked.
Ngerasain ditinggalin, checked.
Ngerasain dibohongin anak sendiri, trust me it hurtssss! (walaupun cuma soal kecil), checked.

Satu momen yang paling susah buat saya, dan mungkin juga para ibu lainnya, adalah memberitakan sebuah kematian pada anak. Apalagi kalau yang meninggal itu tak lain adalah keluarga dekat.

Eyangnya Titan memang sudah agak lama dirawat di rumah sakit. Kita sempat menjenguk beberapa kali. Salah satunya hari kamis itu. Sebuah telfon memberitakan keadaan kritis eyang. Air mata langsung menetes sambil bergumam "Yah, bapak...."

Ternyata, aku kalau lagi panik begitu benar-benar enggak bisa mikir. Totally blank. Segera menelfon taksi dan ke sekolah untuk jemput Titan. Sampai di ruang administrasi pun mata masih basah dan mulut masih terbata-bata memberitakan "Mau jemput Malicca, 2/3 B, family issue. Eyangnya koma."
Petugas administrasi pun langsung berubah air mukanya. Langsung ditelfon sang wali kelas dan saya pun berhambur ke lantai dua untuk segera menjemput. Sampai di ruang kelas, ternyata titan masih sholat.

Di taksi, Titan masih ngoceh panjang kali tinggi kali lebar. Sementara mata udah sembab banget, mau ngomong juga susah. Akhirnya, saya ngomong juga.

Titan, you know that eyang is sick right?
Well, today we are going to see him because his condition got worse. We don't know whether he will survive or not. But we have to be there to see him. To pray for him and to give him a great spirit to live and we need to be ready for the worst. 

Iya, ngomong serius itu emang lebih enak pakai bahasa inggris ya.
Lebih  singkat dan rasanya enggak sakit-sakit amat.

Titan cuma diam. Alih alih dia malah bertanya, kenapa orang menciptakan rokok. Kenapa orang harus merokok. Dan saya malah menjelaskan bagaiman sejarahnya ditemukan teh oleh kaisar Cina. Mungkin, mungkin ya, itu cara kami menutupi kesedihan.

Sesampainya di rumah sakit, Titan langsung sibuk bermain dengan ayahnya. Somehow, tanpa harus dikatakan, mereka  sedang berbagi sedih. Saling berada bersisian tampaknya sudah menjadi semangat besar buat keduanya.

Dua hari kemudian. Berita itu datang.

"Maafin bapak ya. He is in a better place now."

Tidak seperti dua hari yang lalu, kali ini aku enggak bisa nangis. Sibuk memikirkan bagaimana caranya ngasih tau Titan. Kebetulan Titan lagi ngaji, jadi aku punya waktu agak banyak untuk berpikir. Rencananya kami memang mau ke Rumah Sakit lagi sore ini untuk jenguk eyang. Tapi ternyata kami malah harus ke rumah duka.

Setelah ngaji, Titan bersiap-siap untuk mandi. Dia tahu, dia mau pergi ke rumah sakit dan kelihatan enggak sabar. Akhirnya, saya hampiri dia. Mungkin ini saat yang tepat. Buat saya, berada di bawah pancuran yang hangat bisa mengangkat luka dan pedih di hati walaupun sedikit. Jadi saya pikir, mungkin hal ini juga bisa berlaku buat titan. Sambil melucuti bajunya, saya peluk dia kuat-kuat.

"Titan, kita perginya enggak jadi ke rumah sakit tapi ke rumah eyang di depok. Karena eyang sudah  pulang ke rumah. Eyang udah enggak ada, Tan. Eyang sudah meninggal. Titan sabar ya."

Titan cuma mengangguk.

Saya lalu keluar kamar mandi membiarkan dia sendiri.
Kok aneh, responnya cuma gitu aja. Pikir saya.

Lalu kita pun berangkat ke rumah duka. Sampai sana saya ajak titan berdoa. Neni (neneknya) mengajak titan untuk melihat wajah eyang untuk terakhir kalinya. Untuk sesaat, tenggorokan saya tercekat.  Tiba-tiba semua gambar berlari mundur di kepala saya. Untung sahabat kami, Tata dan Patria datang dan saya pun teralih.

Sampai rumah, saya menemani Titan tidur. Hanya kami berdua di kamar. Lalu saya bertanya.
"Kenapa Titan enggak menangis? It's okay to cry. I am sad too."

Seketika itu tangis saya meledak. Juga dia. Kami menangis bersama, berpelukan.
Ada rasa sesal, rasa sedih, dan berjuta ingin yang menyembur dari hati.
Kepala Titan ajrut-ajrutan di dada saya yang memeluknya dengan erat.
Enggak banyak ngomong, kamu berdua cuma menangis.
Setelah itu, titan tampak lebih tenang. Lalu ia tertidur.
Saya buka halaman-halaman buku sketchnya. Terpampang gambar eyang, beserta tanggalnya. Sepertinya, digambar sore tadi selepas mandi.

Detik itu saya menyadari, bahwa titan anak yang introvert.
Jauh dari bayangan saya selama ini, bahwa dia adalah anak yang terbuka dan easy going.

*Peluk Titan*


Bulan november kali ini terlalu basah



"Jadi orang tua itu, harus mau repot lho!"
-Dr. Waldi, Spa-




His Facebook status today. Of course, with a story behind it. 
The story of a parent who gave their son homeopathy sedative, because they think their son is hyperactive. Dr. Waldi thinks that the child have so much energy and his parents need to channel it instead of giving him sedatives. 

Jleb moment for me. 

I am too lazy to take Luna for a walk, everyday. 
I am too lazy to take her bounce a ball or ride a tricycle, every afternoon.
I prefer her to squeeze playdough and paint, everyday.
And so I can watch her under aircon, and so I could peep my mobile, and so I could play the music on, and so I don't need to make nonsense conversations with the neighbour. 

Oh, two years and I haven't been a better parent.

Maaf ya Titan, La Luna, bunda janji akan jadi lebih baik.
Dan lebih sabar.
Bear with me. 

The life itself is a magnet, son.

You may not remember this day. May I may too, that is why I choose to write it down for you.
Today, we had a chat on a very early breakfast. 6 am to be exact. So early because you are going for a field trip for your multicultural event.

I told you a story about our neighbour, and elderly grumpy grandpa. I saw him busy trying to hurt a cat with a bamboo. The bamboo got stuck on the bush, instead, he got distracted and tried to get his bamboo back. The cat ran away. As fast as he can.

You laughed hard and you said this.
"You ever told me that when you start your day with whirlwind, you will be upset for the rest of the day. Is it what is going to happen with that grandpa next door?"

"Maybe. I don't know. But yes, I believe that the life itself is magnet. This may not be scientific but I believe it is how our mind works. Your brain grows according to your mind. The nerves get connected one to another. When you think of good things, the good neurons will grow and connected with other good things neurons and they will effect your body then will effect your life."

He looked confused.

"Here is more example about the life itself is a magnet. When you do good to people, people will do good to you right?"

You nodded.

"When you are bad to people, they would do bad things to you too. Or, they do not want to play with you. Or they want to hit you back if you hit them."

"Oh yes, it happens." You responded.

"When you think you cannot do the math, you will not be able to do it."

"Oh, that is what happen to me all day hahahaha" you laughed bitterly.

"Try this. You ride your bike and think you will fall today. I think you will fall from your bike right away."

"Because I keep busy focussing on I might fall."

"Yes, that is right. I think you get the point. So from now on, just think of happy thoughts aja. That you can do things, that you are going places."

"Iya sih."

And he went off to school.

Vitamin Sea

Bubu pengen ngabisin cuti.
Luna lagi seneng nonton Ponyo.
Titan, masih juga keranjingan sama perahu.
Jadi rasanya memang tepat kalau tema liburan kita kali ini adalah P A N T A I

Awalnya, kita berencana untuk ke Belitung. Tapi ternyata setelah tanya-tanya, fasilitas water sport di sana masih kurang mumpuni dan island hoppingnya pun lumayan agak jauh, kurang cocok buat Luna yang masih umur 2 tahun dan takutnya panik saat naik perahu.

Pilihan ke dua sempet tanya-tanya ke roemah pulomanuk  yang ternyata punya si director iklan Isaac Wee. Udah sempat imel-imelan, tapi setelah dipikir-pikir, situasi pantai selatan terlalu hardcore buat anak-anak karena berbatu dan berkarang. Ombaknya yang besar pun lebih cocok untuk para surfer ketimbang bocah-bocah yang kangen laut.

Akhirnya, kita memutuskan untuk pergi ke Pulau Umang. Jauh sih naik mobilnya, tapi Luna bisa survive waktu road trip ke jawa tengah. So, perjalanan 6 jam kayanya sih bakalan aman-aman aja. Naik perahu ke pulaunya pun enggak lama, cuma sekitar 10 menit. Jadi cukup amanlah ya buat Luna dan kayanya cukup mengakomodir keinginan semua pihak. Bisa main pasir, bisa berenang, bisa mancing, bisa naik perahu, bisa water sport.

Dua hari setelah Luna sembuh, kita berangkat. Jam enam pagi dari rumah. Sengaja berangkat pagi supaya anak-anak masih bobo jadi bisa melanjutkan tidur di mobil. Selalu lebih aman begitu daripada nungguin mereka bangun, sarapan trus berangkat. Kemungkinan cranky lebih kecil kalau mereka berangkat tidur malam udah siap dengan baju pergi dan paginya kita angkut sama bantal-bantalnya ke mobil hahaha! Bagian belakang mobil pun sudah disulap jadi empuk dengan tumpukan bed cover.

Bener aja. Anak-anak mulai bangun jam sepuluhan saat kita sudah menembus Pandeglang. Bangun dengan segar lalu asyik ngemil arem-arem dan bloeder bekalan sambil lihat-lihat pemandangan.

Sampai di daerah Sumur sekitar jam 11. Sempat menunggu sebentar sebelum akhirnya kita menyeberang dengan motor boat. Untungnya lagi si pulau umang ini ada parking lot nya dan dijagain 24 jam sama security. Yah, nggak perlu khawatir lah ya.

Pulau Umang memang langitnya enggak sebiru Belitung. Tapi kalau untuk bawa anak-anak, buat saya sih cukup. Anak-anak juga happy banget. Bisa main pasir, bisa berburu kerang cantik, bisa melihat ikan-ikan lucu dari dermaga yang cuma 50 meter dari pantai. Luna juga kesampean liat 'Ponyo' dalam bentuk ubur-ubur mungil. Kita juga sempat main ke Pulau Oar juga yang letaknya bersebelahan dengan pulau Umang.

Untuk resortnya sendiri, maintenancenya memang sudah kendor. Tapi masih terlihat sisa-sisa kejayaan mereka. Agak sayang sih. Tapi buat saya selama ac masih OK dan ada water heater, itu udah cukup.

Buat biaya, kemarin kita dapat harga paket. Untuk 2 orang dewasa 1 anak dan 1 balita; kita kena sekitar 3,2 juta rupiah. Sudah termasuk makan 6 kali dan penjemputan kapal. Untuk trip ke pulau Oar, kita dikenakan harga 50.000 per orang dewasa dan 30.000 untuk anak (batita enggak dihitung). Untuk snorkling, 75.000 per orang.

Yang menyenangkan lagi adalah, stafnya ramah-ramah banget! Di hari keberangkatan kita rajin banget di SMS untuk update posisi, didoain semoga lancar dan juga diingetin untuk makan siang plus dikasih tau spot makan siang yang OK di perjalanan. Sampai di sana pun mereka memantau terus kegiatan kita dan setiap waktu makan kita pasti di SMS kalau makanannya sudah siap. Personal banget, ya. Dan kemarin itu kita beruntung banget memutuskan untuk pergi saat weekdays, karena begitu kita check out datanglah rombongan perusahaan sebanyak 150 orang ha ha ha!

Well, happy happy happy ... kapan-kapan mau kok balik lagi.

Settingannya cocok untuk honeymooners ya hahaha 

Rumahnya sebenarnya terlalu besar untuk kita ber-4 yang senengnya bobo usel-uselan 

Pulau Oar, the snorkeling spot

Sulit dikatakan Luna ngantuk atau khawatir

Kakak Titan's thingy. 

Belajar survival, bagaimana membuat api. 

Bikin kandang umang-umang. Pantes namanya pulau umang, banyak umang dimana-mana. 




Ada botol whiskey nyamperin, kita isilah dengan doa.  
Pulangnya mampir ke Mercu Suar di Carita




All in all, it was happiness for all. Setelah dipikir-pikir, kayanya ini trip liburan pertama yang isinya cuma kita berempat aja. Karena biasanya kalau jalan-jalan kita selalu ajakin aki-nini atau uwak dan ponakan-ponakan.

Ternyata, perlu juga sering-sering pergi liburan berempat aja.

This is my boy!


I am a blessed mother. 
Sometimes I am afraid that it is too much and I will expect so much more. 
Sometimes I am afraid I cannot bear the disappointment. 

I am raising such a gentle boy. 
The one who communicates really well since he was a toddler. 
The one who took care of me really really well when there was no one but just the two of us. 
The one who seals my mouth when he was being sarcastic, ... he got it from me. 

God knows how much the love I have for you. 



His poem last week

His poem this week

A little not in front of my door as he went off to school


Egos down

Nini cerita, sepulang sekolah tadi Aki langsung memeluk Titan.

"Titan, aki minta maaf ya semalam marah-marah ngajarin Titan. Abis Titan sih, kalau diajarin tuh yang fokus dong. Titan maafin aki, enggak?"

"Iya Ki, Titan maafin aki kok."


Selang beberapa waktu kemudian ... 


"Bunda, Titan udah temenan lagi sama aki."

"Oh ya?"

"Iya, aki sudah minta maaf sama Titan."

"O gitu, bagus dong. Trus Titan maafin enggak?"

"Iya dong, masa orang udah minta maaf enggak dimaafin."


Men of my life. How I love them. 



Just because

Alhamdulillah,
minggu ini Titan mulai privat mengaji.
Mainstream? Maybe.
Cliche? Maybe.
Rising a good child, guaranteed? Probably no.
Heaven, guaranteed? Definitely no.
But this is how I was raised,
and I am thankful I was raised this way.

Hopefully Titan is too.

Forgetting this, forgetting that. breaking this and breaking that.



A little note:
Need to set up a good example. So from this moment, since my kid starts reading my blog too, I need to write with the correct spelling, punctuation and capitalisation.

So help me God.


Okay.
Up to this moment, I am still observing what kind of type my kids are. Those who tend to avoid risks or those who has oriented with benefits. Surely two of the types need different approaches.
But along the way, my children easily swifts from one to another. So I got confused in giving the right approach and I became inconsistent. That happens quite often.

So, to us, while I am conveying myself what types my kids are, logical consequences still applies the best for them. There are always consequences behind our every actions.

What is bothering me a lot these days are how careless Titan is. I wonder why I did not notice this back then. Well, maybe I had always thought he is a little boy and I needed to remind him over and over. But now he is eight and he is physically looks pretty big on my eyes, reminding him over and over and he kept forgetting what I said is no longer funny. Not funny at all. It is like you kept saying the same thing to an alien. And the big questions arose: Until when? What if I die and nobody remind him anymore? Well, then I must make action.

Our family needs 1 kilogram of eggs every week. Many times, I ask Titan to buy at the nearest warung if we ran out the eggs out of my grocery schedule. About fourteen eggs in every kilograms, and he came back with only eight or ten. The rests have broken into pieces and so I need to wash all the eggs and keep them in the sun e few hours to dry up. It always happen and I kept asking him and no progress.
So what I did was, I talk to him. For every egg he breaks it is equal with the amount of the day when he cannot eat it. And he was the king of egg. For his french toast, for his scramble, for his telur dadar kornet. No naggings. I just tell him.

His iPod. The first generation of iPod touch and I gave it as his first birthday. He always left it somewhere, for it has gone for like ... four years and we managed to find it again. One night he left it at nini's house and went straight to sleep. I woke him up and tell him to get his iPod. I put it in the drawer and lock it and said he cannot use it for a month. No naggings. I just tell him.

His bike. He always put it wherever he likes and blocking other cars. What I did was, I called him to clean it and put it on the garage. Put a padlock and said he cannot use it for a week. No naggings. I just tell him.

His meal. He often ask for more menus I cook and left it unfinished. What I did was, He need to prepare his own meal for a week. No naggings. I just tell him.

The conclusion about careless kid is, that they need to be responsible of what they have done. And, parents need to be consistent and so they trust us. I know it is hard. Big time.


hukuman mati

another chat while we had dinner today.

"bunda, hukuman mati itu apa sih?" 

"ehm..." *ambil minum hampir keselek. "hukuman mati itu, adalah keputusan hukum yang dibuat oleh sebuah negara untuk menghukum seseorang sampai meninggal. ada yang ditembak mati, ada yang disuntik obat, ada yang dimasukin kamar gas. pokoknya, kasarnya, dibunuh sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan yang sudah dia lakukan. 

"tapi kan membunuh orang itu enggak boleh."

"kan tadi bunda bilang, ada negara yang membolehkan hal tersebut. kenapa, karena bentuk kesalahan yang dia lakukan sudah enggak termaafkan lagi."

"kenapa enggak termaafkan? kan kita harus memaafkan?"

"enggak termaafkan itu, biasanya kalau yang kita lakukan itu sudah terlanjur merusak hidup orang lain dan enggak bisa balik lagi." 

"ya tapi tetep kita enggak boleh bunuh orang dan harus memaafkan." 

"ya, itu ada benarnya juga sih nak." 

*untung bubunya cepat datang. dan pembicaraan beralih. yeay!*

selamat datang kelas tiga!

enggak terasa si bocah udah naik ke kelas tiga. selama liburan kemarin, iya liburan yang 6 minggu itu, kita bikin kesepakatan-kesepakatan baru. quite big leaps, i guess.

issue pertama adalah matematika. subject dimana titan dan beberapa temennya harus dapat remedial untuk pelajaran yang satu ini. tahun kemarin titan memang dapet guru yang agak akademis banget. tapi untungnya juga baik hati banget yang mau ngasih kelas tambahan tanpa pungutan biaya. suka bagi makanan pula. tahun ini, belum tentu dapat guru yang sama sementara kebutuhan mempertajam logika matematika masih sama. so, ... kesepakatan pertama: ikut kumon.

dulu, suka ngetawain orang tua yang ambisius banget masukin anak-anaknya ke kumon. bayangan saya, mereka pengen banget punya anak-anak yang jago berhitung di luar kepala. tambah-tambahan, kali-kalian, memecah desimal dan ahli bilangan pecahan.

kasihan anaknya. pikir saya selama ini.

tapi hari ini. iya, hari ini. akhirnya saya mendaftarkan titan ke kumon *sound efek geledek di udara*
tentunya, sekali lagi, dengan persetujuan si anak. kumon ini rela diambil titan karena selain memang butuh tapi dia juga minta kumonnya diseimbangkan dengan ikutan art class with hadiprana di sekolah. after a deep thought yang juga diiringi dengan penghitungan mendalam soal dompet, ... "yaaa okelah." kata saya.

sebenernya udah lama saya 'beriklan' tentang les matematika ala jepang ini. tapi baru kali ini iklan saya mau dicoba. iya, dicoba. belum tentu jadi loyal customer. padahal ibunya dua belas tahun di dunia iklan *sound efek penonton ketawa*

saya selalu beranggapan bahwa yang namanya les itu harusnya untuk mempertajam apa yang sudah bagus. dalam hal ini, kemampuan bahasa inggris titan jauh lebih baik daripada kemampuan matematikanya. tapi sebaliknya, saya rasa ini juga momen yang tepat untuk mendorong kemampuan matematikanya itu karena rupanya titan juga mulai merasakan kebutuhan untuk perform lebih baik di bidang matematika. keputusan saya makin kuat saat saya ajak dia untuk placement test. saat gurunya bertanya "kenapa baru kumon sekarang?" titan menjawab "karena titan baru siap sekarang."

lega banget dengernya. dia mengerti kendala dia selama ini, mengerti perasaan dia terhadap matematika dan berani mengambil keputusan hari ini.

trus, apa alasan saya mengambil langkah mainstream ini?

sebenernya jawabannya simpel. supaya titan disiplin berlatih. karena matematika itu masalah latihan, kok. dan disiplin adalah issue kita selama ini. kadang saya berpendapat sekolahnya terlalu loose, di satu sisi anak-anak terlalu dibebaskan untuk hal yang harusnya bisa didisiplinkan. dan kalau ibunya yang bertindak untuk melatih dia belajar matematika, selain anaknya juga suka kabur-kaburan ibunya juga (seringnya) capek ngejar-ngejar. akhirnya situasi jadi memanas, ibu jadi kesal anak pun tegang. walhasil pembelajaran jadi percuma. disitulah saya mulai berpikir bahwa saya dan titan butuh pihak lain yang memang expert di bidangnya.

sometimes a mother doesn't have to be everything.

lagian, setelah saya pikir-pikir, kumon juga ada bagusnya. bukan masalah kontennya. tapi sistemnya. enggak ada klasifikasi kelas dan bukan dengan metode guru menjelaskan di papan tulis, tapi ngerjain masing-masing level sesuai kemampuan masing-masing. belajar fokus karena harus mengerjakan sesuai tenggat waktu. enggak perlu menghafal, tapi karena sering melihat angkanya dan bolak-balik dikasih hal yang sama; pasti ada yang nempel. alah bisa karena biasa.

untuk art class, titan masih bingung mau ikut acrylic painting atau drawing with crayon. awalnya dia mau ikutan crayon, karena menurutnya gambarnya pengen lebih bagus lagi dan lebih variatif lagi topiknya. sementara, kalau melukis kan sering dilakukan di rumah. tapi entah kenapa hari ini tiba-tiba dia pengen gabung melukis acrylic.

issue berikutnya adalah physical education. lucu deh, dengan gayanya dia bercerita bahwa dia punya issue berat dengan pelajaran yang satu ini. "titan tuh bermasalah banget sama PE. kalau lari, enggak bisa bener larinya karena sepatunya kendor. harus dibetulin terus tapi strapnya enggak bisa kenceng." saya senyum-senyum. kesempatan yang baik untuk 'jualan' berlatih mengikat.
"kalau begitu, sudah waktunya titan pakai sepatu sport yang diikat. karena kalau diikat itu pasti lebih kencang. coba, kalau titan ice skating enggak ada kan sepatu yang pake velcro strap? semuanya diiket. nah, itu tuh supaya kenceng. tahun ini kita beli sepatu yang proper ya, dan titan musti belajar ngiket tali sepatu sendiri." lalu titan mengangguk yakin. dan ternyata, hanya dalam semalam dia sudah bisa menguasai cara mengikat tali sepatu sendiri. dia seneng banget! saya juga sih.

BIG YEAY banget untuk mengawali tahun ajaran baru kali ini:
bisa ngiket tali sepatu sendiri dan memutuskan untuk les kumon.

oh noooooo, tetiba bundanya mellow. anakku udah gede.

selamat datang kelas tiga! bismillah.







Spot On!

Hari kamis lalu, ada acara business day di sekolah titan. Biasa, event tahunan di akhir tahun ajaran. Kalau anak-anak sekolah lain lagi sibuk Ujian Kenaikan Kelas, di sekolah ini anak-anak sibuk membuka usaha sendiri mulai dari bikin surat izin buka usaha, presentasi permohonan dana, bikin materi promosi, bikin produk sampai jualan karya mereka dan membuat laporan pertanggung-jawaban pasca business day. Nah, semua rangkaian proses itulah yang jadi bahan penilaian guru. Tentu aja di dalamnya ada unsur materi pelajaran mereka.

Bundanya ini udah tahun ke tiga ikutan sibuk (sedikit, sih). Tapi tahun ini agak santai. Nyiapin barang juga enggak terlalu banyak, biar laku semua dan anak happy. Tahun ini hanya menyiapkan 10 buah handmade bookmark dan 10 gelas oreo float yang keduanya dibantuin titan dalam proses pembuatannya. Masih tetap ibunya yang hands - on sih, next year harus dia sendiri yang siapin ah!

Waktu di sekolah, saya enggak jalan-jalan ke kelas lain seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini mau fokus kegiatan di kelasnya aja. Belajar dari tahun lalu, perut jadi kemrekaan jalan-jalan ke kelas lain bela-beli berbagai makanan.

Saya ajak Luna. Kita duduk di pojokan sambil makan pudding. Saya perhatiin Titan yang lagi sibuk jaga di gerai stationary. Eh eh eh, kok dia mulai salah tingkah memunggungi barang dagangan ya? Bathin saya. O'ow, ternyata ada Neng Naira pujaan hati yang mendekat trus lagi asyik lihat-lihat barang. Saya senyum-senyum, penasaran pengen liat mukanya Titan. Kaya gimana, ya? Salting gak ya? Pikir saya.

Eh ternyata bener aja. Mukanya berubah jutek. Naira seperti nanya harga, yang dijawab dengan suruh liat sendiri harganya di daftar harga. Trus saat Naira memutuskan untuk membeli, Titan segera mencatat kodenya (membelakangi lagi cepat-cepat) dan memberikan kertas nota pembelian sambil tertunduk dan enggak senyum sama sekali.

Tiba-tiba dia nengok ke saya, dan saya tersenyum memberi semangat. Dia tiba-tiba tersenyum manis sekali, tapi kembali kecut ketika Naira menyodorkan uangnya.

Ya ampuuuun, lucu sekali! Saya enggak habisnya senyum-senyum melihat kelakuan anakku yang baru aja menginjak usia 8 tahun 20 hari yang lalu. And I was sooooo grateful to witness the moment.

Bunda seneng banget!

Tree House Project weekend #1


Kita sekeluarga hampir memiliki mimpi-mimpi yang sama. Misalnya aja,  teropong bintang. Ariawan masih ingat saya sudah menyebut-sebut soal pengen punya teropong bintang sejak SMA. Dan Titan, karena sejak awal memang diperkenalkan dengan semesta angkasa, dia juga pengen punya teropong bintang saat dia mengerti apa arti namanya. Buat saya sendiri, kadang mimpi ya cuma mimpi. Jarang dijadikan tujuan. Tapi setelah ada motivasi lebih seperti misalnya Titan mulai meminta dibelikan teropong, saya jadi lebih semangat untuk mewujudkan mimpi saya itu yang juga menjadi mimpi orang-orang yang saya sayang.

 Nah, begitu juga dengan rumah pohon. Saya pertama kali jatuh cinta dengan rumah pohon waktu jaman SD nonton Hansel and Gretel. Mungkin, berbeda dengan teman-teman saya yang lagi suka Barbie and everything glitter, saya langsung jatuh cinta sama compang-campingnya mereka dan indahnya gubug permen di tengah hutan. Not literally a tree house for sure. But I like the nuance. The ambience. Sayangnya, punya rumah di Jakarta enggak memungkinkan untuk bikin rumah pohon. Baru setelah ayah dipindahtugaskan ke Palembang dan rumah kami kebetulan memiliki dua pohon besar dan kolam ikan di bawahnya, kami punya platform di atas pohon. Sebenarnya platform itu juga bukan buat rumah pohon. Tapi saya suka duduk di sana, sharing sama monyet peliharaan kami ha ha ha!

Nah, kejadian berulang kembali di akhir tahun 2011 ketika Ariawan membuatkan rumah pohon di atas pohon mangga di belakang rumah. Tapi bentuknya masih enggak mumpuni walaupun lumayan banget bisa nampung kita bertiga nonton kembang api di akhir tahun itu. Sampai tiba-tiba pohon terserang semut rang-rang dan bikin kita bubar dan enggak pernah nginjak rumah pohon itu lagi sampai sekarang, di 2015.

Untungnya, fondasi utama penyanggah rumah pohon terbuat dari kayu besi yang enggak lekang dimakan panas dan hujan. Jadi, ketika Titan minta kado ulang tahun yang ke-8 berupa rumah pohon, Ariawan tinggal menambah fondasi dan memperpanjang ukuran rumah tersebut mengingat sudah ada La Luna dan besar kemungkinan untuk berebut space di atas sana.

So, tanpa rencana (seperti biasa mengandalkan mood yang sedang berkobar), pergilah ariawan ke tukang kayu dan memesan beberapa kayu kaso dan reng. Iya, mulai dari yang murah dulu deh ya. Nanti kalau prototype ini sudah jadi dan ada rejeki, kita ganti pakai kayu jati. Janji deh, Titan :)

Lalu mulai deh potong-potong dan serut-serut. Untuk projek ini Ariawan sengaja beli serutan kayu, maksudnya supaya setelah projek ini jadi kali-kali dia bisa lanjut bikinin saya stool di meja makan mungil kami hihihi ... amiiiiiiiin :)

Sayangnya, agak kurang perhitungan untuk kayu reng dan toko bangunan pun tutup di hari minggu. So, karena memang ngerjainnya bisanya hanya di hari sabtu dan minggu, lanjut lagi deh minggu depan. Untuk minggu ini, udah bagus banget karena sudah jadi platform utama dan kita udah bisa manjat-manjat. La Luna? Wah, bukan main dia senangnya. Enggak ada takut-takutnya berada di ketinggian tiga meter.

Masih banyak yang harus dilakukan. Pagar, bagaimana cara memanjat (kan nggak seru ya kalau pakai tangga) plus saya juga minta dibuatkan hammock yang membentang dari pohon ke tembok samping. Plus, ayunan tarzan. Dasar bunda banyak mau! Hahaha ...

Well, kita lihat aja ya gimana next step-nya. Sampai ketemu minggu depan!


Aki menyumbangkan kayu besi lagi dan ikut sibuk kordinasi
Hello, Me! Tetep ya bawa sapu buat bersih-bersih
Bocah lanang lagi menatap ke kejauhan
Uwak Ary si jago ngebor, Trust me, ngebor kayu besi itu enggak gampang!

Cah wedhok pengennya duduk-duduk di pinggir, bundanya sereeeeeem 

Another Whys

Titan:
Bunda, kenapa burungku ada kulitnya?

Bunda:
Bulu kali, maksudnya?

Titan:
Bukan kenny si burung kenari, burungku Nda. Itu tuuuh, nama lain dari ituuu.

Bunda:
Oh, ... hmmm kenapa memangnya? semua bagian tubuh kan ada kulitnya.

Titan:
Iya, tapi kenapa harus dibuatnya berlebih gitu sampe ujung-ujungnya? Kan nantinya harus disunat juga. Kenapa enggak usah dibuat aja sama Tuhan?

Bunda:
Oh, itu dibuat supaya bisa melindungi bagian dalamnya. Coba, kalau yang bagian dalam dipegang aja geli-geli sakit kan? Makanya dilindungi sampai ujungnya. Coba kalau enggak, nanti kejepit retsleting celana kaya apa sakitnya?

Titan:
Tapi kan nantinya harus disunat juga. Kebuka juga, dong.

Bunda:
Kalau itu, karena pada akhirnya orang suka malas ngebersihinnya. Banyak kotorannya, jadi disunat aja untuk alasan kesehatan.

Titan:
Kalau rajin dibersihin kaya Titan? Masih harus tetap sunat juga?

Bunda:
Iya dong, kamu nantinya kan tambah besar. Bunda enggak bisa terus menerus kontrol kebersihan burungmu itu, kan?

Titan:
Iya, sih.
Ooooh, ... tapi aku belum mau disunaaaaat!


One of our chit-chat before bed

Weekend Getaway


Well, I need to warn you that his post will be cheesy. 
You can stop now, or enjoy my cheesiness. And laugh on it. 


I forgot the last time I visited Bandung.
Maybe, four years ago; if I am not mistaken.
I came with a rumble heart.
I did not do much, and nothing could make me feel missing that town for the next couple of years.
Until last weekend.
When we had to, because of a wedding.

For me, it was more like becoming a chaperone for my parents who insisted to go to Bandung.
Sounds boring, I know.
But it turned out fun, for we treated it like having a holiday.

First thing first for a holiday is, that we all need to have fun. All happy & tired at the same level. Therefore, we decided not to take a car and let the tiredness goes to the driver (only).

Second first thing first is that we all need to explore, trying out new things we never had before. So we delisted the option of renting a car from Jakarta and decided to go by train. Afterall, four out of six people in the house never had the train experience to Bandung before.
Thanks to tiket.com, we finally managed to book the ticket for the long weekend. There was a bit mistake in booking the seats, that we (me, bubu, titan and la luna) went to different compartment with aki and nini. But hey, it turned out to be a bless. When La Luna and Titan got bored, they could walk around to visit aki and nini. Big yeay for Bunda. It is going to be my trick on travelling with toddlers.

Third first thing first for a holiday is that we all want comforts. Since we are six, we need to hire two cabs anyway. So, why don't we all seat together comfortably in an Alphard silver bird and watch the Mayday strike from the big window? The cost is slightly the same with the double blue bird. I feel like a winner for being luxurious and mreki at the same time.
In Bandung, there was a driver who had already waiting for us. He was a very good one. He took small streets and alley ways to avoid the hellish Bandung on weekend so we managed to keep track on our plans. Two thumbs up! You can have his number, just ask me.

Last but not least, that it is very important to make everybody happy. Elders got to the wedding, youngsters got to new places. Since our time was very limited, we could only go to Floating market. But kids got the climax for the holiday: the becak ride!

We were so happy! Tired, but yes ... happy.
The train ride was so exciting and there was a tour guide who told us about the ancient sites like Sasaksaat tunnel (the third longest train tunnel in the world) and Cisomang Bridge (the highest train bridge in Indonesia). The foods were so so, and the cleanliness was a bit poor. But it was okay for a tree hours ride. Still it hurt when the train reached Bekasi and we could start smelling the carbon monoxide.

It had been 17 months since our last holiday, a road trip to Yogya - Solo.
Now I am craving for more.








































ngurang-ngurangin kekurangan

titan:
bunda, semua orang punya kekurangan ya?

me:
iya.

titan:
kalo bunda kekurangannya apa?

me:
banyak. bunda ngga sabaran, banyak aturan, suka marah-marah, galak, gendut, ... apalagi ya. masih banyak sih.

titan:
kalau titan apa ya ... hmmm, titan itu belajarnya masih kurang, trus masih suka nggak dengerin bunda, apalagi ya nda?

me:
wah, bagus itu. berarti kamu sadar kekurangan kamu. itu penting, lho. enggak banyak orang, bahkan orang gede, yang tahu kekurangan mereka. kalau udah tau kurangnya apa, kan enak gimana nambahinnya supaya enggak kurang lagi.

titan:
iya juga ya, nda. kaya makan bakso gitu. kalau berasa kurang garem, tinggal tambah garem. gitu kan nda, ya?

me:
ah, pinter sekali anak bunda ini!


Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...