I’m the mother earth. The only woman without vagina. I am the only mother with obligations to nurse children who aren’t mine. Not any of them even came out of my womb. I wipe their tears. I watch them play. I feed them. I did not even dare to shed a tear when they gouged me for slender feet of a carrousel. Deeply buried within me. For the children’s laughter to me is the most beautiful song I have ever heard.
And all my life, what I want to taste is the kiss of the Rain King. Even only for a split second, I would give up my all to taste the suck of his lips. I would close my eyes, and would never mind to be blind if I have to. For my eyes will only tell the truth.
I had never seen the king. I do not even know what he looks like. All I know is the moaning sound of the sky, when she and the king are making love. And from beneath, I can only see their sparks of lust. And at that time, I know that the king and sky become one.
But not long after that, the king would cry. He would cry so hard, that the sky could never retain his tears.
And me the mother earth, will let his tears poured-down upon me. Pour it down, pour it down and let me absorb your grieve oh my king of rain.
And I envy you; sky upon me. You are a woman with so many faces. Your soft cottony fake smile would cherish the day of everyone’s. And my children would love you so much as you are the best escort for their kites.
You, at least you have ever felt the feeling I have been craving for. His lick, his saliva that would quench your thirst , his sucks on your lips, his twirling tongue that forms the elixir of love.
Damn you, coward woman queen of masquerade.
If only you knew, you and I will be stand as one in the end.
lost
people say your heart will speak louder than the sea wave roars.
why can't i hear mine at this moment?
why can't i hear mine at this moment?
air, bejana dan api
air di bejana mendidih
membeleguk di suhu seratus derajat selsius
dan tetap berada di suhu tersebut, apapun yang terjadi
itulah kemarahan.
didihan dibiarkan, lalu uapnya terbang ke udara
dan bejana pun mengering
walau dengan jangka waktu yang lama
itulah melupakan.
air didihan dituang ke cangkir
lebih cepat dingin,
bejana pun lebih cepat mengering.
itulah berbagi.
dan bejana rusak dimakan api
meninggalkan cacat yang lama kelamaan menjadi karat
tapi perlahan, bejana bisa diperbaiki dan dibersihkan
itulah memaafkan.
-intermezo di sela 3 hari hibernasi-
membeleguk di suhu seratus derajat selsius
dan tetap berada di suhu tersebut, apapun yang terjadi
itulah kemarahan.
didihan dibiarkan, lalu uapnya terbang ke udara
dan bejana pun mengering
walau dengan jangka waktu yang lama
itulah melupakan.
air didihan dituang ke cangkir
lebih cepat dingin,
bejana pun lebih cepat mengering.
itulah berbagi.
dan bejana rusak dimakan api
meninggalkan cacat yang lama kelamaan menjadi karat
tapi perlahan, bejana bisa diperbaiki dan dibersihkan
itulah memaafkan.
-intermezo di sela 3 hari hibernasi-
perempuan di titik nol
seorang perempuan terlihat acak-acakan
dia baru saja melaju kencang
memacu kendaraan dengan semangat yang tak terpatahkan
begitu kencang sampai kecelakaan tak lagi dapat terelakkan
ia pun berhenti
ia berada di titik nol.
perempuan yang satu lagi terlihat kelelahan
ia telah melalui perjalanan yang panjang
dengan kemacetan yang begitu membosankan
perjalanan masih belum selesai, namun dia terlalu lelah untuk melanjutkan
ia pun berhenti
ia berada di titik nol.
perempuan yang lain begitu menikmati perjalanan yang menyenangkan
dengan lagu dan angin sepoi-sepoi menyapu rambutnya yang panjang
ia melaju santai, tak terasa angin dan lagu begitu lembut memabukkan
ia pun tertidur di tengah jalan
ia berhenti
ia berada di titik nol.
perempuan terakhir dalam kebingungan
ia pernah melaju kencang
ia pernah terperangkap di kemacetan
ia pernah ketiduran
ia berada di titik nol.
entah ingin berhenti
atau baru saja menepi
atau sebenarnya,
ia belum menyalakan mesinnya
dia baru saja melaju kencang
memacu kendaraan dengan semangat yang tak terpatahkan
begitu kencang sampai kecelakaan tak lagi dapat terelakkan
ia pun berhenti
ia berada di titik nol.
perempuan yang satu lagi terlihat kelelahan
ia telah melalui perjalanan yang panjang
dengan kemacetan yang begitu membosankan
perjalanan masih belum selesai, namun dia terlalu lelah untuk melanjutkan
ia pun berhenti
ia berada di titik nol.
perempuan yang lain begitu menikmati perjalanan yang menyenangkan
dengan lagu dan angin sepoi-sepoi menyapu rambutnya yang panjang
ia melaju santai, tak terasa angin dan lagu begitu lembut memabukkan
ia pun tertidur di tengah jalan
ia berhenti
ia berada di titik nol.
perempuan terakhir dalam kebingungan
ia pernah melaju kencang
ia pernah terperangkap di kemacetan
ia pernah ketiduran
ia berada di titik nol.
entah ingin berhenti
atau baru saja menepi
atau sebenarnya,
ia belum menyalakan mesinnya
selamat tidur, titan
pejamkan matamu, nak
lalu kuelus lembut alis matamu
dan kau pun menurut
membiarkan tirai-tirai matamu bergelayut
lalu dengar,
dengarkan semua hingar bingar
biarkan telingamu pergi jauh merantau, biarkan mereka meliar
dengar,
dengarkan rintik hujan yang meneduhkan
dengarkan sang rembulan
dengarkan bintang-bintang
dengarkan embun malam di ujung dedaunan
dengarkan katak dan jangkrik bernyanyi
dengarkan dengung mesin-mesin tak bernyawa tapi bisa mati
dengarkan detik waktu
dengarkan pendar lampu
dengarkan doaku
dengarkan degup jantungku
dan jauh, jauh di sana
terus, terus hampiri
ya,
makin dekat
sedikit lagi
bisa kamu dengar, nak?
degarlah,
itu suara hatimu.
lalu kuelus lembut alis matamu
dan kau pun menurut
membiarkan tirai-tirai matamu bergelayut
lalu dengar,
dengarkan semua hingar bingar
biarkan telingamu pergi jauh merantau, biarkan mereka meliar
dengar,
dengarkan rintik hujan yang meneduhkan
dengarkan sang rembulan
dengarkan bintang-bintang
dengarkan embun malam di ujung dedaunan
dengarkan katak dan jangkrik bernyanyi
dengarkan dengung mesin-mesin tak bernyawa tapi bisa mati
dengarkan detik waktu
dengarkan pendar lampu
dengarkan doaku
dengarkan degup jantungku
dan jauh, jauh di sana
terus, terus hampiri
ya,
makin dekat
sedikit lagi
bisa kamu dengar, nak?
degarlah,
itu suara hatimu.
i, me and myself
can you imagine living in denial? that you will not be able to sleep, to eat, to think, because of things that keep lingering at the back of your head. and your heart, of course. everything becomes wrong. totally wrong. you are wrong, people are wrong.
and have you ever betrayed yourself? and do you have an idea of how it feels? that you would curse yourself and you will wish that you would rather die for you have no more reasons to live. that you could not even stare at your own eyes because they can see what you feel. and you would rather be blind, for you do not want to see the truth.
have you ever been deaf, that you could not even hear what your heart tells you?
and you start asking yourself what the hell are you doing in here and start asking what ifs.
well,
isn't it just nice if you can make peace with yourself? therefore you can make peace in this universe.
and have you ever betrayed yourself? and do you have an idea of how it feels? that you would curse yourself and you will wish that you would rather die for you have no more reasons to live. that you could not even stare at your own eyes because they can see what you feel. and you would rather be blind, for you do not want to see the truth.
have you ever been deaf, that you could not even hear what your heart tells you?
and you start asking yourself what the hell are you doing in here and start asking what ifs.
well,
isn't it just nice if you can make peace with yourself? therefore you can make peace in this universe.
Temui aku lagi di sini (2)
selamat malam,
sampai kaku mulutku lelah ribuan kali menyebut
dan bintang yang biasa kusematkan di matamu, kian meredup
tak lagi pendarnya mampu menemani
dan cerita-cerita yang biasa kubisikkan menumpuk
acak-acakan tak berurutan ujung dan pangkal
tirai antara kamu dan aku yang mendesah hangat seperti sinar mentari pagi
membentang laksana jeda di antara dua galaksi
dan putaran bulan mengitari bumi
melintasi matahari, kini dan nanti
perlahan menggumpal mewujudkan aku dan kamu dalam satuan waktu
dan sinar itu pun melesat diantara kedip mata
menyisakan sedikit rasa
sayapmu yang dulunya kecil kini membentang siap menantang
cukuplah aku mengajarimu tentang kebebasan, seperti kamu mengajariku apa arti pulang
saatnya kamu pergi.
temui aku lagi
di sini
sampai kaku mulutku lelah ribuan kali menyebut
dan bintang yang biasa kusematkan di matamu, kian meredup
tak lagi pendarnya mampu menemani
dan cerita-cerita yang biasa kubisikkan menumpuk
acak-acakan tak berurutan ujung dan pangkal
tirai antara kamu dan aku yang mendesah hangat seperti sinar mentari pagi
membentang laksana jeda di antara dua galaksi
dan putaran bulan mengitari bumi
melintasi matahari, kini dan nanti
perlahan menggumpal mewujudkan aku dan kamu dalam satuan waktu
dan sinar itu pun melesat diantara kedip mata
menyisakan sedikit rasa
sayapmu yang dulunya kecil kini membentang siap menantang
cukuplah aku mengajarimu tentang kebebasan, seperti kamu mengajariku apa arti pulang
saatnya kamu pergi.
temui aku lagi
di sini
Purnama
matahari sudah lama mati
dan bintang yang biasanya ada di sana, hilang entah kemana
aku memanggil cahaya yang menjawab di ujung purnama
dan ia pun datang membawa keenam saudara kembarnya
dua diantaranya memberiku harapan
dua lagi mengajarkanku untuk memiliki keinginan
dan dua terakhir, memintaku untuk melupakan
apa yang dahulu telah mereka ajarkan
selamat datang, ramadhan :)
dan bintang yang biasanya ada di sana, hilang entah kemana
aku memanggil cahaya yang menjawab di ujung purnama
dan ia pun datang membawa keenam saudara kembarnya
dua diantaranya memberiku harapan
dua lagi mengajarkanku untuk memiliki keinginan
dan dua terakhir, memintaku untuk melupakan
apa yang dahulu telah mereka ajarkan
selamat datang, ramadhan :)
Temui aku lagi di sini (1)
selamat pagi,
lalu kukembalikan ke langit bintang yang pendarnya menemanimu semalam
dan kulipat cerita-cerita yang kubisikkan di mimpimu
lalu kubuka tirai harimu
agar hangatnya menjemputmu
sampai nanti,
temui aku lagi
di sini
lalu kukembalikan ke langit bintang yang pendarnya menemanimu semalam
dan kulipat cerita-cerita yang kubisikkan di mimpimu
lalu kubuka tirai harimu
agar hangatnya menjemputmu
sampai nanti,
temui aku lagi
di sini
magical imagination
Every word is part of a picture. Every sentence is a picture. All you do, is let your imagination connect them together. If you have an imagination that is.
- The Mighty -
- The Mighty -
karma (editted)
after those couple cups of poisons
nicely served upon your face
now it is much easier for you
to spit what you almost chew
i wish you were dead
i wish you were dead
i wish you once again
were dead
so i could meet you
in here
let me show you
it is our next life
and you would lick my wound
and you would wipe the dirt on the top of my corpse
which no longer but a mere mortal
and you would kiss me with your rottened lips
that would taste sweeter like never
and i would hug you with my broken wings
lull you with an eerie fairy song
and i would cut my hand with the sharpest tongue
to fulfill your crave of flesh and blood
until i'm running out of my light
i wish you were dead.
like me.
and we would happily dance together
under the sky of grieve
and a sparkling tear drops
you and me.
nicely served upon your face
now it is much easier for you
to spit what you almost chew
i wish you were dead
i wish you were dead
i wish you once again
were dead
so i could meet you
in here
let me show you
it is our next life
and you would lick my wound
and you would wipe the dirt on the top of my corpse
which no longer but a mere mortal
and you would kiss me with your rottened lips
that would taste sweeter like never
and i would hug you with my broken wings
lull you with an eerie fairy song
and i would cut my hand with the sharpest tongue
to fulfill your crave of flesh and blood
until i'm running out of my light
i wish you were dead.
like me.
and we would happily dance together
under the sky of grieve
and a sparkling tear drops
you and me.
masih
serpihan air itu datang lagi
menderu wajahku, menghalau pikiranku kembali ke masa itu
semasa aku kencing di celana
hujan,
ternyata masih sama.
menderu wajahku, menghalau pikiranku kembali ke masa itu
semasa aku kencing di celana
hujan,
ternyata masih sama.
sisa hari ini
aku tidak tahu apa-apa.
aku hanya pengumpul kata-kata.
aku hanya menyambung makna.
aku hidup di titik sekarang. dan sedikit kemudian.
tuhan,
untuk itukah aku Kamu ciptakan?
-Lowe, 24.07.09 / 21.30-
aku hanya pengumpul kata-kata.
aku hanya menyambung makna.
aku hidup di titik sekarang. dan sedikit kemudian.
tuhan,
untuk itukah aku Kamu ciptakan?
-Lowe, 24.07.09 / 21.30-
Pulang
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Lalu tanpa ba-bi-bu, ibu jariku mulai menari di atas keypad hibrida handphone dan walkman-ku.
When is your flight? Save flight, get well soon … jangan lupa pulang ya!
Dan tak berapa lama, ciptaan hibrida itu bergetar. Sebuah amplop muncul di permukaannya. Dengan sekali klik, amplop itu mudah sekali digelitik untuk membuka rahasia pengirimnya.
“Thanks, dear friend!”
Dan tiba-tiba Pikiranku pergi meninggalkan raganya. Ia menari dengan leluasa tanpa perlu merasa berdosa. Seperti biasa. Lalu kamu melesat secepat kilat ke ujung langit. Tanpa pamit. Dan meninggalkanku dalam kehampaan. Dalam ribuan kuadrat pertanyaan. Di saat yang sama, di ujung sana, kamu tersenyum ke arahku. “Dari sini, aku selalu bisa memandangmu.” Katamu, masih duduk santai di tepian bintang. Kecil, namun kamu begitu terang di langit malam yang tak lagi perawan. Tak ada lagi selaput kabut yang membatasi. Aku dan kamu.
Pulanglah, pikiranku.
Seperti dia yang kini pulang ke pelukan ibunya. Lalu ia bergelung dalam pelukan erat. Mendekap hangat. Menyusu. Kali ini tanpa nafsu. Mulutnya mencucu sambil mendengarkan irama detak jantung perempuan yang pernah meregang nyawa melahirkannya. Lalu tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir di kedua sudut matanya. Sama hangatnya dengan susu yang sedang mengalir di kerongkongannya. Kehangatan itu mendesis, mengiris-iris sepi di sekujur tubuhnya yang dingin. Terlalu lama diterpa angin. Bukan ia tak ingin pulang. Hanya saja, ia telah lama hilang.
Kenapa kamu inginkan aku pulang? Tanyamu. Masih sambil duduk santai di tepi bintang. Kelap-kelip di tengah gelapnya malam. Pulang. Artinya kembali ke sarang. Tempat dimana seharusnya aku atau kamu tidak pernah merasa terbuang. Tapi kamu yang ingin aku pergi dari kepalamu! Kamu yang mengusirku, ingat? Kata kamu aku bejat. Aku pikiran laknat. Aku harus disunat. Karenanya aku minggat!
Lalu meledaklah tangisnya. Dan saat itu langit seolah menggelegar seperti serpihan kelopak mawar yang tersebar di galaksi. Berkelap-kelip di tengah gelapnya malam, serpihan air matamu menjelma serupa bintang. Yang tak terlihat di langit siang. Yang memang tak pernah muncul di saat aku berpikir terang.
Dan kamu selalu di sana. Dengan wajah malu-malu kamu menampakkan diri dalam kegelapan yang terdalam. Di batas mimpi. Antara sepi dan embun pagi. Antara ingin dan pasti.
Langit terang benderang.
Kegelapan bertabur bintang.
Dan aku berada di kedua ambang.
Kapan kamu pulang? Aku mendesah putus asa. “Kapanpun kamu inginkan, perempuan suci.” Katamu.
Dan aku hanya terpaku. Tergugu. Apalah aku tanpa kamu. Apalah suci tanpa benci. Apalah pahala tanpa dosa. Dan aku tertunduk. Menatapi kakiku yang jenjang dan telanjang. Yang telah menjejak ribuan ranjang.
Dan detik itu juga kamu hinggap di benakku. Melilitku dengan sayap lembutmu. Menggelitikku dengan lidahmu. Menelanjangiku hanya dengan satu kedipan matamu. Lalu aku pun berteriak. Bukan! Bukan minta tolong. Tapi seperti anjing yang melolong. Penuh kerinduan.
Kamu pulang. Dan aku seakan terbang melayang.
Dan aku akan mengejarmu.
Sampai kamu pergi lagi.
Di batas mimpi dan embun pagi, 8 juni 2009, 02:30:57
When is your flight? Save flight, get well soon … jangan lupa pulang ya!
Dan tak berapa lama, ciptaan hibrida itu bergetar. Sebuah amplop muncul di permukaannya. Dengan sekali klik, amplop itu mudah sekali digelitik untuk membuka rahasia pengirimnya.
“Thanks, dear friend!”
Dan tiba-tiba Pikiranku pergi meninggalkan raganya. Ia menari dengan leluasa tanpa perlu merasa berdosa. Seperti biasa. Lalu kamu melesat secepat kilat ke ujung langit. Tanpa pamit. Dan meninggalkanku dalam kehampaan. Dalam ribuan kuadrat pertanyaan. Di saat yang sama, di ujung sana, kamu tersenyum ke arahku. “Dari sini, aku selalu bisa memandangmu.” Katamu, masih duduk santai di tepian bintang. Kecil, namun kamu begitu terang di langit malam yang tak lagi perawan. Tak ada lagi selaput kabut yang membatasi. Aku dan kamu.
Pulanglah, pikiranku.
Seperti dia yang kini pulang ke pelukan ibunya. Lalu ia bergelung dalam pelukan erat. Mendekap hangat. Menyusu. Kali ini tanpa nafsu. Mulutnya mencucu sambil mendengarkan irama detak jantung perempuan yang pernah meregang nyawa melahirkannya. Lalu tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir di kedua sudut matanya. Sama hangatnya dengan susu yang sedang mengalir di kerongkongannya. Kehangatan itu mendesis, mengiris-iris sepi di sekujur tubuhnya yang dingin. Terlalu lama diterpa angin. Bukan ia tak ingin pulang. Hanya saja, ia telah lama hilang.
Kenapa kamu inginkan aku pulang? Tanyamu. Masih sambil duduk santai di tepi bintang. Kelap-kelip di tengah gelapnya malam. Pulang. Artinya kembali ke sarang. Tempat dimana seharusnya aku atau kamu tidak pernah merasa terbuang. Tapi kamu yang ingin aku pergi dari kepalamu! Kamu yang mengusirku, ingat? Kata kamu aku bejat. Aku pikiran laknat. Aku harus disunat. Karenanya aku minggat!
Lalu meledaklah tangisnya. Dan saat itu langit seolah menggelegar seperti serpihan kelopak mawar yang tersebar di galaksi. Berkelap-kelip di tengah gelapnya malam, serpihan air matamu menjelma serupa bintang. Yang tak terlihat di langit siang. Yang memang tak pernah muncul di saat aku berpikir terang.
Dan kamu selalu di sana. Dengan wajah malu-malu kamu menampakkan diri dalam kegelapan yang terdalam. Di batas mimpi. Antara sepi dan embun pagi. Antara ingin dan pasti.
Langit terang benderang.
Kegelapan bertabur bintang.
Dan aku berada di kedua ambang.
Kapan kamu pulang? Aku mendesah putus asa. “Kapanpun kamu inginkan, perempuan suci.” Katamu.
Dan aku hanya terpaku. Tergugu. Apalah aku tanpa kamu. Apalah suci tanpa benci. Apalah pahala tanpa dosa. Dan aku tertunduk. Menatapi kakiku yang jenjang dan telanjang. Yang telah menjejak ribuan ranjang.
Dan detik itu juga kamu hinggap di benakku. Melilitku dengan sayap lembutmu. Menggelitikku dengan lidahmu. Menelanjangiku hanya dengan satu kedipan matamu. Lalu aku pun berteriak. Bukan! Bukan minta tolong. Tapi seperti anjing yang melolong. Penuh kerinduan.
Kamu pulang. Dan aku seakan terbang melayang.
Dan aku akan mengejarmu.
Sampai kamu pergi lagi.
Di batas mimpi dan embun pagi, 8 juni 2009, 02:30:57
kita
aku hanya ingin duduk berdampingan.
denganmu.
terbenam dalam kabut, mengurai kalut.
lalu kita ikut menghirup kabut tebal yang melubangi paru-paru.
menghisapnya dalam-dalam, lalu perlahan ia merangkak naik lewat sela hidungmu.
melewati lubang yang menyempit, ia menggelitik ujung ubun-ubun. tanpa ampun.
mendesak neuron-neuron yang membuatku sesak.
di dada, juga di kepala.
dan kita hanya akan diam.
tenggelam, dengan pikiran-pikiran yang dalam.
kamu pikirkan dia. kamu pikirkan mereka. aku pikirkan kamu. kamu tak peduli. aku juga.
lalu kita diam tanpa bicara. tanpa harus ada aksara. tapi punya makna.
Lowe, 22:02
denganmu.
terbenam dalam kabut, mengurai kalut.
lalu kita ikut menghirup kabut tebal yang melubangi paru-paru.
menghisapnya dalam-dalam, lalu perlahan ia merangkak naik lewat sela hidungmu.
melewati lubang yang menyempit, ia menggelitik ujung ubun-ubun. tanpa ampun.
mendesak neuron-neuron yang membuatku sesak.
di dada, juga di kepala.
dan kita hanya akan diam.
tenggelam, dengan pikiran-pikiran yang dalam.
kamu pikirkan dia. kamu pikirkan mereka. aku pikirkan kamu. kamu tak peduli. aku juga.
lalu kita diam tanpa bicara. tanpa harus ada aksara. tapi punya makna.
Lowe, 22:02
nite shadow
blinded star sparkling eye
lies beneath the stormy sky
warmth wind kisses chill
isn't it true that you are here?
flies flapping lies flying
all becomes the words dying
clinking through snapping glasses
still i should believe in you without cause
for i have thought a million things
for i have flown a million wings
share the love ignored them
where you are, therefore i am.
- duet puisi gue dan burat via Yahoo! Messenger, ... sekitar 4 tahun yang lalu, dan baru kemarin kita duduk bareng untuk ngasih judulnya -
:)
lies beneath the stormy sky
warmth wind kisses chill
isn't it true that you are here?
flies flapping lies flying
all becomes the words dying
clinking through snapping glasses
still i should believe in you without cause
for i have thought a million things
for i have flown a million wings
share the love ignored them
where you are, therefore i am.
- duet puisi gue dan burat via Yahoo! Messenger, ... sekitar 4 tahun yang lalu, dan baru kemarin kita duduk bareng untuk ngasih judulnya -
:)
chapter three
...
and the bubble pops off into thin air.
and so is my love.
-dedicated to darkfuchsia-
and the bubble pops off into thin air.
and so is my love.
-dedicated to darkfuchsia-
Take My Hand
Yes, we are crossing the road my dearest secret love.
Indeed the day is so busy. They’re busy looking at us, maybe. Can’t you see that?
They’re jealous. Never mind them.
Yes, take my hand my dearest secret love.
Take them and hold them tight, and never let me go.
Let them know,
… yes I want them to know.
Run, run my dearest secret love.
Run as fast as you can!
Just like I ran from reality, just like you ran away from your feelings for me.
Yes, take my hand my dearest secret love.
Take and hold them tight, and never ever let me go.
(30.03.09 / 16.42)
Indeed the day is so busy. They’re busy looking at us, maybe. Can’t you see that?
They’re jealous. Never mind them.
Yes, take my hand my dearest secret love.
Take them and hold them tight, and never let me go.
Let them know,
… yes I want them to know.
Run, run my dearest secret love.
Run as fast as you can!
Just like I ran from reality, just like you ran away from your feelings for me.
Yes, take my hand my dearest secret love.
Take and hold them tight, and never ever let me go.
(30.03.09 / 16.42)
It’s been a while

It’s been a while since I last laughed out loud in this office.
going through all deadlines,
all hatreds,
all well-jealous thingy,
all disappointment s and those promises,
all stupidities,
all targets, all cuts by a million buts,
all those moronic people,
all those ego.
This morning, I had just asked myself. I like this industry, but do I love what I am doing?
Well, .. these are some of the things that make me hanging here. Still.
I love you guys!
:)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
It’s been years. Probably, … eight years. We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit. But after weeks of considera...
-
Di suatu malam yang sunyi dan dingin, langit begitu gelap. Namun, ada seorang wanita yang tidak dapat terlelap. Dari semua mimpi yang tela...