Every word is part of a picture. Every sentence is a picture. All you do, is let your imagination connect them together. If you have an imagination that is.
- The Mighty -
karma (editted)
after those couple cups of poisons
nicely served upon your face
now it is much easier for you
to spit what you almost chew
i wish you were dead
i wish you were dead
i wish you once again
were dead
so i could meet you
in here
let me show you
it is our next life
and you would lick my wound
and you would wipe the dirt on the top of my corpse
which no longer but a mere mortal
and you would kiss me with your rottened lips
that would taste sweeter like never
and i would hug you with my broken wings
lull you with an eerie fairy song
and i would cut my hand with the sharpest tongue
to fulfill your crave of flesh and blood
until i'm running out of my light
i wish you were dead.
like me.
and we would happily dance together
under the sky of grieve
and a sparkling tear drops
you and me.
nicely served upon your face
now it is much easier for you
to spit what you almost chew
i wish you were dead
i wish you were dead
i wish you once again
were dead
so i could meet you
in here
let me show you
it is our next life
and you would lick my wound
and you would wipe the dirt on the top of my corpse
which no longer but a mere mortal
and you would kiss me with your rottened lips
that would taste sweeter like never
and i would hug you with my broken wings
lull you with an eerie fairy song
and i would cut my hand with the sharpest tongue
to fulfill your crave of flesh and blood
until i'm running out of my light
i wish you were dead.
like me.
and we would happily dance together
under the sky of grieve
and a sparkling tear drops
you and me.
masih
serpihan air itu datang lagi
menderu wajahku, menghalau pikiranku kembali ke masa itu
semasa aku kencing di celana
hujan,
ternyata masih sama.
menderu wajahku, menghalau pikiranku kembali ke masa itu
semasa aku kencing di celana
hujan,
ternyata masih sama.
sisa hari ini
aku tidak tahu apa-apa.
aku hanya pengumpul kata-kata.
aku hanya menyambung makna.
aku hidup di titik sekarang. dan sedikit kemudian.
tuhan,
untuk itukah aku Kamu ciptakan?
-Lowe, 24.07.09 / 21.30-
aku hanya pengumpul kata-kata.
aku hanya menyambung makna.
aku hidup di titik sekarang. dan sedikit kemudian.
tuhan,
untuk itukah aku Kamu ciptakan?
-Lowe, 24.07.09 / 21.30-
Pulang
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Lalu tanpa ba-bi-bu, ibu jariku mulai menari di atas keypad hibrida handphone dan walkman-ku.
When is your flight? Save flight, get well soon … jangan lupa pulang ya!
Dan tak berapa lama, ciptaan hibrida itu bergetar. Sebuah amplop muncul di permukaannya. Dengan sekali klik, amplop itu mudah sekali digelitik untuk membuka rahasia pengirimnya.
“Thanks, dear friend!”
Dan tiba-tiba Pikiranku pergi meninggalkan raganya. Ia menari dengan leluasa tanpa perlu merasa berdosa. Seperti biasa. Lalu kamu melesat secepat kilat ke ujung langit. Tanpa pamit. Dan meninggalkanku dalam kehampaan. Dalam ribuan kuadrat pertanyaan. Di saat yang sama, di ujung sana, kamu tersenyum ke arahku. “Dari sini, aku selalu bisa memandangmu.” Katamu, masih duduk santai di tepian bintang. Kecil, namun kamu begitu terang di langit malam yang tak lagi perawan. Tak ada lagi selaput kabut yang membatasi. Aku dan kamu.
Pulanglah, pikiranku.
Seperti dia yang kini pulang ke pelukan ibunya. Lalu ia bergelung dalam pelukan erat. Mendekap hangat. Menyusu. Kali ini tanpa nafsu. Mulutnya mencucu sambil mendengarkan irama detak jantung perempuan yang pernah meregang nyawa melahirkannya. Lalu tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir di kedua sudut matanya. Sama hangatnya dengan susu yang sedang mengalir di kerongkongannya. Kehangatan itu mendesis, mengiris-iris sepi di sekujur tubuhnya yang dingin. Terlalu lama diterpa angin. Bukan ia tak ingin pulang. Hanya saja, ia telah lama hilang.
Kenapa kamu inginkan aku pulang? Tanyamu. Masih sambil duduk santai di tepi bintang. Kelap-kelip di tengah gelapnya malam. Pulang. Artinya kembali ke sarang. Tempat dimana seharusnya aku atau kamu tidak pernah merasa terbuang. Tapi kamu yang ingin aku pergi dari kepalamu! Kamu yang mengusirku, ingat? Kata kamu aku bejat. Aku pikiran laknat. Aku harus disunat. Karenanya aku minggat!
Lalu meledaklah tangisnya. Dan saat itu langit seolah menggelegar seperti serpihan kelopak mawar yang tersebar di galaksi. Berkelap-kelip di tengah gelapnya malam, serpihan air matamu menjelma serupa bintang. Yang tak terlihat di langit siang. Yang memang tak pernah muncul di saat aku berpikir terang.
Dan kamu selalu di sana. Dengan wajah malu-malu kamu menampakkan diri dalam kegelapan yang terdalam. Di batas mimpi. Antara sepi dan embun pagi. Antara ingin dan pasti.
Langit terang benderang.
Kegelapan bertabur bintang.
Dan aku berada di kedua ambang.
Kapan kamu pulang? Aku mendesah putus asa. “Kapanpun kamu inginkan, perempuan suci.” Katamu.
Dan aku hanya terpaku. Tergugu. Apalah aku tanpa kamu. Apalah suci tanpa benci. Apalah pahala tanpa dosa. Dan aku tertunduk. Menatapi kakiku yang jenjang dan telanjang. Yang telah menjejak ribuan ranjang.
Dan detik itu juga kamu hinggap di benakku. Melilitku dengan sayap lembutmu. Menggelitikku dengan lidahmu. Menelanjangiku hanya dengan satu kedipan matamu. Lalu aku pun berteriak. Bukan! Bukan minta tolong. Tapi seperti anjing yang melolong. Penuh kerinduan.
Kamu pulang. Dan aku seakan terbang melayang.
Dan aku akan mengejarmu.
Sampai kamu pergi lagi.
Di batas mimpi dan embun pagi, 8 juni 2009, 02:30:57
When is your flight? Save flight, get well soon … jangan lupa pulang ya!
Dan tak berapa lama, ciptaan hibrida itu bergetar. Sebuah amplop muncul di permukaannya. Dengan sekali klik, amplop itu mudah sekali digelitik untuk membuka rahasia pengirimnya.
“Thanks, dear friend!”
Dan tiba-tiba Pikiranku pergi meninggalkan raganya. Ia menari dengan leluasa tanpa perlu merasa berdosa. Seperti biasa. Lalu kamu melesat secepat kilat ke ujung langit. Tanpa pamit. Dan meninggalkanku dalam kehampaan. Dalam ribuan kuadrat pertanyaan. Di saat yang sama, di ujung sana, kamu tersenyum ke arahku. “Dari sini, aku selalu bisa memandangmu.” Katamu, masih duduk santai di tepian bintang. Kecil, namun kamu begitu terang di langit malam yang tak lagi perawan. Tak ada lagi selaput kabut yang membatasi. Aku dan kamu.
Pulanglah, pikiranku.
Seperti dia yang kini pulang ke pelukan ibunya. Lalu ia bergelung dalam pelukan erat. Mendekap hangat. Menyusu. Kali ini tanpa nafsu. Mulutnya mencucu sambil mendengarkan irama detak jantung perempuan yang pernah meregang nyawa melahirkannya. Lalu tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir di kedua sudut matanya. Sama hangatnya dengan susu yang sedang mengalir di kerongkongannya. Kehangatan itu mendesis, mengiris-iris sepi di sekujur tubuhnya yang dingin. Terlalu lama diterpa angin. Bukan ia tak ingin pulang. Hanya saja, ia telah lama hilang.
Kenapa kamu inginkan aku pulang? Tanyamu. Masih sambil duduk santai di tepi bintang. Kelap-kelip di tengah gelapnya malam. Pulang. Artinya kembali ke sarang. Tempat dimana seharusnya aku atau kamu tidak pernah merasa terbuang. Tapi kamu yang ingin aku pergi dari kepalamu! Kamu yang mengusirku, ingat? Kata kamu aku bejat. Aku pikiran laknat. Aku harus disunat. Karenanya aku minggat!
Lalu meledaklah tangisnya. Dan saat itu langit seolah menggelegar seperti serpihan kelopak mawar yang tersebar di galaksi. Berkelap-kelip di tengah gelapnya malam, serpihan air matamu menjelma serupa bintang. Yang tak terlihat di langit siang. Yang memang tak pernah muncul di saat aku berpikir terang.
Dan kamu selalu di sana. Dengan wajah malu-malu kamu menampakkan diri dalam kegelapan yang terdalam. Di batas mimpi. Antara sepi dan embun pagi. Antara ingin dan pasti.
Langit terang benderang.
Kegelapan bertabur bintang.
Dan aku berada di kedua ambang.
Kapan kamu pulang? Aku mendesah putus asa. “Kapanpun kamu inginkan, perempuan suci.” Katamu.
Dan aku hanya terpaku. Tergugu. Apalah aku tanpa kamu. Apalah suci tanpa benci. Apalah pahala tanpa dosa. Dan aku tertunduk. Menatapi kakiku yang jenjang dan telanjang. Yang telah menjejak ribuan ranjang.
Dan detik itu juga kamu hinggap di benakku. Melilitku dengan sayap lembutmu. Menggelitikku dengan lidahmu. Menelanjangiku hanya dengan satu kedipan matamu. Lalu aku pun berteriak. Bukan! Bukan minta tolong. Tapi seperti anjing yang melolong. Penuh kerinduan.
Kamu pulang. Dan aku seakan terbang melayang.
Dan aku akan mengejarmu.
Sampai kamu pergi lagi.
Di batas mimpi dan embun pagi, 8 juni 2009, 02:30:57
kita
aku hanya ingin duduk berdampingan.
denganmu.
terbenam dalam kabut, mengurai kalut.
lalu kita ikut menghirup kabut tebal yang melubangi paru-paru.
menghisapnya dalam-dalam, lalu perlahan ia merangkak naik lewat sela hidungmu.
melewati lubang yang menyempit, ia menggelitik ujung ubun-ubun. tanpa ampun.
mendesak neuron-neuron yang membuatku sesak.
di dada, juga di kepala.
dan kita hanya akan diam.
tenggelam, dengan pikiran-pikiran yang dalam.
kamu pikirkan dia. kamu pikirkan mereka. aku pikirkan kamu. kamu tak peduli. aku juga.
lalu kita diam tanpa bicara. tanpa harus ada aksara. tapi punya makna.
Lowe, 22:02
denganmu.
terbenam dalam kabut, mengurai kalut.
lalu kita ikut menghirup kabut tebal yang melubangi paru-paru.
menghisapnya dalam-dalam, lalu perlahan ia merangkak naik lewat sela hidungmu.
melewati lubang yang menyempit, ia menggelitik ujung ubun-ubun. tanpa ampun.
mendesak neuron-neuron yang membuatku sesak.
di dada, juga di kepala.
dan kita hanya akan diam.
tenggelam, dengan pikiran-pikiran yang dalam.
kamu pikirkan dia. kamu pikirkan mereka. aku pikirkan kamu. kamu tak peduli. aku juga.
lalu kita diam tanpa bicara. tanpa harus ada aksara. tapi punya makna.
Lowe, 22:02
nite shadow
blinded star sparkling eye
lies beneath the stormy sky
warmth wind kisses chill
isn't it true that you are here?
flies flapping lies flying
all becomes the words dying
clinking through snapping glasses
still i should believe in you without cause
for i have thought a million things
for i have flown a million wings
share the love ignored them
where you are, therefore i am.
- duet puisi gue dan burat via Yahoo! Messenger, ... sekitar 4 tahun yang lalu, dan baru kemarin kita duduk bareng untuk ngasih judulnya -
:)
lies beneath the stormy sky
warmth wind kisses chill
isn't it true that you are here?
flies flapping lies flying
all becomes the words dying
clinking through snapping glasses
still i should believe in you without cause
for i have thought a million things
for i have flown a million wings
share the love ignored them
where you are, therefore i am.
- duet puisi gue dan burat via Yahoo! Messenger, ... sekitar 4 tahun yang lalu, dan baru kemarin kita duduk bareng untuk ngasih judulnya -
:)
chapter three
...
and the bubble pops off into thin air.
and so is my love.
-dedicated to darkfuchsia-
and the bubble pops off into thin air.
and so is my love.
-dedicated to darkfuchsia-
Take My Hand
Yes, we are crossing the road my dearest secret love.
Indeed the day is so busy. They’re busy looking at us, maybe. Can’t you see that?
They’re jealous. Never mind them.
Yes, take my hand my dearest secret love.
Take them and hold them tight, and never let me go.
Let them know,
… yes I want them to know.
Run, run my dearest secret love.
Run as fast as you can!
Just like I ran from reality, just like you ran away from your feelings for me.
Yes, take my hand my dearest secret love.
Take and hold them tight, and never ever let me go.
(30.03.09 / 16.42)
Indeed the day is so busy. They’re busy looking at us, maybe. Can’t you see that?
They’re jealous. Never mind them.
Yes, take my hand my dearest secret love.
Take them and hold them tight, and never let me go.
Let them know,
… yes I want them to know.
Run, run my dearest secret love.
Run as fast as you can!
Just like I ran from reality, just like you ran away from your feelings for me.
Yes, take my hand my dearest secret love.
Take and hold them tight, and never ever let me go.
(30.03.09 / 16.42)
It’s been a while

It’s been a while since I last laughed out loud in this office.
going through all deadlines,
all hatreds,
all well-jealous thingy,
all disappointment s and those promises,
all stupidities,
all targets, all cuts by a million buts,
all those moronic people,
all those ego.
This morning, I had just asked myself. I like this industry, but do I love what I am doing?
Well, .. these are some of the things that make me hanging here. Still.
I love you guys!
:)
mmmhh....
what makes it wonderful when you have crushed on someone?
yea!
when everything is so unclear.
when you have so many things to ponder.
when you cowardly look at his eyes.
when you feel there is something with him but you do not know and too afraid to ask.
when bumping into his eyes makes your cheek flushes like strawberry ... so delightful to be kissed.
when you imagine his soft, marshmellowy lips touch yours.
when you imagine you are crossing the road in Paris, hand in hand in a summer rain.
when you just don't know what to do.
when you just want the whole world to know but you can not tell.
when your heart is pounding hard, and you do not know wether it is happy or worry.
when you suddenly become creative making pick up lines.
when a 'hi' hears like a pope's sermon
when you just pretend not to hear his voice, and try not to look at where the voice comes from.
when everything is so beautifuly captured in your mind.
and when you know that he loves you to,
slowly everything will be back to normal.
and you just keep looking and asking where the love has gone.
:)
(19.03.09 / 19.30)
yea!
when everything is so unclear.
when you have so many things to ponder.
when you cowardly look at his eyes.
when you feel there is something with him but you do not know and too afraid to ask.
when bumping into his eyes makes your cheek flushes like strawberry ... so delightful to be kissed.
when you imagine his soft, marshmellowy lips touch yours.
when you imagine you are crossing the road in Paris, hand in hand in a summer rain.
when you just don't know what to do.
when you just want the whole world to know but you can not tell.
when your heart is pounding hard, and you do not know wether it is happy or worry.
when you suddenly become creative making pick up lines.
when a 'hi' hears like a pope's sermon
when you just pretend not to hear his voice, and try not to look at where the voice comes from.
when everything is so beautifuly captured in your mind.
and when you know that he loves you to,
slowly everything will be back to normal.
and you just keep looking and asking where the love has gone.
:)
(19.03.09 / 19.30)
i miss again
as the rain starts falling
to the ground
time and time
as i sit on the bench
here with the wind, with the sky
with the spring, with the autumn
with love season, never spoken
with a word, without a sound
to the ground
time and time
as i sit on the bench
here with the wind, with the sky
with the spring, with the autumn
with love season, never spoken
with a word, without a sound
it's been a while
it's been a while since we left our dreams
that is now like scattered pearls
and we slipped away
as the time passes by
"Don't leave me" I say
"Why don't you try to catch me, this time? it says.
that is now like scattered pearls
and we slipped away
as the time passes by
"Don't leave me" I say
"Why don't you try to catch me, this time? it says.
Just another day
Woke up from the King Koil land, and a fluffy Romance comforter.
I took a gasp of free unbranded air. Touched the moist morning dew with no price and watched the green velvety grass through the magnificent pixels of my eyes.
A drop of Dove and a pail of fresh water, just a perfect combination to sweep my sleepy eyes away. A swipe of ROC on my cheek, and a Body Shop comb softly touch my hair. A sprinkle of baby powder and a perfect smear of the Mennen Lady Speed Stick deo. And an Estee Lauder Pleasure, squirted on my neck.
Such a day-booster. *Finger crossings.
A miss sixty brown turtle neck matched with an A-line unbranded jeans skirt. Last, a pink hooded jacket warmth me up from this never ending summer rain.
A Jesselyn loaf bread. With a spread of Elle & Vire 75% trim fat butter and colorful chocolate sprinkle. A strawberry jam with a glass of low-fat Ultra Milk. A package of nutrition to start my day.
I surely hope so.
On my lunch box: rice, Indonesian steak, mixed veggies and two cubes of a fried bean curd.
And off me go. Bubble my Titan a good bye through my Honda City.
Once arrived, need to get to my Niaga ATM. Pay some Citibank and Telkomsel bills.
There I was. Watching the ads on some kind of branded (but I forgot what it is) TV panel while waiting the elevator to stop by. 6th floor.
My another phase of life.
And here I am, staring at the Pandora Box called monitor. An HP. Opening Yahoo messenger, Facebook, Multiply, Google, Dictionary.com and Outlook Express application. Getting autistic with the Sennheiser headphone.
Chit and chat.
This and that.
Waiting the time goes by. Till I’m back to my King Koil land. And let the other day begins.
Again.
Lowe, Feb 3rd 2009
I took a gasp of free unbranded air. Touched the moist morning dew with no price and watched the green velvety grass through the magnificent pixels of my eyes.
A drop of Dove and a pail of fresh water, just a perfect combination to sweep my sleepy eyes away. A swipe of ROC on my cheek, and a Body Shop comb softly touch my hair. A sprinkle of baby powder and a perfect smear of the Mennen Lady Speed Stick deo. And an Estee Lauder Pleasure, squirted on my neck.
Such a day-booster. *Finger crossings.
A miss sixty brown turtle neck matched with an A-line unbranded jeans skirt. Last, a pink hooded jacket warmth me up from this never ending summer rain.
A Jesselyn loaf bread. With a spread of Elle & Vire 75% trim fat butter and colorful chocolate sprinkle. A strawberry jam with a glass of low-fat Ultra Milk. A package of nutrition to start my day.
I surely hope so.
On my lunch box: rice, Indonesian steak, mixed veggies and two cubes of a fried bean curd.
And off me go. Bubble my Titan a good bye through my Honda City.
Once arrived, need to get to my Niaga ATM. Pay some Citibank and Telkomsel bills.
There I was. Watching the ads on some kind of branded (but I forgot what it is) TV panel while waiting the elevator to stop by. 6th floor.
My another phase of life.
And here I am, staring at the Pandora Box called monitor. An HP. Opening Yahoo messenger, Facebook, Multiply, Google, Dictionary.com and Outlook Express application. Getting autistic with the Sennheiser headphone.
Chit and chat.
This and that.
Waiting the time goes by. Till I’m back to my King Koil land. And let the other day begins.
Again.
Lowe, Feb 3rd 2009
Perempuan Sederhana
Dingin pagi itu menggigit. surya yang rabun ayam. Bulu kuduk segera berdiri menyambut tetes embun yang begitu murni. Kusibak jendela. Dan tertatih, perempuan tua itu melewati rumahku. Membawa cangkul, membawa arit dan sekantung karung beras kosong temuan dari tempat sampah. Tentu bukan bekas karung beras miliknya. Mana pernah punya?
...
Mata surya mulai terbuka. Semua denyut kehidupan mulai berdetak. Begitu pula denyut hidupku.
Dan perempuan itu kembali . Kini makin jelas rautnya. Gurat kehidupan menggelayuti matanya. Mengikis senyumannya. Dengan cangkul dan arit di tangan kanan. Dan setengah karung bunga mawar kuburan di kanannya. Hasil petikan di pagi buta. Kakinya yang titpis, lebar dan memekar, bertelanjang menjejak aspal yang mulai panas.
Di depan rumahnya menunggu anaknya. Nongkrong di warung sambil merokok dan minum kopi. ”Hari ini gue pengen makan kepiting, Mak!”
Perempuan itu diam. Diam sediam diamnya batu yang tetap diam terkikis air. Yang hanya diam dikerayapi lumut. Membisu di bawah telapak kaki anjing.
Lalu ia berdoa. Sebuah doa yang sederhana. Ia berdoa, agar banyak orang yang mati hari ini. Lebih banyak dari kemarin. Agar bunganya laku. Agar anaknya bisa makan kepiting.
January 29th 2009
...
Mata surya mulai terbuka. Semua denyut kehidupan mulai berdetak. Begitu pula denyut hidupku.
Dan perempuan itu kembali . Kini makin jelas rautnya. Gurat kehidupan menggelayuti matanya. Mengikis senyumannya. Dengan cangkul dan arit di tangan kanan. Dan setengah karung bunga mawar kuburan di kanannya. Hasil petikan di pagi buta. Kakinya yang titpis, lebar dan memekar, bertelanjang menjejak aspal yang mulai panas.
Di depan rumahnya menunggu anaknya. Nongkrong di warung sambil merokok dan minum kopi. ”Hari ini gue pengen makan kepiting, Mak!”
Perempuan itu diam. Diam sediam diamnya batu yang tetap diam terkikis air. Yang hanya diam dikerayapi lumut. Membisu di bawah telapak kaki anjing.
Lalu ia berdoa. Sebuah doa yang sederhana. Ia berdoa, agar banyak orang yang mati hari ini. Lebih banyak dari kemarin. Agar bunganya laku. Agar anaknya bisa makan kepiting.
January 29th 2009
Ruang Hampa
Aku melangkah masuk.
Tak pasti, tapi ingin.
Dingin, semula.
Namun rasa itu merambat perlahan. Dan berhenti di ujung telingaku.
Bertelanjang kaki.
Bertelanjang dada.
Suara-suara organik di sekelilingku mereda perlahan.
Decit sepatu anak kampung.
Gosekan penggorengan tetangga.
Perawan-perawan ingusan berlompat tali.
Dan sapu lidi yang menyayat-sayat rerumputan. Tanpa ampun.
Sopannya mereka permisi.
Dengan senyum seribu arti.
Sirna tertelan bahasa tubuh.
Meninggalkan siluet dengus nafsu.
Tak lagi aku sadar.
Tenggelam dalam tarian hujan.
Ini ruang hampa.
Hampa celah.
Tak pasti, tapi ingin.
Dingin, semula.
Namun rasa itu merambat perlahan. Dan berhenti di ujung telingaku.
Bertelanjang kaki.
Bertelanjang dada.
Suara-suara organik di sekelilingku mereda perlahan.
Decit sepatu anak kampung.
Gosekan penggorengan tetangga.
Perawan-perawan ingusan berlompat tali.
Dan sapu lidi yang menyayat-sayat rerumputan. Tanpa ampun.
Sopannya mereka permisi.
Dengan senyum seribu arti.
Sirna tertelan bahasa tubuh.
Meninggalkan siluet dengus nafsu.
Tak lagi aku sadar.
Tenggelam dalam tarian hujan.
Ini ruang hampa.
Hampa celah.
Terima Kasih
Terima kasih Allah.
Atas semua cobaan dariMu pada hari ini.
Yang membuatku tersadar, sekali lagi.
KekuatanMu yang besar itu, masih ada.
Atas hidupku.
Atas semua cobaan dariMu pada hari ini.
Yang membuatku tersadar, sekali lagi.
KekuatanMu yang besar itu, masih ada.
Atas hidupku.
How can I thank you, my son?
You are trully my lucky charm.
I proved it again, ... simply because of you.
And how could I thank you?
Do you know what you've done?
Do you know what you've gained?
No, you're not.
Do you know how much I want to thank you, but I don't know what to do?
Reading you more books?
Give you a bath more often?
Play with you all day?
Or, simply being there when you need a hug.
My dear child,
you don't know what fortunates you have brought.
And I simply cannot afford, ... to thank you.
:(
I proved it again, ... simply because of you.
And how could I thank you?
Do you know what you've done?
Do you know what you've gained?
No, you're not.
Do you know how much I want to thank you, but I don't know what to do?
Reading you more books?
Give you a bath more often?
Play with you all day?
Or, simply being there when you need a hug.
My dear child,
you don't know what fortunates you have brought.
And I simply cannot afford, ... to thank you.
:(
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
It’s been years. Probably, … eight years. We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit. But after weeks of considera...
-
Di suatu malam yang sunyi dan dingin, langit begitu gelap. Namun, ada seorang wanita yang tidak dapat terlelap. Dari semua mimpi yang tela...