What I should be drinking more often
"Bunda,
I think you should drink
more low fat milk"
Malicca Titan, 7 tahun 9 bulan
sambil elus-elus perut bundanya.
A Little Note
Let me take you to one of my emotional post.
Never at once; someone who got married with the reason of building life together, wanted a divorce. But who knows things that would came up along the marriage? A divorce is the last thing someone would do. Not because they are not strong enough. It is because they are tired to wake up on the same day everyday. Maybe, it is because they urge the need of moving on their life.
And so I did.
The best thing of the worst things happened was, we decided it together. We got to the court together. We wrote the testimony together, consulted every lines to each other and made sure they are accepted by both parties.
What we started well must end well.
And here comes the saddest part, our son. God knows the regrets we had, and still having, for what he has been through. We did mistakes for our marriage, we cannot do mistake to our son. If anyone would ever asked how me and my ex could still meet each other nicely and peacefully, the answer will only be one: it is because the love for our son is so great. Even greater than the love we have for ourselves that we need to lower down our ego, to be stronger to keep catering the past to the present.
And as everyone wanted, our life moves on. But the past can never be forgotten, can never be erased. For now our past have merged together with the present. I am blessed for having a husband who is open minded to accept my ex to come over to our house for a Fridate with our son. To find someone who loves you and wanted to marry you might be hard. But I can tell you, finding someone who wanted to marry you and love not only you but also the ones you love, is way harder. And I am blessed once again for finding one.
I remember the letter my son wrote for his step father on father's day last year.
"Terima kasih Bubu, sudah kasih tahu Titan kalau Titan salah. Terima Kasih. Happy Bubu's day"
:')
Today, I found he wrote another letter. Not for me or his bubu, it was for his cousin. But he showed me and he made me smile. He wrote about what he likes, what makes him feel bored, what the weird things happening, and most important is how he live a happy life and live a happy family.
Our life might not perfect, Malicca. But your happiness is what I can always promise you that I will try my best. Let's be happy with our limitations. Let's make peace with ourselves and all the things or people we ever hate.
...
I am blessed.
Thank you God, for giving such kind and wonderful people in my life.
Having them makes me think that no such little hatred deserves a space in my brain.
Never at once; someone who got married with the reason of building life together, wanted a divorce. But who knows things that would came up along the marriage? A divorce is the last thing someone would do. Not because they are not strong enough. It is because they are tired to wake up on the same day everyday. Maybe, it is because they urge the need of moving on their life.
And so I did.
The best thing of the worst things happened was, we decided it together. We got to the court together. We wrote the testimony together, consulted every lines to each other and made sure they are accepted by both parties.
What we started well must end well.
And here comes the saddest part, our son. God knows the regrets we had, and still having, for what he has been through. We did mistakes for our marriage, we cannot do mistake to our son. If anyone would ever asked how me and my ex could still meet each other nicely and peacefully, the answer will only be one: it is because the love for our son is so great. Even greater than the love we have for ourselves that we need to lower down our ego, to be stronger to keep catering the past to the present.
And as everyone wanted, our life moves on. But the past can never be forgotten, can never be erased. For now our past have merged together with the present. I am blessed for having a husband who is open minded to accept my ex to come over to our house for a Fridate with our son. To find someone who loves you and wanted to marry you might be hard. But I can tell you, finding someone who wanted to marry you and love not only you but also the ones you love, is way harder. And I am blessed once again for finding one.
I remember the letter my son wrote for his step father on father's day last year.
"Terima kasih Bubu, sudah kasih tahu Titan kalau Titan salah. Terima Kasih. Happy Bubu's day"
:')
Today, I found he wrote another letter. Not for me or his bubu, it was for his cousin. But he showed me and he made me smile. He wrote about what he likes, what makes him feel bored, what the weird things happening, and most important is how he live a happy life and live a happy family.
Our life might not perfect, Malicca. But your happiness is what I can always promise you that I will try my best. Let's be happy with our limitations. Let's make peace with ourselves and all the things or people we ever hate.
![]() |
| 7 y.o big brother lulled her 1,5 y.o little sister while mom was driving. |
![]() |
| The little note. |
![]() |
| What I always witness before bed time. |
...
I am blessed.
Thank you God, for giving such kind and wonderful people in my life.
Having them makes me think that no such little hatred deserves a space in my brain.
Oh, hello Kenny Rogers
Setelah dua kali gagal, akhirnya berhasil juga bikin ayam panggang simpel tapi enak ala Kenny Rogers. Yang pertama, salah bumbu. Terlalu heboh bumbunya. Yang ke dua, rumah penuh asap karena bakar ayam dan masih berdarah-darah juga dalamnya. Yang ke tiga, Alhamdulillah lebih sukses.
Saya pakai 4 potong paha double (paha atas - bawah), kalau dihitung-hitung sama aja dengan satu ekor ayam ya.
Tiga siung bawah putih digerus, campur dengan satu sachet Masako ayam (oh I love Masako by the way, it is just magical! hahaha), balurin di setiap permukaan ayam.
Taruh di dalam kontainer tertutup, masukkan ke dalam lemari es selama beberapa jam supaya menyerap. Di kasus saya kemarin, saya bumbuin pagi lalu proses sorenya menjelang makan malam.
Setelah kira-kira menyerap, kukus selama tiga puluh menit dengan api kecil.
Siapkan 2 siung bawah merah, gerus halus lalu campurkan pada 1 sendok makan mentega yang sudah dilelehkan. Oles lelehan mentega dan bawang di seluruh permukaan dengan kuas, lalu panggang di atas pan atau bisa juga panggang di oven atau bakaran. Terserah aja sih itu mah, seadanya yang di rumah :)
Voila, it tastes good I tell ya!
Saya pakai 4 potong paha double (paha atas - bawah), kalau dihitung-hitung sama aja dengan satu ekor ayam ya.
Tiga siung bawah putih digerus, campur dengan satu sachet Masako ayam (oh I love Masako by the way, it is just magical! hahaha), balurin di setiap permukaan ayam.
Taruh di dalam kontainer tertutup, masukkan ke dalam lemari es selama beberapa jam supaya menyerap. Di kasus saya kemarin, saya bumbuin pagi lalu proses sorenya menjelang makan malam.
Setelah kira-kira menyerap, kukus selama tiga puluh menit dengan api kecil.
Siapkan 2 siung bawah merah, gerus halus lalu campurkan pada 1 sendok makan mentega yang sudah dilelehkan. Oles lelehan mentega dan bawang di seluruh permukaan dengan kuas, lalu panggang di atas pan atau bisa juga panggang di oven atau bakaran. Terserah aja sih itu mah, seadanya yang di rumah :)
Voila, it tastes good I tell ya!
Musim hujan
Titan:
"Ah, ujan lagi ujan lagi. Rugi deh nih"
Bunda:
"Lho, kenapa?"
Titan:
"I will lose my job. You don't need someone to water the plants in rainy season."
Bunda:
"Oh, about that. Well, you can weed. They grow furiously in rainy season."
Titan:
"But it is hard, you need to pay me more."
Laaaaah, dia nawar hahahaha
"Ah, ujan lagi ujan lagi. Rugi deh nih"
Bunda:
"Lho, kenapa?"
Titan:
"I will lose my job. You don't need someone to water the plants in rainy season."
Bunda:
"Oh, about that. Well, you can weed. They grow furiously in rainy season."
Titan:
"But it is hard, you need to pay me more."
Laaaaah, dia nawar hahahaha
Responsibly Happy
Menjelang tahun baru 2015, kami sekeluarga mengalami perubahan-perubahan besar. Perubahan yang membiasakan kami untuk hidup lebih 'seadanya' dengan mengurangi fasilitas-fasilitas yang berlebihan. Kenapa? Karena ternyata tanpa kita sadari, selama ini kita hidup terlalu manja. Baik anak-anak maupun saya.
Mulai Masak Sendiri
Sebenernya agak malu cerita tentang hal yang satu ini: sekian tahun berumah tangga dan punya rumah sendiri, baru sekarang pontang-panting nyiapin asupan makanan buat sendiri, suami dan tentunya anak-anak.
Lah, ... emang selama ini begimanaaaaaaa?
Nah, ini nih bagian malunya. Karena saya selama ini bekerja, jadinya urusan makan malam dan makan anak-anak saya catering sama ibu. Bukan saja karena lebih simpel, tapi karena masakan ibu saya luar biasa enaknya (ya, menurut saya sih ... anaknya! Hahaha). Paling weekend saya masak lucu-lucuan, atau masak buat anak-anak. Sisanya mah ... cincay!
Nah, sejak pertengahan Desember 2014 lalu, saya memutuskan untuk berbelanja dan memasak sendiri saja. Sudah saatnya saya menjadi istri dan ibu yang lebih bertanggung jawab terhadap makanan orang-orang rumah. Setiap weekend, saya dan suami belanja kebutuhan untuk seminggu ke depan di pasar basah. Memilih binatang- binatang yang akan kami konsumsi lima hari ke depan plus beli bumbu-bumbu. Saya ingat betul belanja perdana saya untuk kebutuhan dapur yang masih nol hanyalah sekitar tiga ratus lima puluh ribu saja. Tentunya belum termasuk sayur, yang saya pikir lebih baik beli harian aja di tukang sayur supaya masih segar saat dimasak. Kami pulang setelah berhasil memenuhi 2 tas envirosax kami (duh, mesti banget ya disebut merknya? Hahaha ... karena belanja di pasar juga harus tetap gaya!) dengan ikan, udang, cumi, ayam dan bumbu-bumbu. Hari itu, saya memasak perdana dengan menu tenggiri bakar bumbu kuning. Ih, hebat ya? Hahahaha ... sama sekali enggak. Terima kasih sama uda penjual bumbu, saya tinggal bilang "Uda, minta bumbu ikan bakar 3000 ya!"
Untuk belanja bulanan di Superindo, saya pecah menjadi belanja 2 mingguan. Belanja sayur harian di tukang sayur yang tidak menghabiskan lebih dari sepuluh ribu, beli telur 1 kg untuk satu minggu di warung depan dan beli roti di Indomaret atau Alfa Mart sebutuhnya saja. Biasanya sih mampir ke sana setelah jemput Titan dari sekolah. Oh iya, belanja kecil-kecil di Indomaret ini ternyata kalau dikumpul-kumpul jadi jajanan mahal, lho! Untuk menyiasatinya, saya beli kartu Indomaret yang bisa di top - up di ATM. Jadi setiap bulan jajanan Indomaret sudah ada platformnya. Lumayan juga kartunya bisa dipakai buat e-toll :)
Dengan masak sendiri ini, Alhamdulillah kita semua belajar banyak. Karena suami enggak suka makan makanan ala carte yang kebule-bulean (padahal itu yang gampang dimasak hahaha), saya harus belajar masak makanan Indonesia. Walau akhirannya lebih banyak tumis sih, hehehe. Yang jelas, Ariawan membawa bekal makan siangnya sendiri. Biasanya, bekal ke kantor ini adalah left-over foods dari dinner semalam. Kalau kebetulan habis, baru deh masak lagi, jadilah musti bangun lebih pagi.
Selain itu, mulai juga mikir tentang menu sehat yang minimal minyak. Rebus dan bakar, kalau bisa. Buat nasi, saya campur beras putih dengan sedikit beras merah menjadikannya beras pink yang lucu hahaha. Titan yang picky eater, Alhamdulillah kebiasaan makannya mulai membaik. Makan apapun yang bundanya masak, suka atau enggak suka. Karena ibunya ini sudah terlalu lelah kalau harus masak menu yang berbeda lagi buat dia. Tentunya pilihan menu juga enggak aneh-aneh sih. Dikira-kira aja yang anak-anak bisa suka.
Buat menghemat waktu dan siap-siap kalau kepepet, saya selalu menyimpan tempe / tahu bacem dan ayam segar berbumbu di lemari es. Kapanpun dibutuhkan, tinggal buka container trus goreng. Kalau lagi males masak, kadang pesen juga sih ke delivery Sederhana atau makan di luar hahaha.
Cutting off the bills
Kemanjaan kita berikutnya adalah ketergantungan terhadap water heater. Ow yeah. Akibat tagihan listrik yang melonjak akhir-akhir ini karena memang TDLnya naik, akhirnya kabel water heater pun saya cabut. Tadinya sih cuma pengen tahu aja, apakah setelah dadah-dadah sama air hangat tagihan listrik bisa berkurang. Eh, ternyata benar, tagihan listrik berkurang tiga puluh persen.
Awalnya sedih juga, kasihan luna yang masih umur satu tahun. Kasihan Titan yang harus mandi pagi dengan air dingin. Tapi ternyata, Alhamdulillah Luna baik-baik aja. Dia malah seneng banget bisa main di bawah keran. Dan Titan, sejak mandi pakai air dingin, mandi paginya jadi super cepat dan akhirnya ke sekolah pun tidak lagi telat. Super yeay!
Tinggal first media aja nih, langganan TV kabel tapi enggak pernah ditonton. Mau diputusin, kita masih butuh internetnya. Karena kalau hanya berlangganan internet aja, justru lebih mahal jatuhnya. Bisa enam ratus ribuan per bulan. So, ya sudahlah ya kita merem aja.
So yeah, these are just the beginning of our thrifty lifting journey. Semoga besok-besok bisa lebih menghargai seadanya hidup, menghargai apa yang ada.
Amin.
![]() |
| uda - uda si jago bumbu |
![]() |
| sayur lodeh, ikan asin, sambel, tempe dan empal goreng |
![]() |
| bekal kakak titan |
![]() |
| temen weekly shopping |
You
i hardly remember the last time i watch your face when you sleep.
trace the wrinkles,
count your eye lashes,
watching you breathing hard as hard as the days you have had.
but i am doing it now
and everything flashes back.
it is amazing how my brain remembers the every-little-things in fourteen years.
the alarm beeps.
and your eyes opened up.
"hello" i said.
thisclose.
trace the wrinkles,
count your eye lashes,
watching you breathing hard as hard as the days you have had.
but i am doing it now
and everything flashes back.
it is amazing how my brain remembers the every-little-things in fourteen years.
the alarm beeps.
and your eyes opened up.
"hello" i said.
thisclose.
"I take the consequence and I am fine."
Yup. That's my son.
Untuk sekilas, terkesan keren ya hahaha. Cuma, akhir-akhir ini saya agak dibikin pusing karenanya.
Umur Titan sekarang 8 tahun kurang 4 bulan. Sejak kecil, saya selalu mengajarkan dia untuk membuat pilihan sendiri dan menerima konsekuensinya. Mulai dari memilih pakaian sehabis mandi, sampai menerima konsekuensi harus ke dokter sendiri kalau sakit karena menolak makan. Pada kenyataannya sih saya antar dia ke dokter, tapi saya cuma bertugas mengantar. Mendaftar dan bicara pada dokter, itu kesepakatan yang harus dia lakukan sendiri. Saya masih ingat benar, saat itu Titan berusia 4 tahun lebih sedikit dan dia melakukannya dengan baik.
Akhir-akhir ini, saya terpaksa jadi harus terdiam (karena mikir harus bagaimana) melihat karma sendiri. Entah harus bangga atau enggak, yang jelas sih saya bingung. Saya ceritain ya beberapa kejadiannya.
Beberapa bulan lalu, saya; luna dan titan jalan-jalan ke mall. Bagian bawah stroller Luna (yang biasanya berupa kantong), lupa saya pasang setelah beberapa hari sebelumnya saya cuci. Hari itu, bergantianlah Luna saya gendong dan Titan duduk di atas stroller sambil tumpang kaki dan melepas sepatu. Sepatunya kemana? Sepatunya, dengan santai Titan taruh di kolong dimana kantong tersebut biasanya berada. Sayangnya, Titan kurang teliti untuk mengetahui bahwa ia menaruh sepatu di tempat yang tidak ada penahannya. Alhasil, sepatunya tertinggal entah kemana.
Saya baru 'ngeh' kejadian ini saat makan siang, melihat dia berjalan santai sambil cekeran. Mukanya biasa aja gitu, kaya enggak ada yang salah.
"Lho, sepatu Titan kemana?"
"Uhmmm ... tadi waktu duduk di stroller aku lepas sepatu dan aku taruh di kolong, tapi ternyata bawahnya enggak ada dan Titan enggak tahu."
"Jadi daritadi kamu cekeran gini?"
"Iya."
Melihat mukanya yang santai, saya juga enggak panik. Cuma mikir aja, jatuh dimana kira-kira itu sepatu. Titan juga enggak minta beliin sendal atau mencari gantinya. Enggak juga merasa ada yang salah dengan keliling-keliling mall cekeran. Enggak merasa malu juga diliatin orang. Biasa aja. Dia tahu dia salah, dan dia terima konsekuensinya: cekeran keliling mall. Enggak berani minta beli gantinya, karena dia tahu dia salah. Mungkin karena dia juga mengerti, bahwa ibunya ini enggak akan membelikan gantinya.
Untung parkir dekat sekali dengan pintu keluar di basement. Saya hanya minta dia untuk tunggu di lantai yang bersih dan tidak ikut berjalan di parkiran karena pasti lantainya panas dilalui ribuan mobil. Dan kami pun pulang.
Cerita ke dua.
Hampir sama dengan cerita pertama, tiba-tiba di mall saya melihat Titan berkaos kaki tapi bersandal jepit buluk.
"Lho, kok pakai kaos kaki tapi pakai sendal jepit? Kotor banget lagi sendalnya. Ketinggalan di mobil ya, sepatunya? Yuk, mau balik lagi?"
"It is okay, Bunda. Aku lupa bawa sepatu. Tadi setelah pakai kaos kaki, aku main-main dulu di halaman pakai sendal trus kelupaan deh pakai sepatunya."
"Oh, ya kalau gitu dibuka aja kaos kakinya. Pakai sendalnya aja."
"No, it is okay. Sendalnya kotor, aku enggak mau kakinya jadi kotor. Gini ajalah."
Trus jalan deh dia kaya anak lagi sakit panas pakai kaos kaki tapi pakai sendal jepit.
Cerita lainnya.
Karena capek dan bosan setiap hari harus 'berantem' soal bangun pagi dan buru-buru pergi ke sekolah, pada term kemarin saya merubah trik. Saya benar-benar jadi fasilitator aja, dimana Titan yang atur waktunya sendiri. Pagi-pagi, saya ingatkan dia untuk bangun. Ingatkan untuk menyegerakan makan dan berangkat sekolah. Yang biasanya saya ikut senewen, di term kemarin saya berusaha untuk santai. Pun urusan belajar. Kalau mau belajar hayuk, kalau lagi malas ya enggak papa.
Hasilnya pada PSTC kemarin: telat 19x dan harus ikut remedial (tambahan jam pelajaran) setiap hari senin dan kamis.
"Titan, kalau telat tuh rasanya gimana ya?"
"Biasa aja. Malu sih, dikit. Tapi ya enggak papa."
"Enggak dihukum?"
"Enggak ada hukumannya, Nda."
"Missnya enggak marah?"
"Enggaklah, masa guru marah-marah. Ya paling di - remind aja."
"Karena kamu telat, kamu jadi harus stay di sekolah lebih lama. Enggak enak, kan?"
"Enggak papa, Nda. Enak kok, Titan malah lebih fokus belajarnya karena cuma sedikit muridnya kalau pas remedial."
"Jadi menurut kamu telat enggak papa?"
"Ehm ... enggak baik sih, tapi kalau jadi harus stay lebih lama ya enggak papa juga."
hhh!
Untuk sekilas, terkesan keren ya hahaha. Cuma, akhir-akhir ini saya agak dibikin pusing karenanya.
Umur Titan sekarang 8 tahun kurang 4 bulan. Sejak kecil, saya selalu mengajarkan dia untuk membuat pilihan sendiri dan menerima konsekuensinya. Mulai dari memilih pakaian sehabis mandi, sampai menerima konsekuensi harus ke dokter sendiri kalau sakit karena menolak makan. Pada kenyataannya sih saya antar dia ke dokter, tapi saya cuma bertugas mengantar. Mendaftar dan bicara pada dokter, itu kesepakatan yang harus dia lakukan sendiri. Saya masih ingat benar, saat itu Titan berusia 4 tahun lebih sedikit dan dia melakukannya dengan baik.
Akhir-akhir ini, saya terpaksa jadi harus terdiam (karena mikir harus bagaimana) melihat karma sendiri. Entah harus bangga atau enggak, yang jelas sih saya bingung. Saya ceritain ya beberapa kejadiannya.
Beberapa bulan lalu, saya; luna dan titan jalan-jalan ke mall. Bagian bawah stroller Luna (yang biasanya berupa kantong), lupa saya pasang setelah beberapa hari sebelumnya saya cuci. Hari itu, bergantianlah Luna saya gendong dan Titan duduk di atas stroller sambil tumpang kaki dan melepas sepatu. Sepatunya kemana? Sepatunya, dengan santai Titan taruh di kolong dimana kantong tersebut biasanya berada. Sayangnya, Titan kurang teliti untuk mengetahui bahwa ia menaruh sepatu di tempat yang tidak ada penahannya. Alhasil, sepatunya tertinggal entah kemana.
Saya baru 'ngeh' kejadian ini saat makan siang, melihat dia berjalan santai sambil cekeran. Mukanya biasa aja gitu, kaya enggak ada yang salah.
"Lho, sepatu Titan kemana?"
"Uhmmm ... tadi waktu duduk di stroller aku lepas sepatu dan aku taruh di kolong, tapi ternyata bawahnya enggak ada dan Titan enggak tahu."
"Jadi daritadi kamu cekeran gini?"
"Iya."
Melihat mukanya yang santai, saya juga enggak panik. Cuma mikir aja, jatuh dimana kira-kira itu sepatu. Titan juga enggak minta beliin sendal atau mencari gantinya. Enggak juga merasa ada yang salah dengan keliling-keliling mall cekeran. Enggak merasa malu juga diliatin orang. Biasa aja. Dia tahu dia salah, dan dia terima konsekuensinya: cekeran keliling mall. Enggak berani minta beli gantinya, karena dia tahu dia salah. Mungkin karena dia juga mengerti, bahwa ibunya ini enggak akan membelikan gantinya.
Untung parkir dekat sekali dengan pintu keluar di basement. Saya hanya minta dia untuk tunggu di lantai yang bersih dan tidak ikut berjalan di parkiran karena pasti lantainya panas dilalui ribuan mobil. Dan kami pun pulang.
Cerita ke dua.
Hampir sama dengan cerita pertama, tiba-tiba di mall saya melihat Titan berkaos kaki tapi bersandal jepit buluk.
"Lho, kok pakai kaos kaki tapi pakai sendal jepit? Kotor banget lagi sendalnya. Ketinggalan di mobil ya, sepatunya? Yuk, mau balik lagi?"
"It is okay, Bunda. Aku lupa bawa sepatu. Tadi setelah pakai kaos kaki, aku main-main dulu di halaman pakai sendal trus kelupaan deh pakai sepatunya."
"Oh, ya kalau gitu dibuka aja kaos kakinya. Pakai sendalnya aja."
"No, it is okay. Sendalnya kotor, aku enggak mau kakinya jadi kotor. Gini ajalah."
Trus jalan deh dia kaya anak lagi sakit panas pakai kaos kaki tapi pakai sendal jepit.
Cerita lainnya.
Karena capek dan bosan setiap hari harus 'berantem' soal bangun pagi dan buru-buru pergi ke sekolah, pada term kemarin saya merubah trik. Saya benar-benar jadi fasilitator aja, dimana Titan yang atur waktunya sendiri. Pagi-pagi, saya ingatkan dia untuk bangun. Ingatkan untuk menyegerakan makan dan berangkat sekolah. Yang biasanya saya ikut senewen, di term kemarin saya berusaha untuk santai. Pun urusan belajar. Kalau mau belajar hayuk, kalau lagi malas ya enggak papa.
Hasilnya pada PSTC kemarin: telat 19x dan harus ikut remedial (tambahan jam pelajaran) setiap hari senin dan kamis.
"Titan, kalau telat tuh rasanya gimana ya?"
"Biasa aja. Malu sih, dikit. Tapi ya enggak papa."
"Enggak dihukum?"
"Enggak ada hukumannya, Nda."
"Missnya enggak marah?"
"Enggaklah, masa guru marah-marah. Ya paling di - remind aja."
"Karena kamu telat, kamu jadi harus stay di sekolah lebih lama. Enggak enak, kan?"
"Enggak papa, Nda. Enak kok, Titan malah lebih fokus belajarnya karena cuma sedikit muridnya kalau pas remedial."
"Jadi menurut kamu telat enggak papa?"
"Ehm ... enggak baik sih, tapi kalau jadi harus stay lebih lama ya enggak papa juga."
hhh!
a quality time
i think, every child needs to have a quality time just with their mom or dad.
titan has the fridate with his ayah. like the name, it happens every friday. luna has it (almost) every morning, taking shower with her bubu and she has it all day with me.
now, what about titan and me?
it has been months since la luna joined the get-kakak-to-school thingy. both sat in the car, watch some movies and voila, kakak gets to reach the school. but then i thought that it was not all good, because i did not have the time to 'recharge' malicca about the good things getting to school and all about the good things keeping the lessons handy. he would only be busy with the movie , since it is also what will make la luna to stay-put in the car seat. no time for warming up and pre-condition about school time.
this term, i changed my method. taking titan to school and pick him up from school, will be our quality time. i get the chance to opened-up his door and stood on his level. i get the chance to tidy up his collar and say "stay focus to your lessons and have fun with your friends." i also get the chance taking him to the class, watch him put his things in the locker and said "see you soon." i also get the chance talking about everything and have a laugh together.
yes, i feel better. i think he does too.
maybe this is one of the thing we need to consider when we are adding-up numbers for our child. not only the money, but also the time we can afford for them.
titan has the fridate with his ayah. like the name, it happens every friday. luna has it (almost) every morning, taking shower with her bubu and she has it all day with me.
now, what about titan and me?
it has been months since la luna joined the get-kakak-to-school thingy. both sat in the car, watch some movies and voila, kakak gets to reach the school. but then i thought that it was not all good, because i did not have the time to 'recharge' malicca about the good things getting to school and all about the good things keeping the lessons handy. he would only be busy with the movie , since it is also what will make la luna to stay-put in the car seat. no time for warming up and pre-condition about school time.
this term, i changed my method. taking titan to school and pick him up from school, will be our quality time. i get the chance to opened-up his door and stood on his level. i get the chance to tidy up his collar and say "stay focus to your lessons and have fun with your friends." i also get the chance taking him to the class, watch him put his things in the locker and said "see you soon." i also get the chance talking about everything and have a laugh together.
yes, i feel better. i think he does too.
maybe this is one of the thing we need to consider when we are adding-up numbers for our child. not only the money, but also the time we can afford for them.
di suatu pagi
entah kenapa, lagi suka dengan teras belakang ini. sejak hari minggu yang lalu, tepatnya. awalnya karena mau kedatangan eyang kembar, jadi sedikit rapi-rapi dan beres-beres. naro pohon kecil di depan jendela. enggak disangka, dengan seringnya hujan di pagi hari beberapa hari ini, ternyata nongkrong di teras pagi-pagi sebelum semuanya bangun itu enak banget. sambil ngopi, sambil mikir-mikir kesana kemari.
set meja dan kursi di teras belakang, masih juga set lipat yang seharusnya ada di halaman. tapi karena lagi sering hujan, lama-lama capek banget musti angkat-angkat. sebenernya sih disainnya memang untuk dihujanin dan dipanasin. tapi karena warnanya putih, capek juga musti sikat-sikat terus. lagian kalau ditaro di teras rasanya juga lebih berguna, karena udah 7 tahun punya rumah tapi masiiih juga belom punya meja makan yang proper ha ha ha....
taplak meja itu, tak lain dan tak bukan adalah flanel bedong jaman titan bayi. sekarang-sekarang ini lagi suka pakai kain apa aja yang ada. asal dicuci setiap hari. mendingan gitu daripada punya taplak kheseus tapi cuma punya satu trus kzl sendiri kalo ketumpahan kuah kuning.
kursi mungil warna hijau itu, enggak lain yaitu kursi tempat luna duduk manis kalau lagi nungguin bundanya masak. kadang sambil ngobrol sama pohon dan sobek-sobek daunnya. enggak jarang juga dia mainan siram-siraman pohon pakai teko yang di atas meja. lama-lama minta diisi air deh, kemudian becek seteras. la la la ... la .. laaa
tembok taman di ujung sana yang berlumut, dulu ada gambar titan di sana. lumayan bertahan lama sampai akhirnya luntur terkena hujan. ya iyalah, gambarnya pakai oil pastel hahahaha .... saya takut sama sesuatu yang permanen di rumah. bukannya apa, saya bosenan banget ampun - ampunan. segala sesuatu harus bisa dibongkar tanpa bekas dan dipasang lagi di tempat lain. itulah kenapa, beberapa hiasan di rumah cuma ngandelin glutack atau lem tembak. musuhan banget sama yang namanya paku, contohnya tierod tanaman yang menggantung di teras ini. itu batang buat gorden di kamar mandi yang bisa ditarik ulur. enggak pernah sekalipun berniat mengebor tiang kayu besi kecintaan, karena suatu hari pasti pot-pot itu enggak lagi ada di sana. pindah ke tempat lain, entah kemana. tergantung mood.
yang paling enggak saya suka dari teras ini adalah ubinnya. dulu, rumah ini emang gaya-gayanya unfinished gitu. cuma ya, ternyata, unfnished style itu emang murah tapiiiii high maintenance. kalau memang bukan tipe yang enggak papa ngeliat lumut tumbuh, atau sedikit toleng-moleng, gak papa deh punya rumah gaya itu. rumah saya ini pelan-pelan udah move-on dari gaya unfinished. walaupun, di sana - sini masih terlihat aksen concrete exposed atau yang menyerupai. ternyata ubin lekang juga dimakan waktu. dari warna hitam, sekarang mengabur jadi warna kelabu. belum lagi noda-noda putih di atasnya bekas air. awwww ... menyebalkan. entah kapan bisa diganti palka kayu dengan kolam kecil yang mengalir di sekelilingnya. amiiiiiiiin :)
*seruput teh*
set meja dan kursi di teras belakang, masih juga set lipat yang seharusnya ada di halaman. tapi karena lagi sering hujan, lama-lama capek banget musti angkat-angkat. sebenernya sih disainnya memang untuk dihujanin dan dipanasin. tapi karena warnanya putih, capek juga musti sikat-sikat terus. lagian kalau ditaro di teras rasanya juga lebih berguna, karena udah 7 tahun punya rumah tapi masiiih juga belom punya meja makan yang proper ha ha ha....
taplak meja itu, tak lain dan tak bukan adalah flanel bedong jaman titan bayi. sekarang-sekarang ini lagi suka pakai kain apa aja yang ada. asal dicuci setiap hari. mendingan gitu daripada punya taplak kheseus tapi cuma punya satu trus kzl sendiri kalo ketumpahan kuah kuning.
kursi mungil warna hijau itu, enggak lain yaitu kursi tempat luna duduk manis kalau lagi nungguin bundanya masak. kadang sambil ngobrol sama pohon dan sobek-sobek daunnya. enggak jarang juga dia mainan siram-siraman pohon pakai teko yang di atas meja. lama-lama minta diisi air deh, kemudian becek seteras. la la la ... la .. laaa
tembok taman di ujung sana yang berlumut, dulu ada gambar titan di sana. lumayan bertahan lama sampai akhirnya luntur terkena hujan. ya iyalah, gambarnya pakai oil pastel hahahaha .... saya takut sama sesuatu yang permanen di rumah. bukannya apa, saya bosenan banget ampun - ampunan. segala sesuatu harus bisa dibongkar tanpa bekas dan dipasang lagi di tempat lain. itulah kenapa, beberapa hiasan di rumah cuma ngandelin glutack atau lem tembak. musuhan banget sama yang namanya paku, contohnya tierod tanaman yang menggantung di teras ini. itu batang buat gorden di kamar mandi yang bisa ditarik ulur. enggak pernah sekalipun berniat mengebor tiang kayu besi kecintaan, karena suatu hari pasti pot-pot itu enggak lagi ada di sana. pindah ke tempat lain, entah kemana. tergantung mood.
yang paling enggak saya suka dari teras ini adalah ubinnya. dulu, rumah ini emang gaya-gayanya unfinished gitu. cuma ya, ternyata, unfnished style itu emang murah tapiiiii high maintenance. kalau memang bukan tipe yang enggak papa ngeliat lumut tumbuh, atau sedikit toleng-moleng, gak papa deh punya rumah gaya itu. rumah saya ini pelan-pelan udah move-on dari gaya unfinished. walaupun, di sana - sini masih terlihat aksen concrete exposed atau yang menyerupai. ternyata ubin lekang juga dimakan waktu. dari warna hitam, sekarang mengabur jadi warna kelabu. belum lagi noda-noda putih di atasnya bekas air. awwww ... menyebalkan. entah kapan bisa diganti palka kayu dengan kolam kecil yang mengalir di sekelilingnya. amiiiiiiiin :)
*seruput teh*
The last day of 2014
i am not the kind of person who make new year's resolution. maybe because i know those would only be plans. maybe because i have learnt, that if you want something; you would have did it already.
i am the kind of person who prefer to reflect, or make reviews of what i have gone through.
like today, the last day of the year 2014.
two thousand and fourteen has been generous. it gives me experience being a full-time mom. it has been luxurious, though i struggled for quite sometimes. now i can enjoy it better. i start to have the acceptance of me not being updated or less exposed with news. i start to accept the single income situation and have become the expert of cutting off budgets and wish-lists.
when you don't know, things are much simpler.
two thousand and fourteen has been a detour of my parenting style. has been a not-so-cool mom , because i have just realised there are so many things i have missed in nurturing and growing titan and la luna yet i tried to catch up within a short period of time.
and it was not good.
about chances, two thousand and fourteen has given me the chance to achieve what every mothers in the world dream of: working in pajamas. i also had the chance to start my own small home industry, and it has been a great growth.
dream comes true? or dreams are about to be made?
about time, two thousand and fourteen gave me a major turn-over about the time for myself. the time to browse internet, to have a long-hour lunches, long-chat with strangers and close friends; the time i had been having for 34 years. last year i learnt to surrender myself to pieces. to listen and do things at the same time. saying the same thing over and over, almost every day, almost every hour. i miss me, to be honest. but me is what i have for the rest of my life.
worry, i should not. there is time for everything.
two thousand and fourteen was also the year of thorough contemplation and what-if wonders about retirement. twenty years from now will not be a long time, and i have not prepared it. thus, these topic links back to the parenting detour: that i don't want to create hassles for my kids during my old days. i want to be independent with independent income, and so i can enjoy my retirement and my children can enjoy their time building their own families and their personal agendas.
amien to that.
so yes,
i hope 2014 has brought you good too and i am sure the best are yet to come in 2015.
happy new year!
i am the kind of person who prefer to reflect, or make reviews of what i have gone through.
like today, the last day of the year 2014.
two thousand and fourteen has been generous. it gives me experience being a full-time mom. it has been luxurious, though i struggled for quite sometimes. now i can enjoy it better. i start to have the acceptance of me not being updated or less exposed with news. i start to accept the single income situation and have become the expert of cutting off budgets and wish-lists.
when you don't know, things are much simpler.
two thousand and fourteen has been a detour of my parenting style. has been a not-so-cool mom , because i have just realised there are so many things i have missed in nurturing and growing titan and la luna yet i tried to catch up within a short period of time.
and it was not good.
about chances, two thousand and fourteen has given me the chance to achieve what every mothers in the world dream of: working in pajamas. i also had the chance to start my own small home industry, and it has been a great growth.
dream comes true? or dreams are about to be made?
about time, two thousand and fourteen gave me a major turn-over about the time for myself. the time to browse internet, to have a long-hour lunches, long-chat with strangers and close friends; the time i had been having for 34 years. last year i learnt to surrender myself to pieces. to listen and do things at the same time. saying the same thing over and over, almost every day, almost every hour. i miss me, to be honest. but me is what i have for the rest of my life.
worry, i should not. there is time for everything.
two thousand and fourteen was also the year of thorough contemplation and what-if wonders about retirement. twenty years from now will not be a long time, and i have not prepared it. thus, these topic links back to the parenting detour: that i don't want to create hassles for my kids during my old days. i want to be independent with independent income, and so i can enjoy my retirement and my children can enjoy their time building their own families and their personal agendas.
amien to that.
so yes,
i hope 2014 has brought you good too and i am sure the best are yet to come in 2015.
happy new year!
![]() |
| The last sunrise of 2014, taken from titan's window. |
Bunda, kenapa orang masuk penjara?
Me and my son on a fine morning, earlier back then.
Malicca:
Nda, kenapa orang masuk penjara?
Me:
Hmmm, ... mau jawaban jujur atau mau jawaban bener?
Malicca:
Apa bedanya?
Me:
Pilih dulu, dong.
Malicca:
Apa aja tadi pilihannya?
Me:
Mau tau jawaban bener, atau jawaban jujur?
Malicca:
Hmmm ... yang bener apa?
Me:
Jawaban benernya, orang masuk penjara karena dia berbuat salah atau melanggar hukum.
Malicca:
Kalau jawaban jujur?
Me:
Jawaban benar itu, ya benar.
Jawaban yang jujur itu, jawaban asli sesuai fakta. Yang benar-benar terjadi.
Enggak selalu benar, sih.
Jawaban jujur tentang kenapa orang masuk penjara adalah,
1. Karena dia berbuat salah, ... DAN ketahuan.
2. Orang masuk penjara karena, ... dia enggak bisa membuktikan bahwa dia benar.
Malicca: diam.
Me (dalam hati):
I know, son.
You might not understand me.
But I know you will, someday.
Malicca:
Nda, kenapa orang masuk penjara?
Me:
Hmmm, ... mau jawaban jujur atau mau jawaban bener?
Malicca:
Apa bedanya?
Me:
Pilih dulu, dong.
Malicca:
Apa aja tadi pilihannya?
Me:
Mau tau jawaban bener, atau jawaban jujur?
Malicca:
Hmmm ... yang bener apa?
Me:
Jawaban benernya, orang masuk penjara karena dia berbuat salah atau melanggar hukum.
Malicca:
Kalau jawaban jujur?
Me:
Jawaban benar itu, ya benar.
Jawaban yang jujur itu, jawaban asli sesuai fakta. Yang benar-benar terjadi.
Enggak selalu benar, sih.
Jawaban jujur tentang kenapa orang masuk penjara adalah,
1. Karena dia berbuat salah, ... DAN ketahuan.
2. Orang masuk penjara karena, ... dia enggak bisa membuktikan bahwa dia benar.
Malicca: diam.
Me (dalam hati):
I know, son.
You might not understand me.
But I know you will, someday.
Hari ini, saya merasakan kekuatan cinta
Setelah kegagalan saya dengan bahtera (ciyeee) perkawinan saya yang pertama, agaknya saya jadi berhenti berharap akan sesuatu. Hmmmm, maksudnya, I do believe in hope, yes. But not to expect. Setelah turn-over besar dalam hidup saya itu, saya berusaha untuk ngejalanin aja kehidupan apa adanya. Apa yang bisa dilakukan, ya dilakukan. Kalau kepengen sesuatu dan mampu, ya dapetin. Yang jelas-jelas terlihat dan terasa ajalah, udah enggak mau lagi set up target yang gimana-gimana.
Itu juga yang membuat saya memutuskan untuk berhenti kerja kantoran: karena pada saat itu memang saya lebih dibutuhin di rumah. Iseng-iseng punya bisnis kecil ya anggap aja bonus, karena memang enggak pernah terpikirkan sebelumnya. Mungkin itu sebabnya bisnis yang bentuknya kecil di mindset saya; tetaplah kecil. Belum terpikir untuk menjadikannya besar dan meraksasa. Niat saya, bisnis kecil itu tetap berjalan sampai Luna besar. Kali-kali aja seiring waktu, caramel bebikinan bisa jadi seperti nutella saat Luna punya cucu nanti.
Selama saya berpasrah pada alur hidup, justru sepertinya malah banyak kejutan yang menyenangkan yang bikin hidup jadi lebih hidup. Seperti beberapa bulan yang lalu, dimana seseorang menelfon saya dan meminta untuk bergabung menjadi bagian dari sebuah tim kerja. Terus terang, saya enggak percaya dengan kemampuan saya. Tapi, kemudian saya pikir mungkin inilah jalan yang harus saya jalani. Toh saya tidak pernah mencari, tapi kesempatan ini datang sendiri. Lagipula, saya selalu memikirkan tentang bagaimana bekerja memakai baju kebesaran saya: daster!
Jadi, ... mungkin memang inilah jalan yang sudah ditentukan Tuhan untuk saya.
Ternyata, langkahnya memang tidak mudah. Untung deh, saya udah kadung terbiasa untuk enggak berharap. Setelah dihitung-hitung, ternyata proses rekrutmen dan segala perintilannya memakan waktu lebih dari tiga bulan. Pakai tes pula, hadeuuuuh. Sempet juga nih merasa terhina karena pakai acara tes-tesan segala. "Plis, deh!" bathin saya. Tapi setelah menjalankan tes itu, saya jadi sadar bahwa ternyata memang kemampuan saya tidak secanggih yang saya bayangkan hahaha. Jadi, ... ya sudahlah ya. Bekerja dari rumah kayanya cuma akan jadi impian saya aja yang entah kapan bisa kejadian.
Lalu, saya pun kembali mengaduk gula.
Hingga akhirnya kemudian saya ditelfon kembali. Mengatakan bahwa saya berhasil masuk ke dalam tim kerja dan harus mengikuti onboard training yang diadakan di Jakarta tiga minggu mendatang. Saat itu, saya sempat patah arang. Selain sudah terlalu lama, bisnis kecil saya pun lagi seru-serunya. Ditambah lagi, enggak ada yang bisa dititipi La Luna. Akhirnya, saya bilang bahwa saya belum bisa mengkonfirmasi kehadiran saya dalam training tersebut. Tapi mereka sabar, dan bilang bahwa mereka tetap menunggu dan tetap berharap saya bisa ikutan.
Akhirnya, setelah melihat kemungkinan yang ada, saya memutuskan untuk ikut training tersebut. Hanya satu setengah hari dan ini langkah terakhir saya dari langkah panjang yang sudah saya mulai beberapa bulan sebelumnya. Langkah demi langkah. Email demi email. Interview demi interview. Lagipula saya teringat pesan ayah saya "Jangan memulai sesuatu yang tidak bisa kamu akhiri."
Akhirnya saya memutuskan untuk membiarkan alur kali ini mengambil arah destinasi saya.
"This e-mail is just to confirm my attendance on the training. See you." tulis saya kepada salah satu project manager.
Jauh hari, saya persiapkan La Luna untuk dititipkan pada mbak partimer yang suka bersih-bersih di rumah. Jauh hari, saya siapkan siapa yang akan antar - jemput Titan, memberi tahu pihak sekolah, dan saya siapkan juga rencana bagaimana membagi dua mas ojek langganan dengan suami (iya, karena saya dan suami sama-sama memiliki traffic endurance yang semakin parah untuk menyupir mobil sendiri).
All is set. Itu yang saya pikir sampai pada delapan belas jam terakhir sebelum training: tiba-tiba La Luna demam! Si bocah masih pecicilan sampai akhirnya dia saya peluk karena mau disusui. Hap, ... 38,8 derajat saja. Saya bingung bukan kepalang. Mau dibatalin ikutan training kok rasanya enggak mungkin, tapi kalau La Luna ditinggalin rasanya makin tidak mungkin lagi.
Semalaman saya berharap demamnya akan mereda. Tapi ternyata, saya enggak belajar juga dari berharap. Demamnya malah makin menjadi. Akhirnya dini hari saya langsung menghubungi project manager untuk pasang badan. Bilang anak sakit dan entah harus bagaimana. Kali-kali aja ya, dia punya jawaban. Bagus kalau training diundur hahaha.
Tapi ternyata, kita memang enggak bisa membiarkan orang lain yang menentukan pilihan. Apalagi orang asing yang enggak tahu apa-apa tentang keadaan kita, ya kan? Akhirnya, saya tanya suami. Tapi, seperti biasa, dia hanya berkata "Terserah Bunda."
Ah, gak bantu juga deh :'(
Tapi ternyata, sikap suami saya untuk membiarkan putusan ada di tangan saya, justru saya lihat sebagai betapa besar cintanya sama saya. Dia percaya bahwa saya bisa mengambil keputusan sendiri dan meminimalisasi resiko menyakiti / merepotkan orang lain, dan dia akan mendukung keputusan apapun yang saya buat. Ditambah lagi Titan yang tiba-tiba bilang gini "Bunda tenang aja, titan nanti berangkat dan dijemput di sekolah sama aki. Terus, pulang sekolah Titan ajak main La Luna terus supaya dia enggak inget-inget Bunda." Sebagai penutup, ibu saya pun ikut berkata "Minum obatnya jam berapa aja? Udah, yang lain gimana nanti."
Saya tercenung. Meninggalkan seorang anak berusia 16 bulan yang sedang demam dan tidak pernah lepas dari ibunya sejak dia lahir ke dunia selama satu setengah hari. Mungkin kedengerannya biasa aja. Yang bikin enggak bakal biasa ngadepinnya adalah, bahwa La Luna masih menyusu pada saya, dan yang dicari bukan susunya melainkan kenyamanannya mengemut puting. Jadi, ngebayangin dia bakal uring-uringan nyari 'nenen' aja udah males banget. Ditambah lagi pake demam!
Tapi melihat dukungan dan kekuatan cinta yang diberikan ariawan, Titan dan kedua orang tua saya yang akan menjaga La Luna hari itu (karena si mbak partimer tiba-tiba flu berat), saya memberanikan diri untuk membuat keputusan tiga jam sebelum training dimulai: saya akan tetap ikut. Toh, saya bisa meninggalkan training tersebut dan mengundurkan diri kapan saja di hari itu.
Saat training, Saya berusaha untuk tidak mengingat-ingat La Luna. Katanya, supaya si anak juga enggak rewel saat ditinggalin. Dan, tidak ada sedikit pun kabar dari orang rumah. Kalaupun ada kepanikan, kalau enggak kepepet amat, pasti ibu saya dilarang oleh ayah saya untuk menelfon. Training satu setengah hari berjalan lancar seperti enggak ada kejadian apa-apa. La Luna masih tetap demam.
Di hari ke dua, setelah mengikuti training yang hanya setengah hari, hari saya berakhir di UGD karena tiba-tiba panas luna melonjak hingga 39,6. Anehnya tuh anak masih bisa pecicilan, jadi dokter anaknya juga tenang-tenang aja. Disimpulkan bahwa La Luna terinfeksi virus yang jenisnya masih harus ditunggu sampai besok sore untuk cek darah.
Keesokan harinya adalah hari paling deg-degan selama tahun ini. Menunggu-nunggu apakah La Luna akan demam kembali sehingga dia harus cek darah, atau tubuhnya sendiri yang akan memberi tahu jenis virus apa yang lagi melanda. Alhamdulillah, tidak ada demam lagi selepas 72 jam. Dan kemudian timbullah merah-merah di kulitnya. Oh, La Luna lagi kenalan sama roseola.
Saya bersyukur dengan kekuatan cinta di sekeliling saya. Dan saya makin bersyukur dengan kesempatan saya untuk bekerja di rumah dengan menggunakan daster favorit saya, sambil menyusui, sambil menemani Titan bikin PR, sambil masak sayur.
Anyways, ... hello Cupertino!
Itu juga yang membuat saya memutuskan untuk berhenti kerja kantoran: karena pada saat itu memang saya lebih dibutuhin di rumah. Iseng-iseng punya bisnis kecil ya anggap aja bonus, karena memang enggak pernah terpikirkan sebelumnya. Mungkin itu sebabnya bisnis yang bentuknya kecil di mindset saya; tetaplah kecil. Belum terpikir untuk menjadikannya besar dan meraksasa. Niat saya, bisnis kecil itu tetap berjalan sampai Luna besar. Kali-kali aja seiring waktu, caramel bebikinan bisa jadi seperti nutella saat Luna punya cucu nanti.
Selama saya berpasrah pada alur hidup, justru sepertinya malah banyak kejutan yang menyenangkan yang bikin hidup jadi lebih hidup. Seperti beberapa bulan yang lalu, dimana seseorang menelfon saya dan meminta untuk bergabung menjadi bagian dari sebuah tim kerja. Terus terang, saya enggak percaya dengan kemampuan saya. Tapi, kemudian saya pikir mungkin inilah jalan yang harus saya jalani. Toh saya tidak pernah mencari, tapi kesempatan ini datang sendiri. Lagipula, saya selalu memikirkan tentang bagaimana bekerja memakai baju kebesaran saya: daster!
Jadi, ... mungkin memang inilah jalan yang sudah ditentukan Tuhan untuk saya.
Ternyata, langkahnya memang tidak mudah. Untung deh, saya udah kadung terbiasa untuk enggak berharap. Setelah dihitung-hitung, ternyata proses rekrutmen dan segala perintilannya memakan waktu lebih dari tiga bulan. Pakai tes pula, hadeuuuuh. Sempet juga nih merasa terhina karena pakai acara tes-tesan segala. "Plis, deh!" bathin saya. Tapi setelah menjalankan tes itu, saya jadi sadar bahwa ternyata memang kemampuan saya tidak secanggih yang saya bayangkan hahaha. Jadi, ... ya sudahlah ya. Bekerja dari rumah kayanya cuma akan jadi impian saya aja yang entah kapan bisa kejadian.
Lalu, saya pun kembali mengaduk gula.
Hingga akhirnya kemudian saya ditelfon kembali. Mengatakan bahwa saya berhasil masuk ke dalam tim kerja dan harus mengikuti onboard training yang diadakan di Jakarta tiga minggu mendatang. Saat itu, saya sempat patah arang. Selain sudah terlalu lama, bisnis kecil saya pun lagi seru-serunya. Ditambah lagi, enggak ada yang bisa dititipi La Luna. Akhirnya, saya bilang bahwa saya belum bisa mengkonfirmasi kehadiran saya dalam training tersebut. Tapi mereka sabar, dan bilang bahwa mereka tetap menunggu dan tetap berharap saya bisa ikutan.
Akhirnya, setelah melihat kemungkinan yang ada, saya memutuskan untuk ikut training tersebut. Hanya satu setengah hari dan ini langkah terakhir saya dari langkah panjang yang sudah saya mulai beberapa bulan sebelumnya. Langkah demi langkah. Email demi email. Interview demi interview. Lagipula saya teringat pesan ayah saya "Jangan memulai sesuatu yang tidak bisa kamu akhiri."
Akhirnya saya memutuskan untuk membiarkan alur kali ini mengambil arah destinasi saya.
"This e-mail is just to confirm my attendance on the training. See you." tulis saya kepada salah satu project manager.
Jauh hari, saya persiapkan La Luna untuk dititipkan pada mbak partimer yang suka bersih-bersih di rumah. Jauh hari, saya siapkan siapa yang akan antar - jemput Titan, memberi tahu pihak sekolah, dan saya siapkan juga rencana bagaimana membagi dua mas ojek langganan dengan suami (iya, karena saya dan suami sama-sama memiliki traffic endurance yang semakin parah untuk menyupir mobil sendiri).
All is set. Itu yang saya pikir sampai pada delapan belas jam terakhir sebelum training: tiba-tiba La Luna demam! Si bocah masih pecicilan sampai akhirnya dia saya peluk karena mau disusui. Hap, ... 38,8 derajat saja. Saya bingung bukan kepalang. Mau dibatalin ikutan training kok rasanya enggak mungkin, tapi kalau La Luna ditinggalin rasanya makin tidak mungkin lagi.
Semalaman saya berharap demamnya akan mereda. Tapi ternyata, saya enggak belajar juga dari berharap. Demamnya malah makin menjadi. Akhirnya dini hari saya langsung menghubungi project manager untuk pasang badan. Bilang anak sakit dan entah harus bagaimana. Kali-kali aja ya, dia punya jawaban. Bagus kalau training diundur hahaha.
Tapi ternyata, kita memang enggak bisa membiarkan orang lain yang menentukan pilihan. Apalagi orang asing yang enggak tahu apa-apa tentang keadaan kita, ya kan? Akhirnya, saya tanya suami. Tapi, seperti biasa, dia hanya berkata "Terserah Bunda."
Ah, gak bantu juga deh :'(
Tapi ternyata, sikap suami saya untuk membiarkan putusan ada di tangan saya, justru saya lihat sebagai betapa besar cintanya sama saya. Dia percaya bahwa saya bisa mengambil keputusan sendiri dan meminimalisasi resiko menyakiti / merepotkan orang lain, dan dia akan mendukung keputusan apapun yang saya buat. Ditambah lagi Titan yang tiba-tiba bilang gini "Bunda tenang aja, titan nanti berangkat dan dijemput di sekolah sama aki. Terus, pulang sekolah Titan ajak main La Luna terus supaya dia enggak inget-inget Bunda." Sebagai penutup, ibu saya pun ikut berkata "Minum obatnya jam berapa aja? Udah, yang lain gimana nanti."
Saya tercenung. Meninggalkan seorang anak berusia 16 bulan yang sedang demam dan tidak pernah lepas dari ibunya sejak dia lahir ke dunia selama satu setengah hari. Mungkin kedengerannya biasa aja. Yang bikin enggak bakal biasa ngadepinnya adalah, bahwa La Luna masih menyusu pada saya, dan yang dicari bukan susunya melainkan kenyamanannya mengemut puting. Jadi, ngebayangin dia bakal uring-uringan nyari 'nenen' aja udah males banget. Ditambah lagi pake demam!
Tapi melihat dukungan dan kekuatan cinta yang diberikan ariawan, Titan dan kedua orang tua saya yang akan menjaga La Luna hari itu (karena si mbak partimer tiba-tiba flu berat), saya memberanikan diri untuk membuat keputusan tiga jam sebelum training dimulai: saya akan tetap ikut. Toh, saya bisa meninggalkan training tersebut dan mengundurkan diri kapan saja di hari itu.
Saat training, Saya berusaha untuk tidak mengingat-ingat La Luna. Katanya, supaya si anak juga enggak rewel saat ditinggalin. Dan, tidak ada sedikit pun kabar dari orang rumah. Kalaupun ada kepanikan, kalau enggak kepepet amat, pasti ibu saya dilarang oleh ayah saya untuk menelfon. Training satu setengah hari berjalan lancar seperti enggak ada kejadian apa-apa. La Luna masih tetap demam.
Di hari ke dua, setelah mengikuti training yang hanya setengah hari, hari saya berakhir di UGD karena tiba-tiba panas luna melonjak hingga 39,6. Anehnya tuh anak masih bisa pecicilan, jadi dokter anaknya juga tenang-tenang aja. Disimpulkan bahwa La Luna terinfeksi virus yang jenisnya masih harus ditunggu sampai besok sore untuk cek darah.
Keesokan harinya adalah hari paling deg-degan selama tahun ini. Menunggu-nunggu apakah La Luna akan demam kembali sehingga dia harus cek darah, atau tubuhnya sendiri yang akan memberi tahu jenis virus apa yang lagi melanda. Alhamdulillah, tidak ada demam lagi selepas 72 jam. Dan kemudian timbullah merah-merah di kulitnya. Oh, La Luna lagi kenalan sama roseola.
Saya bersyukur dengan kekuatan cinta di sekeliling saya. Dan saya makin bersyukur dengan kesempatan saya untuk bekerja di rumah dengan menggunakan daster favorit saya, sambil menyusui, sambil menemani Titan bikin PR, sambil masak sayur.
Anyways, ... hello Cupertino!
sudah berapa kali ya saya cerita, kalau setelah umur tujuh tahun itu tiba-tiba anak jadi 'gede'. makin punya keinginan, makin susah diatur, makin semau-maunya, makin gampang sakit hati, makin sensitif, dan tentunya mulai banyak konflik.
tentunya semua itu enggak semerta-merta, sih. saat itu memang secara fisik pun mereka sedang berubah. yang paling jelas: gigi. mungkin, hampir semua anak umur 7 - 8 tahun gigi depannya ompong dua atau empat. iya, umur segitu waktunya gigi susu tanggal berganti gigi dewasa. alhasil, mereka juga dilanda krisis percaya diri yang amat sangat. walau rame-rame mengalami hal itu bersama temen-temen lain di kelas, tetap rasanya malu. apalagi kalau di kelas ada kecengan.
duh.
umur segitu juga umuran masuk sd, jenjang sekolah yang range umurnya paling besar dibanding tk, smp dan sma. melihat teman-teman sekelas yang mulai beragam dan melihat ke atas, sang kakak kelas. bingung antara harus tetap jadi anak mama kaya waktu di TK atau harus jadi anak gede karena malu sama temen-temen yang udah gede.
sotoy.
secara logika, pertumbuhan nalar berpikir pun bukan main pesatnya. antara kemampuan berbahasa, mengolah probabilita dan matematika, semua itu membuat proses argumen jadi semakin panjang dan jawabannya sangaaat penuh alasan, ... apalagi kalau disuruh melakukan sesuatu (yang tidak menyenangkan, tentunya).
capek.
saat-saat begini ini, harusnya kita musti pinter-pinter tarik ulur. kapan harus tegas, kapan bisa didebat. kapan harus serius dan tetiba berubah lucu. tapi namanya orang tua, kan manusia juga. terus terang, saya enggak jadi ibu yang asyik deh beberapa waktu terakhir ini.
"bunda katanya janji mau jadi lebih sabar?"
kata Titan suatu hari saat saya merepet dan mecucu ngeliat kelakuannya.
ah, iya.
sabar
memang
kuncinya.
(>.<)
tentunya semua itu enggak semerta-merta, sih. saat itu memang secara fisik pun mereka sedang berubah. yang paling jelas: gigi. mungkin, hampir semua anak umur 7 - 8 tahun gigi depannya ompong dua atau empat. iya, umur segitu waktunya gigi susu tanggal berganti gigi dewasa. alhasil, mereka juga dilanda krisis percaya diri yang amat sangat. walau rame-rame mengalami hal itu bersama temen-temen lain di kelas, tetap rasanya malu. apalagi kalau di kelas ada kecengan.
duh.
umur segitu juga umuran masuk sd, jenjang sekolah yang range umurnya paling besar dibanding tk, smp dan sma. melihat teman-teman sekelas yang mulai beragam dan melihat ke atas, sang kakak kelas. bingung antara harus tetap jadi anak mama kaya waktu di TK atau harus jadi anak gede karena malu sama temen-temen yang udah gede.
sotoy.
secara logika, pertumbuhan nalar berpikir pun bukan main pesatnya. antara kemampuan berbahasa, mengolah probabilita dan matematika, semua itu membuat proses argumen jadi semakin panjang dan jawabannya sangaaat penuh alasan, ... apalagi kalau disuruh melakukan sesuatu (yang tidak menyenangkan, tentunya).
capek.
saat-saat begini ini, harusnya kita musti pinter-pinter tarik ulur. kapan harus tegas, kapan bisa didebat. kapan harus serius dan tetiba berubah lucu. tapi namanya orang tua, kan manusia juga. terus terang, saya enggak jadi ibu yang asyik deh beberapa waktu terakhir ini.
"bunda katanya janji mau jadi lebih sabar?"
kata Titan suatu hari saat saya merepet dan mecucu ngeliat kelakuannya.
ah, iya.
sabar
memang
kuncinya.
(>.<)
Who actually the rich people
Malicca few days ago.
He woke up and told me a story about his dreams.
T: nda, titan mimpi aneh deh. Masa titan mimpi ada di kamar mandi, pipis, tapi atapnya bolong -bolong gitu. Kaya rumah orang miskin.
Me: eh, apa itu orang miskin?
T: orang yang enggak punya uang, jadi dia engga bisa betulin atap rumahnya kalo di mimpi titan.
Me: hey, enggak gitu ah sayang. Do you know, ... the poor people you mentioned just now; is the richest man however.
T: lho, kenapa?
Me: coba titan perhatiin. Kalau mereka pergi, mereka selalu bawa bekal makanan atau minuman. Dan kalau orang minta, pasti mereka kasih. Coba kalau orang kaya, mereka ngga bawa bekal minum karena mereka pikir mereka bisa beli. Saat terpaksa engga ada yang jual, akhirnya mereka minta juga.
Terus, orang miskin yang kamu bilang tadi, naiknya kendaraan umum. Semua orang boleh naik selama space-nya masih ada. Tapi orang kaya yang menurut kamu punya uang, mereka naik mobil sendiri dan orang lain engga boleh ikut.
T: iya juga ya.
Me: nah, makanya. Enggak baik bilang orang kaya atau orang miskin. Kaya itu, artinya memiliki sesuatu dalam jumlah banyak. Nah, kita semuanya orang kaya. Ada yang kaya harta dan ada juga yang kaya hati. Ada juga yang kaya pengetahuan, senangnya bagi-bagi ilmu karena ilmunya dia ada banyaaaaaaaak.
Nah, kalau bunda dari dulu diajarinnya sama aki dan nini, kalau ada orang yang minta dan kebetulan kita punya apa yang dia minta; ya dikasih aja. Karena, orang enggak akan minta kalau enggak terpaksa. Tapi, kalau memberi, jangan lupa sisakan untuk diri sendiri.
Kalau Titan mau jadi orang yang mana?
T: kan titan udah pernah bilang, i want to be a rich man with and a good man.
Me: nice choice!
spinach chips
as an attempt for finding alternatives for healthier snacks and to set up good habit for kidos to eat more veggies, i finally found some vegetable chips recipe. i tried this one because it looked easy and it actually was. i did not use parmesan cheese, instead, i add some sesame oil and a dash of salt.
we love the taste.
i got the recipe from here.
books update
for the past month, i tried to awake my old reading habit.
amazingly, i managed to read some books.
hopefully, will read some more no matter how tired i am.
amazingly, i managed to read some books.
hopefully, will read some more no matter how tired i am.
![]() |
| what everyone is reading at the moment, i guess. i like it. |
![]() |
| draggy book. almost did not finished it, but then I did. |
![]() |
| the flow is too predictable and a bit rushy, the wordings are so so, but the content is nice. i want malicca read this book someday |
![]() |
| currently reading, hopefully not a waste of time. |
untuk ibu rumah tangga yang sendirian ngurus dua anak dan rumah (dan saya yakin bukan cuma saya aja yang mengalami ini), menunaikan perjanjian ke dokter bukanlah perkara mudah. pertama, meluangkan waktu untuk riset mencari dokter yang sesuai kata hati dan bisa diterima logika. ke dua, mengatur jadwal yang sesuai dengan aktivitas ibu, aktivitas rutin balita dan tentunya aktivitas si kakak; yang mana dialah yang harus bertemu dengan dokter matanya untuk cek up.
saya enggak sebegitu rajinnya setiap tahun cek mata anak-anak, tapi buat titan; sejak lahir ini sudah yang ke tiga kalinya ke dokter mata. sebelumnya karena mata bintitan dan belekan terus, nah kali ini memang sengaja diniatin cek up karena kekhawatiran saya atas durasi main minecraftnya akhir-akhir ini. saya memang paling parno kalau sudah berurusan dengan mata. pernah saya ke dokter mata hanya karena kelilipan yang sudah seminggu lebih enggak kelar-kelar. ternyata benar, kelilipan serbuk entah apa yang amit-amit kecilnya dan karena saya kucek dan rendam pakai boorwater berhari-hari, malah kornea yang tergores dan luka. setelah itu, ... that's it. gak ada lagi main-main soal mata apalagi mata anak-anak. saat saya ragu, mending saya angkut ke dokter.
akhirnya jadwal pun disetujui. hari senin, jam 4 sore. habis sekolah langsung cus ke rumah sakit. sengaja saya kosongkan aktivitas di jam 3 - 7 buat saya dan anak-anak. saya siapkan semua yang dibutuhkan di jam-jam tersebut sejak pagi dan memundurkan jam tidur dan makan siang la luna supaya jam 3 - 4 dia udah fully loaded perut dan matanya. buat antisipasi, saya juga berbekal makan malam buat titan dan luna. well, bukannya pelit. tapi, knowing nih anak dua termasuk golongan picky eater dan enggak punya luxurious time untuk mampir-mampir ke restoran karena yakin banget harus segera pulang mengingat besok masih hari sekolah dan bocah kecil musti bobo.
sebelumnya, saya mau bilang terima kasih pada mereka yang menemukan carseat. duduk anteng di belakang sambil nonton, saya dan laluna jemput kakak titan ke sekolah dan cus langsung ke jakarta eye center di bilangan kedoya; gedung baru yang belum pernah saya kunjungi sejak mereka pindah dari jalan panjang.
sejak awal saya mendaftar sampai saya dapat sms reminder sehari sebelum hari H sampai pak satpam yang sangat membantu mendorongkan stroller dan mengambilkan kartu antrian, saya langsung sreg dengan pelayanan di rumah sakit ini.
setelah proses administrasi dan mengganti kartu-kartu yang hilang karena sudah lama enggak cek up, akhirnya kita melaju ke lantai 4, lantai khusus anak-anak. sampai sana sudah ada mbak yang menjemput di lift dan membantu saya membawa semua kerepotan. tiga jam penantian, enggak terasa karena anak-anak dimanja dengan edutoys yang ada di sana. la luna senang sekali, dan saat itulah baru saya tersadar ternyata dia sudah bisa main duplo dan sudah mulai butuh kegiatan motorik kasar yang lebih menantang dibanding sekedar main bola dan lari-lari di rumput.
titan pun dipanggil untuk melakukan serangkaian tes. ternyata kali ini dia udah enggak norak lagi melihat gambar balon udara di monitor komputer dan bisa duduk lebih tenang dibanding saat tes mata di optik beberapa waktu lalu. cuma norak waktu tes otot mata aja, yang tiba-tiba matanya ditiup angin dan dia segera protes "Itu mataku ditempel kancing kaya coraline ya, Bunda?" habis itu tes jarak baca.
setelah ketiga tes tersebut, kirain udah bakalan cepet-cepet dipanggil. ternyata, kita baru dipanggil 2 jam kemudian. melihat anak-anak asyik main dan ruang menyusui udah kaya kamar sendiri, saya anteng-anteng aja. saya paling seneng kalau tahu ada dokter anak yang telaten memeriksa pasiennya dan mau berlama-lama melayani pertanyaan-pertanyaan bodoh dari ibu bapaknya. lagian, udah terbiasa juga sama dokter alerginya titan yang sekali melayani pasien bisa 20 - 40 menit sendiri.
akhirnya titan dipanggil. ada beberapa pemeriksaan lagi di dalam. dokternya juga asyik, bisa menggali titan kenapa harus berlama-lama di depan komputer saat main minecraft dan menjelaskan apa akibatnya bagi mata. menyimpulkan bahwa jatah jadi jauh berkurang: nonton tv 1 jam sehari (which, nggak pernah nonton tv juga sih dia), main minecraft 1 jam seminggu dan makan sayur brokoli, bayam, wortel, tomat is a must. nah, kalau dokternya yang ngomong, baru deh ni anak umur 7 tahun mau nurut.
terus gimana dengan matanya yang kemarin di optik seis didiagnosa silinder 3/4? ternyata sehat-sehat aja. alhamdulillah. tapi, dokternya menemukan kejanggalan yang selama ini saya pertanyakan. namanya: tics.
jadi, dulu waktu titan sekolah tk kecil di bee school, dia suka banget gerak-gerakin pipi, pangkal hidung, gerenyet-gerenyet enggak jelas, tanpa ia sadari. saya tegur berkali-kali malah semakin jadi. akhirnya, setelah saya diamkan (karena putus asa) ... kebiasaan itu menghilang dengan sendirinya. entah, setelah berapa lama.
nah, kebiasaan itu pun sekarang muncul lagi. tepatnya, setelah saya perhatikan, dia datang ketika titan kehilangan dua gigi serinya bagian atas. awalnya saya kira karena gerakan enggak enak mulut yang tadinya berisi gigi penuh harus kosong di tengah-tengah. tapi lama kelamaan saya curiga, kok gerakannya sama seperti waktu dia di tk kecil dulu.
ternyata, menurut dokter, itulah yang dinamakan dengan tics. sebuah kelainan syaraf karena berlebihnya rangsang dari otak. tics belum ada obatnya, karena sebabnya lebih kepada genetik dan emosional. biasanya, anak-anak yang mengalami tics sedang dilanda stress. tics ini lebih banyak menyerang anak laki-laki, sekitar 6 dari 100 anak.
setelah googling ke sana kemari, saya menyesal sekali karena pernah memarahi titan dengan kebiasaan buruknya itu. karena menurut artikel, semakin ditekan maka semakin menjadi-jadi kebiasaannya itu. trus, titan stress apa dong? setelah saya pikir-pikir, dulu titan sangat tidak suka dengan sekolah bee school. sampai-sampai dia menangis tiap kali mau masuk sekolah. karena tahu cuma akan sekolah setahun, saya enggak segera memindahkan titan dari sekolah lamanya ke sekolah yang memang kami tuju sejak awal. setelah pindah, mungkin itulah kenapa sindrom ticsnya hilang dengan sendirinya. nah kalau sekarang? karena tics muncul setelah giginya ompong, kemungkinan besar dia lagi kena krisis PD, apalagi ada anak cewe di kelasnya yang dia taksir, sama-sama ompong; tapi udah numbuh satu. wah, merasa kalah set kali ya!
akhirnya, sekarang sebelum tidur saya selalu pijat wajah titan dengan tetesan minyak aromateapi. titan nyebutnya 'pijat ramuan' dan kayanya dia sangat menikmatinya karena saya sok-sokan pijat pakai teknik relaksasi ala-ala spa hahaha ... selain itu, saya juga berusaha untuk menjadi pendengar yang lebih baik.
titan,
you are important and you are loved. isn't it all enough?
worry not, my dear.
saya enggak sebegitu rajinnya setiap tahun cek mata anak-anak, tapi buat titan; sejak lahir ini sudah yang ke tiga kalinya ke dokter mata. sebelumnya karena mata bintitan dan belekan terus, nah kali ini memang sengaja diniatin cek up karena kekhawatiran saya atas durasi main minecraftnya akhir-akhir ini. saya memang paling parno kalau sudah berurusan dengan mata. pernah saya ke dokter mata hanya karena kelilipan yang sudah seminggu lebih enggak kelar-kelar. ternyata benar, kelilipan serbuk entah apa yang amit-amit kecilnya dan karena saya kucek dan rendam pakai boorwater berhari-hari, malah kornea yang tergores dan luka. setelah itu, ... that's it. gak ada lagi main-main soal mata apalagi mata anak-anak. saat saya ragu, mending saya angkut ke dokter.
akhirnya jadwal pun disetujui. hari senin, jam 4 sore. habis sekolah langsung cus ke rumah sakit. sengaja saya kosongkan aktivitas di jam 3 - 7 buat saya dan anak-anak. saya siapkan semua yang dibutuhkan di jam-jam tersebut sejak pagi dan memundurkan jam tidur dan makan siang la luna supaya jam 3 - 4 dia udah fully loaded perut dan matanya. buat antisipasi, saya juga berbekal makan malam buat titan dan luna. well, bukannya pelit. tapi, knowing nih anak dua termasuk golongan picky eater dan enggak punya luxurious time untuk mampir-mampir ke restoran karena yakin banget harus segera pulang mengingat besok masih hari sekolah dan bocah kecil musti bobo.
sebelumnya, saya mau bilang terima kasih pada mereka yang menemukan carseat. duduk anteng di belakang sambil nonton, saya dan laluna jemput kakak titan ke sekolah dan cus langsung ke jakarta eye center di bilangan kedoya; gedung baru yang belum pernah saya kunjungi sejak mereka pindah dari jalan panjang.
sejak awal saya mendaftar sampai saya dapat sms reminder sehari sebelum hari H sampai pak satpam yang sangat membantu mendorongkan stroller dan mengambilkan kartu antrian, saya langsung sreg dengan pelayanan di rumah sakit ini.
setelah proses administrasi dan mengganti kartu-kartu yang hilang karena sudah lama enggak cek up, akhirnya kita melaju ke lantai 4, lantai khusus anak-anak. sampai sana sudah ada mbak yang menjemput di lift dan membantu saya membawa semua kerepotan. tiga jam penantian, enggak terasa karena anak-anak dimanja dengan edutoys yang ada di sana. la luna senang sekali, dan saat itulah baru saya tersadar ternyata dia sudah bisa main duplo dan sudah mulai butuh kegiatan motorik kasar yang lebih menantang dibanding sekedar main bola dan lari-lari di rumput.
titan pun dipanggil untuk melakukan serangkaian tes. ternyata kali ini dia udah enggak norak lagi melihat gambar balon udara di monitor komputer dan bisa duduk lebih tenang dibanding saat tes mata di optik beberapa waktu lalu. cuma norak waktu tes otot mata aja, yang tiba-tiba matanya ditiup angin dan dia segera protes "Itu mataku ditempel kancing kaya coraline ya, Bunda?" habis itu tes jarak baca.
setelah ketiga tes tersebut, kirain udah bakalan cepet-cepet dipanggil. ternyata, kita baru dipanggil 2 jam kemudian. melihat anak-anak asyik main dan ruang menyusui udah kaya kamar sendiri, saya anteng-anteng aja. saya paling seneng kalau tahu ada dokter anak yang telaten memeriksa pasiennya dan mau berlama-lama melayani pertanyaan-pertanyaan bodoh dari ibu bapaknya. lagian, udah terbiasa juga sama dokter alerginya titan yang sekali melayani pasien bisa 20 - 40 menit sendiri.
akhirnya titan dipanggil. ada beberapa pemeriksaan lagi di dalam. dokternya juga asyik, bisa menggali titan kenapa harus berlama-lama di depan komputer saat main minecraft dan menjelaskan apa akibatnya bagi mata. menyimpulkan bahwa jatah jadi jauh berkurang: nonton tv 1 jam sehari (which, nggak pernah nonton tv juga sih dia), main minecraft 1 jam seminggu dan makan sayur brokoli, bayam, wortel, tomat is a must. nah, kalau dokternya yang ngomong, baru deh ni anak umur 7 tahun mau nurut.
terus gimana dengan matanya yang kemarin di optik seis didiagnosa silinder 3/4? ternyata sehat-sehat aja. alhamdulillah. tapi, dokternya menemukan kejanggalan yang selama ini saya pertanyakan. namanya: tics.
jadi, dulu waktu titan sekolah tk kecil di bee school, dia suka banget gerak-gerakin pipi, pangkal hidung, gerenyet-gerenyet enggak jelas, tanpa ia sadari. saya tegur berkali-kali malah semakin jadi. akhirnya, setelah saya diamkan (karena putus asa) ... kebiasaan itu menghilang dengan sendirinya. entah, setelah berapa lama.
nah, kebiasaan itu pun sekarang muncul lagi. tepatnya, setelah saya perhatikan, dia datang ketika titan kehilangan dua gigi serinya bagian atas. awalnya saya kira karena gerakan enggak enak mulut yang tadinya berisi gigi penuh harus kosong di tengah-tengah. tapi lama kelamaan saya curiga, kok gerakannya sama seperti waktu dia di tk kecil dulu.
ternyata, menurut dokter, itulah yang dinamakan dengan tics. sebuah kelainan syaraf karena berlebihnya rangsang dari otak. tics belum ada obatnya, karena sebabnya lebih kepada genetik dan emosional. biasanya, anak-anak yang mengalami tics sedang dilanda stress. tics ini lebih banyak menyerang anak laki-laki, sekitar 6 dari 100 anak.
setelah googling ke sana kemari, saya menyesal sekali karena pernah memarahi titan dengan kebiasaan buruknya itu. karena menurut artikel, semakin ditekan maka semakin menjadi-jadi kebiasaannya itu. trus, titan stress apa dong? setelah saya pikir-pikir, dulu titan sangat tidak suka dengan sekolah bee school. sampai-sampai dia menangis tiap kali mau masuk sekolah. karena tahu cuma akan sekolah setahun, saya enggak segera memindahkan titan dari sekolah lamanya ke sekolah yang memang kami tuju sejak awal. setelah pindah, mungkin itulah kenapa sindrom ticsnya hilang dengan sendirinya. nah kalau sekarang? karena tics muncul setelah giginya ompong, kemungkinan besar dia lagi kena krisis PD, apalagi ada anak cewe di kelasnya yang dia taksir, sama-sama ompong; tapi udah numbuh satu. wah, merasa kalah set kali ya!
akhirnya, sekarang sebelum tidur saya selalu pijat wajah titan dengan tetesan minyak aromateapi. titan nyebutnya 'pijat ramuan' dan kayanya dia sangat menikmatinya karena saya sok-sokan pijat pakai teknik relaksasi ala-ala spa hahaha ... selain itu, saya juga berusaha untuk menjadi pendengar yang lebih baik.
titan,
you are important and you are loved. isn't it all enough?
worry not, my dear.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
It’s been years. Probably, … eight years. We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit. But after weeks of considera...
-
Di suatu malam yang sunyi dan dingin, langit begitu gelap. Namun, ada seorang wanita yang tidak dapat terlelap. Dari semua mimpi yang tela...








.jpg)






.jpg)


