malam, awan dan kamu
Sedang menatap langit malam dan awan-awan tebal yang bergerak cepat menembus remang bulan, berarak sampaikan salam sayang aku untuk kamu.
Sudah siang ...
Bunda:
Titan, bangun yuk! Udah siang ini, sudah jam sembilan.
Titan (bangun dan terduduk diantara bantal dengan mata kriyep-kriyep):
Sudah siang ya, Bunda?
Bunda:
Iya, sudah siang. Enggak sekolah?
Titan:
Kalau gitu Titan tidur siang dulu ya (sambil narik selimut terus tidur lagi)
Bunda:
...
Sudah siang dan tidur siang
Bunda:
Titan, bangun yuk! Udah siang ini, sudah jam sembilan.
Titan (bangun dan terduduk diantara bantal dengan mata kriyep-kriyep):
Sudah siang ya, Bunda?
Bunda:
Iya, sudah siang.
Titan:
Kalau gitu Titan tidur siang dulu ya (sambil narik selimut terus tidur lagi)
Bunda:
...
Rintik
rintik rintik sibuk membisiki malam
menjalin titian antara langit kelam dan tanah yang menghitam
menjembatani malam yang mengelam
dengan dingin yang meniti halus
mengiris-iris malam yang begitu sepi menjadi satuan-satuan waktu yang tak bertepi
rintik yang meniti waktu
tak rela malam menutup mata
hingga bulan menjelma surya
menjalin titian antara langit kelam dan tanah yang menghitam
menjembatani malam yang mengelam
dengan dingin yang meniti halus
mengiris-iris malam yang begitu sepi menjadi satuan-satuan waktu yang tak bertepi
rintik yang meniti waktu
tak rela malam menutup mata
hingga bulan menjelma surya
Biar
Malam ini begitu sepi.
Pikirku.
Oh … tapi ternyata bukan.
Bukan, bukan semesta ini yang menyepi.
Tapi sepertinya diriku yang memilih untuk menutup diri.
Hingga telinga ini tak ingin lagi mendengar,
Mulut pun terkunci rapat tak mampu berujar,
Dan rasa pun mendingin, membeku dan beringsut kaku.
Tak ada kata-kata terjalin, hanya pikiran-pikiran yang meliar tak tentu arah tak jelas ujung dan pangkal.
Sekelebatan, lalu hilang di tikungan.
Kadang merayap pelan, apalagi saat pikirku singgah akan kamu.
Tapi kemudian ia memilih untuk cepat-cepat pergi karena sejenak memikirkan kamu meninggalkan bekas yang tak hilang berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Aku merindukan kamu hingga dadaku sesak.
Itu yang aku tidak mau. Karena pelan-pelan segalanya tentang kamu hanya membunuhku, walau pikiranku selalu menipuku dengan rayuannya, … “Rasa itu hanya akan membuatmu lebih kuat. Bukan membunuhmu.”
Hah, … palsu.
Aku tidak ingin kuat. Aku ingin menjadi lemah. Aku ingin menjadi layu jika aku harus hidup tanpa kamu. Aku ingin merajuk, menangis di pelukmu, dan kamu hanya akan memelukku erat dan mengelus-elus rambutku. Aku tidak ingin bertahan. Aku ingin menyerah. Tapi sekali lagi pikirku bilang “Semua ini hanya akan membuatmu lebih kuat. Bukan membunuhmu.”
Hah, … sekali lagi. Palsu.
Kenapa sih tidak kau biarkan saja?
Biar.
Biar sekali ini saja aku memilih untuk menjadi buta dan tuli.
Karena hanya dengan begitu aku tahu bagaimana rasanya memiliki hati.
Pikirku.
Oh … tapi ternyata bukan.
Bukan, bukan semesta ini yang menyepi.
Tapi sepertinya diriku yang memilih untuk menutup diri.
Hingga telinga ini tak ingin lagi mendengar,
Mulut pun terkunci rapat tak mampu berujar,
Dan rasa pun mendingin, membeku dan beringsut kaku.
Tak ada kata-kata terjalin, hanya pikiran-pikiran yang meliar tak tentu arah tak jelas ujung dan pangkal.
Sekelebatan, lalu hilang di tikungan.
Kadang merayap pelan, apalagi saat pikirku singgah akan kamu.
Tapi kemudian ia memilih untuk cepat-cepat pergi karena sejenak memikirkan kamu meninggalkan bekas yang tak hilang berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Aku merindukan kamu hingga dadaku sesak.
Itu yang aku tidak mau. Karena pelan-pelan segalanya tentang kamu hanya membunuhku, walau pikiranku selalu menipuku dengan rayuannya, … “Rasa itu hanya akan membuatmu lebih kuat. Bukan membunuhmu.”
Hah, … palsu.
Aku tidak ingin kuat. Aku ingin menjadi lemah. Aku ingin menjadi layu jika aku harus hidup tanpa kamu. Aku ingin merajuk, menangis di pelukmu, dan kamu hanya akan memelukku erat dan mengelus-elus rambutku. Aku tidak ingin bertahan. Aku ingin menyerah. Tapi sekali lagi pikirku bilang “Semua ini hanya akan membuatmu lebih kuat. Bukan membunuhmu.”
Hah, … sekali lagi. Palsu.
Kenapa sih tidak kau biarkan saja?
Biar.
Biar sekali ini saja aku memilih untuk menjadi buta dan tuli.
Karena hanya dengan begitu aku tahu bagaimana rasanya memiliki hati.
What I want to be when I grow up
I often have a quiet moment with Titan. One day, it happened on the sofa in the living room. We supposed to watch Handy Manny together, but somehow our mind was wandering off somewhere else. Just like another lame, ordinary, boring mom, I asked him:
"Titan mau jadi apa kalau sudah besar?"
"Jadi Titan."
"Bukan, maksudnya Titan mau jadi dokter, montir, koki, tukang mangga, atau apa nanti kalo udah besar?"
"Mau jadi Titan."
Then i fell into silence for a while. Then I said,
"Oh, ... maksudnya Titan mau jadi diri sendiri. Gitu ya?"
"Iya, Bunda."
Then I hugged him. Tight.
"Titan mau jadi apa kalau sudah besar?"
"Jadi Titan."
"Bukan, maksudnya Titan mau jadi dokter, montir, koki, tukang mangga, atau apa nanti kalo udah besar?"
"Mau jadi Titan."
Then i fell into silence for a while. Then I said,
"Oh, ... maksudnya Titan mau jadi diri sendiri. Gitu ya?"
"Iya, Bunda."
Then I hugged him. Tight.
to be me
I often have a quiet moment with Titan. One day, it happened on the sofa in the living room. We supposed to watch Handy Manny together, but somehow our mind was wandering off somewhere else. Just like another lame, ordinary, boring mom, I asked him:
"Titan mau jadi apa kalau sudah besar?"
"Jadi Titan."
"Bukan, maksudnya Titan mau jadi dokter, montir, koki, tukang mangga, atau apa nanti kalo udah besar?"
"Mau jadi Titan."
Then i fell into silence for a while. Then I said,
"Oh, ... maksudnya Titan mau jadi diri sendiri. Gitu ya?"
"Iya, Bunda."
Then I hugged him. Tight.
"Titan mau jadi apa kalau sudah besar?"
"Jadi Titan."
"Bukan, maksudnya Titan mau jadi dokter, montir, koki, tukang mangga, atau apa nanti kalo udah besar?"
"Mau jadi Titan."
Then i fell into silence for a while. Then I said,
"Oh, ... maksudnya Titan mau jadi diri sendiri. Gitu ya?"
"Iya, Bunda."
Then I hugged him. Tight.
My big little guy
This is my satellite, Malicca Titan Pranisha. His name is taken from one of Saturn’s satellite, Titan. Titan’s (I mean the satellite) material was almost like the earth, only without atmosphere. So, for his parents Titan (I mean my son) is a hope. Just like Titan (might be) could be the next earth, a place where people can live in, for his parents Titan is a hope. He is a second chance to make a better ‘us’. Titan was a second chance anyway. I lost my 6th weeks fetus in gestation about 8 months before Titan. I don’t know was it a she or a he, but my feeling told me that it was a she. I named her Marasthra, it means big star.
Malicca was taken from one of Asmaul Husna, it translates ‘The Almighty’.
Pranisha was a mix of his parent’s name (yeah, I know this is lame, but it is a pact amongst the family that we need to inherit the word ‘Pranis’ in each of our child’s name).
Titan was born after his 38 weeks and 4 days of gestation. I had a 26 hours contraction, managed myself to reach the eighth openings, but had a cesarean in the end. Like his name, Titan loves night sky and everything about the sky. He mistakenly mentions colors up to this moment, but I am proud enough he fluently able to pronounce ‘galaxies’ , ‘clouds’ and can really differentiate which one is Saturn and which one is Neptune. His has fetish on everything about Mercedes and Volkswagen, he has severe allergy on dust, and loves to sing from Barney’s theme song, Twinkle-twinkle little stars and Coldplay’s Viva Lavida (yes, this is influenced by his mom) *wink
One of the beautiful moment happened to me and Titan was when he once saw me cried. He wiped my tears while saying “Why are you crying? Did I do something bad?” He asked naively. And there was nothing I could do unless to hug him. Tight, very tight.
Titan is only a three years old, but he really is my guy. He wipes my tears, he soaped my back and sometimes picks me the clothe I wear to work. When he grows up, grows bigger and taller, I am sure he can be my next possible hero.
Meet my guy!
This is my satellite, Malicca Titan Pranisha. His name is taken from one of Saturn’s satellite, Titan. Titan’s (I mean the satellite) material was almost like the earth, only without atmosphere. So, for his parents Titan (I mean my son) is a hope. Just like Titan (might be) could be the next earth, a place where people can live in, for his parents Titan is a hope. He is a second chance to make a better ‘us’. Titan was a second chance anyway. I lost my 6th weeks fetus in gestation about 8 months before Titan. I don’t know was it a she or a he, but my feeling told me that it was a she. I named her Marasthra, it means big star.
Malicca was taken from one of Asmaul Husna, it translates ‘The Almighty’.
Pranisha was a mix of his parent’s name (yeah, I know this is lame, but it is a pact amongst the family that we need to inherit the word ‘Pranis’ in each of our child’s name).
Titan was born after his 38 weeks and 4 days of gestation. I had a 26 hours contraction, managed myself to reach the eighth openings, but had a cesarean in the end. Like his name, Titan loves night sky and everything about the sky. He mistakenly mentions colors up to this moment, but I am proud enough he fluently able to pronounce ‘galaxies’ , ‘clouds’ and can really differentiate which one is Saturn and which one is Neptune. His has fetish on everything about Mercedes and Volkswagen, he has severe allergy on dust, and loves to sing from Barney’s theme song, Twinkle-twinkle little stars and Coldplay’s Viva Lavida (yes, this is influenced by his mom) *wink
One of the beautiful moment happened to me and Titan was when he once saw me cried. He wiped my tears while saying “Why are you crying? Did I do something bad?” He asked naively. And there was nothing I could do unless to hug him. Tight, very tight.
Titan is only a three years old, but he really is my guy. He wipes my tears, he soaped my back and sometimes picks me the clothe I wear to work. When he grows up, grows bigger and taller, I am sure he can be my next possible hero.
Ingin
Aku ingin menjadi orang terakhir yang kamu lihat sebelum matamu terpejam
dan yang pertama saat matahari mengucap salam
serta diantaranya.
dan yang pertama saat matahari mengucap salam
serta diantaranya.
Ksatria Malam
Surya telah lama padam
Aku berlari menunggang malam
menembus gelap dan dingin yang menghujam
Mataku pun memejam
seketika semua menjadi terang tak lagi kelam
Bayangmulah jubahku
yang menemani deru nafasku yang menderu
akan rindu yang tersemat di dadaku
Berpeta bintang ku melesat terbang
menuju batas yang tak lagi sekedar bayang
Aku berlari menunggang malam
menembus gelap dan dingin yang menghujam
Mataku pun memejam
seketika semua menjadi terang tak lagi kelam
Bayangmulah jubahku
yang menemani deru nafasku yang menderu
akan rindu yang tersemat di dadaku
Berpeta bintang ku melesat terbang
menuju batas yang tak lagi sekedar bayang
Malam ini dan kamu
salam dari malam yang begitu terang
langit tak berbintang, tertutup bulan berpayung bayang
malam ini adalah milikmu, kataku berbisik ke telingamu
maka biarkan aku memuja dan menciumi ujung-ujung jemarimu
ruas demi ruas sampai aku puas
sampai kamu hilang ditelan batas
Terima kasih Tuhan atas gerhana bulan ke-2 tahun ini
langit tak berbintang, tertutup bulan berpayung bayang
malam ini adalah milikmu, kataku berbisik ke telingamu
maka biarkan aku memuja dan menciumi ujung-ujung jemarimu
ruas demi ruas sampai aku puas
sampai kamu hilang ditelan batas
Terima kasih Tuhan atas gerhana bulan ke-2 tahun ini
Asa
Langit itu mendung tapi bukan berarti merundung
Berharap perlahan ia akan memucat dan kabut pun menggulung lalu membubung
Dan hari berselang malam
dengan seribu bintang yang berganti terang
Berharap perlahan ia akan memucat dan kabut pun menggulung lalu membubung
Dan hari berselang malam
dengan seribu bintang yang berganti terang
Kenapa baru hari ini
Aku terus berjalan, kadang cepat kadang perlahan
Lalu sesekali aku berlari
Saat ini, pikirku kamu disini
Hingga suatu hari nanti kamu datang menghampiri
Dan jika saat itu tiba, tolong pastikan aku tidak bertanya
“Kenapa baru hari ini?”
Lalu sesekali aku berlari
Saat ini, pikirku kamu disini
Hingga suatu hari nanti kamu datang menghampiri
Dan jika saat itu tiba, tolong pastikan aku tidak bertanya
“Kenapa baru hari ini?”
Tapi aku tahu
I.
Aku tidak mengenal apa itu musim dingin
Aku tidak pernah melihat butiran salju yang begitu lembut melayang di udara dan terjun perlahan menyapu ujung-ujung bulu mataku
Kukuku tidak pernah membiru
dan jemariku tak pernah bergetar karena rasa menggigil
Tapi aku tahu bagaimana rasanya menjadi beku karena kamu
Kamu hadir di sisi tanpa bicara sepatah kata
Menggerogoti menit demi menit
yang terasa seperti musim dingin seribu tahun yang menggigit
II.
Aku tidak pernah berjudi
Aku tidak tahu bagaimana rasanya hati berkejat, bergetar dan menggelepar
saat dadu dilempar dan berputar
Tapi aku tahu bagaimana rasa sesaknya dada
saat kotak di hadapanku menyapa
Tak ada probabilita
Karena permukaannya selalu sama
Dan setiap sudutnya membuatku bahagia
Aku tidak mengenal apa itu musim dingin
Aku tidak pernah melihat butiran salju yang begitu lembut melayang di udara dan terjun perlahan menyapu ujung-ujung bulu mataku
Kukuku tidak pernah membiru
dan jemariku tak pernah bergetar karena rasa menggigil
Tapi aku tahu bagaimana rasanya menjadi beku karena kamu
Kamu hadir di sisi tanpa bicara sepatah kata
Menggerogoti menit demi menit
yang terasa seperti musim dingin seribu tahun yang menggigit
II.
Aku tidak pernah berjudi
Aku tidak tahu bagaimana rasanya hati berkejat, bergetar dan menggelepar
saat dadu dilempar dan berputar
Tapi aku tahu bagaimana rasa sesaknya dada
saat kotak di hadapanku menyapa
Tak ada probabilita
Karena permukaannya selalu sama
Dan setiap sudutnya membuatku bahagia
Baby I'm cold
Baby, I’m cold.
The wind suffocated me through my very bone and took my crystallized soul
I am lost in the white winterland
I do not know where I stand
How can you run to stand still?
Baby, I’m cold.
The music slowly faded out and I could dance no more
I’d lost my Manolo and stood in barefoot
Stepped on the coldest stone with the whole nerves frozen
How can you talk without a sound?
How can you scream without a raising voice?
How can you roar without sorrow?
Baby, I’m cold.
sent!
sending my dreams in one click away
to let them fly and find their own destiny
let them burn in sun ray
jabbed with the sharpest crystal rain
or
simply survive and float in thin air.
to let them fly and find their own destiny
let them burn in sun ray
jabbed with the sharpest crystal rain
or
simply survive and float in thin air.
Tarian Malam
Aku hitung domba-domba di langit malam, hingga akhirnya mataku pun terpejam. Dan saat itulah gerigi pemutar hari perlahan-lahan berhenti. Sangat perlahan, hingga nafasku pun tertahan. Lalu aku berjingkat pelan.
Tiba-tiba, rintik hujan di luar seketika membisu.
Kusibak tirai di jendela, tampak langit yang begitu kelam menaung malam. Bayang hitam yang selalu mengikuti, entah kemana mereka pergi. Lalu aku bertelanjang kaki, menjejak bumi. Menembus kristal air yang menggantung di udara, suaranya berdentingan jatuh ke tanah membentuk irama. Lalu ku lari secepat angin yang berbisik di sela-sela. Aku berputar, berjingkat dan melompat seperti balerina.
Lalu tibalah aku di sana.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
It’s been years. Probably, … eight years. We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit. But after weeks of considera...
-
Di suatu malam yang sunyi dan dingin, langit begitu gelap. Namun, ada seorang wanita yang tidak dapat terlelap. Dari semua mimpi yang tela...


