Cinderella

One day in an urban life, when most people needed at least three hours to reach their office and back home and worked for almost eleven hours per day. The sky was dusky with a little lilac drapery.  As flying dragons back to their castle and replaced by the shadow dementors who are ready to suck your tired soul residue, there we saw a princess talking to her hope-to-be prince in the dim light. 

Like other princess who believes she lives in the fantasy world she can only control and understand, and like Cinderella who came to the party with a ticking-clock  insecure feeling, she asked him. “Why are you here with me and loving me with all your breath?”

“Because I believe, this is my chance.” said the guy firm. 

“Do you love me that much?” asked the girl back. 

“No. I just love you. Because if I love you that much, by this time you should be at your happiest moment and I would not know how to make you even more happier in the future.” Said the guy as he sipped his 16 years old sauvignon.    

The girl looked disappointed. “Do you love me?” she said in reluctant. But she knows, whatever what the guy would say, she would rather believe in what she wanted to believe. 

“I do.” Said the guy in a single breath.

“Will you stay?” another doubts came out. 

“I will. In whatever form you want me to be.” He answered. 

The girl took a deep breath. A final question was about to burst out. Is it ‘Will you marry me?’ No, the question is way too easy to be answered. Instead, she asked him: “Will you love me forever?”

Ouch. 

The guy got silent. Sixteen years old sauvignon suddenly tasted like urine and you needed to swallow nonetheless. It took him a few minutes, few flashback sand few premonitions for the future. But he realized that he is here. Now, at this very moment, and can’t ever get away to where ever he wanted him to be. 

“No, I cannot promise you that.” The guy said. 

The girl’s visions got blurred, tears started running down her face. Of course, in a very dramatic slow motion like it took the tears forever to finally dropping down. 

“Knowing myself very much, I cannot promise you whatever things in forever time. But my lady, I can promise you I will love you today … and tomorrow.  And by the time tomorrow comes, I hope I can  promise you I will love you today and tomorrow again until it fulfills your forever, forever.”

Suddenly the girl forgot she was a princess. She forgot her castle. She forgot she wore shoes that were made of glass. She forgot the pixie dust. For the first time in her life she realized one thing, that when the midnight comes, she would never ever change to someone she was never be.  



Life in the next level

Once I wrote about love, my invisible spines, my possible hero, my satellite, flesh and blood, my deadly dreams and everything that made me who I am today; and not a single thing I am regret of what happened. I am grateful. And you know what, I realized this when my 3,5 years old son got into his first day of school. And I was like … amazingly stunned. He cried in most of his classes, but he survived until the bell rang. First cut is always the deeper my boy; and we will always have those moments in every fragment of our life.

I have been through a lot, and of all the things I have lost; I realized that I may not and should not and cannot lose myself. Since your own shadow would leave you in the dark, you are what you got therefore you should get a grip on yourself. Then, you could see other things you got in life.  Those people who will support you all along, people who stay, new people you met, or sometimes with any luck … people in the past who then gives you hope for the future.  In contrary, when things got blurred and you could not even see yourself clearly, bigger chance is that you would lose people you love as well.

As my little guy entered his class, I looked at him from afar. “How he grew so fast. From breast milk to lollipops, from midnight crying to warm laughs, from nagging to songs he sang me, … look at him now!” My heart murmured. He has grown and so have I.   

I realized that everything in this world had its expiry date: age, love, job, our sadness or happiness, even a lousy meeting with nasty clients. When things are bad, I should have remembered that it will not last forever. When things are wonderful, I should have realized as well; it will be gone soon and so I should have enjoyed every bits and stop worrying.

So here I am now, with a life in the next level. Never at once I doubt on love, because it is the thing that gives you courage and that include the love of yourself. Getting hurt? Yes, that is one of my biggest fear. But you know what, … we are going to get hurt someday anyway.“Nothing comes later or sooner. Things are just have to happen just the way they should be.” My lovely mother said.

Cinta

*tok tok
            Siapa?
            Aku
            Oh. Kamu. Lagi
            Kenapa? Kamu kecewa?
            Tidak. Aku tidak akan pernah lelah untuk kecewa. Apalagi dengan kamu
            Itulah kamu. Dan itulah sebabnya kenapa …
Kenapa?... itulah sebabnya kamu datang lagi dan lagi?
Kamu keberatan?
Tidak. Sama sekali tidak. Karena aku tahu
Tahu apa?
Kamu butuh aku
Dan karena itu, aku masih ada. Hingga saat ini

*gemericik
Ayo, silakan
Kenapa kamu melakukan ini?
Kan sudah aku bilang, … karena kamu butuh aku
Walau aku menggerogoti setiap jengkal tubuh kamu?
Untuk itu aku ada, sayang. Sudahlah. Dinikmati saja
Kali ini aku tidak mau
Lalu untuk apa kamu ke sini?
Untuk mencari tahu apakah aku bisa jadi kamu
Lalu?
Agar kita bisa bersatu
Lalu?
Tidak tahu
Sayang, kamu adalah kamu. Dan aku adalah aku
Aku ingin jadi kamu
Itu karena kamu melihat aku dalam versi kamu
Maksud kamu?
Bukan aku dalam versi aku

*tetes
            Kamu tahu, setiap aku mendengar tetesmu. Rasanya selalu berbeda
            Oh ya?
            Kadang kamu seperti menetes di tenggorokan yang teriris pisau
            Oh, menyakitkan?
            Kadang. Tapi untuk membersihkan
            Hmmm
            Kadang kamu seperti menetes di kaki perempuan yang retak menjejak panas
            Mendinginkan?
            Ya, dan menenangkan
            Kadang kamu tak ampunnya menetes di awan gelap, membuatku terlelap
            Hahaha
            Kadang kamu menetes di ruang sunyi
            Hmmm
            Dan saat itu kamu hanya ingin menemani

*debur
            Kenapa kamu hanya ingin sendiri?
            Kata siapa?
            Kataku. Bahkan saat bersama kaummu, pun kamu pun memilih untuk menyendiri
            Tapi aku tahu, bahkan saat itu pun kamu ada di sana
            Dimana?
            Di tepian, menungguku untuk menghampirimu
            Hmmmm
            Sekarang kamu tahu kan, … kita adalah satu
            Tapi bukan ini yang aku mau
            Aku tahu. Kamu api
            Dan kamu … air
            Dan kita saling mencinta dengan cara sederhana
            Seperti saat kamu menetes di panasku yang menjelaga
            Seperti kamu menghangatkanku di titik bekuku
            Seperti kamu menemaniku dengan tetesmu di keheningan
            Seperti kamu menungguku di tepian
            Kamulah pengingat
            Dan kamulah harapan
           
           

             
  

Flesh and Blood

Beberapa waktu yang lalu, semesta memperlihatkan aku sebuah fragmen kehidupan yang jarang-jarang aku temui. Saat itu, aku lagi menunggu taksi di sebuah gedung. Kira-kira jam tiga sore. Enggak lama, menepilah sebuah mobil Toyota Altis. Dari pintu supir, keluarlah seorang pria usia awal empat puluhan memakai kemeja tangan dan dasi. Sangat rapi. Dia keluar lalu membukakan pintu belakang. Dan keluarlah seorang anak laki-laki umur sembilan tahunan. Enggak lama, dari pintu yang sebelah lagi juga keluar anak laki-laki dengan wajah yang sangat mirip. “Oh, anak kembar” bathin aku. Keduanya membawa kotak alat musik. Yang satu membawa biola, yang satu lagi bisa aku tebak sedang membawa instrument tiup. Dari ukuran kotaknya sih kayanya flute atau clarinet. Di lantai atas, memang ada sekolah musik korea. Si ayah memperhatikan kedua anak sampai mereka benar-benar masuk ke dalam gedung Tak peduli udah diklaksonin mobil yang antri di belakangnya, si ayah benar-benar menunggu sampai kedua anak lelakinya hilang dari pandangan. Tak lama, ia pun melaju pergi.

Jam tiga sore, masih pakai baju kantor yang rapih. Dari tongkrongannya, level manager sih masuk lah. Kebayang hidupnya yang sibuk meeting sana sini, tapi masih sempat mengantar kedua anak kembarnya les musik. Yea, I know. Maybe it was one of his days. But who knows? Sosok ayah yang sangat memperhatikan anak-anaknya memang terbukti sangat ‘unyu’ di mata perempuan. Tepatnya, perempuan kaya aku :p

Masih menunggu taksi, lalu menepilah mobil berikutnya. Sebuah Alphard hitam. Dari pintu belakang, keluarlah perempuan cantik dengan potongan tubuh yang amat sangat langsing dan well-maintained. “Yummy mommy” bathin aku. Dan ternyata benar, nggak lama pintu supir pun terbuka lalu seorang mbak yang (maaf) tampak lusuh segera mengejar pintu pak supir. Ternyata, dari balik setir ada seorang bayi cowok kira-kira umur 8 bulan, kumel, duduk di pangkuan supir dan ikut menyetir sepanjang jalan. Lalu si Mbak segera menggendong si bayi sementara ibu majikannya udah jalan duluan entah kemana.

And I was like … taking a deep breath. Seriously, I felt envy and pathetic. Envy because of not every woman has the luxury to be a house wife and have most of their days being with their babies. And I felt pathetic because the lady passed me took her luxury for granted.

Why do people decided to have a kid in the first place? Is it because it is the next step after you got married, AND THAT’S IT? Is having a kid is like your achievement to be acknowledged as capable couple; as in financially capable and literally fertile? Is having a kid is one of the way to get your assurance, to have someone takes care of you in your old days? Or having a kid is to accompany you while you have no one beside you? For whatever reason, … can we set aside our selfish reasons?

Before we decided to have a kid, have we ever asked our self: are we strong enough to never quit and will never tired to do anything for them? Have we ever promised our future baby that we will never give up on them EVEN when we are broken? Did you ask yourself how powerful having a baby is to boost your life? Do you have the faith that your baby can be your magic pills?

Have you ever imagined, having a baby is like having a second chance for you? The chance when you are able to create a better life, a happier you, a better upbringing, a healthier you, a smarter you, a better you, and not a copy of you.

Maybe you are wondering why I am making a fuss about this topic. No, I'm not judging why you have kids and how you raise them. The thing is, I see people out there took granted for their kids. In the sense of, how a lovely kid is not enough to be their magic pill to keep them moving and striving the world. The cry of a baby can’t alarm and wake them up from their ego-maniac sleep. And to you, every single husband in the world, your task is actually only one: that is to make your wife, the mother of your kids, to be happy. Happy mom happy family.

LOVE

If the universe is a giant matrix that keeps busily clicking rearranging its numbers, i cannot hear any clicking sound at the moment. It is just so quiet. Very quiet you can even hear your own heart beat. Your own breath. The gurgling sound of your own blood running in your vein. So quiet you can even hear your heart for now she roars louder than the sea.

At first, you will be scared of this darkness. Limbo darkness. But then you will know, this is the only way you would notice a little light.

At first, you will be scared of being alone. But then you will know this is the only way you would realize that even your shadow will leave you in the dark.

At first you would feel imbalance. But then you would realize that to keep moving is the only way to keep your balance.

And when the world is shutting down, there is one little thing that keeps trying to exist even if you have unplugged the chord. It knocks your heart softly you barely feels. But it keeps knocking as if it is the only thing that wants you to be alive no matter what. 

And once you opened your door for it to get in, it is hard for you to let it go.  And it starts to give you a little warmth. Yes, only a little. But since you were all alone and frozen, a little warmth is perfect enough to save you from the longest winter. And its little wings start fluttering around you. Tickle your ear with its lovely whispers of how you are not alone.

You can't look for love. It will find you.

Takut 2

imaji seribu satu mimpi.
bayang seribu satu nyata.
dan aku berdiri diantara.

Takut

Kangen rasanya jadi anak-anak lagi. Mahluk kecil yang tidak kenal rasa takut. Karena tidak tahu dan tidak berharap yang muluk-muluk. Sampai suatu hari anak kecil itu dihadapkan dengan sesuatu yang dia rasakan jauh lebih besar dari dirinya. Maka dia akan berlari mencari seseorang, mencari terang, mencari apapun yang bisa dia temukan sehingga dia tidak lagi hanya seorang. 

Hingga saatnya anak itu menjadi besar, dia harus mengerti bahwa saat takut itu datang kembali; yang harus dia cari dan peluk adalah dirinya sendiri. 

Tiga: aku. dia. bicara kamu

Aku. 
Jeda. 
Kamu

Bicara

Makna  
tanpa 
kata

Berkelebatan di binar matamu

Dia. di sana. cinta 
Dia. di sini. hampa 
Jatuh cinta dengan imajinasi? 

Ketika jauh berharga  
Ketika dekat ia sia-sia 
Ada apa-apa dengan jarak dan cinta

Jauh ingin 
Dekat dingin 
Lalu pergi bersama angin 

Di tengah ramai ia sepi 
Di dalam hening ia sorai 
Bila mengada ia terabai 

Diantara mimpi dan embun pagi  
Di antara baris dan jeda kata 
Dan aku memilih nyata 

Berjubah mimpi hingga ngembun pagi 
Berbalur baris berbau kata 
Aku khayal yang kasat mata

Kamu mimpi  
Aku harap 
Butuh durga untuk jadi nyata. Jadi kita. 

Aku kosong dalam pasu 
Kau peri pucat pasi 
Perlu mau untuk berisi, untuk berseri.

Kolaborasi aku dan dia, bicara kamu.


bukan kamu

sudah ya
sudah.
ini memang bukan tentang kamu atau inginmu,
ini tentang aku yang ingin kamu.

Malam sepi lain

Malam itu cair
Lelehkan beku benak
Liurkan kata di pangkal lidah yang batu

 Malam itu hitam. Saat semua warna rasa berbaur tanpa ampun menjadi satu
Malam hitam yang baurnya semua warna, sesak sekaligus ia kaya
Sepi. Bintang abadi yang redup menemani kian mengabut
Bintang sepi hingga di tepi kabut terakhir, lesap menyisakan tiada
Malam itu kamu.
Saat semua suara mereda dan cahaya pun meredup
Satu alasan untuk tetap berdegup
… dan degup ini sedang mengeja kamu
sepi.
saat kamu tidak menemukan aku,
tatap satu bintang dan peganglah nadimu
Nafasku kan berdenyut bersamamu
… sedang denyut berayun naik turun di ombak mimpi
Dengan aksara yang tidak kamu mengerti,
itulah kenapa kamu tidak tidak mengerti
bahwa aku menanti
Engkau menanti. Aku hati-hati.
Baiklah kita memerhati
dari esok yang mulainya di detik ini
Tapi sekalipun ini mimpi,
aku tahu di mana denyutku ingin berlabuh
Di nyatamu
Semoga kau temukan teluk yang teduh

sebuah kolaborasi mengisi sepi dengan Lily4R

gasing

sebuah gasing sedang berputar
tak kenal waktu, tak tentu arah, terus tetap berputar
untuk sesaat tak ingin mengenal kata berhenti jika hanya untuk jatuh dan menggelepar

perputaran yang terlalu cepat membuatnya pusing
membuatnya buta sekeliling
sekelebatan warna dan bentuk yang makin lama semakin saru
semua berkumpul tak tentu menjadi satu

satu titik
dimana semua hal haruslah tentang aku
satu titik tumpu
dimana semua kenyataan berkumpul menjadi satu tanya, kenapa harus aku

sang gasing yang berputar
menggesek dengan gusar
dan membuat benda sekelilingnya terlempar
terkapar

menunggu
satu putaran terakhir

December

Lochinvar, by BlackSouls
I thought, to know what we really want is the hardest part.
In fact, the journey of making it come true, is even harder.
But at least you knew, you’ve made a start.

Welcome, December.

in one of those days

this is not one of those days, though.
these are some days on those days when word fails me.
oh, i hate it.
i hate it when i cannot write.
i hate it when alphabets love the space in between,
when the cursor rejects to move to the right,
when the pencil remain sharp.

oh, i really hate it.

sayapku

mencopot sayap dan menaruhnya dalam lemari
menunduk, lalu melihat sekeliling
menghorizontal
berputar
berjalan menyamping
berjinjit dan meniti tepian tak bersisi

rindu

kubisikkan setiap rasa ke dalam gelembungmu
rasa yang kelabu dalam gelembung bening yang terbang meninggi
tinggi sekali
mengunci
menggendut dan menggelayut
hingga akhirnya engkau membuncah di suatu sudut yang tak bertepi

Anton Jaya Widya

Yes, we are the red copywriters! But that is not what I want to share at the moment hehehe. Di sebelah kanan aku itu namanya Ako, yang di sebelah kiri … nah dia yang mau aku ceritain hari ini.

Namanya Anton Jaya Widya, dia dari Flores. Dia teman sekantor aku sekarang and yes he is an award winning copywriter. Badannya kurus karena udah ngegondol sekian metal award nasional dan sebuah bronze dari Cannes Advertising Festival hehehe. But then again, that is not what I want to tell you.

Anton itu senior aku waktu di UI. Dia anak Komunikasi ’95. Serius, dulu dia senior yang lumayan aku takutin. Ya iyalah, tampangnya begitu. Galak banget! Dan, … maaaaaan, he’s a smartarse! Nah, karena tampangnya ini nih dia itu punya hobi yang aneh banget. Sumpah, a.n.e.h banget. Hobinya itu, yaitu … ngerjain preman di bis atau di kereta! Maigat, … kurang aneh apa lagi, coba?

Suatu hari, dia lagi di bis dan saat itu jalanan macet berat akibat pendukung PSSI yang norak berdendang ria di tengah jalan dan mengacaukan lalu lintas. Tiba-tiba seorang pemuda dengan tampang sok belagu duduk di sampingnya. Cowok itu langsung melepaskan kaosnya dan terlihatlah tatto di lengannya. Melihat gelagat yang tidak menyenangkan (dan mungkin karena bau badan juga), Anton sontak menghardik lelaki itu. “Eh Mas, ngapain buka-buka baju? Mau pamer tato? Mau lihat tato saya?!” Kata Anton. Spontan laki-laki itu langsung merunduk dan memakai kembali kaosnya. “Enggak Mas, .. Enggak.” Katanya.

Di hari yang lain lagi, masih dalam bis kota, sebenernya dia lagi nggak terganggu amat sama suasana dan orang di sekeliling dia. Tapi, dia melihat ciri-ciri tertentu seseorang yang berdiri di pojokan dan berusaha menghimpit seorang ibu tua. Dengan santai Anton berjalan ke belakang, mensejajari tubuhnya dengan tubuh lelaki itu. Dengan nada datar dan dalam, dia bertanya ke lelaki tersebut “KTP mana?” dan tiba-tiba laki-laki itu merungkut dan langsung turun dari bis saat itu juga.

Karena tampangnya ini juga, Anton dikasih tugas khusus waktu dia magang di sebuah surat kabar terkenal ibu kota. Saat itu dia dikasih tugas oleh wartawan senior untuk mewawancara seorang preman. Brief dari wartawan seniornya begini:
“Nih, tadi malem ada mobil polisi di bakar di Tanah Abang. Elo sana ke Tanah Abang, cari daerah yang namanya Bongkaran. Kalo udah sampe situ, tanya tukang ojek atau siapapun yang ada di sana dimana rumah Hercules.”

Well, saat itu dia nggak tahu siapa itu Hercules. Jadi dia naik bis ke Tanah Abang, dan ternyata benar. Saat dia minta diantar ke rumah Hercules, ojek sewaannya benar-benar mengantar sampai di depan pintu rumah Hercules. Saat Anton bercerita, mataku menatap kagum ke arah Anton.
“Elo tahu siapa itu Hercules?” Tanyaku.
“Saat itu, enggak.” Balas Anton.
“Elo takut pas interview dia? Gimana rasanya? Elo digeledah kaya mau ketemu Don Corleone gitu nggak?” Tanya aku antusias.
“Hahahaha .. enggaklah. Gue juga nggak takut, mukanya sama kaya sodara-sodara gue kok.” Katanya sambil ngunyah gado-gado.
Sontak aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar alasan Anton kenapa dia sama sekali enggak takut sama Hercules.
Trus gimana ceritanya? Tanyaku lagi.
“Ya gue bilang aja. Siang Bang, saya mahasiswa UI lagi magang di Koran “Ahem”. Mau interview abang untuk kejadian pembakaran mobil polisi semalam. Boleh kan, Bang?”

Seperti yang dia kira, Anton diinterogasi dulu tentang tanah kelahirannya. Saat itulah dia tahu apa alasan wartawan senior mengirimnya untuk menginterview Hercules. Sementara si wartawan senior itu lagi asyik-asyik di kantor. Kampret! Pikirnya.
“Polisi itu jangan macam-macam. Semua di sini harus minta ijin Hercules. Mau tangkap orang juga harus ijin Hercules. Mau kejar orang, harus kejar pakai mobil Kijang Hercules. Jangan asal main masuk dan main tangkap saja. Hercules punya bisnis cewek bisnis judi bisnis mengamankan orang-orang, Hercules juga bayar itu semua sama polisi. Hercules juga ikut bantu itu polisi, jadi jangan macam-macam.” Kutipnya.

Saat itu, mataku dengan penuh kekaguman mendengarkan ceritanya Anton.
(Halah, ... lebay ah Wury! Hahaha….)

Keisengan dia ngejailin preman berakhir karena suatu cerita. Hari itu dia lagi di bis, dan melihat seorang copet sedang beraksi merogoh tas seorang ibu-ibu. Seperti biasa, Anton segera menghampiri. “Eh, Mas!” Tegur Anton. Sontak, si copet itu langsung bergeser dan bergerak ke arah belakang. Tapi tiba-tiba, ia merasa terdesak oleh seseorang di belakangnya. Saat ia menengok, ternyata ia melihat sosok tubuh yang begitu besar, berdiri tanpa jarak di belakangnya. Lalu lelaki bertubuh besar itu pun bicara ke arahnya. “Jangan gitu. Kita sama-sama cari uang di sini.” Karena Anton merasa dia juga dikira copet, jadi dia bertingkah juga seperti copet. “Ya tapi liat-liat dong, bung.” Lalu lelaki itu menepuk pundak Anton dan berlalu pergi. 

Ya ya ya, kataku dalam hati. Enggak lucu sih mau nyelametin orang tapi kita jadi nggak selamet.

Di akhir penuturan tentang keisengannya, Anton ngejelasin kaya apa copet itu. Kata Anton, biasanya mereka itu menyamar kaya orang kerja kantoran. Tapi, bajunya nggak matching. Celananya pantaloon licin yang udah disetrika berkali-kali. Liciiin banget  sampe mengkilap di lipetannya. Trus, kemejanya gak matching juga. Lusuh gitu deh. Pake iket pinggang tapi nggak matching juga. Pake sepatu pantofel tapi udah buluk dan biasanya nggak pake kaos kaki. Tasnya juga nggak matching. Biasanya pake tas warna item tapi gede banget. Itu biasanya buat dia kalo beraksi pura-pura jatohin tas tapi trus tasnya dipake untuk ngiket atau ngegubet kaki si korban. Pas si korban keserimpet dan nunduk, diambil deh dompetnya. Trus kalo di jembatang penyeberangan yang remang-remang gitu, biasanya mereka pake jaket. Jalannya keburu-buru dan nempel-nempel elo gitu.

“Haaa, kapan-kapan gue mau dong jalan-jalan naek bis sama elo trus elo  kasih tau gue mana yang copet ya!” Kataku.

“Ayo!” Katanya.

Makan siang yang menyenangkan untuk hari ini, terima kasih untuk ceritanya ya kakak senior :)

Light



Surprise is the only thing life will surely gives you. Nice ones or bad ones. And since its a journey, sometimes the trip to the next stop takes longer And steeper than the others. No matter how hard you try go smooth, you might stumble at anytime. Just like Alice fell down the tunnel she'll never know where it is heading to.

The tunnel is dark, humid, scarry, and you would firstly try to find the button to turn the lights on but you could not found one. And you would realized that you need to move forward. You can't just wait, you need to move on because you don't know where the button is. So you slowly crawling down the tunnel and just keep going, no matter what.

You know there will be a light at the end of the tunnel. You believe it, with all your heart. But sometimes you just can't deny, that you are very afraid too.

” Am I gonna be just fine?"

Of course you know what the answer is. It is just you are on your lowest power to keep searching the lights. This is the time when you need someone to help you guide your way. Find you a torch, hold your hand tightly, drag you to run, hug you in the coldness and whisper in your ear that things are going to be fine. But on that phase, many times; such love gone devastated.

Come to think of it, you realized that you can't rely on someone. Even your shadow leaves you in the dark. But then you will realize that happiness is in your hands, and other people can only make you happier.

Pic was taken with my Holga cam over a scroll of black soft paper book.


Published with Blogger-droid v1.5.9

Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...