God arranged a little nice surprise. That satisfies my visions of you. With a sunny gold wallpaper and artificial chilly breeze, I look at you carefully. Those eyes I used to stare at every single day. So close that I could even count how much eye lashes had fallen off from your eyes. And you start talking things you have always told repeatedly. I forgot how much you have told me those stories. And I forget how much I have laughed.
Then it starts raining. The fragrant of the wet soil starts to tickle my nostrils and brings me to the old days of ours. We were just two little girls who hugged and quarreled at the same time. You shared your bread; I gave you my apple. We drank the same bottle and read the cloud. And when it rained, we would happily dance until the rainbow come. And we would stand under the rainbow that spread like angel's wing. In between the clouds. I took a brush, pick a color of the rainbow and gave it to you. You smiled, and started painting the sky.
And the rain stops. I know your rainbow is sitting in front of me. Yours. Not ours. I muffle my lingering thoughts by looking at my frozen bluish nail.
What’s with our rainbow? Don’t you like its color? Do you want a darker vermillion or rather a lighter blue? Need a little bit injection of cyan on the lime? I ask you in my heart.
Suddenly I feel the intense heat of the sun burning my skin. So I just look up and that is the time I see your rainbow, if I can say it is a rainbow. It is made of one tone of color, just like the color of ... yours! If only I could pick the rainbow’s ink and shoot it through my veins, maybe I would. So I can be the same color as you. But I would not do such a thing. Even if I have to lose you, I cannot lose myself.
tep
sambil melangkah dengan script-script radio di genggaman, aku memandangnya. tanpa sadar, aku melangkah ke arahnya. dan tiba-tiba ....
"boleh meluk nggak? baru sadar kamu akan pergi."
dan dia hanya tersenyum dan memelukku kembali.
"aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..." bisiknya datar.
sementara itu, suaraku mulai bergetar.
"saat hari itu datang, aku harap kamu mengerti kenapa aku memilih pulang"
dia tetap datar, dan meredalah getarku.
mungkin dia tidak peduli. mungkin dia tak mampu berekspresi.
tapi aku senang. aku lega.
sampai bertemu di suatu sore.
:)
"boleh meluk nggak? baru sadar kamu akan pergi."
dan dia hanya tersenyum dan memelukku kembali.
"aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..." bisiknya datar.
sementara itu, suaraku mulai bergetar.
"saat hari itu datang, aku harap kamu mengerti kenapa aku memilih pulang"
dia tetap datar, dan meredalah getarku.
mungkin dia tidak peduli. mungkin dia tak mampu berekspresi.
tapi aku senang. aku lega.
sampai bertemu di suatu sore.
:)
diantara, dan yang menyertainya.
tanpa terasa. karena terbiasa, semakin hari jarak itu semakin dekat. dan karena terbiasa, tak lagi terindahkan apa yang ada di sekeliling kala perjalanan menuju ke sana. tak ada yang tak biasa, semua terlihat sama. sekarang, atau di hari-hari sebelumnya.
saat jarak menjadi begitu dekat, semua menjadi begitu kabur. seperti saat kamu memicingkan mata, maka tak terlihat lagi salur-salur bulu mata di sana. dan saat jarak menjadi begitu dekat, semua jadi begitu buram. semua menjadi satu pandang. tak ada lagi garis tegas. tak ada lagi bentuk yang jelas. ini menjadi itu. itu menjadi ini. aku menjadi kamu. kamu menjadi aku. aku kehilangan kamu. kamu kehilangan aku. aku kehilangan aku. kamu kehilangan kamu. aku tak lagi kenal kamu. kamu tak lagi kenal aku. kamu tak kenal kamu. dan aku, tak kenal aku.
karena jarak yang mendekati, tidaklah sendiri. ia datang bersama waktu. dan hanya waktulah yang tetap menjadi dirinya sendiri. ia menggilas apa yang ada di hadapan, karena ia harus terus berjalan. perlahan, tapi pasti. waktu telah melakukan pembunuhan. itulah mengapa tak ada lagi jarak diantara kita.
dan kamu meminta waktu?
ia selalu ada di sana, sayang. tanpa diminta ia selalu mengiringi kamu. begitu juga aku. tidak kurang. tidak lebih. dalam bentuknya yang konstan. tidak akan ia menunggumu. atau aku. dan tidak pula ia akan mengejar.
jika pertama kali rasanya begitu menyenangkan, kenapa sekarang rasa itu terlupakan?
waktu telah membunuh rasa. waktu telah membunuh jarak. waktu telah menghapus apa yang dulu kita ingat. dan waktu tidak akan menyembuhkan perasaan sakit yang ditimbulkan karenanya.
tapi waktu dapat menghidupkan kembali jarak yang hilang. atau mendekatkan yang membentang. hingga terbentuk cukup ruang. untuk kamu. untuk aku. untuk kita berkembang.
saat jarak menjadi begitu dekat, semua menjadi begitu kabur. seperti saat kamu memicingkan mata, maka tak terlihat lagi salur-salur bulu mata di sana. dan saat jarak menjadi begitu dekat, semua jadi begitu buram. semua menjadi satu pandang. tak ada lagi garis tegas. tak ada lagi bentuk yang jelas. ini menjadi itu. itu menjadi ini. aku menjadi kamu. kamu menjadi aku. aku kehilangan kamu. kamu kehilangan aku. aku kehilangan aku. kamu kehilangan kamu. aku tak lagi kenal kamu. kamu tak lagi kenal aku. kamu tak kenal kamu. dan aku, tak kenal aku.
karena jarak yang mendekati, tidaklah sendiri. ia datang bersama waktu. dan hanya waktulah yang tetap menjadi dirinya sendiri. ia menggilas apa yang ada di hadapan, karena ia harus terus berjalan. perlahan, tapi pasti. waktu telah melakukan pembunuhan. itulah mengapa tak ada lagi jarak diantara kita.
dan kamu meminta waktu?
ia selalu ada di sana, sayang. tanpa diminta ia selalu mengiringi kamu. begitu juga aku. tidak kurang. tidak lebih. dalam bentuknya yang konstan. tidak akan ia menunggumu. atau aku. dan tidak pula ia akan mengejar.
jika pertama kali rasanya begitu menyenangkan, kenapa sekarang rasa itu terlupakan?
waktu telah membunuh rasa. waktu telah membunuh jarak. waktu telah menghapus apa yang dulu kita ingat. dan waktu tidak akan menyembuhkan perasaan sakit yang ditimbulkan karenanya.
tapi waktu dapat menghidupkan kembali jarak yang hilang. atau mendekatkan yang membentang. hingga terbentuk cukup ruang. untuk kamu. untuk aku. untuk kita berkembang.
pagi itu akhirnya datang juga
angin yang bertiup pelan disela kudukku malah membuatku terbangun, dan aku menatap ke kejauhan
membentanglah lautan biru yang luas berbatas pandang
tak ada fatamorgana
sebuah garis dengan jelas membelah samudra dan langit cantik di atasnya
baru saja, sang awan menumpahkan amarahnya
baru saja, langit menumpahkan tangisnya
angin pun tak kalah gaya, ia ikut mengacaukan segalanya
saling mengejar dan terus menyakiti
sampai akhirnya datanglah matahari
pagi yang indah itu akhirnya datang
dan laut selepas badai memang jauh lebih tenang
aku duduk sendiri
dulu, ada istana pasir di sini
namun sang ombak menjilatnya untuk yang kesekian kali
tanpa perlawanan,
saat ini aku hanya ingin menggenggam butiran yang tersisa
kan kupunguti satu per satu butiran yang menempel di telapak tangan
di sela kuku-kuku
yang berceceran di jalan
untuk kubawa pulang
tapi itu nanti
saat ini aku hanya ingin menikmati
membiarkan ombak-ombak kecil tertawa
membiarkan telingaku meliar
berserah pada angin yang mendesah
inilah titik yang pernah kutanya
titik yang memaksaku berhenti
untuk merasa sakitnya sakit
untuk aku bisa mengerti
dan itulah indahnya menjadi seorang manusia
titik
membentanglah lautan biru yang luas berbatas pandang
tak ada fatamorgana
sebuah garis dengan jelas membelah samudra dan langit cantik di atasnya
baru saja, sang awan menumpahkan amarahnya
baru saja, langit menumpahkan tangisnya
angin pun tak kalah gaya, ia ikut mengacaukan segalanya
saling mengejar dan terus menyakiti
sampai akhirnya datanglah matahari
pagi yang indah itu akhirnya datang
dan laut selepas badai memang jauh lebih tenang
aku duduk sendiri
dulu, ada istana pasir di sini
namun sang ombak menjilatnya untuk yang kesekian kali
tanpa perlawanan,
saat ini aku hanya ingin menggenggam butiran yang tersisa
kan kupunguti satu per satu butiran yang menempel di telapak tangan
di sela kuku-kuku
yang berceceran di jalan
untuk kubawa pulang
tapi itu nanti
saat ini aku hanya ingin menikmati
membiarkan ombak-ombak kecil tertawa
membiarkan telingaku meliar
berserah pada angin yang mendesah
inilah titik yang pernah kutanya
titik yang memaksaku berhenti
untuk merasa sakitnya sakit
untuk aku bisa mengerti
dan itulah indahnya menjadi seorang manusia
titik
scenario
do you know when is the perfect timing to hurt someone?
it is when that someone is changing her / his life: simply because of you.
all you gotta do is, toss a little nasty thing, only a 'little' nasty please remember. and the explossion will be way out beyond of what you expected. you will twist the climax, put a bit more drama, and a sure thing; you might change the end of the story.
and good movie doesn't have to be a happy ending, rite?
it is when that someone is changing her / his life: simply because of you.
all you gotta do is, toss a little nasty thing, only a 'little' nasty please remember. and the explossion will be way out beyond of what you expected. you will twist the climax, put a bit more drama, and a sure thing; you might change the end of the story.
and good movie doesn't have to be a happy ending, rite?
kamu dan aku
dimana kamu?
hanya ada jawaban kesenyapan.
ya,
kamu tidak pernah terlahir untuk ini.
kamu tak pernah hadir menjadi saksi perselingkuhan mimpi dan embun pagi
kamu takut gelap.
kamu takut tentakel-tentakel malam yang siap menjerat
hingga bahkan kamu tak mampu lagi mengerjap.
tidak seperti aku
akulah malam, akulah durga, akulah sang memedi.
aku yang mengangkangi malam dengan perut buncit kekenyangan akibat tak habisnya menjilati asin tubuhku.
entah keringat, entah air mata.
apalah bedanya?
dimana kamu?
kamu lebih senang meringkuk dalam selimutmu.
berteman dengan malaikat dan bintang-bintang yang selalu menghiasi mimpimu.
dengan lantunan lantunan nina bobo yang lembut, yang membuat aku semaput.
sementara aku?
sedang asyik bergaul dengan buruknya nyata
berteman akrab dengan setan setan kecil yang tak hentinya membuat aku menari bertelanjang kaki
kita memang tidak sama
dan itulah sebabnya kenapa kita saling merindu
sayang, kita tidak pernah bertemu.
hanya ada jawaban kesenyapan.
ya,
kamu tidak pernah terlahir untuk ini.
kamu tak pernah hadir menjadi saksi perselingkuhan mimpi dan embun pagi
kamu takut gelap.
kamu takut tentakel-tentakel malam yang siap menjerat
hingga bahkan kamu tak mampu lagi mengerjap.
tidak seperti aku
akulah malam, akulah durga, akulah sang memedi.
aku yang mengangkangi malam dengan perut buncit kekenyangan akibat tak habisnya menjilati asin tubuhku.
entah keringat, entah air mata.
apalah bedanya?
dimana kamu?
kamu lebih senang meringkuk dalam selimutmu.
berteman dengan malaikat dan bintang-bintang yang selalu menghiasi mimpimu.
dengan lantunan lantunan nina bobo yang lembut, yang membuat aku semaput.
sementara aku?
sedang asyik bergaul dengan buruknya nyata
berteman akrab dengan setan setan kecil yang tak hentinya membuat aku menari bertelanjang kaki
kita memang tidak sama
dan itulah sebabnya kenapa kita saling merindu
sayang, kita tidak pernah bertemu.
.
berharap aku bisa berhenti.
tanpa memikirkan satu hal pun.
tanpa memikirkan aku.
tanpa memikirkan dia.
tanpa memikirkan mereka.
aku ingin jadi ruang yang hampa.
aku ingin jadi benda yang tak berupa.
untuk sejenak saja.
aku ingin titikku.
aku ingin dia memaksaku berhenti:
berpikir.
bertanya.
berharap.
berkeinginan.
aku ingin titikku. .
aku ingin menjadi beku.
aku ingin menjadi kaku.
sejenak saja.
tapi tidak bisa.
karena aku ingin yang telah hilang diantara.
tanpa memikirkan satu hal pun.
tanpa memikirkan aku.
tanpa memikirkan dia.
tanpa memikirkan mereka.
aku ingin jadi ruang yang hampa.
aku ingin jadi benda yang tak berupa.
untuk sejenak saja.
aku ingin titikku.
aku ingin dia memaksaku berhenti:
berpikir.
bertanya.
berharap.
berkeinginan.
aku ingin titikku. .
aku ingin menjadi beku.
aku ingin menjadi kaku.
sejenak saja.
tapi tidak bisa.
karena aku ingin yang telah hilang diantara.
Rain King
I’m the mother earth. The only woman without vagina. I am the only mother with obligations to nurse children who aren’t mine. Not any of them even came out of my womb. I wipe their tears. I watch them play. I feed them. I did not even dare to shed a tear when they gouged me for slender feet of a carrousel. Deeply buried within me. For the children’s laughter to me is the most beautiful song I have ever heard.
And all my life, what I want to taste is the kiss of the Rain King. Even only for a split second, I would give up my all to taste the suck of his lips. I would close my eyes, and would never mind to be blind if I have to. For my eyes will only tell the truth.
I had never seen the king. I do not even know what he looks like. All I know is the moaning sound of the sky, when she and the king are making love. And from beneath, I can only see their sparks of lust. And at that time, I know that the king and sky become one.
But not long after that, the king would cry. He would cry so hard, that the sky could never retain his tears.
And me the mother earth, will let his tears poured-down upon me. Pour it down, pour it down and let me absorb your grieve oh my king of rain.
And I envy you; sky upon me. You are a woman with so many faces. Your soft cottony fake smile would cherish the day of everyone’s. And my children would love you so much as you are the best escort for their kites.
You, at least you have ever felt the feeling I have been craving for. His lick, his saliva that would quench your thirst , his sucks on your lips, his twirling tongue that forms the elixir of love.
Damn you, coward woman queen of masquerade.
If only you knew, you and I will be stand as one in the end.
And all my life, what I want to taste is the kiss of the Rain King. Even only for a split second, I would give up my all to taste the suck of his lips. I would close my eyes, and would never mind to be blind if I have to. For my eyes will only tell the truth.
I had never seen the king. I do not even know what he looks like. All I know is the moaning sound of the sky, when she and the king are making love. And from beneath, I can only see their sparks of lust. And at that time, I know that the king and sky become one.
But not long after that, the king would cry. He would cry so hard, that the sky could never retain his tears.
And me the mother earth, will let his tears poured-down upon me. Pour it down, pour it down and let me absorb your grieve oh my king of rain.
And I envy you; sky upon me. You are a woman with so many faces. Your soft cottony fake smile would cherish the day of everyone’s. And my children would love you so much as you are the best escort for their kites.
You, at least you have ever felt the feeling I have been craving for. His lick, his saliva that would quench your thirst , his sucks on your lips, his twirling tongue that forms the elixir of love.
Damn you, coward woman queen of masquerade.
If only you knew, you and I will be stand as one in the end.
lost
people say your heart will speak louder than the sea wave roars.
why can't i hear mine at this moment?
why can't i hear mine at this moment?
air, bejana dan api
air di bejana mendidih
membeleguk di suhu seratus derajat selsius
dan tetap berada di suhu tersebut, apapun yang terjadi
itulah kemarahan.
didihan dibiarkan, lalu uapnya terbang ke udara
dan bejana pun mengering
walau dengan jangka waktu yang lama
itulah melupakan.
air didihan dituang ke cangkir
lebih cepat dingin,
bejana pun lebih cepat mengering.
itulah berbagi.
dan bejana rusak dimakan api
meninggalkan cacat yang lama kelamaan menjadi karat
tapi perlahan, bejana bisa diperbaiki dan dibersihkan
itulah memaafkan.
-intermezo di sela 3 hari hibernasi-
membeleguk di suhu seratus derajat selsius
dan tetap berada di suhu tersebut, apapun yang terjadi
itulah kemarahan.
didihan dibiarkan, lalu uapnya terbang ke udara
dan bejana pun mengering
walau dengan jangka waktu yang lama
itulah melupakan.
air didihan dituang ke cangkir
lebih cepat dingin,
bejana pun lebih cepat mengering.
itulah berbagi.
dan bejana rusak dimakan api
meninggalkan cacat yang lama kelamaan menjadi karat
tapi perlahan, bejana bisa diperbaiki dan dibersihkan
itulah memaafkan.
-intermezo di sela 3 hari hibernasi-
perempuan di titik nol
seorang perempuan terlihat acak-acakan
dia baru saja melaju kencang
memacu kendaraan dengan semangat yang tak terpatahkan
begitu kencang sampai kecelakaan tak lagi dapat terelakkan
ia pun berhenti
ia berada di titik nol.
perempuan yang satu lagi terlihat kelelahan
ia telah melalui perjalanan yang panjang
dengan kemacetan yang begitu membosankan
perjalanan masih belum selesai, namun dia terlalu lelah untuk melanjutkan
ia pun berhenti
ia berada di titik nol.
perempuan yang lain begitu menikmati perjalanan yang menyenangkan
dengan lagu dan angin sepoi-sepoi menyapu rambutnya yang panjang
ia melaju santai, tak terasa angin dan lagu begitu lembut memabukkan
ia pun tertidur di tengah jalan
ia berhenti
ia berada di titik nol.
perempuan terakhir dalam kebingungan
ia pernah melaju kencang
ia pernah terperangkap di kemacetan
ia pernah ketiduran
ia berada di titik nol.
entah ingin berhenti
atau baru saja menepi
atau sebenarnya,
ia belum menyalakan mesinnya
dia baru saja melaju kencang
memacu kendaraan dengan semangat yang tak terpatahkan
begitu kencang sampai kecelakaan tak lagi dapat terelakkan
ia pun berhenti
ia berada di titik nol.
perempuan yang satu lagi terlihat kelelahan
ia telah melalui perjalanan yang panjang
dengan kemacetan yang begitu membosankan
perjalanan masih belum selesai, namun dia terlalu lelah untuk melanjutkan
ia pun berhenti
ia berada di titik nol.
perempuan yang lain begitu menikmati perjalanan yang menyenangkan
dengan lagu dan angin sepoi-sepoi menyapu rambutnya yang panjang
ia melaju santai, tak terasa angin dan lagu begitu lembut memabukkan
ia pun tertidur di tengah jalan
ia berhenti
ia berada di titik nol.
perempuan terakhir dalam kebingungan
ia pernah melaju kencang
ia pernah terperangkap di kemacetan
ia pernah ketiduran
ia berada di titik nol.
entah ingin berhenti
atau baru saja menepi
atau sebenarnya,
ia belum menyalakan mesinnya
selamat tidur, titan
pejamkan matamu, nak
lalu kuelus lembut alis matamu
dan kau pun menurut
membiarkan tirai-tirai matamu bergelayut
lalu dengar,
dengarkan semua hingar bingar
biarkan telingamu pergi jauh merantau, biarkan mereka meliar
dengar,
dengarkan rintik hujan yang meneduhkan
dengarkan sang rembulan
dengarkan bintang-bintang
dengarkan embun malam di ujung dedaunan
dengarkan katak dan jangkrik bernyanyi
dengarkan dengung mesin-mesin tak bernyawa tapi bisa mati
dengarkan detik waktu
dengarkan pendar lampu
dengarkan doaku
dengarkan degup jantungku
dan jauh, jauh di sana
terus, terus hampiri
ya,
makin dekat
sedikit lagi
bisa kamu dengar, nak?
degarlah,
itu suara hatimu.
lalu kuelus lembut alis matamu
dan kau pun menurut
membiarkan tirai-tirai matamu bergelayut
lalu dengar,
dengarkan semua hingar bingar
biarkan telingamu pergi jauh merantau, biarkan mereka meliar
dengar,
dengarkan rintik hujan yang meneduhkan
dengarkan sang rembulan
dengarkan bintang-bintang
dengarkan embun malam di ujung dedaunan
dengarkan katak dan jangkrik bernyanyi
dengarkan dengung mesin-mesin tak bernyawa tapi bisa mati
dengarkan detik waktu
dengarkan pendar lampu
dengarkan doaku
dengarkan degup jantungku
dan jauh, jauh di sana
terus, terus hampiri
ya,
makin dekat
sedikit lagi
bisa kamu dengar, nak?
degarlah,
itu suara hatimu.
i, me and myself
can you imagine living in denial? that you will not be able to sleep, to eat, to think, because of things that keep lingering at the back of your head. and your heart, of course. everything becomes wrong. totally wrong. you are wrong, people are wrong.
and have you ever betrayed yourself? and do you have an idea of how it feels? that you would curse yourself and you will wish that you would rather die for you have no more reasons to live. that you could not even stare at your own eyes because they can see what you feel. and you would rather be blind, for you do not want to see the truth.
have you ever been deaf, that you could not even hear what your heart tells you?
and you start asking yourself what the hell are you doing in here and start asking what ifs.
well,
isn't it just nice if you can make peace with yourself? therefore you can make peace in this universe.
and have you ever betrayed yourself? and do you have an idea of how it feels? that you would curse yourself and you will wish that you would rather die for you have no more reasons to live. that you could not even stare at your own eyes because they can see what you feel. and you would rather be blind, for you do not want to see the truth.
have you ever been deaf, that you could not even hear what your heart tells you?
and you start asking yourself what the hell are you doing in here and start asking what ifs.
well,
isn't it just nice if you can make peace with yourself? therefore you can make peace in this universe.
Temui aku lagi di sini (2)
selamat malam,
sampai kaku mulutku lelah ribuan kali menyebut
dan bintang yang biasa kusematkan di matamu, kian meredup
tak lagi pendarnya mampu menemani
dan cerita-cerita yang biasa kubisikkan menumpuk
acak-acakan tak berurutan ujung dan pangkal
tirai antara kamu dan aku yang mendesah hangat seperti sinar mentari pagi
membentang laksana jeda di antara dua galaksi
dan putaran bulan mengitari bumi
melintasi matahari, kini dan nanti
perlahan menggumpal mewujudkan aku dan kamu dalam satuan waktu
dan sinar itu pun melesat diantara kedip mata
menyisakan sedikit rasa
sayapmu yang dulunya kecil kini membentang siap menantang
cukuplah aku mengajarimu tentang kebebasan, seperti kamu mengajariku apa arti pulang
saatnya kamu pergi.
temui aku lagi
di sini
sampai kaku mulutku lelah ribuan kali menyebut
dan bintang yang biasa kusematkan di matamu, kian meredup
tak lagi pendarnya mampu menemani
dan cerita-cerita yang biasa kubisikkan menumpuk
acak-acakan tak berurutan ujung dan pangkal
tirai antara kamu dan aku yang mendesah hangat seperti sinar mentari pagi
membentang laksana jeda di antara dua galaksi
dan putaran bulan mengitari bumi
melintasi matahari, kini dan nanti
perlahan menggumpal mewujudkan aku dan kamu dalam satuan waktu
dan sinar itu pun melesat diantara kedip mata
menyisakan sedikit rasa
sayapmu yang dulunya kecil kini membentang siap menantang
cukuplah aku mengajarimu tentang kebebasan, seperti kamu mengajariku apa arti pulang
saatnya kamu pergi.
temui aku lagi
di sini
Purnama
matahari sudah lama mati
dan bintang yang biasanya ada di sana, hilang entah kemana
aku memanggil cahaya yang menjawab di ujung purnama
dan ia pun datang membawa keenam saudara kembarnya
dua diantaranya memberiku harapan
dua lagi mengajarkanku untuk memiliki keinginan
dan dua terakhir, memintaku untuk melupakan
apa yang dahulu telah mereka ajarkan
selamat datang, ramadhan :)
dan bintang yang biasanya ada di sana, hilang entah kemana
aku memanggil cahaya yang menjawab di ujung purnama
dan ia pun datang membawa keenam saudara kembarnya
dua diantaranya memberiku harapan
dua lagi mengajarkanku untuk memiliki keinginan
dan dua terakhir, memintaku untuk melupakan
apa yang dahulu telah mereka ajarkan
selamat datang, ramadhan :)
Temui aku lagi di sini (1)
selamat pagi,
lalu kukembalikan ke langit bintang yang pendarnya menemanimu semalam
dan kulipat cerita-cerita yang kubisikkan di mimpimu
lalu kubuka tirai harimu
agar hangatnya menjemputmu
sampai nanti,
temui aku lagi
di sini
lalu kukembalikan ke langit bintang yang pendarnya menemanimu semalam
dan kulipat cerita-cerita yang kubisikkan di mimpimu
lalu kubuka tirai harimu
agar hangatnya menjemputmu
sampai nanti,
temui aku lagi
di sini
magical imagination
Every word is part of a picture. Every sentence is a picture. All you do, is let your imagination connect them together. If you have an imagination that is.
- The Mighty -
- The Mighty -
karma (editted)
after those couple cups of poisons
nicely served upon your face
now it is much easier for you
to spit what you almost chew
i wish you were dead
i wish you were dead
i wish you once again
were dead
so i could meet you
in here
let me show you
it is our next life
and you would lick my wound
and you would wipe the dirt on the top of my corpse
which no longer but a mere mortal
and you would kiss me with your rottened lips
that would taste sweeter like never
and i would hug you with my broken wings
lull you with an eerie fairy song
and i would cut my hand with the sharpest tongue
to fulfill your crave of flesh and blood
until i'm running out of my light
i wish you were dead.
like me.
and we would happily dance together
under the sky of grieve
and a sparkling tear drops
you and me.
nicely served upon your face
now it is much easier for you
to spit what you almost chew
i wish you were dead
i wish you were dead
i wish you once again
were dead
so i could meet you
in here
let me show you
it is our next life
and you would lick my wound
and you would wipe the dirt on the top of my corpse
which no longer but a mere mortal
and you would kiss me with your rottened lips
that would taste sweeter like never
and i would hug you with my broken wings
lull you with an eerie fairy song
and i would cut my hand with the sharpest tongue
to fulfill your crave of flesh and blood
until i'm running out of my light
i wish you were dead.
like me.
and we would happily dance together
under the sky of grieve
and a sparkling tear drops
you and me.
masih
serpihan air itu datang lagi
menderu wajahku, menghalau pikiranku kembali ke masa itu
semasa aku kencing di celana
hujan,
ternyata masih sama.
menderu wajahku, menghalau pikiranku kembali ke masa itu
semasa aku kencing di celana
hujan,
ternyata masih sama.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
It’s been years. Probably, … eight years. We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit. But after weeks of considera...
-
Di suatu malam yang sunyi dan dingin, langit begitu gelap. Namun, ada seorang wanita yang tidak dapat terlelap. Dari semua mimpi yang tela...