While waiting Bubu for dinner and me nursing your little sister, we had this beautiful conversation in my bed room.
Malicca, let's play love and hate.
What's that?
Mention the five things you love and five things you hate.
Okay, and here are the five things you love (at this moment):
1. You love to draw
(well, obviously)
2. You love my phone and Bubu's tab
(you love to browse Titanic, whirlpool and plays Minecraft lately)
3. You love my bed side lamp and a pencil sharpener
(it was Ikea lamp, and you love sharpener because you can not have a blunt pencil. You just can't. I remember when your teacher told me that you often have your work unfinished just because you keep sharpening your pencil during the lesson like an OCD kid hahaha)
4. You love me
(yes, I know it and I love you too so very much)
5. I love adek La luna
(promise me you will be a good big brother and protect her, okay? :) )
Next was the five things you hate.
It was even more interesting, because we had a big laugh discussing them. There are:
1. You hate nail
(oh, I just knew it. When I asked you why, you told me because it is sharp and you're afraid it might fall on your head. Oh boy.)
2. You hate when Bubu gets very angry
(oh well, obviously. I also hate when my dad gets angry to me, until this very moment when I am 34 haha. Then I asked you 'what would you do then when he gets angry?' ... 'I just keep silent and avoid him anywhere I go. I will go to Nini's house, lock the door and I won't come out hahaha)
3. You hate when the lights off
(when I asked you why, you said because you are afraid of 'Mama' - the movie. You are afraid she might look for her papa and thinks you are her papa because you always wanted to be a papa.
Do you want to know a secret? Many times, when you take a very long shower even for hours, I intentionally put the electricity down. That way you will finish your shower and get dressed. I'm done, I'm done, you said).
4. You hate when something hits your head, for example those guava at Nini's house. The tree was so fruitful they fell apart on your head in the morning.
5. You hate when you accidentally step on something sticky, ... especially if it's a poo poo!
(it just happened this afternoon, you stepped on the bird's poo at Nini's terrace. I laughed out loud to see your expression and you finally laughed too!)
Hey, I love having this conversation with you. Let's do this everyday, son. So you know how to count every blessings and be grateful of them.
And as you know, to mention things you hate was much easier right? It is because to see what you hate is easier than to see good deeds. But if you think only the bad things, that is the only thing that would stick in your head. Might as well, think of the goodness and that is the thing you will remember.
I love you!
Hijrah
Sebenarnya saya masih agak kurang sreg dengan judul di atas. Tapi ya sudahlah, belum nemu kata atau kalimat yang pas, sementara pakai yang ini dulu :)
Jadi, salah satu wishlist terbesar saya dan Ariawan adalah pindah dari Jakarta. Kenapa? Untuk kualitas hidup yang lebih baik dan energy yang lebih positif. Lucunya, kami berdua cukup akrab dengan hidup berpindah-pindah sewaktu kecil. Walaupun enggak terlalu hippie sih.
Saya lahir dan tumbuh di Jakarta. Umur 11, saya dan mamah ikut bapak pindah tugas ke Palembang. Umur 13, kami pindah lagi ke pangkal pinang (pulau Bangka). Sayang bapak cuma ditugaskan di sana selama 2 tahun di sana lalu kita semua kembali ke Jakarta. Sampai sekarang.
Saya masih ingat malam itu. Dengan sangat hati-hati bapak memberitahu saya yang baru kelas 5 tentang berita kepindahan kami ke Palembang. Dan saya masih ingat raut wajahnya yang berubah lega saat saya berteriak senang karena berkesempatan pindah dari Jakarta.
“Mau, Uwie pindah?” Tanya bapak.
“Mauuuuu!” Kata saya tanpa berpikir lagi.
Saat itu saya membayangkan tinggal di rumah panggung yang terbuat dari kayu, persis seperti yang digambarkan di buku IPS saya mengenai rumah-rumah adat Sumatra. Tapi apaan, ternyata rumah yang kami tempati rumah permanen ‘biasa’. Di kompleks perumahan yang cukup moderen pula. Tapi yang namanya pindah ke kota lain selalu memberi pengalaman seru (walaupun kotanya enggak seseru yang saya bayangkan sih). Terus terang saya agak kurang ‘betah’ tinggal di Palembang. Jadi saat saya diberitahu yang ke dua kalinya tentang kepindahan kami ke Pangkal Pinang, tau dong reaksi saya: menyambut dengan suka cita!
Saya pindah ke Pangkal Pinang di semester ke dua kelas 1 SMP. Waktu itu, penerbangan Palembang – Pangkal Pinang hanya diakomodir oleh pesawat Garuda tipe F28 yang sekarang sudah tidak beroperasi lagi. Itu pun harus transit dulu di Palembang.
Pertama kali saya menginjakkan di rumah dinas bapak, saya senang sekali. Di jalan Merdeka, letaknya. Rumahnya besar, di kompleks peninggalan belanda. Temboknya tebal, jendelanya lebar, langit-langitnya tinggi, lantainya dari keramik mozaik dan setiap ruangannya luas sekali. Saya bisa lari-lari di dalamnya. Halamannya juga besar, bapak bisa langsung bikin lapangan basket di belakang. Yang main tentu bukan saya, tiap Jumat malam halaman belakang selalu ramai dengan bapak-bapak termasuk bapak saya untuk bermain basket. Golf juga bukan sebuah olah raga mahal. Karena ada PT. Timah, lapangan golf bebas terbuka untuk siapa saja tanpa harus menjadi anggota dengan uang pangkal puluhan juta rupiah. Di sanalah saya belajar golf dan mendalami hobi saya bersepeda. Sebuah lingkungan yang sehat, dalam arti yang sebenarnya. Saya senang sekali, dan akhirnya menganggap Pangkal Pinang seperti kampung halaman saya sendiri.
Pertama kali saya menginjakkan di rumah dinas bapak, saya senang sekali. Di jalan Merdeka, letaknya. Rumahnya besar, di kompleks peninggalan belanda. Temboknya tebal, jendelanya lebar, langit-langitnya tinggi, lantainya dari keramik mozaik dan setiap ruangannya luas sekali. Saya bisa lari-lari di dalamnya. Halamannya juga besar, bapak bisa langsung bikin lapangan basket di belakang. Yang main tentu bukan saya, tiap Jumat malam halaman belakang selalu ramai dengan bapak-bapak termasuk bapak saya untuk bermain basket. Golf juga bukan sebuah olah raga mahal. Karena ada PT. Timah, lapangan golf bebas terbuka untuk siapa saja tanpa harus menjadi anggota dengan uang pangkal puluhan juta rupiah. Di sanalah saya belajar golf dan mendalami hobi saya bersepeda. Sebuah lingkungan yang sehat, dalam arti yang sebenarnya. Saya senang sekali, dan akhirnya menganggap Pangkal Pinang seperti kampung halaman saya sendiri.
Di Pangkal Pinang, saya sekolah di sekolah negeri. Berbeda dengan di Palembang dimana saya masuk ke sekolah swasta katolik. Saya langsung jatuh cinta dengan keramahtamahan di sana. Dan disana pula pertama kalinya saya ‘berkenalan’ dengan etnis cina. Dan sungguh, kali ini berbeda sekali dengan persepsi saya tentang mayoritas dan minoritas. Kami semua menyatu dan bermain bersama. Saking indahnya pengalaman itu, saya masih ingat beberapa nama teman-teman etnis saya: Mei Hwa, Men Kwet, Sian Kwet dan Ai Hwa. Saya masih ingat sekolah naik sepeda dan pramuka bersama mereka. Baidewei apa kabar yah Pramuka? Agak kecewa sekolah sekarang sudah jarang yang ada pramukanya lagi.
Ditambah lagi lokasi pantai yang cuma 5 menit dari rumah (naik mobil ya, kalau naik sepeda nggak kuat soalnya rutenya bikin gempor), pantai Pasir Padi namanya. Pantainya luas dan landai sekali. Saya selalu membawa anjing saya ( si Chocho) lari-lari dan berenang di sana tanpa takut tenggelam. Kejar-kejaran, persis kaya di film-film! Belum lagi aktivitas naek sepeda tiap sore naik turun bukit di lingkungan rumah. Sempet nyusruk dan berdarah-darah saking ngebutnya dan bikin nggak ikut senam pagi di sekolah keesokan harinya.
Entah kenapa, walaupun saya sendirian di rumah sebesar itu (karena kakak-kakak saya lebih memilih tinggal di Jakarta), saya tidak pernah merasa kesepian. Untuk update musik, kakak saya sering kirim kaset (ciyeee 'kaset' loh!) dari Jakarta. Dia juga suka bikinin mix tape. Jaman itu lagi jamannya Too Legit To Quitnya MC Hammer (bwahahahaha). So yeah, ... bisa dibilang 2 tahun keberadaan saya di Pangkal Pinang adalah momen terindah dalam masa kecil saya.
Saat bapak menyampaikan bahwa beliau dipindahtugaskan kembali ke Jakarta, aselik deh rasanya sedih banget. Saya sampe minta untuk stay aja di Pangkal Pinang dengan alasan nanggung tinggal setahun lagi saya lulus SMP. Ya kali deh, ... tentu aja nggak boleh.
Tentang Jakarta, perasaan saya waktu umur 15 dan perasaan saya di usia 35 sekarang ini tetaplah sama: M. U. A. K. Saya sadar manusia diberi kemampuan untuk beradaptasi. Tapi kenapa rasa yang satu ini enggak hilang-hilang ya? Bersepeda, berlari, persahabatan, tidak lagi memiliki arti yang sama. Bersepeda berarti kesenggol bajaj atau motor ngehe. Lari berarti indo runners dan Nike Plus dan pencitraan di socmed. Persahabatan? Yang tanpa pamrih? Sahabat yang kata-katanya bisa di'pegang'? Wah, … itu barang langka (walaupun saya sangat bersyukur saya memiliki beberapa). Hal ini yang akhirnya membuat sepeda lipat kesayangan saya jadi nganggur dan karatan sebelum akhirnya hilang entah dicolong siapa. Dan ini pula yang bikin saya lebih suka jadi orang 'rumahan' demi menghindari macet dan energi negatif Jakarta.
Lain saya, lain pula Ariawan. Pengalaman dia terpental-pental lebih banyak dari saya. Sejak terlahir di pelosok kalimantan timur, lalu melancong ke Semarang, Pemalang, Jakarta, sempat bekerja di beberapa negara lalu kembali ke Jakarta 'hanya' untuk menikahi wanita yang nulis blog ini.
#duh!
#eh
#tepokjidat
#loveyou
Saya masih ingat betul dulu sepulangnya ia dari Adelaide, titik pelancongannya yang terakhir, muka dan perawakan Ariawan masih seger. Terima kasih sama udara yang lebih bersih, sepeda, berjalan kaki dan weekly projectnya menghias rumah yang memakan banyak energi. Sekarang, melihat Ariawan kadang bikin saya merasa gagal jadi istrinya (lebay). Belum lagi mendengar ceritanya tentang lingkungan kerja yang bikin dia down (ini masalah etos kerja, masalah bangsa dan nggak bisa lepas dari sejarah). Ditambah lagi, waktu 24 jam di Jakarta itu sepertinya tidak pernah cukup untuk mengakomodir semua hasrat berkegiatan. Sampai rumah, biasanya tinggal energi sisa. Itu juga beruntung kalau masih sisa. Biasanya kita semua udah cape. Lagi-lagi, yang kasian anak-anak.
Muaknya kami dengan kemacetan Jakarta membuat kami lebih sering menjadikan rumah sebagai sanctuary di saat weekend. Mengerjakan proyek-proyek kecil seperti menanam pohon, melukis, menjahit, bikin kue, bebersih rumah, benerin mobil, membuat rumah pohon, dan sebagainya. Nah tuh, banyak bener deh. Lagi-lagi kita kurang waktu.
Tapi kan enggak bisa begitu terus ya. Anak-anak juga butuh melihat ke luar. Tapi sekali lagi terbentur dengan kondisi yang beda sekali dengan dulu saat saya kecil. Bisa bebas main sepeda dengan radius jauh dari rumah tanpa harus takut diculik atau ketabrak mobil dan motor. Bisa janjian ngumpul di rumah teman atau saudara tanpa harus berangkat dua jam sebelumnya. Karena macetnya itu pula, tinggal di Jakarta sering memaksa kami untuk memilih karena terbatasnya waktu.
Semua itu membuat saya ingin hijrah dari kota ini. Apalagi, kini saya sudah menjadi ibu dan mendambakan kualitas hidup yang lebih baik untuk anak-anak. Saya ingin mereka merasakan apa yang saya rasakan waktu kecil. Tentu, dengan dimensi yang lebih baik. Ndelalah Ariawan juga merasakan dan memiliki keinginan yang sama. Hanya saja alasan dia lebih menggunakan otak kiri ketimbang saya yang lebih banyak pake hati.
“If you have a dream, say it out loud!” Kata The Secret. Iya yah, kayanya saya belum pernah ngember soal wishlist saya yang satu ini. So hear, hear! Aku ingin tinggal di luar negeri! Say I’m pathetic, say I’m ignorant, say I’m a traitor, but I don’t care, I’m only human and yes I want it so much!
Saat ini memang masih sebatas angan, belum bergerak apa-apa (baca: ngandelin suami. Istrinya cuma bisa meracau di blog aja hihihi). Walaupun terus terang, industri periklanan tempat saya bekerja seharusnya sangat memungkinkan untuk jadi TKW. Tapi gimana dong, saya juga lagi nggak cinta sama bidang pekerjaan saya ini. Jadi, yah … semoga meracau ini bisa merefleksi dan menggema hingga ke Arsyi.
Well, kalaupun tidak bisa hijrah ke luar negeri; saya ingin tinggal di Bali. Dan anak-anak sekolah di sini. Amin!
Today's PDR
Di sekolah Titan, setiap hari ada jadwal PDR (Plan-Do-Review) selama 60 menit. Dalam PDR ini, mereka belajar membuat perencanaan kegiatan mereka dan melakukan review setelah selesai.
Mereka bisa bebas melakukan apa aja. Dari sini pula ditengarai minat mereka. Ada yang mengisi PDRnya dengan tidur siang, main di halaman, ke perpustakaan atau para siswa yang belum menyelesaikan tugas-tugas atau tesnya pun dilanjutkan pada saat ini.
Hari ini, Titan kembali ngebawain aku gambar setelah beberapa minggu moodnya berhasta karya.
Senang deh ngeliatnya :)
Terima kasih, sayang.
tentang waktu, menurut aku dan kamu
suatu hari saya menonton kembali video malicca saat ia berusia 2 tahun lagi asyik main thomas the tank engine yang berputar-putar di atas rel. saya tertawa-tawa sendiri. kemudian tiba-tiba terharu. berharap waktu tidak menderu terlalu cepat.
tak lama, titan pun nimbrung. saya pun bertanya
"Titan mau nggak balik lagi segede gini? Lucu, belum sekolah masih bisa main-main sepanjang hari."
Tapi si anak malah menggeleng. Dia tidak ingin menjadi kecil saat ibunya berharap dia tidak terlalu cepat besar.
tak lama, titan pun nimbrung. saya pun bertanya
"Titan mau nggak balik lagi segede gini? Lucu, belum sekolah masih bisa main-main sepanjang hari."
Tapi si anak malah menggeleng. Dia tidak ingin menjadi kecil saat ibunya berharap dia tidak terlalu cepat besar.
...
kalau lagi sendirian, scrolling foto-foto di ponsel, isinya kebanyakan ya foto anak-anak. dan setiap kali melihat foto mereka, entah kenapa yang tersisa adalah air mata. dan rasa sakit yang dalam. yang mempertanyakan kenapa waktu berjalan begitu cepat. yang menyisakan segudang 'jika'. lalu aku pun berkilas balik. dari saat pertama memeluk anak-anak, mendengar tangis mereka, menyentuh jemari mereka, ingat pipilan kulit yang mengerut, ingat omelan-omelan yang sering menghujani mereka karena kelalaian kecil.
kemudian timbul kekhawatiran. tentang bagaimana hidup mereka bertahun ke depan saat saya sudah tidak ada. macam saya bisa selalu menjadi pahlawan untuk mereka. macam saya tuhan yang selalu bisa menjaga mereka.
lalu timbul rasa takut. takut hilang waktu dan tak sadar tetiba anak menjadi besar. takut hilang 'kuasa' untuk bisa memberi pilihan terbaik. yang terakhir, itu yang membuat saya terus menjadi ibu bekerja hingga hari ini. materi yang terkadang menjadi jalan pintas untuk 'membayar'. sayang, tidak bisa membeli waktu.
berharap waktu berhenti. supaya anak tidak terlalu cepat besar. supaya orang tua tidak segera menua. tapi yang terjadi malah rentetan tanya. whether i have been a good mother and a good daughter. whether i have been trying my best. whether i have been giving my time for them. yang terakhir, adalah yang paling menohok, yang paling dalam menyakiti dan mengiris hati.
rasa-rasa ini yang seringkali saya temui kalau menatap wajah anak-anak yang sedang tertidur pulas. atau saat saya melihat kembali wajah-wajah mereka melalui layar ponsel. dan kali ini, rasa-rasa itu semakin meningkat seiring dengan habisnya cuti melahirkan saya dalam hitungan minggu. minggu-minggu yang saya tidak tahu, harus mengumpulkan keberanian untuk berhenti bekerja atau mengumpulkan kekuatan untuk mulai bekerja (lagi).
sigh.
kemudian timbul kekhawatiran. tentang bagaimana hidup mereka bertahun ke depan saat saya sudah tidak ada. macam saya bisa selalu menjadi pahlawan untuk mereka. macam saya tuhan yang selalu bisa menjaga mereka.
lalu timbul rasa takut. takut hilang waktu dan tak sadar tetiba anak menjadi besar. takut hilang 'kuasa' untuk bisa memberi pilihan terbaik. yang terakhir, itu yang membuat saya terus menjadi ibu bekerja hingga hari ini. materi yang terkadang menjadi jalan pintas untuk 'membayar'. sayang, tidak bisa membeli waktu.
berharap waktu berhenti. supaya anak tidak terlalu cepat besar. supaya orang tua tidak segera menua. tapi yang terjadi malah rentetan tanya. whether i have been a good mother and a good daughter. whether i have been trying my best. whether i have been giving my time for them. yang terakhir, adalah yang paling menohok, yang paling dalam menyakiti dan mengiris hati.
rasa-rasa ini yang seringkali saya temui kalau menatap wajah anak-anak yang sedang tertidur pulas. atau saat saya melihat kembali wajah-wajah mereka melalui layar ponsel. dan kali ini, rasa-rasa itu semakin meningkat seiring dengan habisnya cuti melahirkan saya dalam hitungan minggu. minggu-minggu yang saya tidak tahu, harus mengumpulkan keberanian untuk berhenti bekerja atau mengumpulkan kekuatan untuk mulai bekerja (lagi).
sigh.
Crispy juicy broccoli & sausage schotel
Hari Sabtu sore kemarin officially 'kesambet' lagi sama setan kompor. Karena gemes ngeliat brokoli yang belom sempat dimasak-masak, ngeliat roti tawar yang masih banyak tapi tanggal kadaluarsa semakin dekat, ditambah mood 'lagi pengen' yang tiba-tiba merongrong.
Akhirnya, dengan bermodalkan Bismillah dan semangat coba-coba jadilah penganan ini. Karena nggak pakai resep, aku coba ingat benar-benar takarannya supaya bisa dishare.
Basically, idenya diambil dari resep schotel tapi dimodifikasi cara bikin dan bahan dasar karbonya.
Di dalam cups aluminium, masing-masing tatalah beberapa kuntum brokoli (aku masukkan 3), irisan sosis (aku masukkan 4-5) dan dadu keju Kraft Quickmelt (aku masukkan 5) lalu taburkan dadu roti di atasnya. Dengan resep ini, kemarin aku dapatnya 10 cups aluminium ukuran kecil.
Setelah itu panaskan oven suhu sedang (kemarin aku level 6, kurang tahu juga yah berapa derajat hihihihi) setelah siap segera tuangkan kuah susu telur ke dalam masing-masing cup. Nah, tuangkan sampai cup penuh ya. Setelah itu dia akan menyusut karena terserap roti. Kalau sudah menyusut, biarkan saja jangan ditambahkan lagi. Jangan lupa taburkan keju mozarella parut.
Kemudian panggang di oven selama 15-25 menit (aku kemarin sekitar 22 menit). Tergantung selera juga, maunya basah atau agak kering. Kalau aku suka keju di atasnya agak kosong.
Inilah hasilnya ... tadaaaaa!
Rasanya enak, ternyata taburan roti di atasnya menjadi semacam croutons kering rasa keju.
Begitu di sendok dalamnya, teksturnya juicy karena keju yang meleleh dalam campuran susu dan telur. Ah, yummy! Cocok banget buat anak-anak (kita-kita mah jangan sering-sering ya... bahaya hahaha) sampai-sampai Malicca bilang "You are amazing Bunda!" dan habis 2 kotak sekali makan.
Cemilan ini enaknya dimakan panas-panas, jadi berasa banget crispy-juicynya. Dan sepertinya memang cocoknya ditaruh di cup kecil-kecil karena pas disendok ada cairannya yang juicy. Kebayang kan kalau ditaruh di loyang besar trus berantakan kemana-mana dan malah jadi kering tengahnya :)
Next time mau coba isi bayam atau apel kayu manis, ah! *Nunggu kesambet lagi*
Akhirnya, dengan bermodalkan Bismillah dan semangat coba-coba jadilah penganan ini. Karena nggak pakai resep, aku coba ingat benar-benar takarannya supaya bisa dishare.
Basically, idenya diambil dari resep schotel tapi dimodifikasi cara bikin dan bahan dasar karbonya.
Bahan-bahannya,
1,5 cups plain milk
3 butir telur ayam
4 lembar roti tawar, potong dadu
1 bonggol brokoli (potong per kuntum lalu siram air panas, sisihkan).
3 buah sosis, iris tipis
1/2 blok keju Kraft quickmelt, potong dadu.
1/2 butir bawang bombai iris kecil
1 sdm margarin / butter untuk menumis bawang bombai
Garam dan merica secukupnya
Keju mozarella secukupnya untuk taburan
Cups aluminium foil atau silicon atau loyang apapun untuk wadah
Caranya,
tumis bawang bombai sampai harum (jangan sampai berwarna coklat) dengan mentega atau butter lalu masukkan ke dalam adukan telur dan susu. Tambahkan garam dan merica secukupnya lalu sisihkan.Di dalam cups aluminium, masing-masing tatalah beberapa kuntum brokoli (aku masukkan 3), irisan sosis (aku masukkan 4-5) dan dadu keju Kraft Quickmelt (aku masukkan 5) lalu taburkan dadu roti di atasnya. Dengan resep ini, kemarin aku dapatnya 10 cups aluminium ukuran kecil.
Setelah itu panaskan oven suhu sedang (kemarin aku level 6, kurang tahu juga yah berapa derajat hihihihi) setelah siap segera tuangkan kuah susu telur ke dalam masing-masing cup. Nah, tuangkan sampai cup penuh ya. Setelah itu dia akan menyusut karena terserap roti. Kalau sudah menyusut, biarkan saja jangan ditambahkan lagi. Jangan lupa taburkan keju mozarella parut.
Kemudian panggang di oven selama 15-25 menit (aku kemarin sekitar 22 menit). Tergantung selera juga, maunya basah atau agak kering. Kalau aku suka keju di atasnya agak kosong.
Inilah hasilnya ... tadaaaaa!
Rasanya enak, ternyata taburan roti di atasnya menjadi semacam croutons kering rasa keju.
Begitu di sendok dalamnya, teksturnya juicy karena keju yang meleleh dalam campuran susu dan telur. Ah, yummy! Cocok banget buat anak-anak (kita-kita mah jangan sering-sering ya... bahaya hahaha) sampai-sampai Malicca bilang "You are amazing Bunda!" dan habis 2 kotak sekali makan.
Cemilan ini enaknya dimakan panas-panas, jadi berasa banget crispy-juicynya. Dan sepertinya memang cocoknya ditaruh di cup kecil-kecil karena pas disendok ada cairannya yang juicy. Kebayang kan kalau ditaruh di loyang besar trus berantakan kemana-mana dan malah jadi kering tengahnya :)
Next time mau coba isi bayam atau apel kayu manis, ah! *Nunggu kesambet lagi*
Lola vanilla
Jalan-jalan ke ace hardware emang nggak pernah berhasil pulang dengan tangan kosong. Kali ini beli selusin cup silikon untuk bikin cupcake. Kejadian ini terjadi sekitar ... tiga bulan lalu.
Karena malu sama mangkok lucu yang warna-warni yang selalu memanggil-panggil dari dalam oven, akhirnya aku beli tepung cupcake yang sudah setengah jadi. Tinggal cemplungin butter dan telur, voila ... jadi deh! Maklum, bikin kue sambil gendong bayi yang belum 1 bulan ternyata lumayan repot. Jadi boleh dong curang dikit beli resep setengah jadi hehehe *ekskyus* Untung ada kakak Titan yang bantuin. Walaupun ... uhm ... ya gitu deh *mungutin kulit telur di lantai*
Kali ini aku modif sedikit resepnya dengan menambahkan sour cream (yang dibuat dari 2/3 thick cream dan 2 sdm air lemon) dan mengurangi gula. Udah pertama kalinya pake adonan ini, dimodif pula. Resiko gagal besar ini sih.
Tapi ternyata rasanya lumayan. Walaupun menurutku lebih ke rasa dan tesktur bolu instead of cupcake. Frosting vanillanya enggak aku pakai, selain nggak keburu karena little luna udah nangis-nangis; vanilla over vanilla sepertinya bakal maghteugh banget. Gantinya, aku olesin pakai sisa sour cream dan ternyata rasanya lebih segar.
Walaupun tetep sih, menurutku the best vanilla cupcake recipe ada di sini
Its soft and moist.
Celoteh dua lelakiku
Tadi malam, saya mencuri dengar Titan bicara dengan akinya. Kali ini, soal jadwal mengaji. Sudah beberapa bulan ini memang Titan punya kegiatan tambahan mengaji sehabis Maghrib sama akinya. Tapi, mereka memang tidak punya kesepakatan soal jadwal. Kalau akinya inget, ya ngaji. Kalau Titannya lagi pengen, ya minta ngaji. Yang repot adalah kalau akinya lagi semangat dan anaknya lagi nggak mood terus suka dipaksa. Ini yang saya suka keberatan juga. Tapi being a nice kid, biasanya Titan menurut saja untuk mengaji. Tapi cuma sebentar.
Ndelalah beberapa hari yang lalu, anak ini sudah membuat jadwal kegiatan sepulang sekolah. Saya juga cukup amazed sih waktu dia memutuskan bikin jadwal ini. Waktu saya tanya kenapa dia butuh jadwal, menurut dia terlalu banyak yang harus dilakukan sepulang sekolah dan dia selalu lupa. Akhirnya, dia punya ide untuk membuat time schedule dan saya sebagai supporter membiarkan dia mengatur waktunya sendiri.
Lucunya, setelah anak ini membuat jadwal, dia cukup konsisten menjalaninya. Apa yang tidak sesuai, akan dia revisi. Dikurangi atau ditukar waktunya. Termasuk jadwal mengaji ini.
Awalnya, dia menaruh jadwal mengaji setelah makan malam. Karena setelah sholat maghrib, dia menaruh jadwal membaca buku / blogging. Tapi setelah hari pertama dijalanin, kayanya Titan sudah terlalu mengantuk untuk mengaji setelah makan malam. Di hari ke dua, dia minta izin untuk menukar jadwal mengajinya sehabis sholat maghrib dan blogging setelah makan malam.
Di hari ke tiga, Titan minta izin lagi untuk merevisi lagi jadwal mengajinya yaitu menjadi dua hari sekali, berselang seling. Nah, untuk ini aku minta dia untuk ngobrol sendiri dengan akinya. Ini kata mereka.
T: Aki, Titan ngajinya selang seling aja ya. Hari ini ngaji, besok nggak. Besoknya lagi ngaji, besoknya lagi nggak.
A: Lho, kenapa?
T: Kan di sekolah aja nggak setiap hari belajar religion.
A: O, jadi mau disamain sama jadwal religion di sekolah?
T: Enggak juga sih, kalau disamain terlalu lama. Selang seling aja, Ki. Karena Titan udah punya jadwal dan kemaren itu nggak semua jadwalnya Titan bisa dikerjain. Jadi musti gantian. Hari ini ngaji, besoknya blogging, besoknya lagi ngaji, besoknya lagi blogging. Gitu.
A: Nanti kalau nggak exercise sering-sering, ngajinya jadi lupa.
T: Bukan exercise, aki. Exercise itu main atau lebih physical.
A: Iya, maksud aki latihan ngaji.
T: Kalau latihan itu practice.
A: Iya deh, practice. Nanti lupa kalau selang seling.
T: Enggak ah. Buktinya Titan udah lama nggak ngaji tapi semalam masih bisa bacanya. Iya, kan?
A: (skak mat. Cuma diem aja) Ya udah deh kalau maunya gitu.
Hahaha ... aku senyum-senyum aja mencuri dengar dari meja makan. Lucu sih melihat dua lelakiku yang bertaut usia enam puluh tahun negosiasi soal jadwal ngaji. Aki yang (seperti biasa suka memaksa) dan kamu Malicca, yang dengan tenang, bicara lancar dan tegas membela idemu tentang jadwal (Bunda is so proud!).
All in all, I am so grateful for having them both.
*wiiiiiide smile.*
Ndelalah beberapa hari yang lalu, anak ini sudah membuat jadwal kegiatan sepulang sekolah. Saya juga cukup amazed sih waktu dia memutuskan bikin jadwal ini. Waktu saya tanya kenapa dia butuh jadwal, menurut dia terlalu banyak yang harus dilakukan sepulang sekolah dan dia selalu lupa. Akhirnya, dia punya ide untuk membuat time schedule dan saya sebagai supporter membiarkan dia mengatur waktunya sendiri.
Lucunya, setelah anak ini membuat jadwal, dia cukup konsisten menjalaninya. Apa yang tidak sesuai, akan dia revisi. Dikurangi atau ditukar waktunya. Termasuk jadwal mengaji ini.
Awalnya, dia menaruh jadwal mengaji setelah makan malam. Karena setelah sholat maghrib, dia menaruh jadwal membaca buku / blogging. Tapi setelah hari pertama dijalanin, kayanya Titan sudah terlalu mengantuk untuk mengaji setelah makan malam. Di hari ke dua, dia minta izin untuk menukar jadwal mengajinya sehabis sholat maghrib dan blogging setelah makan malam.
Di hari ke tiga, Titan minta izin lagi untuk merevisi lagi jadwal mengajinya yaitu menjadi dua hari sekali, berselang seling. Nah, untuk ini aku minta dia untuk ngobrol sendiri dengan akinya. Ini kata mereka.
T: Aki, Titan ngajinya selang seling aja ya. Hari ini ngaji, besok nggak. Besoknya lagi ngaji, besoknya lagi nggak.
A: Lho, kenapa?
T: Kan di sekolah aja nggak setiap hari belajar religion.
A: O, jadi mau disamain sama jadwal religion di sekolah?
T: Enggak juga sih, kalau disamain terlalu lama. Selang seling aja, Ki. Karena Titan udah punya jadwal dan kemaren itu nggak semua jadwalnya Titan bisa dikerjain. Jadi musti gantian. Hari ini ngaji, besoknya blogging, besoknya lagi ngaji, besoknya lagi blogging. Gitu.
A: Nanti kalau nggak exercise sering-sering, ngajinya jadi lupa.
T: Bukan exercise, aki. Exercise itu main atau lebih physical.
A: Iya, maksud aki latihan ngaji.
T: Kalau latihan itu practice.
A: Iya deh, practice. Nanti lupa kalau selang seling.
T: Enggak ah. Buktinya Titan udah lama nggak ngaji tapi semalam masih bisa bacanya. Iya, kan?
A: (skak mat. Cuma diem aja) Ya udah deh kalau maunya gitu.
Hahaha ... aku senyum-senyum aja mencuri dengar dari meja makan. Lucu sih melihat dua lelakiku yang bertaut usia enam puluh tahun negosiasi soal jadwal ngaji. Aki yang (seperti biasa suka memaksa) dan kamu Malicca, yang dengan tenang, bicara lancar dan tegas membela idemu tentang jadwal (Bunda is so proud!).
All in all, I am so grateful for having them both.
*wiiiiiide smile.*
![]() |
| The Schedule |
Who I will be with when I am old
It was a sunny day. I got a little bored of babysitting so I decided to pick you yup from school.
I always taking and picking you up, because we always have interesting conversation along the way. From nenek cantik wearing pink dress, ufo, and now this.
"Bunda, kalau sudah besar, sudah kerja sudah punya rumah, Titan mau nikah."
Not really a surprise for me; we have this kind of conversation. The movie UP and its character Mr. Frederickson have been possessing you all along. How they grow old together. How they save and shrimp for travel. How they want to have kids. Basically, how he loves Ellie and everything about her.
Kenapa? Bukannya enak kalau sendiri? Enggak ada yang marahin suruh pulang cepet, bisa bebas kemana aja, jalan-jalan, ... (uhm... I'm loosing more reasons)
Then you suddenly pouted.
"Nanti kalau Titan sudah tua sama siapa?
Nanti kalau Titan duduk di kursi, di sampingnya enggak ada orang.
Nanti Titan kalau nonton TV sendirian. Kan enggak enak, Nda."
I smiled. While you were talking, I got busy with my own visual imaginations of you.
"Terserah Titan, kan nanti yang ngejalanin Titan. Nanti dirasa-rasa aja sendiri gimana rasanya sendiri, gimana rasanya punya temen deket, baru diputusin mau nikah sapa siapa."
I always taking and picking you up, because we always have interesting conversation along the way. From nenek cantik wearing pink dress, ufo, and now this.
"Bunda, kalau sudah besar, sudah kerja sudah punya rumah, Titan mau nikah."
Not really a surprise for me; we have this kind of conversation. The movie UP and its character Mr. Frederickson have been possessing you all along. How they grow old together. How they save and shrimp for travel. How they want to have kids. Basically, how he loves Ellie and everything about her.
Kenapa? Bukannya enak kalau sendiri? Enggak ada yang marahin suruh pulang cepet, bisa bebas kemana aja, jalan-jalan, ... (uhm... I'm loosing more reasons)
Then you suddenly pouted.
"Nanti kalau Titan sudah tua sama siapa?
Nanti kalau Titan duduk di kursi, di sampingnya enggak ada orang.
Nanti Titan kalau nonton TV sendirian. Kan enggak enak, Nda."
I smiled. While you were talking, I got busy with my own visual imaginations of you.
"Terserah Titan, kan nanti yang ngejalanin Titan. Nanti dirasa-rasa aja sendiri gimana rasanya sendiri, gimana rasanya punya temen deket, baru diputusin mau nikah sapa siapa."
Saat Allah menciptakan Luna
T: Bunda, waktu adek Luna dibikin di perut, Bunda berasa nggak?
B: Waktu dibikinnya atau waktu adek sudah ada di perut?
T: Enggak, waktu dibikinnya sama Tuhan. Pertama-tamanya. Berasa nggak?
B: Hmmm (takut salah jawab) ... Oh, waktu dibuatnya sama Allah sih enggak berasa. Makanya bunda nggak tahu awalnya kalau bunda hamil.
T: Oh gitu ya. Tau-tau adek Lunanya udah jadi trus gerak-gerak kaya waktu itu Titan bisa pegang ya?
B: Iya, awal-awalnya sih nggak berasa. Makanya kalau ke dokter Ahmad kan Bunda di USG
T: USG tuh apa?
B: Itu, alat yang suka Titan lihat di layar komputer sama dokter. Titan kan suka tanya-tanya, ini bagian apanya. Itu apanya. Nah, kalau di USG baru kelihatan. Sebelum besar, biasanya belum terasa.
T: Oh gitu ya. Kirain ada rasanya pas dibuat di dalam.
B: Waktu dibikinnya atau waktu adek sudah ada di perut?
T: Enggak, waktu dibikinnya sama Tuhan. Pertama-tamanya. Berasa nggak?
B: Hmmm (takut salah jawab) ... Oh, waktu dibuatnya sama Allah sih enggak berasa. Makanya bunda nggak tahu awalnya kalau bunda hamil.
T: Oh gitu ya. Tau-tau adek Lunanya udah jadi trus gerak-gerak kaya waktu itu Titan bisa pegang ya?
B: Iya, awal-awalnya sih nggak berasa. Makanya kalau ke dokter Ahmad kan Bunda di USG
T: USG tuh apa?
B: Itu, alat yang suka Titan lihat di layar komputer sama dokter. Titan kan suka tanya-tanya, ini bagian apanya. Itu apanya. Nah, kalau di USG baru kelihatan. Sebelum besar, biasanya belum terasa.
T: Oh gitu ya. Kirain ada rasanya pas dibuat di dalam.
Thank You
Dear Malicca,
Not so long ago, you bought Lego with your own lebaran angpaw. Well, not really your money. In the end I decided to use mine and have your angpaw saved in your Ghibli fund. Unlike other days, I let you buy expensive toy this time. And this is the first time I let you do shopping with your angpaw. Just because this is lebaran and I want you to have something to look forward. Like Christmas.
Then you bought Lego. Since you were crazy about Titanic, you bought the boat series. A fire fighter boat and a coast guard boat. You took them to bath everyday. Until today I found them had fallen apart, disorganised in the storage room. Only in a few days.
Then I called you in. I pointed out the lego under the racks.
"Bunda sedih, deh." I said.
Then you picked them up with your teary eyes. Mine were too. Honey, if only you knew how much I wanted to have Lego when I was a kid; but I couldn't because they were too expensive.
"Sorry, Bunda." You said.
Then you assembled the Lego back.
"Why did you do this? Why didnt' you take care of your belongings? Didn't you realise you got the Lego with your own effort by fasting during Ramadhan? Do you forget how thirsty and hungry you were?"
Malicca,
Do you know why I cried? I cried because I was so sad. At that point of time when I was asking you, I also asked myself what I have not taught you to become a grateful person and take care of the things we have. I cried because I was worried, I was afraid if you grow becoming an ungrateful and 'take-things-for-granted' person. The kind of person I hate.
No, don't be.
And I did not angry that afternoon.
Instead, I thank you for reminding me to be always a better person I am.
To show you more of how to be a grateful person.
Not so long ago, you bought Lego with your own lebaran angpaw. Well, not really your money. In the end I decided to use mine and have your angpaw saved in your Ghibli fund. Unlike other days, I let you buy expensive toy this time. And this is the first time I let you do shopping with your angpaw. Just because this is lebaran and I want you to have something to look forward. Like Christmas.
Then you bought Lego. Since you were crazy about Titanic, you bought the boat series. A fire fighter boat and a coast guard boat. You took them to bath everyday. Until today I found them had fallen apart, disorganised in the storage room. Only in a few days.
Then I called you in. I pointed out the lego under the racks.
"Bunda sedih, deh." I said.
Then you picked them up with your teary eyes. Mine were too. Honey, if only you knew how much I wanted to have Lego when I was a kid; but I couldn't because they were too expensive.
"Sorry, Bunda." You said.
Then you assembled the Lego back.
"Why did you do this? Why didnt' you take care of your belongings? Didn't you realise you got the Lego with your own effort by fasting during Ramadhan? Do you forget how thirsty and hungry you were?"
Malicca,
Do you know why I cried? I cried because I was so sad. At that point of time when I was asking you, I also asked myself what I have not taught you to become a grateful person and take care of the things we have. I cried because I was worried, I was afraid if you grow becoming an ungrateful and 'take-things-for-granted' person. The kind of person I hate.
No, don't be.
And I did not angry that afternoon.
Instead, I thank you for reminding me to be always a better person I am.
To show you more of how to be a grateful person.
Dunia Bayi
Bunda, ada nggak sih dunia bayi?
Maksudnya? Semuanya punya bayi, gitu?
Iya. Bapaknya bayi, ibunya bayi, yang jualan juga bayi
Oh hahahaha ... there is no such a thing, sayang. Kenapa emangnya?
Ah, mauuuuuuu!
Hahaha kenapa Titan pengen ada di dunia bayi?
Iya, supaya Titan bisa jadi bapak. Langsung punya bayi. Bayinya langsung bisa jalan jadi nggak nunggu-nunggu. kalau nunggu tua kelamaan Nda. Musti gede dulu, sekolah dulu, kerja dulu, baru jadi bapak trus baru deh punya bayi.
... but there are some rules.
Mencontek ibunya (dan juga di lingkungannya), sekarang Titan juga suka ikut-ikutan bikin rules.
Rules yang dia ciptakan terakhir adalah rules saat dia membaca cerita sebelum tidur, baru aja dibikin tadi malam.
T: OK Bunda, I will read you bedtime story but there are some rules.
B: Uh? What rules?
T: Listen carefully. No questions and no photo-photo and upload them to Path.
#Ouch
#Jleb
B: Okay! (but I will surely put this in my blog!)
*selimutan, umpetin handphone dan akhirnya ketiduran bareng*
Rules yang dia ciptakan terakhir adalah rules saat dia membaca cerita sebelum tidur, baru aja dibikin tadi malam.
T: OK Bunda, I will read you bedtime story but there are some rules.
B: Uh? What rules?
T: Listen carefully. No questions and no photo-photo and upload them to Path.
#Ouch
#Jleb
B: Okay! (but I will surely put this in my blog!)
*selimutan, umpetin handphone dan akhirnya ketiduran bareng*
I'm sorry Malicca
Sorry for not having much time to cuddle you.
Sorry for not having much patient to answer your curiosity.
Sorry for me got overslept while reading you a bedtime story.
Sorry for having less intention to your term plan.
Sorry for not having much ideas to do for our weekend.
Sorry for the never-ending 'beberes' rumah.
Sorry for I haven't frame all your paintings.
24 hours like not enough,
and you know why.
Will catch up with you soon, baby.
Sorry for not having much patient to answer your curiosity.
Sorry for me got overslept while reading you a bedtime story.
Sorry for having less intention to your term plan.
Sorry for not having much ideas to do for our weekend.
Sorry for the never-ending 'beberes' rumah.
Sorry for I haven't frame all your paintings.
24 hours like not enough,
and you know why.
Will catch up with you soon, baby.
Finally!
After years, you finally agree to stay in your own bed room.
(and we all move in to your room at night because you are too afraid to sleep alone. sigh)
Well anyways, ... enjoy, babies!
(I envy you, Malicca. I got my own bed room when I was twelve!)
Yes, you should be grateful.
Always.
(and we all move in to your room at night because you are too afraid to sleep alone. sigh)
Well anyways, ... enjoy, babies!
(I envy you, Malicca. I got my own bed room when I was twelve!)
Yes, you should be grateful.
Always.
![]() |
| Organizing your own wardrobe |
![]() |
| Come on, you can do it! |
![]() |
| Way to go, baby. See, you can do it! |
![]() |
| Don't get too settle, here is your soon to be room mate |
P36
Sudah dua minggu terakhir ini pattern-nya Luna berubah. Dari yang biasanya bangun malam setiap jam 11 dan jam 3 pagi; sekarang sudah mulai tidur blas sepanjang malam dan bangun jam 7 pagi. Pas banget sama jadwal bangunnya Bubu dan Kakak Titan.
A good thing? Yes.
Tapi memang selalu ada dua sisi di setiap mata uang. Bagusnya, karena jadi bisa tidur pulas sepanjang malam. Paling memang otomatis terbangun untuk ganti diaper. Jeleknya, bangunnya bayi berbarengan dengan berawalnya aktivitas semua orang di rumah cukup bikin pusing kepala juga. Jadi harus gendong-gendong Luna (yang suka cranky kalau pagi jadi nggak bisa ditaro aja di crib / stroller) sambil siapin lunch box untuk Bubu dan Kakak Titan. Belom lagi bolak-balik ngecek apakah Kakak Titan sudah bangun, sudah mandi, sudah gosok gigi, nggak salah pakai seragam, ngejar-ngejar untuk sarapan dan minum susu, ... pokoknya semuanya harus take off jam 8 supaya nggak ada yang telat.
Habis itu, pengennya sih mandiin Luna. Tapi rupanya digendong pakai gendongan di dada, gerak sana-sini bikin dia dia serasa di ayunan dan akhirnya tertidur lagi. Nah, anehnya adalah, akhir-akhir ini juga dia nggak mau deh ditinggalin tidur sendirian. Udah berbagai trik mulai dari gerak pelan-pelan sampai naro baju bekas pakaiku yang bau susu di dekatnya - tetep aja dia tau ditinggalin dan mulai menangis.
Akhirnya, ikut tidur juga deh gue sampe jam 11 (alasan, dasar aja emang tukang tidur :p ) baru akhirnya mandi (hih, bayi apa jam 11 siang baru mandi?! )
Karena itu jugalah aku baru bisa mulai ngerjain kerjaan Rumah Tangga siang-siang. O yes, kita nggak punya ART (agak trauma dengan dramanya soalnya) jadi semua-mua dikerjain sendiri. Jam setengah empat si kakak sudah pulang dari sekolah. Biasanya sih dia langsung main sendiri dan saat itu Luna pasti lagi bobo ronde ke sekian. Sore-sore, semuanya mandi dan makan malam trus aku ngelonin Luna lagi. Kalau aku sempet ngeblog kaya gini, biasanya karena kedua bocah lagi bobok nyenyak *ibu senyum lebar*
Cuti tiga bulan ini sama sekali nggak terasa. Yang tadinya punya niatan pengen cuti melahirkan sembari ngerjain project-project personal dan meningkatkan quality time sama si kakak kok malah nggak ada yang kejadian (*mewekkk*). Tadinya tuh pengen banget anter-jemput full selama tiga bulan ini. Trus juga pengen kembali ke dapur untuk percobaan masak-masak. Pengen les menjahit. Ah mana, semua hanya tinggal rencana-rencana aja :( Plan untuk rapihin kamar anak pun mundur-mundur terus; karena memang waktu kita (aku dan bubu) terbatas banget. Kita cuma punya waktu weekend. Itupun kalau nggak diganggu dengan hutang-hutang lainnya seperti cek rutin Luna ke dokter, belanja-belenji kebutuhan mingguan atau kebutuhan bayi, anter ortu atau sekedar kondangan yang cuma sebentar tapi waktu tempuh perjalanannya butuh waktu 2 jam. Life has been so very functional lately (not in a good sense).
Kalo gini, suka mikir ... apa iya yang di buku-buku parenting itu benar? Buku-buku yang menceritakan kisah sukses mendisiplinkan bayi untuk disiplin tidur di jam yang sama, mengerti siang dan malam, tidur di cribnya sendiri dan bisa mandiri ditinggal tanpa menangis. I mean ... for real?
Karena walau sudah punya anak dua, aku nggak bisa deh membuat bayi-bayiku seperti bayi-bayi di buku. Walaupun sekarang setiap Luna menangis; aku nggak langsung panik dan main gendong kaya waktu Titan bayi. Sekarang mindsetku adalah, Luna is not crying for help. She is talking. She is communicating and crying is not bad. Jadi setiap kali dia menangis, aku menanggapi dengan santai dan berbicara kembali ke Luna tanpa harus selalu menggendongnya.
Hmmm, cukup menenangkan hati sih nasihat mamahku ini. Tapi tetep deh nggak rela punya waktu tiga bulan tanpa ada personal project yang berhasil dilakukan. Atau semua ini nggak terasa karena cutiku yang bertepatan dengan lebaran? Jadi, kemarin-kemarin sibuk mempersiapkan lebaran dan harus akselerasi adaptasi punya bayi. Belum lagi bolak-balik perawatan pasca operasi dan neo natal care buat Luna.
Or I am just being ungrateful ya? Karena setiap weekend tiba, Bubu pasti bertanya "Bunda mau ngerjain apa weekend ini?" Jadi seharusnya aku punya kesempatan itu.
Hmmm... yeah, maybe I am just being ungrateful. Karena melihat deretan asi hasil pompa dalam freezer yang kini sudah mencapai hampir 30 botol, melihat pipinya Luna yang makin menggembung setiap harinya, itu kan tujuan aku di awal-awal: bisa punya asi banyak dan berat badan Luna bisa naik (karena 2 minggu pertama mengkhawatirkan bu dokter; soalnya berat Luna turun dan belum balik ke berat lahir).
Yeah, ... sering lupa kalau aku ini sudah jadi ibu. Sudah seyogyanya aku mengenyampingkan project-project pribadi dan mendahulukan project untuk anak-anak. Paling tidak, sampai 2 tahun ke depan.
Aw!
*pukpuk pundak sendiri*
A good thing? Yes.
Tapi memang selalu ada dua sisi di setiap mata uang. Bagusnya, karena jadi bisa tidur pulas sepanjang malam. Paling memang otomatis terbangun untuk ganti diaper. Jeleknya, bangunnya bayi berbarengan dengan berawalnya aktivitas semua orang di rumah cukup bikin pusing kepala juga. Jadi harus gendong-gendong Luna (yang suka cranky kalau pagi jadi nggak bisa ditaro aja di crib / stroller) sambil siapin lunch box untuk Bubu dan Kakak Titan. Belom lagi bolak-balik ngecek apakah Kakak Titan sudah bangun, sudah mandi, sudah gosok gigi, nggak salah pakai seragam, ngejar-ngejar untuk sarapan dan minum susu, ... pokoknya semuanya harus take off jam 8 supaya nggak ada yang telat.
Habis itu, pengennya sih mandiin Luna. Tapi rupanya digendong pakai gendongan di dada, gerak sana-sini bikin dia dia serasa di ayunan dan akhirnya tertidur lagi. Nah, anehnya adalah, akhir-akhir ini juga dia nggak mau deh ditinggalin tidur sendirian. Udah berbagai trik mulai dari gerak pelan-pelan sampai naro baju bekas pakaiku yang bau susu di dekatnya - tetep aja dia tau ditinggalin dan mulai menangis.
Akhirnya, ikut tidur juga deh gue sampe jam 11 (alasan, dasar aja emang tukang tidur :p ) baru akhirnya mandi (hih, bayi apa jam 11 siang baru mandi?! )
Karena itu jugalah aku baru bisa mulai ngerjain kerjaan Rumah Tangga siang-siang. O yes, kita nggak punya ART (agak trauma dengan dramanya soalnya) jadi semua-mua dikerjain sendiri. Jam setengah empat si kakak sudah pulang dari sekolah. Biasanya sih dia langsung main sendiri dan saat itu Luna pasti lagi bobo ronde ke sekian. Sore-sore, semuanya mandi dan makan malam trus aku ngelonin Luna lagi. Kalau aku sempet ngeblog kaya gini, biasanya karena kedua bocah lagi bobok nyenyak *ibu senyum lebar*
Cuti tiga bulan ini sama sekali nggak terasa. Yang tadinya punya niatan pengen cuti melahirkan sembari ngerjain project-project personal dan meningkatkan quality time sama si kakak kok malah nggak ada yang kejadian (*mewekkk*). Tadinya tuh pengen banget anter-jemput full selama tiga bulan ini. Trus juga pengen kembali ke dapur untuk percobaan masak-masak. Pengen les menjahit. Ah mana, semua hanya tinggal rencana-rencana aja :( Plan untuk rapihin kamar anak pun mundur-mundur terus; karena memang waktu kita (aku dan bubu) terbatas banget. Kita cuma punya waktu weekend. Itupun kalau nggak diganggu dengan hutang-hutang lainnya seperti cek rutin Luna ke dokter, belanja-belenji kebutuhan mingguan atau kebutuhan bayi, anter ortu atau sekedar kondangan yang cuma sebentar tapi waktu tempuh perjalanannya butuh waktu 2 jam. Life has been so very functional lately (not in a good sense).
Kalo gini, suka mikir ... apa iya yang di buku-buku parenting itu benar? Buku-buku yang menceritakan kisah sukses mendisiplinkan bayi untuk disiplin tidur di jam yang sama, mengerti siang dan malam, tidur di cribnya sendiri dan bisa mandiri ditinggal tanpa menangis. I mean ... for real?
Karena walau sudah punya anak dua, aku nggak bisa deh membuat bayi-bayiku seperti bayi-bayi di buku. Walaupun sekarang setiap Luna menangis; aku nggak langsung panik dan main gendong kaya waktu Titan bayi. Sekarang mindsetku adalah, Luna is not crying for help. She is talking. She is communicating and crying is not bad. Jadi setiap kali dia menangis, aku menanggapi dengan santai dan berbicara kembali ke Luna tanpa harus selalu menggendongnya.
Ibuku bilang, there is no such a thing. Baby is baby and they're just being a baby. They love to have someone around, they want to be hugged, they want to be loved and the best way to show your love is by touching them. By making sure you are around at anytime they need. There is no solid handbook in handling babies because every baby is little human with their own character.
Hmmm, cukup menenangkan hati sih nasihat mamahku ini. Tapi tetep deh nggak rela punya waktu tiga bulan tanpa ada personal project yang berhasil dilakukan. Atau semua ini nggak terasa karena cutiku yang bertepatan dengan lebaran? Jadi, kemarin-kemarin sibuk mempersiapkan lebaran dan harus akselerasi adaptasi punya bayi. Belum lagi bolak-balik perawatan pasca operasi dan neo natal care buat Luna.
Or I am just being ungrateful ya? Karena setiap weekend tiba, Bubu pasti bertanya "Bunda mau ngerjain apa weekend ini?" Jadi seharusnya aku punya kesempatan itu.
Hmmm... yeah, maybe I am just being ungrateful. Karena melihat deretan asi hasil pompa dalam freezer yang kini sudah mencapai hampir 30 botol, melihat pipinya Luna yang makin menggembung setiap harinya, itu kan tujuan aku di awal-awal: bisa punya asi banyak dan berat badan Luna bisa naik (karena 2 minggu pertama mengkhawatirkan bu dokter; soalnya berat Luna turun dan belum balik ke berat lahir).
Yeah, ... sering lupa kalau aku ini sudah jadi ibu. Sudah seyogyanya aku mengenyampingkan project-project pribadi dan mendahulukan project untuk anak-anak. Paling tidak, sampai 2 tahun ke depan.
Aw!
*pukpuk pundak sendiri*
Kangen (padahal ketemu setiap hari)
di sepotong sore saat dua pasang kaki ini bertaut di sofa.
"Titan, Bunda kangen deh."
"Sama siapa?"
"Sama Titan."
"Kenapa? ... Oh, pasti karena kemaren-kemaren Titan nginep di rumah Eyang, ya?"
Si bocah sih jawabnya asyik aja sambil terus masang lego.
Emaknya ini, diem-diem langsung berderai.
Langsung flashback mulai dari pertama kali meluk di dada, pertama kali nganterin dan nungguin sekolah, celoteh-celoteh lucu, semuanya ngangenin dan bakal bikin kangen. Karena kamu cepat besaaaaaar!
"Enggak, bukan karena Titan nginep di rumah eyang. Emang rasanya kangen aja."
*usel-usel sampe legonya jatoh trus ngambek*
"Titan, Bunda kangen deh."
"Sama siapa?"
"Sama Titan."
"Kenapa? ... Oh, pasti karena kemaren-kemaren Titan nginep di rumah Eyang, ya?"
Si bocah sih jawabnya asyik aja sambil terus masang lego.
Emaknya ini, diem-diem langsung berderai.
Langsung flashback mulai dari pertama kali meluk di dada, pertama kali nganterin dan nungguin sekolah, celoteh-celoteh lucu, semuanya ngangenin dan bakal bikin kangen. Karena kamu cepat besaaaaaar!
"Enggak, bukan karena Titan nginep di rumah eyang. Emang rasanya kangen aja."
*usel-usel sampe legonya jatoh trus ngambek*
"If someone gets angry, ..." and so you said so
Malicca,
Not only you started not wanting me to read a bedtime story for you - and prefer you tell me your story to me - lately, you also started to give me some advice - which I respect.
Here was what you said to me few days ago:
"Bunda, kalau ada orang lagi marah jangan diajak ngomong dulu. Biarin aja dia marah dulu sampai habis marahnya, baru habis itu boleh diajak ngomong. Soalnya nanti dia tambah marah kalau masih marah trus ditanya-tanya dan diajak ngobrol."
Okay, I will surely remember that :)
Not only you started not wanting me to read a bedtime story for you - and prefer you tell me your story to me - lately, you also started to give me some advice - which I respect.
Here was what you said to me few days ago:
"Bunda, kalau ada orang lagi marah jangan diajak ngomong dulu. Biarin aja dia marah dulu sampai habis marahnya, baru habis itu boleh diajak ngomong. Soalnya nanti dia tambah marah kalau masih marah trus ditanya-tanya dan diajak ngobrol."
Okay, I will surely remember that :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
It’s been years. Probably, … eight years. We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit. But after weeks of considera...
-
Di suatu malam yang sunyi dan dingin, langit begitu gelap. Namun, ada seorang wanita yang tidak dapat terlelap. Dari semua mimpi yang tela...












