Hari kamis lalu, ada acara business day di sekolah titan. Biasa, event tahunan di akhir tahun ajaran. Kalau anak-anak sekolah lain lagi sibuk Ujian Kenaikan Kelas, di sekolah ini anak-anak sibuk membuka usaha sendiri mulai dari bikin surat izin buka usaha, presentasi permohonan dana, bikin materi promosi, bikin produk sampai jualan karya mereka dan membuat laporan pertanggung-jawaban pasca business day. Nah, semua rangkaian proses itulah yang jadi bahan penilaian guru. Tentu aja di dalamnya ada unsur materi pelajaran mereka.
Bundanya ini udah tahun ke tiga ikutan sibuk (sedikit, sih). Tapi tahun ini agak santai. Nyiapin barang juga enggak terlalu banyak, biar laku semua dan anak happy. Tahun ini hanya menyiapkan 10 buah handmade bookmark dan 10 gelas oreo float yang keduanya dibantuin titan dalam proses pembuatannya. Masih tetap ibunya yang hands - on sih, next year harus dia sendiri yang siapin ah!
Waktu di sekolah, saya enggak jalan-jalan ke kelas lain seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini mau fokus kegiatan di kelasnya aja. Belajar dari tahun lalu, perut jadi kemrekaan jalan-jalan ke kelas lain bela-beli berbagai makanan.
Saya ajak Luna. Kita duduk di pojokan sambil makan pudding. Saya perhatiin Titan yang lagi sibuk jaga di gerai stationary. Eh eh eh, kok dia mulai salah tingkah memunggungi barang dagangan ya? Bathin saya. O'ow, ternyata ada Neng Naira pujaan hati yang mendekat trus lagi asyik lihat-lihat barang. Saya senyum-senyum, penasaran pengen liat mukanya Titan. Kaya gimana, ya? Salting gak ya? Pikir saya.
Eh ternyata bener aja. Mukanya berubah jutek. Naira seperti nanya harga, yang dijawab dengan suruh liat sendiri harganya di daftar harga. Trus saat Naira memutuskan untuk membeli, Titan segera mencatat kodenya (membelakangi lagi cepat-cepat) dan memberikan kertas nota pembelian sambil tertunduk dan enggak senyum sama sekali.
Tiba-tiba dia nengok ke saya, dan saya tersenyum memberi semangat. Dia tiba-tiba tersenyum manis sekali, tapi kembali kecut ketika Naira menyodorkan uangnya.
Ya ampuuuun, lucu sekali! Saya enggak habisnya senyum-senyum melihat kelakuan anakku yang baru aja menginjak usia 8 tahun 20 hari yang lalu. And I was sooooo grateful to witness the moment.
Bunda seneng banget!
Tree House Project weekend #1
Kita sekeluarga hampir memiliki mimpi-mimpi yang sama. Misalnya aja, teropong bintang. Ariawan masih ingat saya sudah menyebut-sebut soal pengen punya teropong bintang sejak SMA. Dan Titan, karena sejak awal memang diperkenalkan dengan semesta angkasa, dia juga pengen punya teropong bintang saat dia mengerti apa arti namanya. Buat saya sendiri, kadang mimpi ya cuma mimpi. Jarang dijadikan tujuan. Tapi setelah ada motivasi lebih seperti misalnya Titan mulai meminta dibelikan teropong, saya jadi lebih semangat untuk mewujudkan mimpi saya itu yang juga menjadi mimpi orang-orang yang saya sayang.
Nah, begitu juga dengan rumah pohon. Saya pertama kali jatuh cinta dengan rumah pohon waktu jaman SD nonton Hansel and Gretel. Mungkin, berbeda dengan teman-teman saya yang lagi suka Barbie and everything glitter, saya langsung jatuh cinta sama compang-campingnya mereka dan indahnya gubug permen di tengah hutan. Not literally a tree house for sure. But I like the nuance. The ambience. Sayangnya, punya rumah di Jakarta enggak memungkinkan untuk bikin rumah pohon. Baru setelah ayah dipindahtugaskan ke Palembang dan rumah kami kebetulan memiliki dua pohon besar dan kolam ikan di bawahnya, kami punya platform di atas pohon. Sebenarnya platform itu juga bukan buat rumah pohon. Tapi saya suka duduk di sana, sharing sama monyet peliharaan kami ha ha ha!
Nah, kejadian berulang kembali di akhir tahun 2011 ketika Ariawan membuatkan rumah pohon di atas pohon mangga di belakang rumah. Tapi bentuknya masih enggak mumpuni walaupun lumayan banget bisa nampung kita bertiga nonton kembang api di akhir tahun itu. Sampai tiba-tiba pohon terserang semut rang-rang dan bikin kita bubar dan enggak pernah nginjak rumah pohon itu lagi sampai sekarang, di 2015.
Untungnya, fondasi utama penyanggah rumah pohon terbuat dari kayu besi yang enggak lekang dimakan panas dan hujan. Jadi, ketika Titan minta kado ulang tahun yang ke-8 berupa rumah pohon, Ariawan tinggal menambah fondasi dan memperpanjang ukuran rumah tersebut mengingat sudah ada La Luna dan besar kemungkinan untuk berebut space di atas sana.
So, tanpa rencana (seperti biasa mengandalkan mood yang sedang berkobar), pergilah ariawan ke tukang kayu dan memesan beberapa kayu kaso dan reng. Iya, mulai dari yang murah dulu deh ya. Nanti kalau prototype ini sudah jadi dan ada rejeki, kita ganti pakai kayu jati. Janji deh, Titan :)
Lalu mulai deh potong-potong dan serut-serut. Untuk projek ini Ariawan sengaja beli serutan kayu, maksudnya supaya setelah projek ini jadi kali-kali dia bisa lanjut bikinin saya stool di meja makan mungil kami hihihi ... amiiiiiiiin :)
Sayangnya, agak kurang perhitungan untuk kayu reng dan toko bangunan pun tutup di hari minggu. So, karena memang ngerjainnya bisanya hanya di hari sabtu dan minggu, lanjut lagi deh minggu depan. Untuk minggu ini, udah bagus banget karena sudah jadi platform utama dan kita udah bisa manjat-manjat. La Luna? Wah, bukan main dia senangnya. Enggak ada takut-takutnya berada di ketinggian tiga meter.
Masih banyak yang harus dilakukan. Pagar, bagaimana cara memanjat (kan nggak seru ya kalau pakai tangga) plus saya juga minta dibuatkan hammock yang membentang dari pohon ke tembok samping. Plus, ayunan tarzan. Dasar bunda banyak mau! Hahaha ...
Well, kita lihat aja ya gimana next step-nya. Sampai ketemu minggu depan!
![]() |
| Aki menyumbangkan kayu besi lagi dan ikut sibuk kordinasi |
![]() |
| Hello, Me! Tetep ya bawa sapu buat bersih-bersih |
![]() |
| Bocah lanang lagi menatap ke kejauhan |
![]() |
| Uwak Ary si jago ngebor, Trust me, ngebor kayu besi itu enggak gampang! |
![]() |
| Cah wedhok pengennya duduk-duduk di pinggir, bundanya sereeeeeem |
The weekend project: planting the good deeds
Sudah lama banget pengen bikin tirai dedaunan yang menjulur dari teras atas menuju ke teras bawah. Sudah lama pilihan jatuh kepada pohon Lee Kuan Yew ini, tapi entah kenapa baru sekarang dapatnya. Katanya sih, yang mempopulerkan pohon ini di Singapura memang Lee Kuan Yew dalam rangka memasyarakatkan taman vertikal di sana.
Akhirnya, setelah agak lama (lebih kepada enggak terlalu niat sih nyarinya), nemu juga deh ni pohon. Tujuh puluh lima ribu rupiah dapat 20 pot kecil yang langsung Ariawan pindahkan ke pot panjang. Lha, kok ariawan maning? Ha ha ha, well, karena dia itu terkenal bertangan dingin. Nanem bibit tinggal dilempar aja tumbuh :)
Oh iya, saat di tempat jual pot kita juga nemu bibit-bibit lucu daun bawang, kemangi, seledri, kangkung dan cabe putih. Itu semua sih jadi projeknya Luna (sementara kakak titan enggak ikutan karena asyik main minecraft) ... sigh *rolling eyes*
Another Whys
Titan:
Bunda, kenapa burungku ada kulitnya?
Bunda:
Bulu kali, maksudnya?
Titan:
Bukan kenny si burung kenari, burungku Nda. Itu tuuuh, nama lain dari ituuu.
Bunda:
Oh, ... hmmm kenapa memangnya? semua bagian tubuh kan ada kulitnya.
Titan:
Iya, tapi kenapa harus dibuatnya berlebih gitu sampe ujung-ujungnya? Kan nantinya harus disunat juga. Kenapa enggak usah dibuat aja sama Tuhan?
Bunda:
Oh, itu dibuat supaya bisa melindungi bagian dalamnya. Coba, kalau yang bagian dalam dipegang aja geli-geli sakit kan? Makanya dilindungi sampai ujungnya. Coba kalau enggak, nanti kejepit retsleting celana kaya apa sakitnya?
Titan:
Tapi kan nantinya harus disunat juga. Kebuka juga, dong.
Bunda:
Kalau itu, karena pada akhirnya orang suka malas ngebersihinnya. Banyak kotorannya, jadi disunat aja untuk alasan kesehatan.
Titan:
Kalau rajin dibersihin kaya Titan? Masih harus tetap sunat juga?
Bunda:
Iya dong, kamu nantinya kan tambah besar. Bunda enggak bisa terus menerus kontrol kebersihan burungmu itu, kan?
Titan:
Iya, sih.
Ooooh, ... tapi aku belum mau disunaaaaat!
One of our chit-chat before bed
Bunda, kenapa burungku ada kulitnya?
Bunda:
Bulu kali, maksudnya?
Titan:
Bukan kenny si burung kenari, burungku Nda. Itu tuuuh, nama lain dari ituuu.
Bunda:
Oh, ... hmmm kenapa memangnya? semua bagian tubuh kan ada kulitnya.
Titan:
Iya, tapi kenapa harus dibuatnya berlebih gitu sampe ujung-ujungnya? Kan nantinya harus disunat juga. Kenapa enggak usah dibuat aja sama Tuhan?
Bunda:
Oh, itu dibuat supaya bisa melindungi bagian dalamnya. Coba, kalau yang bagian dalam dipegang aja geli-geli sakit kan? Makanya dilindungi sampai ujungnya. Coba kalau enggak, nanti kejepit retsleting celana kaya apa sakitnya?
Titan:
Tapi kan nantinya harus disunat juga. Kebuka juga, dong.
Bunda:
Kalau itu, karena pada akhirnya orang suka malas ngebersihinnya. Banyak kotorannya, jadi disunat aja untuk alasan kesehatan.
Titan:
Kalau rajin dibersihin kaya Titan? Masih harus tetap sunat juga?
Bunda:
Iya dong, kamu nantinya kan tambah besar. Bunda enggak bisa terus menerus kontrol kebersihan burungmu itu, kan?
Titan:
Iya, sih.
Ooooh, ... tapi aku belum mau disunaaaaat!
One of our chit-chat before bed
Weekend Getaway
Well, I need to warn you that his post will be cheesy.
You can stop now, or enjoy my cheesiness. And laugh on it.
I forgot the last time I visited Bandung.
Maybe, four years ago; if I am not mistaken.
I came with a rumble heart.
I did not do much, and nothing could make me feel missing that town for the next couple of years.
Until last weekend.
When we had to, because of a wedding.
For me, it was more like becoming a chaperone for my parents who insisted to go to Bandung.
Sounds boring, I know.
But it turned out fun, for we treated it like having a holiday.
First thing first for a holiday is, that we all need to have fun. All happy & tired at the same level. Therefore, we decided not to take a car and let the tiredness goes to the driver (only).
Second first thing first is that we all need to explore, trying out new things we never had before. So we delisted the option of renting a car from Jakarta and decided to go by train. Afterall, four out of six people in the house never had the train experience to Bandung before.
Thanks to tiket.com, we finally managed to book the ticket for the long weekend. There was a bit mistake in booking the seats, that we (me, bubu, titan and la luna) went to different compartment with aki and nini. But hey, it turned out to be a bless. When La Luna and Titan got bored, they could walk around to visit aki and nini. Big yeay for Bunda. It is going to be my trick on travelling with toddlers.
Third first thing first for a holiday is that we all want comforts. Since we are six, we need to hire two cabs anyway. So, why don't we all seat together comfortably in an Alphard silver bird and watch the Mayday strike from the big window? The cost is slightly the same with the double blue bird. I feel like a winner for being luxurious and mreki at the same time.
In Bandung, there was a driver who had already waiting for us. He was a very good one. He took small streets and alley ways to avoid the hellish Bandung on weekend so we managed to keep track on our plans. Two thumbs up! You can have his number, just ask me.
Last but not least, that it is very important to make everybody happy. Elders got to the wedding, youngsters got to new places. Since our time was very limited, we could only go to Floating market. But kids got the climax for the holiday: the becak ride!
We were so happy! Tired, but yes ... happy.
The train ride was so exciting and there was a tour guide who told us about the ancient sites like Sasaksaat tunnel (the third longest train tunnel in the world) and Cisomang Bridge (the highest train bridge in Indonesia). The foods were so so, and the cleanliness was a bit poor. But it was okay for a tree hours ride. Still it hurt when the train reached Bekasi and we could start smelling the carbon monoxide.
It had been 17 months since our last holiday, a road trip to Yogya - Solo.
Now I am craving for more.
![]() |
O, finally! That one particular word!
I don't believe in Kartini.
But yes, April 21st 2015 was one of the wonderful days I had.
la luna udah mau dua tahun.
anak itu lagi lucu-lucunya. ampun!
Meniru, disuruh joget atau apa aja mau. setelah beberapa kata seperti:
yoyo (meyong), poop, pis (pipis), papah (jerapah), moi (doraemon), kitty (hello kitty), koko (ayam jago yang berkokok), baba (laba-laba / lumba-lumba), egg, fish, sho sho (dinosaurus), so (bakso), huhu (tahu), pipi, mam, numnum (minum), maaaa (mau), mamah (nini), tu (satu / sepatu), duwa (dua), ka! (buka), ba! (baju), bubu, kaka, mah (rumah), ciap-ciap (burung kenari binatang peliharaannya), gogoh (jatuh), kit (sakit), kut (takut), iyyaaaa, bobbo, bebbe (bebek), buwwah (buah), pig, bipbip (mobil),
... dan akhirnya kata yang aku tunggu-tunggu keluar juga.
"Daaaaaa!"
Yes! Itu kata yang luna ucap kalau manggil bunda :)
tepatnya, tanggal 21 April 2015 kata itu tercipta hahaha.
Gara-garanya, dia lagi berbuat sesuatu yang bandel banget (dan aku lupa apa itu. entah ngelelepin kucing ke mangkok tempat minum, entah panjat-panjat meja, entah menabur-tabur beras, entah menduduki si anak kucing dan masih banyak lagi.) ... lalu aku bilang gini
"Masya allah lunaaaaaa nakal amat siiih, anak siapa iniiiii?"
"Daaaaaaa!" jawabnya spontan.
Oalah, antara kaget dan mau ketawa dengernya.
Jadi lupa deh mau marah.
ngurang-ngurangin kekurangan
titan:
bunda, semua orang punya kekurangan ya?
me:
iya.
titan:
kalo bunda kekurangannya apa?
me:
banyak. bunda ngga sabaran, banyak aturan, suka marah-marah, galak, gendut, ... apalagi ya. masih banyak sih.
titan:
kalau titan apa ya ... hmmm, titan itu belajarnya masih kurang, trus masih suka nggak dengerin bunda, apalagi ya nda?
me:
wah, bagus itu. berarti kamu sadar kekurangan kamu. itu penting, lho. enggak banyak orang, bahkan orang gede, yang tahu kekurangan mereka. kalau udah tau kurangnya apa, kan enak gimana nambahinnya supaya enggak kurang lagi.
titan:
iya juga ya, nda. kaya makan bakso gitu. kalau berasa kurang garem, tinggal tambah garem. gitu kan nda, ya?
me:
ah, pinter sekali anak bunda ini!
bunda, semua orang punya kekurangan ya?
me:
iya.
titan:
kalo bunda kekurangannya apa?
me:
banyak. bunda ngga sabaran, banyak aturan, suka marah-marah, galak, gendut, ... apalagi ya. masih banyak sih.
titan:
kalau titan apa ya ... hmmm, titan itu belajarnya masih kurang, trus masih suka nggak dengerin bunda, apalagi ya nda?
me:
wah, bagus itu. berarti kamu sadar kekurangan kamu. itu penting, lho. enggak banyak orang, bahkan orang gede, yang tahu kekurangan mereka. kalau udah tau kurangnya apa, kan enak gimana nambahinnya supaya enggak kurang lagi.
titan:
iya juga ya, nda. kaya makan bakso gitu. kalau berasa kurang garem, tinggal tambah garem. gitu kan nda, ya?
me:
ah, pinter sekali anak bunda ini!
when to shut out, when to shut up
setting:
nini lagi sibuk mencuci, titan sibuk nggerecokin. trolly cucian dipakai main kereta-keretaan, padahal trollynya trolly dari plastik macam trolly di ace hardware.
nini:
titan, keranjangnya jangan dinaikin nanti rodanya masuk.
titan:
rodanya masuk gimana, ni? *sambil terus mainan trolly*
nini:
mblesek!
titan:
luna kok boleh?
nini:
beratan kamu apa luna?
titan:
luna juga berat ni, titan aja nggak kuat gendongnya
nini:
ah, kamu nih ngejawab aja deh
titan:
lho, kan tadi nini nanya kan?
diem-diem saya ketawa aja di pojokan, sambil asyik nerusin cuci piring. anakku yang satu ini emang ampun deh kalau menjawab kata-kata nini dan akinya. pretty logical. apalagi terlatih sama bubunya yang obrolannya suka mengacaukan logika.
kejadian kaya gini sering banget kejadian di rumah, terutama antara titan dengan aki dan nininya. maklum, generation gap dan beda pola pengasuhan. nini dididik dengan cara feodal, yang mana orang tua itu udah kaya dewa. sedangkan aki, dididik dalam nuansa militer yang harus tunduk dengan perintah. ya jauh banget sama keadaan titan sekarang yang orang tuanya demokratis. paling enggak, mencoba untuk demokratis.
dengan situasi seperti ini, biasanya saya diam dan jadi pengamat aja. kalau sudah selesai dan peperangan berakhir damai, ya sudah. tapi kalau tidak berakhir damai; saya akan suruh titan minta maaf sama aki atau nininya. buat saya, yang penting adalah membiarkan anak mempertahankan argumen dengan logikanya.
kadang suka keceplosan juga sih kalo ini lagi kejadian sama saya. "because i told you so" atau "because i am your mom" keluar juga kalau mood lagi jelek plus tangan dan isi kepala yang lagi ribet. yang lebih parah kata-kata "udah jangan banyak omong!" yang biasanya dicounter dengan "dulu aja, titan disuruh belajar ngomong. sekarang ngomong banyak-banyak enggak boleh."
hadeuh.
umur-umur segini emang lagi ampun-ampunan membantahnya. kadang pegel juga. satu-satunya yang bisa memenangkan perdebatan dengan dia hanyalah bubunya. itu karena bubunya lebih suka mengacaukan logikanya, supaya logikanya terus berkembang. kalau dengan saya, sepertinya dia lebih menahan perdebatan karena saya adalah ibunya. daripada ribet nanti idup gue jadi susah, mending nurut aja - that a kind of attitude hahaha.
jadi, sekarang saya sangat menghindari tiga kalimat di atas dan lebih fokus pada ngajarin titan gimana untuk tau kapan timing yang tepat untuk berdebat dan kapan harus memilih diam.
timing yang tepat untuk memilih diam adalah saat keadaan lagi panik atau genting dan membutuhkan keputusan cepat seperti saat dua ban mobil yang lagi kita kendarai tetiba kempes dan kita harus sibuk berdebat keras tentang apa bedanya roda dan ban; daripada diskusi mencari tukang tambal ban di tengah malam.
ke dua, juga waktu-waktu yang singkat seperti saat jeda waktu antara bangun tidur dan pergi ke sekolah.
yang ke tiga, nah ini butuh skill khusus. yaitu saat mood lawan bicara sedang tidak bagus. well, untuk yang satu ini titan masih agak kurang peka nih. masih harus diasah skillnya, hehehe.
let's see how long this will end.
not that soon, i guess.
nini lagi sibuk mencuci, titan sibuk nggerecokin. trolly cucian dipakai main kereta-keretaan, padahal trollynya trolly dari plastik macam trolly di ace hardware.
nini:
titan, keranjangnya jangan dinaikin nanti rodanya masuk.
titan:
rodanya masuk gimana, ni? *sambil terus mainan trolly*
nini:
mblesek!
titan:
luna kok boleh?
nini:
beratan kamu apa luna?
titan:
luna juga berat ni, titan aja nggak kuat gendongnya
nini:
ah, kamu nih ngejawab aja deh
titan:
lho, kan tadi nini nanya kan?
diem-diem saya ketawa aja di pojokan, sambil asyik nerusin cuci piring. anakku yang satu ini emang ampun deh kalau menjawab kata-kata nini dan akinya. pretty logical. apalagi terlatih sama bubunya yang obrolannya suka mengacaukan logika.
kejadian kaya gini sering banget kejadian di rumah, terutama antara titan dengan aki dan nininya. maklum, generation gap dan beda pola pengasuhan. nini dididik dengan cara feodal, yang mana orang tua itu udah kaya dewa. sedangkan aki, dididik dalam nuansa militer yang harus tunduk dengan perintah. ya jauh banget sama keadaan titan sekarang yang orang tuanya demokratis. paling enggak, mencoba untuk demokratis.
dengan situasi seperti ini, biasanya saya diam dan jadi pengamat aja. kalau sudah selesai dan peperangan berakhir damai, ya sudah. tapi kalau tidak berakhir damai; saya akan suruh titan minta maaf sama aki atau nininya. buat saya, yang penting adalah membiarkan anak mempertahankan argumen dengan logikanya.
kadang suka keceplosan juga sih kalo ini lagi kejadian sama saya. "because i told you so" atau "because i am your mom" keluar juga kalau mood lagi jelek plus tangan dan isi kepala yang lagi ribet. yang lebih parah kata-kata "udah jangan banyak omong!" yang biasanya dicounter dengan "dulu aja, titan disuruh belajar ngomong. sekarang ngomong banyak-banyak enggak boleh."
hadeuh.
umur-umur segini emang lagi ampun-ampunan membantahnya. kadang pegel juga. satu-satunya yang bisa memenangkan perdebatan dengan dia hanyalah bubunya. itu karena bubunya lebih suka mengacaukan logikanya, supaya logikanya terus berkembang. kalau dengan saya, sepertinya dia lebih menahan perdebatan karena saya adalah ibunya. daripada ribet nanti idup gue jadi susah, mending nurut aja - that a kind of attitude hahaha.
jadi, sekarang saya sangat menghindari tiga kalimat di atas dan lebih fokus pada ngajarin titan gimana untuk tau kapan timing yang tepat untuk berdebat dan kapan harus memilih diam.
timing yang tepat untuk memilih diam adalah saat keadaan lagi panik atau genting dan membutuhkan keputusan cepat seperti saat dua ban mobil yang lagi kita kendarai tetiba kempes dan kita harus sibuk berdebat keras tentang apa bedanya roda dan ban; daripada diskusi mencari tukang tambal ban di tengah malam.
ke dua, juga waktu-waktu yang singkat seperti saat jeda waktu antara bangun tidur dan pergi ke sekolah.
yang ke tiga, nah ini butuh skill khusus. yaitu saat mood lawan bicara sedang tidak bagus. well, untuk yang satu ini titan masih agak kurang peka nih. masih harus diasah skillnya, hehehe.
let's see how long this will end.
not that soon, i guess.
36
many things happened before april and they got me thinking and rethinking about love, motherhood, about being a better child and how to raise better children. about how i would survive my retire years. about how to survive marriage. about understanding a man deeply. about friendship. about illness that can attack us at anytime.
now i am a step closer to forty than to thirty, ... how does it feel?
well, ... i feel old obviously. i might have spent half of my life living.
i feel worry too, because i might have done less good deeds compare to the bad ones.
i feel lucky to have my parents congratulated and hugged me at early morning.
i feel blessed to have a loving hubby, lovable children and managed myself to finally enjoy (after one and a half year) my role as a stay at home mother.
i was raised like a champion breed and treated like a princess for being the only daughter to my parents. i had my worst time being depressed at school, i had my years as champion in college and working life. i had my broken marriage. i rebuild a family with a guy deserted me once. a best friend left me without saying goodbye. i failed a 26 hours contraction. i am a mother of two. i quit my job. i don't think i need anything more.
whatever happens, my plate will cater the same portion and will always do. it is just my skill that needs to be sharpen to make them balance ... and eatable.
chew life. be grateful. happy birthday, me.
now i am a step closer to forty than to thirty, ... how does it feel?
well, ... i feel old obviously. i might have spent half of my life living.
i feel worry too, because i might have done less good deeds compare to the bad ones.
i feel lucky to have my parents congratulated and hugged me at early morning.
i feel blessed to have a loving hubby, lovable children and managed myself to finally enjoy (after one and a half year) my role as a stay at home mother.
i was raised like a champion breed and treated like a princess for being the only daughter to my parents. i had my worst time being depressed at school, i had my years as champion in college and working life. i had my broken marriage. i rebuild a family with a guy deserted me once. a best friend left me without saying goodbye. i failed a 26 hours contraction. i am a mother of two. i quit my job. i don't think i need anything more.
whatever happens, my plate will cater the same portion and will always do. it is just my skill that needs to be sharpen to make them balance ... and eatable.
chew life. be grateful. happy birthday, me.
![]() |
| - thank you la luna, for being a constant reminder that i am raising a better me - |
![]() |
| - thank you titan, for being my possible hero - |
About Us
to titan and la luna.
i want to tell you a little story about the love bubu and I have. neither the sweetest nor the coolest love tale you will ever known, but i hope it can give you two a little up when you are feeling down.
if ever someone asked me, your mom, how much i love your bubu; i would say ... i do. though i found it hard to express my love for him, but i do. though i found it hard to remember when i have thought of him, but i still do. and i know he loves me too.
our love does not come in a form of fancy dinner or having a wefie in instagram. our love does not go through a journey in the background of a beautiful landscape. our love does not told in a long scripted messages through whatsapp or a bombastic 'nocturnal' activity. neither a fancy birthday gifts, surprise parties, big feasts, "have a nice day or lunch or dinner or meeting" texts.
our love just come in a more humble and reachable way. like late-at-night-wake-ups to bring a glass of water when I or him caught a cough. comes in an always-alert sleeping and woken up just to feel one of us is moving though it was just a little bit. comes in an acceptance of the surround snores. comes in a lunch box he brings to work everyday and eats whatever inside. comes in a working so hard he hardly cut his nails and I did it for him when he was asleep.
boring as it may sound, but if you two ever experience this feelings; you two will know how comforting it is. though sometimes i think bubu does not need a wife. he cooks, he plants, he repairs, he builds, he works, he can take care of himself, and these make me learn a lot from him.
when you know you are loved by someone who can enjoy life by himself, you know you can live with him and love life together.
i want to tell you a little story about the love bubu and I have. neither the sweetest nor the coolest love tale you will ever known, but i hope it can give you two a little up when you are feeling down.
if ever someone asked me, your mom, how much i love your bubu; i would say ... i do. though i found it hard to express my love for him, but i do. though i found it hard to remember when i have thought of him, but i still do. and i know he loves me too.
our love does not come in a form of fancy dinner or having a wefie in instagram. our love does not go through a journey in the background of a beautiful landscape. our love does not told in a long scripted messages through whatsapp or a bombastic 'nocturnal' activity. neither a fancy birthday gifts, surprise parties, big feasts, "have a nice day or lunch or dinner or meeting" texts.
our love just come in a more humble and reachable way. like late-at-night-wake-ups to bring a glass of water when I or him caught a cough. comes in an always-alert sleeping and woken up just to feel one of us is moving though it was just a little bit. comes in an acceptance of the surround snores. comes in a lunch box he brings to work everyday and eats whatever inside. comes in a working so hard he hardly cut his nails and I did it for him when he was asleep.
boring as it may sound, but if you two ever experience this feelings; you two will know how comforting it is. though sometimes i think bubu does not need a wife. he cooks, he plants, he repairs, he builds, he works, he can take care of himself, and these make me learn a lot from him.
when you know you are loved by someone who can enjoy life by himself, you know you can live with him and love life together.
The Best
"are you happy to have me as your mom?"
"yes, I am."
"have you ever think of a better mom?
and you wish her to be your mom?
"no, you are the best mom."
"you are the best kid also.
you and la luna are my precious."
we kissed and went to bed.
What I should be drinking more often
"Bunda,
I think you should drink
more low fat milk"
Malicca Titan, 7 tahun 9 bulan
sambil elus-elus perut bundanya.
A Little Note
Let me take you to one of my emotional post.
Never at once; someone who got married with the reason of building life together, wanted a divorce. But who knows things that would came up along the marriage? A divorce is the last thing someone would do. Not because they are not strong enough. It is because they are tired to wake up on the same day everyday. Maybe, it is because they urge the need of moving on their life.
And so I did.
The best thing of the worst things happened was, we decided it together. We got to the court together. We wrote the testimony together, consulted every lines to each other and made sure they are accepted by both parties.
What we started well must end well.
And here comes the saddest part, our son. God knows the regrets we had, and still having, for what he has been through. We did mistakes for our marriage, we cannot do mistake to our son. If anyone would ever asked how me and my ex could still meet each other nicely and peacefully, the answer will only be one: it is because the love for our son is so great. Even greater than the love we have for ourselves that we need to lower down our ego, to be stronger to keep catering the past to the present.
And as everyone wanted, our life moves on. But the past can never be forgotten, can never be erased. For now our past have merged together with the present. I am blessed for having a husband who is open minded to accept my ex to come over to our house for a Fridate with our son. To find someone who loves you and wanted to marry you might be hard. But I can tell you, finding someone who wanted to marry you and love not only you but also the ones you love, is way harder. And I am blessed once again for finding one.
I remember the letter my son wrote for his step father on father's day last year.
"Terima kasih Bubu, sudah kasih tahu Titan kalau Titan salah. Terima Kasih. Happy Bubu's day"
:')
Today, I found he wrote another letter. Not for me or his bubu, it was for his cousin. But he showed me and he made me smile. He wrote about what he likes, what makes him feel bored, what the weird things happening, and most important is how he live a happy life and live a happy family.
Our life might not perfect, Malicca. But your happiness is what I can always promise you that I will try my best. Let's be happy with our limitations. Let's make peace with ourselves and all the things or people we ever hate.
...
I am blessed.
Thank you God, for giving such kind and wonderful people in my life.
Having them makes me think that no such little hatred deserves a space in my brain.
Never at once; someone who got married with the reason of building life together, wanted a divorce. But who knows things that would came up along the marriage? A divorce is the last thing someone would do. Not because they are not strong enough. It is because they are tired to wake up on the same day everyday. Maybe, it is because they urge the need of moving on their life.
And so I did.
The best thing of the worst things happened was, we decided it together. We got to the court together. We wrote the testimony together, consulted every lines to each other and made sure they are accepted by both parties.
What we started well must end well.
And here comes the saddest part, our son. God knows the regrets we had, and still having, for what he has been through. We did mistakes for our marriage, we cannot do mistake to our son. If anyone would ever asked how me and my ex could still meet each other nicely and peacefully, the answer will only be one: it is because the love for our son is so great. Even greater than the love we have for ourselves that we need to lower down our ego, to be stronger to keep catering the past to the present.
And as everyone wanted, our life moves on. But the past can never be forgotten, can never be erased. For now our past have merged together with the present. I am blessed for having a husband who is open minded to accept my ex to come over to our house for a Fridate with our son. To find someone who loves you and wanted to marry you might be hard. But I can tell you, finding someone who wanted to marry you and love not only you but also the ones you love, is way harder. And I am blessed once again for finding one.
I remember the letter my son wrote for his step father on father's day last year.
"Terima kasih Bubu, sudah kasih tahu Titan kalau Titan salah. Terima Kasih. Happy Bubu's day"
:')
Today, I found he wrote another letter. Not for me or his bubu, it was for his cousin. But he showed me and he made me smile. He wrote about what he likes, what makes him feel bored, what the weird things happening, and most important is how he live a happy life and live a happy family.
Our life might not perfect, Malicca. But your happiness is what I can always promise you that I will try my best. Let's be happy with our limitations. Let's make peace with ourselves and all the things or people we ever hate.
![]() |
| 7 y.o big brother lulled her 1,5 y.o little sister while mom was driving. |
![]() |
| The little note. |
![]() |
| What I always witness before bed time. |
...
I am blessed.
Thank you God, for giving such kind and wonderful people in my life.
Having them makes me think that no such little hatred deserves a space in my brain.
Oh, hello Kenny Rogers
Setelah dua kali gagal, akhirnya berhasil juga bikin ayam panggang simpel tapi enak ala Kenny Rogers. Yang pertama, salah bumbu. Terlalu heboh bumbunya. Yang ke dua, rumah penuh asap karena bakar ayam dan masih berdarah-darah juga dalamnya. Yang ke tiga, Alhamdulillah lebih sukses.
Saya pakai 4 potong paha double (paha atas - bawah), kalau dihitung-hitung sama aja dengan satu ekor ayam ya.
Tiga siung bawah putih digerus, campur dengan satu sachet Masako ayam (oh I love Masako by the way, it is just magical! hahaha), balurin di setiap permukaan ayam.
Taruh di dalam kontainer tertutup, masukkan ke dalam lemari es selama beberapa jam supaya menyerap. Di kasus saya kemarin, saya bumbuin pagi lalu proses sorenya menjelang makan malam.
Setelah kira-kira menyerap, kukus selama tiga puluh menit dengan api kecil.
Siapkan 2 siung bawah merah, gerus halus lalu campurkan pada 1 sendok makan mentega yang sudah dilelehkan. Oles lelehan mentega dan bawang di seluruh permukaan dengan kuas, lalu panggang di atas pan atau bisa juga panggang di oven atau bakaran. Terserah aja sih itu mah, seadanya yang di rumah :)
Voila, it tastes good I tell ya!
Saya pakai 4 potong paha double (paha atas - bawah), kalau dihitung-hitung sama aja dengan satu ekor ayam ya.
Tiga siung bawah putih digerus, campur dengan satu sachet Masako ayam (oh I love Masako by the way, it is just magical! hahaha), balurin di setiap permukaan ayam.
Taruh di dalam kontainer tertutup, masukkan ke dalam lemari es selama beberapa jam supaya menyerap. Di kasus saya kemarin, saya bumbuin pagi lalu proses sorenya menjelang makan malam.
Setelah kira-kira menyerap, kukus selama tiga puluh menit dengan api kecil.
Siapkan 2 siung bawah merah, gerus halus lalu campurkan pada 1 sendok makan mentega yang sudah dilelehkan. Oles lelehan mentega dan bawang di seluruh permukaan dengan kuas, lalu panggang di atas pan atau bisa juga panggang di oven atau bakaran. Terserah aja sih itu mah, seadanya yang di rumah :)
Voila, it tastes good I tell ya!
Musim hujan
Titan:
"Ah, ujan lagi ujan lagi. Rugi deh nih"
Bunda:
"Lho, kenapa?"
Titan:
"I will lose my job. You don't need someone to water the plants in rainy season."
Bunda:
"Oh, about that. Well, you can weed. They grow furiously in rainy season."
Titan:
"But it is hard, you need to pay me more."
Laaaaah, dia nawar hahahaha
"Ah, ujan lagi ujan lagi. Rugi deh nih"
Bunda:
"Lho, kenapa?"
Titan:
"I will lose my job. You don't need someone to water the plants in rainy season."
Bunda:
"Oh, about that. Well, you can weed. They grow furiously in rainy season."
Titan:
"But it is hard, you need to pay me more."
Laaaaah, dia nawar hahahaha
Responsibly Happy
Menjelang tahun baru 2015, kami sekeluarga mengalami perubahan-perubahan besar. Perubahan yang membiasakan kami untuk hidup lebih 'seadanya' dengan mengurangi fasilitas-fasilitas yang berlebihan. Kenapa? Karena ternyata tanpa kita sadari, selama ini kita hidup terlalu manja. Baik anak-anak maupun saya.
Mulai Masak Sendiri
Sebenernya agak malu cerita tentang hal yang satu ini: sekian tahun berumah tangga dan punya rumah sendiri, baru sekarang pontang-panting nyiapin asupan makanan buat sendiri, suami dan tentunya anak-anak.
Lah, ... emang selama ini begimanaaaaaaa?
Nah, ini nih bagian malunya. Karena saya selama ini bekerja, jadinya urusan makan malam dan makan anak-anak saya catering sama ibu. Bukan saja karena lebih simpel, tapi karena masakan ibu saya luar biasa enaknya (ya, menurut saya sih ... anaknya! Hahaha). Paling weekend saya masak lucu-lucuan, atau masak buat anak-anak. Sisanya mah ... cincay!
Nah, sejak pertengahan Desember 2014 lalu, saya memutuskan untuk berbelanja dan memasak sendiri saja. Sudah saatnya saya menjadi istri dan ibu yang lebih bertanggung jawab terhadap makanan orang-orang rumah. Setiap weekend, saya dan suami belanja kebutuhan untuk seminggu ke depan di pasar basah. Memilih binatang- binatang yang akan kami konsumsi lima hari ke depan plus beli bumbu-bumbu. Saya ingat betul belanja perdana saya untuk kebutuhan dapur yang masih nol hanyalah sekitar tiga ratus lima puluh ribu saja. Tentunya belum termasuk sayur, yang saya pikir lebih baik beli harian aja di tukang sayur supaya masih segar saat dimasak. Kami pulang setelah berhasil memenuhi 2 tas envirosax kami (duh, mesti banget ya disebut merknya? Hahaha ... karena belanja di pasar juga harus tetap gaya!) dengan ikan, udang, cumi, ayam dan bumbu-bumbu. Hari itu, saya memasak perdana dengan menu tenggiri bakar bumbu kuning. Ih, hebat ya? Hahahaha ... sama sekali enggak. Terima kasih sama uda penjual bumbu, saya tinggal bilang "Uda, minta bumbu ikan bakar 3000 ya!"
Untuk belanja bulanan di Superindo, saya pecah menjadi belanja 2 mingguan. Belanja sayur harian di tukang sayur yang tidak menghabiskan lebih dari sepuluh ribu, beli telur 1 kg untuk satu minggu di warung depan dan beli roti di Indomaret atau Alfa Mart sebutuhnya saja. Biasanya sih mampir ke sana setelah jemput Titan dari sekolah. Oh iya, belanja kecil-kecil di Indomaret ini ternyata kalau dikumpul-kumpul jadi jajanan mahal, lho! Untuk menyiasatinya, saya beli kartu Indomaret yang bisa di top - up di ATM. Jadi setiap bulan jajanan Indomaret sudah ada platformnya. Lumayan juga kartunya bisa dipakai buat e-toll :)
Dengan masak sendiri ini, Alhamdulillah kita semua belajar banyak. Karena suami enggak suka makan makanan ala carte yang kebule-bulean (padahal itu yang gampang dimasak hahaha), saya harus belajar masak makanan Indonesia. Walau akhirannya lebih banyak tumis sih, hehehe. Yang jelas, Ariawan membawa bekal makan siangnya sendiri. Biasanya, bekal ke kantor ini adalah left-over foods dari dinner semalam. Kalau kebetulan habis, baru deh masak lagi, jadilah musti bangun lebih pagi.
Selain itu, mulai juga mikir tentang menu sehat yang minimal minyak. Rebus dan bakar, kalau bisa. Buat nasi, saya campur beras putih dengan sedikit beras merah menjadikannya beras pink yang lucu hahaha. Titan yang picky eater, Alhamdulillah kebiasaan makannya mulai membaik. Makan apapun yang bundanya masak, suka atau enggak suka. Karena ibunya ini sudah terlalu lelah kalau harus masak menu yang berbeda lagi buat dia. Tentunya pilihan menu juga enggak aneh-aneh sih. Dikira-kira aja yang anak-anak bisa suka.
Buat menghemat waktu dan siap-siap kalau kepepet, saya selalu menyimpan tempe / tahu bacem dan ayam segar berbumbu di lemari es. Kapanpun dibutuhkan, tinggal buka container trus goreng. Kalau lagi males masak, kadang pesen juga sih ke delivery Sederhana atau makan di luar hahaha.
Cutting off the bills
Kemanjaan kita berikutnya adalah ketergantungan terhadap water heater. Ow yeah. Akibat tagihan listrik yang melonjak akhir-akhir ini karena memang TDLnya naik, akhirnya kabel water heater pun saya cabut. Tadinya sih cuma pengen tahu aja, apakah setelah dadah-dadah sama air hangat tagihan listrik bisa berkurang. Eh, ternyata benar, tagihan listrik berkurang tiga puluh persen.
Awalnya sedih juga, kasihan luna yang masih umur satu tahun. Kasihan Titan yang harus mandi pagi dengan air dingin. Tapi ternyata, Alhamdulillah Luna baik-baik aja. Dia malah seneng banget bisa main di bawah keran. Dan Titan, sejak mandi pakai air dingin, mandi paginya jadi super cepat dan akhirnya ke sekolah pun tidak lagi telat. Super yeay!
Tinggal first media aja nih, langganan TV kabel tapi enggak pernah ditonton. Mau diputusin, kita masih butuh internetnya. Karena kalau hanya berlangganan internet aja, justru lebih mahal jatuhnya. Bisa enam ratus ribuan per bulan. So, ya sudahlah ya kita merem aja.
So yeah, these are just the beginning of our thrifty lifting journey. Semoga besok-besok bisa lebih menghargai seadanya hidup, menghargai apa yang ada.
Amin.
![]() |
| uda - uda si jago bumbu |
![]() |
| sayur lodeh, ikan asin, sambel, tempe dan empal goreng |
![]() |
| bekal kakak titan |
![]() |
| temen weekly shopping |
You
i hardly remember the last time i watch your face when you sleep.
trace the wrinkles,
count your eye lashes,
watching you breathing hard as hard as the days you have had.
but i am doing it now
and everything flashes back.
it is amazing how my brain remembers the every-little-things in fourteen years.
the alarm beeps.
and your eyes opened up.
"hello" i said.
thisclose.
trace the wrinkles,
count your eye lashes,
watching you breathing hard as hard as the days you have had.
but i am doing it now
and everything flashes back.
it is amazing how my brain remembers the every-little-things in fourteen years.
the alarm beeps.
and your eyes opened up.
"hello" i said.
thisclose.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
It’s been years. Probably, … eight years. We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit. But after weeks of considera...
-
Di suatu malam yang sunyi dan dingin, langit begitu gelap. Namun, ada seorang wanita yang tidak dapat terlelap. Dari semua mimpi yang tela...



























.jpg)
