this is not one of those days, though.
these are some days on those days when word fails me.
oh, i hate it.
i hate it when i cannot write.
i hate it when alphabets love the space in between,
when the cursor rejects to move to the right,
when the pencil remain sharp.
oh, i really hate it.
sayapku
mencopot sayap dan menaruhnya dalam lemari
menunduk, lalu melihat sekeliling
menghorizontal
berputar
berjalan menyamping
berjinjit dan meniti tepian tak bersisi
menunduk, lalu melihat sekeliling
menghorizontal
berputar
berjalan menyamping
berjinjit dan meniti tepian tak bersisi
rindu
kubisikkan setiap rasa ke dalam gelembungmu
rasa yang kelabu dalam gelembung bening yang terbang meninggi
tinggi sekali
mengunci
menggendut dan menggelayut
hingga akhirnya engkau membuncah di suatu sudut yang tak bertepi
rasa yang kelabu dalam gelembung bening yang terbang meninggi
tinggi sekali
mengunci
menggendut dan menggelayut
hingga akhirnya engkau membuncah di suatu sudut yang tak bertepi
Anton Jaya Widya
Yes, we are the red copywriters! But that is not what I want to share at the moment hehehe. Di sebelah kanan aku itu namanya Ako, yang di sebelah kiri … nah dia yang mau aku ceritain hari ini.
Namanya Anton Jaya Widya, dia dari Flores. Dia teman sekantor aku sekarang and yes he is an award winning copywriter. Badannya kurus karena udah ngegondol sekian metal award nasional dan sebuah bronze dari Cannes Advertising Festival hehehe. But then again, that is not what I want to tell you.
Anton itu senior aku waktu di UI. Dia anak Komunikasi ’95. Serius, dulu dia senior yang lumayan aku takutin. Ya iyalah, tampangnya begitu. Galak banget! Dan, … maaaaaan, he’s a smartarse! Nah, karena tampangnya ini nih dia itu punya hobi yang aneh banget. Sumpah, a.n.e.h banget. Hobinya itu, yaitu … ngerjain preman di bis atau di kereta! Maigat, … kurang aneh apa lagi, coba?
Suatu hari, dia lagi di bis dan saat itu jalanan macet berat akibat pendukung PSSI yang norak berdendang ria di tengah jalan dan mengacaukan lalu lintas. Tiba-tiba seorang pemuda dengan tampang sok belagu duduk di sampingnya. Cowok itu langsung melepaskan kaosnya dan terlihatlah tatto di lengannya. Melihat gelagat yang tidak menyenangkan (dan mungkin karena bau badan juga), Anton sontak menghardik lelaki itu. “Eh Mas, ngapain buka-buka baju? Mau pamer tato? Mau lihat tato saya?!” Kata Anton. Spontan laki-laki itu langsung merunduk dan memakai kembali kaosnya. “Enggak Mas, .. Enggak.” Katanya.
Di hari yang lain lagi, masih dalam bis kota, sebenernya dia lagi nggak terganggu amat sama suasana dan orang di sekeliling dia. Tapi, dia melihat ciri-ciri tertentu seseorang yang berdiri di pojokan dan berusaha menghimpit seorang ibu tua. Dengan santai Anton berjalan ke belakang, mensejajari tubuhnya dengan tubuh lelaki itu. Dengan nada datar dan dalam, dia bertanya ke lelaki tersebut “KTP mana?” dan tiba-tiba laki-laki itu merungkut dan langsung turun dari bis saat itu juga.
Karena tampangnya ini juga, Anton dikasih tugas khusus waktu dia magang di sebuah surat kabar terkenal ibu kota. Saat itu dia dikasih tugas oleh wartawan senior untuk mewawancara seorang preman. Brief dari wartawan seniornya begini:
“Nih, tadi malem ada mobil polisi di bakar di Tanah Abang. Elo sana ke Tanah Abang, cari daerah yang namanya Bongkaran. Kalo udah sampe situ, tanya tukang ojek atau siapapun yang ada di sana dimana rumah Hercules.”
Well, saat itu dia nggak tahu siapa itu Hercules. Jadi dia naik bis ke Tanah Abang, dan ternyata benar. Saat dia minta diantar ke rumah Hercules, ojek sewaannya benar-benar mengantar sampai di depan pintu rumah Hercules. Saat Anton bercerita, mataku menatap kagum ke arah Anton.
“Elo tahu siapa itu Hercules?” Tanyaku.
“Saat itu, enggak.” Balas Anton.
“Elo takut pas interview dia? Gimana rasanya? Elo digeledah kaya mau ketemu Don Corleone gitu nggak?” Tanya aku antusias.
“Hahahaha .. enggaklah. Gue juga nggak takut, mukanya sama kaya sodara-sodara gue kok.” Katanya sambil ngunyah gado-gado.
Sontak aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar alasan Anton kenapa dia sama sekali enggak takut sama Hercules.
Trus gimana ceritanya? Tanyaku lagi.
“Ya gue bilang aja. Siang Bang, saya mahasiswa UI lagi magang di Koran “Ahem”. Mau interview abang untuk kejadian pembakaran mobil polisi semalam. Boleh kan, Bang?”
Seperti yang dia kira, Anton diinterogasi dulu tentang tanah kelahirannya. Saat itulah dia tahu apa alasan wartawan senior mengirimnya untuk menginterview Hercules. Sementara si wartawan senior itu lagi asyik-asyik di kantor. Kampret! Pikirnya.
“Polisi itu jangan macam-macam. Semua di sini harus minta ijin Hercules. Mau tangkap orang juga harus ijin Hercules. Mau kejar orang, harus kejar pakai mobil Kijang Hercules. Jangan asal main masuk dan main tangkap saja. Hercules punya bisnis cewek bisnis judi bisnis mengamankan orang-orang, Hercules juga bayar itu semua sama polisi. Hercules juga ikut bantu itu polisi, jadi jangan macam-macam.” Kutipnya.
Saat itu, mataku dengan penuh kekaguman mendengarkan ceritanya Anton.
(Halah, ... lebay ah Wury! Hahaha….)
(Halah, ... lebay ah Wury! Hahaha….)
Keisengan dia ngejailin preman berakhir karena suatu cerita. Hari itu dia lagi di bis, dan melihat seorang copet sedang beraksi merogoh tas seorang ibu-ibu. Seperti biasa, Anton segera menghampiri. “Eh, Mas!” Tegur Anton. Sontak, si copet itu langsung bergeser dan bergerak ke arah belakang. Tapi tiba-tiba, ia merasa terdesak oleh seseorang di belakangnya. Saat ia menengok, ternyata ia melihat sosok tubuh yang begitu besar, berdiri tanpa jarak di belakangnya. Lalu lelaki bertubuh besar itu pun bicara ke arahnya. “Jangan gitu. Kita sama-sama cari uang di sini.” Karena Anton merasa dia juga dikira copet, jadi dia bertingkah juga seperti copet. “Ya tapi liat-liat dong, bung.” Lalu lelaki itu menepuk pundak Anton dan berlalu pergi.
Ya ya ya, kataku dalam hati. Enggak lucu sih mau nyelametin orang tapi kita jadi nggak selamet.
Ya ya ya, kataku dalam hati. Enggak lucu sih mau nyelametin orang tapi kita jadi nggak selamet.
Di akhir penuturan tentang keisengannya, Anton ngejelasin kaya apa copet itu. Kata Anton, biasanya mereka itu menyamar kaya orang kerja kantoran. Tapi, bajunya nggak matching. Celananya pantaloon licin yang udah disetrika berkali-kali. Liciiin banget sampe mengkilap di lipetannya. Trus, kemejanya gak matching juga. Lusuh gitu deh. Pake iket pinggang tapi nggak matching juga. Pake sepatu pantofel tapi udah buluk dan biasanya nggak pake kaos kaki. Tasnya juga nggak matching. Biasanya pake tas warna item tapi gede banget. Itu biasanya buat dia kalo beraksi pura-pura jatohin tas tapi trus tasnya dipake untuk ngiket atau ngegubet kaki si korban. Pas si korban keserimpet dan nunduk, diambil deh dompetnya. Trus kalo di jembatang penyeberangan yang remang-remang gitu, biasanya mereka pake jaket. Jalannya keburu-buru dan nempel-nempel elo gitu.
“Haaa, kapan-kapan gue mau dong jalan-jalan naek bis sama elo trus elo kasih tau gue mana yang copet ya!” Kataku.
“Ayo!” Katanya.
Makan siang yang menyenangkan untuk hari ini, terima kasih untuk ceritanya ya kakak senior :)
Light

Surprise is the only thing life will surely gives you. Nice ones or bad ones. And since its a journey, sometimes the trip to the next stop takes longer And steeper than the others. No matter how hard you try go smooth, you might stumble at anytime. Just like Alice fell down the tunnel she'll never know where it is heading to.
The tunnel is dark, humid, scarry, and you would firstly try to find the button to turn the lights on but you could not found one. And you would realized that you need to move forward. You can't just wait, you need to move on because you don't know where the button is. So you slowly crawling down the tunnel and just keep going, no matter what.
You know there will be a light at the end of the tunnel. You believe it, with all your heart. But sometimes you just can't deny, that you are very afraid too.
” Am I gonna be just fine?"
Of course you know what the answer is. It is just you are on your lowest power to keep searching the lights. This is the time when you need someone to help you guide your way. Find you a torch, hold your hand tightly, drag you to run, hug you in the coldness and whisper in your ear that things are going to be fine. But on that phase, many times; such love gone devastated.
Come to think of it, you realized that you can't rely on someone. Even your shadow leaves you in the dark. But then you will realize that happiness is in your hands, and other people can only make you happier.
Pic was taken with my Holga cam over a scroll of black soft paper book.
Published with Blogger-droid v1.5.9
sayap pengelana
Seorang pengelana menyisir setiap gerai di pasar kota. “Cari apa?” Tanya penjual. “Saya mencari sepasang sayap untuk menggantikan sayap saya yang ini.” Kata si pengelana sambil menunjukkan sepasang sayapnya yang tidak lagi berbentuk sayap. Tulang-tulangnya patah dan helaian bulu-bulunya rontok entah kemana. Warnanya pun tidak lagi putih. Kotor dan lusuh.
Untuk beberapa saat, si penjual termenung. Sambil memanggut, tak lama kemudian ia pun berkata “Saya punya sayap yang cocok untuk kamu.” Katanya sambil masuk ke dalam toko. Sewaktu sehirupan teh hangat, si penjual pun keluar dengan membawa sepasang sayap baja. “Ini sayap yang paling pas untuk kamu wahai perempuan pengembara. Setiap helainya terbuat dari baja. Kamu bisa terbang kemanapun kamu ingin pergi. Kuat menerjang hujan bahkan sebuah badai sekalipun. Untuk kamu yang berkeinginan besar, inilah sayap terbaik yang saya punya.”
Melihat sepasang sayap yang begitu berkilau dan tampak kuat, mata perempuan itu pun bersinar bahagia. “Dia yang akan mengantarku pergi kemanapun aku mau.” Katanya dalam hati. “Boleh saya coba?” Tanya pengelana itu lirih. “Tentu. Mari saya bantu.” Kata si penjual. Lalu ia pun segera mengangkat sayap besi tersebut dan menaruhnya di punggung perempuan itu. Perempuan itu berkaca di jendela toko dan tersenyum lebar. Sayap di punggungnya tampak sempurna. “Boleh saya coba pakai untuk terbang?” Tanya si pengelana lagi. “Tentu.” Kata sang penjual. Si pengelana pun tersenyum puas. Lalu ia pun segera mengambil ancang-ancang untuk terbang. Oh oh oh, tapi apa yang terjadi; ia tak bisa berlari untuk lepas landas. Ia berjalan tertatih memaksa diri untuk melangkah sampai akhirnya ia pun jatuh tersungkur. Lalu ia pun menangis.
Si penjual pun lalu membantu melepaskan sayap baja dari punggung di pengelana. Ia tersenyum menatap wajah perempuan di hadapannya. “Jangan menangis, sayap ini terlalu berat untukmu. Betapa indahnya kamu saat melihatnya, tapi untuk apa kalau kamu tidak dapat terbang dengannya?” Katanya sambil membantu si perempuan untuk berdiri. Lalu perempuan itu pun pamit untuk menyusuri gerai-gerai lain di pasar itu.
Jauh ia berjalan menyusur, akhirnya tibalah ia di sebuah toko lain yang juga menjual sayap. “Saya ingin mencari sayap untuk menggantikan sayap saya yang patah.” Katanya sambil menunjukkan sayapnya ke hadapan si penjual. “Saya telah mencoba sayap baja, tapi saya tidak kuat membopongnya dan akhirnya saya tidak juga dapat terbang dengannya. Apakah Anda menjual sayap yang lain?” Katanya.
Si penjual tua itu mendengarkan penjelasan si pengelana sambil menyedot punting rokoknya yang sudah sangat pendek. “Tentu. Aku punya sayap yang indah untukmu.” Lalu ia segera mencari tumpukan sayap-sayap di gudangnya dan keluar dengan membawa sepasang sayap kecil yang indah. “Inilah sayap peri terbaik yang saya punya. Untuk perempuan secantik kamu, sayap ini akan mengantarmu kemanapun yang kamu mau.”
“Apakah ia sanggup membawaku terbang?” Kata si pengelana ragu melihat sayap kecil itu. “Jangan melihat dari bentuknya, mari dicoba dulu. Saya akan membantumu memasangnya.” Kata si penjual sambil membantu menempelkan sayap di punggung si pengelana.
“Cantik sekali.” Kata pengelana itu sambil berkaca di kaca lentera yang menerangi toko itu. “Coba kepakkan.” Kata sang penjual. Oh oh oh, tapi apakah yang terjadi? Sekali gerak ternyata sayap itu mengepak begitu cepat. Amat sangat cepat sehingga si pengelana tidak dapat mengendalikan arah terbangnya. Dan ia pun terbang tanpa tentu arah di dalam toko dan mengacaukan segalanya. Untung si penjual dengan sigap bisa menangkapnya dan segera melepaskan sayapnya.
Akhirnya si pengelana pun dengan berat hati meninggalkan toko tersebut. Hari sudah malam dan gelap. Ia tidak memiliki sayap sehingga ia tidak mampu terbang untuk pulang. Akhirnya ia pun berjalan pelan, tertatih-tatih dengan kedua kaki kecilnya. Di ujung jalan, tampak seberkas cahaya. “Mungkin aku bisa bermalam di sana.” Katanya.
Ternyata cahaya tersebut datang dari lampu lentera sebuah toko penjahit. Di dalamnya ada seorang penjahit muda yang masih terus menjahit hingga larut malam. “Bolehkah saya bermalam di sini?” Tanya si pengelana. Sambil terus menjahit, ia pun menjawab “Saya tidak melarang.” Mendengar jawaban itu akhirnya si pengelana pun tertidur di atas lantai. Melihatnya si penjahit merasa begitu iba. Lalu diselimutkannya si pengelana dengan sayap-sayapnya yang patah.
Matahari yang hangat pun muncul menyapa di keesokan harinya. “Kamu mau kemana?” Kata si penjahit. “Bertahun-tahun aku mencari pengganti sayapku yang patah, tapi tidak pernah menemukan yang pas untukku. Apakah kira-kira kamu tahu dimana aku bisa mendapatkannya?” Sang penjahit hanya menggeleng sambil terus menjahit. “Aku tidak tahu. Tapi, … mungkin aku bisa membantumu.” “Bagaimana caranya?” Tanya si pengelana. Lalu si penjahit pun beranjak dari kursinya dan menghampiri si pengelana. “Mana sayapmu?” Katanya. Lalu sang pengelana pun memberikan sepasang sayapnya. “Aku akan membantumu.” Katanya lalu kembali ke tempat duduknya untuk menjahit kembali.
Sejak hari itu, si pengelana tinggal bersama si penjahit. Setiap hari, si penjahit dengan sabar menyambung satu demi satu tulang-tulang sayapnya yang patah dan menyulam helai demi helai bulu sayapnya. Dan dengan sabar, si pengelana pun menahan rasa sakit saat setiap tusuk jarum menembus kulitnya.
Hari berganti bulan berganti tahun. Si pengelana kini telah memiliki kembali sayapnya yang kuat dan indah. Luka jahitannya telah sembuh dan ia telah bisa mengepakkan kembali sayap-sayapnya. “Selamat jalan.” Kata si penjahit. Si pengelana tertawa “Kalau kamu mungkin yang terbaik yang bisa membuatku pulang, kenapa aku harus terbang?” Kata si pengelana sambil tersenyum.
home
Pantai ini, cuma lima belas menit dari rumah, … atau kira-kira satu jam setengah deh kalau naek sepeda. Agak lama ditempuh naik sepeda karena rute jalannya turun naik bukit untuk sampai ke pantai yang sangat landai ini. Namanya Pantai Pasir Padi. Pantainya luas sekali dan wilayah airnya pun landai. Udah jalan 200 meter ke arah laut, airnya baru sampai sebatas lutut. Pantai ini aman banget untuk bawa anak kecil, dan tentunya, dulu jadi tempat aku bawa lari-lari sore anjing dan monyet kecil aku. Ngebiarin dia berenang-berenang di laut dan lari kejar-kejaran.
Pangkal pinang adalah sebuah kota di sebuah pulau yang namanya Pulau Bangka. I just love this place. Really love it! Walau cuma satu setengah tahun tinggal di sana tapi rasanya seperti kampung halaman sendiri dan pengen tiap tahun bisa ke sana. Di sini aku mengenal dan berteman baik dengan etnis Cina, dan mereka sungguh berbeda dengan etnis Cina yang biasa aku temuin. Di sini, kita bisa hidup berdampingan tanpa tahu apa itu etnis. Aku main ke rumah mereka saat Imlek, ikut bikin kue keranjang, melihat mereka berdoa dan bantu bakarin dupa. Nama mereka pun masih nama asli Cina yang sulit aku hafal saat aku sekolah. Liong Tet, Sian Kwet, Mei Hwa, Syun Kew Yie, Ai Hwa, … itu beberapa nama mereka.
Makanannya, … jangan tanya! Ini surga untuk mereka yang suka seafood dan seneng mancing seperti si papah. Di pasar, ikan-ikan yang udah nggak laku di atas jam 11 akan ditinggalin begitu aja sama penjualnya, berserakan digondol kucing liar. Makanya kucing di pasar gendut-gendut. Sirip ikan hiu yang jutaan per ons-nya di Jakarta, di sana hanya dengan dua ratus ribuan kita udah bisa bawa pulang setengah kilogram sirip ikan hiu. Gelembung udara ikan, haisom atau tripang dan berbagai macam ikan lain yang pasti jarang kita temuin di tempat lain seperti misalnya, siput Gung-Gung. Rajungannya … waduuuuh besar-besar sekaliiiii! Dan di sinilah aku pertama kalinya makan scallop sashimi segar (ya iyalah yang namanya sashimi pasti segar, kali!) yang dijaring nelayan. Yeah, I know makanan ini udah dilarang untuk ditangkap hehehehe. But what can I say, … who can resist its taste :p
This is my favorite place, ever. It's my home.
Pangkal pinang adalah sebuah kota di sebuah pulau yang namanya Pulau Bangka. I just love this place. Really love it! Walau cuma satu setengah tahun tinggal di sana tapi rasanya seperti kampung halaman sendiri dan pengen tiap tahun bisa ke sana. Di sini aku mengenal dan berteman baik dengan etnis Cina, dan mereka sungguh berbeda dengan etnis Cina yang biasa aku temuin. Di sini, kita bisa hidup berdampingan tanpa tahu apa itu etnis. Aku main ke rumah mereka saat Imlek, ikut bikin kue keranjang, melihat mereka berdoa dan bantu bakarin dupa. Nama mereka pun masih nama asli Cina yang sulit aku hafal saat aku sekolah. Liong Tet, Sian Kwet, Mei Hwa, Syun Kew Yie, Ai Hwa, … itu beberapa nama mereka.
Makanannya, … jangan tanya! Ini surga untuk mereka yang suka seafood dan seneng mancing seperti si papah. Di pasar, ikan-ikan yang udah nggak laku di atas jam 11 akan ditinggalin begitu aja sama penjualnya, berserakan digondol kucing liar. Makanya kucing di pasar gendut-gendut. Sirip ikan hiu yang jutaan per ons-nya di Jakarta, di sana hanya dengan dua ratus ribuan kita udah bisa bawa pulang setengah kilogram sirip ikan hiu. Gelembung udara ikan, haisom atau tripang dan berbagai macam ikan lain yang pasti jarang kita temuin di tempat lain seperti misalnya, siput Gung-Gung. Rajungannya … waduuuuh besar-besar sekaliiiii! Dan di sinilah aku pertama kalinya makan scallop sashimi segar (ya iyalah yang namanya sashimi pasti segar, kali!) yang dijaring nelayan. Yeah, I know makanan ini udah dilarang untuk ditangkap hehehehe. But what can I say, … who can resist its taste :p
This is my favorite place, ever. It's my home.
Puasa dulu, pasti bantuin mamah bikin kue. Kebagian marut keju oles-oles kuning telur dan menghias bagian atas kue. Puasa sekarang, bayar orang untuk bikinin kue yang sama.
Puasa dulu, suka dimarain kalo nunggu-nunggu waktu buka di meja makan sambil ngeliatin makanan yang tertata di meja. Puasa sekarang, seringkali buka seadanya dan nggak terlalu napsu ngeliat makanan karena mumpung puasa sekalian pengen nurunin berat badan.
Puasa dulu, abis saur pasti maen badminton di luar sama temen-temen. Puasa sekarang, abis saur langsung bablas tidur karena justru biasanya baru bisa tidur setelah saur.
Puasa dulu, semangat milih baju lebaran sejak jauh-jauh hari. Puasa sekarang, liat-liat koleksi lama baju muslim trus disetrika pada saat malam takbiran buat dipake besok.
Puasa dulu, sibuk ngitung-ngitung bakalan dapet salam tempel berapa. Karena udah puasa sebulan, karena uang saku nggak kepake jajan, belom lagi dari om dan tante tersayang. Puasa sekarang sibuk ngitung zakat dan mau dikasih ke siapa aja. Kaget ngeliat besarnya karena ngeluarin sekaligus, tapi lupa sama betapa besarnya yang sudah didapat ... dan itu pasti JAUH lebih besar.
Puasa dulu, suka marah-marah kalau dibangunin sahur. Puasa sekarang; gampang banget dibangunin karena emang belum belum memasuki fase tidur lelap di jam segitu. Sekali ketuk, langsung bangun.
Puasa dulu, saat berbuka adalah saatnya menikmati tajil yang dibuat mamah sambil duduk bersama di meja makan dan saling cerita. Puasa sekarang, justru terbalik. Saat sahur adalah saat aku pasti duduk bareng keluarga dan cerita kemarin ngapain aja. Setelah makan, ditutup dengan tajil bikinan mamah di sore sebelumnya.
Banyak perubahan yang terjadi antara puasa aku dulu dengan puasa sekarang. Tapi ada satu hal yang tetap sama. Sama-sama belum mendalami hikmah Ramadhannya. Tapi Alhamdulillah, masih dikasih kesempatan untuk kumpul bersama. Masih, hingga saat ini.
Puasa dulu, suka dimarain kalo nunggu-nunggu waktu buka di meja makan sambil ngeliatin makanan yang tertata di meja. Puasa sekarang, seringkali buka seadanya dan nggak terlalu napsu ngeliat makanan karena mumpung puasa sekalian pengen nurunin berat badan.
Puasa dulu, abis saur pasti maen badminton di luar sama temen-temen. Puasa sekarang, abis saur langsung bablas tidur karena justru biasanya baru bisa tidur setelah saur.
Puasa dulu, semangat milih baju lebaran sejak jauh-jauh hari. Puasa sekarang, liat-liat koleksi lama baju muslim trus disetrika pada saat malam takbiran buat dipake besok.
Puasa dulu, sibuk ngitung-ngitung bakalan dapet salam tempel berapa. Karena udah puasa sebulan, karena uang saku nggak kepake jajan, belom lagi dari om dan tante tersayang. Puasa sekarang sibuk ngitung zakat dan mau dikasih ke siapa aja. Kaget ngeliat besarnya karena ngeluarin sekaligus, tapi lupa sama betapa besarnya yang sudah didapat ... dan itu pasti JAUH lebih besar.
Puasa dulu, suka marah-marah kalau dibangunin sahur. Puasa sekarang; gampang banget dibangunin karena emang belum belum memasuki fase tidur lelap di jam segitu. Sekali ketuk, langsung bangun.
Puasa dulu, saat berbuka adalah saatnya menikmati tajil yang dibuat mamah sambil duduk bersama di meja makan dan saling cerita. Puasa sekarang, justru terbalik. Saat sahur adalah saat aku pasti duduk bareng keluarga dan cerita kemarin ngapain aja. Setelah makan, ditutup dengan tajil bikinan mamah di sore sebelumnya.
Banyak perubahan yang terjadi antara puasa aku dulu dengan puasa sekarang. Tapi ada satu hal yang tetap sama. Sama-sama belum mendalami hikmah Ramadhannya. Tapi Alhamdulillah, masih dikasih kesempatan untuk kumpul bersama. Masih, hingga saat ini.
biggest fear
Kadang, kita seringkali dengan gampangnya ngasih label ‘genius’ terhadap seseorang yang berhasil menciptakan sesuatu. Karena memang olimpiade fisika atau matematika lah, bisa ngitung cepat lah, semua harus di jenjang akademik. Padahal,orang baru bisa dibilang genius kalau memang sudah terbukti memproduksi ide berkali-kali, baik ide yang sukses ataupun yang nggak. Ada dua tipe genius. Yang pertama adalah orang-orang yang memang terlahir dengan bakat super istimewa dan berhasil menciptakan banyak hal di usianya yang muda. Misalnya saja Mozart, yang di usia mudanya bisa menciptakan komposisi-komposisi musik yang bisa dibilang ‘breakthrough’ pada masanya dan juga masih tak terkalahkan hingga saat ini. Tipe yang ke dua, yaitu tipe slow-starter creative. Misalnya, kisah seorang penulis best seller Amerika (maaf, aku lupa siapa namanya). Dia ingin sekali menjadi penulis hingga suatu waktu di usianya yang menginjak tiga puluhan, ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan berkonsentrasi untuk menulis. Dari kurun waktu sekitar sepuluh tahun sejak ia berhenti bekerja, pada usia empat puluhan barulah ia berhasil menerbitkan bukunya yang menjadi best seller. Terbayang dalam kurun waktu tersebut sudah berapa banyak buku yang ia tulis namun gagal. Tapi, ia terus dan terus menulis tanpa henti. Amazingly, ternyata dia didukung oleh istrinya yang juga ikut menopang beban hidupnya dan mendukung apa yang menjadi impian suaminya. Untungnya, si istri dalam riwayat profesinya sudah masuk ke level top manaement,jadi saat si penulis memutuskan untuk berhenti kerja tentu aja dia nggak perlu lagi mikirin urusan perut. Ini berarti, seorang genius juga harus didukung oleh lingkungan sekitarnya.
Itulah sekelumit dari salah tulisan dalam buku Malcom Gladwell, What The Dog Saw.
Yang aku lihat dan perlu digarisbawahi adalah bukan masalah label geniusnya, tapi betapa pentingnya bagi seseorang untuk menemukan apa hal yang ia suka, dan apa hal yang benar-benar ia inginkan dalam hidupnya. Kalau memang enggak terlahir dengan intuisi seperti Mozart atau Steve Jobs, kesuksesan emang jadi Pe-Er buat orang-orang kaya kita. Eh, bukan kita deng. Aku, maksudnya hehehe. Let’s not talk about ‘Luck’ lah ya, … itu sifatnya intangible atau maya. Buat aku, keberuntungan adalah sebuah konsep. Mungkin soal keberuntungan ini bisa jadi topik di posting selanjutnya hehehe.
Well, buat kita yang merupakan produk-produk sekolah Orde Lama, mengenali potensi diri dan apa yang kita mau dalam hidup secara spesifik; tentu jadi hal yang berat. Karena kita nggak punya banyak kesempatan untuk memilih pelajaran yang kita suka, entah karena kita memang nggak punya banyak pilihan atau memang kita secara nggak sengaja membatasi pilihan karena kita terbiasa dengan pola belajar ‘disuapin’. Coba, berapa persen dari orang Indonesia yang ambil jurusan di sekolah karena gengsi dan bukan karena emang pengen masuk jurusan itu? Berapa persen dari lulusan universitas yang bekerja di bidangnya? Berapa persen orang Indonesia yang pernah magang lebih dari satu kali dalam hidupnya? Aku yakin, pasti jumlahnya kecil banget. Nggak usah jauh-jauh, aku juga salah satu produk yang disebutin di atas. nangis-nangis gila waktu ternyata harus masuk jurusan IPS, nggak tau bahwa di universitas itu ada yang namanya jurusan komunikasi yang lulusannya bisa kerja jadi jurnalis, public relation atau kerja di advertising. Nah, untungnya aku bekerja sesuai bidang kuliah itu dan ternyata aku suka.
Well, I'm not saying these all wrong. No judgementlah. Aku cuma wondering aja, sekian waktu yang terpakai di SMA dan kuliah (taro aja kira-kira 10 tahun)sebenernya bisa lebih efektif kalau aja kita tau apa yang kita mau. Seriously, ini yang aku takutin terjadi sama Titan.
Seperti orang-orang dewasa di sekitarnya, aku takut dia nggak tahu apa yang dia mau dalam hidupnya. Nggak tau punya potensi apa, nggak punya hobi, nggak tau mau ambil jurusan apa saat kuliah dan nggak punya target. Aku takut ‘Lihat aja nanti’ perlahan menjadi filosofi yang berurat-akar dalam dirinya.
Itulah kenapa sejak masih di dalam perut, aku selalu berdoa supaya Titan jadi anak yang berkepribadian kuat dan tahu apa yang dia inginkan dalam hidupnya. Buat aku, penting bagi anakku untuk mengenal dan memahami dirinya sendiri baru ia bisa mengenali dan memahami orang di sekeliling dan kondisi yang terjadi di sekelilingnya. Jika ada sebuah kejadian yang tidak mengenakkan yang seharusnya bisa dicegah (tentunya bencana alam dan kematian nggak termasuk di sini ya hahahaha), aku pengen dia mengerti bahwa dia tidak seharusnya menyalahkan keadaan; tapi bertanya dulu ke dalam diri apa kesalahan yang dia buat hingga semua ini terjadi.
Tapi seperti yang ditulis Gladwell, semua ini nggak bisa terjadi kalau lingkungan sekitarnya nggak mendukung. Sebenernya, cita-cita sebesar itu bisa diawali dengan langkah sederhana kok.
Dari kecil, anak-anak sebaiknya dibiasakan untuk dikasih pilihan dan dikasih kesempatan untuk memilih dan biarkan mereka meng-explore pilihannya. Misalnya, kalo mau pergi dikasih beberapa pilihan baju dan celana dan biarin mereka milih mau pakai yang mana.
Ke dua, biasakan mereka mengenal target atau tujuan. Misalnya mereka harus mandi. kalau si anak belum mau mandi solusinya ya bukan dimarahin tapi ditanya mau mandi kapan; apakah kalau udah selesai nonton film, apakah 2 menit lagi, atau apa? Yang penting targetnya jelas: bahwa mereka harus mandi sore,dan yang namanya mandi sore harus dilakukan sore hari, artinya sebelum matahari terbenam. Mau kapan tepatnya dan gimana cara mandinya, why don’t we let them figure out. Ini nih yang sering kita lupa, kalau tiap orang punya cara sendiri melakukan sesuatu. Dan ini yang biasanya kita lakukan: memaksa mereka untuk cepat-cepat mandi sore, supaya urusan kita juga cepat selesai.
Yang ke tiga, adalah langkah sederhana yang bisa dilakukan saat belanja bareng si kecil ke supermarket. Daripada kita sibuk sama anak-anak yang pengen ini -itu atau justru nggak pengen apa-apa sama sekali (bisa jadi karena emang mereka nggak pengen apa-apa atau karena mereka nggak berinisiatif - so be careful), kita bisa lho ngasih mereka uang (tentu saja secukupnya) dan biarin mereka yang menentukan sendiri apa yang mau dibeli. Kalau mereka menuhin keranjangnya dengan berbagai macam barang, ya biarin aja. Sampai akhirnya mereka bayar di kasir ternyata uangnya kurang,nah kan mereka jadi belajar apa prioritas yang mereka butuhin.
Well, … aku tahu sih semua ini baru cita-cita dan aku juga masih berusaha untuk menerapkan semua ini. But seriously, I have enough seeing people around me who don’t know what they really want in their life. Therefore they do not passionate enough doing things. Trial error is good, tapi jangan terlalu lama baru sadar kalau yang dilakukan adalah salah. Namanya juga nyoba, ya nggak. Kalau nyoba ya jangan lama-lama dong.
So if you ask me what my biggest fears are, …yeah I know I have many big fears in my life,… but one of them is, if my son grows up clueless.
Itulah sekelumit dari salah tulisan dalam buku Malcom Gladwell, What The Dog Saw.
Yang aku lihat dan perlu digarisbawahi adalah bukan masalah label geniusnya, tapi betapa pentingnya bagi seseorang untuk menemukan apa hal yang ia suka, dan apa hal yang benar-benar ia inginkan dalam hidupnya. Kalau memang enggak terlahir dengan intuisi seperti Mozart atau Steve Jobs, kesuksesan emang jadi Pe-Er buat orang-orang kaya kita. Eh, bukan kita deng. Aku, maksudnya hehehe. Let’s not talk about ‘Luck’ lah ya, … itu sifatnya intangible atau maya. Buat aku, keberuntungan adalah sebuah konsep. Mungkin soal keberuntungan ini bisa jadi topik di posting selanjutnya hehehe.
Well, buat kita yang merupakan produk-produk sekolah Orde Lama, mengenali potensi diri dan apa yang kita mau dalam hidup secara spesifik; tentu jadi hal yang berat. Karena kita nggak punya banyak kesempatan untuk memilih pelajaran yang kita suka, entah karena kita memang nggak punya banyak pilihan atau memang kita secara nggak sengaja membatasi pilihan karena kita terbiasa dengan pola belajar ‘disuapin’. Coba, berapa persen dari orang Indonesia yang ambil jurusan di sekolah karena gengsi dan bukan karena emang pengen masuk jurusan itu? Berapa persen dari lulusan universitas yang bekerja di bidangnya? Berapa persen orang Indonesia yang pernah magang lebih dari satu kali dalam hidupnya? Aku yakin, pasti jumlahnya kecil banget. Nggak usah jauh-jauh, aku juga salah satu produk yang disebutin di atas. nangis-nangis gila waktu ternyata harus masuk jurusan IPS, nggak tau bahwa di universitas itu ada yang namanya jurusan komunikasi yang lulusannya bisa kerja jadi jurnalis, public relation atau kerja di advertising. Nah, untungnya aku bekerja sesuai bidang kuliah itu dan ternyata aku suka.
Well, I'm not saying these all wrong. No judgementlah. Aku cuma wondering aja, sekian waktu yang terpakai di SMA dan kuliah (taro aja kira-kira 10 tahun)sebenernya bisa lebih efektif kalau aja kita tau apa yang kita mau. Seriously, ini yang aku takutin terjadi sama Titan.
Seperti orang-orang dewasa di sekitarnya, aku takut dia nggak tahu apa yang dia mau dalam hidupnya. Nggak tau punya potensi apa, nggak punya hobi, nggak tau mau ambil jurusan apa saat kuliah dan nggak punya target. Aku takut ‘Lihat aja nanti’ perlahan menjadi filosofi yang berurat-akar dalam dirinya.
Itulah kenapa sejak masih di dalam perut, aku selalu berdoa supaya Titan jadi anak yang berkepribadian kuat dan tahu apa yang dia inginkan dalam hidupnya. Buat aku, penting bagi anakku untuk mengenal dan memahami dirinya sendiri baru ia bisa mengenali dan memahami orang di sekeliling dan kondisi yang terjadi di sekelilingnya. Jika ada sebuah kejadian yang tidak mengenakkan yang seharusnya bisa dicegah (tentunya bencana alam dan kematian nggak termasuk di sini ya hahahaha), aku pengen dia mengerti bahwa dia tidak seharusnya menyalahkan keadaan; tapi bertanya dulu ke dalam diri apa kesalahan yang dia buat hingga semua ini terjadi.
Tapi seperti yang ditulis Gladwell, semua ini nggak bisa terjadi kalau lingkungan sekitarnya nggak mendukung. Sebenernya, cita-cita sebesar itu bisa diawali dengan langkah sederhana kok.
Dari kecil, anak-anak sebaiknya dibiasakan untuk dikasih pilihan dan dikasih kesempatan untuk memilih dan biarkan mereka meng-explore pilihannya. Misalnya, kalo mau pergi dikasih beberapa pilihan baju dan celana dan biarin mereka milih mau pakai yang mana.
Ke dua, biasakan mereka mengenal target atau tujuan. Misalnya mereka harus mandi. kalau si anak belum mau mandi solusinya ya bukan dimarahin tapi ditanya mau mandi kapan; apakah kalau udah selesai nonton film, apakah 2 menit lagi, atau apa? Yang penting targetnya jelas: bahwa mereka harus mandi sore,dan yang namanya mandi sore harus dilakukan sore hari, artinya sebelum matahari terbenam. Mau kapan tepatnya dan gimana cara mandinya, why don’t we let them figure out. Ini nih yang sering kita lupa, kalau tiap orang punya cara sendiri melakukan sesuatu. Dan ini yang biasanya kita lakukan: memaksa mereka untuk cepat-cepat mandi sore, supaya urusan kita juga cepat selesai.
Yang ke tiga, adalah langkah sederhana yang bisa dilakukan saat belanja bareng si kecil ke supermarket. Daripada kita sibuk sama anak-anak yang pengen ini -itu atau justru nggak pengen apa-apa sama sekali (bisa jadi karena emang mereka nggak pengen apa-apa atau karena mereka nggak berinisiatif - so be careful), kita bisa lho ngasih mereka uang (tentu saja secukupnya) dan biarin mereka yang menentukan sendiri apa yang mau dibeli. Kalau mereka menuhin keranjangnya dengan berbagai macam barang, ya biarin aja. Sampai akhirnya mereka bayar di kasir ternyata uangnya kurang,nah kan mereka jadi belajar apa prioritas yang mereka butuhin.
Well, … aku tahu sih semua ini baru cita-cita dan aku juga masih berusaha untuk menerapkan semua ini. But seriously, I have enough seeing people around me who don’t know what they really want in their life. Therefore they do not passionate enough doing things. Trial error is good, tapi jangan terlalu lama baru sadar kalau yang dilakukan adalah salah. Namanya juga nyoba, ya nggak. Kalau nyoba ya jangan lama-lama dong.
So if you ask me what my biggest fears are, …yeah I know I have many big fears in my life,… but one of them is, if my son grows up clueless.
kapan nambah?
Makin ke sini, saat aku lagi barengan sama Titan makin banyak yang suka nanyain aku “Kapan nambah lagi? Udah gede tuh!” Selama ini, aku selalu bilang “Entar aja ah, mahal!” kataku sambil nyengir. Tidak sambil berlalu pergi, tapi seolah menunggu respon mereka. So far sih, kalau aku jawab gitu biasanya mereka cuma diam dan senyum-senyum aja. Gak tau karena mereka somehow agree atau dalam hati ngetawain jawaban aku.
Well, apapun itu; semua orang kan punya pilihan dan rencana hidup masing-masing kan ya. Tapi alasan ‘mahal’ itu bukan cuma berlaku untuk masalah uang lho. Itu iya, for sure. Tapi itu mah bisa kelihatan wujudnya. Tapi gimana dengan mahalnya rasa yang harus dihadapi? Mahalnya rasa ups and down selama hamil, dan buat aku adalah juga rasa ups and downs saat persiapan untuk hamil dan program untuk hamil serta selama hamil. Obat yang musti ditelen selama hamil, suntik, itu sih nggak seberapa. Tapi deg-degan takut kenapa-kenapa itu yang hanya bisa terbayar saat melihat si adik bayi lahir sehat wal afiat.
Belum lagi, mahal waktu. Masalah waktu tidur yang terganggu karena musti bangun malam sih udah biasa. Baik karena terbiasa lembur, side job tengah malam atau karena nggak bisa tidur. Tapi waktu untuk barengan sama si kecil dan memperhatikannya secara penuh, itu yang justru lebih mahal. Aku nggak kebayang kalau kalau waktuku selama week end habis untuk nyuapin tiga orang anak yang susah diatur dan lari sana-sini. Haaaa, … mungkin bisa mati berdiri aku hahaha *L.E.B.A.Y
Tapi bener deh, coba kalau aku punya anak lebih dari satu sekarang ini. Mungkin aku nggak akan sempat bikin blog untuk Titan, meng-update Facebooknya Titan, bikin scrap book nya dia sejak lahir sampai sekarang, ngumpulin gambar-gambarnya dia dan ditempel di dinding dengan rapi. Hal ini aku bisa bangga deh, nggak banyak ibu yang bisa bikin blog untuk anaknya dan rajin meng-update he he he. Dan salah satu yang terpenting juga, mungkin akan sangat mahal buat aku untuk tetap bisa ngeblog, mandi lama-lama siraman air dingin sekedar tidur-tiduran di sofa dengerin musik tanpa melakukan apa-apa, atau melakukan kegiatan Me – Time lainnya.
But most of all, I think one Titan is enuff for me, at least for now. Dan aku justru lagi senang-senangnya menikmati perkembangan Titan yang mulai masuk ke perkembangan emosional. Ngeliat yang sudah lancar bicara trus bisa diajak ngobrol. Memperhatikan dia kalo lagi ngambek. Terharu biru kalau sebelum tidur dia ngelus-ngelus rambut aku atau sekedar nyabunin punggung. So yes, … I think one is enough. Kalaupun mau nambah, mungkin nanti. Nanti nanti nanti … enggak tahu kapan :)
colors
You were born with beautiful eyes.
On the first days of your life, colors were so much simple.
The pattern of your bed sheet, the lace of your blanket, the stripes on your playpen, everything came in black and white.
Till you got older, you grew bigger and taller,
And you started to know , blue was for boy, pink was for girl, duck is a yellow and so much more.
White is for good deeds, and black is for evil spirit.
You feel fine for those at first,
But then your brain started to question
… what about grey?
As days went by,
You learnt grey is white with a little drop of black
You learnt grey is white with a little drop of black
Grey is white through a different lens
Grey is when black seemed so make your sense
Grey is human
Life and its color, don’t you love it?
In one of those days
Aku melangkah kecil tapi cepat secepat rintik-rintik air itu mengkerayapi jemari kaki. Membuatnya dingin dan kotor dengan cipratan air kubangan yang menghitam. Nggak papa, nanti begitu sampai langsung cuci kaki; kataku dalam hati sambil menatap jemari kakiku yang mulai memucat dan bertabur pasir kehitaman.
Aku mempercepat langkahku. Dingin, bukan apa-apa. Lalu aku keluarkan selendang lebar dari dalam tas dan kubalut tubuhku. Biar hangat. Dan saat itulah teman-teman kecilku bermain, berjumpalitan di sela-sela lipatan otakku.
Kamu tahu?
Nggak.
Kamu ingin tahu?
Mungkin.
Mungkin berarti kamu nggak terlalu yakin.
Karena kalau aku yakin, aku pasti tahu. Aku pasti tahu bahwa aku tidak ingin tahu. Bodoh, kamu!
Hahaha … aku tersenyum mendengar mereka bertengkar. Lalu aku menatap ke langit biru yang gelap di atasku. Eh, maaf. Tepatnya di atas rerimbunan pohon di atasku. Dan aku terus berjalan membiarkan tubuhku tercabik hujan yang merintik di pukul tujuh pada Jumat malam. Sempurna.
Lalu kulihat kilat petir dan rembulan di balik awan. Garis tidak selamanya lurus dan lingkaran tidak selamanya penuh. Ketidaksempurnaan yang menyempurnakan malam ini.
Aku mempercepat langkahku. Dingin, bukan apa-apa. Lalu aku keluarkan selendang lebar dari dalam tas dan kubalut tubuhku. Biar hangat. Dan saat itulah teman-teman kecilku bermain, berjumpalitan di sela-sela lipatan otakku.
Kamu tahu?
Nggak.
Kamu ingin tahu?
Mungkin.
Mungkin berarti kamu nggak terlalu yakin.
Karena kalau aku yakin, aku pasti tahu. Aku pasti tahu bahwa aku tidak ingin tahu. Bodoh, kamu!
Hahaha … aku tersenyum mendengar mereka bertengkar. Lalu aku menatap ke langit biru yang gelap di atasku. Eh, maaf. Tepatnya di atas rerimbunan pohon di atasku. Dan aku terus berjalan membiarkan tubuhku tercabik hujan yang merintik di pukul tujuh pada Jumat malam. Sempurna.
Lalu kulihat kilat petir dan rembulan di balik awan. Garis tidak selamanya lurus dan lingkaran tidak selamanya penuh. Ketidaksempurnaan yang menyempurnakan malam ini.
aku tunggu di mitaka
The 1st picture was me almost a year ago. Knelt down in front of a shop's display in Korea and craved for Totoro. I waited for almost an hour for the shop to open but they'd never showed up :( But look what I got on my desk today! A good-friend-of-mine-who's-more-like-a-brother, Ebet, granted my dreamy wish of Ghibli, from Ghibli Museum, Mitaka-Tokyo. It's Totoro! Then I texted him "Speechless. *Hug!"
Me
Hmmm, after some writings about my possible hero, my invisible spine, my guy and my writings about you, I guess it is the time to write a little about me hehehe ....
Some people said I am a total dreamer, dreamer to the max! Well, what can I say, … because I am. I know and I admit it, that I am a dreamer.
College's subject introduced me with Freud. You might say I am a Freudian. I believe his theory on id, ego and superego and more over, I do believe in his book The Interpretation of Dream. Although Freud was hard to proved, and I am not a psychology student as well, but I feel that his theories are related to me, especially my dreams. Maybe that is why the science of dream is categorized as pseudoscience because no one can really interpret someone’s dream or how someone created a dream.
I do have troubles with dream since I was a little. This, I never talked about to my parents because I thought dreams are just dreams. Well, my mother often found me terrified or screaming out loud when I woke up, but yes ... we thought it was just nightmares. Everyone has nightmares, right? But then years passed by, the more I grow up the more I become even more sensitive of signs that are given to me, thru my dreams. And the more I am aware about my dream life, the harder for me to get a good sleep. Sometimes, I just hate to be a dreamer. But many times, it feels wonderful to actually see people I could not see in real life but I could meet them in my dreams, to know how they are doing, to sense what might happen, and on. Although, many times when I was feeling De Ja Vu, I sometimes could not differentiate whether it was my dream or my real experience.
Despite of the literal dreaming, I do feel my life is like a fairy tale. I remember when I was a kid and someone asked me “Where do you live?” And I said “Second star to the right with Peterpan and that is how you find me.” And when I walked home from school, I played pretend that I was lost somehow in a Hansel and Gretel forest, so I spread my bread crumbs along the way. And almost every night, I asked my father to tell me a story before bed. Yeah, many times they were just the same, lame story but I did not know why I asked for them more and more.
Sigh, … am I being so drama?
“Wake up, baby. Wake up!” That’s what my friend told me, one night. And yeah, I have been struggling to try. I understood that life is not a play ground and there are simple things that matters. I just can’t wait the perfect prince to pick me up and spread his robe for me to cross the puddle. That I have to calculate every single step I made. That the pondering time is over and I must wake up and I must be brave (Ah, … yet the word ‘brave’ itself sounds so fairy tale, uh?!).
Yes, and after having a deep conversation with a best friend; I drove home. And when I got home, I just realized that I had lost one of my shoes. My right-part-red-jelly-shoe, and I had no idea where I had lost it! Oh, someone had just told me to wake up and banished my fairy tale life away. But in contrast, I felt like Cinderella!
Sigh, ... maybe real life is not so work for me after all, so I should get back to my dreamy life again and just embrace it.
*sitting gracefully and wait for the prince to return my jelly shoe :p
Some people said I am a total dreamer, dreamer to the max! Well, what can I say, … because I am. I know and I admit it, that I am a dreamer.
College's subject introduced me with Freud. You might say I am a Freudian. I believe his theory on id, ego and superego and more over, I do believe in his book The Interpretation of Dream. Although Freud was hard to proved, and I am not a psychology student as well, but I feel that his theories are related to me, especially my dreams. Maybe that is why the science of dream is categorized as pseudoscience because no one can really interpret someone’s dream or how someone created a dream.
I do have troubles with dream since I was a little. This, I never talked about to my parents because I thought dreams are just dreams. Well, my mother often found me terrified or screaming out loud when I woke up, but yes ... we thought it was just nightmares. Everyone has nightmares, right? But then years passed by, the more I grow up the more I become even more sensitive of signs that are given to me, thru my dreams. And the more I am aware about my dream life, the harder for me to get a good sleep. Sometimes, I just hate to be a dreamer. But many times, it feels wonderful to actually see people I could not see in real life but I could meet them in my dreams, to know how they are doing, to sense what might happen, and on. Although, many times when I was feeling De Ja Vu, I sometimes could not differentiate whether it was my dream or my real experience.
Despite of the literal dreaming, I do feel my life is like a fairy tale. I remember when I was a kid and someone asked me “Where do you live?” And I said “Second star to the right with Peterpan and that is how you find me.” And when I walked home from school, I played pretend that I was lost somehow in a Hansel and Gretel forest, so I spread my bread crumbs along the way. And almost every night, I asked my father to tell me a story before bed. Yeah, many times they were just the same, lame story but I did not know why I asked for them more and more.
Sigh, … am I being so drama?
“Wake up, baby. Wake up!” That’s what my friend told me, one night. And yeah, I have been struggling to try. I understood that life is not a play ground and there are simple things that matters. I just can’t wait the perfect prince to pick me up and spread his robe for me to cross the puddle. That I have to calculate every single step I made. That the pondering time is over and I must wake up and I must be brave (Ah, … yet the word ‘brave’ itself sounds so fairy tale, uh?!).
Yes, and after having a deep conversation with a best friend; I drove home. And when I got home, I just realized that I had lost one of my shoes. My right-part-red-jelly-shoe, and I had no idea where I had lost it! Oh, someone had just told me to wake up and banished my fairy tale life away. But in contrast, I felt like Cinderella!
Sigh, ... maybe real life is not so work for me after all, so I should get back to my dreamy life again and just embrace it.
*sitting gracefully and wait for the prince to return my jelly shoe :p
malam, awan dan kamu
Sedang menatap langit malam dan awan-awan tebal yang bergerak cepat menembus remang bulan, berarak sampaikan salam sayang aku untuk kamu.
Sudah siang ...
Bunda:
Titan, bangun yuk! Udah siang ini, sudah jam sembilan.
Titan (bangun dan terduduk diantara bantal dengan mata kriyep-kriyep):
Sudah siang ya, Bunda?
Bunda:
Iya, sudah siang. Enggak sekolah?
Titan:
Kalau gitu Titan tidur siang dulu ya (sambil narik selimut terus tidur lagi)
Bunda:
...
Sudah siang dan tidur siang
Bunda:
Titan, bangun yuk! Udah siang ini, sudah jam sembilan.
Titan (bangun dan terduduk diantara bantal dengan mata kriyep-kriyep):
Sudah siang ya, Bunda?
Bunda:
Iya, sudah siang.
Titan:
Kalau gitu Titan tidur siang dulu ya (sambil narik selimut terus tidur lagi)
Bunda:
...
Rintik
rintik rintik sibuk membisiki malam
menjalin titian antara langit kelam dan tanah yang menghitam
menjembatani malam yang mengelam
dengan dingin yang meniti halus
mengiris-iris malam yang begitu sepi menjadi satuan-satuan waktu yang tak bertepi
rintik yang meniti waktu
tak rela malam menutup mata
hingga bulan menjelma surya
menjalin titian antara langit kelam dan tanah yang menghitam
menjembatani malam yang mengelam
dengan dingin yang meniti halus
mengiris-iris malam yang begitu sepi menjadi satuan-satuan waktu yang tak bertepi
rintik yang meniti waktu
tak rela malam menutup mata
hingga bulan menjelma surya
Biar
Malam ini begitu sepi.
Pikirku.
Oh … tapi ternyata bukan.
Bukan, bukan semesta ini yang menyepi.
Tapi sepertinya diriku yang memilih untuk menutup diri.
Hingga telinga ini tak ingin lagi mendengar,
Mulut pun terkunci rapat tak mampu berujar,
Dan rasa pun mendingin, membeku dan beringsut kaku.
Tak ada kata-kata terjalin, hanya pikiran-pikiran yang meliar tak tentu arah tak jelas ujung dan pangkal.
Sekelebatan, lalu hilang di tikungan.
Kadang merayap pelan, apalagi saat pikirku singgah akan kamu.
Tapi kemudian ia memilih untuk cepat-cepat pergi karena sejenak memikirkan kamu meninggalkan bekas yang tak hilang berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Aku merindukan kamu hingga dadaku sesak.
Itu yang aku tidak mau. Karena pelan-pelan segalanya tentang kamu hanya membunuhku, walau pikiranku selalu menipuku dengan rayuannya, … “Rasa itu hanya akan membuatmu lebih kuat. Bukan membunuhmu.”
Hah, … palsu.
Aku tidak ingin kuat. Aku ingin menjadi lemah. Aku ingin menjadi layu jika aku harus hidup tanpa kamu. Aku ingin merajuk, menangis di pelukmu, dan kamu hanya akan memelukku erat dan mengelus-elus rambutku. Aku tidak ingin bertahan. Aku ingin menyerah. Tapi sekali lagi pikirku bilang “Semua ini hanya akan membuatmu lebih kuat. Bukan membunuhmu.”
Hah, … sekali lagi. Palsu.
Kenapa sih tidak kau biarkan saja?
Biar.
Biar sekali ini saja aku memilih untuk menjadi buta dan tuli.
Karena hanya dengan begitu aku tahu bagaimana rasanya memiliki hati.
Pikirku.
Oh … tapi ternyata bukan.
Bukan, bukan semesta ini yang menyepi.
Tapi sepertinya diriku yang memilih untuk menutup diri.
Hingga telinga ini tak ingin lagi mendengar,
Mulut pun terkunci rapat tak mampu berujar,
Dan rasa pun mendingin, membeku dan beringsut kaku.
Tak ada kata-kata terjalin, hanya pikiran-pikiran yang meliar tak tentu arah tak jelas ujung dan pangkal.
Sekelebatan, lalu hilang di tikungan.
Kadang merayap pelan, apalagi saat pikirku singgah akan kamu.
Tapi kemudian ia memilih untuk cepat-cepat pergi karena sejenak memikirkan kamu meninggalkan bekas yang tak hilang berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Aku merindukan kamu hingga dadaku sesak.
Itu yang aku tidak mau. Karena pelan-pelan segalanya tentang kamu hanya membunuhku, walau pikiranku selalu menipuku dengan rayuannya, … “Rasa itu hanya akan membuatmu lebih kuat. Bukan membunuhmu.”
Hah, … palsu.
Aku tidak ingin kuat. Aku ingin menjadi lemah. Aku ingin menjadi layu jika aku harus hidup tanpa kamu. Aku ingin merajuk, menangis di pelukmu, dan kamu hanya akan memelukku erat dan mengelus-elus rambutku. Aku tidak ingin bertahan. Aku ingin menyerah. Tapi sekali lagi pikirku bilang “Semua ini hanya akan membuatmu lebih kuat. Bukan membunuhmu.”
Hah, … sekali lagi. Palsu.
Kenapa sih tidak kau biarkan saja?
Biar.
Biar sekali ini saja aku memilih untuk menjadi buta dan tuli.
Karena hanya dengan begitu aku tahu bagaimana rasanya memiliki hati.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Berserah atau Menyerah?
Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...
-
It’s been years. Probably, … eight years. We never met, and I’d never wanted to come again after my last visit. But after weeks of considera...
-
Di suatu malam yang sunyi dan dingin, langit begitu gelap. Namun, ada seorang wanita yang tidak dapat terlelap. Dari semua mimpi yang tela...


