It’s been years.
Probably, … eight years.
We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit.
But after weeks of consideration, I finally decided to come here, to Passer baroe, to visit my old friend. Somehow it took me a painful feeling to move my feet toward her house.
I still remember the time I last time I visited her. And I swear to God, I will take care of myself so I don’t have to come here anymore. Cause I am sure, my friend can take care of herself very well.
She didn’t say anything when I said good bye. I mean it. Goodbye means I don’t want to see you again. That’s what mom taught me.
It’s raining outside. Very hard.
I left the office. I ignored jobs. I left my lunch. I am alone but the taxi driver in the middle of the rain, to visit my old friend. And it took us a while to find this house again. The house that I’d visited almost every week for years. Now I forgot where it is. We went to the wrong direction, and I admitted the taxi driver is a brave man. He passes through the ferbodden sign in the middle of the storm. I have to come to see my friend.
Now here I am. In front of the door.
“Welcome and sorry for the mess. Some days it’s even worst” Says the same old tapestry.
I slowly comes in.
This house has so much changed. No more fresh flowers in the living room. No more magz. No more Cable TV. The chair changed, now is a chipo sofa. The posters on the wall, it’s still the same. Now they look so dull. The Jesus is still the same. And it’s the only glossy thing I can see.
Eight years ago. And now I am but an almost 27 years old woman. Married and gain more weight. My old friend is now eight years older, and I am waiting for her to come out.
I have traveled my journey through graduation in academy. Experience my first salary. Get married and lost my baby. And she, … she’s still doing the same thing as she did when I first met her.
I wonder why I didn’t want to visit her again. My friend is a dentist. And I am scared of her.
But today, … I have to.
Oooooooh, … I hate toothache.
And I will have a surgery next week.
“Whoaaaaaaa”
Tersesat
Aku tidak mengerti kenapa aku ada di sini.
Tiba-tiba aku hanya bisa terkaku. Semua di sekelilingku bergerak begitu cepat. Semua suara-suara di sekitarku berteriak hebat. Dimana aku? Kenapa aku di sini? Siapa kamu? Siapa dia? Apakah kamu sama denganku? Aku sibuk mencari jawaban-jawaban, sementara pertanyaan-pertanyaan tak habis-habis menderu. Sekencang angin yang bertiup ke arahku. Seerat jemariku berusaha berpegang.
Berpegang, … ya berpegang.
Tapi apa yang sedang aku pegang? Jemariku memekar. Tulang-tulang lunak yang mengubungkan ruas demi ruas jariku terasa begitu kaku. Seluruh permukaan tubuhku berkeringat. Aku tidak pernah berdiri di permukaan seperti ini. Kaku, keras, ... warnanya bening. Aku bisa melihat apa di balik permukaan ini. Tanah? Dedaunan? Tembok? ... setahuku, tidak seperti ini bentuknya. Air? Ya, beningnya seperti air. Tapi kenapa bentuknya keras? Bukankah air mengalir dan kita tidak akan pernah bisa berdiri di permukaannya? Aku tidak tahu banyak tentang diriku. Tapi aku tahu, pastinya aku bukan Yesus. Maka aku tak mungkin sedang berada di atas air.
Tiba-tiba , … tak ada lagi angin yang menderuku. Tak ada lagi getaran hebat di permukaan tempatku berjejak. Tiba-tiba semuanya berhenti. Aku menunggu sejenak. Dua jenak. Tiga jenak. Empat jenak. Sampai jantungku berhenti berdetak. Sesaat, tidak ada yang bergerak.
Kuberanikan diri untuk membuka mata.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Tiba-tiba kulihat sebuah mata yang begitu besaaaar dan berwarna merah. Ia menatap tajam ke arahku. Cahayanya berpendar, menusuk bola mataku. Aku segera memejamkan mata. Aku takut. Aku menunduk dalam-dalam. Siapakah kamu? Kenapa matamu besar dan berwarna merah seperti itu? Kamukah malaikat pencabut nyawa? Beginikah caramu memberitahu ajalku sudah tiba?
Sejenak kaki dan tanganku melemas. Aku menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dan tak berapa lama, tiba-tiba aku merasa semuanya bergetar kembali. Angin keras menerpa tubuh dan wajahku kembali. Ah, … kakiku hampir tak menjejak!!! Setengah tubuhku terbang ke udara. Keringat mulai mengucur di sekujur tubuhku. Kini posisiku terbalik, kedua kakiku di udara, tangan dan kepalau bertahan di permukaan yang entah apa namanya. Kurentangkan jari-jariku selebar mungkin, dan kutekan ujung-ujung jari supaya angin tak meniupku. Aku belum ingin mati.
Dan di situlah aku melihat sesuatu di balik permukaan bening ini. Aku melihat mata itu lagi. Tapi kali ini ukurannya lebih kecil dan berwarna hitam. Sepasang jumlahnya. Hey, ... mata itu milik seorang perempuan dan ia sedang menunjuk-tunjukkan jarinya ke arahku. Di sampingnya ada seorang laki-laki. Perempuan itu terus menunjuk-tunjuk diriku, sambil mulutnya berkata-kata. Tapi aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti bahasa manusia.
Dan sejak itu, perlahan angin-angin yang menderuku sirna. Mata-mata merah yang memandangku tak ada lagi saat kuberanikan diri untuk membuka mata. Aku hanya mendengar suara berdebam dan setelah itu ... hening.
Inikah kiamat?
Perlahan aku mulai merayap. Lalu kutemukan lembaran daun yang lebar di hadapanku. Kujajaki perlahan dan … hop! Aku berada di puncak dedaunan rimbun yang permukaanya tertutup air embun. Kujulurkan lidahku. Kurasakan gelembung-gelembung itu memecah dan membasahi tenggorokanku. Aku memang tak tahu banyak tentang diriku. Tapi aku tahu, aku sedang menemukan surgaku.
March 22nd, 2006
Tiba-tiba aku hanya bisa terkaku. Semua di sekelilingku bergerak begitu cepat. Semua suara-suara di sekitarku berteriak hebat. Dimana aku? Kenapa aku di sini? Siapa kamu? Siapa dia? Apakah kamu sama denganku? Aku sibuk mencari jawaban-jawaban, sementara pertanyaan-pertanyaan tak habis-habis menderu. Sekencang angin yang bertiup ke arahku. Seerat jemariku berusaha berpegang.
Berpegang, … ya berpegang.
Tapi apa yang sedang aku pegang? Jemariku memekar. Tulang-tulang lunak yang mengubungkan ruas demi ruas jariku terasa begitu kaku. Seluruh permukaan tubuhku berkeringat. Aku tidak pernah berdiri di permukaan seperti ini. Kaku, keras, ... warnanya bening. Aku bisa melihat apa di balik permukaan ini. Tanah? Dedaunan? Tembok? ... setahuku, tidak seperti ini bentuknya. Air? Ya, beningnya seperti air. Tapi kenapa bentuknya keras? Bukankah air mengalir dan kita tidak akan pernah bisa berdiri di permukaannya? Aku tidak tahu banyak tentang diriku. Tapi aku tahu, pastinya aku bukan Yesus. Maka aku tak mungkin sedang berada di atas air.
Tiba-tiba , … tak ada lagi angin yang menderuku. Tak ada lagi getaran hebat di permukaan tempatku berjejak. Tiba-tiba semuanya berhenti. Aku menunggu sejenak. Dua jenak. Tiga jenak. Empat jenak. Sampai jantungku berhenti berdetak. Sesaat, tidak ada yang bergerak.
Kuberanikan diri untuk membuka mata.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Tiba-tiba kulihat sebuah mata yang begitu besaaaar dan berwarna merah. Ia menatap tajam ke arahku. Cahayanya berpendar, menusuk bola mataku. Aku segera memejamkan mata. Aku takut. Aku menunduk dalam-dalam. Siapakah kamu? Kenapa matamu besar dan berwarna merah seperti itu? Kamukah malaikat pencabut nyawa? Beginikah caramu memberitahu ajalku sudah tiba?
Sejenak kaki dan tanganku melemas. Aku menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dan tak berapa lama, tiba-tiba aku merasa semuanya bergetar kembali. Angin keras menerpa tubuh dan wajahku kembali. Ah, … kakiku hampir tak menjejak!!! Setengah tubuhku terbang ke udara. Keringat mulai mengucur di sekujur tubuhku. Kini posisiku terbalik, kedua kakiku di udara, tangan dan kepalau bertahan di permukaan yang entah apa namanya. Kurentangkan jari-jariku selebar mungkin, dan kutekan ujung-ujung jari supaya angin tak meniupku. Aku belum ingin mati.
Dan di situlah aku melihat sesuatu di balik permukaan bening ini. Aku melihat mata itu lagi. Tapi kali ini ukurannya lebih kecil dan berwarna hitam. Sepasang jumlahnya. Hey, ... mata itu milik seorang perempuan dan ia sedang menunjuk-tunjukkan jarinya ke arahku. Di sampingnya ada seorang laki-laki. Perempuan itu terus menunjuk-tunjuk diriku, sambil mulutnya berkata-kata. Tapi aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti bahasa manusia.
Dan sejak itu, perlahan angin-angin yang menderuku sirna. Mata-mata merah yang memandangku tak ada lagi saat kuberanikan diri untuk membuka mata. Aku hanya mendengar suara berdebam dan setelah itu ... hening.
Inikah kiamat?
Perlahan aku mulai merayap. Lalu kutemukan lembaran daun yang lebar di hadapanku. Kujajaki perlahan dan … hop! Aku berada di puncak dedaunan rimbun yang permukaanya tertutup air embun. Kujulurkan lidahku. Kurasakan gelembung-gelembung itu memecah dan membasahi tenggorokanku. Aku memang tak tahu banyak tentang diriku. Tapi aku tahu, aku sedang menemukan surgaku.
March 22nd, 2006
Beautiful
When do you feel beautiful the most? Or when do you feel your girl partner is beautiful the most?
iQbaL: when she tells a truth
Indul: when he says so....??
Ayu'99: bangun tidur, rambutnya alami... jadi banget (brantakannya)
radicalous: when she's with us. the husband and the daughter.
PapaBear: my girls partner is beautiful when I'm "beautiful" to her, if it's something about relationship, it's will valid, why? coz relationship is equal.....
ici_cuit: i feel beautiful the most especially when i'm helping someone and that person smile at me
Djokolelono: when she is sleeping peacefully beside me, with a shadow of a smile from her dream, and her hands still holding me, trusting me.
Jaja: the morning she woke up for our wedding day (even before the makeup)
gitabaik: when i make good deed.
sarah_siahaan: setelah keluar dari salon gue selalu merasa lebih cantik .. efek rambut memang luar biasa, krn kl lg bad hair day, mood gue bisa jelek bgt seharian
lucycakepdeh: I feel beautiful the most : waktu bangun di pagi hari dengan rambut kusut, blom sikat gigi n cuci muka... aku dengar suara suamiku bilang " Met pagi cantik!"
Iman: nemuin gw (msh ngantuk2 gt, bangun tdr cmn cuci muka doang) pas gw samperin ke rumahnya...
alfarani: when I dress up matched , especially if I wear my jilbab nicely... hehee...
jagoan_tembem: kalo abis berbuat sesuatu yg baik (ke org lain/binatang/tumbuhan)
anti: when i wake up
v_heni75: when i'm falling in love, I feel the beauty around me cause my heart is showered by love
apipfs: when she smile at me and say nothin' at all
man_from_crypton: when my wife slept
bellamia2229: Every time after taking a shower...
si_atm95: when someone says : "aku sayang sama kamu"
paulus_gumilang: my girl looks beautiful when she's sleeping without any clothes on
k4mil: abis dari salon.. terlihat seperti bukan aku..
tatnja: when someone came up to me and say "you look beautiful (today)"
ninoad99:every time she smiles at me.
f_rezina: when my luv sms me with no reason & said "met siang istriku yang cantiiik.."
Kresno Putro Deddy Mahyarto: when she smiles
Kalo kataku: waktu aku hamil
iQbaL: when she tells a truth
Indul: when he says so....??
Ayu'99: bangun tidur, rambutnya alami... jadi banget (brantakannya)
radicalous: when she's with us. the husband and the daughter.
PapaBear: my girls partner is beautiful when I'm "beautiful" to her, if it's something about relationship, it's will valid, why? coz relationship is equal.....
ici_cuit: i feel beautiful the most especially when i'm helping someone and that person smile at me
Djokolelono: when she is sleeping peacefully beside me, with a shadow of a smile from her dream, and her hands still holding me, trusting me.
Jaja: the morning she woke up for our wedding day (even before the makeup)
gitabaik: when i make good deed.
sarah_siahaan: setelah keluar dari salon gue selalu merasa lebih cantik .. efek rambut memang luar biasa, krn kl lg bad hair day, mood gue bisa jelek bgt seharian
lucycakepdeh: I feel beautiful the most : waktu bangun di pagi hari dengan rambut kusut, blom sikat gigi n cuci muka... aku dengar suara suamiku bilang " Met pagi cantik!"
Iman: nemuin gw (msh ngantuk2 gt, bangun tdr cmn cuci muka doang) pas gw samperin ke rumahnya...
alfarani: when I dress up matched , especially if I wear my jilbab nicely... hehee...
jagoan_tembem: kalo abis berbuat sesuatu yg baik (ke org lain/binatang/tumbuhan)
anti: when i wake up
v_heni75: when i'm falling in love, I feel the beauty around me cause my heart is showered by love
apipfs: when she smile at me and say nothin' at all
man_from_crypton: when my wife slept
bellamia2229: Every time after taking a shower...
si_atm95: when someone says : "aku sayang sama kamu"
paulus_gumilang: my girl looks beautiful when she's sleeping without any clothes on
k4mil: abis dari salon.. terlihat seperti bukan aku..
tatnja: when someone came up to me and say "you look beautiful (today)"
ninoad99:every time she smiles at me.
f_rezina: when my luv sms me with no reason & said "met siang istriku yang cantiiik.."
Kresno Putro Deddy Mahyarto: when she smiles
Kalo kataku: waktu aku hamil
Ada yang hilang
Ada yang hilang.
Ada yang hilaaang!!!
Sesuatu itu hilang.
Sesuatu itu tak lagi nampak.
Aku harus bilang apa?!
Aku nggak bohong, ... dia ada di sini.
T a d i d i a a d a d i s i n i.
Tolong!!
Ada yang hilang!!!
Dia besar, tak terlihat olehmu.
Tapi bisa dilihat dari mataku.
Dia membuatku terbang.
Dia membuatku bahagia.
Ya, dia tak terlihat olehmu.
Tapi bisa dilihat dari mataku.
...
Rasa itu.
...
Baru saja, ... d i a a d a d i s i n i.
-7 February 2006
Ada yang hilaaang!!!
Sesuatu itu hilang.
Sesuatu itu tak lagi nampak.
Aku harus bilang apa?!
Aku nggak bohong, ... dia ada di sini.
T a d i d i a a d a d i s i n i.
Tolong!!
Ada yang hilang!!!
Dia besar, tak terlihat olehmu.
Tapi bisa dilihat dari mataku.
Dia membuatku terbang.
Dia membuatku bahagia.
Ya, dia tak terlihat olehmu.
Tapi bisa dilihat dari mataku.
...
Rasa itu.
...
Baru saja, ... d i a a d a d i s i n i.
-7 February 2006
Slighest Dream
Inilah 3 minggu mimpi terindahku.
Sampai akhirnya hari ini, Senin 31 Januari 2006 atau 2 Muharam H, aku terbangun oleh asingnya cericit seekor burung di pepohonan di halaman rumah orang tuaku. Biasanya cuma terdengar cericit burung gereja yang menemani pagiku selama 10 tahun terakhir, tapi kini rupanya ada burung asing.
Seasing perasaanku saat aku melangkah keluar dari kamar mandi dan bertelanjang di depan kaca. Bulat. Kuamati setiap lekuk tubuhku. Namun, … ia tidak ada lagi di sana. Perutku yang kembali mengempis tanpa sempat pusarnya menyembul keluar. Perut yang selalu kuelus, kuoles dengan minyak, yang senantiasa kubisikkan doa-doa.
Bayiku, … tak lagi bersamaku.
Inilah hari pertama kerapuhanku, terbangun dari mimpi betapa mulianya menjadi seorang ibu.
***
Dan Inilah hari terindahku, di awal 2006. Tepatnya hari Jumat pagi, 6 Januari 2006.
Dengan malas, aku pun terbangun dari mimpiku.
Aku bermimpi perutku membuncit dan ibuku marah-marah karena aku tidak juga tes kehamilan.
Segera aku bangkit ke kamar mandi, menampung air seniku di tabung kecil, berusaha tak berharap kali ini akan memberikan hasil yang berbeda.
Garis pertama pun muncul. “Ah, … negatif lagi kan?!” bathinku sambil bersih-bersih dan bersiap mandi. Namun tak lama, kuperhatikan muncullah garis ke dua. Warnanya jauh lebih muda dari garis pertama, sehingga aku bingung apakah muncul dua garis atau hanya satu garis saja. Lalu aku pun berlari ke kamar, bertanya pada suamiku.
“Coba, ini dua garis atau satu garis, sih?”
“Dua. Emangnya kenapa?” Tanyanya tanpa tahu apa arti keduanya.
“Kalau dua garis, artinya positif.” Kataku, … masih tak percaya. Lalu suamiku pun, segera memelukku.
Langkahku ringan sekali pagi itu. Aku segera log in ke Yahoo Messenger, bertanya ke teman-teman yang sudah pernah hamil sebelumnya dan memberitakan kebahagiaan ini. Dan aku pun langsung daftar ke Rumah Sakit terdekat, untuk memastikan kehamilanku.
Makan siang, Uya dan Step mengantarku ke Apotik Mahakam, beli +HCG test pack. Kata temen-temen sih, test pack yang satu itu cukup akurat dan hasilnya langsung terbaca + atau -. Lalu toilet kantor pun menjadi saksi, … aku hamil! Hihihihihi….
Dan sorenya, test lab pun membuktikan aku positif hamil, Cuma saat di usg memang belum terlihat apapun di dalam rahimku. Mungkin karena kehamilan yang sangat muda.
Sejak hari itu, hidupku berubah. Cara pandangku terhadap hidup pun, … ikut berubah. Serta merta aku lebih banyak tertawa, lebih banyak berdoa, lebih banyak berpositif thinking, beberapa bilang jadi genit. Bajuku selalu warna-warni, dan aku selalu berhiaskan kalung-kalung panjang yang tidak pernah aku kenakan sebelumnya. Skrip-skrip televisiku pun, ikut berubah. “So many psychedelic things, are you writing under chemical substance?” Tanya ECDku. Well, … mungkin ya. Bukannya saat hamil ada hormon-hormon tertentu yang meningkat dan memacu otak?
Ngidam pertamaku adalah Bubur Barita. Bubur enak yang terletak di jalan Barito. Sudah lama aku pengen makan bubur ini, tapi suamiku belom sempet-sempet juga. Akhirnya, … aku memenuhi ngidam pertamaku sama Uya dan Tep, 2 art director yang jadi partner SIAGAku (SIap Antar jaGa), … girl power!!! Selebihnya, … aku sempet makan Bubur Barita 2 kali lagi, sama Pumpy suamiku lalu … Uya & Tep lagi!!!!! Yang ke dua kali sebenernya Tep yang ngidam, … tapi dia mengatasnamakan kehamilanku :D
Senangnya, karena aku nggak sendirian menjaga kehamilanku. Teman-temanku selalu mengingatkanku untuk makan yang sehat, nggak pake sepatu hak tinggi, nggak naik turun tangga, nggak marah-marah, nggak stress, automatically nggak ngerokok deket aku, atau dengan sukarela ngajak ngemil atau ngebeliin aku sesuatu. Chaya, meminjamkanku VCD lengkap untuk trimester pertama, ke dua sampai persiapan menuju kelahiran. And guess what, … she's not even married!
Percayalah, inilah 3 minggu yang paling membahagiakan dalam hidupku.
Kamis malam, 26 Januari 2006
Malam ini aku merasa gamang. Besok waktuku mendatangi dokterku, untuk yang pertama kali setelah 3 minggu aku mengetahui bahwa aku hamil. Susah memang menyelip diantara ratusan pasiennya.
Di tengah kegamangan aku pun mengaji, memanjatkan doa. Semoga ia terlahir sehat fisik dan bathinnya, semoga ia terlahir dengan sifat-sifat indahNYA, semoga ia menjadi anak yang memiliki nurani, semoga ia menjadi anak yang punya empati dan toleransi, semoga ia menjadi anak yang kuat pendiriannya, semoga ia jadi anak yang bermanfaat untuk semesta.
Jumat, 27 Januari 2006
Hari ini tidak seperti hari Jumat lainnya. Tiba-tiba aku sms suamiku, memintanya untuk berderma dan berdoa saat sholat Jumat, semoga waktu control malam nanti, our beloved baby will be just fine.
Dan pagi ini, aku terbagun dari tidur dan menuliskan sebuah puisi untuk anakku.
Aku dan dia
Siapa aku?
Kamulah mahluk kecil dalam rahimku
Yang kutunggu
Sampai akhirnya “Kun fayakun!” tercucap
Oleh Tuhanku, … Tuhanmu.
Lalu siapa kamu?
Akulah ibunda, yang akan menjawab setiap tanyamu,
Yang akan membagi tawaku,
Yang akan mengajarmu menyentuh dunia
Dan memberimu segenap doa.
Dimana aku, Bunda?
Kamu mahluk kecil dalam rahimku,
Menggelitik, seperti kupu-kupu yang hinggap di perutku.
Ada dalam gelap,
Tapi kutahu di sana kamu dapat terlelap.
Bersahabat degup jantungnku,
Berninabobokan gelembung-gelembung lembut di sampingmu,
Di dalam sana, … dapatkah kau dengar bahagiaku?
Tapi tak kan lama kau di sana,
Hingga tiba waktunya.
Kau akan mengecap betapa besarnya Tuhanmu
Dan bertemu denganku, Ibundamu
Anakku,
Jika kau bertemu Tuhanmu di dalam sana,
Tersenyumlah, karena ia akan mengajarkan segala hal
yang ingin kau tahu
Dan tolong titipkan, rasa terima kasihku yang
teramat besar kepadaNYA
Tapi hari itu, aku nggak pernah menjejakkan kakiku ke MMC, dimana dokter yang biasa kudatangi praktek. Melainkan ke Rumah Sakit terdekat, Medika Permata Hijau, dan terbaring di kamar yang tepat bersebelahan dengan seorang ibu yang akan melahirkan anak pertamanya. “Ya Allah, maafkan dosa saudariku. Ringankan sakitnya, mudahkanlah jalannya, dan sehatkan ibu serta bayinya.” Doaku. Air mataku pun menetes, … “Apakah aku dapat mengantarkan anakku ke dunia?” Tanyaku. Di luar, menunggu suamiku dan ibuku. Aku harus bed rest total, karena pendarahan yang aku alami sejak jam 3 sore tadi.
Tiga hari kemudian, nggak banyak yang berubah. Malah lebih parah. Hari ini tak hentinya darah segar menetes, walau aku bergerak sedikit saja. Hari ini aku pasrah, aku ikhtiar, … apapun yang terjadi pastilah hal terbaik. Malamnya, diantar ayah dan ibuku, aku pun ke MMC. Di sana telah menunggu suamiku dan kursi dorong. Aku pun segera diantar ke maternity room MMC dan bertemu dengan dokterku. Saat USG, dokter pun bilang kalau janinku tidak berkembang, … karena virus Rubella yang aktif dalam tubuhku. Dan keesokan harinya, luruhlah janinku.
Inilah hari pertama kerapuhanku, terbangun dari mimpi betapa mulianya menjadi seorang ibu. Bayiku, tak lagi bersamaku.
Wury’s thanks for the most beautiful three weeks dreams to:
Pumpy, I always love you Pump. This one’s for the blissful marriage.
Mamah, for taking care of me, … all my life.
Ibu, untuk semua doa-doanya.
Uya & Tep, untuk jadi partner SIAGA dan nemenin makan dimanaaaaaaa aja :D
Erika, Retno & Tata, for being a very true and supportive best friend.
Adik-adikku, Wika, Mara, Lina, for your happiness and prays :)
Astrid & Farika, temen senasib yang masih berusaha untuk hamil. Let’s get it on, Babe! Ciayoooooo!!!
Mba Amel, for the tutorials and tips.
Bi Asih, Mak Tuo & Beamy’s Mom, Gita, Carol, Pras, Rio, Mas David, for all the pray and supports.
Sampai akhirnya hari ini, Senin 31 Januari 2006 atau 2 Muharam H, aku terbangun oleh asingnya cericit seekor burung di pepohonan di halaman rumah orang tuaku. Biasanya cuma terdengar cericit burung gereja yang menemani pagiku selama 10 tahun terakhir, tapi kini rupanya ada burung asing.
Seasing perasaanku saat aku melangkah keluar dari kamar mandi dan bertelanjang di depan kaca. Bulat. Kuamati setiap lekuk tubuhku. Namun, … ia tidak ada lagi di sana. Perutku yang kembali mengempis tanpa sempat pusarnya menyembul keluar. Perut yang selalu kuelus, kuoles dengan minyak, yang senantiasa kubisikkan doa-doa.
Bayiku, … tak lagi bersamaku.
Inilah hari pertama kerapuhanku, terbangun dari mimpi betapa mulianya menjadi seorang ibu.
***
Dan Inilah hari terindahku, di awal 2006. Tepatnya hari Jumat pagi, 6 Januari 2006.
Dengan malas, aku pun terbangun dari mimpiku.
Aku bermimpi perutku membuncit dan ibuku marah-marah karena aku tidak juga tes kehamilan.
Segera aku bangkit ke kamar mandi, menampung air seniku di tabung kecil, berusaha tak berharap kali ini akan memberikan hasil yang berbeda.
Garis pertama pun muncul. “Ah, … negatif lagi kan?!” bathinku sambil bersih-bersih dan bersiap mandi. Namun tak lama, kuperhatikan muncullah garis ke dua. Warnanya jauh lebih muda dari garis pertama, sehingga aku bingung apakah muncul dua garis atau hanya satu garis saja. Lalu aku pun berlari ke kamar, bertanya pada suamiku.
“Coba, ini dua garis atau satu garis, sih?”
“Dua. Emangnya kenapa?” Tanyanya tanpa tahu apa arti keduanya.
“Kalau dua garis, artinya positif.” Kataku, … masih tak percaya. Lalu suamiku pun, segera memelukku.
Langkahku ringan sekali pagi itu. Aku segera log in ke Yahoo Messenger, bertanya ke teman-teman yang sudah pernah hamil sebelumnya dan memberitakan kebahagiaan ini. Dan aku pun langsung daftar ke Rumah Sakit terdekat, untuk memastikan kehamilanku.
Makan siang, Uya dan Step mengantarku ke Apotik Mahakam, beli +HCG test pack. Kata temen-temen sih, test pack yang satu itu cukup akurat dan hasilnya langsung terbaca + atau -. Lalu toilet kantor pun menjadi saksi, … aku hamil! Hihihihihi….
Dan sorenya, test lab pun membuktikan aku positif hamil, Cuma saat di usg memang belum terlihat apapun di dalam rahimku. Mungkin karena kehamilan yang sangat muda.
Sejak hari itu, hidupku berubah. Cara pandangku terhadap hidup pun, … ikut berubah. Serta merta aku lebih banyak tertawa, lebih banyak berdoa, lebih banyak berpositif thinking, beberapa bilang jadi genit. Bajuku selalu warna-warni, dan aku selalu berhiaskan kalung-kalung panjang yang tidak pernah aku kenakan sebelumnya. Skrip-skrip televisiku pun, ikut berubah. “So many psychedelic things, are you writing under chemical substance?” Tanya ECDku. Well, … mungkin ya. Bukannya saat hamil ada hormon-hormon tertentu yang meningkat dan memacu otak?
Ngidam pertamaku adalah Bubur Barita. Bubur enak yang terletak di jalan Barito. Sudah lama aku pengen makan bubur ini, tapi suamiku belom sempet-sempet juga. Akhirnya, … aku memenuhi ngidam pertamaku sama Uya dan Tep, 2 art director yang jadi partner SIAGAku (SIap Antar jaGa), … girl power!!! Selebihnya, … aku sempet makan Bubur Barita 2 kali lagi, sama Pumpy suamiku lalu … Uya & Tep lagi!!!!! Yang ke dua kali sebenernya Tep yang ngidam, … tapi dia mengatasnamakan kehamilanku :D
Senangnya, karena aku nggak sendirian menjaga kehamilanku. Teman-temanku selalu mengingatkanku untuk makan yang sehat, nggak pake sepatu hak tinggi, nggak naik turun tangga, nggak marah-marah, nggak stress, automatically nggak ngerokok deket aku, atau dengan sukarela ngajak ngemil atau ngebeliin aku sesuatu. Chaya, meminjamkanku VCD lengkap untuk trimester pertama, ke dua sampai persiapan menuju kelahiran. And guess what, … she's not even married!
Percayalah, inilah 3 minggu yang paling membahagiakan dalam hidupku.
Kamis malam, 26 Januari 2006
Malam ini aku merasa gamang. Besok waktuku mendatangi dokterku, untuk yang pertama kali setelah 3 minggu aku mengetahui bahwa aku hamil. Susah memang menyelip diantara ratusan pasiennya.
Di tengah kegamangan aku pun mengaji, memanjatkan doa. Semoga ia terlahir sehat fisik dan bathinnya, semoga ia terlahir dengan sifat-sifat indahNYA, semoga ia menjadi anak yang memiliki nurani, semoga ia menjadi anak yang punya empati dan toleransi, semoga ia menjadi anak yang kuat pendiriannya, semoga ia jadi anak yang bermanfaat untuk semesta.
Jumat, 27 Januari 2006
Hari ini tidak seperti hari Jumat lainnya. Tiba-tiba aku sms suamiku, memintanya untuk berderma dan berdoa saat sholat Jumat, semoga waktu control malam nanti, our beloved baby will be just fine.
Dan pagi ini, aku terbagun dari tidur dan menuliskan sebuah puisi untuk anakku.
Aku dan dia
Siapa aku?
Kamulah mahluk kecil dalam rahimku
Yang kutunggu
Sampai akhirnya “Kun fayakun!” tercucap
Oleh Tuhanku, … Tuhanmu.
Lalu siapa kamu?
Akulah ibunda, yang akan menjawab setiap tanyamu,
Yang akan membagi tawaku,
Yang akan mengajarmu menyentuh dunia
Dan memberimu segenap doa.
Dimana aku, Bunda?
Kamu mahluk kecil dalam rahimku,
Menggelitik, seperti kupu-kupu yang hinggap di perutku.
Ada dalam gelap,
Tapi kutahu di sana kamu dapat terlelap.
Bersahabat degup jantungnku,
Berninabobokan gelembung-gelembung lembut di sampingmu,
Di dalam sana, … dapatkah kau dengar bahagiaku?
Tapi tak kan lama kau di sana,
Hingga tiba waktunya.
Kau akan mengecap betapa besarnya Tuhanmu
Dan bertemu denganku, Ibundamu
Anakku,
Jika kau bertemu Tuhanmu di dalam sana,
Tersenyumlah, karena ia akan mengajarkan segala hal
yang ingin kau tahu
Dan tolong titipkan, rasa terima kasihku yang
teramat besar kepadaNYA
Tapi hari itu, aku nggak pernah menjejakkan kakiku ke MMC, dimana dokter yang biasa kudatangi praktek. Melainkan ke Rumah Sakit terdekat, Medika Permata Hijau, dan terbaring di kamar yang tepat bersebelahan dengan seorang ibu yang akan melahirkan anak pertamanya. “Ya Allah, maafkan dosa saudariku. Ringankan sakitnya, mudahkanlah jalannya, dan sehatkan ibu serta bayinya.” Doaku. Air mataku pun menetes, … “Apakah aku dapat mengantarkan anakku ke dunia?” Tanyaku. Di luar, menunggu suamiku dan ibuku. Aku harus bed rest total, karena pendarahan yang aku alami sejak jam 3 sore tadi.
Tiga hari kemudian, nggak banyak yang berubah. Malah lebih parah. Hari ini tak hentinya darah segar menetes, walau aku bergerak sedikit saja. Hari ini aku pasrah, aku ikhtiar, … apapun yang terjadi pastilah hal terbaik. Malamnya, diantar ayah dan ibuku, aku pun ke MMC. Di sana telah menunggu suamiku dan kursi dorong. Aku pun segera diantar ke maternity room MMC dan bertemu dengan dokterku. Saat USG, dokter pun bilang kalau janinku tidak berkembang, … karena virus Rubella yang aktif dalam tubuhku. Dan keesokan harinya, luruhlah janinku.
Inilah hari pertama kerapuhanku, terbangun dari mimpi betapa mulianya menjadi seorang ibu. Bayiku, tak lagi bersamaku.
Wury’s thanks for the most beautiful three weeks dreams to:
Pumpy, I always love you Pump. This one’s for the blissful marriage.
Mamah, for taking care of me, … all my life.
Ibu, untuk semua doa-doanya.
Uya & Tep, untuk jadi partner SIAGA dan nemenin makan dimanaaaaaaa aja :D
Erika, Retno & Tata, for being a very true and supportive best friend.
Adik-adikku, Wika, Mara, Lina, for your happiness and prays :)
Astrid & Farika, temen senasib yang masih berusaha untuk hamil. Let’s get it on, Babe! Ciayoooooo!!!
Mba Amel, for the tutorials and tips.
Bi Asih, Mak Tuo & Beamy’s Mom, Gita, Carol, Pras, Rio, Mas David, for all the pray and supports.
Kapan terakhir merasa kaya anak kecil? For me, it's been a long time. Sampai akhirnya, aku mengalami kembali.
Dunia yang sederhana, dunia yang cuma pengen semua ada.
Dunia materi, yang hanya berarti 'ada' jika semua bisa 'diraba'.
Pagi-pagi, Mba Gita udah manggil dari ujung.
"Wuryyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy!!!"
"It's yours" Katanya sambil mengulurkan dvd collector's item THE WIZARD OF OZ ke hadapanku. Plus, ... CD collector's itemnya juga.
Hah!
Kalau ada kaca di sana, mungkin aku bisa ngeliat mataku yang membulat hebat!!!
Wow, udah lama rasanya nggak ngalamin something that you've been dreaming of is now here, for real! Aku masih terdiam beberapa saat. 3 disc DVD, plus CD yang saat dibuka, didalamnya ada gambar pop up Dorothy, Toto, Tin Man, Cowardly Lion dan Scarecrow.
I've got the cards and postcards with the box, several versions of the books,the pirated DVD (ha..ha), now I have the collector's item DVD consist of 1910's movie premier with its ticket, some photos, some of its reprinted 1910's promotion materials. Ffffffffiuh....
Dan seharian itu, pikiranku nggak habis hanya sampai DVD Wizard of Oz. Masih ada satu hal yang kepikiran, ... setelah 2 malam sebelumnya tiba-tiba kepikiran sebelum tidur. Ya, ... hal itu menghantui diriku kembali hari ini.
Jaket flanel pink yang ada capuchonknya, yang di jual di A store di jembatan PIM 2.
Bah!
Jaket flanel? Pink? Penting banget gak, sih? Tapi nggak tahu kenapa, tiba-tiba jadi kepikiran seharian. Dan akhirnya, pulang kantor aku langsung berangkat ke PIM naik taksi. Bayangin! Ngebela-belain hujan-hujan lebat naik taxi cuma buat beli jaket itu?
Hihihihi, ... sampe PIM aku langsung sms ku. Nanya ke suamiku, dimana tepatnya A store berada. "Kamu ke Sizzler, trus di situ ada jembatan yang nembus ke PIM 2." Itu bunyi smsnya (secara aku paling nggak pintar menghafal letak, termasuk letak mobil di parkiran). Dengan gagah berani dan percaya diri, aku ke sana. Dan benarlah, toko itu persis terletak di sana.
AKu berjalan perlahan.
Rak demi rak.
Pelan.
Ada kaos lucu di dinding.
Ah, nggak!
Tadi ke sini buat beli jaket flanel pink!!!
Aduh, .. jangan-jangan nggak ada capuchonknya.
Gimana ya, kalo nggak?
...
aaaaaaaaaaand, .. di rak paling ujung,
berderetlah jaket-jaket flanel beraneka warna.
Hitam, gak ada capuchonknya.
Putih, ... gak ada juga.
Khaki, ... nah! Ini ada capuchongnya!!!!
Yippie!!! There's the pink one!!!
But, ...
Hmmm, ... atau khaki aja ya?
Aku sms Pumpy dulu deh.
"1. Pink, 2. Khaki" Isi sms Pumpy.
Hmmmmm, ...
I think I'll take the pink one. Udah cukup kayanya, my denials that I don't really like pink colors. But I thin, I do. Dan bukannya warna ini yang bikin aku ngebangunin Pumpy tengah malam lalu?
Yep. I took the pink one. "Ukuran L aja ya, Mba."
Yippie, trus aku langsung pulang. Melenggang tenang.
Sampe rumah, aku langsung mandi.
Sambil pake baju, aku dengerin CD baruku dengan bagian "Over the Rainbow", track 3 yang terus aku ulang.
Lalu aku selimutan, pasang Disk 2 DVD baruku, nggak lupa pake jaket baru juga.
Terus aku ketiduran, sampe akhirnya Pumpy dateng.
Aku malu ketauan pake jaket baru, jadi selimutnya aku tarik sampe ke leher. Hihihihihi, ... tapi akhirnya nggak tahan aku tarik juga dan pamerin ke dia.
Ahhhhh, ...
senangnya jadi anak kecil.Kapan ya, bisa ngerasain lagi?
:)
Dunia yang sederhana, dunia yang cuma pengen semua ada.
Dunia materi, yang hanya berarti 'ada' jika semua bisa 'diraba'.
Pagi-pagi, Mba Gita udah manggil dari ujung.
"Wuryyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy!!!"
"It's yours" Katanya sambil mengulurkan dvd collector's item THE WIZARD OF OZ ke hadapanku. Plus, ... CD collector's itemnya juga.
Hah!
Kalau ada kaca di sana, mungkin aku bisa ngeliat mataku yang membulat hebat!!!
Wow, udah lama rasanya nggak ngalamin something that you've been dreaming of is now here, for real! Aku masih terdiam beberapa saat. 3 disc DVD, plus CD yang saat dibuka, didalamnya ada gambar pop up Dorothy, Toto, Tin Man, Cowardly Lion dan Scarecrow.
I've got the cards and postcards with the box, several versions of the books,the pirated DVD (ha..ha), now I have the collector's item DVD consist of 1910's movie premier with its ticket, some photos, some of its reprinted 1910's promotion materials. Ffffffffiuh....
Dan seharian itu, pikiranku nggak habis hanya sampai DVD Wizard of Oz. Masih ada satu hal yang kepikiran, ... setelah 2 malam sebelumnya tiba-tiba kepikiran sebelum tidur. Ya, ... hal itu menghantui diriku kembali hari ini.
Jaket flanel pink yang ada capuchonknya, yang di jual di A store di jembatan PIM 2.
Bah!
Jaket flanel? Pink? Penting banget gak, sih? Tapi nggak tahu kenapa, tiba-tiba jadi kepikiran seharian. Dan akhirnya, pulang kantor aku langsung berangkat ke PIM naik taksi. Bayangin! Ngebela-belain hujan-hujan lebat naik taxi cuma buat beli jaket itu?
Hihihihi, ... sampe PIM aku langsung sms ku. Nanya ke suamiku, dimana tepatnya A store berada. "Kamu ke Sizzler, trus di situ ada jembatan yang nembus ke PIM 2." Itu bunyi smsnya (secara aku paling nggak pintar menghafal letak, termasuk letak mobil di parkiran). Dengan gagah berani dan percaya diri, aku ke sana. Dan benarlah, toko itu persis terletak di sana.
AKu berjalan perlahan.
Rak demi rak.
Pelan.
Ada kaos lucu di dinding.
Ah, nggak!
Tadi ke sini buat beli jaket flanel pink!!!
Aduh, .. jangan-jangan nggak ada capuchonknya.
Gimana ya, kalo nggak?
...
aaaaaaaaaaand, .. di rak paling ujung,
berderetlah jaket-jaket flanel beraneka warna.
Hitam, gak ada capuchonknya.
Putih, ... gak ada juga.
Khaki, ... nah! Ini ada capuchongnya!!!!
Yippie!!! There's the pink one!!!
But, ...
Hmmm, ... atau khaki aja ya?
Aku sms Pumpy dulu deh.
"1. Pink, 2. Khaki" Isi sms Pumpy.
Hmmmmm, ...
I think I'll take the pink one. Udah cukup kayanya, my denials that I don't really like pink colors. But I thin, I do. Dan bukannya warna ini yang bikin aku ngebangunin Pumpy tengah malam lalu?
Yep. I took the pink one. "Ukuran L aja ya, Mba."
Yippie, trus aku langsung pulang. Melenggang tenang.
Sampe rumah, aku langsung mandi.
Sambil pake baju, aku dengerin CD baruku dengan bagian "Over the Rainbow", track 3 yang terus aku ulang.
Lalu aku selimutan, pasang Disk 2 DVD baruku, nggak lupa pake jaket baru juga.
Terus aku ketiduran, sampe akhirnya Pumpy dateng.
Aku malu ketauan pake jaket baru, jadi selimutnya aku tarik sampe ke leher. Hihihihihi, ... tapi akhirnya nggak tahan aku tarik juga dan pamerin ke dia.
Ahhhhh, ...
senangnya jadi anak kecil.Kapan ya, bisa ngerasain lagi?
:)
Kapan kita akan berhenti?
Hari ini, 22 Desember 2005.
Jam delapan pagi, suamiku mengecup keningku.
"Aku pergi ya" Katanya.
"Dadahhhh..." Kataku membalasnya dan kembali menutup mataku, serasa tak kuat menahan pelupuk mataku lebih lama lagi.
Dan aku pun terpulas kembali. Lagi. Setelah membuka mata selama 23 jam di hari sebelumnya.
Tak lama, terdengar nada sms membangunkanku kembali.
Tapi kubiarkan.
"Kantor! Kapan kamu akan membiarkanku menikmati kesendirianku?" Itu responku pertama kali.
Beberapa jam kemudian, aku pun terbangun.
Segera kusabet handphone di atas meja. Sms tadi dari ibu mertuaku.
"Selamat hari ibu. Semoga kita bisa menjadi contoh untuk anak-anak kita dan masyarakat." Lalu aku pun tertegun.Dengan masih tak percaya dan nggak tau haurs menjawab apa, aku pun pergi mandi.
Ya, ini hari ibu.
Kapan terakhir kalinya aku mengucapkan selamat hari ibu untuk ibuku? Mungkin waktu aku SD. Waktu aku menyelipkan puisiku di tumpukan bajunya.
Kapan terakhir kali aku memijitkan punggungnya?
Kapan terakhir kalinya aku mencium pipinya dengan sepenuh hati?
Kapan terakhir kalinya aku menyentuh permukaan tangannya?
Kapan terakhir kalinya aku mengajaknya jalan-jalan? Bukan hanya membelikannya hadiah-hadiah?
Kapan terakhir kalinya aku memeluknya tanpa sebab?
Aku hilang.
Berguling kencang tanpa kendali.
Aku tersesat dalam detik-detik mengejar diriku sendiri.
Detik menjadi menit. Menit menjadi jam. Jam menjadi hari. Hari menjadi tahun.
5 tahun aku mengejar diriku sendiri. Tanpa tahu kapan akan berhenti dan membiarkan diriku yang menghampiri.
Tiba-tiba aku berpikir,
sudah siapkah aku menjadi seorang ibu, jika aku masih tak lelahnya mengejar diri sendiri.
Para Ibuku, selamat hari ibu. Panggilan yang memang layak dimiliki olehmu.
Jam delapan pagi, suamiku mengecup keningku.
"Aku pergi ya" Katanya.
"Dadahhhh..." Kataku membalasnya dan kembali menutup mataku, serasa tak kuat menahan pelupuk mataku lebih lama lagi.
Dan aku pun terpulas kembali. Lagi. Setelah membuka mata selama 23 jam di hari sebelumnya.
Tak lama, terdengar nada sms membangunkanku kembali.
Tapi kubiarkan.
"Kantor! Kapan kamu akan membiarkanku menikmati kesendirianku?" Itu responku pertama kali.
Beberapa jam kemudian, aku pun terbangun.
Segera kusabet handphone di atas meja. Sms tadi dari ibu mertuaku.
"Selamat hari ibu. Semoga kita bisa menjadi contoh untuk anak-anak kita dan masyarakat." Lalu aku pun tertegun.Dengan masih tak percaya dan nggak tau haurs menjawab apa, aku pun pergi mandi.
Ya, ini hari ibu.
Kapan terakhir kalinya aku mengucapkan selamat hari ibu untuk ibuku? Mungkin waktu aku SD. Waktu aku menyelipkan puisiku di tumpukan bajunya.
Kapan terakhir kali aku memijitkan punggungnya?
Kapan terakhir kalinya aku mencium pipinya dengan sepenuh hati?
Kapan terakhir kalinya aku menyentuh permukaan tangannya?
Kapan terakhir kalinya aku mengajaknya jalan-jalan? Bukan hanya membelikannya hadiah-hadiah?
Kapan terakhir kalinya aku memeluknya tanpa sebab?
Aku hilang.
Berguling kencang tanpa kendali.
Aku tersesat dalam detik-detik mengejar diriku sendiri.
Detik menjadi menit. Menit menjadi jam. Jam menjadi hari. Hari menjadi tahun.
5 tahun aku mengejar diriku sendiri. Tanpa tahu kapan akan berhenti dan membiarkan diriku yang menghampiri.
Tiba-tiba aku berpikir,
sudah siapkah aku menjadi seorang ibu, jika aku masih tak lelahnya mengejar diri sendiri.
Para Ibuku, selamat hari ibu. Panggilan yang memang layak dimiliki olehmu.
Good Will Hunting
I just love this muvee. Here's one of the conversation.
"You're just a kid, you don't have the faintest idea what you're talking about. You've never been out of Boston.
So if I ask you about art, you'd probably give me the skinny on every art book ever writtened. Michelangelo? You know alot about him. Life's work, political aspirations, him and the pope. Sexual orientation. The whole works, right?
I bet you can't tell me what it smells like in the SIstine Chapel. You never actually stood there and looked up at that beautiful ceiling. Seeing that.
If I ask you about woman, you'll probably give me a syllabus of your personal favorites. You may ever been laid a few times. But you can't tell me what it feels like to wake up next to a woman and feel trully happy. You're a tough kid.
If I ask you about war, you'd probably throw Shakespeare at me, right? "Once more into the breach, dear friends."
But you've never been near one. You've never held your bestfriend head in your lap and watch him gasp his last breath lookin' to you for help.
If I ask you about love, you'd probably quote me a sonnet, but you've never looked at a woman and been totally vulnerable. Known someone that could level you with her eyes. Feelin' like God put an angel on earth just for you, who could rescue you from the depths of hell. And you wouldn't know what it's like to be her angel. To have that love for her to be there forever. Through anything.
You don't know about real loss, cause that only occurs when you love somethin more than you love yourself."
Said Sean, to Will Hunting.
"You're just a kid, you don't have the faintest idea what you're talking about. You've never been out of Boston.
So if I ask you about art, you'd probably give me the skinny on every art book ever writtened. Michelangelo? You know alot about him. Life's work, political aspirations, him and the pope. Sexual orientation. The whole works, right?
I bet you can't tell me what it smells like in the SIstine Chapel. You never actually stood there and looked up at that beautiful ceiling. Seeing that.
If I ask you about woman, you'll probably give me a syllabus of your personal favorites. You may ever been laid a few times. But you can't tell me what it feels like to wake up next to a woman and feel trully happy. You're a tough kid.
If I ask you about war, you'd probably throw Shakespeare at me, right? "Once more into the breach, dear friends."
But you've never been near one. You've never held your bestfriend head in your lap and watch him gasp his last breath lookin' to you for help.
If I ask you about love, you'd probably quote me a sonnet, but you've never looked at a woman and been totally vulnerable. Known someone that could level you with her eyes. Feelin' like God put an angel on earth just for you, who could rescue you from the depths of hell. And you wouldn't know what it's like to be her angel. To have that love for her to be there forever. Through anything.
You don't know about real loss, cause that only occurs when you love somethin more than you love yourself."
Said Sean, to Will Hunting.
Semenjana
lelah.
ingin rasanya aku mengistirahatkan mata ini
biar hanya hitam, hanya gelap
temaniku sejenak saja
dan biar,
kubiarkan telingaku meliar
biar dia juga belajar
telinga yang lama tak mendengar
telinga yang selalu kalah dengan ujar
telinga yang tak lagi punya hati
apalagi mendengarkan hati
damai.
hanya kudengar desah sukma
dalam gelap ini
terima kasih untuk kamu, yang udah bikinin judul kali ini. saat dimana aku nggak bisa menyebutkan satu kata yang menggambarkan jarak antara aku dan benda, dan waktu yang mengantarainya.
7 Desember 2005
ingin rasanya aku mengistirahatkan mata ini
biar hanya hitam, hanya gelap
temaniku sejenak saja
dan biar,
kubiarkan telingaku meliar
biar dia juga belajar
telinga yang lama tak mendengar
telinga yang selalu kalah dengan ujar
telinga yang tak lagi punya hati
apalagi mendengarkan hati
damai.
hanya kudengar desah sukma
dalam gelap ini
terima kasih untuk kamu, yang udah bikinin judul kali ini. saat dimana aku nggak bisa menyebutkan satu kata yang menggambarkan jarak antara aku dan benda, dan waktu yang mengantarainya.
7 Desember 2005
Antologi Bunga Matahari
Aku suka banget nulis.
Kadang cuma tertulis di benakku, memang.
Tapi akhirnya,
semua bisa baca tulisanku.
Puisi-puisiku.
Aku pengen jadi penulis.
Full time.
Di rumah kayu impianku,
aku berada di sana menulis lembaran-lembaran parkamen.
bercerita tentang dia, aku dan kamu. Juga mereka.
Akhirnya,
eh... bukan akhirnya.
Awalnya,
terbit juga 2 puisiku bersama puisi teman-teman.
Dalam sebuah buku.
Buku yang nyata!
Puluhan lembar,
Bersampul,
Berpengantar dari seorang Seno Gumira,
Ada izin terbitnya,
Aku nggak percaya!
Antologi Bunga Matahari.
Itu judulnya.
Kalo mau, bisa cari di Aksara.
Ini langkah awal.
Harus ada buku selanjutnya.
Amin.
Kadang cuma tertulis di benakku, memang.
Tapi akhirnya,
semua bisa baca tulisanku.
Puisi-puisiku.
Aku pengen jadi penulis.
Full time.
Di rumah kayu impianku,
aku berada di sana menulis lembaran-lembaran parkamen.
bercerita tentang dia, aku dan kamu. Juga mereka.
Akhirnya,
eh... bukan akhirnya.
Awalnya,
terbit juga 2 puisiku bersama puisi teman-teman.
Dalam sebuah buku.
Buku yang nyata!
Puluhan lembar,
Bersampul,
Berpengantar dari seorang Seno Gumira,
Ada izin terbitnya,
Aku nggak percaya!
Antologi Bunga Matahari.
Itu judulnya.
Kalo mau, bisa cari di Aksara.
Ini langkah awal.
Harus ada buku selanjutnya.
Amin.
Do you know?
Do you know how it feel?
When your heart pounding hard, hoping that the time is right.
Do you know how it feel?
When you hold your breath, try to collect all guts you have.
Do you know how it feel?
When you're listening and ignoring your heart, ... you just can't decide.
Do you know how it feel?
Having a great expectation is as bad as you'd never hope.
Do you know how it feel?
To be angry.
Do you know how it feel?
To lost your faith.
Do you know how it feel?
To hopelessly hope.
Do you know how it feel?
To question love.
Do you know how it feel?
To blame.
Do you know how it feel?
To give everything. Then hope for one thing.
Do you know how it feel?
To envy.
Do you know how it feel?
When coldness is so near.
Do you know how it feel?
Here, to be alone.
Do you know how it feel?
To wait something you couldn't see.
(Dedicated to all pregnancy test packs, who become my best friend.)
When your heart pounding hard, hoping that the time is right.
Do you know how it feel?
When you hold your breath, try to collect all guts you have.
Do you know how it feel?
When you're listening and ignoring your heart, ... you just can't decide.
Do you know how it feel?
Having a great expectation is as bad as you'd never hope.
Do you know how it feel?
To be angry.
Do you know how it feel?
To lost your faith.
Do you know how it feel?
To hopelessly hope.
Do you know how it feel?
To question love.
Do you know how it feel?
To blame.
Do you know how it feel?
To give everything. Then hope for one thing.
Do you know how it feel?
To envy.
Do you know how it feel?
When coldness is so near.
Do you know how it feel?
Here, to be alone.
Do you know how it feel?
To wait something you couldn't see.
(Dedicated to all pregnancy test packs, who become my best friend.)
Pumpy
jejakkan aku tanah
seberangkan aku laut
jelajahi aku sang dirga
bawa aku pergi
menyongsong matahari
September 15, 2005
seberangkan aku laut
jelajahi aku sang dirga
bawa aku pergi
menyongsong matahari
September 15, 2005
Numb
Monday morning, 15 November 2005
About n hour ago. Nine something in the morning.
I arrived at the office. I smelt the musty, moldy, sweaty scent.
I log on to the network. I forgot to fill in the time sheet last Friday.
I filled it in. I made up things. 12 hours working for meeting and brainstorming.
I tried to log in again. I checked out mails. I checked out Friendster (I don’t care about it anymore). I checked my blog. I checked my Multiply (I don’t care about it too).
15 minutes after I arrived.
I saw Sheilla. I called her. I asked her where she had had lost her cell phone (I knew it, for sure. I just want her to come by). And she did. She told me the story. Again. Then I told her about Astrid, our friend who lost her baby. I asked her about my idea for print ad. She didn’t get it. Oh, shit. Sheilla gone away.
2 minutes after that.
Our secretary comes in. For the first time after the almost 2 weeks holiday.
I gave her fake smile. I gave her a fake hugely hug.
Some minutes later.
Someone brings an original DVD Charlie & The Chocolate Factory. He put it next to my desk. He asked me about the Wizard Of Oz I craved for years, whether I wanted to buy it or not? I smiled. Fake.
18 minutes after that again.
I look up. Empty. And I’m feeling empty too. Suddenly I’m feeling so numb. I couldn't feel. I couldn’t think. I couldn’t express.
Now is ten twenty.
My dear award winning partner comes. Talking in high spirit about new directors at New Zealand. About she finally found the one who shot award winning TVC ‘Toys’ for Peugeot 407. About an article about new directors she would like me to print it out.
I smiled fake too.
Sorry, I’m not in the mood today.
About n hour ago. Nine something in the morning.
I arrived at the office. I smelt the musty, moldy, sweaty scent.
I log on to the network. I forgot to fill in the time sheet last Friday.
I filled it in. I made up things. 12 hours working for meeting and brainstorming.
I tried to log in again. I checked out mails. I checked out Friendster (I don’t care about it anymore). I checked my blog. I checked my Multiply (I don’t care about it too).
15 minutes after I arrived.
I saw Sheilla. I called her. I asked her where she had had lost her cell phone (I knew it, for sure. I just want her to come by). And she did. She told me the story. Again. Then I told her about Astrid, our friend who lost her baby. I asked her about my idea for print ad. She didn’t get it. Oh, shit. Sheilla gone away.
2 minutes after that.
Our secretary comes in. For the first time after the almost 2 weeks holiday.
I gave her fake smile. I gave her a fake hugely hug.
Some minutes later.
Someone brings an original DVD Charlie & The Chocolate Factory. He put it next to my desk. He asked me about the Wizard Of Oz I craved for years, whether I wanted to buy it or not? I smiled. Fake.
18 minutes after that again.
I look up. Empty. And I’m feeling empty too. Suddenly I’m feeling so numb. I couldn't feel. I couldn’t think. I couldn’t express.
Now is ten twenty.
My dear award winning partner comes. Talking in high spirit about new directors at New Zealand. About she finally found the one who shot award winning TVC ‘Toys’ for Peugeot 407. About an article about new directors she would like me to print it out.
I smiled fake too.
Sorry, I’m not in the mood today.
'Hurt'
Do you believe what happen to you early in the morning, just reflect your day?
Well, I do.
Just like what happened to me today.
As I woke up, I read an sms that was sent about 8 hours ago. It was Astrid who sent me the sms. Astrid is the friend of mine in high school. We'd never a really really close friend, but somehow I feel that we have some kinda connection
(I hope she feels the same way too) :)
I'd got married first, and then Astrid did a few months later. Then we start to look for gynecologist, and decide to go to the same doctor, taking the same tests, having the same disease (rubella), having the same medications that we have to eat four times a day for three months, having the same trembling heart (having great expectation) if the period comes late, … and finally, Astrid’s got pregnant.
I was so happy. Really.
After a few weeks late for period, Astrid went to the doctor to have herself examined.
But sad,the doctor said that her fetus was not growing. So, … they have to let it out. And Astrid did. After some medications she took, the baby slips away.
But something strange happen. As Astrid told me that her stomach is getting big and round, the bleeding has not stopped. The she went back to the doctor, had a USG. And can you imagine, a little cute baby complete with the head, body, hands and feet. It was a twin baby, and one survived.
Astrid told me so happily, and so did I. I thought it was a miracle, … everyone thought it so.
And this morning, Astrid sms me that she lost her 4,5 month baby boy. Without any reason. At least we haven’t found it out until now.
Oh God, I feel that the world fell apart. I imagine how Astrid’s was.
And the sms was just a reflection of my day. Now is 04:15 PM, and I don’t know why my day is stumbling down. Still.
I just want to go home and hug my big 'pumpkin'.
I just want to.
Well, I do.
Just like what happened to me today.
As I woke up, I read an sms that was sent about 8 hours ago. It was Astrid who sent me the sms. Astrid is the friend of mine in high school. We'd never a really really close friend, but somehow I feel that we have some kinda connection
(I hope she feels the same way too) :)
I'd got married first, and then Astrid did a few months later. Then we start to look for gynecologist, and decide to go to the same doctor, taking the same tests, having the same disease (rubella), having the same medications that we have to eat four times a day for three months, having the same trembling heart (having great expectation) if the period comes late, … and finally, Astrid’s got pregnant.
I was so happy. Really.
After a few weeks late for period, Astrid went to the doctor to have herself examined.
But sad,the doctor said that her fetus was not growing. So, … they have to let it out. And Astrid did. After some medications she took, the baby slips away.
But something strange happen. As Astrid told me that her stomach is getting big and round, the bleeding has not stopped. The she went back to the doctor, had a USG. And can you imagine, a little cute baby complete with the head, body, hands and feet. It was a twin baby, and one survived.
Astrid told me so happily, and so did I. I thought it was a miracle, … everyone thought it so.
And this morning, Astrid sms me that she lost her 4,5 month baby boy. Without any reason. At least we haven’t found it out until now.
Oh God, I feel that the world fell apart. I imagine how Astrid’s was.
And the sms was just a reflection of my day. Now is 04:15 PM, and I don’t know why my day is stumbling down. Still.
I just want to go home and hug my big 'pumpkin'.
I just want to.
Bed
baby blue sheet
and four clean feet
tingle up the pillows
forgetting all sorrows
some lavender smells
from one who sells
a remedy
that turns up a comedy
bunny sleepers
those for the sleepwalkers
candy in the pocket
and chocolates that melt
stars stickers
give illutions like liquors
glow in the dark
like a nightlife park
your fingers
warmth my heart just like ginger
runs through my hair
wow, ... what a pair!
September 13th 2005
and four clean feet
tingle up the pillows
forgetting all sorrows
some lavender smells
from one who sells
a remedy
that turns up a comedy
bunny sleepers
those for the sleepwalkers
candy in the pocket
and chocolates that melt
stars stickers
give illutions like liquors
glow in the dark
like a nightlife park
your fingers
warmth my heart just like ginger
runs through my hair
wow, ... what a pair!
September 13th 2005
Angel
fly above
singing beautifuly for us both
made of satin silky wings
and a glowing diamond ring
angel,
is that really you?
angel,
is that what they call you?
angel,
so what are you?
(June 7th 2005)
singing beautifuly for us both
made of satin silky wings
and a glowing diamond ring
angel,
is that really you?
angel,
is that what they call you?
angel,
so what are you?
(June 7th 2005)
You don't really know
"You're just a kid, you don't have the faintest idea what you're talking about. You've never been out of Boston.
So if I ask you about art, you'd probably give me the skinny on every art book ever writtened. Michelangelo? You know alot about him. Life's work, political aspirations, him and the pope. Sexual orientation. The whole works, right?
I bet you can't tell me what it smells like in the SIstine Chapel. You never actually stood there and looked up at that beautiful ceiling. Seeing that.
If I ask you about woman, you'll probably give me a syllabus of your personal favorites. You may ever been laid a few times. But you can't tell me what it feels like to wake up next to a woman and feel trully happy. You're a tough kid.
If I ask you about war, you'd probably throw Shakespeare at me, right? "Once more into the breach, dear friends."
But you've never been near one. You've never held your bestfriend head in your lap and watch him gasp his last breath lookin' to you for help.
If I ask you about love, you'd probably quote me a sonnet, but you've never looked at a woman and been totally vulnerable. Known someone that could level you with her eyes. Feelin' like God put an angel on earth just for you, who could rescue you from the depths of hell. And you wouldn't know what it's like to be her angel. To have that love for her to be there forever. Through anything.
You don't know about real loss, cause that only occurs when you love somethin more than you love yourself." Said Sean, to Will Hunting.
So if I ask you about art, you'd probably give me the skinny on every art book ever writtened. Michelangelo? You know alot about him. Life's work, political aspirations, him and the pope. Sexual orientation. The whole works, right?
I bet you can't tell me what it smells like in the SIstine Chapel. You never actually stood there and looked up at that beautiful ceiling. Seeing that.
If I ask you about woman, you'll probably give me a syllabus of your personal favorites. You may ever been laid a few times. But you can't tell me what it feels like to wake up next to a woman and feel trully happy. You're a tough kid.
If I ask you about war, you'd probably throw Shakespeare at me, right? "Once more into the breach, dear friends."
But you've never been near one. You've never held your bestfriend head in your lap and watch him gasp his last breath lookin' to you for help.
If I ask you about love, you'd probably quote me a sonnet, but you've never looked at a woman and been totally vulnerable. Known someone that could level you with her eyes. Feelin' like God put an angel on earth just for you, who could rescue you from the depths of hell. And you wouldn't know what it's like to be her angel. To have that love for her to be there forever. Through anything.
You don't know about real loss, cause that only occurs when you love somethin more than you love yourself." Said Sean, to Will Hunting.
Geliat
di sini aku terduduk.
diam.
berteman deru mesin tak berhati.
terhiup sepoi angin.
sementara.
klakson.
teriak.
hentak gemerlap ibu kota.
pedih dan tawa.
maya.
waktu,
tak juga kau menunggu.
angan,
tak juga kau menentu.
asa,
tak jua kau berlabuh.
rindu.
malunya hati pada sunyi.
dan aku pun berlari.
loncat!
tenggelam dalam padatnya arus.
di penat yang tak pernah cukup terbayar keringat.
merangkak dalam riak tak berujung.
mencari hati.
mencari apa yang bisa kupetik hari ini.
tak cukup.
tak pernah cukup berarti.
dan besok, aku kembali.
tamak.
kau harus mati!!!
agar kucernai kecilnya diri.
(May 10th 2005, Victoria's lobby seven sumthin')
diam.
berteman deru mesin tak berhati.
terhiup sepoi angin.
sementara.
klakson.
teriak.
hentak gemerlap ibu kota.
pedih dan tawa.
maya.
waktu,
tak juga kau menunggu.
angan,
tak juga kau menentu.
asa,
tak jua kau berlabuh.
rindu.
malunya hati pada sunyi.
dan aku pun berlari.
loncat!
tenggelam dalam padatnya arus.
di penat yang tak pernah cukup terbayar keringat.
merangkak dalam riak tak berujung.
mencari hati.
mencari apa yang bisa kupetik hari ini.
tak cukup.
tak pernah cukup berarti.
dan besok, aku kembali.
tamak.
kau harus mati!!!
agar kucernai kecilnya diri.
(May 10th 2005, Victoria's lobby seven sumthin')
Concerto
Ya, aku di sana.
Di atas panggung luas keemasan.
Berselimut karpet merah megah.
Ya, akhirnya aku di sana.
Di tengah ribuan telinga.
Tenggelam dalam ratusan nada.
Hening.
Aku menutup mata.
Hanya terdengar detik-detak suara.
Dua telinga, diantara ribuan.
Satu insan, di tengah ratusan.
Ya, aku di sana.
Bahagia bersama alunan nada.
Di ujung sebuah impian.
Di awal impian lainnya.
Bersamamu,
musikku,
hanyalah untukku.
(I miss my violin. A lot.)
Di atas panggung luas keemasan.
Berselimut karpet merah megah.
Ya, akhirnya aku di sana.
Di tengah ribuan telinga.
Tenggelam dalam ratusan nada.
Hening.
Aku menutup mata.
Hanya terdengar detik-detak suara.
Dua telinga, diantara ribuan.
Satu insan, di tengah ratusan.
Ya, aku di sana.
Bahagia bersama alunan nada.
Di ujung sebuah impian.
Di awal impian lainnya.
Bersamamu,
musikku,
hanyalah untukku.
(I miss my violin. A lot.)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
It’s been years. Probably, … eight years. We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit. But after weeks of considera...
-
Di suatu malam yang sunyi dan dingin, langit begitu gelap. Namun, ada seorang wanita yang tidak dapat terlelap. Dari semua mimpi yang tela...