masih berkutat dengan anak yang terlalu santai berangkat sekolah dan akhirnya ... telat!
ternyata saya masih belum legowo untuk menjadi fasilitas belajar. masih nervous kalau liat si anak nyantai dan enggak merasa ada yang salah kalau telat datang ke sekolah.
saya orang yang percaya, kalau saya ninggalin rumah sambil misuh-misuh, pasti sepanjang jalan sampai ke tempat tujuan itu enggak lancar. banyak yang bikin kesel dan semuanya jadi enggak bener. begitu juga pagi ini.
saya bangunin titan sekali, and thats it. anaknya manis banget, lima belas menit kemudian kucuk kucuk turun tangga dan mandi. tapi along the way, karena dia merasa sudah bangun cepat, maka bersantai-santailah dia melakukan ritual-ritualnya. dia enggak ngerti, bahwa dia bangun cepat pun harinya sudah siang. alhasil, ya jadi telat juga berangkatnya. ndelalah di jalan kena metromini mogok pas banget di depan mata, trus kejebat gridlock di perempatan.
di perjalanan, sontak dong saya nyerocos.
paling juga nggak didengerin sih sama anaknya -__-
sampai akhirnya saya mengajukan sebuah ide.
"malicca, karena kamu enggak merasa rugi juga kalau telat (he did say that before), dan anyways sudah telat juga nih kita, yuk kita ngopi-ngopi dulu aja di McD atau sruput-sruput Slurpee di Sevel. toh udah telat juga, kan? bedanya, kita santai-santai dulu... oh, bunda ding yang santai-santai. kan kamu udah santai-santai tadi pagi. luna juga udah nangis-nangis tuh bosen, abis macet banget siiiih."
"nggak mau, nda. nanti jadi telat banget."
"whats the difference between telat dan telat banget? gak ada itu yang namanya telat banget. telat ya telat aja, thats it. kalau udah telat, ya udah. telat. gak usah pake banget. thats what we do with timing. tepat atau telat."
anaknya diem aja.
saya pasang sen mau melipir ke sevel yang udah ngiming-ngiming slurpee cotton candy.
aselik deh, saya udah niat banget mau nyevel karena kesel terkena macet ngga jelas ini. gara-gara tol jorr sudah dibuka tapi akses luarnya masih berantakan, gini deh akibatnya. tapi tiba-tiba titan protes berat.
"oke, oke! aku enggak akan telat lagi. beneran!
kamu jalan terus aja, jangan mampir beli slurpee."
saya pasang muka datar, walau dalam hati senyum-senyum dan terus jalan enggak jadi melipir.
ya, gak ngaruh juga sih.
tetep telat.
banget.
7ime for manners
supaya bisa makan dengan nyaman, saya biasanya nyiapin minum dulu sebelum mulai makan. begitu juga tadi malam. segelas besar teh manis hangat udah nangkring di atas meja, reward buat saya saat selesai makan nanti. ouw, ... nggak sabar pengen menenggak teh manis anget itu ... gluk gluk gluk!
tiba-tiba, di tengah makan, ada tangan kecil menyambar gelas gendut teh hangat saya.
"eh, enak aja. it is not yours."
"dikit aja, nda. dikiiiit aja."
"enggak boleh, that is mine."
"bunda pelit"
"emang!"
lalu, saya melanjutkan makan dan melihat si bocah tujuh tahun bersungut-sungut sambil mengambil gelas dan mulai menuang air teh dan gula. saya liatin aja sambil senyum-senyum dan bilang "nah, itu kan bisa bikin sendiri. masa buat diri sendiri aja males, sih? jangan dong."
ndelalah, si anak malah pasang tampang bete dan memutar bola matanya. DI. DEPAN. SAYA.
saya langsung melengos, enggak mau liat.
setelah makan, dan minum teh anget saya dengan mood yang udah setengah kacau gara-gara ngeliat Titan berbuat enggak sopan kaya gitu, akhirnya Titan saya tarik ke kamar dan ajak dia bersih-bersih bersiap tidur. sambil cuci muka juga, saya mulai deh nyerocos tentang siapa saya dan kenapa dia harus pay some respect to older people.
anaknya diam aja. merasa salah. saat ditanya "kamu mengerti?" dia sih angguk-angguk aja. mari kita lihat aja apa dia bakal begitu lagi ke depannya.
tapi beneran deh, anak umur 7 tahun itu mulai memasuki alam gemet-gemet nyebelin. testing the limits dan mulai coba-coba ngomong atau berbuat enggak sopan, sesuatu yang mereka belum pernah lakukan sebelumnya and trying out a new things (specially the bad ones) are always fun, right?
sabar-sabar ya, Nda.
*pukpuk kepala sendiri*
tiba-tiba, di tengah makan, ada tangan kecil menyambar gelas gendut teh hangat saya.
"eh, enak aja. it is not yours."
"dikit aja, nda. dikiiiit aja."
"enggak boleh, that is mine."
"bunda pelit"
"emang!"
lalu, saya melanjutkan makan dan melihat si bocah tujuh tahun bersungut-sungut sambil mengambil gelas dan mulai menuang air teh dan gula. saya liatin aja sambil senyum-senyum dan bilang "nah, itu kan bisa bikin sendiri. masa buat diri sendiri aja males, sih? jangan dong."
ndelalah, si anak malah pasang tampang bete dan memutar bola matanya. DI. DEPAN. SAYA.
saya langsung melengos, enggak mau liat.
setelah makan, dan minum teh anget saya dengan mood yang udah setengah kacau gara-gara ngeliat Titan berbuat enggak sopan kaya gitu, akhirnya Titan saya tarik ke kamar dan ajak dia bersih-bersih bersiap tidur. sambil cuci muka juga, saya mulai deh nyerocos tentang siapa saya dan kenapa dia harus pay some respect to older people.
anaknya diam aja. merasa salah. saat ditanya "kamu mengerti?" dia sih angguk-angguk aja. mari kita lihat aja apa dia bakal begitu lagi ke depannya.
tapi beneran deh, anak umur 7 tahun itu mulai memasuki alam gemet-gemet nyebelin. testing the limits dan mulai coba-coba ngomong atau berbuat enggak sopan, sesuatu yang mereka belum pernah lakukan sebelumnya and trying out a new things (specially the bad ones) are always fun, right?
sabar-sabar ya, Nda.
*pukpuk kepala sendiri*
a little detour
"Nda, kamu enggak capek ngeburu-buru Titan seeetiap pagi, untuk pergi sekolah?"
tanya ariawan suatu pagi.
*saya diam. ya capek sih. dan saya yakin, ariawan tau itu. makanya dia nanya.*
"yang perlu sekolah itu, anaknya atau kamu?"
*glek*
pertanyaan itu tiba-tiba membangunkan saya dari mimpi kelamaan jadi pelindung anak-anak. padahal, jauh di balik kekhawatiran terlambat sekolah; ada kekhawatiran lain lagi. yaitu keinginan untuk tetap bisa mengontrol ekspektasi hari itu. berangkat tepat waktu, itu berarti pulang ke rumah tepat waktu, luna sarapan tepat waktu, saya mandi tepat waktu, luna tidur siang tepat waktu, saya istirahat tepat waktu, semua tepat waktu dan hari itu pun berjalan normal sesuai dengan time slot yang sudah saya harapkan.
iyes, pengharapan saya sendiri.
tapi, saya malah jadi lupa; bahwa harapan supaya anak-anak jadi anak yang bertanggung jawab bisa dimulai dengan membiarkan mereka belajar memanfaatkan waktu mereka sendiri. kenapa sih saya enggak membiarkan saja dia bangun sendiri. biarin deh, telat juga. toh dia yang akan ngerasain jalan di lorong kelas sendirian sementara teman-temannya sudah masuk kelas. toh dia yang akan menghadapi guru piket dan mengisi formulir keterlambatan dengan susah payah karena panjaaang dan menulis sambil berdiri itu rasanya enggak enak. toh nantinya dia juga yang harus catch up workshop-workshop yang tertinggal.
kalau saya tidak membiarkannya melakukan kesalahan sekarang, lalu kapan lagi? apa dia harus belajar dengan keras soal time-management saat dia bekerja nanti? saat ada interview pekerjaan di sebuah perusahaan bonafid? atau saat ada presentasi ke klien? atau saat ada jadwal penerbangan?
tapiii, apa kata dunia nanti? dikiranya ibu macam apa saya ini, enggak bisa urus anak?
"i am such a tiger mom, why can't you do it too?" ... kata belahan kepala saya yang lain sibuk banget protes kalau saya berbuat seperti yang di atas.
tapi, setelah saya pikir-pikir; apa yang ariawan omongin ada benarnya juga. bener banget, malah. hanya saja soal menjadi ikhlas melihat anak berbuat salah dan menerima konsekuensinya, melihat dia lelet di segala sesuatunya, ... saya masih harus belajar banyak. banget.
itu satu.
yang ke dua, ariawan juga terkaget-kaget saat saya bercerita kalau saya ngedampingin titan bikin PR, setelah dia selesai kemudian saya periksain satu-satu dan minta titan untuk merevisi kalau ada yang salah.
menurut ariawan, itu adalah hal paling salah yang sering dilakukan orang tua. karena menurut dia, saya telah merampas rasa percaya diri titan untuk presentasi hasil karyanya di depan guru, dengan menjadi reviewer tugas-tugasnya. sementara, otoritas untuk mereview tidak berada di saya; melainkan ada pada gurunya. proses belajar sebenarnya justru terletak pada saat titan presentasi hasil karyanya, murni tanpa campur tangan dan embel-embel revisi atau bantuan dari saya. dengan begitu, rasa percaya diri dan bangga terhadap hasil karyanya akan terbentuk.
selain itu, proses belajar juga terjadi saat saya mengetahui apakah gurunya telah mereview dengan baik, ... atau tidak.
hooo, ... well well masih musti belajar lagiiiii dan berusaha lebih ikhlas lagi ngeliat anak bikin salah
-__-
Ikhlas itu...
... susah!
I live in a world where a woman can be everything.
Yet I don't have to be everything.
sepuluh bulan sudah jadi full time mom di rumah. yeah, ibu rumah tangga lah judulnya. rasanya cepat sekali, engga terasa. melewati masa menyusui eksklusif, weaning, baby led weaning, graduation TK, orientasi SD, menyaksikan langkah pertama anak, menyaksikan cinta pertama anak, antar-jemput, gubrak-gabruk saat mom capek dan berubah jadi momster, melalui dua tifus, ... and keep rocking to this very moment.
sepuluh bulan, dan masih mencoba untuk ikhlas.
mencoba ikhlas bahwa yang dilakukan sekarang ini jauh dari penghargaan yang terukur. jauh dari takaran piala emas, perak atau perunggu di panggung perhelatan dunia periklanan. misalnya, rumah sudah capek-capek dibersihin ya pasti acak-acakan lagi dan harus dibersihkan lagi. atau saat sudah capek-capek masak, toh titan minta menu lain yang super simpel: nasi goreng ceplok telor. apa yang mau dihargai kalau bentuk karya ibu rumah tangga aja susah terlihat : )))
mencoba ikhlas sulit untuk memiliki me time, walau kadang separuh hati berkata bahwa saya sudah cukup punya me time selama 28 tahun dan saat anak-anak besar nanti pun saya akan memiliki me time itu lagi.
mencoba ikhlas bahwa dulu pernah punya pendapatan dan bebas mau ngapain aja, sekarang jadi salary-less dan punya rasa enggak enak saat harus mengandalkan suami saja.
merasa rendah diri, karena merasa yang dihasilkan biasa-biasa saja (ya karena itu tadi, hasil kerja ibu rumah tanggak itu enggak terlihat) dan juga merasa bodoh karena rasanya otak enggak dipakai untuk sesuatu yang terukur. kalau ngantor kan jelas: kerjaan selesai tepat waktu, klien happy, menang award. itu semua kan ukuran kesuksesan. lah kalau di rumah? kwang kwang kwang kwang ...
terukurnya nanti, kalau anak-anak sudah jadi 'orang' atau rumah tetap kinclong saat keluarga bertandang : )))
kalau ditanya apa saya sudah ikhlas dengan semua itu? jawabannya, saya masih terus belajar. masih mencoba mengesampingkan ego saya sebagai mantan pekerja kreatif yang ternyata tidak bisa selalu kreatif dalam urusan nyiapin masakan sehari-hari. masih mencoba untuk mengesampingkan keinginan untuk me time dengan menyingkirkan ponsel kalau bersama anak-anak. masih belajar untuk menjadi tetap cerdas dengan ikutan online course gratisan walau tutorialnya ditonton sambil terkantuk-kantuk plus sambil nyusuin. masih berusaha untuk ikhlas tidak berpenghasilan saat usaha wiraswasta lagi blooming-bloomingnya, dikalahkan dengan harus membagi waktu mempelajari kembali pelajaran SD karena pelajaran si kakak mulai serius.
di saat semua ini berkecamuk di kepala saya, sementara suami pun sibuk bekerja dan rasanya enggak enak kalau harus mendengar curhatan-curhatan kecil ini, saya sangat merindukan pembicaraan-pembicaraan ngalor ngidul (yang tentunya hanya sebatas wacana dan tidak dilakukan) dengan teman-teman. saya sangat merindukan perasaan santai dan legowo, yang tidak ingin menjadi ibu sempurna tapi cukup menjadi ibu yang dapat diandalkan saja. saya ingin menaruh rasa percaya yang lebih besar kepada anak-anak dan memberi hukuman yang jelas-jelas bisa saya lakukan, bukan sekedar ancaman. saya ingin menjalani hari-hari yang jauh dari rasa takut: takut telat ke sekolah, takut anak-anak enggak mau makan, takut anak-anak sakit, takut anak-anak gagal. saya ingin lebih ikhlas, menanggalkan ke'aku'an saya dan bersedia untuk berdiri di belakang. di belakang anak-anak dan suami.
saya dan titan di suatu pagi:
"Titan! Ayo cepat makannya, hap hap hap jangan sambil ngelamun. Nanti kita telat nih, sudah jam berapa. Belum lagi nanti macet. Atau kamu berangkat naik ojek aja ya, sendiri!"
"Ah bunda, bunda nih banyak takutnya. takut kecoak, takut telat, takut gemuk, takut takut takut apaaa lagi, masih banyak. titan aja cuma dua takutnya. takut laba-laba sama takut kalau bunda marah."
I live in a world where a woman can be everything.
Yet I don't have to be everything.
sepuluh bulan sudah jadi full time mom di rumah. yeah, ibu rumah tangga lah judulnya. rasanya cepat sekali, engga terasa. melewati masa menyusui eksklusif, weaning, baby led weaning, graduation TK, orientasi SD, menyaksikan langkah pertama anak, menyaksikan cinta pertama anak, antar-jemput, gubrak-gabruk saat mom capek dan berubah jadi momster, melalui dua tifus, ... and keep rocking to this very moment.
sepuluh bulan, dan masih mencoba untuk ikhlas.
mencoba ikhlas bahwa yang dilakukan sekarang ini jauh dari penghargaan yang terukur. jauh dari takaran piala emas, perak atau perunggu di panggung perhelatan dunia periklanan. misalnya, rumah sudah capek-capek dibersihin ya pasti acak-acakan lagi dan harus dibersihkan lagi. atau saat sudah capek-capek masak, toh titan minta menu lain yang super simpel: nasi goreng ceplok telor. apa yang mau dihargai kalau bentuk karya ibu rumah tangga aja susah terlihat : )))
mencoba ikhlas sulit untuk memiliki me time, walau kadang separuh hati berkata bahwa saya sudah cukup punya me time selama 28 tahun dan saat anak-anak besar nanti pun saya akan memiliki me time itu lagi.
mencoba ikhlas bahwa dulu pernah punya pendapatan dan bebas mau ngapain aja, sekarang jadi salary-less dan punya rasa enggak enak saat harus mengandalkan suami saja.
merasa rendah diri, karena merasa yang dihasilkan biasa-biasa saja (ya karena itu tadi, hasil kerja ibu rumah tanggak itu enggak terlihat) dan juga merasa bodoh karena rasanya otak enggak dipakai untuk sesuatu yang terukur. kalau ngantor kan jelas: kerjaan selesai tepat waktu, klien happy, menang award. itu semua kan ukuran kesuksesan. lah kalau di rumah? kwang kwang kwang kwang ...
terukurnya nanti, kalau anak-anak sudah jadi 'orang' atau rumah tetap kinclong saat keluarga bertandang : )))
kalau ditanya apa saya sudah ikhlas dengan semua itu? jawabannya, saya masih terus belajar. masih mencoba mengesampingkan ego saya sebagai mantan pekerja kreatif yang ternyata tidak bisa selalu kreatif dalam urusan nyiapin masakan sehari-hari. masih mencoba untuk mengesampingkan keinginan untuk me time dengan menyingkirkan ponsel kalau bersama anak-anak. masih belajar untuk menjadi tetap cerdas dengan ikutan online course gratisan walau tutorialnya ditonton sambil terkantuk-kantuk plus sambil nyusuin. masih berusaha untuk ikhlas tidak berpenghasilan saat usaha wiraswasta lagi blooming-bloomingnya, dikalahkan dengan harus membagi waktu mempelajari kembali pelajaran SD karena pelajaran si kakak mulai serius.
di saat semua ini berkecamuk di kepala saya, sementara suami pun sibuk bekerja dan rasanya enggak enak kalau harus mendengar curhatan-curhatan kecil ini, saya sangat merindukan pembicaraan-pembicaraan ngalor ngidul (yang tentunya hanya sebatas wacana dan tidak dilakukan) dengan teman-teman. saya sangat merindukan perasaan santai dan legowo, yang tidak ingin menjadi ibu sempurna tapi cukup menjadi ibu yang dapat diandalkan saja. saya ingin menaruh rasa percaya yang lebih besar kepada anak-anak dan memberi hukuman yang jelas-jelas bisa saya lakukan, bukan sekedar ancaman. saya ingin menjalani hari-hari yang jauh dari rasa takut: takut telat ke sekolah, takut anak-anak enggak mau makan, takut anak-anak sakit, takut anak-anak gagal. saya ingin lebih ikhlas, menanggalkan ke'aku'an saya dan bersedia untuk berdiri di belakang. di belakang anak-anak dan suami.
saya dan titan di suatu pagi:
"Titan! Ayo cepat makannya, hap hap hap jangan sambil ngelamun. Nanti kita telat nih, sudah jam berapa. Belum lagi nanti macet. Atau kamu berangkat naik ojek aja ya, sendiri!"
"Ah bunda, bunda nih banyak takutnya. takut kecoak, takut telat, takut gemuk, takut takut takut apaaa lagi, masih banyak. titan aja cuma dua takutnya. takut laba-laba sama takut kalau bunda marah."
Karma
have you ever wonder what kind of life you and your kids will have when you get old?
i mean ... those rhetorical questions like would the kids be a good boy and girl in the future? would they be useful for the community? would they be useful for themselves? would they have a good job or career? would they survive the world? what would they think of you, their parents? would they take care of you as you will have a gradual hearing loss, memory loss and live as a retiree with limited amount of money? would they be happy? would you be happy seeing them?
well, i do. and i am sure you do too.
and having said that, since i would never be able to answer that, i reflect myself to what is happening to me now and my relation with my parents and other family members. have i been a good child? have they fed me with halal? what mistakes and goods they have made, all the deeds that make me what i am today: a karma for my parents.
and my children, will be my karma too.
then suddenly i am in a deep mourn, because the big question arise: have i been a good mother? have i done the right thing for them? because i think, i have not. i could have been better and want to be better. but how? what is a better mom in criteria? i don't have the checklists. would it be no more bribes? would it be no more toys? would it be giving all they want? would it be letting them do what makes them happy?
then what if they asks the mistakes i have done? the obvious ones? the path i have taken? and if i answer them, what if they cannot accept my reasons? would i be the one to blame? would they know that i only got one chance to be a parent? and in this case, their parent. would they understand, that many times, i also do not know what to do.
to my kids, malicca and la luna.
you are the chance that i have, and the only chance god gives me to be a mother. there is no way you can get back to my tummy and god definitely did not do a mistake sending you two to me. because we are made for each other.
and if i do something wrong, ever, and i am sure i will (or did), would you please forgive me? because as you grow each day, i also learn new things about you and about myself. because we all change every single day, it is just sometimes we forget to tell what the changes are.
i love you satellites.
how many times i have told you that it is not you who runs around me, it is you two that has been the centre of my gravity.
I want to be a good boy
Me, talking to La Luna:
Hey, pretty girl. Come here and get your dress change.
And you, handsome boy, go finish your homework.
Titan:
Ow, me ... handsome!
Me:
Yes, hmm... I think I have new nicks for you two.
Titan:
Yes, I like handsome. And Naira will be the pretty girl.
Me:
Which one do you choose, a handsome boy or a good boy?
Titan:
Good one.
Me:
Why?
Titan:
Because I want to be very good.
Me:
Nice one. Always remember that.
Hey, pretty girl. Come here and get your dress change.
And you, handsome boy, go finish your homework.
Titan:
Ow, me ... handsome!
Me:
Yes, hmm... I think I have new nicks for you two.
Titan:
Yes, I like handsome. And Naira will be the pretty girl.
Me:
Which one do you choose, a handsome boy or a good boy?
Titan:
Good one.
Me:
Why?
Titan:
Because I want to be very good.
Me:
Nice one. Always remember that.
guru yang baik. gimana, sih?
titan udah tiga minggu ini efektif belajar di kelas dua. selain duitnya, yang lain enggak berasa udah berjalan sejauh ini. yes, memasuki tahun ke tiga sekolah high scope. memasuki tahun ini, jujur saya agak deg-degan. guru di grade 1 bisa bilang bahwa pengajaran tidak memberatkan pada akademis, tapi di kelas 2 ini mereka wanti-wanti bahwa beban akademis pasti akan meningkat.
lalu, hal pertama yang saya cari tahu saat initial meeting dengan principal adalah, mencari tahu siapa guru-guru titan nanti. dan menurut teman-teman sesama orang tua murid, kelas titan mendapat guru terbaik yang pernah mereka temui: Miss P.
pertama saya bingung, seperti apa sih guru yang OK banget itu?
hari demi hari, saya mengumpulkan fakta seperti apa si miss P ini. berusaha untuk memahami apa maksud teman-teman dengan definisi guru terbaik di sekolah. well, saya enggak punya checklist dan kriteria sendiri tentang guru terbaik, tapi so far ini yang saya dapat.
pertama.
di hari pertama titan masuk sekolah, saat saya menjemput; miss P menghampiri saya dan berpesan:
"Ibu, tolong dibantu supervisi di rumah. Tadi, saat review, Malicca kurang detail dengan penulisan huruf besar dan huruf kecil. Kemudian saya suruh hapus dan perbaiki. Tapi, masih salah. Akhirnya saya contohkan, dan dia tinggal copy paste aja. Tapi, masih salah juga. Nanti di rumah, dilatih aja ya Ibu."
ke dua.
kemarin, titan mengingatkan saya bahwa miss P mengingatkan supaya orang tua selalu menandatangani setiap pengumuman yang ditulis di buku agenda.
ke tiga.
setiap minggu, saya selalu mendapatkan email mengenai progress report kegiatan anak di sekolah. tapi sudah beberapa hari ini, di agenda titan selalu ditulis bahan-bahan pelajaran mereka dalam bentuk link-link website yang bisa saya akses, bukan per minggu tapi hampir setiap harinya. jadi, saya enggak deg-degan lagi sudah belajar apa saja anak-anak di sekolah hari ini. karena, maklum, sekolahnya titan ini enggak pakai buku sama sekali. jadi emang sering banget orang tua bertanya-tanya sudah sepinter apa anaknya dibanding anak-anak lain yang di sekolahnya pakai text book. catatan-catatan kecil dari miss P ini menolong sekali. bangeeeet. enggak seperti tahun lalu dimana saya agak lost track dengan bahan pelajaran titan sehingga saya harus provide buku-buku text book sendiri.
well, udah ada tiga poin yang saya rasain untuk kategori guru terbaik ini. semoga bakal nambah lagi di minggu-minggu berikut. amin!
lalu, hal pertama yang saya cari tahu saat initial meeting dengan principal adalah, mencari tahu siapa guru-guru titan nanti. dan menurut teman-teman sesama orang tua murid, kelas titan mendapat guru terbaik yang pernah mereka temui: Miss P.
pertama saya bingung, seperti apa sih guru yang OK banget itu?
hari demi hari, saya mengumpulkan fakta seperti apa si miss P ini. berusaha untuk memahami apa maksud teman-teman dengan definisi guru terbaik di sekolah. well, saya enggak punya checklist dan kriteria sendiri tentang guru terbaik, tapi so far ini yang saya dapat.
pertama.
di hari pertama titan masuk sekolah, saat saya menjemput; miss P menghampiri saya dan berpesan:
"Ibu, tolong dibantu supervisi di rumah. Tadi, saat review, Malicca kurang detail dengan penulisan huruf besar dan huruf kecil. Kemudian saya suruh hapus dan perbaiki. Tapi, masih salah. Akhirnya saya contohkan, dan dia tinggal copy paste aja. Tapi, masih salah juga. Nanti di rumah, dilatih aja ya Ibu."
ke dua.
kemarin, titan mengingatkan saya bahwa miss P mengingatkan supaya orang tua selalu menandatangani setiap pengumuman yang ditulis di buku agenda.
ke tiga.
setiap minggu, saya selalu mendapatkan email mengenai progress report kegiatan anak di sekolah. tapi sudah beberapa hari ini, di agenda titan selalu ditulis bahan-bahan pelajaran mereka dalam bentuk link-link website yang bisa saya akses, bukan per minggu tapi hampir setiap harinya. jadi, saya enggak deg-degan lagi sudah belajar apa saja anak-anak di sekolah hari ini. karena, maklum, sekolahnya titan ini enggak pakai buku sama sekali. jadi emang sering banget orang tua bertanya-tanya sudah sepinter apa anaknya dibanding anak-anak lain yang di sekolahnya pakai text book. catatan-catatan kecil dari miss P ini menolong sekali. bangeeeet. enggak seperti tahun lalu dimana saya agak lost track dengan bahan pelajaran titan sehingga saya harus provide buku-buku text book sendiri.
well, udah ada tiga poin yang saya rasain untuk kategori guru terbaik ini. semoga bakal nambah lagi di minggu-minggu berikut. amin!
#lebaran2014
postingan #ramadhan2014 belum lengkap, tau-tau udah nongol judul baru #lebaran2014 aja hahaha
well, jadi gini ceritanya.
tiba-tiba si mbak di rumah nini, yang notabenenya tetanggaan sama kita, tiba-tiba pulang sebelum waktu yang dijanjikan. jadilah kita semua sibuk kerja bakti bantuin nini - aki yang umurnya sudah di atas 65 tahun, mulai dari dalam sampai luar. kamar mandi sampai garasi. lap-lap sampai mencuci. apalagi nini itu clean freak. kalau kata aki, nini suka memaksakan rumah untuk selalu kinclong seperti istana nabi sulaiman. padahal, tenaganya sudah jauh menyusut. aku sih ketawa ajalah. ya memang sudah sifatnya seperti itu, mau gimana dong. udah bagus hobinya bersih-bersih, daripada hobi belanja? lebih pusing lagi kan, ki?
ndelalah, si mbak part-timer di rumah kita pun ikutan ambil cuti mendadak seenaknya. 3 minggu, bayangin! pun tanpa pemberitahuan sebelumnya. ujug-ujug gak masuk dan ngirim anaknya yang masih sd untuk minta 'izin'. jadi, ya gitu deh ... sudahlah beberes dua rumah, punya satu bayi dan enggak terasa lebaran pun datang dengan sangat cepatnya. sampe enggak sempat bikin-bikin kue lucu, apalagi nulis-nulis lucu.
nah, mumpung lebaran belom genap satu bulan (mind my excuse please), izinkan saya mengucapkan selamat lebaran ya. mohon maaf lahir dan bathin, kalau-kalau ada kata-kata yang menohok di hati *pelukkk*
so, gimana lebarannya? kalau saya, setiap lebaran bawaannya sedih. semakin tua, semakin sedih. karena takut, takut banget, kebersamaan bersama orang tua akan berakhir suatu saat nanti. padahal, yang tua kan belum tentu akan meninggalkan kita duluan ya. tapi entahlah, rasanya ya ... sedih. apalagi semakin ke sini, lebaranan semakin sepi. karena sesuatu dan lain hal.
dulu, rumah orang tua saya selalu dijadikan 'pool' lebaran, baik dari pihak keluarga bapak maupun mamah. tapi, sejak bapak pensiun, perlahan-lahan mereka yang tetap ke rumah tinggal hitungan jari. sudah beberapa tahun belakangan ini lebaran itu 'seadanya'. ditambah di keluarga saya bercucu sedikit, cuma empat orang dan itu pun yang satu jauh di benua lain, satu masih tergolong kelas perbayian dan satu lagi selalu berlebaran di kota lain. otomatis tinggal satu aja yang tersisa di rumah, yaitu titan. jadi ya memang tidak ada alasan untuk bermeriah-meriahan. jauh dari petasan, permen dan angpao.
itulah juga kenapa, titan tidak terbiasa dengan keistimewaan lebaran seperti saya dulu. saat ditanya sama nininya apakah sudah punya baju lebaran, dia malah nanya balik seperti apa baju lebaran itu. apakah beda dengan baju-baju yang dia punya sekarang?
sesaat, itu jawaban cerdas. tapi kalau dipikir-pikir lagi, kok saya agak sedih ya. dulu waktu kecil, lebaran itu sesuatu yang wow banget. ketemu sama saudara-saudara dan ... pesta! tapi sekarang enggak lagi, dan karena itu titan juga menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa-biasa aja.
sebagai upaya untuk mengembalikan magic moment lebaran, dua tahun terakhir ini saya membolehkan titan untuk membelanjakan uangnya untuk beli mainan. well, for the sake of enliven the joy of lebaran. just like christmas. tapi ternyata cuma bertahan dua tahun, saat titan berumur 5 dan 6 tahun. karena tahun ini, saat titan berusia 7 tahun; dia lebih suka menabung uang angpaonya untuk dibeliin yang dia belum tau apa.
well, ini jadi pe er saya untuk lebaran tahun depan sih. semoga bisa lebih bersemangat dan menularkan semangat suci itu buat anak-anak :)
dan satu lagi catatan untuk ramadhan kali ini, saya berhasil berbuka puasa di rumah bersama orang tua selama satu bulan penuh! hal yang belum pernah saya lakukan selama belasan tahun terakhir :)
barakallah.
well, jadi gini ceritanya.
tiba-tiba si mbak di rumah nini, yang notabenenya tetanggaan sama kita, tiba-tiba pulang sebelum waktu yang dijanjikan. jadilah kita semua sibuk kerja bakti bantuin nini - aki yang umurnya sudah di atas 65 tahun, mulai dari dalam sampai luar. kamar mandi sampai garasi. lap-lap sampai mencuci. apalagi nini itu clean freak. kalau kata aki, nini suka memaksakan rumah untuk selalu kinclong seperti istana nabi sulaiman. padahal, tenaganya sudah jauh menyusut. aku sih ketawa ajalah. ya memang sudah sifatnya seperti itu, mau gimana dong. udah bagus hobinya bersih-bersih, daripada hobi belanja? lebih pusing lagi kan, ki?
ndelalah, si mbak part-timer di rumah kita pun ikutan ambil cuti mendadak seenaknya. 3 minggu, bayangin! pun tanpa pemberitahuan sebelumnya. ujug-ujug gak masuk dan ngirim anaknya yang masih sd untuk minta 'izin'. jadi, ya gitu deh ... sudahlah beberes dua rumah, punya satu bayi dan enggak terasa lebaran pun datang dengan sangat cepatnya. sampe enggak sempat bikin-bikin kue lucu, apalagi nulis-nulis lucu.
nah, mumpung lebaran belom genap satu bulan (mind my excuse please), izinkan saya mengucapkan selamat lebaran ya. mohon maaf lahir dan bathin, kalau-kalau ada kata-kata yang menohok di hati *pelukkk*
so, gimana lebarannya? kalau saya, setiap lebaran bawaannya sedih. semakin tua, semakin sedih. karena takut, takut banget, kebersamaan bersama orang tua akan berakhir suatu saat nanti. padahal, yang tua kan belum tentu akan meninggalkan kita duluan ya. tapi entahlah, rasanya ya ... sedih. apalagi semakin ke sini, lebaranan semakin sepi. karena sesuatu dan lain hal.
dulu, rumah orang tua saya selalu dijadikan 'pool' lebaran, baik dari pihak keluarga bapak maupun mamah. tapi, sejak bapak pensiun, perlahan-lahan mereka yang tetap ke rumah tinggal hitungan jari. sudah beberapa tahun belakangan ini lebaran itu 'seadanya'. ditambah di keluarga saya bercucu sedikit, cuma empat orang dan itu pun yang satu jauh di benua lain, satu masih tergolong kelas perbayian dan satu lagi selalu berlebaran di kota lain. otomatis tinggal satu aja yang tersisa di rumah, yaitu titan. jadi ya memang tidak ada alasan untuk bermeriah-meriahan. jauh dari petasan, permen dan angpao.
itulah juga kenapa, titan tidak terbiasa dengan keistimewaan lebaran seperti saya dulu. saat ditanya sama nininya apakah sudah punya baju lebaran, dia malah nanya balik seperti apa baju lebaran itu. apakah beda dengan baju-baju yang dia punya sekarang?
sesaat, itu jawaban cerdas. tapi kalau dipikir-pikir lagi, kok saya agak sedih ya. dulu waktu kecil, lebaran itu sesuatu yang wow banget. ketemu sama saudara-saudara dan ... pesta! tapi sekarang enggak lagi, dan karena itu titan juga menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa-biasa aja.
sebagai upaya untuk mengembalikan magic moment lebaran, dua tahun terakhir ini saya membolehkan titan untuk membelanjakan uangnya untuk beli mainan. well, for the sake of enliven the joy of lebaran. just like christmas. tapi ternyata cuma bertahan dua tahun, saat titan berumur 5 dan 6 tahun. karena tahun ini, saat titan berusia 7 tahun; dia lebih suka menabung uang angpaonya untuk dibeliin yang dia belum tau apa.
well, ini jadi pe er saya untuk lebaran tahun depan sih. semoga bisa lebih bersemangat dan menularkan semangat suci itu buat anak-anak :)
dan satu lagi catatan untuk ramadhan kali ini, saya berhasil berbuka puasa di rumah bersama orang tua selama satu bulan penuh! hal yang belum pernah saya lakukan selama belasan tahun terakhir :)
barakallah.
Oh you failed me, Mr. Jobs.
Yes, Mr. Jobs ... you said computer should be personal. But look at what's happening now, my kids are having a cat fight over a macbook for Barney video and Minecraft; apps you did not create for apple.
Both cried, so greater interference should give a go.
Me:
Titan, yuk kita problem solving. Bunda di sini mewakili adek luna untuk solve the problem, karena adek masih terlalu kecil untuk diskusi sama kamu.
Titan:
OK
Me:
So, what is the problem?
Titan:
Itu, adek ngerebut komputernya buat nonton Barney pas titan lagi main Minecraft. Ini kan weekend, Titan cuma boleh main Minecraft on weekend, kan? Kalau diganggu adek nanti jam main Minecraft Titan jadi berkurang. Titan nggak mau.
Me:
O, gitu tho masalahnya.
OK then, kamu punya solusi apa?
Titan:
*mikir lama*
Enggak tau, Titan enggak punya ide solusinya apa.
Me:
Hmmm, kalau gitu Bunda aja yang kasih solusi. Bunda punya 3 solusi, Titan pilih yang mana. OK?
Titan:
OK *masih dengan mulut bersungut-sungut dan bersuara tipis habis nangis*
Me:
Solusi pertama, karena bunda enggak mau kita semua bertengkar hanya karena komputer, gimana kalau komputernya bunda simpan aja? jadi adil untuk semua. Titan enggak bisa blogging, browsing dan main Minecraft, adek enggak bisa nonton Barney di Youtube, Bunda juga enggak bisa jualan caramel di Facebook jadi Titan enggak bisa beli mainan lagi. Bunda enggak bisa baca email-email dari sekolah Titan, trus ketinggalan pengumuman macam-macam. Pokoknya kita sama sekali enggak pakai komputer, kita simpan baik-baik di lemari.
Titan:
Film-film Titan yang di komputer Bunda, gimana? Enggak boleh ditonton juga?
Me:
Nanti kita pindahin film-filmnya pakai thumb drive dan titan bisa nonton di TV di lantai atas.
Titan:
Enggak, Titan enggak mau option satu.
Me:
OK, then I let's go to option 2.
Seperti yang bunda janjikan, weekend is your time for Minecraft. The computer is all yours.
Tapi, kamu harus maksimalkan kesempatan itu. Go for minecraft all weekend. Enggak perlu makan, enggak perlu mandi, enggak perlu minum, enggak perlu ngobrol sama bunda, adek dan siapapun, enggak ngapa-ngapain pokoknya cuma main Minecraft. Lalu, mainnya di tempat tertutup yang adek Luna enggak mungkin nemu. Lalu Titan kunci pintunya. Misalnya main di gudang, atau main di kamar Titan di atas. Like I said, the computer is all yours. Termasuk juga, kalau minecraftnya tiba-tiba ada glitch, wifi-nya tiba-tiba enggak bisa connect, you fix them yourself. Why? Because like I said, the computer is all yours on weekend.
Titan:
*mikir kenceng*
Hmmm... option ke-3 apa?
Me:
Hmmm, ... option ke-3; bermain dengan bijak.
Titan:
Bijak itu apa?
Me:
Bijak itu, maksudnya bijaksana. Tahu waktu dan tahu diri.
Titan:
Maksudnya?
Me:
OK, Tahu waktu: Ini maksudnya.
Bunda ingetin ya, kan bunda bilang sebelumnya, kalau dibeliin Minecraft Titan harus tahu waktu. Kenapa, karena semua hal ada waktunya. waktu untuk main ya main. waktu untuk makan ya makan. waktu untuk mandi ya mandi. nah, waktu untuk sharing ya sharing. Jangan karena gara-gara main Minecraft waktunya jadi tabrakan semua. Akibatnya, Titan jadi enggak mandi. Enggak makan. Enggak bener, itu.
Tahu diri, maksudnya:
Ini kan komputernya Bunda, tapi bunda enggak keberatan sharing sama Titan. Masa Titan keberatan untuk sharing sama adek Luna? Lagian adek mainnya cuma sebentaaaaar. Paling cuma 10 menit trus bosan. Sementara Titan sudah main dari pagi, kan? Saat adek Luna nonton, toh kamu bisa main yang lain. Go outside and see the greeneries, it is good for your eyes. Titan bisa menggambar, main lego, main ayunan, main otoped, ngobrol sama Bunda, banyak lho yang bisa dikerjain. Dan kemarin-kemarin, di weekdays yang kamu enggak boleh main Minecraft, kalau adek nonton Barney di Youtube kamu biasanya ikutan nyanyi. Kalau kemarin bisa sharing, kenapa hari ini enggak?
So, back to our problem solving. Bunda sudah kasih 3 option, Titan pilih yang mana?
1. Komputernya disimpan jadi kita semua enggak bisa pakai
2. You have the computer all weekend, but you have to maximise it.
3. Be flexible, use the computer wisely. Bijaksana. Tahu waktu dan tahu diri.
Titan:
OK. Titan pilih nomer 3.
Me:
Bener?
Titan:
Iya.
Me:
OK. Problem is solved ya. Salaman dulu dong.
*salaman*
Both cried, so greater interference should give a go.
Me:
Titan, yuk kita problem solving. Bunda di sini mewakili adek luna untuk solve the problem, karena adek masih terlalu kecil untuk diskusi sama kamu.
Titan:
OK
Me:
So, what is the problem?
Titan:
Itu, adek ngerebut komputernya buat nonton Barney pas titan lagi main Minecraft. Ini kan weekend, Titan cuma boleh main Minecraft on weekend, kan? Kalau diganggu adek nanti jam main Minecraft Titan jadi berkurang. Titan nggak mau.
Me:
O, gitu tho masalahnya.
OK then, kamu punya solusi apa?
Titan:
*mikir lama*
Enggak tau, Titan enggak punya ide solusinya apa.
Me:
Hmmm, kalau gitu Bunda aja yang kasih solusi. Bunda punya 3 solusi, Titan pilih yang mana. OK?
Titan:
OK *masih dengan mulut bersungut-sungut dan bersuara tipis habis nangis*
Me:
Solusi pertama, karena bunda enggak mau kita semua bertengkar hanya karena komputer, gimana kalau komputernya bunda simpan aja? jadi adil untuk semua. Titan enggak bisa blogging, browsing dan main Minecraft, adek enggak bisa nonton Barney di Youtube, Bunda juga enggak bisa jualan caramel di Facebook jadi Titan enggak bisa beli mainan lagi. Bunda enggak bisa baca email-email dari sekolah Titan, trus ketinggalan pengumuman macam-macam. Pokoknya kita sama sekali enggak pakai komputer, kita simpan baik-baik di lemari.
Titan:
Film-film Titan yang di komputer Bunda, gimana? Enggak boleh ditonton juga?
Me:
Nanti kita pindahin film-filmnya pakai thumb drive dan titan bisa nonton di TV di lantai atas.
Titan:
Enggak, Titan enggak mau option satu.
Me:
OK, then I let's go to option 2.
Seperti yang bunda janjikan, weekend is your time for Minecraft. The computer is all yours.
Tapi, kamu harus maksimalkan kesempatan itu. Go for minecraft all weekend. Enggak perlu makan, enggak perlu mandi, enggak perlu minum, enggak perlu ngobrol sama bunda, adek dan siapapun, enggak ngapa-ngapain pokoknya cuma main Minecraft. Lalu, mainnya di tempat tertutup yang adek Luna enggak mungkin nemu. Lalu Titan kunci pintunya. Misalnya main di gudang, atau main di kamar Titan di atas. Like I said, the computer is all yours. Termasuk juga, kalau minecraftnya tiba-tiba ada glitch, wifi-nya tiba-tiba enggak bisa connect, you fix them yourself. Why? Because like I said, the computer is all yours on weekend.
Titan:
*mikir kenceng*
Hmmm... option ke-3 apa?
Me:
Hmmm, ... option ke-3; bermain dengan bijak.
Titan:
Bijak itu apa?
Me:
Bijak itu, maksudnya bijaksana. Tahu waktu dan tahu diri.
Titan:
Maksudnya?
Me:
OK, Tahu waktu: Ini maksudnya.
Bunda ingetin ya, kan bunda bilang sebelumnya, kalau dibeliin Minecraft Titan harus tahu waktu. Kenapa, karena semua hal ada waktunya. waktu untuk main ya main. waktu untuk makan ya makan. waktu untuk mandi ya mandi. nah, waktu untuk sharing ya sharing. Jangan karena gara-gara main Minecraft waktunya jadi tabrakan semua. Akibatnya, Titan jadi enggak mandi. Enggak makan. Enggak bener, itu.
Tahu diri, maksudnya:
Ini kan komputernya Bunda, tapi bunda enggak keberatan sharing sama Titan. Masa Titan keberatan untuk sharing sama adek Luna? Lagian adek mainnya cuma sebentaaaaar. Paling cuma 10 menit trus bosan. Sementara Titan sudah main dari pagi, kan? Saat adek Luna nonton, toh kamu bisa main yang lain. Go outside and see the greeneries, it is good for your eyes. Titan bisa menggambar, main lego, main ayunan, main otoped, ngobrol sama Bunda, banyak lho yang bisa dikerjain. Dan kemarin-kemarin, di weekdays yang kamu enggak boleh main Minecraft, kalau adek nonton Barney di Youtube kamu biasanya ikutan nyanyi. Kalau kemarin bisa sharing, kenapa hari ini enggak?
So, back to our problem solving. Bunda sudah kasih 3 option, Titan pilih yang mana?
1. Komputernya disimpan jadi kita semua enggak bisa pakai
2. You have the computer all weekend, but you have to maximise it.
3. Be flexible, use the computer wisely. Bijaksana. Tahu waktu dan tahu diri.
Titan:
OK. Titan pilih nomer 3.
Me:
Bener?
Titan:
Iya.
Me:
OK. Problem is solved ya. Salaman dulu dong.
*salaman*
ramadhan 2014, hari #17 : children have the biggest survival rate
jam satu siang lewat tiga puluh menit.
ada janji initial meeting awal tahun di sekolah titan, ... ya; di jam yang sama.
tapi mobil mogok, kelamaan enggak dipakai dan enggak dipanasin jadi ngambek.
rumah pun kosong, enggak bisa titip la luna.
akhirnya,
dengan segenap keberanian melanggar peraturan dan melewati batas kenormalan penjagaan kenyamaan anak yang dibuat sendiri, aku, titan, luna dan aki meluncur ke sekolah titan naik motor.
di hari panas bulan puasa, saat luna genap berusia 1 tahun 1 hari.
sepanjang jalan, aku mentertawakan diri sendiri.
mentertawakan keadaan, tepatnya. padahal kesalnya bukan main. sama dengan level panas matahari siang itu. tapi saking kesalnya, bawaannya malah jadi pengen ketawa. apalagi melihat titan ketawa-ketawa senang karena naik motor rame-rame.
luna aku ikat dengan wrapper di dada. mukanya tegang dan takut, merungkut di dada sambil melihat-lihat pemandangan. kali pertama dia naik motor. saat pulang, mukanya sudah lebih santai dan terkantuk-kantuk tertiup angin.
pelan-pelan, ayahku memegang kemudi dengan tenang. seperti biasa, ia selalu ada saat aku membutuhkan. he is the only superhero that is real in my life.
ternyata, anak-anak merasa baik-baik saja.
diantara deretan alphard yang berjejer dan kita datang berempat naik motor.
seorang anak perempuan yang baru lulus satu hari dari tahap perbayian dan bergaul dengan asap kendaraan; meski berjarak tidak lebih dari 2 kilometer, dan menentang matahari.
mereka, baik baik saja.
kadang (baca: seringkali), kita terbatas dengan batas-batas yang kita buat sendiri.
aku memang harus lebih banyak belajar dari anak-anak.
dalam keadaan apapun, mereka selalu menemukan celah dan cara untuk bermain. atau menikmati keadaan. thank you for teaching me such a thing, kids. like always.
jam satu siang lewat tiga puluh menit.
ada janji initial meeting awal tahun di sekolah titan, ... ya; di jam yang sama.
tapi mobil mogok, kelamaan enggak dipakai dan enggak dipanasin jadi ngambek.
rumah pun kosong, enggak bisa titip la luna.
akhirnya,
dengan segenap keberanian melanggar peraturan dan melewati batas kenormalan penjagaan kenyamaan anak yang dibuat sendiri, aku, titan, luna dan aki meluncur ke sekolah titan naik motor.
di hari panas bulan puasa, saat luna genap berusia 1 tahun 1 hari.
sepanjang jalan, aku mentertawakan diri sendiri.
mentertawakan keadaan, tepatnya. padahal kesalnya bukan main. sama dengan level panas matahari siang itu. tapi saking kesalnya, bawaannya malah jadi pengen ketawa. apalagi melihat titan ketawa-ketawa senang karena naik motor rame-rame.
luna aku ikat dengan wrapper di dada. mukanya tegang dan takut, merungkut di dada sambil melihat-lihat pemandangan. kali pertama dia naik motor. saat pulang, mukanya sudah lebih santai dan terkantuk-kantuk tertiup angin.
pelan-pelan, ayahku memegang kemudi dengan tenang. seperti biasa, ia selalu ada saat aku membutuhkan. he is the only superhero that is real in my life.
ternyata, anak-anak merasa baik-baik saja.
diantara deretan alphard yang berjejer dan kita datang berempat naik motor.
seorang anak perempuan yang baru lulus satu hari dari tahap perbayian dan bergaul dengan asap kendaraan; meski berjarak tidak lebih dari 2 kilometer, dan menentang matahari.
mereka, baik baik saja.
kadang (baca: seringkali), kita terbatas dengan batas-batas yang kita buat sendiri.
aku memang harus lebih banyak belajar dari anak-anak.
dalam keadaan apapun, mereka selalu menemukan celah dan cara untuk bermain. atau menikmati keadaan. thank you for teaching me such a thing, kids. like always.
ramadhan 2014, hari # 16 : kali pertama sang bulan kelilingi matahari
enggak ada kata lain yang terucap selain syukur.
atas kebersamaan yang masih bisa kami dulang bersama di bulan ramadhan ini.
dan mengucap doa,
untuk sang bulan yang mulai menjejak.
selamat ulang tahun, sayang.
amin untuk semua yang baik-baik.
enggak ada kata lain yang terucap selain syukur.
atas kebersamaan yang masih bisa kami dulang bersama di bulan ramadhan ini.
dan mengucap doa,
untuk sang bulan yang mulai menjejak.
selamat ulang tahun, sayang.
amin untuk semua yang baik-baik.
ramadhan 2014, hari #15 : UKM united
wajar kalau ternyata, pembeli awal UKM adalah teman-teman dekat dan saudara-saudara kita sendiri.
tak lain ya karena lingkupnya kecil. cuma tau dari mulut ke mulut.
tapi ternyata, kepuasannya jauh lebih besar.
dan hari ini kami bersatu, meramaikan hari raya dengan hantaran karya tangan-tangan kami.
every minutes well spent.
i bet the kids had the same feeling too.
buat karya hari ini bisa diintip di instagram @bebikinan & @skoci_
wajar kalau ternyata, pembeli awal UKM adalah teman-teman dekat dan saudara-saudara kita sendiri.
tak lain ya karena lingkupnya kecil. cuma tau dari mulut ke mulut.
tapi ternyata, kepuasannya jauh lebih besar.
dan hari ini kami bersatu, meramaikan hari raya dengan hantaran karya tangan-tangan kami.
every minutes well spent.
i bet the kids had the same feeling too.
buat karya hari ini bisa diintip di instagram @bebikinan & @skoci_
Rule #1
Yes, rule #1 is to love yourself, and accept who you really are.
Diets are for those who hate themselves. A lot.
I love you, babycakes.
bad people out there
setting:
di teras belakang sambil nemenin titan makan siang (enggak puasa karena enggak mau sahur), dan terjadilah percakapan ini.
me:
tan, kamu tahu enggak, saat ini; detik ini dimana titan lagi makan nasi goreng kornet telor ini, di belahan dunia sana ada yang lagi perang. they are in a worst condition.
titan:
oya?
me:
iya, negara yang diserang namanya palestina. yang menyerang, namanya israel.
titan:
perang kenapa, nda?
me:
well, biasanya, semua perang itu sama sih alasannya. berebut tanah. land, the ground you stand, you live with your family and the whole nation. kaya gini contohnya. ini kan rumahnya titan, bunda, adek dan bubu. tempat kita main, bobok, mandi pakai air hangat, di kulkas isinya makanan-makanan kita, di halaman belakang tempat kita main, pohon sawo mangga dan nangka punya kita yang kita petik buahnya kapan aja dia berbuah. tempat tidur juga punya kita yang bisa bikin kita nyaman bobo. nah, suatu hari ada orang lain masuk ke rumah. tiba-tiba! udah gitu, orangnya enggak sendirian. dia bawa semua keluarganya, temen-temennya, tetangganya, guru-gurunya. mereka semua masuk ke rumah kita. udah gitu, orangnya enggak sopan. tempat tidur kita diambil jadi kita bobonya sempit. makanan kita di kulkas dimakanin juga. pohon nangka kita buahnya diambil. mereka seenaknya aja pengen tinggal di sini, tapi enggak mau sharing. maunya ngambil yang kita punya.
nah, kalau kejadiannya kaya gitu; mau enggak mau kita yang ada di rumah kan harus melawan mereka yang mau masuk rumah, kan? bunda enggak bisa diemin mereka ambil susunya titan dan luna. air panas juga selalu habis sama mereka. udah gitu jangan-jangan mereka nakal, nanti titan sama luna disuruh-suruh kaya pembantu. mau nggak mau, kita harus perang melawan mereka kan? kita pukulin pantatnya satu-satu, kita usir dari rumah supaya rumah ini jadi milik kita lagi.
nah, perang juga begitu. tapi yang direbut negaranya. rumah semua orang. mereka datang, marah-marah dan ngambilin semua yang ada di negara itu. orang-orangnya juga. jadi, mau enggak mau kita harus berperang melawan mereka.
titan:
hahaha, ... pantatnya aja tendang ... tuiiiiiiiiiiing *sambil ketawa-ketawa*
me:
exactly! that is what happening in palestine, and some other countries if i may say.
trus titan tau enggak, kalau perang itu; yang paling banyak jadi korban itu anak-anak dan perempuan. semalam bunda liat foto temen-temen titan dan luna jadi korban di sana. kasihan banget.
titan:
kenapa, nda?
me:
kenapa anak-anak dan perempuan jadi korban?
titan:
iya. karena mereka kan tenaganya enggak sebesar laki-laki dewasa. mereka enggak terlatih untuk nonjok orang sekampung, enggak terlatih untuk nembak, teriaknya enggak kenceng, dan ibu-ibu ada di dalam rumah untuk ngelindungin anak-anaknya, tapi ternyata yang diserang malah rumah-rumah penduduk.
makanya, titan bersyukur ya. bunda juga. kita masih bisa bobo tenang, masih bisa bangun dari tidur panjang di malam hari dan melihat matahari. sementara sodara-sodara kita di sana, kasihan. penuh ketakutan hidupnya. berlindung di bawah meja, karena takut. it was horrifying, nak. kamu suka kan melihat petasan yang meletus di udara? yes, just like that. tapi banyak. langit malam jadi terang, dan yang meletus itu bukan petasan tapi peluru. hujan peluru. ada titik-titik menyala yang jatuh kaya hujan, tapi itu peluru. atap rumah jadi bolong dan pelurunya menembus ke dalam rumah.
titan:
hahaha ... rumahnya bolong-bolong kaya keju.
me:
yes, bener itu. badan kita juga bisa bolong-bolong kaya keju.
titan:
hah?
me:
iya. peluru itu seperti petasan, tapi ada isinya. isinya logam dan kenceng banget kecepatannya, jadi bisa nembus badan kita. itu cara kerja peluru, makanya kita bisa meninggal kalau kita kena peluru.
titan:
kalo kena pantat nanti ada asapnya dong nda, pantatnya?
me:
uuuh, bukan asap lagi. nembus, bunda bilang juga.
titan:
oh ... kasihan.
me:
nanti kita berdoa ya, buat sodara-sodara kita. dan juga berdoa supaya kita semua selalu selamat.
the earth is small, yet the world is so big. isinya bukan cuma kita dan mainan kita aja. there are bad people out there, bad bad ones. but don't be afraid because there are also good people, including us.
titan:
nda, di belakang indonesia tuh apa sih?
me:
nggak ada lah. adanya di sisi kanan, kiri, atas atau bawah.
titan:
bumi kan bulat, maksud titan di belakang indonesia itu apa.
me:
ooo itu maksudnya, kalau enggak salah sih benua amerika, nggak tepat tapi kurang lebihlah.
titan:
kalo kita mining di bawah sini, bisa nembus dong?
me:
hahaha bunda juga dulu kepikiran yang sama. tapi enggak mungkin dong. jauh sekali kan, nggak ada yang bisa nembusin. habis lapisan tanah kan ada lapisan lain, trus magma bumi, lapisan inti bumi. nanti kalau kita nambang / gali sampe tembus, magmanya keluar trus jadi banjir lava dong kita?
titan:
oh iya juga ya.
me:
OK, go get your meal finished lalu kita sholat zuhur dan berdoa yuk.
titan:
ayuk, titan jadi imam ya.
me:
boleh. rakaatnya jangan salah, ya.
titan:
empat, kan?
me:
iya.
di teras belakang sambil nemenin titan makan siang (enggak puasa karena enggak mau sahur), dan terjadilah percakapan ini.
me:
tan, kamu tahu enggak, saat ini; detik ini dimana titan lagi makan nasi goreng kornet telor ini, di belahan dunia sana ada yang lagi perang. they are in a worst condition.
titan:
oya?
me:
iya, negara yang diserang namanya palestina. yang menyerang, namanya israel.
titan:
perang kenapa, nda?
me:
well, biasanya, semua perang itu sama sih alasannya. berebut tanah. land, the ground you stand, you live with your family and the whole nation. kaya gini contohnya. ini kan rumahnya titan, bunda, adek dan bubu. tempat kita main, bobok, mandi pakai air hangat, di kulkas isinya makanan-makanan kita, di halaman belakang tempat kita main, pohon sawo mangga dan nangka punya kita yang kita petik buahnya kapan aja dia berbuah. tempat tidur juga punya kita yang bisa bikin kita nyaman bobo. nah, suatu hari ada orang lain masuk ke rumah. tiba-tiba! udah gitu, orangnya enggak sendirian. dia bawa semua keluarganya, temen-temennya, tetangganya, guru-gurunya. mereka semua masuk ke rumah kita. udah gitu, orangnya enggak sopan. tempat tidur kita diambil jadi kita bobonya sempit. makanan kita di kulkas dimakanin juga. pohon nangka kita buahnya diambil. mereka seenaknya aja pengen tinggal di sini, tapi enggak mau sharing. maunya ngambil yang kita punya.
nah, kalau kejadiannya kaya gitu; mau enggak mau kita yang ada di rumah kan harus melawan mereka yang mau masuk rumah, kan? bunda enggak bisa diemin mereka ambil susunya titan dan luna. air panas juga selalu habis sama mereka. udah gitu jangan-jangan mereka nakal, nanti titan sama luna disuruh-suruh kaya pembantu. mau nggak mau, kita harus perang melawan mereka kan? kita pukulin pantatnya satu-satu, kita usir dari rumah supaya rumah ini jadi milik kita lagi.
nah, perang juga begitu. tapi yang direbut negaranya. rumah semua orang. mereka datang, marah-marah dan ngambilin semua yang ada di negara itu. orang-orangnya juga. jadi, mau enggak mau kita harus berperang melawan mereka.
titan:
hahaha, ... pantatnya aja tendang ... tuiiiiiiiiiiing *sambil ketawa-ketawa*
me:
exactly! that is what happening in palestine, and some other countries if i may say.
trus titan tau enggak, kalau perang itu; yang paling banyak jadi korban itu anak-anak dan perempuan. semalam bunda liat foto temen-temen titan dan luna jadi korban di sana. kasihan banget.
titan:
kenapa, nda?
me:
kenapa anak-anak dan perempuan jadi korban?
titan:
iya. karena mereka kan tenaganya enggak sebesar laki-laki dewasa. mereka enggak terlatih untuk nonjok orang sekampung, enggak terlatih untuk nembak, teriaknya enggak kenceng, dan ibu-ibu ada di dalam rumah untuk ngelindungin anak-anaknya, tapi ternyata yang diserang malah rumah-rumah penduduk.
makanya, titan bersyukur ya. bunda juga. kita masih bisa bobo tenang, masih bisa bangun dari tidur panjang di malam hari dan melihat matahari. sementara sodara-sodara kita di sana, kasihan. penuh ketakutan hidupnya. berlindung di bawah meja, karena takut. it was horrifying, nak. kamu suka kan melihat petasan yang meletus di udara? yes, just like that. tapi banyak. langit malam jadi terang, dan yang meletus itu bukan petasan tapi peluru. hujan peluru. ada titik-titik menyala yang jatuh kaya hujan, tapi itu peluru. atap rumah jadi bolong dan pelurunya menembus ke dalam rumah.
titan:
hahaha ... rumahnya bolong-bolong kaya keju.
me:
yes, bener itu. badan kita juga bisa bolong-bolong kaya keju.
titan:
hah?
me:
iya. peluru itu seperti petasan, tapi ada isinya. isinya logam dan kenceng banget kecepatannya, jadi bisa nembus badan kita. itu cara kerja peluru, makanya kita bisa meninggal kalau kita kena peluru.
titan:
kalo kena pantat nanti ada asapnya dong nda, pantatnya?
me:
uuuh, bukan asap lagi. nembus, bunda bilang juga.
titan:
oh ... kasihan.
me:
nanti kita berdoa ya, buat sodara-sodara kita. dan juga berdoa supaya kita semua selalu selamat.
the earth is small, yet the world is so big. isinya bukan cuma kita dan mainan kita aja. there are bad people out there, bad bad ones. but don't be afraid because there are also good people, including us.
titan:
nda, di belakang indonesia tuh apa sih?
me:
nggak ada lah. adanya di sisi kanan, kiri, atas atau bawah.
titan:
bumi kan bulat, maksud titan di belakang indonesia itu apa.
me:
ooo itu maksudnya, kalau enggak salah sih benua amerika, nggak tepat tapi kurang lebihlah.
titan:
kalo kita mining di bawah sini, bisa nembus dong?
me:
hahaha bunda juga dulu kepikiran yang sama. tapi enggak mungkin dong. jauh sekali kan, nggak ada yang bisa nembusin. habis lapisan tanah kan ada lapisan lain, trus magma bumi, lapisan inti bumi. nanti kalau kita nambang / gali sampe tembus, magmanya keluar trus jadi banjir lava dong kita?
titan:
oh iya juga ya.
me:
OK, go get your meal finished lalu kita sholat zuhur dan berdoa yuk.
titan:
ayuk, titan jadi imam ya.
me:
boleh. rakaatnya jangan salah, ya.
titan:
empat, kan?
me:
iya.
ramadhan 2014, hari #11 : sahabat
ternyata, punya anak perempuan itu beda rasanya dengan punya anak laki-laki.
sulit dijelaskan, tapi bisa dirasakan.
tahun lalu, tuhan memberi berkah ramadhan terbesar untukku, mengirimkan bulan ke pelukan.
alhamdulillah, berkahnya makin terasa besar hari demi hari. hingga hari ini, dia berjalan menggandeng tanganku.
lengkap rasanya.
punya anak laki-laki yang sangat melindungi, dan punya anak perempuan yang semoga bisa menjadi sahabat hingga aku tua nanti.
ternyata, punya anak perempuan itu beda rasanya dengan punya anak laki-laki.
sulit dijelaskan, tapi bisa dirasakan.
tahun lalu, tuhan memberi berkah ramadhan terbesar untukku, mengirimkan bulan ke pelukan.
alhamdulillah, berkahnya makin terasa besar hari demi hari. hingga hari ini, dia berjalan menggandeng tanganku.
lengkap rasanya.
punya anak laki-laki yang sangat melindungi, dan punya anak perempuan yang semoga bisa menjadi sahabat hingga aku tua nanti.
ramadhan 2014, hari #10 : sisi baik
nini ditinggalin pembantunya yang baru 10 bulan, tapi saya yang ngerasain patah hati. masalahnya ibu saya itu sudah sepuh, tapi buat dia standar rumah bersih itu tinggi sekali. jadi, kalau rumah enggak bersih dia pasti bersih-bersih; enggak peduli dia sudah sepuh, lagi berpuasa, dan punya kecenderungan bagi vertigonya untuk kambuh kalau kecapekan.
tapi ada satu hal yang selalu saya dapati kalau pembantu pulang kampung. rumah jadi lebih rapi dan bersih. padahal, biasanya, mau dibersihin setiap hari pun tetap aja keadaan rumah sore hari itu selalu berdebu dan enggak rapi.
ternyata, kalau enggak ada pembantu, masing-masing penghuni rumah jadi lebih sadar diri. lebih punya empati dan rasa tanggung jawab menjaga rumah tetap bersih. karena, kalau enggak, mereka-mereka juga yang harus membersihkan.
*selonjoran kaki dulu, sebelom kebut-kebut lagi*
nini ditinggalin pembantunya yang baru 10 bulan, tapi saya yang ngerasain patah hati. masalahnya ibu saya itu sudah sepuh, tapi buat dia standar rumah bersih itu tinggi sekali. jadi, kalau rumah enggak bersih dia pasti bersih-bersih; enggak peduli dia sudah sepuh, lagi berpuasa, dan punya kecenderungan bagi vertigonya untuk kambuh kalau kecapekan.
tapi ada satu hal yang selalu saya dapati kalau pembantu pulang kampung. rumah jadi lebih rapi dan bersih. padahal, biasanya, mau dibersihin setiap hari pun tetap aja keadaan rumah sore hari itu selalu berdebu dan enggak rapi.
ternyata, kalau enggak ada pembantu, masing-masing penghuni rumah jadi lebih sadar diri. lebih punya empati dan rasa tanggung jawab menjaga rumah tetap bersih. karena, kalau enggak, mereka-mereka juga yang harus membersihkan.
*selonjoran kaki dulu, sebelom kebut-kebut lagi*
Janji
Dari hari Kamis minggu lalu, titan menginap di rumah eyang. Titan bilang, dia akan kembali hari senin. Seperti biasa, saya bekali semua keperluan dia sampai vitamin; jadwal dan tentunya ... workbook. Supaya dia mengerti, liburan bukan berarti kebebasan yang sebebas-bebasnya. Masih ada kewajiban belajar dan mengulang pelajaran yang masih harus dia lakukan. Kesannya kejam ya, tapi beneran kok. Workbooknya Titan itu menyenangkan banget untuk dikerjain; jadi saya tidak merasa berdosa mewajibkannya untuk tetap belajar saat liburan :)
Nah, hari ini hari senin. Pagi-pagi saya sudah telfon dia untuk bertanya; apakah dia puasa atau enggak. Karena kalau enggak puasa, saya mau masak makanan kesukaan dia. Ternyata Titan enggak puasa, karena enggak bangun sahur dan dia minta dimasakin ikan dori goreng ala-ala bunda untuk makan malam.
Tiba-tiba, sorenya saya terserang demam dan ikan dori masih tergeletak belum sempat dibumbuin. Karena proses pengolahannya bakalan cepet, saya enggak khawatir sih. Tinggal tabur-tabur garam, lada hitam dan bawang putih bubuk, gulingin di telur dan tepung roti, goreng, jadi deh! Jadi saya biarkan aja si ikan di kulkas dan berniat baru akan diolah saat titan pulang nanti.
Tiba-tiba telfon saya berdering, di ujung telfon terdengar suara isak tangis yang sulit berhenti.
Saya: Halo? Titan?
Titan: *nangis sesunggukan*
Saya: Halo, Titan kalau nangis bunda enggak bisa dengar suaranya. Yuk coba berhenti dulu nangisnya, ada apa?"
Titan: *makin keras nangisnya*
Saya: Titan, yuk coba tarik nafas dulu yuk. Satu, ... tarik nafas ... keluarin lagi. Dua, tarik nafas ... keluarin lagi. Yuk, sekarang cerita sama Bunda kenapa?
Titan: Nda, ... Titan belum pengen pulang *dengan suara patah-patah*
Saya: Oh gituuu ... masih pengen main di sana ya
Titan: Iya ...
Saya: Trus, kenapa nangis? kan kalau masih pengen nginep di rumah eyang, itu artinya titan masih senang ada di sana. Lalu kenapa nangis?
Titan: Soalnya Titan sudah janji sama Bunda pulang hari ini
Saya: Oh gituuu .... Ya udah, terima kasih ya; sudah ingat janjinya.
Titan: Tapi Titan masih pengen nginep di sini, Nda. Boleh enggak?
Seketika saya teringat, saya pernah membahas soal ini sama Titan beberapa waktu lalu. Masalah yang sama, cuma saat itu saya tidak mengabulkan permintaannya HANYA karena dia sudah berjanji untuk pulang pada hari X, hari yang ia tentukan sendiri, dan saya meminta titan untuk berkomitmen terhadap janjinya.
Mungkin, itu sebabnya dia sekarang nangis-nangis di telfon. Takut dimintai pertanggungjawaban dan mungkin males juga harus bersilat lidah dengan emaknya ini, yang pasti enggak akan mudah.
Tapi, di satu sisi, kali ini saya ingin membiarkan dia untuk menginap lebih lama. Toh, menurut laporan dia menunaikan janji-janjinya yang lain seperti ngerjain workbook, minum susu dua kali sehari dan makan sayur. Lagipula saya lagi terserang demam, kasihan kalau dia pulang saya lagi tak berdaya untuk mengajaknya main. Akhirnya, ...
Saya: Oke, boleh kok nginep lagi. Lagipula bundanya lagi sakit, takutnya nanti kita enggak bisa main bareng. Mau sampai kapan?
Titan: Bunda sakit apa?
Saya: *dalam hati seneng juga nih, ditanyain begini. Padahal jelas-jelas tadi saya nanyain mau sampai kapan dia nginep di rumah eyangnya* ... Bunda sakit panas aja, kok. Titan mau sampai hari apa nginep di sana?
Titan: sampai hari Rabu ya, Nda. Bunda cepet sembuh ya.
Saya: Terima kasih ya doanya, sayang. Oke, Titan boleh kok nginep sampai hari Rabu. Bunda tunggu ya ... have fun!
Setelah menutup telfon, saya jadi mikir. Bener enggak sih, tindakan saya? Apakah saya baru saja mentolerir keingkaran janji? Idealnya, seharusnya Titan tetap pulang hari ini. Masalah mau nginep lagi, kan tinggal berangkat lagi balik ke rumah eyangnya. Janji adalah janji dan dia sudah berjanji untuk pulang.
Tapi, di satu sisi, saya sudah cukup bangga dia ingat akan janjinya dan berani berdiskusi untuk meminta dispensasi *walau dengan air mata sesunggukan*
:)
Nah, hari ini hari senin. Pagi-pagi saya sudah telfon dia untuk bertanya; apakah dia puasa atau enggak. Karena kalau enggak puasa, saya mau masak makanan kesukaan dia. Ternyata Titan enggak puasa, karena enggak bangun sahur dan dia minta dimasakin ikan dori goreng ala-ala bunda untuk makan malam.
Tiba-tiba, sorenya saya terserang demam dan ikan dori masih tergeletak belum sempat dibumbuin. Karena proses pengolahannya bakalan cepet, saya enggak khawatir sih. Tinggal tabur-tabur garam, lada hitam dan bawang putih bubuk, gulingin di telur dan tepung roti, goreng, jadi deh! Jadi saya biarkan aja si ikan di kulkas dan berniat baru akan diolah saat titan pulang nanti.
Tiba-tiba telfon saya berdering, di ujung telfon terdengar suara isak tangis yang sulit berhenti.
Saya: Halo? Titan?
Titan: *nangis sesunggukan*
Saya: Halo, Titan kalau nangis bunda enggak bisa dengar suaranya. Yuk coba berhenti dulu nangisnya, ada apa?"
Titan: *makin keras nangisnya*
Saya: Titan, yuk coba tarik nafas dulu yuk. Satu, ... tarik nafas ... keluarin lagi. Dua, tarik nafas ... keluarin lagi. Yuk, sekarang cerita sama Bunda kenapa?
Titan: Nda, ... Titan belum pengen pulang *dengan suara patah-patah*
Saya: Oh gituuu ... masih pengen main di sana ya
Titan: Iya ...
Saya: Trus, kenapa nangis? kan kalau masih pengen nginep di rumah eyang, itu artinya titan masih senang ada di sana. Lalu kenapa nangis?
Titan: Soalnya Titan sudah janji sama Bunda pulang hari ini
Saya: Oh gituuu .... Ya udah, terima kasih ya; sudah ingat janjinya.
Titan: Tapi Titan masih pengen nginep di sini, Nda. Boleh enggak?
Seketika saya teringat, saya pernah membahas soal ini sama Titan beberapa waktu lalu. Masalah yang sama, cuma saat itu saya tidak mengabulkan permintaannya HANYA karena dia sudah berjanji untuk pulang pada hari X, hari yang ia tentukan sendiri, dan saya meminta titan untuk berkomitmen terhadap janjinya.
Mungkin, itu sebabnya dia sekarang nangis-nangis di telfon. Takut dimintai pertanggungjawaban dan mungkin males juga harus bersilat lidah dengan emaknya ini, yang pasti enggak akan mudah.
Tapi, di satu sisi, kali ini saya ingin membiarkan dia untuk menginap lebih lama. Toh, menurut laporan dia menunaikan janji-janjinya yang lain seperti ngerjain workbook, minum susu dua kali sehari dan makan sayur. Lagipula saya lagi terserang demam, kasihan kalau dia pulang saya lagi tak berdaya untuk mengajaknya main. Akhirnya, ...
Saya: Oke, boleh kok nginep lagi. Lagipula bundanya lagi sakit, takutnya nanti kita enggak bisa main bareng. Mau sampai kapan?
Titan: Bunda sakit apa?
Saya: *dalam hati seneng juga nih, ditanyain begini. Padahal jelas-jelas tadi saya nanyain mau sampai kapan dia nginep di rumah eyangnya* ... Bunda sakit panas aja, kok. Titan mau sampai hari apa nginep di sana?
Titan: sampai hari Rabu ya, Nda. Bunda cepet sembuh ya.
Saya: Terima kasih ya doanya, sayang. Oke, Titan boleh kok nginep sampai hari Rabu. Bunda tunggu ya ... have fun!
Setelah menutup telfon, saya jadi mikir. Bener enggak sih, tindakan saya? Apakah saya baru saja mentolerir keingkaran janji? Idealnya, seharusnya Titan tetap pulang hari ini. Masalah mau nginep lagi, kan tinggal berangkat lagi balik ke rumah eyangnya. Janji adalah janji dan dia sudah berjanji untuk pulang.
Tapi, di satu sisi, saya sudah cukup bangga dia ingat akan janjinya dan berani berdiskusi untuk meminta dispensasi *walau dengan air mata sesunggukan*
:)
Ramadhan 2014, hari #8 : menolak lupa
... tapi jadinya malah lupa.
setahun yang lalu, perut masih membuncit dengan derita sakit punggung dan pinggang yang luar biasa. tak tahunya, seminggu kemudian lahirlah si bayi mungil. sejak itu, saya lupa apa yang terjadi dan tahu-tahu, hari ini tawaf keliling mall untuk mencari kado ulang tahunnya yang pertama.
dibandingkan dengan titan dulu, saya hampir ingat setiap milestonesnya. ingat juga hal-hal lucu yang pertama kali dilakukan olehnya. tapi dengan luna, waktu terasa terlalu cepat berlalu sehingga otak saya kurang bisa merekam setiap kejadian.
apa karena sekarang saya yang mengasuhnya sendiri setiap detiknya? jadi, terlalu banyak hal mengagumkan yang terjadi hingga kapasitas memori saya tumpah ruah?
tapi biarlah. walau saya lupa, semoga dia ingat kebersamaan kami di setiap detiknya.
karena saya, tidak lupa rasanya.
... tapi jadinya malah lupa.
setahun yang lalu, perut masih membuncit dengan derita sakit punggung dan pinggang yang luar biasa. tak tahunya, seminggu kemudian lahirlah si bayi mungil. sejak itu, saya lupa apa yang terjadi dan tahu-tahu, hari ini tawaf keliling mall untuk mencari kado ulang tahunnya yang pertama.
dibandingkan dengan titan dulu, saya hampir ingat setiap milestonesnya. ingat juga hal-hal lucu yang pertama kali dilakukan olehnya. tapi dengan luna, waktu terasa terlalu cepat berlalu sehingga otak saya kurang bisa merekam setiap kejadian.
apa karena sekarang saya yang mengasuhnya sendiri setiap detiknya? jadi, terlalu banyak hal mengagumkan yang terjadi hingga kapasitas memori saya tumpah ruah?
tapi biarlah. walau saya lupa, semoga dia ingat kebersamaan kami di setiap detiknya.
karena saya, tidak lupa rasanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
It’s been years. Probably, … eight years. We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit. But after weeks of considera...
-
Di suatu malam yang sunyi dan dingin, langit begitu gelap. Namun, ada seorang wanita yang tidak dapat terlelap. Dari semua mimpi yang tela...





