Beside bath room and the corner of our living room, our patio is another part of our house that I love. This empty spacious backyard was nothing until someone enlivened it. It is private, it is green, it is fresh and shady thanks to our mango tree.
This is the place where we have breakfast most often. But what I love the most is, it always ignites good conversation every time we are sitting here.
Always.
Surprise, surprise!
Bukan, bukan. Ini bukan acara Surprise Surprise yang dulu pernah digelar sebuah TV swasta di Indonesia. Tapi rasanya, ... somewhat like it lah :)
So yes, this is our first ride with Mr. Golfie setelah beberapa bulan dia mendekam di garasi. Bukan karena kenapa-kenapa, ya memang kebetulan karena dia ditaro di deretan paling dalam, jadi kita suka agak malas aja makenya. Ditambah lagi, ... dia itu cepet haus. Kurang cocok sama iklim Jakarta yang panas dan macet gini :D
So yes, Titan seneng banget kita mau jalan-jalan ke rumah Andra naik Mr. Golfie. Dia minta buka sun roofnya lah, inilah, itulah, sayang kemudian dia tertidur di tengah perjalanan.
Ada bagusnya juga sih Titan bobo, karena enggak lama setelah bertolak dari rumah, tiba-tiba aku mencium bau hangus tapi kita enggak nemu darimana datangnya. Tapi Bubu memutuskan untuk terus berjalan, dengan mematikan AC. Kebayang deh kalau Titan enggak tidur, pasti protesnya ngalah-ngalahin kepanikan dan panasnya suasana hari itu. Di dahinya, terlihat keringat menetes tes tes karena panasnya. Tapi Titan tetap asyik terlelap. Perjalanan pun terus dilakukan, ... walau terus terang aku jadi sedikit tegang. Bubu juga sih, tapi kayanya dia berusaha untuk tetap t.e.n.a.n.g walaupun aku tahu dia pasti kebat kebit jugaaaaaaaaaa!
Rumahnya Andra itu di daerah Rawamangun. Tepat di depan Orion Plaza, tiba-tiba kita melihat ada sedikit asap putih mulai mengepul memasuki kabin mobil. Asap itu berasal dari sela-sela konsol tengah mobil. O'o, ... dari sedikit panik aku pun mulai panik dan minta Bubu segera menepi. Tapi, ... nekad banget Bubu terus melaju dengan santai karena memang rumahnya Andra a.k.a Bude Santi cuma beberapa kilometer lagi. Tinggal putar balik, belok kiri, belok kiri lagi ... sampe deh!
Dan akhirnya, kita sampai dengan selamat. Sore itu.
Tak lama kemudian, Pakde Iin pun datang. Lalu segera bersama Bubu dan Pakde Indra, mereka semua bongkar mobil. Titan juga ikutan, sih. Dari suaranya yang paling kecil itu, dia teriak-teriak kasih tahu bundanya bahwa yang bermasalah adalah gusi mobil. "Busi, Titan. Bukan gusi." Kata Bubu.
Akhirnya, Bubu dan para Pakde yakin semuanya baik-baik saja dan mobil bisa kita kendarai pulang ke rumah. Sekitar jam sembilan, akhirnya kita pamitan lalu pulang.
Di perjalanan pulang, Titan tidak tidur seperti saat kita berangkat. Jadinya agak-agak bawel gitu deh kenapa ACnya enggak nyala. Untungnya, bisa dikasih sedikit pengertian. Sementara dia asyik dengan suasana langit malam karena sunroof dibuka, mataku tertuju ke arah dashboard dimana navigasi berada. Semuanya aman. Temperatur tetap di angka 90, tidak lagi terlihat adanya asap dari celah-celah dan mobil tetap bisa melaju. Walau kadang lampu peringatan 'Service Now' menyala, tapi kata Bubu itu bukan masalah.
Tiba-tiba, saat kita sedang melaju di jalan Proklamasi, Bubu pun panik dan segera menepi. Aku ingat, kalau lampu yang satu itu sudah menyala, kita hanya punya waktu satu menit untuk segera menepi. Dan menepilah kita, tepat di ujung pertigaan dan sempat membuat orang-orang sedikit kesal. Well, maaf yah mas... darurat nih, plis deh.
Mesin mati and that's it. Nothing we can do, but just waited for help. Bubu segera menelfon Pakde In, dan Pakde In pun segera meluncur ke lokasi dimana kita berada. Titan, anehnya, sama sekali enggak panik. Mungkin karena dia sudah beberapa kali mengalami mobil mogok sebelumnya sama aki dan eyangnya hehehehe. Kalau aku? Nah, ... perempuan yang satu ini memang sangat tidak familiar dengan mobil mogok hihihihi. Bubunya? Ah, dia juga familiar pasti ... cuma malas kalau harus mengalaminya (lagi dan lagi!) hihihihi....
Akhirnya, Bubu menyuruh aku dan Titan untuk pulang duluan naik taksi, sementara menunggu Pakde In. Sampai di rumah, belum aku selesai menerima uang kembalian dari supir taksi, Titan udah lari melesat ke dalam. Alasannya? Mau cerita sama aki mobil VW-nya mogok (-_-")
Bubu pun pulang jam 2 dini hari, tepat seperti perkiraannya. Akhirnya Mr. Golfie pun dikembalikan ke sangkarnya di daerah Pluit. Yang kasihan ya Bubu, karena tidurnya jadi sedikit sementara besok sudah harus kembali bekerja.
So much surprise as the life itself. But as long as we are together, all can pass.
So yes, this is our first ride with Mr. Golfie setelah beberapa bulan dia mendekam di garasi. Bukan karena kenapa-kenapa, ya memang kebetulan karena dia ditaro di deretan paling dalam, jadi kita suka agak malas aja makenya. Ditambah lagi, ... dia itu cepet haus. Kurang cocok sama iklim Jakarta yang panas dan macet gini :D
So yes, Titan seneng banget kita mau jalan-jalan ke rumah Andra naik Mr. Golfie. Dia minta buka sun roofnya lah, inilah, itulah, sayang kemudian dia tertidur di tengah perjalanan.
Ada bagusnya juga sih Titan bobo, karena enggak lama setelah bertolak dari rumah, tiba-tiba aku mencium bau hangus tapi kita enggak nemu darimana datangnya. Tapi Bubu memutuskan untuk terus berjalan, dengan mematikan AC. Kebayang deh kalau Titan enggak tidur, pasti protesnya ngalah-ngalahin kepanikan dan panasnya suasana hari itu. Di dahinya, terlihat keringat menetes tes tes karena panasnya. Tapi Titan tetap asyik terlelap. Perjalanan pun terus dilakukan, ... walau terus terang aku jadi sedikit tegang. Bubu juga sih, tapi kayanya dia berusaha untuk tetap t.e.n.a.n.g walaupun aku tahu dia pasti kebat kebit jugaaaaaaaaaa!
Rumahnya Andra itu di daerah Rawamangun. Tepat di depan Orion Plaza, tiba-tiba kita melihat ada sedikit asap putih mulai mengepul memasuki kabin mobil. Asap itu berasal dari sela-sela konsol tengah mobil. O'o, ... dari sedikit panik aku pun mulai panik dan minta Bubu segera menepi. Tapi, ... nekad banget Bubu terus melaju dengan santai karena memang rumahnya Andra a.k.a Bude Santi cuma beberapa kilometer lagi. Tinggal putar balik, belok kiri, belok kiri lagi ... sampe deh!
Dan akhirnya, kita sampai dengan selamat. Sore itu.
Tak lama kemudian, Pakde Iin pun datang. Lalu segera bersama Bubu dan Pakde Indra, mereka semua bongkar mobil. Titan juga ikutan, sih. Dari suaranya yang paling kecil itu, dia teriak-teriak kasih tahu bundanya bahwa yang bermasalah adalah gusi mobil. "Busi, Titan. Bukan gusi." Kata Bubu.
Akhirnya, Bubu dan para Pakde yakin semuanya baik-baik saja dan mobil bisa kita kendarai pulang ke rumah. Sekitar jam sembilan, akhirnya kita pamitan lalu pulang.
Di perjalanan pulang, Titan tidak tidur seperti saat kita berangkat. Jadinya agak-agak bawel gitu deh kenapa ACnya enggak nyala. Untungnya, bisa dikasih sedikit pengertian. Sementara dia asyik dengan suasana langit malam karena sunroof dibuka, mataku tertuju ke arah dashboard dimana navigasi berada. Semuanya aman. Temperatur tetap di angka 90, tidak lagi terlihat adanya asap dari celah-celah dan mobil tetap bisa melaju. Walau kadang lampu peringatan 'Service Now' menyala, tapi kata Bubu itu bukan masalah.
Tiba-tiba, saat kita sedang melaju di jalan Proklamasi, Bubu pun panik dan segera menepi. Aku ingat, kalau lampu yang satu itu sudah menyala, kita hanya punya waktu satu menit untuk segera menepi. Dan menepilah kita, tepat di ujung pertigaan dan sempat membuat orang-orang sedikit kesal. Well, maaf yah mas... darurat nih, plis deh.
Mesin mati and that's it. Nothing we can do, but just waited for help. Bubu segera menelfon Pakde In, dan Pakde In pun segera meluncur ke lokasi dimana kita berada. Titan, anehnya, sama sekali enggak panik. Mungkin karena dia sudah beberapa kali mengalami mobil mogok sebelumnya sama aki dan eyangnya hehehehe. Kalau aku? Nah, ... perempuan yang satu ini memang sangat tidak familiar dengan mobil mogok hihihihi. Bubunya? Ah, dia juga familiar pasti ... cuma malas kalau harus mengalaminya (lagi dan lagi!) hihihihi....
Akhirnya, Bubu menyuruh aku dan Titan untuk pulang duluan naik taksi, sementara menunggu Pakde In. Sampai di rumah, belum aku selesai menerima uang kembalian dari supir taksi, Titan udah lari melesat ke dalam. Alasannya? Mau cerita sama aki mobil VW-nya mogok (-_-")
Bubu pun pulang jam 2 dini hari, tepat seperti perkiraannya. Akhirnya Mr. Golfie pun dikembalikan ke sangkarnya di daerah Pluit. Yang kasihan ya Bubu, karena tidurnya jadi sedikit sementara besok sudah harus kembali bekerja.
So much surprise as the life itself. But as long as we are together, all can pass.
I have been writing this blog since 2004. Through everything I wrote here start from poems, essays, short stories and sometimes a simple line of quotations, they reflected how I live my life, how I think, and inevitably reflected things or people I loved and enlivened me.
Day by day that went by, they brought me to this day. Just like the sun that always rises in the east. Just like getting to the office to finish yesterday's requests. Just like predictable traffic in Jakarta. Life, apparently, is pretty much a cycle that brings you sometimes up or sometimes down. Many times I feel that what I am feeling now, I have experienced it before. If one or two things keep looping and keep coming to our life, maybe it is a matter of time until we can crack it.
Today, is a new day, but today feels like happening in the past. Like it is happening when I was younger. Then I woke up. Then I felt the beaming light on my window pane. I feel secured, I have my now and then.
Day by day that went by, they brought me to this day. Just like the sun that always rises in the east. Just like getting to the office to finish yesterday's requests. Just like predictable traffic in Jakarta. Life, apparently, is pretty much a cycle that brings you sometimes up or sometimes down. Many times I feel that what I am feeling now, I have experienced it before. If one or two things keep looping and keep coming to our life, maybe it is a matter of time until we can crack it.
Today, is a new day, but today feels like happening in the past. Like it is happening when I was younger. Then I woke up. Then I felt the beaming light on my window pane. I feel secured, I have my now and then.
Sang Penjaga
"Aku sudah memaafkanmu."Kata perempuan itu. Dan saat itu juga, sebuah pintu entah dari mana datangnya tiba-tiba menganga. Lalu menyemburlah bias-bias cahaya yang mendesing beribu sumpah serapah kepada laki-laki di seberang perempuan itu.
Malam itu begitu gelap. Tidak terdengar apa-apa selain derap suara kaki kuda yang sayup-sayup terdengar di kejauhan, namun tidak pernah terlihat wujudnya. Jalan di depan begitu sempit dan tertutup dengan pasir serta rerumputan kering yang merunduk seolah tergilas oleh kereta-kereta kuda yang tak pernah terlihat itu. Setiap kita menghembus nafas, asap kabut mengepul seolah malam itu begitu dingin. Kadang aku menggigil, tapi karena takut. Kutemukan diriku berkeringat, bukan karena langkahku yang menderu; tapi karena dadaku yang berdentam begitu kencang.
Pernahkah kamu mendengar tentang penjaga perempuan? Bukan, bukan perempuan penjaga. Perempuan penjaga, yang aku tahu, begitu cantik rupanya. Ia menjaga setiap insan di dunia. Dialah ibunda, dialah perempuan penjaga.
Sementara penjaga perempuan, tak terperi rupanya. Kamu tidak akan pernah bisa menduga seperti apa rupa penjagamu karena mereka berbeda-beda, tergantung siapa yang mereka jaga. Dialah bentuk terburuk sekaligus terkuat.
Ya, mereka menjaga setiap perempuan yang berdiri di muka bumi.
Dulunya, mereka adalah doa-doa. Mereka melayang-layang dengan lembut di udara. Seperti ubur-ubur lembut di tengah samudra, berenang-renang kesana kemari tak tentu arah. Menunggu. Kadang mereka menggelitik siapapun yang tak sengaja bersentuhan dengannya. Lalu, saat seorang ibu mengejan untuk mengeluarkan setiap bayi bayi dari rahimnya, leher mereka seperti tercekik. Lalu mereka terenggut dan ikut terlahir bersama bayi-bayi tersebut. Hanya saja, dengan bentuk yang jauh berbeda.
Dulunya, mereka juga adalah penjaga laki-laki. Mereka mengajarkan laki-laki bagaimana untuk menjadi berani dan mengajarkan bagaimana menjaga ibu dan semua perempuan-perempuan yang berdiri di muka bumi. Sayang, mereka lalu terbunuh oleh mimpi. Mimpi-mimpi kotor penuh mani yang menggelontor dan menyebabkan mereka tenggelam. Sejak saat itu, laki-laki ditakdirkan untuk menjaga dirinya sendiri. Ya, sendiri.
Sebagian dari mereka tetap menjaga perempuan. Setiap rasa sakit yang dialami oleh perempuan adalah doa yang membuat mereka semakin kuat. Dan setiap menstruasi, penjaga-penjaga perempuan itu seperti terlahir kembali. Mereka tak pernah mati, dan setia melindungi sang perempuan hingga mereka mati.
Tiba-tiba derap kaki kuda itu mendekat ke telinga. Begitu dekat hingga aku menyadari bahwa itu bukan suara derap kaki. Tapi penggal nafas yang terasa panas dan sayup-sayup terdengar ribuan mulut membisikkan sebuah kata berkali-kali, lagi dan lagi.
"Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati...."
Aku teringat sesaat sebelum aku berada di sini. Aku menangis karena sakit. Aku menangis karena cinta. Dan aku menangis karena aku berhasil memaafkan laki-laki yang berdiri di hadapanku.
Aku memaafkannya, tapi tidak dengan penjaga-penjagaku. Dan saat itulah pintu lorong tiba-tiba terbuka dan membawaku kemari, tempat dimana aku harus berperang dengan penjagaku sendiri.
Malam itu begitu gelap. Tidak terdengar apa-apa selain derap suara kaki kuda yang sayup-sayup terdengar di kejauhan, namun tidak pernah terlihat wujudnya. Jalan di depan begitu sempit dan tertutup dengan pasir serta rerumputan kering yang merunduk seolah tergilas oleh kereta-kereta kuda yang tak pernah terlihat itu. Setiap kita menghembus nafas, asap kabut mengepul seolah malam itu begitu dingin. Kadang aku menggigil, tapi karena takut. Kutemukan diriku berkeringat, bukan karena langkahku yang menderu; tapi karena dadaku yang berdentam begitu kencang.
Pernahkah kamu mendengar tentang penjaga perempuan? Bukan, bukan perempuan penjaga. Perempuan penjaga, yang aku tahu, begitu cantik rupanya. Ia menjaga setiap insan di dunia. Dialah ibunda, dialah perempuan penjaga.
Sementara penjaga perempuan, tak terperi rupanya. Kamu tidak akan pernah bisa menduga seperti apa rupa penjagamu karena mereka berbeda-beda, tergantung siapa yang mereka jaga. Dialah bentuk terburuk sekaligus terkuat.
Ya, mereka menjaga setiap perempuan yang berdiri di muka bumi.
Dulunya, mereka adalah doa-doa. Mereka melayang-layang dengan lembut di udara. Seperti ubur-ubur lembut di tengah samudra, berenang-renang kesana kemari tak tentu arah. Menunggu. Kadang mereka menggelitik siapapun yang tak sengaja bersentuhan dengannya. Lalu, saat seorang ibu mengejan untuk mengeluarkan setiap bayi bayi dari rahimnya, leher mereka seperti tercekik. Lalu mereka terenggut dan ikut terlahir bersama bayi-bayi tersebut. Hanya saja, dengan bentuk yang jauh berbeda.
Dulunya, mereka juga adalah penjaga laki-laki. Mereka mengajarkan laki-laki bagaimana untuk menjadi berani dan mengajarkan bagaimana menjaga ibu dan semua perempuan-perempuan yang berdiri di muka bumi. Sayang, mereka lalu terbunuh oleh mimpi. Mimpi-mimpi kotor penuh mani yang menggelontor dan menyebabkan mereka tenggelam. Sejak saat itu, laki-laki ditakdirkan untuk menjaga dirinya sendiri. Ya, sendiri.
Sebagian dari mereka tetap menjaga perempuan. Setiap rasa sakit yang dialami oleh perempuan adalah doa yang membuat mereka semakin kuat. Dan setiap menstruasi, penjaga-penjaga perempuan itu seperti terlahir kembali. Mereka tak pernah mati, dan setia melindungi sang perempuan hingga mereka mati.
Tiba-tiba derap kaki kuda itu mendekat ke telinga. Begitu dekat hingga aku menyadari bahwa itu bukan suara derap kaki. Tapi penggal nafas yang terasa panas dan sayup-sayup terdengar ribuan mulut membisikkan sebuah kata berkali-kali, lagi dan lagi.
"Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati...."
Aku teringat sesaat sebelum aku berada di sini. Aku menangis karena sakit. Aku menangis karena cinta. Dan aku menangis karena aku berhasil memaafkan laki-laki yang berdiri di hadapanku.
Aku memaafkannya, tapi tidak dengan penjaga-penjagaku. Dan saat itulah pintu lorong tiba-tiba terbuka dan membawaku kemari, tempat dimana aku harus berperang dengan penjagaku sendiri.
![]() |
| Photo by Annie Leibovitz |
To punish or not to punish
“Is it important to make someone feel punished?
Or is it more important for them to solve the mistake he or she has done?”
For kids, doing mistake is a very common thing. Spill over milk, played with your favorite bubble bath, treated your perfume like a room freshener, or simply disobeyed you. Many more things I don’t need to describe, I guess. Yeah, … those things that stood you up :)
For us, their parent, sometimes those were not only mistakes. Those were also things that stood us up. Many times, they were the reasons why we gave punishment to our kids. Reasons why we gave them Time Outs, grounded them for no chocolate or candies, to stay in their room or no TV. I hope none of us ever hit our kids just because.
I was included on those who gave Time Outs to my son, even though I tried to be democratic by letting him pick the spot.
But then I learned that giving Time Outs (or maybe any other form of punishments) was useless. They did not bring my child to higher level in learning life. I found that he did the Time Out just because I said so, not because he knew or understood that he deserved a punishment. Therefore he kept doing the mistake and a Time Out was no longer frightened him. Not only that. The most important is that giving a punishment did not solve the problem.
Then I started to think, “Is it important to make someone feel punished? Or is it more important for them to solve the mistake he or she has done?”
Ever since, I no longer gave my son Time Outs. I started introduced him the logical consequences, of every thing he has done. Good acts, bad acts, every decision we made, everything in life has consequences. Voila, it works better than giving him Time Outs. He learnt his mistakes.
When he became sloppy and spilled his drink, he would take a tissue and wipe it off.
When he bumped his head, he would take the medicated oil himself.
When he refused to eat and kept playing, and his tummy got upset then he got ‘masuk angin’ and couldn’t stop vomiting, he knew he would need to take care all the mess. And he did.
When he did not finish his meal or milk, I told him to never ask for meals / milk for the rest of his life and he should had been grateful of every meals I served him. He (finally) did finish his meals and at the next occasion, he carefully asked for the perfect portion he could finish.
Punishment won’t bring us anywhere, and maybe that is why this country is going nowhere. I hope I can make a little difference for the future, through my kids.
This writing also published here
Or is it more important for them to solve the mistake he or she has done?”
For kids, doing mistake is a very common thing. Spill over milk, played with your favorite bubble bath, treated your perfume like a room freshener, or simply disobeyed you. Many more things I don’t need to describe, I guess. Yeah, … those things that stood you up :)
For us, their parent, sometimes those were not only mistakes. Those were also things that stood us up. Many times, they were the reasons why we gave punishment to our kids. Reasons why we gave them Time Outs, grounded them for no chocolate or candies, to stay in their room or no TV. I hope none of us ever hit our kids just because.
I was included on those who gave Time Outs to my son, even though I tried to be democratic by letting him pick the spot.
But then I learned that giving Time Outs (or maybe any other form of punishments) was useless. They did not bring my child to higher level in learning life. I found that he did the Time Out just because I said so, not because he knew or understood that he deserved a punishment. Therefore he kept doing the mistake and a Time Out was no longer frightened him. Not only that. The most important is that giving a punishment did not solve the problem.
Then I started to think, “Is it important to make someone feel punished? Or is it more important for them to solve the mistake he or she has done?”
Ever since, I no longer gave my son Time Outs. I started introduced him the logical consequences, of every thing he has done. Good acts, bad acts, every decision we made, everything in life has consequences. Voila, it works better than giving him Time Outs. He learnt his mistakes.
When he became sloppy and spilled his drink, he would take a tissue and wipe it off.
When he bumped his head, he would take the medicated oil himself.
When he refused to eat and kept playing, and his tummy got upset then he got ‘masuk angin’ and couldn’t stop vomiting, he knew he would need to take care all the mess. And he did.
When he did not finish his meal or milk, I told him to never ask for meals / milk for the rest of his life and he should had been grateful of every meals I served him. He (finally) did finish his meals and at the next occasion, he carefully asked for the perfect portion he could finish.
Punishment won’t bring us anywhere, and maybe that is why this country is going nowhere. I hope I can make a little difference for the future, through my kids.
This writing also published here
To punish or not to punish
“How important is it to make someone feel punished?
Or is it more important for them to solve the mistake he or she has done?"
For kids, doing mistake is a very common thing. Spill over milk, played with your favorite bubble bath, treated your perfume like a room freshener, or simply disobeyed you. Many more things I don’t need to describe, I guess. Yeah, … those things that stood you up :)
For us, their parent, sometimes those were not only mistakes. Those were also things that stood us up. Many times, they were the reasons why we gave punishment to our kids. Reasons why we gave them Time Outs, grounded them for no chocolate or candies, to stay in their room or no TV. I hope none of us ever hit our kids just because.
I was included on those who gave Time Outs to my son, even though I tried to be democratic by letting him pick the spot.
But then I learned that giving Time Outs (or maybe any other form of punishments) was useless. They did not bring my child to higher level in learning life. I found that he did the Time Out just because I said so, not because he knew or understood that he deserved a punishment. Therefore he kept doing the mistake and a Time Out was no longer frightened him. Not only that. The most important is that giving a punishment did not solve the problem.
Then I started to think, “Is it important to make someone feel punished? Or is it more important for them to solve the mistake he or she has done?”
Ever since, I no longer gave my son Time Outs. I started introduced him the logical consequences, of every thing he has done. Good acts, bad acts, every decision we made, everything in life has consequences.
Voila, it works better than giving him Time Outs. He learnt his mistakes.
When he became sloppy and spilled his drink, he would take a tissue and wipe it off.
When I warned him to stop jumping around and he ended up bumped his head, he would take the medicated oil himself.
When he accidentally hurt someone, he would ask for an apology PLUS "What should I do to make you feel better" question. Yes, I taught him that because I know saying sorry (many times) do not solve anything. But there are always things we can do to make people feel better.
When he refused to eat and kept playing, and his tummy got upset then he got ‘masuk angin’ and couldn’t stop vomiting, he knew he would need to take care all the mess. And he did.
When he did not finish his meal or milk, I told him to never ask for meals / milk for the rest of his life and he should had been grateful of every meals I served him. He (finally) did finish his meals and at the next occasion, he carefully asked for the perfect portion he could finish.
Punishment won’t bring us anywhere, and maybe that is why this country is going nowhere. I hope I can make a little difference for the future, by teaching my kids to be responsible of all things he has done.
... me lately.
From the heart
I have been running this motherhood blog for about eight months, but never I wrote about myself. Since today is pretty breezy, work is not really piling up and I am quite in the mood, ... I think its a good day to start sharing you of who I am.
I am the mother of Malicca Titan, a boy who just hit 5 yesterday. I am basically an ordinary mother who is trying to be extra ordinary. But then I know, being a capable mother is way harder than being extraordinaire. I don't have any particular role model of parenting style. I just ask a lot, browse a lot, discuss alot and confirming alot. In the end, I take all the good parts that is suitable and doable for me and my son.
My concept in parenting is simple: I want my son to know what he wants and be responsible of his decision. Having said that, my task as a parent should be simple too. That is to give him as much choices as I can so he can scan all possibilities, think all the good and bad, rank the priorities, decide and take the consequences. Sounds simple though, but trust me... it is not :)
I am a single parent. I juggle between working in an advertising agency and home. I am the custodian but I never close or limit his father's access to him. And for a custodian, it is important for me to keep earning. Not only money, but also to earn more time to be with my child. So, ... since I split up with my former husband; it is a bit hard to hang out with my friends because I have to make time for my son. Some people think that I have been an outcast and pulling my self out of the world since the divorce. Or get traumatized.
The truth is, I am not. I get on my life; it is just things are not the same anymore. For the first time, being a single parent is like you accidentally lost one of your leg but you have to keep running maintaining the same speed to get the targetted destination you already set when you were having two legs. I was imbalance for the first couple of months, physically and emotionally, thank God I have the best support system that kept me on track.
I tried a few times to hang out with some friends after office hours, but it felt like my mind wasn't there because I kept thinking of my son at home. Then I already sleepy at ten (maybe because I put Malicca sleep at 9 and most of the times i got slept too). Then I got myself easily lost on the conversation and I would feel awkward even more. So, now I prefer to go straight home after office. Cook dinner or snacks together and watch Disney Junior with my satellite. Living in this digital world, having a chat with my friends are pretty handy through whatsapp, messenger or twitter. I am sure if they are my truly friends (and they really are), they will understand if I cannot join them for brewing coffee.
I am the mother of Malicca Titan, a boy who just hit 5 yesterday. I am basically an ordinary mother who is trying to be extra ordinary. But then I know, being a capable mother is way harder than being extraordinaire. I don't have any particular role model of parenting style. I just ask a lot, browse a lot, discuss alot and confirming alot. In the end, I take all the good parts that is suitable and doable for me and my son.
My concept in parenting is simple: I want my son to know what he wants and be responsible of his decision. Having said that, my task as a parent should be simple too. That is to give him as much choices as I can so he can scan all possibilities, think all the good and bad, rank the priorities, decide and take the consequences. Sounds simple though, but trust me... it is not :)
I am a single parent. I juggle between working in an advertising agency and home. I am the custodian but I never close or limit his father's access to him. And for a custodian, it is important for me to keep earning. Not only money, but also to earn more time to be with my child. So, ... since I split up with my former husband; it is a bit hard to hang out with my friends because I have to make time for my son. Some people think that I have been an outcast and pulling my self out of the world since the divorce. Or get traumatized.
The truth is, I am not. I get on my life; it is just things are not the same anymore. For the first time, being a single parent is like you accidentally lost one of your leg but you have to keep running maintaining the same speed to get the targetted destination you already set when you were having two legs. I was imbalance for the first couple of months, physically and emotionally, thank God I have the best support system that kept me on track.
I tried a few times to hang out with some friends after office hours, but it felt like my mind wasn't there because I kept thinking of my son at home. Then I already sleepy at ten (maybe because I put Malicca sleep at 9 and most of the times i got slept too). Then I got myself easily lost on the conversation and I would feel awkward even more. So, now I prefer to go straight home after office. Cook dinner or snacks together and watch Disney Junior with my satellite. Living in this digital world, having a chat with my friends are pretty handy through whatsapp, messenger or twitter. I am sure if they are my truly friends (and they really are), they will understand if I cannot join them for brewing coffee.
I live in Jakarta, the capital city of Indonesia. To some people, this is the city of dreams. But not for me. Jakarta's air is highly polluted, the traffic is very bad and we don't have any public open space for my son to play. The museums are not really well-maintained and there are so little entertainment except malls. For education, Indonesia doesn't have a good and credible standard. We have so many educational system but there are only few we can trust. To add with, education has being part of capitalism in this country, specially in this city.
But I don't stop there. I keep trying to give better options for my son, because I know complaining won't bring us anywhere. For me, having children is like a second chance for me. Like being reborn to make a better person, to create a better world for us we live in, through my son. How? Teaching by examples, for sure.
I still remember the days when I tried to conceive. I still remember the day I knew I was pregnant. I still remember the day when I delivered Malicca. But I hardly remember those sleepless nights having a baby or when he was sick. Now my satellite is five. When a baby was born, I was also reborn as a mother.
Thank you for making me stronger. Happy 5th birthday, son!
Thank you for making me stronger. Happy 5th birthday, son!
Malicca mau lima
Dulu, suka gemes sendiri kalo denger cerita tentang seorang anak yang masih aja nyusahin orang tuanya. Beranggapan bahwa hubungan darah orang tua - anak bisa menjadi sangat netral dan objektif, nggak jarang aku suka berkomentar anak-anak yang menyusahkan orang tua tidak perlu dibela oleh orang tuanya itu sendiri.
Tapi sekarang, aku kena tulahnya. Bukan karena Titan nyusahin, tapi lebih ke essens bahwa yang namanya orang tua memang tidak akan pernah bisa melewati edisi tergila-gila anaknya sendiri. Bagaimanapun, yang namanya orang tua ke anak teteeeeeeeeeup aja deh pastinya ngebelain dan mengagumi (walaupun terkadang dengan cara mereka sendiri yang kita tidak tahu).
Dalam waktu kurang dari 8 jam, Titan akan genap berusia 5 tahun. Oh waw... another milestone nih. Masuk TK besar, masuk tahapan yang katanya anak mulai jarang sakit dan tahapan yang katanya tingkah polahnya bakal nyebelin dan memberontak. Untuk yang pertama dan kedua, mari kita amini ajah. Yang ke tiga? Ah, itu mah tergantung anaknya juga. Ada yang manis ya tetep aja manis, ada yang nakal ya emang mungkin dulunya nakal. Etapi ... ya nggak tau ya, semoga Titan tetap jadi anak manis dan tetap bisa diajak ngobrol.
Enggak terasa, udah lima tahun aja. Dan nampaknya edisi tergila-gila anak sendiri ini masih akan terus berlangsung. Masih akan terus foto-fotoin dia, masih akan terus menulis tentang dia dan celotehnya yang... ampuuuuun deh, perasaan dulu gue umur segitu enggak gitu-gitu amat kalo ngejawab :)
Lima tahun, dan anak itu sudah mengalami banyak hal. Semoga diantara semua itu, dia sungguhlah tahu bahwa bundanya yang nyeleneh ini tidak pernah berhenti berpikir dan berbuat apapun caranya supaya dia bahagia. Supaya dia sehat wal afiat dan bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik nantinya.
Amin.
Tapi sekarang, aku kena tulahnya. Bukan karena Titan nyusahin, tapi lebih ke essens bahwa yang namanya orang tua memang tidak akan pernah bisa melewati edisi tergila-gila anaknya sendiri. Bagaimanapun, yang namanya orang tua ke anak teteeeeeeeeeup aja deh pastinya ngebelain dan mengagumi (walaupun terkadang dengan cara mereka sendiri yang kita tidak tahu).
Dalam waktu kurang dari 8 jam, Titan akan genap berusia 5 tahun. Oh waw... another milestone nih. Masuk TK besar, masuk tahapan yang katanya anak mulai jarang sakit dan tahapan yang katanya tingkah polahnya bakal nyebelin dan memberontak. Untuk yang pertama dan kedua, mari kita amini ajah. Yang ke tiga? Ah, itu mah tergantung anaknya juga. Ada yang manis ya tetep aja manis, ada yang nakal ya emang mungkin dulunya nakal. Etapi ... ya nggak tau ya, semoga Titan tetap jadi anak manis dan tetap bisa diajak ngobrol.
Enggak terasa, udah lima tahun aja. Dan nampaknya edisi tergila-gila anak sendiri ini masih akan terus berlangsung. Masih akan terus foto-fotoin dia, masih akan terus menulis tentang dia dan celotehnya yang... ampuuuuun deh, perasaan dulu gue umur segitu enggak gitu-gitu amat kalo ngejawab :)
Lima tahun, dan anak itu sudah mengalami banyak hal. Semoga diantara semua itu, dia sungguhlah tahu bahwa bundanya yang nyeleneh ini tidak pernah berhenti berpikir dan berbuat apapun caranya supaya dia bahagia. Supaya dia sehat wal afiat dan bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik nantinya.
Amin.
Malicca mau lima
Dulu, suka gemes sendiri kalo denger cerita tentang seorang anak yang masih aja nyusahin orang tuanya. Beranggapan bahwa hubungan darah orang tua - anak bisa menjadi sangat netral dan objektif, nggak jarang aku suka berkomentar anak-anak yang menyusahkan orang tua tidak perlu dibela oleh orang tuanya itu sendiri.
Tapi sekarang, aku kena tulahnya. Bukan karena Titan nyusahin, tapi lebih ke essens bahwa yang namanya orang tua memang tidak akan pernah bisa melewati edisi tergila-gila anaknya sendiri. Bagaimanapun, yang namanya orang tua ke anak teteeeeeeeeeup aja deh pastinya ngebelain dan mengagumi (walaupun terkadang dengan cara mereka sendiri yang kita tidak tahu).
Dalam waktu kurang dari 8 jam, Titan akan genap berusia 5 tahun. Oh waw... another milestone nih. Masuk TK besar, masuk tahapan yang katanya anak mulai jarang sakit dan tahapan yang katanya tingkah polahnya bakal nyebelin dan memberontak. Untuk yang pertama dan kedua, mari kita amini ajah. Yang ke tiga? Ah, itu mah tergantung anaknya juga. Ada yang manis ya tetep aja manis, ada yang nakal ya emang mungkin dulunya nakal. Etapi ... ya nggak tau ya, semoga Titan tetap jadi anak manis dan tetap bisa diajak ngobrol.
Enggak terasa, udah lima tahun aja. Dan nampaknya edisi tergila-gila anak sendiri ini masih akan terus berlangsung. Masih akan terus foto-fotoin dia, masih akan terus menulis tentang dia dan celotehnya yang... ampuuuuun deh, perasaan dulu gue umur segitu enggak gitu-gitu amat kalo ngejawab :)
Lima tahun, dan anak itu sudah mengalami banyak hal. Semoga diantara semua itu, dia sungguhlah tahu bahwa bundanya yang nyeleneh ini tidak pernah berhenti berpikir dan berbuat apapun caranya supaya dia bahagia. Supaya dia sehat wal afiat dan bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik nantinya.
Amin.
Tapi sekarang, aku kena tulahnya. Bukan karena Titan nyusahin, tapi lebih ke essens bahwa yang namanya orang tua memang tidak akan pernah bisa melewati edisi tergila-gila anaknya sendiri. Bagaimanapun, yang namanya orang tua ke anak teteeeeeeeeeup aja deh pastinya ngebelain dan mengagumi (walaupun terkadang dengan cara mereka sendiri yang kita tidak tahu).
Dalam waktu kurang dari 8 jam, Titan akan genap berusia 5 tahun. Oh waw... another milestone nih. Masuk TK besar, masuk tahapan yang katanya anak mulai jarang sakit dan tahapan yang katanya tingkah polahnya bakal nyebelin dan memberontak. Untuk yang pertama dan kedua, mari kita amini ajah. Yang ke tiga? Ah, itu mah tergantung anaknya juga. Ada yang manis ya tetep aja manis, ada yang nakal ya emang mungkin dulunya nakal. Etapi ... ya nggak tau ya, semoga Titan tetap jadi anak manis dan tetap bisa diajak ngobrol.
Enggak terasa, udah lima tahun aja. Dan nampaknya edisi tergila-gila anak sendiri ini masih akan terus berlangsung. Masih akan terus foto-fotoin dia, masih akan terus menulis tentang dia dan celotehnya yang... ampuuuuun deh, perasaan dulu gue umur segitu enggak gitu-gitu amat kalo ngejawab :)
Lima tahun, dan anak itu sudah mengalami banyak hal. Semoga diantara semua itu, dia sungguhlah tahu bahwa bundanya yang nyeleneh ini tidak pernah berhenti berpikir dan berbuat apapun caranya supaya dia bahagia. Supaya dia sehat wal afiat dan bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik nantinya.
Amin.
Make friend with Broccoli
Who doesn't like veggie? High five!
Because I don't like veggie, so is my son.
So lately I tried to inhibit habit of eating veggie to Malicca.
Because I am working, breakfast is the only time we can dine together.
So, eating veggie let us in the morning.
The thing about cooking veggie is, it looks simple but it is hard to cook.
Over-cooked will only ruin the vitamins and its colors.
Thanks to Ibu Kembar who gave me the tips to cook sauted broccoli garlic.
And bigger thanks, because Malicca likes it even more.
The steps are easy.
Boil water and cook broccoli until its color becomes darker and a bit soft.
Dry the broccoli and put them on a dish.
Next, get some vegetable oil or olive oil into the frying pan.
Put chopped garlic and saute.
Put a little bit margarine and salt.
Do not wait until the garlic is brown. Brownish color means over-cooked and it tastes a bit bitter.
Cook it half-done then pour the salty margarine sauce onto the broccoli and top with grated cheese if you like.
Sauted broccoli garlic is now ready to be served.
Because I don't like veggie, so is my son.
So lately I tried to inhibit habit of eating veggie to Malicca.
Because I am working, breakfast is the only time we can dine together.
So, eating veggie let us in the morning.
The thing about cooking veggie is, it looks simple but it is hard to cook.
Over-cooked will only ruin the vitamins and its colors.
Thanks to Ibu Kembar who gave me the tips to cook sauted broccoli garlic.
And bigger thanks, because Malicca likes it even more.
The steps are easy.
Boil water and cook broccoli until its color becomes darker and a bit soft.
Dry the broccoli and put them on a dish.
Next, get some vegetable oil or olive oil into the frying pan.
Put chopped garlic and saute.
Put a little bit margarine and salt.
Do not wait until the garlic is brown. Brownish color means over-cooked and it tastes a bit bitter.
Cook it half-done then pour the salty margarine sauce onto the broccoli and top with grated cheese if you like.
Sauted broccoli garlic is now ready to be served.
Let's take a step back
Life should not be that hard. Whether if you are a little kid
and doesn’t know what to do or whether you are old and sick, life could have
been simpler after all.
Why do people get married in the first place? Why do people
have kids in the end? Why do people work for a living, but they don’t have a
life? Why do people busy with themselves and forgetting that they are part of
their family, a root of who they are and where they are from.
Every family has its own story. Like a unique code that’s
entitled on our last name. Unfortunately we only remember the story as opening and ending, leaving the rest as stories of our own.
Why when we reach productive era, we act like there are so
many important things to do? As if we are the president who run the country, as
if someone is going to die if we skip a day from our office. Why do we always
lack of time for our parents as if they will always be young and healthy as
ever?
Our love to our family might last forever, but not their
physical.
Far we have gone, today. Let's take a step back for a while, to embrace where we belong. To be home.
Far we have gone, today. Let's take a step back for a while, to embrace where we belong. To be home.
Amazing
It is amazing how your brain easily forgets the pain as you find a better replacement.
It is amazing how your heart easily forgives as you find a more exciting things that suddenly appear.
And you would laugh yourself, while saying "I have been through that" and feel glad that you turned out fine nonetheless.
God, you have created such a perfect creature called human. They heal themselves.
It is amazing how your heart easily forgives as you find a more exciting things that suddenly appear.
And you would laugh yourself, while saying "I have been through that" and feel glad that you turned out fine nonetheless.
God, you have created such a perfect creature called human. They heal themselves.
What's stopping you?
Is it another
girl? Then you will find physical is forgivable. In time.
Is it money? Then
you will find, talk is the best security you can have in this life. No better
investment than communication with your partner.
Or those little
things like putting down the toilet ring for you? Then you will find there
are many other big things in life you must face.
So, what’s
stopping you from trying harder for someone you love most?
To me, it
is when he decided to quit. Just quit.
Hari ini
Rumah ini luasnya masih sama seperti kemarin, dua hari yang lalu, masih sama seperti pertama kali dibangun. Tidak ada yang bergeser, tidak ada yang mengkisut atau memekar. Tapi entah kenapa, hari ini rasanya seperti rumah ini tiga kali lebih luas. Tiga kali lebih lapang sehingga menyapunya hampir menghabiskan seluruh tenagaku. Entah kenapa, jalinan-jalinan benang pel yang sesungguhnya telah taut menaut tidak bisa segera menyelesaikan mili demi mili lantai ini hingga habislah seluruh tenagaku mengusapnya.
Jari-jariku, tidak habis untuk menghitung berapa jumlah orang yang tinggal di dalamnya. Tapi kenapa nafasku ikut tersengal-sengal mengikuti putaran baling mesin cuci yang menggiling pakaian serasa laundri kelurahan.
Lelah memang lebih cepat terasa dan terasa sesak saat kita merasa sendiri. Ya, ... merasa.
Kalau sakit pun, seringkali sebaris pertanyaan "Gimana, sudah baikkan?" bisa menyembuhkan. Karena kita tahu, kita tidak sendiri. Ada seseorang nun jauh di luar sana yang sedang memikirkan keadaan kita.
Hari yang mendung.
Jari-jariku, tidak habis untuk menghitung berapa jumlah orang yang tinggal di dalamnya. Tapi kenapa nafasku ikut tersengal-sengal mengikuti putaran baling mesin cuci yang menggiling pakaian serasa laundri kelurahan.
Lelah memang lebih cepat terasa dan terasa sesak saat kita merasa sendiri. Ya, ... merasa.
Kalau sakit pun, seringkali sebaris pertanyaan "Gimana, sudah baikkan?" bisa menyembuhkan. Karena kita tahu, kita tidak sendiri. Ada seseorang nun jauh di luar sana yang sedang memikirkan keadaan kita.
Hari yang mendung.
Tentang kita belakangan ini
Pernahlah, sekali atau dua kali mencuri dengar mereka yang
sedang berkeluh kesah tentang pekerjaannya. Lain waktu, tentang bosnya. Atau,
tentang kebijakan perusahaan dimana mereka bekerja. Atau tentang gaji, lembur, banyak macamlah. Hal ini makin
lama makin sering kesebut. Entah karena memang hal ini menjadi problem semua
pegawai tepatnya pekerja di Jakarta, atau memang hal ini sedang berakrab-akrab
ria sama ijk.
Tadi pagi misalnya. Aku mencuri dengar dua orang karyawati
di lift gedung. Si A lagi bercerita kemarin dia jadi ‘tempat sampah’ pacarnya
yang curhat tentang pekerjaannya.
A bilang, lelakinya itu sampai menitikkan air mata (aihhh...) saat
bercerita bahwa dia ditegur oleh atasannya karena datang terlambat. Dia bilang,
dia jarang sekali terlambat. Kalaupun terlambat paling hanya 3 atau 5 menit
dari waktu kerja yang ditentukan (yaitu jam 8). Suatu pagi, dia merasa lapar
sekali. Jadi, sebelum masuk dia mampir sebentar ke warung depan kantor untuk
sarapan. Begitu masuk, jam sudah menunjukkan pukul 08.15 pagi dan ditegurlah ia
oleh sang supervisor. Mutunglah deh. Saat curhat dengan si A itulah akhirnya
cowok itu mengutarakan niatnya untuk berhenti bekerja di perusahaan tersebut.
Dan dengan alasan ‘ketidakbahagiaan’, si A mengizinkan si cowok untuk resign.
Lain waktu lagi, seorang teman curhat juga tentang etos
kerja anak buahnya. Yang mana, sebagian dari mereka tidak memiliki tanggung
jawab dengan pekerjaan mereka. Seringkali beralasan sakit atau saudaranya
meninggal (mungkin untuk yang ke sekian kalinya si nenek atau kakek atau bibi
atau paman meninggal dan dijadikan alasan untuk tidak masuk kantor). Sayangnya, di kantor temenku itu sistemnya kaya mesin. Tiap orang dalam tim mengerjakan pekerjaan yang beda. Jadi kalau ada yang nggak masuk satu orang aja, terhentilah semua prosesnya.
Akhirnya, dengan berat hati temanku harus
memberikan Surat Peringatan kepada anak itu. Yang mana, justru ditantang balik
untuk segera memberikan SP-3 karena sebenarnya dia juga udah nggak betah kerja
di perusahaan tersebut. *Kemudian hening ... krik krik krik....*
Oh, well.
Untuk si A yang menitikkan air mata saat curhat sama
pacarnya, mungkin niatnya untuk resign bukan karena satu hal tersebut. Pasti
ada deh hal lain yang sifatnya akumulatif dan dia udah nggak tahan lagi untuk
menghadapi beban-beban itu. Begitu pula halnya dengan si anak yang minta di
SP-3. Pasti banyak ketidakpuasan atau inspirasi-inspirasi yang terhambat sampai dia udah sebegitu muaknya bekerja di sana.
Pertanyaannya sekarang, apa iya sulit sekali untuk membuat
kita merasa cukup dan terpuaskan?
Ada satu pertanyaan yang menghantui aku waktu aku lagi
asyik metikin rumput liar di halaman rumah minggu lalu. Konon katanya cari kerja itu susah,
tapi kenapa kok nyari pembantu juga minta ampun susah? Apa sebenarnya yang susah itu
adalah nyari orang yang mau kerja?
Apa sebenarnya kita sekarang ini mikirnya mau enaknya aja dan merasa berhak
untuk selalu mendapatkan lebih atas apa yang telah kita kerjakan? Ataukah ego kita ini yang udah tumbuh tambah
besar? Tapi ya itu, cuma ego doang aja yang tambah gede, yang laen nggak ikutan -_-
Dulu, orang tua kita bisa betah puluhan tahun kerja di
kantoran. Entah itu kantor pemerintahan atau swasta. Bukan berarti kita harus stay di perusahaan yang sama sampe puluhan taun, tapi ... apa iya kita kalah kuat mental dibanding mereka?
Atau memang kita, penduduk Jakarta, sudah sebegitu stresnya
dan permasalahan sudah sebegitu kompleksnya sampe hal-hal kecil aja bisa bikin
bête?
Tapi gimana, sebelum ada pilihan musti dikerjain juga, kan?
Dan setiap pilihan yang mementingkan diri sendiri itu, pasti harus ada
kontribusi kepentingan orang lain yang diabaikan. Jadi, sementara belum ada pilihan,
ya sudahlah yah … don’t sweat little things. Otak udah tipis dipake mikir hal-hal
kecil yang bikin kesel tapi skill untuk nyaring prioritas justru nggak diupgrade - upgrade.
Let's just do it, dan kalau bisa, perluas pilihan di tengah jalan.
Ps:
Kita di sini termasuk aku, and this is a little note for
myself as well.
She was a butterfly. She
flew and soared high, too high she burnt her wings
Butterfly never lives long.
But she felt grateful, at least she was once before.
She was not brave. She had
to.
She did not want to be
strong. She had to.
She expected a hero, but her
own shadow left her in the dark.
A faith, was all she got.
“It is hope that make people
live” her father said.
And who are the one you can count on if it is not yourself?
Amongst hard rain and
stormy nights, she always believed there would be sunny day.
If it is not today, it might be tomorrow.
If it is not tomorrow, it will someday.
If it is not today, it might be tomorrow.
If it is not tomorrow, it will someday.
One day, she felt a pain on her back.
They tucked her over and over,
for days and nights she felt the pain of things she could not see.
for days and nights she felt the pain of things she could not see.
She decided to take the feeling for granted.
Like it's just another pain, so what.
Like it will go away as she flushed in the morning.
Like it will be forgotten as she would be distracted with other things.
Like other unfinished business in life.
She just let it be.
She thought she was running in circle.
She was wrong.
That day she knew, the things on her back were the things that would give her another chance
To make a little jump, to somersault in the air, to sing, to have a crash landing in one of those bad days
To live, basically.
They were fluttering wings.
Hmm...
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
It’s been years. Probably, … eight years. We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit. But after weeks of considera...
-
Di suatu malam yang sunyi dan dingin, langit begitu gelap. Namun, ada seorang wanita yang tidak dapat terlelap. Dari semua mimpi yang tela...












