Dear My lovely son Malicca.
You have been growing so fast! Now you are five and your questions in every single day are getting sharper and sharper. For the past days, you have been asking about heaven.
"Do heaven exist, Bunda?"
Our religion taught us about heaven and hell as a compensation for good and bad people. But if you ask me, to be honest, ... I do not know how to answer because I have never been to heaven and I have never seen it.
Yes I heard about it. A lot. But people who might have gone to heaven never came back to earth and tell us what the heaven looks and how it feels like. So, ... I never buy what people say about heaven.
But why bother to think of heaven in absurd way? Like what people tell you that in heaven you can have anything you want within a split second? Like what people tell you there is milky river and golden cups. Why don't you create your own heaven? Here, on earth.
To me, your mother, to have you hugged me and said "I love you, Bunda" ... it is heaven.
To see you poked your friend just to tell them "Hey, this is my Bunda!" ... it is heaven.
To wake up in the morning and have you here beside me and smell your bad breath, ... it is heaven.
To have a cup of hot chocolate with some marshmallows, it is heaven.
To have the traffic treats me nice, it is heaven.
Heaven is not far. Whenever you feel happy, you are in heaven.
...
and by the time I am finished writing this, I got a conclusion that heaven does exist.
Where do good people go?
Titan: "Nda, orang baik itu nantinya masuk surga ya?"
Me: "I don't know. What do you think?"
Titan: "I guess so."
Me: "Yang jelas, orang baik itu banyak temennya and it is already a heaven on earth."
Me: "I don't know. What do you think?"
Titan: "I guess so."
Me: "Yang jelas, orang baik itu banyak temennya and it is already a heaven on earth."
Me time.
It is been a while since I last have one.
With a nagging kid ready to tug you every single time and been shooting you with why this and that's questions, me time has become one of the most expensive thing I cannot afford.
But it's okay.
Nobody really want to be alone, right?
And with this little kid around, I love it as much.
Learn to do something about hope
Hari ini, Malicca Titan belajar untuk menuliskan harapannya di sekolah. "What did you hope for?" Aku tanya. "I write: I hope I can play toy car everyday." ... "Okay, that is a good one."
Melihat kesempatan itu, aku mencoba untuk mendorong lebih jauh lagi apa impiannya. Dan akhirnya, Malicca bilang "I want to go to Paradise Falls, like Kakek Up" - he means Mr. Frederickson, the main character in the movie UP. "Oh wow, it is a grrrrrreat hope!"
"Do you know you can make all your dreams come true?" I asked him. "No." Dia menjawab singkat.
"It is true. All you need to do is rrrrreally really want it, plan it, do something about it and pray. Do you rrrrreally want to go to Angel's Falls, or Paradise Falls like in the movie?" ... "Yes, Bunda. It is in Amerika Selatan just like Segitiga Bermuda."
"Okay, now let's do something about it!"
I had the idea popped out just like that, that was to steal a scene in the movie itself. I borrowed my mom's big, clear canister and let Malicca draw the Paradise Falls in his version. My version of hope is to go to Ghibli Museum to see Totoro. We pasted it in the canister and started to toss all the money we have (mine was all in the wallet) and his was all coins he got in the our car (-_-")
He smiled happily.
The day after, he puts all neglected coins and his lebaran angpao all into the jar.
Isn't it a wonderful thing, to have a dream and do something about it. I mean really really really do something about it.
Melihat kesempatan itu, aku mencoba untuk mendorong lebih jauh lagi apa impiannya. Dan akhirnya, Malicca bilang "I want to go to Paradise Falls, like Kakek Up" - he means Mr. Frederickson, the main character in the movie UP. "Oh wow, it is a grrrrrreat hope!"
"Do you know you can make all your dreams come true?" I asked him. "No." Dia menjawab singkat.
"It is true. All you need to do is rrrrreally really want it, plan it, do something about it and pray. Do you rrrrreally want to go to Angel's Falls, or Paradise Falls like in the movie?" ... "Yes, Bunda. It is in Amerika Selatan just like Segitiga Bermuda."
"Okay, now let's do something about it!"
I had the idea popped out just like that, that was to steal a scene in the movie itself. I borrowed my mom's big, clear canister and let Malicca draw the Paradise Falls in his version. My version of hope is to go to Ghibli Museum to see Totoro. We pasted it in the canister and started to toss all the money we have (mine was all in the wallet) and his was all coins he got in the our car (-_-")
He smiled happily.
The day after, he puts all neglected coins and his lebaran angpao all into the jar.
Isn't it a wonderful thing, to have a dream and do something about it. I mean really really really do something about it.
![]() |
| Malicca draws his dream |
![]() |
| My version of hope |
![]() |
| His version of hope |
![]() |
| His happy face after tossing all his money into the jar |
![]() |
| Angel Falls, Venezuella |
Backpacking with kids, why not?
Our first backpacking journey. Memang hanya ke Singapura sih. Tapi kenangannya, ... banyak banget!
Mulai dari nabungnya, dari pesan tiketnya, dari berangkatnya, di sananya, semua pengalaman berlibur bersama anak-anak ini bikin diri jadi makin kaya dengan pangalaman bathin. Apalagi ternyata cukup bisa dimuat di website Libur Keluarga, senangnyaaaaaaa :)
Semoga, ini bukan yang terakhir.Amin!
Finally
For a writer, nothing can beat the happy feeling of having their writing got published
*big big grin*
I had never thought after so many poetry, short stories and fables, it was my first travel journey that made the first debut for publishing. It took me about three days to write in details, to review it over and over again.
Just click the picture below if you want to know our story :)
| My first time writing got published |
'Plak!!!'
"Biasa pegang duit sendiri, sekarang harus nunggu uang dari suami. Aneh banget rasanya."
Bener bangeeeeet twitnya Lygwina the financial planner hari ini, yang kebetulan topik #FinancialClinic-nya hari ini adalah tentang berpindah dari yang tadinya pegawai trus jadi freelancer or small business owner. Ahak, ... gue bangeeeut! Maka sebelum scrolling down the whole #FinancialClinic twits of her, gue siap-siap Betadine dulu lah. Penting, itu. Karena tiap kali baca twitnya Lygwina emang jadinya makin berdarah-darah.
So, kabar kehidupan gue akhir-akhir ini memang drama galau dengan status 'pengangguran' yang gue emban saat ini. Tidak bisa tidak, ternyata itu kejadian juga sama gue bagaimanapun telah gue cegah. Awalnya gue memutuskan untuk berhenti bekerja adalah karena Titan dan semua kekhawatiran gue tentang minat belajarnya. Ditambah memang sudah mulai bosan menggeluti hal yang sama selama 12 tahun, tentunya. Ternyata, setelah dijalanin, I really hate to admit this phrase but this is so very true.
"Money is not everything, but everything needs money."
Dua hari di awal kehidupan freelance sangat menyenangkan, karena gue langsung terima kerjaan simple senilai belasan juta. Tapi kemudian gue mulai gigit jari karena belum nampak tanda-tanda kerjaan berikut sementara yang sudah dikerjakan pun, enggak kelihatan tanda-tanda bakal dibayarnya. *Mulai stress*
Sebelum terjun ke dunia ini, terus terang persiapan gue memang agak kurang baik. Dari sekian items yang seharusnya dimiliki (seperti kata Lygwina), gue hanya punya sedikit dari items-items tersebut. Gue cuma punya dana darurat untuk 6 bulan dan aset aktif asuransi yang kebetulan sudah selesai masa preminya; jadi tinggal memetik dana investasinya. Tidak maksimal, karena bentuknya unit link (bakalan digorok Lygwina ini, karena ibu itu sangat tidak menganjurkan unit link. Tapi gimana dong, gue kenal ini duluan ketimbang gue kenal elo Bu Lyg). Gue enggak punya asuransi kesehatan dan aset aktif yang mumpuni. Jadi untuk hidup sehari-hari, ya menunggu dikasih uang aja sama suami.
Dan itu rasanya aneh banget. Asli deh. Kalau aja suami enggak dibekali dengan kesabaran yang maha dahsyat untuk ngadepin gue, mungkin dia juga ikut jadi stres. Oh well, I guess he already is. Maaf yah sayang *cipoks*
Dulu punya uang sendiri dan rutin mendapatkannya setiap bulan, membolehkan gue untuk bisa menyusun rencana seenak jidat. Not about shoppings, but giving to people I love and of course ... nice meals. Sekarang tiba-tiba gue harus save and shrimp and cut down every pennies.
Sekali lagi Lygwina benarrr! Yang pertama harus disiapkan adalah mental. Being a freelancer, more over I am a first starter, gue harus tau diri sih. Dan harus bisa menurunkan standar (oh, ini yang susah!!!). Dan yang lebih susah adalah untuk tidak mengkasihani diri. Counternya, gue selalu berpikir "Dulu juga gaji gue cuma sekian dan fine-fine aja tuh." Tapi kan dulu Titan belum sekolah ya (teteup, defensive).
Yah, Bismillah. Semoga aja memang ini bagian dari rencana Tuhan untuk menuju yang lebih baik. Terima kasih Lygwina, atas twit-twitnya yang menyilet-nyilet harga diriku hari ini *usap Betadine*
Sementara hati ini galau, tangan ini tetap harus berbuat sesuatu di masing-masing hari. Sampai hari itu tiba, ... oh tidak, aku harus menjemputnya dong!
![]() |
| My first sewing project with mom's tutorial |
![]() |
| Bake or break project. |
![]() |
| My first cupcake project. It tastes good, I tell you. Want to order? |
Satu langkah lagi
Di bulan Juli ini, Malicca officially pindah ke sekolah baru. Well, only God knows how much I want him to get in to this school and only God knows what my efforts were to get him in. Konon, kata orang pada akhirnya kita akan mendapatkan apa yang kita mau. Hanya saja, kita mendapatkannya di saat kita sudah enggak menginginkannya lagi. Well, I guess God is very very kind to me. I got what I want right on time.
Pemilihan sekolah ini berdasar pada dua hal, kesepahaman konsep dan letaknya yang sama sekali tidak jauh dari rumah. Cuma 12 menit, coba bayangkan. Luxurious sekali kan, dibanding anak-anak lain yang harus bangun pagi buta untuk berangkat sekolah supaya tidak terlambat. Again, I am such a lucky mom.
Aku udah datang ke acara Open House sekolah ini sejak Malicca umur 6 bulan, lho! Saat itu memang aku lagi rajin-rajinnya survey ke sekolah-sekolah. Maksudnya sih, supaya tahu harus menabung berapa banyak saat Malicca harus masuk sekolah nantinya. Cuma untuk manage expectation aja, sekaligus juga mengenal kembali sistem pendidikan yang sudah jauh berbeda dengan jaman aku sekolah dulu.
Sebelum akhirnya sekolah di High Scope ini, Malicca sekolah di sebuah TK di deket rumah juga. Sekolah tawon, dia nyebutnya. Karena memang lambang sekolahnya gambar tawon dan dinding sekolahnya itu mirip sarang tawon. Cuma anehnya, dia enggak suka sekolah di sini. Setiap hari pasti datang telat. Enggak kira-kira, telatnya bisa sampai 1 jam! Kenapa? Karena ngebujuk bangun tidurnya aja udah setengah jam sendiri. Belum lagi, karena malas dan tidak suka; semuanya dilama-lamain. Belum lagi kalo mandek di gerbang sekolah enggak mau masuk. Aduuuh, stres banget deh kalau ingat saat-saat itu. Tapi mau dipindahin juga tanggung. Saat itu memang aku belum tahu apakah aku nantinya bisa memasukkan dia di sekolah impian(ku) ini. Jadi, ... setiap hari harus sabar-sabar memberi pengertian dan aku juga pada akhirnya enggak terlalu memaksa Malicca untuk pergi ke sekolah. Alhasil, hampir setiap malam setelah pulang kerja bundanya ini harus mengajarkan ulang calistung. Thanks to phonic system dan Kumon yang mengeluarkan buku-buku panduan yang menurut saya sangat cerdas, akhirnya Malicca bisa mengikuti pelajaran di sekolah dan progressnya pada term ke dua di TK kecil sangat bagus. Dan akhirnya, dia naik ke TK besar.
Nah, di TK besar inilah Malicca mulai bersekolah di High Scope. Karena SD di sekolah ini dimulai dari TK besar. Setelah serangkaian trial dan ngobrol-ngobrol sama psikolognya (enggak ada test sama sekali), akhirnya Malicca bergabung dengan sekolah barunya. Aseli ya, deg-degan abis bundanya ini. Karena kalau ternyata dia enggak suka (lagi), aku sama sekali enggak punya back up plan mau disekolahin dimana. Sempet kepikiran home schooling sih, etapi kok ya ... walau aku senang mengajar, tapi kok ya ragu juga.
Akhirnya, tanggal 18 Juli kemarin Malicca officially mulai sekolah. Di hari pertama ini dia sempat tertidur selama kira-kira satu jam hahahaha.... Kaget kali yah, biasanya sekolahnya cuma sampai jam 11.30 sementara ini kan sampai jam 15.00. Ngapain aja anak TK sekolah sampai jam segituuuuu? Hahahaha... ternyata banyak sih kegiatannya. Tapi kalau ditanya "Hari ini belajar apa aja?" Jawabannya pasti satu: "Main, Nda. Enggak belajar." (Duh, serangan panik ke dua).
Lucunya, walaupun sekarang harus bangun lebih pagi dan pulang lebih sore, anaknya enjoy-enjoy aja sekolah. Kalau dulu, setiap malam dia selalu bertanya "Nda, besok sekolah ya?" "Iya dong." Jawabku. Lantas dia menghela nafas panjang sambil bergumam "Yaaaaah...."
Sekarang, dia masih bertanya sih. Tapi kalau aku jawab "Iya, besok sekolah." Jawabnya "Yeay! I like going to school!"
Ih, senang! Rasanya terbayar semua jerih payah pulang malam di tahun-tahun lalu dan stres-stres mencari sekolah terbaik untuk anak, saat kita tahu si anak menyukai belajar di sekolah. Kayanya, selesai satu PR besar dan berhasil membuat satu langkah untuk masa depannya.
Insya Allah.
Sekarang, selain Malicca juga menikmati sekolahnya; aku juga menikmati saat-saat mengamati Malicca di sekolah. Teman-temannya, cara bermainnya, problem solving skill-nya. All in all, we are all happy. Yeay!
as posted on Emaklicca.
Aku udah datang ke acara Open House sekolah ini sejak Malicca umur 6 bulan, lho! Saat itu memang aku lagi rajin-rajinnya survey ke sekolah-sekolah. Maksudnya sih, supaya tahu harus menabung berapa banyak saat Malicca harus masuk sekolah nantinya. Cuma untuk manage expectation aja, sekaligus juga mengenal kembali sistem pendidikan yang sudah jauh berbeda dengan jaman aku sekolah dulu.
Sebelum akhirnya sekolah di High Scope ini, Malicca sekolah di sebuah TK di deket rumah juga. Sekolah tawon, dia nyebutnya. Karena memang lambang sekolahnya gambar tawon dan dinding sekolahnya itu mirip sarang tawon. Cuma anehnya, dia enggak suka sekolah di sini. Setiap hari pasti datang telat. Enggak kira-kira, telatnya bisa sampai 1 jam! Kenapa? Karena ngebujuk bangun tidurnya aja udah setengah jam sendiri. Belum lagi, karena malas dan tidak suka; semuanya dilama-lamain. Belum lagi kalo mandek di gerbang sekolah enggak mau masuk. Aduuuh, stres banget deh kalau ingat saat-saat itu. Tapi mau dipindahin juga tanggung. Saat itu memang aku belum tahu apakah aku nantinya bisa memasukkan dia di sekolah impian(ku) ini. Jadi, ... setiap hari harus sabar-sabar memberi pengertian dan aku juga pada akhirnya enggak terlalu memaksa Malicca untuk pergi ke sekolah. Alhasil, hampir setiap malam setelah pulang kerja bundanya ini harus mengajarkan ulang calistung. Thanks to phonic system dan Kumon yang mengeluarkan buku-buku panduan yang menurut saya sangat cerdas, akhirnya Malicca bisa mengikuti pelajaran di sekolah dan progressnya pada term ke dua di TK kecil sangat bagus. Dan akhirnya, dia naik ke TK besar.
Nah, di TK besar inilah Malicca mulai bersekolah di High Scope. Karena SD di sekolah ini dimulai dari TK besar. Setelah serangkaian trial dan ngobrol-ngobrol sama psikolognya (enggak ada test sama sekali), akhirnya Malicca bergabung dengan sekolah barunya. Aseli ya, deg-degan abis bundanya ini. Karena kalau ternyata dia enggak suka (lagi), aku sama sekali enggak punya back up plan mau disekolahin dimana. Sempet kepikiran home schooling sih, etapi kok ya ... walau aku senang mengajar, tapi kok ya ragu juga.
Akhirnya, tanggal 18 Juli kemarin Malicca officially mulai sekolah. Di hari pertama ini dia sempat tertidur selama kira-kira satu jam hahahaha.... Kaget kali yah, biasanya sekolahnya cuma sampai jam 11.30 sementara ini kan sampai jam 15.00. Ngapain aja anak TK sekolah sampai jam segituuuuu? Hahahaha... ternyata banyak sih kegiatannya. Tapi kalau ditanya "Hari ini belajar apa aja?" Jawabannya pasti satu: "Main, Nda. Enggak belajar." (Duh, serangan panik ke dua).
Lucunya, walaupun sekarang harus bangun lebih pagi dan pulang lebih sore, anaknya enjoy-enjoy aja sekolah. Kalau dulu, setiap malam dia selalu bertanya "Nda, besok sekolah ya?" "Iya dong." Jawabku. Lantas dia menghela nafas panjang sambil bergumam "Yaaaaah...."
Sekarang, dia masih bertanya sih. Tapi kalau aku jawab "Iya, besok sekolah." Jawabnya "Yeay! I like going to school!"
Ih, senang! Rasanya terbayar semua jerih payah pulang malam di tahun-tahun lalu dan stres-stres mencari sekolah terbaik untuk anak, saat kita tahu si anak menyukai belajar di sekolah. Kayanya, selesai satu PR besar dan berhasil membuat satu langkah untuk masa depannya.
Insya Allah.
Sekarang, selain Malicca juga menikmati sekolahnya; aku juga menikmati saat-saat mengamati Malicca di sekolah. Teman-temannya, cara bermainnya, problem solving skill-nya. All in all, we are all happy. Yeay!
as posted on Emaklicca.
Membuat satu langkah lagi
Di bulan Juli ini, Malicca officially pindah ke sekolah baru. Well, only God knows how much I want him to get in to this school and only God knows what my efforts were to get him in. Konon, kata orang pada akhirnya kita akan mendapatkan apa yang kita mau. Hanya saja, kita mendapatkannya di saat kita sudah enggak menginginkannya lagi. Well, I guess God is very very kind to me. I got what I want right on time.
Pemilihan sekolah ini berdasar pada dua hal, kesepahaman konsep dan letaknya yang sama sekali tidak jauh dari rumah. Cuma 12 menit, coba bayangkan. Luxurious sekali kan, dibanding anak-anak lain yang harus bangun pagi buta untuk berangkat sekolah supaya tidak terlambat. Again, I am such a lucky mom.
Aku udah datang ke acara Open House sekolah ini sejak Malicca umur 6 bulan, lho! Saat itu memang aku lagi rajin-rajinnya survey ke sekolah-sekolah. Maksudnya sih, supaya tahu harus menabung berapa banyak saat Malicca harus masuk sekolah nantinya. Cuma untuk manage expectation aja, sekaligus juga mengenal kembali sistem pendidikan yang sudah jauh berbeda dengan jaman aku sekolah dulu.
Sebelum akhirnya sekolah di High Scope ini, Malicca sekolah di sebuah TK di deket rumah juga. Sekolah tawon, dia nyebutnya. Karena memang lambang sekolahnya gambar tawon dan dinding sekolahnya itu mirip sarang tawon. Cuma anehnya, dia enggak suka sekolah di sini. Setiap hari pasti datang telat. Enggak kira-kira, telatnya bisa sampai 1 jam! Kenapa? Karena ngebujuk bangun tidurnya aja udah setengah jam sendiri. Belum lagi, karena malas dan tidak suka; semuanya dilama-lamain. Belum lagi kalo mandek di gerbang sekolah enggak mau masuk. Aduuuh, stres banget deh kalau ingat saat-saat itu. Tapi mau dipindahin juga tanggung. Saat itu memang aku belum tahu apakah aku nantinya bisa memasukkan dia di sekolah impian(ku) ini. Jadi, ... setiap hari harus sabar-sabar memberi pengertian dan aku juga pada akhirnya enggak terlalu memaksa Malicca untuk pergi ke sekolah. Alhasil, hampir setiap malam setelah pulang kerja bundanya ini harus mengajarkan ulang calistung. Thanks to phonic system dan Kumon yang mengeluarkan buku-buku panduan yang menurut saya sangat cerdas, akhirnya Malicca bisa mengikuti pelajaran di sekolah dan progressnya pada term ke dua di TK kecil sangat bagus. Dan akhirnya, dia naik ke TK besar.
Nah, di TK besar inilah Malicca mulai bersekolah di High Scope. Karena SD di sekolah ini dimulai dari TK besar. Setelah serangkaian trial dan ngobrol-ngobrol sama psikolognya (enggak ada test sama sekali), akhirnya Malicca bergabung dengan sekolah barunya. Aseli ya, deg-degan abis bundanya ini. Karena kalau ternyata dia enggak suka (lagi), aku sama sekali enggak punya back up plan mau disekolahin dimana. Sempet kepikiran home schooling sih, etapi kok ya ... walau aku senang mengajar, tapi kok ya ragu juga.
Akhirnya, tanggal 18 Juli kemarin Malicca officially mulai sekolah. Di hari pertama ini dia sempat tertidur selama kira-kira satu jam hahahaha.... Kaget kali yah, biasanya sekolahnya cuma sampai jam 11.30 sementara ini kan sampai jam 15.00. Ngapain aja anak TK sekolah sampai jam segituuuuu? Hahahaha... ternyata banyak sih kegiatannya. Tapi kalau ditanya "Hari ini belajar apa aja?" Jawabannya pasti satu: "Main, Nda. Enggak belajar." (Duh, serangan panik ke dua).
Lucunya, walaupun sekarang harus bangun lebih pagi dan pulang lebih sore, anaknya enjoy-enjoy aja sekolah. Kalau dulu, setiap malam dia selalu bertanya "Nda, besok sekolah ya?" "Iya dong." Jawabku. Lantas dia menghela nafas panjang sambil bergumam "Yaaaaah...."
Sekarang, dia masih bertanya sih. Tapi kalau aku jawab "Iya, besok sekolah." Jawabnya "Yeay! I like going to school!"
Ih, senang! Rasanya terbayar semua jerih payah pulang malam di tahun-tahun lalu dan stres-stres mencari sekolah terbaik untuk anak, saat kita tahu si anak menyukai belajar di sekolah. Kayanya, selesai satu PR besar dan berhasil membuat satu langkah untuk masa depannya.
Insya Allah.
Sekarang, selain Malicca juga menikmati sekolahnya; aku juga menikmati saat-saat mengamati Malicca di sekolah. Teman-temannya, cara bermainnya, problem solving skill-nya. All in all, we are all happy. Yeay!
Aku udah datang ke acara Open House sekolah ini sejak Malicca umur 6 bulan, lho! Saat itu memang aku lagi rajin-rajinnya survey ke sekolah-sekolah. Maksudnya sih, supaya tahu harus menabung berapa banyak saat Malicca harus masuk sekolah nantinya. Cuma untuk manage expectation aja, sekaligus juga mengenal kembali sistem pendidikan yang sudah jauh berbeda dengan jaman aku sekolah dulu.
Sebelum akhirnya sekolah di High Scope ini, Malicca sekolah di sebuah TK di deket rumah juga. Sekolah tawon, dia nyebutnya. Karena memang lambang sekolahnya gambar tawon dan dinding sekolahnya itu mirip sarang tawon. Cuma anehnya, dia enggak suka sekolah di sini. Setiap hari pasti datang telat. Enggak kira-kira, telatnya bisa sampai 1 jam! Kenapa? Karena ngebujuk bangun tidurnya aja udah setengah jam sendiri. Belum lagi, karena malas dan tidak suka; semuanya dilama-lamain. Belum lagi kalo mandek di gerbang sekolah enggak mau masuk. Aduuuh, stres banget deh kalau ingat saat-saat itu. Tapi mau dipindahin juga tanggung. Saat itu memang aku belum tahu apakah aku nantinya bisa memasukkan dia di sekolah impian(ku) ini. Jadi, ... setiap hari harus sabar-sabar memberi pengertian dan aku juga pada akhirnya enggak terlalu memaksa Malicca untuk pergi ke sekolah. Alhasil, hampir setiap malam setelah pulang kerja bundanya ini harus mengajarkan ulang calistung. Thanks to phonic system dan Kumon yang mengeluarkan buku-buku panduan yang menurut saya sangat cerdas, akhirnya Malicca bisa mengikuti pelajaran di sekolah dan progressnya pada term ke dua di TK kecil sangat bagus. Dan akhirnya, dia naik ke TK besar.
Nah, di TK besar inilah Malicca mulai bersekolah di High Scope. Karena SD di sekolah ini dimulai dari TK besar. Setelah serangkaian trial dan ngobrol-ngobrol sama psikolognya (enggak ada test sama sekali), akhirnya Malicca bergabung dengan sekolah barunya. Aseli ya, deg-degan abis bundanya ini. Karena kalau ternyata dia enggak suka (lagi), aku sama sekali enggak punya back up plan mau disekolahin dimana. Sempet kepikiran home schooling sih, etapi kok ya ... walau aku senang mengajar, tapi kok ya ragu juga.
Akhirnya, tanggal 18 Juli kemarin Malicca officially mulai sekolah. Di hari pertama ini dia sempat tertidur selama kira-kira satu jam hahahaha.... Kaget kali yah, biasanya sekolahnya cuma sampai jam 11.30 sementara ini kan sampai jam 15.00. Ngapain aja anak TK sekolah sampai jam segituuuuu? Hahahaha... ternyata banyak sih kegiatannya. Tapi kalau ditanya "Hari ini belajar apa aja?" Jawabannya pasti satu: "Main, Nda. Enggak belajar." (Duh, serangan panik ke dua).
Lucunya, walaupun sekarang harus bangun lebih pagi dan pulang lebih sore, anaknya enjoy-enjoy aja sekolah. Kalau dulu, setiap malam dia selalu bertanya "Nda, besok sekolah ya?" "Iya dong." Jawabku. Lantas dia menghela nafas panjang sambil bergumam "Yaaaaah...."
Sekarang, dia masih bertanya sih. Tapi kalau aku jawab "Iya, besok sekolah." Jawabnya "Yeay! I like going to school!"
Ih, senang! Rasanya terbayar semua jerih payah pulang malam di tahun-tahun lalu dan stres-stres mencari sekolah terbaik untuk anak, saat kita tahu si anak menyukai belajar di sekolah. Kayanya, selesai satu PR besar dan berhasil membuat satu langkah untuk masa depannya.
Insya Allah.
Sekarang, selain Malicca juga menikmati sekolahnya; aku juga menikmati saat-saat mengamati Malicca di sekolah. Teman-temannya, cara bermainnya, problem solving skill-nya. All in all, we are all happy. Yeay!
A new habit
I have this new habit every time I dropped off Malicca to school, or picked him up.
I watched him play with his friends, which is a luxury thing I had never experienced before.
Seeing how he interacts with his friends, his problem solving, when he leads, basically his social skill which is very important specially when he is working later on.
Have a nice day, son!
I watched him play with his friends, which is a luxury thing I had never experienced before.
Seeing how he interacts with his friends, his problem solving, when he leads, basically his social skill which is very important specially when he is working later on.
Have a nice day, son!
Confession of a now working mother then a full-time housewife
Whether it is a syndrome or not, I do not know.
Today is my third week being a full-time house wife, yet my verdict on my first week has not change. That being a full-time house wife requires more than 24 hours a day because they are so much things to do. Thus, made me a little bit 'jet-lag' in the first place. I might still am.
Do you know what I had in mind before I decided to quit my job?I wanted to be a full-time mother and have a simpler life. I wanted to go freelancing and work anyway and whenever I like. It turns out that things are not as easy as I thought they were.
Now I realize that by being a full-time working mother, I had a so much simpler life. Every time I woke up in the morning, I already know what I had to do. Like a machine (in a positive sense), I had time slots for everything I had to do and controlled them. I dropped my kid to school, went to the office, worked, had lunch, had meetings and went back home. I cannot deny they were numerous 'me-time' timing in between the slots therefore I could tweet, I could read a book, I could browse, I could stop-by to a near store and bought (many times) unimportant stuffs, I even had more time to update my blog.
Why simpler? because I saw what I saw, and what I saw was me.
I made menus for Titan's lunch and handed over to the caregiver at home (which was my mom) and there went off one of my worries that day. I dropped my kid to school and handed over to the teacher. Once again, there poof one of my obligations that day. Unless I had a call from my son or regarding my son or parents, I assumed everything was okay and continued my life that day and drowned with piles of jobs and colleagues and personal plans for the day. When I got home, the timing was not enough if I demanded everyone to pack every details in the form of 'The story of the day' and we all chose to have a little chat or light games or watched movie and we went to sleep. A discussion required for serious matters, and nothing was so serious unless it had to do with health, career or big family members.
I knew I only had 24 hours. When the time slots filled and today's checklists were checked, I gained the peacefulness of the day.
Now, I see everything what I left behind if I went to work back then. In details. But I cannot see them with professional point of view like how I used to see things at work.
I see my son's face expression if he has to go to school. I see his face when I pick him up. I see dust on the top of the table and bread crumbs on the carpet. I see my elderly. I see the fading out paint on the wall. I see the dirty laundry. I think of menus to cook. I see my piles of to-be-read books. I see teary eyes of my son's because of his school friends. I see the weed wildly grows in the back yard. I see the pets need food and drink.
I hardly see me. I see many things to do and many things I can do, and I know 24 hours is not enough.
Back to my hypothesis of having a simpler life by becoming a full-time house wife, yet I get the antithesis.
How can you expect emotion will be simpler than your professionalism? And life, is never simpler when you see other things compare to when you see yourself (and this thought leads me to another question - why we often see our self in the most delicate way - But I will not talk about this on this post).
Anyways, to me, being a full-time working mother or being a full-time house wife; no one is better than the others. It is just a choice you can make, just like any other choices in your life. I
Today is my third week being a full-time house wife, yet my verdict on my first week has not change. That being a full-time house wife requires more than 24 hours a day because they are so much things to do. Thus, made me a little bit 'jet-lag' in the first place. I might still am.
Do you know what I had in mind before I decided to quit my job?I wanted to be a full-time mother and have a simpler life. I wanted to go freelancing and work anyway and whenever I like. It turns out that things are not as easy as I thought they were.
Now I realize that by being a full-time working mother, I had a so much simpler life. Every time I woke up in the morning, I already know what I had to do. Like a machine (in a positive sense), I had time slots for everything I had to do and controlled them. I dropped my kid to school, went to the office, worked, had lunch, had meetings and went back home. I cannot deny they were numerous 'me-time' timing in between the slots therefore I could tweet, I could read a book, I could browse, I could stop-by to a near store and bought (many times) unimportant stuffs, I even had more time to update my blog.
Why simpler? because I saw what I saw, and what I saw was me.
I made menus for Titan's lunch and handed over to the caregiver at home (which was my mom) and there went off one of my worries that day. I dropped my kid to school and handed over to the teacher. Once again, there poof one of my obligations that day. Unless I had a call from my son or regarding my son or parents, I assumed everything was okay and continued my life that day and drowned with piles of jobs and colleagues and personal plans for the day. When I got home, the timing was not enough if I demanded everyone to pack every details in the form of 'The story of the day' and we all chose to have a little chat or light games or watched movie and we went to sleep. A discussion required for serious matters, and nothing was so serious unless it had to do with health, career or big family members.
I knew I only had 24 hours. When the time slots filled and today's checklists were checked, I gained the peacefulness of the day.
Now, I see everything what I left behind if I went to work back then. In details. But I cannot see them with professional point of view like how I used to see things at work.
I see my son's face expression if he has to go to school. I see his face when I pick him up. I see dust on the top of the table and bread crumbs on the carpet. I see my elderly. I see the fading out paint on the wall. I see the dirty laundry. I think of menus to cook. I see my piles of to-be-read books. I see teary eyes of my son's because of his school friends. I see the weed wildly grows in the back yard. I see the pets need food and drink.
I hardly see me. I see many things to do and many things I can do, and I know 24 hours is not enough.
Back to my hypothesis of having a simpler life by becoming a full-time house wife, yet I get the antithesis.
How can you expect emotion will be simpler than your professionalism? And life, is never simpler when you see other things compare to when you see yourself (and this thought leads me to another question - why we often see our self in the most delicate way - But I will not talk about this on this post).
Anyways, to me, being a full-time working mother or being a full-time house wife; no one is better than the others. It is just a choice you can make, just like any other choices in your life. I
![]() |
| My weekdays after advertising life, so far. |
Welcome definitely maybe!
“Leaving your
comfort zone is not easy and it is only for the bravery.” For me, those who
support them to leave the comfort zone, is even braver.”
Setelah hampir
12 tahun bekerja di dunia korporat periklanan, finally… yes I finally resigned
and decided to be a freelance copywriter instead. Sebenarnya kepinginnya sih
udah sejak dua tahun lalu ya. Tapi karena beribu dan lain hal termasuk
ketidakberanian diri ini untuk memasuki lembah ketidakpastian finansial,
akhirnya tertunda-tunda. Tapi kali ini, I made up my mind.
Aneh
sebenarnya saat aku mengambil keputusan ini. Unlikely what I always did, to
make plans, kali ini aku ambil keputusan tanpa punya long term plan akan apa
yang akan aku lakukan setelah kehidupan bekerja full time. Yang aku tahu saat
itu adalah, aku sebaiknya berhenti dulu bekerja.
Sebenarnya,
keputusan ini juga enggak yakin-yakin banget waktu memutuskannya. Tentu faktor utamanya
adalah kemandirian finansial. Ya iyalah ya, udah lebih dari satu dekade terbiasa
menerima uang gaji. Terbiasa punya plan
dan merasa aman karena tahu saat uang habis, pundi akan terisi kembali. But in
the freelancing world, everything is uncertain. That is the part that worried
me much. Secara ya bo, buat perempuan yang penting itu kan kepastian. Kepastian
tuh cowok sayang sama kita atau enggak. Kepastian bakal dikawinin apa enggak
(aih, curcol deh ah hahaha), yang pasti sih kepastian supaya bisa manage
expectation. Karena kuciwa itu aduh ampuuuuun… berat sekali rasanya.
Untungnya,
aku didukung penuh akan keputusanku ini. Dan menurutku, itulah bagian
terpenting saat kita mau ambil langkah penting dalam hidup. Sebenernya bukan hanya
keberanian dari diri, tapi juga dukungan. Dan orang yang mendukung, buat aku
jauh lebih berani daripada orang yang didukung.
Banyak yang tanya
sama aku “So, whats the push button?” Hmmm, sebenarnya karena niatan itu sudah
ada di dalam diri sejak lama. Cuma butuh pemantik untuk menyulut. Dan pemantik
itu adalah satelitku (oh so very typical ya hehehe…) But trust me, it was not
as easy as you thought. Segala sesuatu yang klise itu emang jatuhnya lebih
sulit buat yang ngalamin dan lebih sederhana bagi yang melihatnya.
Triggernya
adalah karena Titan entah kenapa enggak suka dengan sekolahnya. Akibatnya, dia
jadi enggak suka sekolah dan enggak suka yang namanya belajar. Udah gitu,
makannya juga makin susah sampe akhirnya berat badannya enggak nambah-nambah.
Beberapa waktu terakhir ini aku coba untuk ngajak belajar terutama baca dan
berhitung. Ndelalahnya, apa yang aku ajarin justru lebih masuk dan dia lebih
suka belajar sama bundanya ini ketimbang belajar di sekolah. Trus kadang di
weekend pun kita masak bareng dan ternyata dia lebih lahap kalau makanannya disiapin
bareng-bareng. Dari situ aku berpikir bahwa mungkin anak ini bukannya enggak
suka belajar dan enggak suka makan, tapi memang enggak banyak orang yang
memahami cara dia belajar dan makan.
Selain itu,
ada juga sih hal-hal yang bikin tekadku makin bulat untuk berhenti dari dunia
korporat. Tapi rahasia dong aaaaaah J
One thing for
sure, I pre-conditioned myself that I will not be a jobless housewife. I am a
work from home mother. I will have working hours and I have to create something
within the hours, be it freelancing jobs or writing.
So yes, this
is my last day working in a corporate advertising and I am sad yet happy yet
anxious yet overwhelm… it is a Berty Bott’s three flavor taste candy. What would happen next? I do not know. What if I fail? What if I not. Will I be back to corporate life someday? Maybe. Will I be happier? Maybe. Uh oh, ... just wish me luck!
![]() |
Common Sense
Sekarang ini,
kita mungkin lebih tau gimana cara install iPhone pertama kali. Lebih ngerti langkah-langkah untuk nge-jailbreak. Lebih
pengen ngulik gimana caranya bikin website sendiri dengan semua Content
Managementnya. Lebih tau account twitter siapa yang bisa kasih link bagus atau
update tentang pergadgetan, info selebs, komunitas tertentu atau bahkan soal financial
planning dan hukum.
Thanks to
technology, we now know so many many things happening in this world.
Tapi coba deh,
dirasa-rasa lagi. Karena begitu banyaknya ‘ilmu’ atau sebenernya itu adalah
bentuk informasi, seringkali kita malah jadi lupa sama hal-hal basic atau yang
biasa disebut common sense. Dan
ternyata, common sense yang sering kita lupain itu justru kita perluin untuk
kehidupan sehari-hari.
Misalnya, waktu kita ke dokter. Kita tau lah ya, enggak semua
dokter itu bagus. Dan kita
juga tau, enggak semua dokter itu komunikatif; bisa dan mau ngejelasin
sedetil-detilnya tentang penyakit kita. Kadang-kadang kita nurut aja kalo
dikasih obat. Atau bahkan percaya-percaya aja ketika kita divonis satu penyakit
dan salah satu tindakan yang harus kita lakukan adalah operasi.
Sebenernya,
untuk jadi pasien kritis dan pinter salah satunya bisa dengan kembali ke
common sense yang udah dibekali sama guru-guru kita dulu melalui
pelajaran-pelajaran yang mereka ajarin.
Misalnya, virus
itu enggak bisa mati dan enggak bisa diobatin sama antibiotik. Antibiotik cuma
bisa ngebunuh bakteri. Terus misalnya lagi dengan mengenal berbagai sistem di
dalam tubuh kita. Ada sistem pernafasan, ada sistem pencernaan, ada sistem
reproduksi, yang semuanya bekerja dengan sistem masing-masing untuk menyokong kehidupan kita. Jadi, kalau
misalnya dokter bilang ada infeksi di mata trus yang harus dioperasi adalah
bagian pencernaan, yang mana letak dan fungsinya agak berjauhan, kita bisa
mempertanyakan lagi ke dokternya gimana kemungkinan itu bisa terjadi.
Misalnya lagi,
common sense soal listrik yang merambat paling cepat melalui air. Itulah kenapa
kita harus menjaga supaya ujung colokan itu tetap kering.
Misalnya lagi,
kimia asam + kimia basa itu = netral. Jadi kalau misalnya masakan keaseman ya
tinggal dikasih garam untuk mengurangi rasa asemnya. Begitu juga sebaliknya.
Atau saat asam lambung tinggi, ya jangan ditambah makan yang asem-asem. Minum
susu juga enggak akan membantu karena susu lama-lama jadi asam di perut (inget
aja yogurt) dan malah bikin perut makin melilit.
Misalnya lagi,
kalo ngitung keramik lantai ya berdasarkan luas (panjang dikali lebar) dan
kalau ngitung cat rumah ya berdasarkan keliling (2 kali panjang + 2 kali
lebar). Boong aja kalo ada abang-abang yang ngitung keramiknya pake itungan keliling.
Masih banyak
banget sebenernya hal-hal mendasar ilmu pengetahuan yang simple tapi sifatnya absolut, yang
kita sering lupa, tapi sebenernya itu yang bisa jadi bekal supaya kita lebih
waspada. Sering banget (termasuk gue) kita ngeles “Tapi gue anak IPS!” hahahaha… coba inget-inget
lagi, semua itu kita pelajari waktu SD, lho! Jauh sebelum kita memilih (atau
takdir memilihkan) kita masuk jurusan IPA atau IPS :)
Patio
Beside bath room and the corner of our living room, our patio is another part of our house that I love. This empty spacious backyard was nothing until someone enlivened it. It is private, it is green, it is fresh and shady thanks to our mango tree.
This is the place where we have breakfast most often. But what I love the most is, it always ignites good conversation every time we are sitting here.
Always.
This is the place where we have breakfast most often. But what I love the most is, it always ignites good conversation every time we are sitting here.
Always.
Surprise, surprise!
Bukan, bukan. Ini bukan acara Surprise Surprise yang dulu pernah digelar sebuah TV swasta di Indonesia. Tapi rasanya, ... somewhat like it lah :)
So yes, this is our first ride with Mr. Golfie setelah beberapa bulan dia mendekam di garasi. Bukan karena kenapa-kenapa, ya memang kebetulan karena dia ditaro di deretan paling dalam, jadi kita suka agak malas aja makenya. Ditambah lagi, ... dia itu cepet haus. Kurang cocok sama iklim Jakarta yang panas dan macet gini :D
So yes, Titan seneng banget kita mau jalan-jalan ke rumah Andra naik Mr. Golfie. Dia minta buka sun roofnya lah, inilah, itulah, sayang kemudian dia tertidur di tengah perjalanan.
Ada bagusnya juga sih Titan bobo, karena enggak lama setelah bertolak dari rumah, tiba-tiba aku mencium bau hangus tapi kita enggak nemu darimana datangnya. Tapi Bubu memutuskan untuk terus berjalan, dengan mematikan AC. Kebayang deh kalau Titan enggak tidur, pasti protesnya ngalah-ngalahin kepanikan dan panasnya suasana hari itu. Di dahinya, terlihat keringat menetes tes tes karena panasnya. Tapi Titan tetap asyik terlelap. Perjalanan pun terus dilakukan, ... walau terus terang aku jadi sedikit tegang. Bubu juga sih, tapi kayanya dia berusaha untuk tetap t.e.n.a.n.g walaupun aku tahu dia pasti kebat kebit jugaaaaaaaaaa!
Rumahnya Andra itu di daerah Rawamangun. Tepat di depan Orion Plaza, tiba-tiba kita melihat ada sedikit asap putih mulai mengepul memasuki kabin mobil. Asap itu berasal dari sela-sela konsol tengah mobil. O'o, ... dari sedikit panik aku pun mulai panik dan minta Bubu segera menepi. Tapi, ... nekad banget Bubu terus melaju dengan santai karena memang rumahnya Andra a.k.a Bude Santi cuma beberapa kilometer lagi. Tinggal putar balik, belok kiri, belok kiri lagi ... sampe deh!
Dan akhirnya, kita sampai dengan selamat. Sore itu.
Tak lama kemudian, Pakde Iin pun datang. Lalu segera bersama Bubu dan Pakde Indra, mereka semua bongkar mobil. Titan juga ikutan, sih. Dari suaranya yang paling kecil itu, dia teriak-teriak kasih tahu bundanya bahwa yang bermasalah adalah gusi mobil. "Busi, Titan. Bukan gusi." Kata Bubu.
Akhirnya, Bubu dan para Pakde yakin semuanya baik-baik saja dan mobil bisa kita kendarai pulang ke rumah. Sekitar jam sembilan, akhirnya kita pamitan lalu pulang.
Di perjalanan pulang, Titan tidak tidur seperti saat kita berangkat. Jadinya agak-agak bawel gitu deh kenapa ACnya enggak nyala. Untungnya, bisa dikasih sedikit pengertian. Sementara dia asyik dengan suasana langit malam karena sunroof dibuka, mataku tertuju ke arah dashboard dimana navigasi berada. Semuanya aman. Temperatur tetap di angka 90, tidak lagi terlihat adanya asap dari celah-celah dan mobil tetap bisa melaju. Walau kadang lampu peringatan 'Service Now' menyala, tapi kata Bubu itu bukan masalah.
Tiba-tiba, saat kita sedang melaju di jalan Proklamasi, Bubu pun panik dan segera menepi. Aku ingat, kalau lampu yang satu itu sudah menyala, kita hanya punya waktu satu menit untuk segera menepi. Dan menepilah kita, tepat di ujung pertigaan dan sempat membuat orang-orang sedikit kesal. Well, maaf yah mas... darurat nih, plis deh.
Mesin mati and that's it. Nothing we can do, but just waited for help. Bubu segera menelfon Pakde In, dan Pakde In pun segera meluncur ke lokasi dimana kita berada. Titan, anehnya, sama sekali enggak panik. Mungkin karena dia sudah beberapa kali mengalami mobil mogok sebelumnya sama aki dan eyangnya hehehehe. Kalau aku? Nah, ... perempuan yang satu ini memang sangat tidak familiar dengan mobil mogok hihihihi. Bubunya? Ah, dia juga familiar pasti ... cuma malas kalau harus mengalaminya (lagi dan lagi!) hihihihi....
Akhirnya, Bubu menyuruh aku dan Titan untuk pulang duluan naik taksi, sementara menunggu Pakde In. Sampai di rumah, belum aku selesai menerima uang kembalian dari supir taksi, Titan udah lari melesat ke dalam. Alasannya? Mau cerita sama aki mobil VW-nya mogok (-_-")
Bubu pun pulang jam 2 dini hari, tepat seperti perkiraannya. Akhirnya Mr. Golfie pun dikembalikan ke sangkarnya di daerah Pluit. Yang kasihan ya Bubu, karena tidurnya jadi sedikit sementara besok sudah harus kembali bekerja.
So much surprise as the life itself. But as long as we are together, all can pass.
So yes, this is our first ride with Mr. Golfie setelah beberapa bulan dia mendekam di garasi. Bukan karena kenapa-kenapa, ya memang kebetulan karena dia ditaro di deretan paling dalam, jadi kita suka agak malas aja makenya. Ditambah lagi, ... dia itu cepet haus. Kurang cocok sama iklim Jakarta yang panas dan macet gini :D
So yes, Titan seneng banget kita mau jalan-jalan ke rumah Andra naik Mr. Golfie. Dia minta buka sun roofnya lah, inilah, itulah, sayang kemudian dia tertidur di tengah perjalanan.
Ada bagusnya juga sih Titan bobo, karena enggak lama setelah bertolak dari rumah, tiba-tiba aku mencium bau hangus tapi kita enggak nemu darimana datangnya. Tapi Bubu memutuskan untuk terus berjalan, dengan mematikan AC. Kebayang deh kalau Titan enggak tidur, pasti protesnya ngalah-ngalahin kepanikan dan panasnya suasana hari itu. Di dahinya, terlihat keringat menetes tes tes karena panasnya. Tapi Titan tetap asyik terlelap. Perjalanan pun terus dilakukan, ... walau terus terang aku jadi sedikit tegang. Bubu juga sih, tapi kayanya dia berusaha untuk tetap t.e.n.a.n.g walaupun aku tahu dia pasti kebat kebit jugaaaaaaaaaa!
Rumahnya Andra itu di daerah Rawamangun. Tepat di depan Orion Plaza, tiba-tiba kita melihat ada sedikit asap putih mulai mengepul memasuki kabin mobil. Asap itu berasal dari sela-sela konsol tengah mobil. O'o, ... dari sedikit panik aku pun mulai panik dan minta Bubu segera menepi. Tapi, ... nekad banget Bubu terus melaju dengan santai karena memang rumahnya Andra a.k.a Bude Santi cuma beberapa kilometer lagi. Tinggal putar balik, belok kiri, belok kiri lagi ... sampe deh!
Dan akhirnya, kita sampai dengan selamat. Sore itu.
Tak lama kemudian, Pakde Iin pun datang. Lalu segera bersama Bubu dan Pakde Indra, mereka semua bongkar mobil. Titan juga ikutan, sih. Dari suaranya yang paling kecil itu, dia teriak-teriak kasih tahu bundanya bahwa yang bermasalah adalah gusi mobil. "Busi, Titan. Bukan gusi." Kata Bubu.
Akhirnya, Bubu dan para Pakde yakin semuanya baik-baik saja dan mobil bisa kita kendarai pulang ke rumah. Sekitar jam sembilan, akhirnya kita pamitan lalu pulang.
Di perjalanan pulang, Titan tidak tidur seperti saat kita berangkat. Jadinya agak-agak bawel gitu deh kenapa ACnya enggak nyala. Untungnya, bisa dikasih sedikit pengertian. Sementara dia asyik dengan suasana langit malam karena sunroof dibuka, mataku tertuju ke arah dashboard dimana navigasi berada. Semuanya aman. Temperatur tetap di angka 90, tidak lagi terlihat adanya asap dari celah-celah dan mobil tetap bisa melaju. Walau kadang lampu peringatan 'Service Now' menyala, tapi kata Bubu itu bukan masalah.
Tiba-tiba, saat kita sedang melaju di jalan Proklamasi, Bubu pun panik dan segera menepi. Aku ingat, kalau lampu yang satu itu sudah menyala, kita hanya punya waktu satu menit untuk segera menepi. Dan menepilah kita, tepat di ujung pertigaan dan sempat membuat orang-orang sedikit kesal. Well, maaf yah mas... darurat nih, plis deh.
Mesin mati and that's it. Nothing we can do, but just waited for help. Bubu segera menelfon Pakde In, dan Pakde In pun segera meluncur ke lokasi dimana kita berada. Titan, anehnya, sama sekali enggak panik. Mungkin karena dia sudah beberapa kali mengalami mobil mogok sebelumnya sama aki dan eyangnya hehehehe. Kalau aku? Nah, ... perempuan yang satu ini memang sangat tidak familiar dengan mobil mogok hihihihi. Bubunya? Ah, dia juga familiar pasti ... cuma malas kalau harus mengalaminya (lagi dan lagi!) hihihihi....
Akhirnya, Bubu menyuruh aku dan Titan untuk pulang duluan naik taksi, sementara menunggu Pakde In. Sampai di rumah, belum aku selesai menerima uang kembalian dari supir taksi, Titan udah lari melesat ke dalam. Alasannya? Mau cerita sama aki mobil VW-nya mogok (-_-")
Bubu pun pulang jam 2 dini hari, tepat seperti perkiraannya. Akhirnya Mr. Golfie pun dikembalikan ke sangkarnya di daerah Pluit. Yang kasihan ya Bubu, karena tidurnya jadi sedikit sementara besok sudah harus kembali bekerja.
So much surprise as the life itself. But as long as we are together, all can pass.
I have been writing this blog since 2004. Through everything I wrote here start from poems, essays, short stories and sometimes a simple line of quotations, they reflected how I live my life, how I think, and inevitably reflected things or people I loved and enlivened me.
Day by day that went by, they brought me to this day. Just like the sun that always rises in the east. Just like getting to the office to finish yesterday's requests. Just like predictable traffic in Jakarta. Life, apparently, is pretty much a cycle that brings you sometimes up or sometimes down. Many times I feel that what I am feeling now, I have experienced it before. If one or two things keep looping and keep coming to our life, maybe it is a matter of time until we can crack it.
Today, is a new day, but today feels like happening in the past. Like it is happening when I was younger. Then I woke up. Then I felt the beaming light on my window pane. I feel secured, I have my now and then.
Day by day that went by, they brought me to this day. Just like the sun that always rises in the east. Just like getting to the office to finish yesterday's requests. Just like predictable traffic in Jakarta. Life, apparently, is pretty much a cycle that brings you sometimes up or sometimes down. Many times I feel that what I am feeling now, I have experienced it before. If one or two things keep looping and keep coming to our life, maybe it is a matter of time until we can crack it.
Today, is a new day, but today feels like happening in the past. Like it is happening when I was younger. Then I woke up. Then I felt the beaming light on my window pane. I feel secured, I have my now and then.
Sang Penjaga
"Aku sudah memaafkanmu."Kata perempuan itu. Dan saat itu juga, sebuah pintu entah dari mana datangnya tiba-tiba menganga. Lalu menyemburlah bias-bias cahaya yang mendesing beribu sumpah serapah kepada laki-laki di seberang perempuan itu.
Malam itu begitu gelap. Tidak terdengar apa-apa selain derap suara kaki kuda yang sayup-sayup terdengar di kejauhan, namun tidak pernah terlihat wujudnya. Jalan di depan begitu sempit dan tertutup dengan pasir serta rerumputan kering yang merunduk seolah tergilas oleh kereta-kereta kuda yang tak pernah terlihat itu. Setiap kita menghembus nafas, asap kabut mengepul seolah malam itu begitu dingin. Kadang aku menggigil, tapi karena takut. Kutemukan diriku berkeringat, bukan karena langkahku yang menderu; tapi karena dadaku yang berdentam begitu kencang.
Pernahkah kamu mendengar tentang penjaga perempuan? Bukan, bukan perempuan penjaga. Perempuan penjaga, yang aku tahu, begitu cantik rupanya. Ia menjaga setiap insan di dunia. Dialah ibunda, dialah perempuan penjaga.
Sementara penjaga perempuan, tak terperi rupanya. Kamu tidak akan pernah bisa menduga seperti apa rupa penjagamu karena mereka berbeda-beda, tergantung siapa yang mereka jaga. Dialah bentuk terburuk sekaligus terkuat.
Ya, mereka menjaga setiap perempuan yang berdiri di muka bumi.
Dulunya, mereka adalah doa-doa. Mereka melayang-layang dengan lembut di udara. Seperti ubur-ubur lembut di tengah samudra, berenang-renang kesana kemari tak tentu arah. Menunggu. Kadang mereka menggelitik siapapun yang tak sengaja bersentuhan dengannya. Lalu, saat seorang ibu mengejan untuk mengeluarkan setiap bayi bayi dari rahimnya, leher mereka seperti tercekik. Lalu mereka terenggut dan ikut terlahir bersama bayi-bayi tersebut. Hanya saja, dengan bentuk yang jauh berbeda.
Dulunya, mereka juga adalah penjaga laki-laki. Mereka mengajarkan laki-laki bagaimana untuk menjadi berani dan mengajarkan bagaimana menjaga ibu dan semua perempuan-perempuan yang berdiri di muka bumi. Sayang, mereka lalu terbunuh oleh mimpi. Mimpi-mimpi kotor penuh mani yang menggelontor dan menyebabkan mereka tenggelam. Sejak saat itu, laki-laki ditakdirkan untuk menjaga dirinya sendiri. Ya, sendiri.
Sebagian dari mereka tetap menjaga perempuan. Setiap rasa sakit yang dialami oleh perempuan adalah doa yang membuat mereka semakin kuat. Dan setiap menstruasi, penjaga-penjaga perempuan itu seperti terlahir kembali. Mereka tak pernah mati, dan setia melindungi sang perempuan hingga mereka mati.
Tiba-tiba derap kaki kuda itu mendekat ke telinga. Begitu dekat hingga aku menyadari bahwa itu bukan suara derap kaki. Tapi penggal nafas yang terasa panas dan sayup-sayup terdengar ribuan mulut membisikkan sebuah kata berkali-kali, lagi dan lagi.
"Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati...."
Aku teringat sesaat sebelum aku berada di sini. Aku menangis karena sakit. Aku menangis karena cinta. Dan aku menangis karena aku berhasil memaafkan laki-laki yang berdiri di hadapanku.
Aku memaafkannya, tapi tidak dengan penjaga-penjagaku. Dan saat itulah pintu lorong tiba-tiba terbuka dan membawaku kemari, tempat dimana aku harus berperang dengan penjagaku sendiri.
Malam itu begitu gelap. Tidak terdengar apa-apa selain derap suara kaki kuda yang sayup-sayup terdengar di kejauhan, namun tidak pernah terlihat wujudnya. Jalan di depan begitu sempit dan tertutup dengan pasir serta rerumputan kering yang merunduk seolah tergilas oleh kereta-kereta kuda yang tak pernah terlihat itu. Setiap kita menghembus nafas, asap kabut mengepul seolah malam itu begitu dingin. Kadang aku menggigil, tapi karena takut. Kutemukan diriku berkeringat, bukan karena langkahku yang menderu; tapi karena dadaku yang berdentam begitu kencang.
Pernahkah kamu mendengar tentang penjaga perempuan? Bukan, bukan perempuan penjaga. Perempuan penjaga, yang aku tahu, begitu cantik rupanya. Ia menjaga setiap insan di dunia. Dialah ibunda, dialah perempuan penjaga.
Sementara penjaga perempuan, tak terperi rupanya. Kamu tidak akan pernah bisa menduga seperti apa rupa penjagamu karena mereka berbeda-beda, tergantung siapa yang mereka jaga. Dialah bentuk terburuk sekaligus terkuat.
Ya, mereka menjaga setiap perempuan yang berdiri di muka bumi.
Dulunya, mereka adalah doa-doa. Mereka melayang-layang dengan lembut di udara. Seperti ubur-ubur lembut di tengah samudra, berenang-renang kesana kemari tak tentu arah. Menunggu. Kadang mereka menggelitik siapapun yang tak sengaja bersentuhan dengannya. Lalu, saat seorang ibu mengejan untuk mengeluarkan setiap bayi bayi dari rahimnya, leher mereka seperti tercekik. Lalu mereka terenggut dan ikut terlahir bersama bayi-bayi tersebut. Hanya saja, dengan bentuk yang jauh berbeda.
Dulunya, mereka juga adalah penjaga laki-laki. Mereka mengajarkan laki-laki bagaimana untuk menjadi berani dan mengajarkan bagaimana menjaga ibu dan semua perempuan-perempuan yang berdiri di muka bumi. Sayang, mereka lalu terbunuh oleh mimpi. Mimpi-mimpi kotor penuh mani yang menggelontor dan menyebabkan mereka tenggelam. Sejak saat itu, laki-laki ditakdirkan untuk menjaga dirinya sendiri. Ya, sendiri.
Sebagian dari mereka tetap menjaga perempuan. Setiap rasa sakit yang dialami oleh perempuan adalah doa yang membuat mereka semakin kuat. Dan setiap menstruasi, penjaga-penjaga perempuan itu seperti terlahir kembali. Mereka tak pernah mati, dan setia melindungi sang perempuan hingga mereka mati.
Tiba-tiba derap kaki kuda itu mendekat ke telinga. Begitu dekat hingga aku menyadari bahwa itu bukan suara derap kaki. Tapi penggal nafas yang terasa panas dan sayup-sayup terdengar ribuan mulut membisikkan sebuah kata berkali-kali, lagi dan lagi.
"Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati...."
Aku teringat sesaat sebelum aku berada di sini. Aku menangis karena sakit. Aku menangis karena cinta. Dan aku menangis karena aku berhasil memaafkan laki-laki yang berdiri di hadapanku.
Aku memaafkannya, tapi tidak dengan penjaga-penjagaku. Dan saat itulah pintu lorong tiba-tiba terbuka dan membawaku kemari, tempat dimana aku harus berperang dengan penjagaku sendiri.
![]() |
| Photo by Annie Leibovitz |
To punish or not to punish
“Is it important to make someone feel punished?
Or is it more important for them to solve the mistake he or she has done?”
For kids, doing mistake is a very common thing. Spill over milk, played with your favorite bubble bath, treated your perfume like a room freshener, or simply disobeyed you. Many more things I don’t need to describe, I guess. Yeah, … those things that stood you up :)
For us, their parent, sometimes those were not only mistakes. Those were also things that stood us up. Many times, they were the reasons why we gave punishment to our kids. Reasons why we gave them Time Outs, grounded them for no chocolate or candies, to stay in their room or no TV. I hope none of us ever hit our kids just because.
I was included on those who gave Time Outs to my son, even though I tried to be democratic by letting him pick the spot.
But then I learned that giving Time Outs (or maybe any other form of punishments) was useless. They did not bring my child to higher level in learning life. I found that he did the Time Out just because I said so, not because he knew or understood that he deserved a punishment. Therefore he kept doing the mistake and a Time Out was no longer frightened him. Not only that. The most important is that giving a punishment did not solve the problem.
Then I started to think, “Is it important to make someone feel punished? Or is it more important for them to solve the mistake he or she has done?”
Ever since, I no longer gave my son Time Outs. I started introduced him the logical consequences, of every thing he has done. Good acts, bad acts, every decision we made, everything in life has consequences. Voila, it works better than giving him Time Outs. He learnt his mistakes.
When he became sloppy and spilled his drink, he would take a tissue and wipe it off.
When he bumped his head, he would take the medicated oil himself.
When he refused to eat and kept playing, and his tummy got upset then he got ‘masuk angin’ and couldn’t stop vomiting, he knew he would need to take care all the mess. And he did.
When he did not finish his meal or milk, I told him to never ask for meals / milk for the rest of his life and he should had been grateful of every meals I served him. He (finally) did finish his meals and at the next occasion, he carefully asked for the perfect portion he could finish.
Punishment won’t bring us anywhere, and maybe that is why this country is going nowhere. I hope I can make a little difference for the future, through my kids.
This writing also published here
Or is it more important for them to solve the mistake he or she has done?”
For kids, doing mistake is a very common thing. Spill over milk, played with your favorite bubble bath, treated your perfume like a room freshener, or simply disobeyed you. Many more things I don’t need to describe, I guess. Yeah, … those things that stood you up :)
For us, their parent, sometimes those were not only mistakes. Those were also things that stood us up. Many times, they were the reasons why we gave punishment to our kids. Reasons why we gave them Time Outs, grounded them for no chocolate or candies, to stay in their room or no TV. I hope none of us ever hit our kids just because.
I was included on those who gave Time Outs to my son, even though I tried to be democratic by letting him pick the spot.
But then I learned that giving Time Outs (or maybe any other form of punishments) was useless. They did not bring my child to higher level in learning life. I found that he did the Time Out just because I said so, not because he knew or understood that he deserved a punishment. Therefore he kept doing the mistake and a Time Out was no longer frightened him. Not only that. The most important is that giving a punishment did not solve the problem.
Then I started to think, “Is it important to make someone feel punished? Or is it more important for them to solve the mistake he or she has done?”
Ever since, I no longer gave my son Time Outs. I started introduced him the logical consequences, of every thing he has done. Good acts, bad acts, every decision we made, everything in life has consequences. Voila, it works better than giving him Time Outs. He learnt his mistakes.
When he became sloppy and spilled his drink, he would take a tissue and wipe it off.
When he bumped his head, he would take the medicated oil himself.
When he refused to eat and kept playing, and his tummy got upset then he got ‘masuk angin’ and couldn’t stop vomiting, he knew he would need to take care all the mess. And he did.
When he did not finish his meal or milk, I told him to never ask for meals / milk for the rest of his life and he should had been grateful of every meals I served him. He (finally) did finish his meals and at the next occasion, he carefully asked for the perfect portion he could finish.
Punishment won’t bring us anywhere, and maybe that is why this country is going nowhere. I hope I can make a little difference for the future, through my kids.
This writing also published here
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
It’s been years. Probably, … eight years. We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit. But after weeks of considera...
-
Di suatu malam yang sunyi dan dingin, langit begitu gelap. Namun, ada seorang wanita yang tidak dapat terlelap. Dari semua mimpi yang tela...


















