Another Whys

Titan:
Bunda, kenapa burungku ada kulitnya?

Bunda:
Bulu kali, maksudnya?

Titan:
Bukan kenny si burung kenari, burungku Nda. Itu tuuuh, nama lain dari ituuu.

Bunda:
Oh, ... hmmm kenapa memangnya? semua bagian tubuh kan ada kulitnya.

Titan:
Iya, tapi kenapa harus dibuatnya berlebih gitu sampe ujung-ujungnya? Kan nantinya harus disunat juga. Kenapa enggak usah dibuat aja sama Tuhan?

Bunda:
Oh, itu dibuat supaya bisa melindungi bagian dalamnya. Coba, kalau yang bagian dalam dipegang aja geli-geli sakit kan? Makanya dilindungi sampai ujungnya. Coba kalau enggak, nanti kejepit retsleting celana kaya apa sakitnya?

Titan:
Tapi kan nantinya harus disunat juga. Kebuka juga, dong.

Bunda:
Kalau itu, karena pada akhirnya orang suka malas ngebersihinnya. Banyak kotorannya, jadi disunat aja untuk alasan kesehatan.

Titan:
Kalau rajin dibersihin kaya Titan? Masih harus tetap sunat juga?

Bunda:
Iya dong, kamu nantinya kan tambah besar. Bunda enggak bisa terus menerus kontrol kebersihan burungmu itu, kan?

Titan:
Iya, sih.
Ooooh, ... tapi aku belum mau disunaaaaat!


One of our chit-chat before bed

Weekend Getaway


Well, I need to warn you that his post will be cheesy. 
You can stop now, or enjoy my cheesiness. And laugh on it. 


I forgot the last time I visited Bandung.
Maybe, four years ago; if I am not mistaken.
I came with a rumble heart.
I did not do much, and nothing could make me feel missing that town for the next couple of years.
Until last weekend.
When we had to, because of a wedding.

For me, it was more like becoming a chaperone for my parents who insisted to go to Bandung.
Sounds boring, I know.
But it turned out fun, for we treated it like having a holiday.

First thing first for a holiday is, that we all need to have fun. All happy & tired at the same level. Therefore, we decided not to take a car and let the tiredness goes to the driver (only).

Second first thing first is that we all need to explore, trying out new things we never had before. So we delisted the option of renting a car from Jakarta and decided to go by train. Afterall, four out of six people in the house never had the train experience to Bandung before.
Thanks to tiket.com, we finally managed to book the ticket for the long weekend. There was a bit mistake in booking the seats, that we (me, bubu, titan and la luna) went to different compartment with aki and nini. But hey, it turned out to be a bless. When La Luna and Titan got bored, they could walk around to visit aki and nini. Big yeay for Bunda. It is going to be my trick on travelling with toddlers.

Third first thing first for a holiday is that we all want comforts. Since we are six, we need to hire two cabs anyway. So, why don't we all seat together comfortably in an Alphard silver bird and watch the Mayday strike from the big window? The cost is slightly the same with the double blue bird. I feel like a winner for being luxurious and mreki at the same time.
In Bandung, there was a driver who had already waiting for us. He was a very good one. He took small streets and alley ways to avoid the hellish Bandung on weekend so we managed to keep track on our plans. Two thumbs up! You can have his number, just ask me.

Last but not least, that it is very important to make everybody happy. Elders got to the wedding, youngsters got to new places. Since our time was very limited, we could only go to Floating market. But kids got the climax for the holiday: the becak ride!

We were so happy! Tired, but yes ... happy.
The train ride was so exciting and there was a tour guide who told us about the ancient sites like Sasaksaat tunnel (the third longest train tunnel in the world) and Cisomang Bridge (the highest train bridge in Indonesia). The foods were so so, and the cleanliness was a bit poor. But it was okay for a tree hours ride. Still it hurt when the train reached Bekasi and we could start smelling the carbon monoxide.

It had been 17 months since our last holiday, a road trip to Yogya - Solo.
Now I am craving for more.








































O, finally! That one particular word!



I don't believe in Kartini. 
But yes, April 21st 2015 was one of the wonderful days I had. 


la luna udah mau dua tahun.
anak itu lagi lucu-lucunya. ampun!
Meniru, disuruh joget atau apa aja mau. setelah beberapa kata seperti:

yoyo (meyong), poop, pis (pipis), papah (jerapah), moi (doraemon), kitty (hello kitty), koko (ayam jago yang berkokok), baba (laba-laba / lumba-lumba), egg, fish, sho sho (dinosaurus), so (bakso), huhu (tahu), pipi, mam, numnum (minum), maaaa (mau), mamah (nini), tu (satu / sepatu), duwa (dua), ka! (buka), ba! (baju), bubu, kaka, mah (rumah), ciap-ciap (burung kenari binatang peliharaannya), gogoh (jatuh), kit (sakit), kut (takut), iyyaaaa, bobbo, bebbe (bebek), buwwah (buah), pig, bipbip (mobil), 


... dan akhirnya kata yang aku tunggu-tunggu keluar juga.

"Daaaaaa!"

Yes! Itu kata yang luna ucap kalau manggil bunda :)
tepatnya, tanggal 21 April 2015 kata itu tercipta hahaha.

Gara-garanya, dia lagi berbuat sesuatu yang bandel banget (dan aku lupa apa itu. entah ngelelepin kucing ke mangkok tempat minum, entah panjat-panjat meja, entah menabur-tabur beras, entah menduduki si anak kucing dan masih banyak lagi.) ... lalu aku bilang gini

"Masya allah lunaaaaaa nakal amat siiih, anak siapa iniiiii?"
"Daaaaaaa!" jawabnya spontan.

Oalah, antara kaget dan mau ketawa dengernya.
Jadi lupa deh mau marah.






i miss writing.
i mean ... a really good piece of writing.

they said art comes from pain.

well,
maybe i am happy that much
that i cannot write anymore.

ngurang-ngurangin kekurangan

titan:
bunda, semua orang punya kekurangan ya?

me:
iya.

titan:
kalo bunda kekurangannya apa?

me:
banyak. bunda ngga sabaran, banyak aturan, suka marah-marah, galak, gendut, ... apalagi ya. masih banyak sih.

titan:
kalau titan apa ya ... hmmm, titan itu belajarnya masih kurang, trus masih suka nggak dengerin bunda, apalagi ya nda?

me:
wah, bagus itu. berarti kamu sadar kekurangan kamu. itu penting, lho. enggak banyak orang, bahkan orang gede, yang tahu kekurangan mereka. kalau udah tau kurangnya apa, kan enak gimana nambahinnya supaya enggak kurang lagi.

titan:
iya juga ya, nda. kaya makan bakso gitu. kalau berasa kurang garem, tinggal tambah garem. gitu kan nda, ya?

me:
ah, pinter sekali anak bunda ini!


when to shut out, when to shut up

setting: 
nini lagi sibuk mencuci, titan sibuk nggerecokin. trolly cucian dipakai main kereta-keretaan, padahal trollynya trolly dari plastik macam trolly di ace hardware. 

nini: 
titan, keranjangnya jangan dinaikin nanti rodanya masuk. 

titan: 
rodanya masuk gimana, ni? *sambil terus mainan trolly*

nini: 
mblesek!

titan: 
luna kok boleh? 

nini: 
beratan kamu apa luna? 

titan: 
luna juga berat ni, titan aja nggak kuat gendongnya

nini: 
ah, kamu nih ngejawab aja deh

titan: 
lho, kan tadi nini nanya kan? 


diem-diem saya ketawa aja di pojokan, sambil asyik nerusin cuci piring. anakku yang satu ini emang ampun deh kalau menjawab kata-kata nini dan akinya. pretty logical. apalagi terlatih sama bubunya yang obrolannya suka mengacaukan logika.

kejadian kaya gini sering banget kejadian di rumah, terutama antara titan dengan aki dan nininya. maklum, generation gap dan beda pola pengasuhan. nini dididik dengan cara feodal, yang mana orang tua itu udah kaya dewa. sedangkan aki, dididik dalam nuansa militer yang harus tunduk dengan perintah. ya jauh banget sama keadaan titan sekarang yang orang tuanya demokratis. paling enggak, mencoba untuk demokratis.

dengan situasi seperti ini, biasanya saya diam dan jadi pengamat aja. kalau sudah selesai dan peperangan berakhir damai, ya sudah. tapi kalau tidak berakhir damai; saya akan suruh titan minta maaf sama aki atau nininya. buat saya, yang penting adalah membiarkan anak mempertahankan argumen dengan logikanya.

kadang suka keceplosan juga sih kalo ini lagi kejadian sama saya. "because i told you so" atau "because i am your mom" keluar juga kalau mood lagi jelek plus tangan dan isi kepala yang lagi ribet. yang lebih parah kata-kata "udah jangan banyak omong!" yang biasanya dicounter dengan "dulu aja, titan disuruh belajar ngomong. sekarang ngomong banyak-banyak enggak boleh."

hadeuh.

umur-umur segini emang lagi ampun-ampunan membantahnya. kadang pegel juga. satu-satunya yang bisa memenangkan perdebatan dengan dia hanyalah bubunya. itu karena bubunya lebih suka mengacaukan logikanya, supaya logikanya terus berkembang. kalau dengan saya, sepertinya dia lebih menahan perdebatan karena saya adalah ibunya. daripada ribet nanti idup gue jadi susah, mending nurut aja - that a kind of attitude hahaha.

jadi, sekarang saya sangat menghindari tiga kalimat di atas dan lebih fokus pada ngajarin titan gimana untuk tau kapan timing yang tepat untuk berdebat dan kapan harus memilih diam.

timing yang tepat untuk memilih diam adalah saat keadaan lagi panik atau genting dan membutuhkan keputusan cepat seperti saat dua ban mobil yang lagi kita kendarai tetiba kempes dan kita harus sibuk berdebat keras tentang apa bedanya roda dan ban; daripada diskusi mencari tukang tambal ban di tengah malam.

ke dua, juga waktu-waktu yang singkat seperti saat jeda waktu antara bangun tidur dan pergi ke sekolah.

yang ke tiga, nah ini butuh skill khusus. yaitu saat mood lawan bicara sedang tidak bagus. well, untuk yang satu ini titan masih agak kurang peka nih. masih harus diasah skillnya, hehehe.

let's see how long this will end.
not that soon, i guess.


36

many things happened before april and they got me thinking and rethinking about love, motherhood, about being a better child and how to raise better children. about how i would survive my retire years. about how to survive marriage. about understanding a man deeply. about friendship. about illness that can attack us at anytime.

now i am a step closer to forty than to thirty, ... how does it feel?

well, ... i feel old obviously. i might have spent half of my life living.
i feel worry too, because i might have done less good deeds compare to the bad ones.
i feel lucky to have my parents congratulated and hugged me at early morning.
i feel blessed to have a loving hubby, lovable children and managed myself to finally enjoy (after one and a half year) my role as a stay at home mother.

i was raised like a champion breed and treated like a princess for being the only daughter to my parents. i had my worst time being depressed at school, i had my years as champion in college and working life. i had my broken marriage. i rebuild a family with a guy deserted me once. a best friend left me without saying goodbye. i failed a 26 hours contraction. i am a mother of two. i quit my job. i don't think i need anything more.

whatever happens, my plate will cater the same portion and will always do. it is just my skill that needs to be sharpen to make them balance ... and eatable.

chew life. be grateful. happy birthday, me.

- thank you la luna, for being a constant reminder that i am raising a better me - 

- thank you titan, for being my possible hero - 








About Us

to titan and la luna.

i want to tell you a little story about the love bubu and I have. neither the sweetest nor the coolest love tale you will ever known, but i hope it can give you two a little up when you are feeling down.

if ever someone asked me, your mom, how much i love your bubu; i would say ... i do. though i found it hard to express my love for him, but i do. though i found it hard to remember when i have thought of him, but i still do. and i know he loves me too.

our love does not come in a form of fancy dinner or having a wefie in instagram. our love does not go through a journey in the background of a beautiful landscape. our love does not told in a long scripted messages through whatsapp or a bombastic 'nocturnal' activity. neither a fancy birthday gifts, surprise parties, big feasts, "have a nice day or lunch or dinner or meeting" texts.

our love just come in a more humble and reachable way. like late-at-night-wake-ups to bring a glass of water when I or him caught a cough. comes in an always-alert sleeping and woken up just to feel one of us is moving though it was just a little bit. comes in an acceptance of the surround snores. comes in a lunch box he brings to work everyday and eats whatever inside. comes in a working so hard he hardly cut his nails and I did it for him when he was asleep.

boring as it may sound, but if you two ever experience this feelings; you two will know how comforting it is. though sometimes i think bubu does not need a wife. he cooks, he plants, he repairs, he builds, he works, he can take care of himself, and these make me learn a lot from him.

when you know you are loved by someone who can enjoy life by himself, you know you can live with him and love life together. 



The Best



"are you happy to have me as your mom?"

"yes, I am."


"have you ever think of a better mom? 

and you wish her to be your mom? 

"no, you are the best mom."


"you are the best kid also. 

you and la luna are my precious."



we kissed and went to bed. 







What I should be drinking more often



"Bunda, 
I think you should drink 
more low fat milk" 



Malicca Titan, 7 tahun 9 bulan
sambil elus-elus perut bundanya. 

A Little Note

Let me take you to one of my emotional post.

Never at once; someone who got married with the reason of building life together, wanted a divorce. But who knows things that would came up along the marriage? A divorce is the last thing someone would do. Not because they are not strong enough. It is because they are tired to wake up on the same day everyday. Maybe, it is because they urge the need of moving on their life.

And so I did.

The best thing of the worst things happened was, we decided it together. We got to the court together. We wrote the testimony together, consulted every lines to each other and made sure they are accepted by both parties.

What we started well must end well.

And here comes the saddest part, our son. God knows the regrets we had, and still having, for what he has been through.  We did mistakes for our marriage, we cannot do mistake to our son.  If anyone would ever asked how me and my ex could still meet each other nicely and peacefully, the answer will only be one: it is because the love for our son is so great. Even greater than the love we have for ourselves that we need to lower down our ego, to be stronger to keep catering the past to the present.

And as everyone wanted, our life moves on. But the past can never be forgotten, can never be erased. For now our past have merged together with the present. I am blessed for having a husband who is open minded to accept my ex to come over to our house for a Fridate with our son. To find someone who loves you and wanted to marry you might be hard. But I can tell you, finding someone who wanted to marry you and love not only you but also the ones you love, is way harder. And I am blessed once again for finding one.

I remember the letter my son wrote for his step father on father's day last year.
"Terima kasih Bubu, sudah kasih tahu Titan kalau Titan salah. Terima Kasih. Happy Bubu's day"

:')

Today, I found he wrote another letter. Not for me or his bubu, it was for his cousin. But he showed me and he made me smile.  He wrote about what he likes, what makes him feel bored, what the weird things happening, and most important is how he live a happy life and live a happy family.

Our life might not perfect, Malicca. But your happiness is what I can always promise you that I will try my best. Let's be happy with our limitations. Let's make peace with ourselves and all the things or people we ever hate.

7 y.o big brother lulled her 1,5 y.o little sister while mom was driving.

The little note.

What I always witness before bed time. 



...

I am blessed.
Thank you God, for giving such kind and wonderful people in my life.
Having them makes me think that no such little hatred deserves a space in my brain.


Oh, hello Kenny Rogers

Setelah dua kali gagal, akhirnya berhasil juga bikin ayam panggang simpel tapi enak ala Kenny Rogers. Yang pertama, salah bumbu. Terlalu heboh bumbunya. Yang ke dua, rumah penuh asap karena bakar ayam dan masih berdarah-darah juga dalamnya. Yang ke tiga, Alhamdulillah lebih sukses.

Saya pakai 4 potong paha double (paha atas - bawah), kalau dihitung-hitung sama aja dengan satu ekor ayam ya.
Tiga siung bawah putih digerus, campur dengan satu sachet Masako ayam (oh I love Masako by the way, it is just magical! hahaha), balurin di setiap permukaan ayam.
Taruh di dalam kontainer tertutup, masukkan ke dalam lemari es selama beberapa jam supaya menyerap. Di kasus saya kemarin, saya bumbuin pagi lalu proses sorenya menjelang makan malam.

Setelah kira-kira menyerap, kukus selama tiga puluh menit dengan api kecil.

Siapkan 2 siung bawah merah, gerus halus lalu campurkan pada 1 sendok makan mentega yang sudah dilelehkan. Oles lelehan mentega dan bawang di seluruh permukaan dengan kuas, lalu panggang di atas pan atau bisa juga panggang di oven atau bakaran. Terserah aja sih itu mah, seadanya yang di rumah :)

Voila, it tastes good I tell ya!





Musim hujan

Titan:
"Ah, ujan lagi ujan lagi. Rugi deh nih"

Bunda:
"Lho, kenapa?"

Titan:
"I will lose my job. You don't need someone to water the plants in rainy season."

Bunda:
"Oh, about that. Well, you can weed. They grow furiously in rainy season."

Titan:
"But it is hard, you need to pay me more."


Laaaaah, dia nawar hahahaha

Responsibly Happy


Menjelang tahun baru 2015, kami sekeluarga mengalami perubahan-perubahan besar. Perubahan yang membiasakan kami untuk hidup lebih 'seadanya' dengan mengurangi fasilitas-fasilitas yang berlebihan. Kenapa? Karena ternyata tanpa kita sadari, selama ini kita hidup terlalu manja. Baik anak-anak maupun saya. 

Mulai Masak Sendiri

Sebenernya agak malu cerita tentang hal yang satu ini: sekian tahun berumah tangga dan punya rumah sendiri, baru sekarang pontang-panting nyiapin asupan makanan buat sendiri, suami dan tentunya anak-anak.

Lah, ... emang selama ini begimanaaaaaaa?

Nah, ini nih bagian malunya. Karena saya selama ini bekerja, jadinya urusan makan malam dan makan anak-anak saya catering sama ibu. Bukan saja karena lebih simpel, tapi karena masakan ibu saya luar biasa enaknya (ya, menurut saya sih ... anaknya! Hahaha). Paling weekend saya masak lucu-lucuan, atau masak buat anak-anak. Sisanya mah ... cincay! 

Nah, sejak pertengahan Desember 2014 lalu, saya memutuskan untuk berbelanja dan memasak sendiri saja. Sudah saatnya saya menjadi istri dan ibu yang lebih bertanggung jawab terhadap makanan orang-orang rumah. Setiap weekend, saya dan suami belanja kebutuhan untuk seminggu ke depan di pasar basah. Memilih binatang- binatang yang akan kami konsumsi lima hari ke depan plus beli bumbu-bumbu. Saya ingat betul belanja perdana saya untuk kebutuhan dapur yang masih nol hanyalah sekitar tiga ratus lima puluh ribu saja. Tentunya belum termasuk sayur, yang saya pikir lebih baik beli harian aja di tukang sayur supaya masih segar saat dimasak. Kami pulang setelah berhasil memenuhi 2 tas envirosax kami (duh, mesti banget ya disebut merknya? Hahaha ... karena belanja di pasar juga harus tetap gaya!) dengan ikan, udang, cumi, ayam dan bumbu-bumbu. Hari itu, saya memasak perdana dengan menu tenggiri bakar bumbu kuning. Ih, hebat ya? Hahahaha ... sama sekali enggak. Terima kasih sama uda penjual bumbu, saya tinggal bilang "Uda, minta bumbu ikan bakar 3000 ya!" 

Untuk belanja bulanan di Superindo, saya pecah menjadi belanja 2 mingguan. Belanja sayur harian di tukang sayur yang tidak menghabiskan lebih dari sepuluh ribu,  beli telur 1 kg untuk satu minggu di warung depan dan beli roti di Indomaret atau Alfa Mart sebutuhnya saja. Biasanya sih mampir ke sana setelah jemput Titan dari sekolah. Oh iya, belanja kecil-kecil di Indomaret ini ternyata kalau dikumpul-kumpul jadi jajanan mahal, lho! Untuk menyiasatinya, saya beli kartu Indomaret yang bisa di top - up di ATM. Jadi setiap bulan jajanan Indomaret sudah ada platformnya. Lumayan juga kartunya bisa dipakai buat e-toll :) 

Dengan masak sendiri ini, Alhamdulillah kita semua belajar banyak. Karena suami enggak suka makan makanan ala carte yang kebule-bulean (padahal itu yang gampang dimasak hahaha), saya harus belajar masak makanan Indonesia. Walau akhirannya lebih banyak tumis sih, hehehe. Yang jelas, Ariawan membawa bekal makan siangnya sendiri. Biasanya, bekal ke kantor ini adalah left-over foods dari dinner semalam. Kalau kebetulan habis, baru deh masak lagi, jadilah musti bangun lebih pagi. 

Selain itu, mulai juga mikir tentang menu sehat yang minimal minyak. Rebus dan bakar, kalau bisa. Buat nasi, saya campur beras putih dengan sedikit beras merah menjadikannya beras pink yang lucu hahaha. Titan yang picky eater, Alhamdulillah kebiasaan makannya mulai membaik. Makan apapun yang bundanya masak, suka atau enggak suka. Karena ibunya ini sudah terlalu lelah kalau harus masak menu yang berbeda lagi buat dia. Tentunya pilihan menu juga enggak aneh-aneh sih. Dikira-kira aja yang anak-anak bisa suka. 

Buat menghemat waktu dan siap-siap kalau kepepet, saya selalu menyimpan tempe / tahu bacem dan ayam segar berbumbu di lemari es. Kapanpun dibutuhkan, tinggal buka container trus goreng. Kalau lagi males masak, kadang pesen juga sih ke delivery Sederhana atau makan di luar hahaha.

Cutting off the bills

Kemanjaan kita berikutnya adalah ketergantungan terhadap water heater. Ow yeah. Akibat tagihan listrik yang melonjak akhir-akhir ini karena memang TDLnya naik, akhirnya kabel water heater pun saya cabut. Tadinya sih cuma pengen tahu aja, apakah setelah dadah-dadah sama air hangat tagihan listrik bisa berkurang. Eh, ternyata benar, tagihan listrik berkurang tiga puluh persen. 

Awalnya sedih juga, kasihan luna yang masih umur satu tahun. Kasihan Titan yang harus mandi pagi dengan air dingin. Tapi ternyata, Alhamdulillah Luna baik-baik aja. Dia malah seneng banget bisa main di bawah keran. Dan Titan, sejak mandi pakai air dingin, mandi paginya jadi super cepat dan akhirnya ke sekolah pun tidak lagi telat. Super yeay!

Tinggal first media aja nih, langganan TV kabel tapi enggak pernah ditonton. Mau diputusin, kita masih butuh internetnya. Karena kalau hanya berlangganan internet aja, justru lebih mahal jatuhnya. Bisa enam ratus ribuan per bulan. So, ya sudahlah ya kita merem aja. 

So yeah, these are just the beginning of our thrifty lifting journey. Semoga besok-besok bisa lebih menghargai seadanya hidup, menghargai apa yang ada. 

Amin. 




uda - uda si jago bumbu

sayur lodeh, ikan asin, sambel, tempe dan empal goreng

bekal kakak titan

temen weekly shopping

You

i hardly remember the last time i watch your face when you sleep.
trace the wrinkles,
count your eye lashes,
watching you breathing hard as hard as the days you have had.

but i am doing it now
and everything flashes back.

it is amazing how my brain remembers the every-little-things in fourteen years.

the alarm beeps.
and your eyes opened up.

"hello" i said.

thisclose.






"I take the consequence and I am fine."

Yup. That's my son.
Untuk sekilas, terkesan keren ya hahaha. Cuma, akhir-akhir ini saya agak dibikin pusing karenanya.

Umur Titan sekarang 8 tahun kurang 4 bulan. Sejak kecil, saya selalu mengajarkan dia untuk membuat pilihan sendiri dan menerima konsekuensinya. Mulai dari memilih pakaian sehabis mandi, sampai menerima konsekuensi harus ke dokter sendiri kalau sakit karena menolak makan. Pada kenyataannya sih saya antar dia ke dokter, tapi saya cuma bertugas mengantar. Mendaftar dan bicara pada dokter, itu kesepakatan yang harus dia lakukan sendiri. Saya masih ingat benar, saat itu Titan berusia 4 tahun lebih sedikit dan dia melakukannya dengan baik.

Akhir-akhir ini, saya terpaksa jadi harus terdiam (karena mikir harus bagaimana) melihat karma sendiri. Entah harus bangga atau enggak, yang jelas sih saya bingung. Saya ceritain ya beberapa kejadiannya.

Beberapa bulan lalu, saya; luna dan titan jalan-jalan ke mall. Bagian bawah stroller Luna (yang biasanya berupa kantong), lupa saya pasang setelah beberapa hari sebelumnya saya cuci. Hari itu, bergantianlah Luna saya gendong dan Titan duduk di atas stroller sambil tumpang kaki dan melepas sepatu. Sepatunya kemana? Sepatunya, dengan santai Titan taruh di kolong dimana kantong tersebut biasanya berada. Sayangnya, Titan kurang teliti untuk mengetahui bahwa ia menaruh sepatu di tempat yang tidak ada penahannya. Alhasil, sepatunya tertinggal entah kemana. 
Saya baru 'ngeh' kejadian ini saat makan siang, melihat dia berjalan santai sambil cekeran. Mukanya biasa aja gitu, kaya enggak ada yang salah. 

"Lho, sepatu Titan kemana?"

"Uhmmm ... tadi waktu duduk di stroller aku lepas sepatu dan aku taruh di kolong, tapi ternyata bawahnya enggak ada dan Titan enggak tahu." 

"Jadi daritadi kamu cekeran gini?" 

"Iya."

Melihat mukanya yang santai, saya juga enggak panik. Cuma mikir aja, jatuh dimana kira-kira itu sepatu. Titan juga enggak minta beliin sendal atau mencari gantinya. Enggak juga merasa ada yang salah dengan keliling-keliling mall cekeran. Enggak merasa malu juga diliatin orang. Biasa aja. Dia tahu dia salah, dan dia terima konsekuensinya: cekeran keliling mall. Enggak berani minta beli gantinya, karena dia tahu dia salah. Mungkin karena dia juga mengerti, bahwa ibunya ini enggak akan membelikan gantinya. 
Untung parkir dekat sekali dengan pintu keluar di basement. Saya hanya minta dia untuk tunggu di lantai yang bersih dan tidak ikut berjalan di parkiran karena pasti lantainya panas dilalui ribuan mobil. Dan kami pun pulang. 

Cerita ke dua.

Hampir sama dengan cerita pertama, tiba-tiba di mall saya melihat Titan berkaos kaki tapi bersandal jepit buluk. 

"Lho, kok pakai kaos kaki tapi pakai sendal jepit? Kotor banget lagi sendalnya. Ketinggalan di mobil ya, sepatunya? Yuk, mau balik lagi?"

"It is okay, Bunda. Aku lupa bawa sepatu. Tadi setelah pakai kaos kaki, aku main-main dulu di halaman pakai sendal trus kelupaan deh pakai sepatunya."

"Oh, ya kalau gitu dibuka aja kaos kakinya. Pakai sendalnya aja."

"No, it is okay. Sendalnya kotor, aku enggak mau kakinya jadi kotor. Gini ajalah."

Trus jalan deh dia kaya anak lagi sakit panas pakai kaos kaki tapi pakai sendal jepit. 

Cerita lainnya.

Karena capek dan bosan setiap hari harus 'berantem' soal bangun pagi dan buru-buru pergi ke sekolah, pada term kemarin saya merubah trik. Saya benar-benar jadi fasilitator aja, dimana Titan yang atur waktunya sendiri. Pagi-pagi, saya ingatkan dia untuk bangun. Ingatkan untuk menyegerakan makan dan berangkat sekolah. Yang biasanya saya ikut senewen, di term kemarin saya berusaha untuk santai. Pun urusan belajar. Kalau mau belajar hayuk, kalau lagi malas ya enggak papa. 
Hasilnya pada PSTC kemarin: telat 19x dan harus ikut remedial (tambahan jam pelajaran) setiap hari senin dan kamis. 

"Titan, kalau telat tuh rasanya gimana ya?" 

"Biasa aja. Malu sih, dikit. Tapi ya enggak papa."

"Enggak dihukum?"

"Enggak ada hukumannya, Nda."

"Missnya enggak marah?"

"Enggaklah, masa guru marah-marah. Ya paling di - remind aja." 

"Karena kamu telat, kamu jadi harus stay di sekolah lebih lama. Enggak enak, kan?"

"Enggak papa, Nda. Enak kok, Titan malah lebih fokus belajarnya karena cuma sedikit muridnya kalau pas remedial." 

"Jadi menurut kamu telat enggak papa?"

"Ehm ... enggak baik sih, tapi kalau jadi harus stay lebih lama ya enggak papa juga." 



hhh!

a quality time

i think, every child needs to have a quality time just with their mom or dad.
titan has the fridate with his ayah. like the name, it happens every friday. luna has it (almost) every morning, taking shower with her bubu and she has it all day with me.

now, what about titan and me?

it has been months since la luna joined the get-kakak-to-school thingy. both sat in the car, watch some movies and voila, kakak gets to reach the school. but then i thought that it was not all good, because i did not have the time to 'recharge' malicca about the good things getting to school and all about the good things keeping the lessons handy. he would only be busy with the movie , since it is also what will make la luna to stay-put in the car seat. no time for warming up and pre-condition about school time.

this term, i changed my method. taking titan to school and pick him up from school, will be our quality time.  i get the chance to opened-up his door and stood on his level. i get the chance to tidy up his collar and say "stay focus to your lessons and have fun with your friends." i also get the chance taking him to the class, watch him put his things in the locker and said "see you soon." i also get the chance talking about everything and have a laugh together.

yes, i feel better. i think he does too.

maybe this is one of the thing we need to consider when we are adding-up numbers for our child. not only the money, but also the time we can afford for them.

di suatu pagi

entah kenapa, lagi suka dengan teras belakang ini. sejak hari minggu yang lalu, tepatnya. awalnya karena mau kedatangan eyang kembar, jadi sedikit rapi-rapi dan beres-beres. naro pohon kecil di depan jendela. enggak disangka, dengan seringnya hujan di pagi hari beberapa hari ini, ternyata nongkrong di teras pagi-pagi sebelum semuanya bangun itu enak banget. sambil ngopi, sambil mikir-mikir kesana kemari.

set meja dan kursi di teras belakang, masih juga set lipat yang seharusnya ada di halaman. tapi karena lagi sering hujan, lama-lama capek banget musti angkat-angkat. sebenernya sih disainnya memang untuk dihujanin dan dipanasin. tapi karena warnanya putih, capek juga musti sikat-sikat terus. lagian kalau ditaro di teras rasanya juga lebih berguna, karena udah 7 tahun punya rumah tapi masiiih juga belom punya meja makan yang proper ha ha ha....

taplak meja itu, tak lain dan tak bukan adalah flanel bedong jaman titan bayi. sekarang-sekarang ini lagi suka pakai kain apa aja yang ada. asal dicuci setiap hari. mendingan gitu daripada punya taplak kheseus tapi cuma punya satu trus kzl sendiri kalo ketumpahan kuah kuning.

kursi mungil warna hijau itu, enggak lain yaitu kursi tempat luna duduk manis kalau lagi nungguin bundanya masak. kadang sambil ngobrol sama pohon dan sobek-sobek daunnya. enggak jarang juga dia mainan siram-siraman pohon pakai teko yang di atas meja. lama-lama minta diisi air deh, kemudian becek seteras. la la la ... la .. laaa

tembok taman di ujung sana yang berlumut, dulu ada gambar titan di sana. lumayan bertahan lama sampai akhirnya luntur terkena hujan. ya iyalah, gambarnya pakai oil pastel hahahaha .... saya takut sama sesuatu yang permanen di rumah. bukannya apa, saya bosenan banget ampun - ampunan. segala sesuatu harus bisa dibongkar tanpa bekas dan dipasang lagi di tempat lain. itulah kenapa, beberapa hiasan di rumah cuma ngandelin glutack atau lem tembak. musuhan banget sama yang namanya paku, contohnya tierod tanaman yang menggantung di teras ini. itu batang buat gorden di kamar mandi yang bisa ditarik ulur. enggak pernah sekalipun berniat mengebor tiang kayu besi kecintaan, karena suatu hari pasti pot-pot itu enggak lagi ada di sana. pindah ke tempat lain, entah kemana. tergantung mood.



yang paling enggak saya suka dari teras ini adalah ubinnya. dulu, rumah ini emang gaya-gayanya unfinished gitu. cuma ya, ternyata, unfnished style itu emang murah tapiiiii high maintenance. kalau memang bukan tipe yang enggak papa ngeliat lumut tumbuh, atau sedikit toleng-moleng, gak papa deh punya rumah gaya itu. rumah saya ini pelan-pelan udah move-on dari gaya unfinished. walaupun, di sana - sini masih terlihat aksen concrete exposed atau yang menyerupai. ternyata ubin lekang juga dimakan waktu. dari warna hitam, sekarang mengabur jadi warna kelabu. belum lagi noda-noda putih di atasnya bekas air. awwww ... menyebalkan. entah kapan bisa diganti palka kayu dengan kolam kecil yang mengalir di sekelilingnya. amiiiiiiiin :)

*seruput teh*



Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...