Fridate with the girls




I am a mother goin' out with my mother. 

Jumat kemarin, kita niat pergi agak jauh. Dharmawangsa Square. Well, waktu yang kurang tepat untuk jalan-jalan sih sebenarnya. You know, ... Jakarta's traffic on friday. Tapi karena mood lagi mendukung dan memang ada tujuan yang dicari, yaitu mencari tas sekolah buat kakak Titan yang sudah 3 tahun enggak diganti, akhirnya kita pergi juga walaupun harus menunggu taksi dari jam 11 dan baru dapat jam setengah dua.

Seperti yang diperkirakan, ... macet. Saya lupa ada pembangunan fly over di depan Rumah Sakit Pertamina yang mengekor ke Sinabung dan Barito, rute perjalanan kami. Alhamdulillah, sampai dengan aman enggak pake nagging. Tentunya, berkat nenen sepanjang jalan dan si bocah tertidur pulas.

Sebelumnya udah browsing-browsing sih, tas kaya apa yang bakalan dibeli. Titan memang sangat picky dengan semua outfit yang bakal dia pakai. Sebelumnya sudah ngubek-ngubek Gramedia, tapi enggak ada satu pun tas yang dia suka. Ada sih sempet lirik-lirik Jansport Original yang modelnya vintage gitu, tapi kok ya harganya satu jutaan. Lebay banget, kata bundanya. Mending buat bayar asuransi kesehatan dan sisanya buat kontrol ke dokter gigi hahaha.

Akhirnya kembali ke selera tas dia waktu di TK, Sugar Booger. Ngubek-ngubek instagram, akhirnya nemu perpanjangan si Ore Originals ini yaitu di MomsAndI di Kemang. Tapi kok ya Kemang ya. Jauh sih enggak terlalu, tapi macetnya ... aduhai!
Kemudian saya baru ingat, satu tempat dimana saya membeli Sugar Booger ini pertama kali. Setelah saya google dan dapat nomer telfonnya, itulah kenapa akhirnya kita ke sana langsung. Karena online store-nya enggak update dengan produk terbaru mereka. Nama tokonya Little Toes, di sayap ujung (yang saya selalu lupa sayap sejajar Ranch Market atau justru di ujung lain).

Begitu masuk langsung kalap dengan barang yang lucu-lucu. Si Sugar Booger ini, seperti biasa, lebih banyak koleksi lunch sack dan Kiddie backpack nya yang banyak. Luna juga udah sibuk pilih-pilih. Di pojokan, baru deh kelihatan koleksi zippy backpack yang lebih cocok untuk anak SD. Meskipun enggak selengkap yang saya harap, Alhamdulillah yang kira-kira Titan suka ada di sana. Bahannya kanvas ringan, strap di pundak enggak terlalu lebar, enggak terlalu banyak kantong, ukurannya juga enggak terlalu besar dan enggak terlalu kecil. Cukuplah untuk bawa folder PR dia berukuran kertas folio, dua buku tulis, sarung, peci, snack box dan tempat minum. Dan yang penting, dia pasti suka gambarnya. Dan yang penting lagi, harganya juga masuk akal. Rp. 295.000 aja, jauh lebih murah dibanding harga di website Ore Original. Sedangkan Lunch sack buat Luna, harganya Rp. 200.000

Yeay! Akhirnya dapat juga tas buat si kakak! 
Tapi sebenernya bukan itu aja sih highlight Fridate kita. 

Setelah dapat barang, ktia jalan-jalan sebentar uji nyali ke Tulisan dan ... omagah, hobo yang aku mau adaaaa! Buru-buru lah kita keluar dari toko daripada impulsif beli hahaha. Sekali lagi, mending uang 1,5 juta bisa beli emas 3 gram *kekepin kartu debit*

Dari situ kita lunchie ke Street Canteens, soalnya Luna belum mamam. Sampai sana pesan bihun sop ayam buat Luna dan es jelly. Buat aku dan mamah pesan pempek. Eh ternyata pempek di sana enak juga. Nah, disitulah saya mencuri dengar sambil nyuapin Luna. Jadi, ya .. wajar ya kalau dengernya kepotong-potong hehehe.

Di sebelah saya ada ibu dan anaknya. Si ibu asyik main tab kecil dan anaknya sibuk dengan MacBook Airnya. Anaknya cowok, kayanya sih di tahun akhir SMA atau mungkin sudah lulus. Karena musik yang agak bising, saya enggak bisa jelas mendengar apa yang diomongin si Anak while ibunya mendengarkan sambil terus main gadget.

Ibunya cantik. Umurnya kayanya lima puluhan, tulangnya kecil. Jadi walaupun badannya agak gemuk, tetap terlihat tangan dan kakinya jenjang. Slender, kalau kata orang sana bilang. Dia pakai short overall warna pink lembut dan dalemannya kaos oblong putih yang pas di badan. Rambutnya hitam dan panjang, digulung ke atas.  Enggak pakai bulu mata palsu, enggak pakai make up berat. Cantik, deh. Saya jadi memotret diri saya, apakah saya jadi mamah asyik empat belas tahun nanti. Yang bikin saya tertarik adalah, she looks like a simply straight mom. Di sela-sela percakapan mereka, dia berkata "No, itu salah lu. Harusnya, ... bla bla bla" trus anaknya nerusin omongannya lagi tanpa nada defensive. Trus ibunya nyambung lagi "Dengar. Dengar mama. Kita pengen lu pergi buat belajar. That's it. Pikirin itu." Trus dia langsung melambaikan tangan minta bon. Anaknya langsung terdiam dan menghabiskan minumannya. Saat si ibu berdiri untuk membayar ke kasir, baru deh saya bisa lihat sepatu lucu yang dipakainya: Pump shoes tikus dari Marc Jacob's warna pink. Oh la laaaa, saya pengen banget sepatu itu. Krik krik ... krik krik ....

Asumsi saya, mereka lagi sibuk berdebat soal nerusin sekolah ke luar negeri dan negara mana yang akan dituju. Si anak milih negara yang banyak temen-temennya, ibunya pengen anaknya pergi ke luar negeri buat sekolah dan bukan buat main. Saya membanthin, semoga bisa menabung dan menyekolahkan anak-anak ke luar. Atau, semoga anak-anak tumbuh pintar untuk dapat bea siswa. Amin. Setelah mereka ke luar restoran, saya mulai memakan pempek saya yang sudah dingin karena tadi nyuapin Luna dulu. Sekarang sih luna lagi makan dessert es jelly sama Nini.

Sambil makan mata saya menerawang, dan jatuh ke dua ibu-anak yang lewat di depan restoran. Si anak umurnya tiga puluhan, ibunya mungkin sudah enam puluhan. Anaknya nyante banget, pakai sleeveless long dress warna hitam dengan rambut digulung ke atas. Enggak pakai make-up. Sementara ibunya sasakan, baju rapi dan di tangannya men'cantel' handbag Coach. Kayanya sih mereka dari salon. Seketika saya mikir. Kapan ya, saya bisa berduaan gitu bermewah-mewah sama mamah. Kapan saya ya, bisa beliin mamah tas bermerk. Kapan saya bisa ajak di ke spa untuk pijat, merendam kakinya yang sehari-hari sibuk menyapu dan ke pasar pakai air hangat, disikat dan dikutek. Pijat punggungnya yang sudah pengapuran dengan batu panas dan pijat ala thai.

Mamah saya itu tidak terbiasa memanjakan dirinya. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat bikin reservasi berdua di Puri Santi Spa Cipete. Tadinya sih mau surprise, tapi dia kan gitu. Kalau enggak ada tujuan yang jelas, enggak akan mau pergi dari rumah. Tapi begitu dikasih tau mau diajak ke spa, langsung ditolak mentah-mentah. She is just not used to. She felt awkward. Nyalon? Sama juga. Buat dia nyalon itu cuma untuk potong rambut dan pulang. Pernah saya pesan mbak pijat yang datang ke rumah. Udah hati-hati banget pesannya, terapis yang spesialisasinya pijat Jawa. Eh, sampe rumah malah disuruh ngerokin. Way beyond her skills dan akhirnya Mamah enggak puas juga dengan pelayanannya. Ya wajar, sih.

Setelah kejadian itu, saya enggak pernah lagi kasih-kasih surprise yang 'enggak mamah banget'. Tapi ngasih tas branded buat mamah? Harusnya sih mamah seneng-seneng aja ya dikasih model apapun selama bukan backpack. Tapi ya itu, ... ternyata saya masih sibuk merhatiin keluarga saya aja. Memakmurkan anak-anak. Mengirim mereka kekolah yang baik dan memberi mereka pengalaman di suasana baru.

Itulah bedanya saya dan mamah. Saya cuma mikirin keluarga saya, tapi Mamah bisa mikirin anaknya dan semua keluarga anaknya. Umur memang tidak berbohong ya. Semoga saya bisa bijak kaya mamah nantinya.

Amin. 


Si bocah asyik makan bihun sup satu pot besar

Yes, this is it! Vintage drawings. 

hukuman mati

another chat while we had dinner today.

"bunda, hukuman mati itu apa sih?" 

"ehm..." *ambil minum hampir keselek. "hukuman mati itu, adalah keputusan hukum yang dibuat oleh sebuah negara untuk menghukum seseorang sampai meninggal. ada yang ditembak mati, ada yang disuntik obat, ada yang dimasukin kamar gas. pokoknya, kasarnya, dibunuh sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan yang sudah dia lakukan. 

"tapi kan membunuh orang itu enggak boleh."

"kan tadi bunda bilang, ada negara yang membolehkan hal tersebut. kenapa, karena bentuk kesalahan yang dia lakukan sudah enggak termaafkan lagi."

"kenapa enggak termaafkan? kan kita harus memaafkan?"

"enggak termaafkan itu, biasanya kalau yang kita lakukan itu sudah terlanjur merusak hidup orang lain dan enggak bisa balik lagi." 

"ya tapi tetep kita enggak boleh bunuh orang dan harus memaafkan." 

"ya, itu ada benarnya juga sih nak." 

*untung bubunya cepat datang. dan pembicaraan beralih. yeay!*

#one page a day

Few months ago, a friend of mine which happened to be also a kindergarten teacher recommended this book. I have just finished reading it a few weeks ago.

The content is not really new in parenting world we might have heard. But in my opinion, this is not the kind of book we read once and put it back on the shelves. We should solemnly read this book as everyday's reminder. Each chapter is not really linked to one another, and we can read only the chapter related to the kid's phase we are facing.

I bought the book on www.belbuk.com





my own kind

how long has my kid gone to school? probably four and a half years. titan did not really attend a pre-school or other pre-kindie program. he was too busy at home playing with his grandpa from climbing a tree, feeding the pets or ride a bike. He started on tk kecil when he was 4 and moved to elementary school when he was 5 (in highscope, elementary starts on kindergarten).

along his journey, as far as i remember, never at once i made such a bff relationship with other parents. until this year on grade 2. when did we get together? never from small talks. we started it for a support system of a worsen condition that day and we just clicked. we both have the same son and daughter of the same age.

it has been a while since i last have chat with my own kind. i miss those nitty gritty running the house, talking about schools and courses, daily menus, chats about how we are not slim anymore where wrinkles and fatbelly have become our jewelleries that make us happy. those chats that no longer about ourselves, handsome guys or wanting more physical belongings. chats about future and how to make a better future through our children. chats about their happiness. because we know when they are happy and so are we.

those chats were not only today when i had a playdate with brit and hikaru. i also had a luxurious two days playdate with femmy who reminded me there are another sky above the sky and there are more mud below the land i am stepping on. she reminded me about the dream we have and we always had that waits to be made. and i also had the luxurious chat with a mother i always look up to. she did another great thing lately: to let his son released his choice in medical faculty of ugm and decided to join a flying academy instead.

yeah, i need more dose of them. meeting my own kind.
it grows me.





selamat datang kelas tiga!

enggak terasa si bocah udah naik ke kelas tiga. selama liburan kemarin, iya liburan yang 6 minggu itu, kita bikin kesepakatan-kesepakatan baru. quite big leaps, i guess.

issue pertama adalah matematika. subject dimana titan dan beberapa temennya harus dapat remedial untuk pelajaran yang satu ini. tahun kemarin titan memang dapet guru yang agak akademis banget. tapi untungnya juga baik hati banget yang mau ngasih kelas tambahan tanpa pungutan biaya. suka bagi makanan pula. tahun ini, belum tentu dapat guru yang sama sementara kebutuhan mempertajam logika matematika masih sama. so, ... kesepakatan pertama: ikut kumon.

dulu, suka ngetawain orang tua yang ambisius banget masukin anak-anaknya ke kumon. bayangan saya, mereka pengen banget punya anak-anak yang jago berhitung di luar kepala. tambah-tambahan, kali-kalian, memecah desimal dan ahli bilangan pecahan.

kasihan anaknya. pikir saya selama ini.

tapi hari ini. iya, hari ini. akhirnya saya mendaftarkan titan ke kumon *sound efek geledek di udara*
tentunya, sekali lagi, dengan persetujuan si anak. kumon ini rela diambil titan karena selain memang butuh tapi dia juga minta kumonnya diseimbangkan dengan ikutan art class with hadiprana di sekolah. after a deep thought yang juga diiringi dengan penghitungan mendalam soal dompet, ... "yaaa okelah." kata saya.

sebenernya udah lama saya 'beriklan' tentang les matematika ala jepang ini. tapi baru kali ini iklan saya mau dicoba. iya, dicoba. belum tentu jadi loyal customer. padahal ibunya dua belas tahun di dunia iklan *sound efek penonton ketawa*

saya selalu beranggapan bahwa yang namanya les itu harusnya untuk mempertajam apa yang sudah bagus. dalam hal ini, kemampuan bahasa inggris titan jauh lebih baik daripada kemampuan matematikanya. tapi sebaliknya, saya rasa ini juga momen yang tepat untuk mendorong kemampuan matematikanya itu karena rupanya titan juga mulai merasakan kebutuhan untuk perform lebih baik di bidang matematika. keputusan saya makin kuat saat saya ajak dia untuk placement test. saat gurunya bertanya "kenapa baru kumon sekarang?" titan menjawab "karena titan baru siap sekarang."

lega banget dengernya. dia mengerti kendala dia selama ini, mengerti perasaan dia terhadap matematika dan berani mengambil keputusan hari ini.

trus, apa alasan saya mengambil langkah mainstream ini?

sebenernya jawabannya simpel. supaya titan disiplin berlatih. karena matematika itu masalah latihan, kok. dan disiplin adalah issue kita selama ini. kadang saya berpendapat sekolahnya terlalu loose, di satu sisi anak-anak terlalu dibebaskan untuk hal yang harusnya bisa didisiplinkan. dan kalau ibunya yang bertindak untuk melatih dia belajar matematika, selain anaknya juga suka kabur-kaburan ibunya juga (seringnya) capek ngejar-ngejar. akhirnya situasi jadi memanas, ibu jadi kesal anak pun tegang. walhasil pembelajaran jadi percuma. disitulah saya mulai berpikir bahwa saya dan titan butuh pihak lain yang memang expert di bidangnya.

sometimes a mother doesn't have to be everything.

lagian, setelah saya pikir-pikir, kumon juga ada bagusnya. bukan masalah kontennya. tapi sistemnya. enggak ada klasifikasi kelas dan bukan dengan metode guru menjelaskan di papan tulis, tapi ngerjain masing-masing level sesuai kemampuan masing-masing. belajar fokus karena harus mengerjakan sesuai tenggat waktu. enggak perlu menghafal, tapi karena sering melihat angkanya dan bolak-balik dikasih hal yang sama; pasti ada yang nempel. alah bisa karena biasa.

untuk art class, titan masih bingung mau ikut acrylic painting atau drawing with crayon. awalnya dia mau ikutan crayon, karena menurutnya gambarnya pengen lebih bagus lagi dan lebih variatif lagi topiknya. sementara, kalau melukis kan sering dilakukan di rumah. tapi entah kenapa hari ini tiba-tiba dia pengen gabung melukis acrylic.

issue berikutnya adalah physical education. lucu deh, dengan gayanya dia bercerita bahwa dia punya issue berat dengan pelajaran yang satu ini. "titan tuh bermasalah banget sama PE. kalau lari, enggak bisa bener larinya karena sepatunya kendor. harus dibetulin terus tapi strapnya enggak bisa kenceng." saya senyum-senyum. kesempatan yang baik untuk 'jualan' berlatih mengikat.
"kalau begitu, sudah waktunya titan pakai sepatu sport yang diikat. karena kalau diikat itu pasti lebih kencang. coba, kalau titan ice skating enggak ada kan sepatu yang pake velcro strap? semuanya diiket. nah, itu tuh supaya kenceng. tahun ini kita beli sepatu yang proper ya, dan titan musti belajar ngiket tali sepatu sendiri." lalu titan mengangguk yakin. dan ternyata, hanya dalam semalam dia sudah bisa menguasai cara mengikat tali sepatu sendiri. dia seneng banget! saya juga sih.

BIG YEAY banget untuk mengawali tahun ajaran baru kali ini:
bisa ngiket tali sepatu sendiri dan memutuskan untuk les kumon.

oh noooooo, tetiba bundanya mellow. anakku udah gede.

selamat datang kelas tiga! bismillah.







it was gonna be like ... who's turn?

i remember a friend posted a question "isn't going to a carwash supposedly become a duty of a husband?" with a pin pointed on a famous carwash in the south of jakarta.

who would have thought, within a few months it is now her husband's job to remember everything about running the house. i mean like ... every single thing. from the checking out the groceries what's in or out of stock, kid's tuition, staff's needs and salaries, pay all the bills within their due dates to the very small thing like remember when to buy the face powder for his wife. because now the wife is sick and cannot run the house for quite some times.

yes.
how many times, we; the housewife, think that we have done much compare to our husband.
how many times, we; the housewife, think that we deserve lesser job lists and more rest (read: more me time) compare to our husband.

these days the jobs of a wife and a husband has become overlapping. i have a friend who has become a housedad and let his wife become the bread winner. i see them running it smoothly. the wife climbs the corporate ladder in no time and the husband can always finds new ideas to get their son have a shower. drop and pick him to school and have a chat with other parents at school. cut his nails, wrap his books, cook his foods, basically what a wife do it is just he is a husband.

just like a show, the house needs to run no matter what. why don't we stop asking who's gonna do this and who's gonna do that and separate jobs from his and hers?  it is so yesterday. now is, who got the time to do them then just do. we started this family, we are in this together.

revolusi setengah hati

ini bukan soal perang. tapi, soal memisahkan cinta dua pihak yang amat sangat saling mencinta dan telah lama memadu kasih dalam bentuk kegiatan yang mengasyikkan bagi keduanya: nenen! bagai candu, pernenenan ini dinikmati banget oleh si pelaku dan yang dipernenenkan.

awalnya, pengen benar-benar weaning with love tanpa batas waktu. toh aku sama luna masih sama-sama menikmati. tapi kenyataan berkata lain. aku harus segera menyapih luna karena ada kemungkinan harus pergi ke luar kota untuk waktu yang agak lama.

enggak pernah ada tenggat waktu yang jelas kapan benar-benar ingin memulai. sampai pada suatu waktu, luna selalu muntah kalau habis nenen. aneh. enggak tahu juga sebabnya kenapa. bahkan dikasih obat penawar rasa mual paling ampuh pun dia tetap saja muntah.

ok, mungkin ini saatnya harus menyapih. batin saya saat itu.

dua hari berhasil. luna juga mengerti kalau setiap kali dia nenen, pasti berujung muntah. rasa kemeng-kemeng di payudara pun akhirnya berkurang setelah saya perah. sedih juga sih harus buang-buang asi, padahal masih banyak bayi yang butuh asi. tapi kalau anak sendiri aja muntah-muntah, apa iya harus didonor ke anak lain? ya enggak kan yaaaaaa.

di hari ke tiga, tiba-tiba luna mengamuk sejadi-jadinya. sakaw nenen. saya baru liat juga nih dia kalo udah ngamuk kaya gitu. menyeramkanlah pokoknya. mana tenaganya kuat banget. digendong dan dipeluk-peluk pun dia melonjak-lonjak dan meronta-ronta. lelah sekali saya dibuatnya.

demikian lelahnya sehingga tiba-tiba saya tertidur. dan saat terbangun, saya mendapati luna lagi asyik nenen. yaaaaaaah, kecolongan! mau saya lepas, dia lagi asyik merem-melek ngantuk-ngantuk nikmat. tiba-tiba ingat lagi saat-saat awal kita berkenalan lewat payudara di detik-detik awal luna menghirup hidup. dalam setiap hisapan, setiap kecupan, setiap dekapan. menenangkan dan menghangatkan.

trus luna pun tertidur. pulas sekali. bangun-bangun enggak ada tanda-tanda dia bakal muntah.
and that's it. dia enggak percaya lagi dibilang nenen itu bikin muntah. karena sudah terbukti, dia nenen dan enggak kejadian apa-apa.

trus dia minta nenen lagi. lagi. lagi lagi lagi lagi lagi lagi lagi dan lagi.
dan saya juga ladeni aja. karena memang sama-sama menyenangkan. membahagiakan. menghangatkan hati.

gitu deh. revolusi setengah hati.
trus gimana dong nanti luna kalau ditinggal? yaaaa ... lihat aja nanti. mudah-mudahan kalau enggak liat botol susu besarnya ini dia enggak inget-inget pengen nenen.

amiiiiiiiin!

as the moon is fading out

this ramadhan, was the only ramadhan i hardly catched up with.
i feel so ... so sad, since i still have my mom and dad here for sahur and breakfasting, and i did not appreciate the bless. i only had two family breakfasting in total. i mean 'real' breakfasting when we all sat together, had the long pray and enjoyed the meal with all our heart.
the rest, are just compulsory.

dad would most likely break his fasting in hurry because he needed to go to the mosque. hubby was still in the office most of the times. mom got super tired and her appetite to breakfasting had already running out as she cooked the meal the whole day. so the adult was only me, with an empty heart.

too bad.

i started the ramadhan with a meeting with the client that left me dizzy the whole day and made me vomit just in time: twenty minutes before the breakfasting time *lol* it has been a while since i had to stand in the sun (i rode ojek) while fasting, and maybe i am just simply too old for jakarta's traffic.
luckily the meeting went well and gave me a little hope of something new.

few days later, i got typhoid. four days later after i got infected, titan got infected too. the day after was my mom, and a few days later was luna. i felt super exhausted to take care of my own and my children. poor my mom i could not take care of her. poor luna, since i got busy taking care of titan and mom got sick as well, nobody took care of her and she got sick too.

the third week of the ramadhan was filled with the obligation of finishing the hampers project for bebikinan. titan was so very kind, he helped me out. now he can assist me from measuring the ingredients to stirring the caramel. BIG YEAY! i never know where this small business will go to, but we expand our effort and possibilities wider and wider as it goes. because i know, god has everything written and for the time being this is the best we can do and i am so grateful.

the fourth week of ramadhan was filled with hampers delivery (yeap, the most frustrating part), did some paperwork and last but not least, preparing luna's birthday! YEAAAAAAAY!

my girl is not a toddler anymore! she is now in the phase of 'the terrible two' ... oh how i wish the phase won't be terrible at all. but yes, she threw tantrums a lot these days and i must tell you that

IT.WAS. TERRIBLE.

she hit, she screams, she rolled on the floor and i was not used to deal with this kind of child. she was so strong this could last for two hours. the weaning project was a total failure because when i managed myself to wean her for two days (yes i almost happy to the max), she threw the biggest tantrums on the third day and left me drained. i was super tired i got slept (while she was still crying and nagging) and found out she was breastfeeding without my notice as i woke up.

i felt stupid and hillarious *lol*
and so, she got back to breastfeeding up 'till now *la ... lala ... la .. laaaaa*

as she turns two, i also noticed a little change that luna enjoys playing with her dad more than she plays with me. maybe because she got the indisputable boredom phase looking at my face and the this and that rules hahaha. hence, this gave me a slight slot of time to read a book or play more often with titan or simply enjoy myself when i take shower.

more about luna will be on the separate post, i promise you.

so here i am now, on the last day of ramadhan and having period, wishing you a wonderful long holiday and a forgiveness for any mistake and misleaded thoughts on this blog. have a joyful moments with your family. me myself, will try to refill my heart little by little with all the happy thoughts.

assalamu'alaikum :)

Spot On!

Hari kamis lalu, ada acara business day di sekolah titan. Biasa, event tahunan di akhir tahun ajaran. Kalau anak-anak sekolah lain lagi sibuk Ujian Kenaikan Kelas, di sekolah ini anak-anak sibuk membuka usaha sendiri mulai dari bikin surat izin buka usaha, presentasi permohonan dana, bikin materi promosi, bikin produk sampai jualan karya mereka dan membuat laporan pertanggung-jawaban pasca business day. Nah, semua rangkaian proses itulah yang jadi bahan penilaian guru. Tentu aja di dalamnya ada unsur materi pelajaran mereka.

Bundanya ini udah tahun ke tiga ikutan sibuk (sedikit, sih). Tapi tahun ini agak santai. Nyiapin barang juga enggak terlalu banyak, biar laku semua dan anak happy. Tahun ini hanya menyiapkan 10 buah handmade bookmark dan 10 gelas oreo float yang keduanya dibantuin titan dalam proses pembuatannya. Masih tetap ibunya yang hands - on sih, next year harus dia sendiri yang siapin ah!

Waktu di sekolah, saya enggak jalan-jalan ke kelas lain seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini mau fokus kegiatan di kelasnya aja. Belajar dari tahun lalu, perut jadi kemrekaan jalan-jalan ke kelas lain bela-beli berbagai makanan.

Saya ajak Luna. Kita duduk di pojokan sambil makan pudding. Saya perhatiin Titan yang lagi sibuk jaga di gerai stationary. Eh eh eh, kok dia mulai salah tingkah memunggungi barang dagangan ya? Bathin saya. O'ow, ternyata ada Neng Naira pujaan hati yang mendekat trus lagi asyik lihat-lihat barang. Saya senyum-senyum, penasaran pengen liat mukanya Titan. Kaya gimana, ya? Salting gak ya? Pikir saya.

Eh ternyata bener aja. Mukanya berubah jutek. Naira seperti nanya harga, yang dijawab dengan suruh liat sendiri harganya di daftar harga. Trus saat Naira memutuskan untuk membeli, Titan segera mencatat kodenya (membelakangi lagi cepat-cepat) dan memberikan kertas nota pembelian sambil tertunduk dan enggak senyum sama sekali.

Tiba-tiba dia nengok ke saya, dan saya tersenyum memberi semangat. Dia tiba-tiba tersenyum manis sekali, tapi kembali kecut ketika Naira menyodorkan uangnya.

Ya ampuuuun, lucu sekali! Saya enggak habisnya senyum-senyum melihat kelakuan anakku yang baru aja menginjak usia 8 tahun 20 hari yang lalu. And I was sooooo grateful to witness the moment.

Bunda seneng banget!

Tree House Project weekend #1


Kita sekeluarga hampir memiliki mimpi-mimpi yang sama. Misalnya aja,  teropong bintang. Ariawan masih ingat saya sudah menyebut-sebut soal pengen punya teropong bintang sejak SMA. Dan Titan, karena sejak awal memang diperkenalkan dengan semesta angkasa, dia juga pengen punya teropong bintang saat dia mengerti apa arti namanya. Buat saya sendiri, kadang mimpi ya cuma mimpi. Jarang dijadikan tujuan. Tapi setelah ada motivasi lebih seperti misalnya Titan mulai meminta dibelikan teropong, saya jadi lebih semangat untuk mewujudkan mimpi saya itu yang juga menjadi mimpi orang-orang yang saya sayang.

 Nah, begitu juga dengan rumah pohon. Saya pertama kali jatuh cinta dengan rumah pohon waktu jaman SD nonton Hansel and Gretel. Mungkin, berbeda dengan teman-teman saya yang lagi suka Barbie and everything glitter, saya langsung jatuh cinta sama compang-campingnya mereka dan indahnya gubug permen di tengah hutan. Not literally a tree house for sure. But I like the nuance. The ambience. Sayangnya, punya rumah di Jakarta enggak memungkinkan untuk bikin rumah pohon. Baru setelah ayah dipindahtugaskan ke Palembang dan rumah kami kebetulan memiliki dua pohon besar dan kolam ikan di bawahnya, kami punya platform di atas pohon. Sebenarnya platform itu juga bukan buat rumah pohon. Tapi saya suka duduk di sana, sharing sama monyet peliharaan kami ha ha ha!

Nah, kejadian berulang kembali di akhir tahun 2011 ketika Ariawan membuatkan rumah pohon di atas pohon mangga di belakang rumah. Tapi bentuknya masih enggak mumpuni walaupun lumayan banget bisa nampung kita bertiga nonton kembang api di akhir tahun itu. Sampai tiba-tiba pohon terserang semut rang-rang dan bikin kita bubar dan enggak pernah nginjak rumah pohon itu lagi sampai sekarang, di 2015.

Untungnya, fondasi utama penyanggah rumah pohon terbuat dari kayu besi yang enggak lekang dimakan panas dan hujan. Jadi, ketika Titan minta kado ulang tahun yang ke-8 berupa rumah pohon, Ariawan tinggal menambah fondasi dan memperpanjang ukuran rumah tersebut mengingat sudah ada La Luna dan besar kemungkinan untuk berebut space di atas sana.

So, tanpa rencana (seperti biasa mengandalkan mood yang sedang berkobar), pergilah ariawan ke tukang kayu dan memesan beberapa kayu kaso dan reng. Iya, mulai dari yang murah dulu deh ya. Nanti kalau prototype ini sudah jadi dan ada rejeki, kita ganti pakai kayu jati. Janji deh, Titan :)

Lalu mulai deh potong-potong dan serut-serut. Untuk projek ini Ariawan sengaja beli serutan kayu, maksudnya supaya setelah projek ini jadi kali-kali dia bisa lanjut bikinin saya stool di meja makan mungil kami hihihi ... amiiiiiiiin :)

Sayangnya, agak kurang perhitungan untuk kayu reng dan toko bangunan pun tutup di hari minggu. So, karena memang ngerjainnya bisanya hanya di hari sabtu dan minggu, lanjut lagi deh minggu depan. Untuk minggu ini, udah bagus banget karena sudah jadi platform utama dan kita udah bisa manjat-manjat. La Luna? Wah, bukan main dia senangnya. Enggak ada takut-takutnya berada di ketinggian tiga meter.

Masih banyak yang harus dilakukan. Pagar, bagaimana cara memanjat (kan nggak seru ya kalau pakai tangga) plus saya juga minta dibuatkan hammock yang membentang dari pohon ke tembok samping. Plus, ayunan tarzan. Dasar bunda banyak mau! Hahaha ...

Well, kita lihat aja ya gimana next step-nya. Sampai ketemu minggu depan!


Aki menyumbangkan kayu besi lagi dan ikut sibuk kordinasi
Hello, Me! Tetep ya bawa sapu buat bersih-bersih
Bocah lanang lagi menatap ke kejauhan
Uwak Ary si jago ngebor, Trust me, ngebor kayu besi itu enggak gampang!

Cah wedhok pengennya duduk-duduk di pinggir, bundanya sereeeeeem 

The weekend project: planting the good deeds


Sudah lama banget pengen bikin tirai dedaunan yang menjulur dari teras atas menuju ke teras bawah. Sudah lama pilihan jatuh kepada pohon Lee Kuan Yew ini, tapi entah kenapa baru sekarang dapatnya. Katanya sih, yang mempopulerkan pohon ini di Singapura memang Lee Kuan Yew dalam rangka memasyarakatkan taman vertikal di sana.

Akhirnya, setelah agak lama (lebih kepada enggak terlalu niat sih nyarinya), nemu juga deh ni pohon. Tujuh puluh lima ribu rupiah dapat 20 pot kecil yang langsung Ariawan pindahkan ke pot panjang. Lha, kok ariawan maning? Ha ha ha, well, karena dia itu terkenal bertangan dingin. Nanem bibit tinggal dilempar aja tumbuh :)

Oh iya, saat di tempat jual pot kita juga nemu bibit-bibit lucu daun bawang, kemangi, seledri, kangkung dan cabe putih. Itu semua sih jadi projeknya Luna (sementara kakak titan enggak ikutan karena asyik main minecraft) ... sigh *rolling eyes*

Another Whys

Titan:
Bunda, kenapa burungku ada kulitnya?

Bunda:
Bulu kali, maksudnya?

Titan:
Bukan kenny si burung kenari, burungku Nda. Itu tuuuh, nama lain dari ituuu.

Bunda:
Oh, ... hmmm kenapa memangnya? semua bagian tubuh kan ada kulitnya.

Titan:
Iya, tapi kenapa harus dibuatnya berlebih gitu sampe ujung-ujungnya? Kan nantinya harus disunat juga. Kenapa enggak usah dibuat aja sama Tuhan?

Bunda:
Oh, itu dibuat supaya bisa melindungi bagian dalamnya. Coba, kalau yang bagian dalam dipegang aja geli-geli sakit kan? Makanya dilindungi sampai ujungnya. Coba kalau enggak, nanti kejepit retsleting celana kaya apa sakitnya?

Titan:
Tapi kan nantinya harus disunat juga. Kebuka juga, dong.

Bunda:
Kalau itu, karena pada akhirnya orang suka malas ngebersihinnya. Banyak kotorannya, jadi disunat aja untuk alasan kesehatan.

Titan:
Kalau rajin dibersihin kaya Titan? Masih harus tetap sunat juga?

Bunda:
Iya dong, kamu nantinya kan tambah besar. Bunda enggak bisa terus menerus kontrol kebersihan burungmu itu, kan?

Titan:
Iya, sih.
Ooooh, ... tapi aku belum mau disunaaaaat!


One of our chit-chat before bed

Weekend Getaway


Well, I need to warn you that his post will be cheesy. 
You can stop now, or enjoy my cheesiness. And laugh on it. 


I forgot the last time I visited Bandung.
Maybe, four years ago; if I am not mistaken.
I came with a rumble heart.
I did not do much, and nothing could make me feel missing that town for the next couple of years.
Until last weekend.
When we had to, because of a wedding.

For me, it was more like becoming a chaperone for my parents who insisted to go to Bandung.
Sounds boring, I know.
But it turned out fun, for we treated it like having a holiday.

First thing first for a holiday is, that we all need to have fun. All happy & tired at the same level. Therefore, we decided not to take a car and let the tiredness goes to the driver (only).

Second first thing first is that we all need to explore, trying out new things we never had before. So we delisted the option of renting a car from Jakarta and decided to go by train. Afterall, four out of six people in the house never had the train experience to Bandung before.
Thanks to tiket.com, we finally managed to book the ticket for the long weekend. There was a bit mistake in booking the seats, that we (me, bubu, titan and la luna) went to different compartment with aki and nini. But hey, it turned out to be a bless. When La Luna and Titan got bored, they could walk around to visit aki and nini. Big yeay for Bunda. It is going to be my trick on travelling with toddlers.

Third first thing first for a holiday is that we all want comforts. Since we are six, we need to hire two cabs anyway. So, why don't we all seat together comfortably in an Alphard silver bird and watch the Mayday strike from the big window? The cost is slightly the same with the double blue bird. I feel like a winner for being luxurious and mreki at the same time.
In Bandung, there was a driver who had already waiting for us. He was a very good one. He took small streets and alley ways to avoid the hellish Bandung on weekend so we managed to keep track on our plans. Two thumbs up! You can have his number, just ask me.

Last but not least, that it is very important to make everybody happy. Elders got to the wedding, youngsters got to new places. Since our time was very limited, we could only go to Floating market. But kids got the climax for the holiday: the becak ride!

We were so happy! Tired, but yes ... happy.
The train ride was so exciting and there was a tour guide who told us about the ancient sites like Sasaksaat tunnel (the third longest train tunnel in the world) and Cisomang Bridge (the highest train bridge in Indonesia). The foods were so so, and the cleanliness was a bit poor. But it was okay for a tree hours ride. Still it hurt when the train reached Bekasi and we could start smelling the carbon monoxide.

It had been 17 months since our last holiday, a road trip to Yogya - Solo.
Now I am craving for more.








































O, finally! That one particular word!



I don't believe in Kartini. 
But yes, April 21st 2015 was one of the wonderful days I had. 


la luna udah mau dua tahun.
anak itu lagi lucu-lucunya. ampun!
Meniru, disuruh joget atau apa aja mau. setelah beberapa kata seperti:

yoyo (meyong), poop, pis (pipis), papah (jerapah), moi (doraemon), kitty (hello kitty), koko (ayam jago yang berkokok), baba (laba-laba / lumba-lumba), egg, fish, sho sho (dinosaurus), so (bakso), huhu (tahu), pipi, mam, numnum (minum), maaaa (mau), mamah (nini), tu (satu / sepatu), duwa (dua), ka! (buka), ba! (baju), bubu, kaka, mah (rumah), ciap-ciap (burung kenari binatang peliharaannya), gogoh (jatuh), kit (sakit), kut (takut), iyyaaaa, bobbo, bebbe (bebek), buwwah (buah), pig, bipbip (mobil), 


... dan akhirnya kata yang aku tunggu-tunggu keluar juga.

"Daaaaaa!"

Yes! Itu kata yang luna ucap kalau manggil bunda :)
tepatnya, tanggal 21 April 2015 kata itu tercipta hahaha.

Gara-garanya, dia lagi berbuat sesuatu yang bandel banget (dan aku lupa apa itu. entah ngelelepin kucing ke mangkok tempat minum, entah panjat-panjat meja, entah menabur-tabur beras, entah menduduki si anak kucing dan masih banyak lagi.) ... lalu aku bilang gini

"Masya allah lunaaaaaa nakal amat siiih, anak siapa iniiiii?"
"Daaaaaaa!" jawabnya spontan.

Oalah, antara kaget dan mau ketawa dengernya.
Jadi lupa deh mau marah.






i miss writing.
i mean ... a really good piece of writing.

they said art comes from pain.

well,
maybe i am happy that much
that i cannot write anymore.

ngurang-ngurangin kekurangan

titan:
bunda, semua orang punya kekurangan ya?

me:
iya.

titan:
kalo bunda kekurangannya apa?

me:
banyak. bunda ngga sabaran, banyak aturan, suka marah-marah, galak, gendut, ... apalagi ya. masih banyak sih.

titan:
kalau titan apa ya ... hmmm, titan itu belajarnya masih kurang, trus masih suka nggak dengerin bunda, apalagi ya nda?

me:
wah, bagus itu. berarti kamu sadar kekurangan kamu. itu penting, lho. enggak banyak orang, bahkan orang gede, yang tahu kekurangan mereka. kalau udah tau kurangnya apa, kan enak gimana nambahinnya supaya enggak kurang lagi.

titan:
iya juga ya, nda. kaya makan bakso gitu. kalau berasa kurang garem, tinggal tambah garem. gitu kan nda, ya?

me:
ah, pinter sekali anak bunda ini!


when to shut out, when to shut up

setting: 
nini lagi sibuk mencuci, titan sibuk nggerecokin. trolly cucian dipakai main kereta-keretaan, padahal trollynya trolly dari plastik macam trolly di ace hardware. 

nini: 
titan, keranjangnya jangan dinaikin nanti rodanya masuk. 

titan: 
rodanya masuk gimana, ni? *sambil terus mainan trolly*

nini: 
mblesek!

titan: 
luna kok boleh? 

nini: 
beratan kamu apa luna? 

titan: 
luna juga berat ni, titan aja nggak kuat gendongnya

nini: 
ah, kamu nih ngejawab aja deh

titan: 
lho, kan tadi nini nanya kan? 


diem-diem saya ketawa aja di pojokan, sambil asyik nerusin cuci piring. anakku yang satu ini emang ampun deh kalau menjawab kata-kata nini dan akinya. pretty logical. apalagi terlatih sama bubunya yang obrolannya suka mengacaukan logika.

kejadian kaya gini sering banget kejadian di rumah, terutama antara titan dengan aki dan nininya. maklum, generation gap dan beda pola pengasuhan. nini dididik dengan cara feodal, yang mana orang tua itu udah kaya dewa. sedangkan aki, dididik dalam nuansa militer yang harus tunduk dengan perintah. ya jauh banget sama keadaan titan sekarang yang orang tuanya demokratis. paling enggak, mencoba untuk demokratis.

dengan situasi seperti ini, biasanya saya diam dan jadi pengamat aja. kalau sudah selesai dan peperangan berakhir damai, ya sudah. tapi kalau tidak berakhir damai; saya akan suruh titan minta maaf sama aki atau nininya. buat saya, yang penting adalah membiarkan anak mempertahankan argumen dengan logikanya.

kadang suka keceplosan juga sih kalo ini lagi kejadian sama saya. "because i told you so" atau "because i am your mom" keluar juga kalau mood lagi jelek plus tangan dan isi kepala yang lagi ribet. yang lebih parah kata-kata "udah jangan banyak omong!" yang biasanya dicounter dengan "dulu aja, titan disuruh belajar ngomong. sekarang ngomong banyak-banyak enggak boleh."

hadeuh.

umur-umur segini emang lagi ampun-ampunan membantahnya. kadang pegel juga. satu-satunya yang bisa memenangkan perdebatan dengan dia hanyalah bubunya. itu karena bubunya lebih suka mengacaukan logikanya, supaya logikanya terus berkembang. kalau dengan saya, sepertinya dia lebih menahan perdebatan karena saya adalah ibunya. daripada ribet nanti idup gue jadi susah, mending nurut aja - that a kind of attitude hahaha.

jadi, sekarang saya sangat menghindari tiga kalimat di atas dan lebih fokus pada ngajarin titan gimana untuk tau kapan timing yang tepat untuk berdebat dan kapan harus memilih diam.

timing yang tepat untuk memilih diam adalah saat keadaan lagi panik atau genting dan membutuhkan keputusan cepat seperti saat dua ban mobil yang lagi kita kendarai tetiba kempes dan kita harus sibuk berdebat keras tentang apa bedanya roda dan ban; daripada diskusi mencari tukang tambal ban di tengah malam.

ke dua, juga waktu-waktu yang singkat seperti saat jeda waktu antara bangun tidur dan pergi ke sekolah.

yang ke tiga, nah ini butuh skill khusus. yaitu saat mood lawan bicara sedang tidak bagus. well, untuk yang satu ini titan masih agak kurang peka nih. masih harus diasah skillnya, hehehe.

let's see how long this will end.
not that soon, i guess.


36

many things happened before april and they got me thinking and rethinking about love, motherhood, about being a better child and how to raise better children. about how i would survive my retire years. about how to survive marriage. about understanding a man deeply. about friendship. about illness that can attack us at anytime.

now i am a step closer to forty than to thirty, ... how does it feel?

well, ... i feel old obviously. i might have spent half of my life living.
i feel worry too, because i might have done less good deeds compare to the bad ones.
i feel lucky to have my parents congratulated and hugged me at early morning.
i feel blessed to have a loving hubby, lovable children and managed myself to finally enjoy (after one and a half year) my role as a stay at home mother.

i was raised like a champion breed and treated like a princess for being the only daughter to my parents. i had my worst time being depressed at school, i had my years as champion in college and working life. i had my broken marriage. i rebuild a family with a guy deserted me once. a best friend left me without saying goodbye. i failed a 26 hours contraction. i am a mother of two. i quit my job. i don't think i need anything more.

whatever happens, my plate will cater the same portion and will always do. it is just my skill that needs to be sharpen to make them balance ... and eatable.

chew life. be grateful. happy birthday, me.

- thank you la luna, for being a constant reminder that i am raising a better me - 

- thank you titan, for being my possible hero - 








About Us

to titan and la luna.

i want to tell you a little story about the love bubu and I have. neither the sweetest nor the coolest love tale you will ever known, but i hope it can give you two a little up when you are feeling down.

if ever someone asked me, your mom, how much i love your bubu; i would say ... i do. though i found it hard to express my love for him, but i do. though i found it hard to remember when i have thought of him, but i still do. and i know he loves me too.

our love does not come in a form of fancy dinner or having a wefie in instagram. our love does not go through a journey in the background of a beautiful landscape. our love does not told in a long scripted messages through whatsapp or a bombastic 'nocturnal' activity. neither a fancy birthday gifts, surprise parties, big feasts, "have a nice day or lunch or dinner or meeting" texts.

our love just come in a more humble and reachable way. like late-at-night-wake-ups to bring a glass of water when I or him caught a cough. comes in an always-alert sleeping and woken up just to feel one of us is moving though it was just a little bit. comes in an acceptance of the surround snores. comes in a lunch box he brings to work everyday and eats whatever inside. comes in a working so hard he hardly cut his nails and I did it for him when he was asleep.

boring as it may sound, but if you two ever experience this feelings; you two will know how comforting it is. though sometimes i think bubu does not need a wife. he cooks, he plants, he repairs, he builds, he works, he can take care of himself, and these make me learn a lot from him.

when you know you are loved by someone who can enjoy life by himself, you know you can live with him and love life together. 



Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...