Those who took swimming lessons, for dinner

I think,
one of the bless for a wife is to have a husband who will eat anything she cooks for him.
Imagine if you have to take another complaints after hours of cooking and clean up all the dirty utensils after you cook. What even more hurting is when he doesn't touch the food at all.
Aw, it is so rude!

Since Ariawan changed his eating habit to food combining, I must say that I am a little bit out of hands. Morning is easy. Lunch is a bit tricky. But dinner, is the hardest part because I need to vary my recipes of cooking animals. The two legged animals are boring, the four legged animals are hard to bite (because I don't have pressure cooker) and those with fins are smelly.

I managed to bake the fins tonight, anyway. Tasted so so, hubby and kids did not look excited but they ate it anyway. Need to try harder next time.


Garlic, pepper, lemon, honey

The cuttlefish are good, however.


Thank you, universe!

Having a house is a forever commitment. After ten years, we finally managed to have a kitchen and dining table just as we wish for it to be. The colour, the organizing (yes! I managed myself to declutter all those stuffs!) the stool and the dish dryer rack I have been searching for quite sometimes; I found it in coincident.

It five boxes out to declutter.
I am proud of myself how I can live less in the kitchen.
I am happy.

Suppa happy!





The one that is so me.

Kinfolk. What Kinfolk?
My house is so way way way out of monochrome.
Sometimes I wanted its kind of style. But real life gives me much colors. That means drawings of my kids and the wall for them to show off.

I cannot stand 'cold' and 'clean' settings.
I think it is not ... organic.
It is so ... pretentious.

The house I am living now, a bestie said that it is so me.
Oh well, ... who else can it be?
Hubby always say, do whatever you wish for them to be.


Every corner is kid's corner

I always love warm and unexposed lighting

Express yourself #madonna

Our family picture

This is my boy!


I am a blessed mother. 
Sometimes I am afraid that it is too much and I will expect so much more. 
Sometimes I am afraid I cannot bear the disappointment. 

I am raising such a gentle boy. 
The one who communicates really well since he was a toddler. 
The one who took care of me really really well when there was no one but just the two of us. 
The one who seals my mouth when he was being sarcastic, ... he got it from me. 

God knows how much the love I have for you. 



His poem last week

His poem this week

A little not in front of my door as he went off to school


Akhirnya, saat itu datang juga.

Kali ke dua mencoba menyapih Luna. Malam ini tepat malam ke tujuh Luna bisa bobo malam tanpa nenen. Perlahan mulai hilang crankynya, walau masih kebangun tengah malam mencari sudut kenyamanannya di dadaku.

Ternyata benar, menyapih itu butuh kekuatan dan keberanian bagi keduanya. Like it takes two to tango, masing-masing saling menguatkan. Terima kasih pada alam, yang membuat semua ini terjadi. Karena kalau enggak ada edisi muntah-muntah lagi seperti Juli lalu; mungkin saat ini Luna masih nenen juga.

Aku enggak pernah nge-set timing kapan Luna harus berhenti menyusu, karena seperti yang pernah aku ceritain di sini beberapa bulan lalu; kegiatan ini sama-sama menyenangkan buat kita berdua. Jadi mau sampai 3 tahun atau 4 tahun pun aku enggak keberatan. Tapi, terima kasih sama dokter rossie yang mengingatkan, kalau umur 3 tahun fase oral harus sudah selesai. Itu artinya, fase nenen dan coba-coba semua masuk ke mulut udah harus selesai. Luna sudah harus bisa dididik untuk berhenti itu semua. Plus, toilet training. Wah, ... tugas yang berat untuk umur 2 tahun ya.

And I am so proud, my baby girl is getting through them so very well. Kalau mau ke belakang, udah bilang dan langsung lari sambil copot celana sendiri. Walaupun masih suka ketuker mau poop atau mau pee. And for the weaning part, ... it is gorgeous.

Betapa hebatnya masa menyusui, namun enggak kalah hebat juga masa-masa menyapih. Setelah seminggu ini disapih, mamnya makin lahap dan semua mau dicobain. She gained another 500 grams within a week. Dan yang paling signifikan adalah, dia makin berani mengeksplorasi lingkungan sekitar. Bangun tidur sendiri, buka pintu dan mencari sendiri dimana ibunya. Kalau dibawa ke tempat umum pun dia sudah mau jalan-jalan sendiri dan menyapa orang-orang asing. Mau bobo pun sekarang mau di sekitar bubunya instead of under my armpit hehehe.

So what are the tips for this lovely weaning with love?
1. Understanding. Understand that both mom and kid needs time and follow your motherly intuition to notice which time is the right time.
2. Talk talk and talk. Give her understanding in a way she understands. Di kasus Luna, kayanya anaknya tipe benefit oriented. Jadi, daripada aku kasih tau dia soal sekarang udah gede dan anak gede enggak menyusu lagi; aku kasih tau dia kalau menyusu takutnya akan muntah-muntah lagi (dan memang itu kejadiannya, bukan bohong) ... and it works.
3. Load some more lots of activities to distract her from thinking of leyeh-leyeh sambil nenen
4. Introduce more variants of taste and textures to the tongue.
5. Some 'old school' tricks like putting band aids or even lipstick to your breast might needed, never be ashamed or feeling guilty just because of that.

And it's all folks!


Put up lots of activities ... 


... I mean LOTS!!! 

These are the series of persuading face 'Minta Nenen' 



Egos down

Nini cerita, sepulang sekolah tadi Aki langsung memeluk Titan.

"Titan, aki minta maaf ya semalam marah-marah ngajarin Titan. Abis Titan sih, kalau diajarin tuh yang fokus dong. Titan maafin aki, enggak?"

"Iya Ki, Titan maafin aki kok."


Selang beberapa waktu kemudian ... 


"Bunda, Titan udah temenan lagi sama aki."

"Oh ya?"

"Iya, aki sudah minta maaf sama Titan."

"O gitu, bagus dong. Trus Titan maafin enggak?"

"Iya dong, masa orang udah minta maaf enggak dimaafin."


Men of my life. How I love them. 



A gentle reminder


Seringkali kita berdoa meminta kemudahan, 
tapi kita lupa meminta kekuatan untuk melaluinya.
Seperti halnya kita sering berdoa agar diberi petunjuk, 
tapi kita lupa berdoa untuk diberi kemampuan 'membaca' petunjukNya. 



Rum raisin chocolate

"Late, kan?"

"Oh yup. Thanks. Masih inget aja." Kataku basa-basi.

I never like coffee, if only you ever knew. They make me tremble, so Late was the only coffee I could bear because two-third of the cup was only plain milk.  

You gave me the cup and smiled.

Ouch, that smile again. And those pockety-lack of sleep eyes hiding behind your spectacles. You said man should sleep lesser than a woman. And It meant a lot. It could mean they work harder. It could also mean they slept later so they could watch their woman sleep peacefully and secretly traces their wrinkles. Count their eye lashes. Kiss her goodnight, put a blanket on her and back to work. 'Till the dawn comes. 

"Diminum, dong."

"Oh, iya."

Shite, why I was a bit nervous. Wait, ... a bit? I was nervous. Totally. 
I held my cup tight and had a sip. But my lips never touched the Late. I prefered watched you sipped. Warmth slowly traces down my throat just by seeing you sipped the coffee. Gosh, ... how I miss you. 

"Aku enggak pernah berjalan sejauh ini." Kataku.

"Masa? Why not?"

I mean ... I have never let my feeling goes this far. 

"You know ... badan aku tuh norak banget lah. Gak bisa kena dingin dikit aja pasti langsung masuk angin. Kamu enak, ... gendut." As I poked his flabby tummy.

You laughed hard. I still remember how it feels to hug you, do you know that? Well,  also when you hugged me. They were all the same. It was like my whole body was crunched into a fluffy pot and sealed. I felt safe and comfort. Only just I hugged you more than you hugged me. 

You looked away to the distance. There was a slight of awkward pause. 

"Kamu ngapain ke sini?" Kataku ragu. Takut salah.

You kept walking. You sipped your coffee and put your hand in your pocket. You sipped it again, and ... no. You did not sip it. You put your cup down. And you stopped. I was a walk away behind you when you turned around and pointed my cup. 

"Buat itu." Katamu sambil menunjuk gelas Lateku.

"Oh ... what about this Late?" I chuckled.

"It is not. You never like coffee, don't you?"

I trembled. This time it was not because of the coffee.  
My hand muffled up in mitten. 




Photograph by my art director partner @marshattacks





Diet? What diet?

Saat suami memutuskan untuk diet, maka itulah saatnya sang istri menderita kepusingan yang amat sangat. Pusing mikirin musti ngasih makan apa.

Lima tahun yang lalu beratnya bubu masih ideal. Hasil dari sepedaan naik turun bukit kalo kuliah ditambah kelupaan makan karena deadline tugas-tugas dan analisa riset yang ditagih mulu sama profesornya.
Sampe Jakarta, tingkat stres yang lebih besar dan kurang beraktivitas fisik bikin bubu melar abis-abisan. Belum lagi kalo ngantor naik ojek yang tinggal menclok. Beda dengan nyetir sendiri yang sebenernya masih memperkanankan adanya gerakan, mikir dan jalan dari parkiran ke tempat duduk di kantor. Tapi memang kondisi jalanan jakarta makin devilish aja setiap harinya.
Trus lagi, bubu punya kebiasaan enggak bisa lihat makanan sisa. Katanya sih dulunya hidup susah, jadi kasian kalau liat makanan dibuang-buang. Akhirnya dimakanlah itu makanan kalau titan, luna dan aku enggak habis.

And so the story goes, menggelembunglah badannya. Dua puluh kilo lebih dicapai dalam empat tahun. Hingga beberapa hari kemarin, dia mengeluh badannya mulai enggak enak dan sering pusing. Akhirnya dia memutuskan mau merubah pola makan.

Jeng-jeng! This is it. Dulu-dulu saya yang paksa dia untuk makan yang baik. Tapi kalau dia menggelendut seperti sekarang ini ya sebenernya salah saya juga ya. Kan saya yang sediain makannya. Dan juga cemilan-cemilan di rumah. Dan juga ramen-ramen instan itu yang Masya Allah enaknya apalagi kalo dimakan tengah malam. Plus soda-soda yang tersembunyi di lemari supaya enggak dilihat anak-anak, tapi siap dikonsumsi bubu - bundanya hahahahaha. Culas.

Akhirnya mulailah saya googling. Sempet tanya-tanya temen juga yang punya catering diet mayo. Sempet tanya nutrisi-nutrisi macam Moment dan Herbal Life. Googling diet berdasarkan tipe darah. Wah, tapi ternyata saya malah jadi mendapatkan berita-berita yang justru bertolak belakang. Disinyalir diet mayo itu sebenarnya bogus atau termasuk dalam kategori hoax. Karena ternyata Mayo Clinic enggak pernah mengeluarkan statement resep diet tersebut karena mereka percaya kesehatan bukan cuma dilihat dari pola makan.
Kalau minum suplemen, kayanya bubu bukan tipe yang mau makan suplemen-suplemen aneh-aneh gitu. Dia orangnya termasuk yang hati-hati kalau minum obat. Lagi pusing atau flu aja belum tentu dia mau minum obat, apalagi suplemen diet? A big NO NO lah kayanya.
Diet berdasarkan golongan darah? Nah, ternyata setelah baca-baca literatur, golongan darah O itu ribet banget dietnya. Saya yang skip lah kalo ini. Trus gimana dong?

Akhirnya saya teringat nama erikar lebang dengan food combiningnya. Sebenernya udah lama juga sih denger-denger soal food combining ini. Dan setelah baca-baca, ternyata food combining memang bukan jenis pola makan baru. Dietnya Rasulullah juga sebenernya model-model begini (katanya) hihihihi.
Akhirnya aku kumpulin tuh alasan-alasan kenapa memilih food combining. Karena bubu tuh bukan tipe orang yang suka diet, tapi makanan tanpa rasa pun pasti susah dia telan. Kasian kalau musti diet tersiksa. Saat aku mengajukan proposal, tak disangka tak dinyana dia menjawab "Aku nunut waeeeeee, Nda!" Hahahaha ... tau gitu kasih buah aja pagi-siang-malam.

Tanpa persiapan gimana-gimana, akhirnya dimulailah program diet itu keesokan harinya. Karena inti food combining cuma ini:




Alhamdulillah banget punya suami yang mangap aja dikasih apaan aja. Hari pertama sarapan aku kasih jus buah yang rasanya masih enak. Makan siang dan malam sih biasa sesuai bagan di atas. Cuma untuk malam hari, selalu ditutup lagi dengan jus. Di hari ke dua, mulai jahil masukin sedikit oats. Seret. Iya bu, ini air putihnya kalau seret. Hari ke tiga, mulai disisipin sayur mentah di jusnya. Kok hijau? Iya, kecemplung pok choi tadi. Tapi tetep ditelen dengan sukses.

Rupanya bubu udah bener-bener niat nurunin berat badan, nurut aja sama apa yang dikasih istrinya dan tanya-tanya kalau ada makanan godaan di kantor.

"Nda, boleh makan cakwe nggak?"
"Sebenernya sih enggak. Tapi kasian kamu. Boleh deh, tapi satu aja. Peres minyaknya."

"Nda, Jumat kan ada catering. Menunya lodeh, ayam goreng sama nasi. Yang enggak boleh dimakan yang mana?"
"Terserah maunya nasi + lodeh atau lodeh + ayam?"
"Yah ternyata sayurnya ada udang dan tahunya"
"Tahunya boleh, udangnya jangan. Protein hewan kan buat malam aja. Kaya singa bu, abis mamam daging trus bobo."
"Oke Oke"

Hahahahaha apapun dietnya emang paling bener drive dari diri sendiri, ya. Alhamdulillah memasuki hari ke empat dari berat 79 kg tadi pagi beratnya bubu udah 76 kg. Mukanya seneng banget.

"Bu, enak gak sarapan makan buah doang?"
"Gak enak, mending gak usah sarapan aja"
"Tapi nanti makan siangnya nggragas."
"Iya juga sih"
"Lagian enggak boleh, menyalahi siklus tubuh."
"Aku nunut wae lah, Ndaaaaaa"

Hahahahaha ... oh iya, buat yang mau tau tentang si food combining itu bisa google aja webnya erikar lebang, ya.

Just because

Alhamdulillah,
minggu ini Titan mulai privat mengaji.
Mainstream? Maybe.
Cliche? Maybe.
Rising a good child, guaranteed? Probably no.
Heaven, guaranteed? Definitely no.
But this is how I was raised,
and I am thankful I was raised this way.

Hopefully Titan is too.

Forgetting this, forgetting that. breaking this and breaking that.



A little note:
Need to set up a good example. So from this moment, since my kid starts reading my blog too, I need to write with the correct spelling, punctuation and capitalisation.

So help me God.


Okay.
Up to this moment, I am still observing what kind of type my kids are. Those who tend to avoid risks or those who has oriented with benefits. Surely two of the types need different approaches.
But along the way, my children easily swifts from one to another. So I got confused in giving the right approach and I became inconsistent. That happens quite often.

So, to us, while I am conveying myself what types my kids are, logical consequences still applies the best for them. There are always consequences behind our every actions.

What is bothering me a lot these days are how careless Titan is. I wonder why I did not notice this back then. Well, maybe I had always thought he is a little boy and I needed to remind him over and over. But now he is eight and he is physically looks pretty big on my eyes, reminding him over and over and he kept forgetting what I said is no longer funny. Not funny at all. It is like you kept saying the same thing to an alien. And the big questions arose: Until when? What if I die and nobody remind him anymore? Well, then I must make action.

Our family needs 1 kilogram of eggs every week. Many times, I ask Titan to buy at the nearest warung if we ran out the eggs out of my grocery schedule. About fourteen eggs in every kilograms, and he came back with only eight or ten. The rests have broken into pieces and so I need to wash all the eggs and keep them in the sun e few hours to dry up. It always happen and I kept asking him and no progress.
So what I did was, I talk to him. For every egg he breaks it is equal with the amount of the day when he cannot eat it. And he was the king of egg. For his french toast, for his scramble, for his telur dadar kornet. No naggings. I just tell him.

His iPod. The first generation of iPod touch and I gave it as his first birthday. He always left it somewhere, for it has gone for like ... four years and we managed to find it again. One night he left it at nini's house and went straight to sleep. I woke him up and tell him to get his iPod. I put it in the drawer and lock it and said he cannot use it for a month. No naggings. I just tell him.

His bike. He always put it wherever he likes and blocking other cars. What I did was, I called him to clean it and put it on the garage. Put a padlock and said he cannot use it for a week. No naggings. I just tell him.

His meal. He often ask for more menus I cook and left it unfinished. What I did was, He need to prepare his own meal for a week. No naggings. I just tell him.

The conclusion about careless kid is, that they need to be responsible of what they have done. And, parents need to be consistent and so they trust us. I know it is hard. Big time.


Fridate with the girls




I am a mother goin' out with my mother. 

Jumat kemarin, kita niat pergi agak jauh. Dharmawangsa Square. Well, waktu yang kurang tepat untuk jalan-jalan sih sebenarnya. You know, ... Jakarta's traffic on friday. Tapi karena mood lagi mendukung dan memang ada tujuan yang dicari, yaitu mencari tas sekolah buat kakak Titan yang sudah 3 tahun enggak diganti, akhirnya kita pergi juga walaupun harus menunggu taksi dari jam 11 dan baru dapat jam setengah dua.

Seperti yang diperkirakan, ... macet. Saya lupa ada pembangunan fly over di depan Rumah Sakit Pertamina yang mengekor ke Sinabung dan Barito, rute perjalanan kami. Alhamdulillah, sampai dengan aman enggak pake nagging. Tentunya, berkat nenen sepanjang jalan dan si bocah tertidur pulas.

Sebelumnya udah browsing-browsing sih, tas kaya apa yang bakalan dibeli. Titan memang sangat picky dengan semua outfit yang bakal dia pakai. Sebelumnya sudah ngubek-ngubek Gramedia, tapi enggak ada satu pun tas yang dia suka. Ada sih sempet lirik-lirik Jansport Original yang modelnya vintage gitu, tapi kok ya harganya satu jutaan. Lebay banget, kata bundanya. Mending buat bayar asuransi kesehatan dan sisanya buat kontrol ke dokter gigi hahaha.

Akhirnya kembali ke selera tas dia waktu di TK, Sugar Booger. Ngubek-ngubek instagram, akhirnya nemu perpanjangan si Ore Originals ini yaitu di MomsAndI di Kemang. Tapi kok ya Kemang ya. Jauh sih enggak terlalu, tapi macetnya ... aduhai!
Kemudian saya baru ingat, satu tempat dimana saya membeli Sugar Booger ini pertama kali. Setelah saya google dan dapat nomer telfonnya, itulah kenapa akhirnya kita ke sana langsung. Karena online store-nya enggak update dengan produk terbaru mereka. Nama tokonya Little Toes, di sayap ujung (yang saya selalu lupa sayap sejajar Ranch Market atau justru di ujung lain).

Begitu masuk langsung kalap dengan barang yang lucu-lucu. Si Sugar Booger ini, seperti biasa, lebih banyak koleksi lunch sack dan Kiddie backpack nya yang banyak. Luna juga udah sibuk pilih-pilih. Di pojokan, baru deh kelihatan koleksi zippy backpack yang lebih cocok untuk anak SD. Meskipun enggak selengkap yang saya harap, Alhamdulillah yang kira-kira Titan suka ada di sana. Bahannya kanvas ringan, strap di pundak enggak terlalu lebar, enggak terlalu banyak kantong, ukurannya juga enggak terlalu besar dan enggak terlalu kecil. Cukuplah untuk bawa folder PR dia berukuran kertas folio, dua buku tulis, sarung, peci, snack box dan tempat minum. Dan yang penting, dia pasti suka gambarnya. Dan yang penting lagi, harganya juga masuk akal. Rp. 295.000 aja, jauh lebih murah dibanding harga di website Ore Original. Sedangkan Lunch sack buat Luna, harganya Rp. 200.000

Yeay! Akhirnya dapat juga tas buat si kakak! 
Tapi sebenernya bukan itu aja sih highlight Fridate kita. 

Setelah dapat barang, ktia jalan-jalan sebentar uji nyali ke Tulisan dan ... omagah, hobo yang aku mau adaaaa! Buru-buru lah kita keluar dari toko daripada impulsif beli hahaha. Sekali lagi, mending uang 1,5 juta bisa beli emas 3 gram *kekepin kartu debit*

Dari situ kita lunchie ke Street Canteens, soalnya Luna belum mamam. Sampai sana pesan bihun sop ayam buat Luna dan es jelly. Buat aku dan mamah pesan pempek. Eh ternyata pempek di sana enak juga. Nah, disitulah saya mencuri dengar sambil nyuapin Luna. Jadi, ya .. wajar ya kalau dengernya kepotong-potong hehehe.

Di sebelah saya ada ibu dan anaknya. Si ibu asyik main tab kecil dan anaknya sibuk dengan MacBook Airnya. Anaknya cowok, kayanya sih di tahun akhir SMA atau mungkin sudah lulus. Karena musik yang agak bising, saya enggak bisa jelas mendengar apa yang diomongin si Anak while ibunya mendengarkan sambil terus main gadget.

Ibunya cantik. Umurnya kayanya lima puluhan, tulangnya kecil. Jadi walaupun badannya agak gemuk, tetap terlihat tangan dan kakinya jenjang. Slender, kalau kata orang sana bilang. Dia pakai short overall warna pink lembut dan dalemannya kaos oblong putih yang pas di badan. Rambutnya hitam dan panjang, digulung ke atas.  Enggak pakai bulu mata palsu, enggak pakai make up berat. Cantik, deh. Saya jadi memotret diri saya, apakah saya jadi mamah asyik empat belas tahun nanti. Yang bikin saya tertarik adalah, she looks like a simply straight mom. Di sela-sela percakapan mereka, dia berkata "No, itu salah lu. Harusnya, ... bla bla bla" trus anaknya nerusin omongannya lagi tanpa nada defensive. Trus ibunya nyambung lagi "Dengar. Dengar mama. Kita pengen lu pergi buat belajar. That's it. Pikirin itu." Trus dia langsung melambaikan tangan minta bon. Anaknya langsung terdiam dan menghabiskan minumannya. Saat si ibu berdiri untuk membayar ke kasir, baru deh saya bisa lihat sepatu lucu yang dipakainya: Pump shoes tikus dari Marc Jacob's warna pink. Oh la laaaa, saya pengen banget sepatu itu. Krik krik ... krik krik ....

Asumsi saya, mereka lagi sibuk berdebat soal nerusin sekolah ke luar negeri dan negara mana yang akan dituju. Si anak milih negara yang banyak temen-temennya, ibunya pengen anaknya pergi ke luar negeri buat sekolah dan bukan buat main. Saya membanthin, semoga bisa menabung dan menyekolahkan anak-anak ke luar. Atau, semoga anak-anak tumbuh pintar untuk dapat bea siswa. Amin. Setelah mereka ke luar restoran, saya mulai memakan pempek saya yang sudah dingin karena tadi nyuapin Luna dulu. Sekarang sih luna lagi makan dessert es jelly sama Nini.

Sambil makan mata saya menerawang, dan jatuh ke dua ibu-anak yang lewat di depan restoran. Si anak umurnya tiga puluhan, ibunya mungkin sudah enam puluhan. Anaknya nyante banget, pakai sleeveless long dress warna hitam dengan rambut digulung ke atas. Enggak pakai make-up. Sementara ibunya sasakan, baju rapi dan di tangannya men'cantel' handbag Coach. Kayanya sih mereka dari salon. Seketika saya mikir. Kapan ya, saya bisa berduaan gitu bermewah-mewah sama mamah. Kapan saya ya, bisa beliin mamah tas bermerk. Kapan saya bisa ajak di ke spa untuk pijat, merendam kakinya yang sehari-hari sibuk menyapu dan ke pasar pakai air hangat, disikat dan dikutek. Pijat punggungnya yang sudah pengapuran dengan batu panas dan pijat ala thai.

Mamah saya itu tidak terbiasa memanjakan dirinya. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat bikin reservasi berdua di Puri Santi Spa Cipete. Tadinya sih mau surprise, tapi dia kan gitu. Kalau enggak ada tujuan yang jelas, enggak akan mau pergi dari rumah. Tapi begitu dikasih tau mau diajak ke spa, langsung ditolak mentah-mentah. She is just not used to. She felt awkward. Nyalon? Sama juga. Buat dia nyalon itu cuma untuk potong rambut dan pulang. Pernah saya pesan mbak pijat yang datang ke rumah. Udah hati-hati banget pesannya, terapis yang spesialisasinya pijat Jawa. Eh, sampe rumah malah disuruh ngerokin. Way beyond her skills dan akhirnya Mamah enggak puas juga dengan pelayanannya. Ya wajar, sih.

Setelah kejadian itu, saya enggak pernah lagi kasih-kasih surprise yang 'enggak mamah banget'. Tapi ngasih tas branded buat mamah? Harusnya sih mamah seneng-seneng aja ya dikasih model apapun selama bukan backpack. Tapi ya itu, ... ternyata saya masih sibuk merhatiin keluarga saya aja. Memakmurkan anak-anak. Mengirim mereka kekolah yang baik dan memberi mereka pengalaman di suasana baru.

Itulah bedanya saya dan mamah. Saya cuma mikirin keluarga saya, tapi Mamah bisa mikirin anaknya dan semua keluarga anaknya. Umur memang tidak berbohong ya. Semoga saya bisa bijak kaya mamah nantinya.

Amin. 


Si bocah asyik makan bihun sup satu pot besar

Yes, this is it! Vintage drawings. 

hukuman mati

another chat while we had dinner today.

"bunda, hukuman mati itu apa sih?" 

"ehm..." *ambil minum hampir keselek. "hukuman mati itu, adalah keputusan hukum yang dibuat oleh sebuah negara untuk menghukum seseorang sampai meninggal. ada yang ditembak mati, ada yang disuntik obat, ada yang dimasukin kamar gas. pokoknya, kasarnya, dibunuh sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan yang sudah dia lakukan. 

"tapi kan membunuh orang itu enggak boleh."

"kan tadi bunda bilang, ada negara yang membolehkan hal tersebut. kenapa, karena bentuk kesalahan yang dia lakukan sudah enggak termaafkan lagi."

"kenapa enggak termaafkan? kan kita harus memaafkan?"

"enggak termaafkan itu, biasanya kalau yang kita lakukan itu sudah terlanjur merusak hidup orang lain dan enggak bisa balik lagi." 

"ya tapi tetep kita enggak boleh bunuh orang dan harus memaafkan." 

"ya, itu ada benarnya juga sih nak." 

*untung bubunya cepat datang. dan pembicaraan beralih. yeay!*

#one page a day

Few months ago, a friend of mine which happened to be also a kindergarten teacher recommended this book. I have just finished reading it a few weeks ago.

The content is not really new in parenting world we might have heard. But in my opinion, this is not the kind of book we read once and put it back on the shelves. We should solemnly read this book as everyday's reminder. Each chapter is not really linked to one another, and we can read only the chapter related to the kid's phase we are facing.

I bought the book on www.belbuk.com





my own kind

how long has my kid gone to school? probably four and a half years. titan did not really attend a pre-school or other pre-kindie program. he was too busy at home playing with his grandpa from climbing a tree, feeding the pets or ride a bike. He started on tk kecil when he was 4 and moved to elementary school when he was 5 (in highscope, elementary starts on kindergarten).

along his journey, as far as i remember, never at once i made such a bff relationship with other parents. until this year on grade 2. when did we get together? never from small talks. we started it for a support system of a worsen condition that day and we just clicked. we both have the same son and daughter of the same age.

it has been a while since i last have chat with my own kind. i miss those nitty gritty running the house, talking about schools and courses, daily menus, chats about how we are not slim anymore where wrinkles and fatbelly have become our jewelleries that make us happy. those chats that no longer about ourselves, handsome guys or wanting more physical belongings. chats about future and how to make a better future through our children. chats about their happiness. because we know when they are happy and so are we.

those chats were not only today when i had a playdate with brit and hikaru. i also had a luxurious two days playdate with femmy who reminded me there are another sky above the sky and there are more mud below the land i am stepping on. she reminded me about the dream we have and we always had that waits to be made. and i also had the luxurious chat with a mother i always look up to. she did another great thing lately: to let his son released his choice in medical faculty of ugm and decided to join a flying academy instead.

yeah, i need more dose of them. meeting my own kind.
it grows me.





selamat datang kelas tiga!

enggak terasa si bocah udah naik ke kelas tiga. selama liburan kemarin, iya liburan yang 6 minggu itu, kita bikin kesepakatan-kesepakatan baru. quite big leaps, i guess.

issue pertama adalah matematika. subject dimana titan dan beberapa temennya harus dapat remedial untuk pelajaran yang satu ini. tahun kemarin titan memang dapet guru yang agak akademis banget. tapi untungnya juga baik hati banget yang mau ngasih kelas tambahan tanpa pungutan biaya. suka bagi makanan pula. tahun ini, belum tentu dapat guru yang sama sementara kebutuhan mempertajam logika matematika masih sama. so, ... kesepakatan pertama: ikut kumon.

dulu, suka ngetawain orang tua yang ambisius banget masukin anak-anaknya ke kumon. bayangan saya, mereka pengen banget punya anak-anak yang jago berhitung di luar kepala. tambah-tambahan, kali-kalian, memecah desimal dan ahli bilangan pecahan.

kasihan anaknya. pikir saya selama ini.

tapi hari ini. iya, hari ini. akhirnya saya mendaftarkan titan ke kumon *sound efek geledek di udara*
tentunya, sekali lagi, dengan persetujuan si anak. kumon ini rela diambil titan karena selain memang butuh tapi dia juga minta kumonnya diseimbangkan dengan ikutan art class with hadiprana di sekolah. after a deep thought yang juga diiringi dengan penghitungan mendalam soal dompet, ... "yaaa okelah." kata saya.

sebenernya udah lama saya 'beriklan' tentang les matematika ala jepang ini. tapi baru kali ini iklan saya mau dicoba. iya, dicoba. belum tentu jadi loyal customer. padahal ibunya dua belas tahun di dunia iklan *sound efek penonton ketawa*

saya selalu beranggapan bahwa yang namanya les itu harusnya untuk mempertajam apa yang sudah bagus. dalam hal ini, kemampuan bahasa inggris titan jauh lebih baik daripada kemampuan matematikanya. tapi sebaliknya, saya rasa ini juga momen yang tepat untuk mendorong kemampuan matematikanya itu karena rupanya titan juga mulai merasakan kebutuhan untuk perform lebih baik di bidang matematika. keputusan saya makin kuat saat saya ajak dia untuk placement test. saat gurunya bertanya "kenapa baru kumon sekarang?" titan menjawab "karena titan baru siap sekarang."

lega banget dengernya. dia mengerti kendala dia selama ini, mengerti perasaan dia terhadap matematika dan berani mengambil keputusan hari ini.

trus, apa alasan saya mengambil langkah mainstream ini?

sebenernya jawabannya simpel. supaya titan disiplin berlatih. karena matematika itu masalah latihan, kok. dan disiplin adalah issue kita selama ini. kadang saya berpendapat sekolahnya terlalu loose, di satu sisi anak-anak terlalu dibebaskan untuk hal yang harusnya bisa didisiplinkan. dan kalau ibunya yang bertindak untuk melatih dia belajar matematika, selain anaknya juga suka kabur-kaburan ibunya juga (seringnya) capek ngejar-ngejar. akhirnya situasi jadi memanas, ibu jadi kesal anak pun tegang. walhasil pembelajaran jadi percuma. disitulah saya mulai berpikir bahwa saya dan titan butuh pihak lain yang memang expert di bidangnya.

sometimes a mother doesn't have to be everything.

lagian, setelah saya pikir-pikir, kumon juga ada bagusnya. bukan masalah kontennya. tapi sistemnya. enggak ada klasifikasi kelas dan bukan dengan metode guru menjelaskan di papan tulis, tapi ngerjain masing-masing level sesuai kemampuan masing-masing. belajar fokus karena harus mengerjakan sesuai tenggat waktu. enggak perlu menghafal, tapi karena sering melihat angkanya dan bolak-balik dikasih hal yang sama; pasti ada yang nempel. alah bisa karena biasa.

untuk art class, titan masih bingung mau ikut acrylic painting atau drawing with crayon. awalnya dia mau ikutan crayon, karena menurutnya gambarnya pengen lebih bagus lagi dan lebih variatif lagi topiknya. sementara, kalau melukis kan sering dilakukan di rumah. tapi entah kenapa hari ini tiba-tiba dia pengen gabung melukis acrylic.

issue berikutnya adalah physical education. lucu deh, dengan gayanya dia bercerita bahwa dia punya issue berat dengan pelajaran yang satu ini. "titan tuh bermasalah banget sama PE. kalau lari, enggak bisa bener larinya karena sepatunya kendor. harus dibetulin terus tapi strapnya enggak bisa kenceng." saya senyum-senyum. kesempatan yang baik untuk 'jualan' berlatih mengikat.
"kalau begitu, sudah waktunya titan pakai sepatu sport yang diikat. karena kalau diikat itu pasti lebih kencang. coba, kalau titan ice skating enggak ada kan sepatu yang pake velcro strap? semuanya diiket. nah, itu tuh supaya kenceng. tahun ini kita beli sepatu yang proper ya, dan titan musti belajar ngiket tali sepatu sendiri." lalu titan mengangguk yakin. dan ternyata, hanya dalam semalam dia sudah bisa menguasai cara mengikat tali sepatu sendiri. dia seneng banget! saya juga sih.

BIG YEAY banget untuk mengawali tahun ajaran baru kali ini:
bisa ngiket tali sepatu sendiri dan memutuskan untuk les kumon.

oh noooooo, tetiba bundanya mellow. anakku udah gede.

selamat datang kelas tiga! bismillah.







it was gonna be like ... who's turn?

i remember a friend posted a question "isn't going to a carwash supposedly become a duty of a husband?" with a pin pointed on a famous carwash in the south of jakarta.

who would have thought, within a few months it is now her husband's job to remember everything about running the house. i mean like ... every single thing. from the checking out the groceries what's in or out of stock, kid's tuition, staff's needs and salaries, pay all the bills within their due dates to the very small thing like remember when to buy the face powder for his wife. because now the wife is sick and cannot run the house for quite some times.

yes.
how many times, we; the housewife, think that we have done much compare to our husband.
how many times, we; the housewife, think that we deserve lesser job lists and more rest (read: more me time) compare to our husband.

these days the jobs of a wife and a husband has become overlapping. i have a friend who has become a housedad and let his wife become the bread winner. i see them running it smoothly. the wife climbs the corporate ladder in no time and the husband can always finds new ideas to get their son have a shower. drop and pick him to school and have a chat with other parents at school. cut his nails, wrap his books, cook his foods, basically what a wife do it is just he is a husband.

just like a show, the house needs to run no matter what. why don't we stop asking who's gonna do this and who's gonna do that and separate jobs from his and hers?  it is so yesterday. now is, who got the time to do them then just do. we started this family, we are in this together.

revolusi setengah hati

ini bukan soal perang. tapi, soal memisahkan cinta dua pihak yang amat sangat saling mencinta dan telah lama memadu kasih dalam bentuk kegiatan yang mengasyikkan bagi keduanya: nenen! bagai candu, pernenenan ini dinikmati banget oleh si pelaku dan yang dipernenenkan.

awalnya, pengen benar-benar weaning with love tanpa batas waktu. toh aku sama luna masih sama-sama menikmati. tapi kenyataan berkata lain. aku harus segera menyapih luna karena ada kemungkinan harus pergi ke luar kota untuk waktu yang agak lama.

enggak pernah ada tenggat waktu yang jelas kapan benar-benar ingin memulai. sampai pada suatu waktu, luna selalu muntah kalau habis nenen. aneh. enggak tahu juga sebabnya kenapa. bahkan dikasih obat penawar rasa mual paling ampuh pun dia tetap saja muntah.

ok, mungkin ini saatnya harus menyapih. batin saya saat itu.

dua hari berhasil. luna juga mengerti kalau setiap kali dia nenen, pasti berujung muntah. rasa kemeng-kemeng di payudara pun akhirnya berkurang setelah saya perah. sedih juga sih harus buang-buang asi, padahal masih banyak bayi yang butuh asi. tapi kalau anak sendiri aja muntah-muntah, apa iya harus didonor ke anak lain? ya enggak kan yaaaaaa.

di hari ke tiga, tiba-tiba luna mengamuk sejadi-jadinya. sakaw nenen. saya baru liat juga nih dia kalo udah ngamuk kaya gitu. menyeramkanlah pokoknya. mana tenaganya kuat banget. digendong dan dipeluk-peluk pun dia melonjak-lonjak dan meronta-ronta. lelah sekali saya dibuatnya.

demikian lelahnya sehingga tiba-tiba saya tertidur. dan saat terbangun, saya mendapati luna lagi asyik nenen. yaaaaaaah, kecolongan! mau saya lepas, dia lagi asyik merem-melek ngantuk-ngantuk nikmat. tiba-tiba ingat lagi saat-saat awal kita berkenalan lewat payudara di detik-detik awal luna menghirup hidup. dalam setiap hisapan, setiap kecupan, setiap dekapan. menenangkan dan menghangatkan.

trus luna pun tertidur. pulas sekali. bangun-bangun enggak ada tanda-tanda dia bakal muntah.
and that's it. dia enggak percaya lagi dibilang nenen itu bikin muntah. karena sudah terbukti, dia nenen dan enggak kejadian apa-apa.

trus dia minta nenen lagi. lagi. lagi lagi lagi lagi lagi lagi lagi dan lagi.
dan saya juga ladeni aja. karena memang sama-sama menyenangkan. membahagiakan. menghangatkan hati.

gitu deh. revolusi setengah hati.
trus gimana dong nanti luna kalau ditinggal? yaaaa ... lihat aja nanti. mudah-mudahan kalau enggak liat botol susu besarnya ini dia enggak inget-inget pengen nenen.

amiiiiiiiin!

as the moon is fading out

this ramadhan, was the only ramadhan i hardly catched up with.
i feel so ... so sad, since i still have my mom and dad here for sahur and breakfasting, and i did not appreciate the bless. i only had two family breakfasting in total. i mean 'real' breakfasting when we all sat together, had the long pray and enjoyed the meal with all our heart.
the rest, are just compulsory.

dad would most likely break his fasting in hurry because he needed to go to the mosque. hubby was still in the office most of the times. mom got super tired and her appetite to breakfasting had already running out as she cooked the meal the whole day. so the adult was only me, with an empty heart.

too bad.

i started the ramadhan with a meeting with the client that left me dizzy the whole day and made me vomit just in time: twenty minutes before the breakfasting time *lol* it has been a while since i had to stand in the sun (i rode ojek) while fasting, and maybe i am just simply too old for jakarta's traffic.
luckily the meeting went well and gave me a little hope of something new.

few days later, i got typhoid. four days later after i got infected, titan got infected too. the day after was my mom, and a few days later was luna. i felt super exhausted to take care of my own and my children. poor my mom i could not take care of her. poor luna, since i got busy taking care of titan and mom got sick as well, nobody took care of her and she got sick too.

the third week of the ramadhan was filled with the obligation of finishing the hampers project for bebikinan. titan was so very kind, he helped me out. now he can assist me from measuring the ingredients to stirring the caramel. BIG YEAY! i never know where this small business will go to, but we expand our effort and possibilities wider and wider as it goes. because i know, god has everything written and for the time being this is the best we can do and i am so grateful.

the fourth week of ramadhan was filled with hampers delivery (yeap, the most frustrating part), did some paperwork and last but not least, preparing luna's birthday! YEAAAAAAAY!

my girl is not a toddler anymore! she is now in the phase of 'the terrible two' ... oh how i wish the phase won't be terrible at all. but yes, she threw tantrums a lot these days and i must tell you that

IT.WAS. TERRIBLE.

she hit, she screams, she rolled on the floor and i was not used to deal with this kind of child. she was so strong this could last for two hours. the weaning project was a total failure because when i managed myself to wean her for two days (yes i almost happy to the max), she threw the biggest tantrums on the third day and left me drained. i was super tired i got slept (while she was still crying and nagging) and found out she was breastfeeding without my notice as i woke up.

i felt stupid and hillarious *lol*
and so, she got back to breastfeeding up 'till now *la ... lala ... la .. laaaaa*

as she turns two, i also noticed a little change that luna enjoys playing with her dad more than she plays with me. maybe because she got the indisputable boredom phase looking at my face and the this and that rules hahaha. hence, this gave me a slight slot of time to read a book or play more often with titan or simply enjoy myself when i take shower.

more about luna will be on the separate post, i promise you.

so here i am now, on the last day of ramadhan and having period, wishing you a wonderful long holiday and a forgiveness for any mistake and misleaded thoughts on this blog. have a joyful moments with your family. me myself, will try to refill my heart little by little with all the happy thoughts.

assalamu'alaikum :)

Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...