BEING FORTY: A day with Mom

Walau rumah sebelahan; jarang-jarang aku menghabiskan waktu di rumah Mamah. Tapi hari itu, kita masak dan belanja bareng. Judulnya sih pengen masak ayam panggang, sekalian juga belajar dan mencuri resep ayam bakar andalan si Mamah.

Kangen juga rasanya. Dulu, tiap bulan Ramadhan, biasanya kita selalu duduk bareng untuk bikin kue. Kebiasaan ini terhenti baru-baru ini aja. Saat aku udah nemu vendor kue sehat dan enak, dan Mamah juga udah terlalu tua dan cepat merasa capek. Tinggal tradisi bikin cheese stick yang masih dipertahankan. Tapi biasanya itu lapaknya Mamah dan cucu-cucunya.

Hari itu, aku malah skip sana-sini selama proses masaknya. Karena, Mamah minta bantuin obatin anak kucing yang lagi flu dan sakit mata. Tapi karena itu juga waktu memasak jadi lebih lama dan di sela-sela itu, kita jadi cerita banyak. Bahkan cerita hal yang sudah setahun ini kupendam, akhirnya tumpah ruah juga. Mamah juga cerita hal-hal kecil antara dia dan si aki. Buat Mamah, hal-hal yang dia ceritain itu mengesalkan. Tapi buatku, cerita-cerita itu lucu sekali. Dan somehow, ... manis banget untuk dikenang.

Growing old together is not easy. 
But yet we should be grateful if we have someone to share our old days with. 

Kalau denger dari cerita-cerita Mamah soal si Bapak, kayanya dua-duanya tuh memang nggak merasa sudah tua. Ya iya sih, kita semua juga nggak ada yang sadar bahwa sudah tua. Rasanya masih muda dan masih sempurna paripurna. Padahal, pendengaran misalnya, mulai menurun. Saat si A teriak-teriak, hal itu tak lain adalah karena dia nggak bisa mendengar suaranya sendiri. Trus si B tersinggung, kenapa si A teriak-teriak dan nggak merasa salah. Karena si B udah sakit hati, gak kedengeran lagi tuh si A ngomong apa. Jadilah si A marah beneran, karena udah teriak-teriak kok si B bodoh banget sampai nggak paham maksudnya.

Hahaha ... blunder.

Misalnya lagi, cerita soal bau kaki. Si A complain karena si B bau kaki. Si B boro-boro sadar kakinya bau, jadi marah karena dituding jadi kaki bau. Padahal, semata-mata bau tidak sedap itu datang dari sela kaki dan kuku, yang mana karena sudah tua merunduk untuk mengeringkan kaki saja tidak bisa. Sendi-sendi rasanya kaku dan pernah suatu waktu spontan nunduk ambil mainan si cucu, eh malah syaraf punggung terjepit. Habis marah-marah soal bau kaki, lalu aku lihat mereka saling gosok-gosokan balsem karena hari sudah sore dan badan mulai ngilu.

Cerita Mamah masih belum berakhir. Kali ini soal rasa bosan. Bosan dengan ngilu-ngilu yang dirasakan, bosan minum obat, bosan dengan dia lagi dia lagi yang tampak di depan muka, bosan dengan hidup yang tidak lagi menawarkan hingar bingar, ... hidup di usia akhir tujuh puluhan dengan kondisi kesehatan dan keuangan yang biasa-biasa aja, ternyata cukup penuh tantangan. Giliran lagi sehat, dompetnya nggak sehat. Saat dompet sehat, badan nggak kuat.

Hahaha ... sabar. Tuhan akan mengabulkan, sayangnya seringkali tidak di waktu yang kita mau. 

 Mamah terlihat senang sekali saat saya masak bersama di dapurnya hari itu. Setelahnnya,  kita belanja bareng, tentu dengan ATM yang sudah diisiin anak-anaknya. Makin hepi deh dia.

Growing old is not easy, but there's always something we can smile at. 

Sehat selalu dan penuh berkah di usia senjamu ya aki, nini,
semoga aku senantiasa punya waktu dan rejeki untuk membahagiakanmu.

Life begins at forty





I have been thinking of a post about me hitting forty. I have been thinking it before birthday, during birthday, and now it has been 17 days after my fortieth birthday and I just have the mojo to write at this moment.

For my fortieth birthday,  I was planning of a solo getaway, of going umrah, of spending some nights with my girls, all of them is to celebrate the so called 'newly life'. But none of them ever happened. Yet.

Turned out, on the D day, I chose just to stay home and celebrated it with my family, in a simple restaurant. My celebration mood decreasing little by little as I hit April and Daddy got sick. Then I have to prepare my son for a national exam. Along with hubby's no sugar no carbs movement, I had to squeezed my brain to make a flourless sugarless birthday cake for him. All of these actually drenched my mood of birthday celebration. But I had no regrets at all. In contrary, I felt content.

Hubby tried to impress me by surprised cake and a gift I have been craving: mirrorless camera hahaha! I also got so many birthday wishes, my boss invited me and my team to his house and he made a homemade safron ice cream. He also gave me a little gift, a handmade leather brooch from middle east. I was beyond happy.

Today, when I was preparing myself to write this post, I stumbled upon a post I did three years ago: https://wulliewullie.blogspot.com/2015/08/fridate-with-girls.html and it got me thinking.

That I have been living a good life and a good path. Who would have thought that I could finally bought a branded handbag for mom within two years after I uploaded the post? Who would have thought that I would be able to take care and to be the bread winner for both my mom and dad on their old days? Who would have thought that I could take them to fancy dinners? That glorious life people perceived by hitting forties; I actually have achieved them before I was forty.

But now that I am being forty, I have another interpretation about which life of mine that's just begun.
It is the life of being more wise, speaking in a soft manner to my parents.
It is the life of realizing my authority upon their good life.
It is the moment when I saw my father cried, just like me in my twenties being broken-hearted.
It is the life of understanding my parents' disability because they got so much older.
It is the life of me accepting aching bones during too cold aircon.
It is the new life I will be facing from now on, and still I am very grateful.

Thank you dear Allah.
Thank you for loving me so much.

Eerie early


another April post,
not a nice one.
.
there was once you worried about my weight
and there was once i worried about my weight
and i still do
.
and look at me, dad
the love i have been searching now turns to handles on my hip
the sacs that has decided to be friend with gravity
the bags i have been craving and now are hanging right under my eyes
.
just at the time i have them all
the weight you want me to bear,
the love you want me to find,
the joyous fatty laugh that won't leave,
but strangely they make me worry about you
simply because you are just less heavy than i do
.
and here comes the time i am worry about you
i have become you

get well soon, pap.



Cinta itu, terkadang, adanya di perut

hulo!

gilaaaaa, sudah lama sekali nggak blogging. Much of people (I mean my friends) start podcasting and I am not so confident to do it, might as well let's go back to blog aja deh yaaaa. Udah lama juga nggak sharing, baru ada 2 post tahun ini. Oh my! Maaf ya teman-teman (ih, kaya banyak yang baca aja sih yaaa) hahaha....

so,
mau sharing apa kali ini?

hmmm,
sebenernya udah lama sih pengen cerita tentang aktivitas baru yang kira-kira berawal di bulan puasa tahun ini. Jadi memang baru beberapa bulan aja sih. Sampai akhirnya film Aruna dan Lidahnya released. Trus saya kecewa gitu sama filmnya. mungkin over expectation. secara ya, fans berat NS hehehe. sayang sih, ... sayang banget. Tapi bukan filmnya yang mau dibahas. Yang mau dibagi adalah cerita saya tentang betapa makanan yang dihasilkan oleh dapur di rumah; bisa menumbuhkan asa atau harapan baru dalam sebuah hubungan.

rumah ini berdiri tahun 2006, setahun sebelum titan lahir. tapi baru tahun ini, si ibu dan dapurnya bisa memproduksi makanan rumahan sendiri secara rutin, setiap hari. lebih tepatnya, mau memproduksi makanan rumahan sendiri. kalau cuma 'bisa' sih, dari dulu juga bisa. tapi kalau 'mau' sepertinya lebih ada muatan niat dan effort. niat dan effort itu, tentunya akan lebih besar kalau ada motif.

as we all know ya, gak ada yang namanya pernikahan yang udah lebih dari 10 tahun akan tetap membara seperti di awalnya. pasti cuma ada di instagram. kalau sekolah tiap tahun ada naik kelasnya, harusnya pernikahan juga ada dong ya. masa gitu-gitu aja. dalam kasus saya, masa masih juga nggak masakin suami dan anak-anak? sementara, di masa kecil saya (bahkan hingga saat ini), hidup saya dimanjain sama masakan ibu nini yang luar biasa tak tergantikan lezatnya. lalu kapan giliran suami dan anak-anak saya? selain weekend tentunya.

niatan ini juga didorong oleh obrolan ringan di saat sahur bersama seorang klien saya. ih, males banget ya hang-out sahuran? hahaha, tenang, ini semua karena shooting! klien saya itu perempuann dan belum menikah, tapi dia bercerita bagaimana seorang temannya di kantor bisa menjadi ibu bekerja dengan mudah. ia cerita bagaimana temannya ini berlangganan delivery sayuran ke kantor, setiap hari. trik si ibu sih sebenarnya biasa aja ya. tapi cara klien saya itu bercerita, saya jadi terinspirasi sekaligus kesentil.

ya iya juga sih. what's stopping me?

Lalu pelan-pelan, saya mulai berteman sama tukang sayur yang lewat depan rumah setiap hari. Awalnya masa kapa aja yang ada di gerobaknya. Lama-lama mulai minta nomor telfon, trus pesan bahan mentah yang saya mau dan dia antarkan keesokan harinya.

Lalu saya mulai tanya-tanya teman, tukeran inspirasi menu mingguan. Tukeran resep, tips and trick gimana supaya masak pagi lebih efektif. Gimana kalau shooting pagi, makanan apa yang cocok untuk dimasak malam sebelumnya dan masih tetap enak keesokan harinya.

Awalnya saya masak sepulang kantor. Untuk makan malam, dan masak batch 2 untuk keesokan harinya. Masakan batch 2 ini sih biasanya bikin base-nya aja. Seperti masak kaldu sup, jadi besok anak-anak tinggal cemplungin sayur-sayurnya aja yang sudah saya siapin. Atau, masak ungkep ayam / daging atau bikin tempe bacem. Atau juga bumbuin ayam tepung, jadi anak-anak bisa minta tolong mbak untuk gorengin kalau sudah mau makan.

Beberapa bulan lancer tuh dengan ritme seperti itu. Jadi saya bobo agak malam, dan bangun pagi santai-santai. Toh berangkat ke kantor juga baru jam 9 pagi.

Tapi tiba-tiba, suami sibuk cari-cari lunch box di tokopedia. Wah, saya deg-degan. Ternyata bener aja, dia berniat untuk membawa makan siang sendiri hahaha… ya kalo siapin makan siang kan berarti ai harus bangun pagi juga anyway, kaaaaaaan hahaha!

But then I take it as … he loves my cooking. Suami juga bukan tipe yang pergi makan siang keluar kantor. Lebih suka makan di tempat kerja, secepatnya, seperlunya, sambil lanjut kerja.

Jadi, akhirnya, ritme hidup saya mulai seperti ibu-ibu lainnya. Seperti juga sahabat-sahabat saya yang lain. Bangun lebih pagi untuk siapin makan pagi dan sekaligus masak untuk keseluruhan hari itu.

Trus, ada perubahan yang terjadi gak setelah saya masak sendiri buat suami dan anak-anak?

Much as cliché as an ad commercial, tapi bener sih. Kayanya kedatangan saya pulang ke rumah lebih ditunggu-tunggu. Anak-anak lebih respect sama setiap makanan yang saya buat. Saya jadi lebih dekat lagi sama suami. Group persahabatan lebih rame dengan hal-hal essential dan lebih supportif, encouraging untuk bisa bikin masakan yang lebih variative lagi. Dan luna, jadi senang masak ngeliatin ibunya. Udah bisa iris bawang merah tipis tanpa buraian air mata. Yang lebih senang lagi sih, karena saya bisa jadi contoh yang dia liat dan dia kerjain sendiri.

Jadi bener ya. Terkadang, cinta itu adanya di perut.







This is: marriage after kids



Maybe it feels like there is less time now
For date nights
Romance
... or each other

When there is little one to feed, love and care for
Part of you might miss before
But there is strength in these changes
and vulnerability to find each other
And if you know where is to look
there romance is still there

It's in the quiet early morning hours
before the kids wake
It's in the care you take
It's in the way your partner looks at your child
and the way you see them parent
and try to be better each day






2017: what dad says about being a father

Banyak anak, banyak rejeki kata orang-orang. Ya rejeki anak.
Kalau ada seorang bapak yang tidak menafkahi anaknya, maka celakalah ia. Karena sebagian dari harta yang ia makan atau simpan, adalah harta anaknya.

Bersyukur. Yang banyak.

Jadi orang jangan terlalu pilih-pilih. Makan yang ada. Kerjakan yang ada. Enggak usah baru mau kerja kalau begini dan begitu. Inshaa Allah, kalau dimulai kerjaan yang enggak enak berujung dengan kerjaan yang lebih enak. Daripada menunggu dapat kerjaan enak.

Bekerjalah. Anak-anak harus melihat bagaimana orang tuanya bekerja.

2017: what dad says about husband & wifey

Chapter 1:
Enggak ada suami istri itu saling tanya "Lantas, mau kamu gimana?" dan mensyaratkan satu dengan lain untuk menjadi orang yang dikehendaki pasangannya. Saya rasa tidak begitu cara berumah tangga. Karena nanti, kalau sewaktu-waktu orang itu kembali kepada karakter dirinya, ya bisa ribut lagi dengan alasan "Kan dulu sudah ada perjanjian mau begini. Atau begitu. Tapi enggak kejadian."

Menurut saya, dengan saling sayang, semua ketidaksempurnaan akan tertutup. Nah, bagaimana memelihara sayang itu?
Dengan menjaga omongan. Jangan berkata yang kasar kepada istri atau suami.
Saling menghormati. Hargai setiap jerih upaya masing-masing dan hargai saat mau waktu sendiri. Karena di kantor mungkin sedang capek, mungkin sedang ada masalah, kadang tidak semua bisa dibicarakan saat itu juga kepada pasangan.
Ke tiga, ya disyukuri. Bersyukur dengan apa yang ada. Jangan cari yang enggak ada.

Chapter 2:
"Tidak semua perkataan perempuan / istri itu harus dimengerti. Cukup didengarkan saja. Karena namanya perempuan, kadang lompatan konteks pembicaraan itu terlalu cepat dan jauh; padahal kita (lelaki) masih mikir dengan apa yang baru saja dia katakan. Nah, kalau sudah lompat-lompat gitu ya didengarkan saja. Enggak perlu dimengerti isinya. Yang perlu dimengerti adalah, bahwa dia lagi butuh didengarkan."

2017: Tentang Tuhan

Nooooo! 
Get out, get out!
I want to get out!
Bunda, wake up! Do not sleep there, there's a snake!

Kata Luna, di suatu pagi buta, terbangun dari mimpinya.

There was a snake. 
It is small. It is bleeding. 

It is okay. Ada bunda dan bubu, jangan takut lagi. Seprainya sudah diangkat, sudah diganti enggak ada lagi ular dan darah. Lagian, itu mimpi bukan betul-betul kejadian.

Ada Bunda ya. 
Emang Bunda enggak takut ular?

And I was like hit by thunder.
Of course, I am sooooo afraid with snakes.
And Luna knows that.

Hmmm, aku takut juga sih sama ular. 
Nanti kalau ada lagi, kita pukul aja. Oke?

Luna thinks for a while.

Luna mau berdoa aja. 

I might have died being hit by thunder twice.
But her words are so ... thundering and englightening.
And I think it was the moment she learns about the Almighty.
The concept of God when she has no trust on power within and around her.

... and I learnt a lesson.

2017 tentang fungsi dan hati

Selama sekian tahun, weekend seringkali disisipi dengan reminder-reminder untuk menjadi normal dengan mandi. Pagi atau sore, atau salah satu diantaranya. Karena sewajarnya mandi itu dua kali sehari. 

"Sudah mandi belum?"
"Guys, mandi."
"Kok belum mandi?"
"Ya ampuuuuuuun pada belum mandiiiiii... mandi sana!"

Hingga, hari itu tiba. Hari yang wajar. Dimana setiap weekend tiba, tidak lagi menjadi weekend yang tidak normal karena dia dan mereka selalu mandi dan wangi tanpa disuruh. 

Lalu?

Iya, lalu apa kalau sudah mandi? 
Tidak lantas setelah mandi kemudian dihujani pujian-pujian surgawi, ternyata.
Tidak semerta-merta setelah mandi akan dipeluk dan dicium juga, ternyata.
Sudah mandi, ya sudah. Hening. 

Lalu, yang kemarin ribut-ribut suruh mandi itu untuk apa? 

Saat itu, saat dimana semua berjalan normal, weekend jadi enggak normal lagi. Karena enggak ada lagi suruh-suruhan mandi, suruh-suruhan makan, dan jadinya diem-diem aja. Dan seseorang baru saja terhenyak, bahwa selama ini sehari-hari komunikasi mereka hanyalah sebatas fungsi. 

Di tahun 2017 ini, dikasih kesempatan untuk belajar (lagi) memilih mana hal penting yang lebih penting dari semua hal. Belajar untuk bertanya ke diri sendiri soal 'then what if they do what I say?' sebelum meminta suami dan anak-anak melakukan sesuatu. 


Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?





A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through both and also had a chance of being a working-from-home mom, it is even more ridiculous for me. Only stupid have a time discussing it and to elaborate on their social media status. Whoever we are, what kind of mom we are, what matters most is how we can make our life productive and progressing. Every single day.

Different mom has different ways of being productive. Some goes to work. Some clean up and cook for the family. Some works at home by selling stuffs online or being a freelancer. Productive means to produce something. Be it money, the foods, you name them all. But the question is, is productive enough? How about having a progressing life? Not as the wife of Mr. Blabla or as the mom of kid Zubidudamdam. But us, as a person. Me, as Wury; a 38 years old woman and how far I have made progress in  my life.

BUT. Let alone of being progressive, ... are we even productive?

This question stroke me a few weeks ago, when my preschooler rejected to school and said that she wants to be at home. "Like Bunda (mom) who is having endless holiday. I am not going to school"
I was sooo broken hearted. But then I learnt that her words should be a motor for me to keep moving. Ever since, I cook more. I bake more. I craft more and ... I learn more.

Being productive and progressing doesn't mean we need to do it all at the same time. We can start by being productive, and when we are tired, we can try to be more progressive by sharpening our soft skills. We can learn new things, meet new people for broader perspective or meet old friends for venting out. Or, we can register an online course.

There are so many online courses that is held by reputable universities in the whole wide world. I have tried some courses in Coursera and now I am taking one in EDX. Most courses are 10 weeks long and we can pursue the achievement certification or we can convert it to 1 semester credit (depends on the university). To me, EDX is more interesting because it is more interactive and the videos are not only from the scholars but also from the point of view of people, real managers and experts.  I am sure there are lots of more courses or activities we can choose for self-feed and you can share them to me.

From time to time; we, women, need to be able to empower ourself and I wish us good luck.




Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna. 
Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari. 
Kamu di paling depan dan aku di paling belakang. 
Kamu pegang erat batang spion motor dan menikmati pemandangan. 
Melihat ke kiri, ke kanan, mengintip spion ke belakang. 

Aku peluk kamu erat. Jemariku merapat erat.
Terasa degupmu yang berdetak-detak. Karena ingin bertemu teman-teman? Atau karena kami bertiga mengantarmu ke sekolah dengan sepenuh hati, sepenuh doa? 

Kamu lepaskan satu tanganmu dari batang spion. 
Dan kamu genggam tanganku, menyatu dengan degup jantungmu. 
Saat itu aku bertanya-tanya, kenapa kamu melakukan itu? 
Tapi kemudian aku menghentikan semua tanya dan hanya merasa. 
Bahwa kamu senang, ada aku. 

#ndaluna

Life. Just like what I wanted.

Sounds so snobbish ya, saying life is just like what I wanted. But then I realized, semua itu karena emang aku enggak pengen apa-apa. Sekarang juga (ternyata) masih begitu. Dulu emang I treat my life like a blue print. Things to do piling up my list and my aims were to accomplish them. Alhamdulillah, semua tercapai. Tapi kemudian seperti ada titik tolak dalam hidup yang bikin  berhenti ingin terlalu banyak dari hidup. Entah karena merasa udah cukup banyak pencapaian pribadi baik yang bagus atau yang buruk, entah karena pernah kecewa berat sama yang namanya manusia atau karena alasan klise yang digadang-gadang semua manusia: anak.

Sekarang ini, lebih banyak menyambut apa yang datang ke dalam hidup. Termasuk, kembali ke agency lagi. Having thought that I am not some kind of 'Man in a mission' kind of person. I am just an 'I will do my best' of what comes in front of me kind of person.

Gini ceritanya.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, dan pernah juga air mata ini berderai karena enggak bisa menyelamatkan salah satu dari mereka untuk tetap bisa kerja bareng di Havas. Saat hari lagi down banget, semangkuk ramen dan tawa biasanya bisa melepas ke bete-an. Saya emang nggak pernah menempatkan diri sebagai bos yang harus bitchy dan memaksakan kehendak. Some said, saya terlalu baik sama anak-anak. Tapi dulu saya belajar, bahwa bos itu tugasnya bukan ngide tapi menajamkan ide yang ada. Karena dulu saya belajar, bahwa bos itu harus mau tangannya kotor; bukan cuma nyuruh-nyuruh doang. Karena dulu saya belajar, memimpin itu harus dengan empati.




Kemudian, saya risain. Tepat sehari sebelum ulang tahun saya yang ke tiga puluh delapan.
And for the past thirty days, nothing much I did but something new or redo the things I loved to do.

I celebrated my most romantic birthday, thanks to my son!



I started exercising pilates. Been attending 5 sessions so far. I also walk more.



I got the chance to join an empowering conference for women to boost my confidence as woman leader. I met so many empowering women out there from gen x, gen y and millennials. From the conference, I learnt that to be a successful woman leader, we need great support system as well: parents and spouse; those who shaped us and those who is standing at our back. And when we got stronger, we don't really need to show our strength at home *wink*


I met those whom I could not meet because those time consuming work hours: besties! 




Of course, spent some quality time with the kids. Picked them from school, went mall-ing, watch movies, tried the famous Pablo cheese tart and fulfill the long-awaited-craving of mille crepes.


I managed to finish all the overdue tasks from renewing my driving licence, get the social health card for my family and ... finish the business model for my start-up project. So o'yeay! 


Last but not the least, enjoying good coffee my husband made like ... every morning :) I know I would never get this privilege without his support and he has been showering me with sincerity and abundant love over me. Thank you, Bubu! Now within two days, I will have to start a new chapter in the new office. I was so nervous last week, but I have been a bit cooled down lately hahaha. Wish me luck!







The link is back



I used to blog for Malicca. His unstoppable questions, wonders, opinions and everything. But then I stopped after Luna was born, because I felt unfair to have a blog under a name of emaklicca (only). 

But then, after those two been growing up together in different phase of life, I feel the urge to blog once again. This time is about them two. Because having two satellites, it is not them both who revolves around me. Instead, I revolve around them and they are my teachers of life. My mirrors of what I have done in life. My karma. 

They haven't know about this blog yet. Someday, I will reveal this all.

Feel free to click my satellites from time to time 










menuju 38

allah yang baik,
terima kasih untuk satu tahun kemarin yang menyenangkan buatku.
aku belajar banyak, dan aku sehat sekali.

aku dikasih teman-teman tim dimana aku bisa belajar gimana jadi pemimpin yang baik.
aku belajar jadi ibu yang lebih baik lagi. enggak cuma bisa menuntut anak-anak untuk bermimpi, tapi juga bisa memfasilitasi supaya anak-anak bisa mengejar mimpi.
aku belajar jadi pendengar yang baik. mendengar cerita-cerita anak-anak tentang apa itu orang tua yang baik, apa itu pernikahan. lucu mendengar itu semua dari pemikiran anak-anak yang belum genap sepuluh tahun berjalan mengitari matahari.

anak-anak cepat sekali besar. maka dari itu pun, aku menua. begitu juga dengan ibu dan bapakku.
karenanya, allah yang baik,  terima kasih untuk satu tahun kemarin kebersamaanku bersama orang tua dan anak-anakku. bersama suamiku yang selalu merestuiku untuk terbang atau untuk santai-santai di sarang. suami kuat yang penuh tanggung jawab.

i live a lucky life. kata orang, saat kami merasa beruntung; itu artinya doa ibu-ibu kami sedang dikabulkan. syukur syukur dan syukur. aku bersyukur aku merasa cukup dengan orang-orang di sekitarku yang mencukupkan hidupku.

amin.


titanica system

dulu, jaman-jaman baru kerja di advertising barang tiga tahunan, selalu muak sama insight yang satu ini: bahwa, orang tua akan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.
yang ada di kepala pada saat itu tuh, ya: planner gak kreatif. klien yang cliche. basiiii, semua juga tauuuuuuu! nah, sekarang, setelah sekian belas tahun di advertising dan hampir satu dekade jadi ibu, mulai sadar sama arti preposisi itu dengan sejleb-jlebnya. dan hal itu udah bukan insight lagi. tapi fakta.

soal mengusahakan yang terbaik tuh lagi kejadian banget nih sama aku dan titan. cuma masalahnya, kalau anaknya yang ngadepin sebuah masalah; apa iya kita orang tuanya yang harus mengusahakan yang terbaik? kan enggak gitu ya.
setiap anak pasti punya masalah deh. jangan percaya sama postingan ibu-ibu yang isinya cuma ngepost hal-hal baik aja dari anaknya. jadi, kangan sedih kalau menjelang pre-teens gini masalah-masalah 'pelik' mulai bermunculan. kenapa pelik? karena, seringkali, target operasi kita enggak merasa bahwa mereka punya masalah ha ha ha!

jadi, sebenarnya apa sih masalahnya?  

gini. i know ini salah gue juga sih, membiarkan anak-anak kurang disiplin. selama ini kita (orang rumah) selalu ribut dengan kebiasaan titan yang nggak teratur. mulai dari perlengkapan perang dia yang ditinggalin dimana-mana mulai dari pena, tinta,  botol minum yang tak kembali, uang yang hilang bahkan sepatu aja bisa ketinggalan sebelah di mall dan tas kumon aja bisa hilang enggak bisa di-trace ada dimana ... d'oooooooh!

dan yang bikin makin rumit adalah; si anak tidak pernah merasa bahwa semua itu adalah problem. buat dia, harus bertelanjang kaki muter-muter mall (karena sepatunya ilang satu) was fine. tenang-tenang, ketinggalannya bukan karena dia lenggang kangkung sepatunya copot trus dia diem-diem aja ya. my son is not that stupid to do that hahaha ... tapi, karena dia mau duduk di stroller. sepatunya, dicopot dulu sebelum dia naik stroller ... tapi lupa diambil hahahaha. berasa masuk masjid, mungkin.

nah, cukup soal sepatu hilang di mall. kali ini problemnya sangat serius. kemarin saat PSTC (parents student and teacher conference) aku a.k.a bundanya syiok banget saat gurunya mengungkapkan bahwa titan menghilangkan project-log 1 term yang mengakibatkan bu guru harus menurunkan point nilai di rapor. emaknya udah spaneng, anak masih senyum-senyum aja. clearly that this little guy has no problem with that, miss. sementara bundanya udah tergerih-gerih pisau rasanya sementara muka pasti udah merah kaya kepiting rebus saking malunya. nanti dikira enggak ngurusin anak pun. huft

menurut gurunya, titan ini pelupa. mungkin ada benernya, walau judgement dari kita orang tuanya lebih sadis: simply nggak bertanggung jawab aja. 

anak ini memang karakternya nggak mempan dikasih reward / punishment. titan itu tipe yang menghindari resiko. jadi, kalau belum ada resiko nabrak sesuatu di depan mata seperti titanic yang menabrak gunung es, maka dia akan santai-santai aja. akan terus berlayar di sepoi-sepoi angin sampai akhirnya ketiduran.

tapi kan enggak semua resiko terlihat ya. kalau masalah enggak naik kelas, masih bisa diulang di tahun setelahnya (walaupun ini juga pasti bikin gue nangis kalo inget bayarannya sih yaaa). tapi dalam hidup, ada kalanya, saat kita bertabrakan dengan resiko; kita enggak bisa kembali dan harus rela kehilangan. nah, rela menerima kehilangan kan pembelajaran yang beda lagi deh. seumur hidup belajarnya. 

so, beberapa waktu yang lalu, kita ngobrol berdua. terutama soal cara belajar yang paling efektif buat titan. kita ngebahas lagu atau percakapan dalam film yang dia hafal dari awal sampe akhir. kita ngebahas kumon yang dulu dia nangis-nangis ngerjainnya dan sekarang merasa terbantu banget. 

akhirnya kita menyimpulkan bahwa cara belajar buat Titan yang paling efektif adalah dengan cara repetisi dan menstimulasi dengan audio/visual. nonton film UP lalu menggambar rumahnya berkali-kali, berhari-hari sampai bertahun-tahun melukis dengan tema yang sama.
Nonton film Titanic dan menggambar kapalnya sampai beberapa versi mulai dari titanic, britannic dan lusitania. semuanya karena dia selalu looping film, lagu dan buku yang dia suka.
anak ini memang bukan tipe yang punya photographic memory. tapi memorynya harus terbentuk perlahan secara reguler. intinya: repetisi.
leganya, drilling kumon yang harus dia kerjain setiap hari itu ternyata adalah salah satu metode belajar yang cocok buat dia. karena anak ini, bukan tipe yang kalau bosan akan melarikan diri. tapi terus dikerjain walau nggak tahu akan berakhir kemana. the good thing is, anak ini tekun. kuat ditempa berbagai kondisi.

soal pelupa? nah, yang satu ini juga kita bahas kemarin. kita bahas anatomi tubuh manusia yang paling penting: otak. kita ngobrol soal neuron-neuron di otak itu semakin tua semakin dikit yang akan saling tersambung, beda kaya waktu kita kecil sebesar luna. semua dipikirin, semua ditanyain. kalau sudah tua, udah malas mikir dan akhirnya yang menebal itu bagian yang itu-itu aja. akhirnya titan mengerti deh kenapa dia tipe pembelajar repetisi, karena memang cara kerja otak pun seperti itu. kalau bagian titan lupa naro barang dimana, pasti karena bagian itu enggak tebal. jadi solusinya, harus berlatih naro barang dan jadwal yang lebih teratur untuk diulang-ulang terus setiap hari. 

untuk bisa melakukan semua itu, titan harus dibantu dengan visual. karena memang ternyata anaknya audio-visual banget. akhirnya kita berdua menemukan sistem supaya enggak ada lagi pekerjaan sekolah yang tertinggal, enggak ada lagi barang yang hilang. 

selain sistemnya itu sendiri, kemaren kita juga bahas bagian yang paling penting dari sistem: yaitu kemauan / motivasi yang dikendalikan oleh otak untuk menjalani sistem itu. mau sistem paling canggih, kalau kita enggak mau ngejalaninnya ya sama aja.

untuk memotivasi titan lebih semangat, kita sepakat untuk membuat logo korporasi. karena sistemnya milik titan, maka logonya pun ya logo titan. perusahaan milik titan. namanya titanica. taglinenya: everything is possible. 

alhamdulillah, dua minggu pertama sejak sistem ini launching semuanya berjalan lancar. enggak ada project yang tertinggal, bahkan beberapa project diselesaikan sebelum deadlinenya.

semoga, solusi kali ini membuahkan hasil maksimal ya. enggak mentok lagi di tengah jalan seperti yang lalu-lalu ha ha ha
semangat terus ya, nak. semoga, di masa depan nanti, kalau bunda udah nggak bisa bantu; kamu bisa bantu diri sendiri cari solusi untuk semua masalah kamu :)





bantu otak untuk mengigat  pekerjaan dengan mengelompokkan pekerjaan dalam bindex



detail pekerjaan enggak perlu diingat, ditulis aja di job order. ingat yang penting-penting aja





kalau semua harus diingat ya pasti lupa. ditulis aja di memo kecil yang dibawa kemana-mana



everything has a home. coba kalau diulang terus naronya di sini, pasti nggak hilang 












Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess they made today, somehow relieved me. As I cleaned them up, I felt like taking a detour of what happened today. As if I was there with them, and those are the reasons why I am smiling though I felt sleepy and tired.

"Sorry babies, I was three hours late. I will make up some other time."







love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.

www.thestorygoeshere-blog.tumblr.com 


october.

october is still in the beginning. it was wet and i could smell the fresh smell of the grass, even if it was not raining. october  used to be my favorite month. it was autumn, it was dry and the cold breeze can easily breaks my nose membrane and i got nose bleed. the day i found you.

it has been years ago. now i feel october in new breeze. this time, october felt a bit rush.

earliest october was the day of a mega pitch. three pitch presentations in a day. it was like our blood and flesh were torn apart preparing the whole things. one of the pitches was also one of the backbone clients, that also brought the feeling of having the pitch felt like a burden. i could not imagine how many cut offs there would be if we lose.

the second day, was also one of the biggest day for my son and also for me. the day my one and only son got circumcised. at his 9 years of age, he decided to surrender himself to one of the deepest pain in life. his cry resembled the day he lost his eyang and also resembled the night he missed his father when there were just the two of us. i took a hold on him. i hugged him tight and looked deep into his eyes. telling him to be patient and how proud i am to have such a brave kid like him. i could not see what the doctor did to his thing, i prefered to look just into his eyes. from the beginning to the end.

the eleventh day, would also be one of the big day. having a kid went to school everyday was already such a production. i just could imagine having two. but yes, i will.
little luna could wait to go to school. the day we got the acceptance letter, the swimming bag, the t-shirt, she wore them all together and handed out the letter i needed to sign. what would happen next, i could imagine. would she get cranky, would the separation anxiety rise, would she refused to have breakfast, would there be another imaginary friend coming out as a self defense just like titan did, would there be a problem since she is a kind of aggressive girl. oh boy, i really could not imagine.

i hope everything would be just fine. another steps to be a better mom, better parent and a better me.
bismillah.

Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...