Yang serius, ngapa?

 “Kalau seseorang itu tidak bangun malam untuk shalat tahajjud, itu artinya dia sama sekali tidak serius dengan cita-citanya” ~ kata seorang guru. 

Pertanyaannya, kapan kita seriusan punya cita-cita? 

Aku yang sudah berusaha menuju 47 tahun ini kayanya udah lama gak punya cita-cita yang gimana-gimana. Padahal, semakin berusia harusnya cita-cita kita pun menjadi semakin besar dan semakin intangible. 

Giliran iya punya cita-cita, trus gak serius. Jadi perjalanannya jauh banget ya, sementara sekarang; punya cita-cita yang amat sangat kepengen banget aja tidak ada. 

Huftness. 

Padahal, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Bayangkan aja sebutir nasi di piring kita yang sudah menempuh perjalanan jauh mulai dari bibit, ditanam di sawah, tumbuh, diserang hama tapi bertahan, dipanen, disosoh kulitnya, dibersihkan, ditimbang per 5 kg, dikemas, dikirim dari tempatnya menuju jakarta. Lalu kita beli di supermarket, kita angkut, kita tempatkan di tempat beras, kita ambil cup demi cup, kita cuci dan masukkan ke rice cooker, sampai akhirnya terhidang di piring makan. 

“Yaa Rabb…

ketika sudah menjadi rezekiku,

ketika sudah Engkau tetapkan dia sebagai nikmatku,

 

begitu jauh dan lama prosesnya sebutir nasi ini,

Engkaupun datangkan dia kepadaku

 

maka jika sebutir nasih saja sudah Engkau tetapkan jalannya untuk datang kepadaku, bagaimana mungkin Engkau tidak tetapkan jodohku untuk datang kepadaku”

 

Salah satu cara agar kita bisa semakin merasakan bagaimana Allah menyayangi diri kita dalah dengann kita belajar untuk melihat yang ada disekeliling kita dengan kacamata iman.

 

Semuanya yang terjadi adalah kasih sayang Allah.

No comments:

Post a Comment

Putus asa aja, yuk!

  Ingat ini,  “Pintu langit itu akan terbuka, jika seluruh pintu dunia sudah tertutup.”   Berputus asa itu nggak selalu berarti berhenti ber...