forever and ever amen

seperti yang saya ceritain di beberapa posting terakhir, berantem sama titan pagi-pagi sebelum sekolah sudah jadi rutinitas yang tidak menyenangkan. buat saya, dan terlebih lagi pasti buat dia.

dan hari ini, terulang lagi. karena titan telat abis-abisan sampai sekolah. untuk yang ke sekian kalinya, dan itu pun sudah diantar akinya naik motor. kebayang kan kalau saya yang antar naik mobil, bisa jauh lebih telat lagi.

hari ini saya jemput titan. sambil nunggu, saya baca banner-banner di sekolahnya.
"learning should not be frustrating. it should be fun!"

damn jargon. kata saya dalam hati.

enggak lama, bel pun bunyi dan anak-anak K-1 mulai berbaris keluar kelas menunggu namanya dipanggil untuk segera menemui penjemput. there, ... there was my love came toward me. mukanya kusut dan langkahnya lemas. saya rangkul dia sambil ngobrol-ngobrol yang lain. titan duduk di belakang menghabiskan snacknya pelan-pelan sambil liat-liat kiri-kanan.

sampai rumah, dia buka tasnya. taruh kotak bekal dan botol air minum ke tempat cuci piring. buka kaos kaki dan seragam lalu dimasukkan ke dalam mesin cuci. sambil memperhatikan dia ganti baju, saya bertanya.

"why do you look so spineless? not having a good day? are you mad at someone?"

tanya saya sambil mendampingi dia ganti baju. ketauan banget emaknya ini kepo abis, nanya hal yang sama sampe tiga kali.

"i am not mad. i am just upset. aki angry to me this morning."

"oh i know why. because you were late for the thousand times."

"iya, tapi kan bisa ngomongnya pelan-pelan. enggak usah marah-marah." katanya.

selain saya jadi ikutan sebal karena titan dimarahin di belakang saya, saya mau ketawa bahagia melihat anak ini sudah bisa membedakan mana rasa marah, mana rasa sebal. saya juga senang dia bisa mengutarakan perasaan dan pendapatnya.

"titan mau ngobrolin soal tadi pagi? enggak papa, dikeluarin aja sebelnya biar lepas. bunda dengerin kok."

"no bunda, enggak mau dibahas sekarang. eh, ... enggak mau dibahas sampe nanti-nanti deh."

"oh ya sudah. sekarang enakan mandi aja, sudah sore juga kan. kalau bunda, kalau lagi sebel rendeman air hangat tuh bisa jadi happy lagi lho. titan coba, deh!"

enggak lama, saya sudah dengar titan nyanyi-nyanyi sambil rendeman di bak mandinya luna sama mainan-mainannya. mungkin habis mandi lebih baik saya ajak ngobrol. kayanya memang sudah waktunya juga nih ngomongin serius soal telat bangun yang merembet kemana-mana ini. saya juga bertanya-tanya kenapa sih dia berat banget harus bersekolah. padahal kan sekolahnya tergolong enak dibanding sekolah saya dulu. saya juga nggak pengen punya anak yang frustasi harus bersekolah. percaya deh, saya tahu banget rasanya. soalnya saya pernah ngalamin waktu sma.

tapi kemudian saya mikir lagi, mungkin emang namanya anak-anak ya gitu. mau seenak apapun sekolahnya, sebagus apapun fasilitasnya, tetep aja kalau yang namanya kewajiban dan rutinitas itu jatuhnya nyebelin. sama kaya kita yang sudah kerja. mau kantor kaya apapun, tetep aja bete kalo harus berangkat ke kantor dan mikirin kerjaan-kerjaan kita. so yes, i should not add another drama. let's just have a talk with the kid.

setelah titan selesai mandi dan ganti baju, saya ajak dia ngobrol. seperti biasa, saya selalu membuka percakapan serius seperti ini.

"titan, bunda pengen ngomong ya sama titan. serius nih. mungkin bunda cuma akan ngomong sekali soal ini, setelahnya terserah titan. karena ini hidupnya titan, jadi titan sendiri yang tentuin ya."

melihat mimik wajahnya yang tetap santai dan siap mendengarkan, saya berpikir dia lagi dalam kondisi oke nih untuk diajak ngobrol. lalu saya pun mulai angkat bicara.

"titan, bunda mau kasih tau deh. karena titan harus tahu akan hal ini. titan tahu enggak, kalau bunda dan bubu akan selalu berbuat yang terbaik untuk pendidikan titan. apapun yang titan pengen; pengen sekolah apa nantinya, inshaa allah akan bunda dan bubu usahain yang terbaik. karena itu, titan juga harus memberikan yang terbaik."

lalu saya pun mulai bla bla bla soal sekolah lain dan betapa saya pengen banget bisa sekolah di sekolah dia kalau aja dulu sudah ada sekolah modelan kaya gitu. surprisingly, dia cukup kaget. mungkin selama ini dia enggak tau keadaan sekolah lain, yang masuk lebih pagi dan pe er segabruk-gabruk setiap harinya.

"gimana ya nda, bisa pinter tapi enggak usah sekolah? hahaha ... hoooo i don't like my unfinished worksheets. it is piling up!"

saya cuma tersenyum. inget sama dulu waktu jaman kerjaan numpuk di kantor dan males banget ngerajinnya.

"bisa kok enggak usah sekolah tapi pinter. yang penting, belajar. belajar bisa dimana aja dan banyak caranya. terus, kalau enggak mau ada unfinished worksheets ya titan harus fokus waktu ngerjain. bunda yakin kok, kamu itu bisa. cuma sering distract aja waktu ngerjain."

lalu dia menghela nafas.

"iya deh. i'll do my best!"

saya senyum-senyum. dia juga ikutan senyum-senyum trus malah peluk saya.

"oh, i don't like to go to schoooool hahaha" kata titan lagi.

*kissous*


on that usual our pillow talk right before malicca go to bed.

i said to him,

"i want to be a better mom. 
how do you think i can be a better mom? 
what kind of mom do you want to have?"

you patted my arm.

"kaya gini aja. udah kaya gini aja titan sukanya."

i replied

"but i don't think i am a good mother nowadays. 
i want to be better. 
i want to be more patient." 

then you said

"ya titannya harus lebih nurut sama bunda. 
biar bunda enggak marah-marah jadinya a better mom deh." 

"do you think so?"

i said.
inside i was feeling so happy, i nailed you dear boy.

"iya bunda. udah ah, titan mau bobo. 
jangan ajak ngobrol terus ya. 
good nite, tomorrow will be a better day! 
bismillahirrohmanirrohim, 
bismika allahumma ahya wa bismika amut." 

i zipped my mouth, then i heard you snored.
the most wonderful sound on earth i love to hear over and over.

yes, tomorrow always a better day dear boy.
inshaa allah.

Rumah

beberapa bulan terakhir ini, banyak teman-teman dekat yang lagi asyik membangun dan mempercantik rumah. mulai dari berburu arsitek idaman sampai ke info-info diskonan parket, karpet sampai curhatan genteng bocor atau rumput liar yang selalu melanda halaman-halaman cantik rumah kami.

saya selalu senang bercerita atau mendengar cerita tentang rumah. entah kenapa, rasanya seperti 'pulang' dan jadi pengen mempercantik rumah, lagi dan lagi. the possibilities are endless! dan saya pun jadi teringat saat dulu saya membangun rumah yang saya tempati ini. memang, rumah saya enggak cantik-cantik banget sih. jauh dari rapi kalau dibandingkan dengan rumah teman-teman saya @dialita , @yanagenic atau @mariananugroho (yang saya enggak kenal personal, cuma kenal suaminya hehehe). coba deh intip instagram mereka kapan-kapan ada waktu.

dulu, kakak saya sendiri yang menjadi arsitek rumah ini. berantem-berantem dikit sih pasti. ribut-ribut sama ayah yang jadi 'mandor' harian mengawasi tukang-tukang juga tidak dapat dihindari. dan enggak lupa, terima kasih sama award-award saya yang bisa ditukar dengan uang di kantor saya yang lama sehingga saya bisa menyicil membeli kunci-kunci jendela, handle pintu yang lucu juga aksesoris-aksesoris interior lainnya.

rumah ini, dulunya berkonsep unfinished dengan banyaknya bagian-bagian concrete expose di rumah seperti lantai atas, tembok dapur dan kamar mandi. bahkan dulu kamar mandi pun lantainya bertabur batu kali, bukan lantai buatan seperti sekarang. enggak ada konsep-konsep yang njelimet saat membangunnya. kita cuma pingin rumah ini jadi rumah istirahat, karena kami berdua sibuk bekerja pada hari kerja dan pingin 'ngerumah' saat weekend. itulah kenapa halaman belakang dibuat lebih besar dengan pintu geser ke belakang yang bisa terbuka seluruhnya. supaya bagian dalam rumah bisa menyatu dengan halaman di luar. udara bisa masuk dan kami bisa dengan leluasa mengamati anak-anak bermain di pohon mangga yang memang tidak kami sentuh-sentuh saat membangun. rumah ini juga rumah tumbuh, yang memang disiapkan untuk terus tumbuh jika kami punya uang lebih nanti-nanti. tulang-tulang yang sudah disiapkan untuk tumbuh meninggi dan melebar jika anak-anak sudah waktunya memiliki kamar sendiri-sendiri. dan percayalah, lantai atas sendiri baru tahun ini (setelah hampir 8 tahun berdiri) dirapikan dan dihuni.

saya senang memiliki rumah sendiri. membangunnya dari awal di atas tanah hibahan, dimana saya bisa menentukan sendiri mau menghadap ke mana wc saya nanti. dulu (eh, sekarang juga masih sih) rumah harus selalu rapi dan bersih. enggak boleh ada tembok kotor atau noda di kaca jendela. walaupun saat itu titan masih tergolong toddler, rumah saya tampak seperti tidak ada anak kecil di dalamnya karena semua mainan berwarna-warni yang off dengan tema interior rumah tersimpan rapi di kotak dan letaknya tersembunyi di laci pijakan tangga.

sekarang saya tidak lagi melulu berkeinginan menempel ini-itu di dinding atau mengganti kulit-kulit luar seperti kulit sofa ataupun tirai. rumah ini, dan saya yakin semua rumah, mampu mengajak pemiliknya menjalani sebuah perjalanan spiritual dalam membangun dan merawatnya.

membangun rumah mengajak saya untuk menyadari bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. konsep boleh tanpa cela di kepala, tapi pada prakteknya ada saja salahnya. tembok yang tidak lurus, cat yang mengelupas di beberapa bagian, siku atap yang tidak bertemu, jatuh pencahayaan yang salah dan masih banyak lagi hingga pada akhirnya saya mampu berkata "ya sudahlah."

rumah juga mengajarkan saya bahwa ada hal-hal yang tidak dapat di rubah dan kita harus bisa menerimanya. terkadang pengen banget bisa ngestretch teras belakang sedikit aja supaya bisa sedikit lebih luas. atau geser seluruh rumah agak ke depan dan masih banyak 'atau' lainnya.

rumah juga salah satu bentuk yang penuh tuntutan dan sangat sensitif, persis seperti memiliki anak yang harus dirawat tubuhnya dan dipupuk hatinya. berasa banget aura rumah yang kosong atau penuh amarah. dan percaya atau enggak, suhu rumah terasa lebih 'dingin' kalau bersih. aneh ya?

tapi yang saya ingat betul adalah, rumah itu sangat mencerminkan orang-orang di dalamnya. saya ingat betul saat perkawinan pertama saya mulai tenggelam. rasanya rumah ini terasa suram. tetumbuhan di sekeliling juga ikut lemes dan akhirnya mati. anehnya, rumah juga terasa panas secara harafiah.

sejak itu, saya mulai memperhatikan rumah lebih dari sekedar bentuk fisik yang saya lihat. sekarang saya 'sedikit' lebih legowo kalau melihat rumah lantainya agak ngeres-ngeres dikit, atau meja di teras yang kotor-kotor dikit karena kejatuhan kotoran cicak atau mainan anak-anak yang tidak lagi sembunyi di kotaknya atau semut-semut kecil yang menyelinap di balik jalinan benang sofa karena remahan anak-anak saat ngemil. karena rumah ini pernah lebih buruk dari itu, ia hampir kehilangan nyawanya. jadi, sekarang saya lebih 'menerima' dan mencoba memaklumi dengan apa yang saya lihat dan lebih mendahulukan apa yang saya rasakan tentang si penghuni rumah.

*senyum*




introducing you a new tag

after six months, this is the day I am starting to get that 'special' and 'different' feelings of having a baby girl. simply because she is showing new 'girly' gestures like pulling off someone's hair; scratching someone's face, screaming out loud, having great attention to flowers and feminine patterns and that particular nagging part when a girl dislikes someone : turning her eyes off you.

thus, I inevitably compare with her big brother. this is also the time for me to realise that having a baby girl is so much different. it feels like she grows faster than boys, reaching milestones earlier than boys and a baby girl is able to make me do lots of experiments for their outfits. and today, is the first time I went to the mall to hunt some new dresses for upcoming events.

*fainted*

so having said that, please welcome me to announce a new tag for my new experience:  #ndaluna  to share my journey as a babygirl-mommy-newbie

for a start, let me share you the perk of having a baby girl
*panic attack as I hit the mall*


Ready to join Tante Lia's wedding shower 
A gift from Oom @adiputra & @Rintul

Ready for weightlifting :D 
Let's go to granny's book launching

Ready to go to Tante Lia's wedding

Ready for Alif's birthday



family recipe

my mom has a very tasty recipe for making corn cream soup.
like always, no exact measurement.
let me share you the family secret recipe.

grate some fresh sweet corn and squeeze them with a napkin to get the thick liquid.
cook the corn liquid and add some chicken broth until you get the consistency you want.
add the chicken and carrots (both already cut in cubes size, smaller size for the carrot)
add some salt and pepper as you like, and topped with grated cheddar cheese when you serve (hot is better). you can add the cooking cream too if you like bold taste of milk.

little Luna loves it a lot. of course, without the chicken and cheese (yet!)







The things I miss

When i was a working mom, i missed a lot of things at home.
I missed my kid's milestones. Their every firsts.
I missed cooking foods their recipe I collected in my spare time in the office.
I missed tugging kids to their nap.
I missed decorating the house with references I-can-only-drool-on from websites, also in my spare time in the office.

I missed them. 

Now I am a home-stay mom. I missed a lot of things I used to have.
I miss  my son welcome me with open arm when I got back from the office.
I miss  my let's-get-this-done spirit.
I miss my what-to-wear-today questions
and what I miss most, is my long long long me-time, spare time, blogging and blog walking.

I miss me. 

Now I have to get used by not locking the door when I poop, just in case little boy wants to ask where his color pencils are. Or whether he may eat some candies.
Now I have to get used by letting the house messy because many times, growth spurt stroke the baby girl and so I have to nurse him almost every hour.
Now I have to get used by not having a daily schedule because the little queen is now the ruler.
And yes, sleeping both with my kids hugging me and I cannot move my arms, stiffed neck comes later.

Oh, can a mother gets a cup of coffee first? 


... and if I die someday

Percakapan malam ini, sambil masuk-masukin caramel ke botol, Titan nemenin sambil duduk dan nutup-nutupin botol.

M : Titan, kalau bunda meninggal nanti kamu tinggal sama siapa?
T  : ya sama nini sama aki
M : tetap tinggal di rumah ini?
T  : iya. kecuali kalau nini, aki, wa ary sudah enggak ada; baru deh titan tinggal di rumah eyang.
      Bunda kalau meninggal, dikuburnya jangan jauh-jauh ya.
M : kenapa?
T  : nanti susah kalau mau doain. dikuburnya di belakang rumah aja, biar gampang
M : ya masa di belakang rumah. lagian kalau mau ngedoain mah ngedoa aja, enggak perlu harus         selalu datang ke kuburan
T  : ya kalau kangen, gitu


And I think I am not ready for the day to come. I still want to be with my kids. 
How I love them. 
Help us all to say healthy, mind and body, dear God. 





We ran away from each other, wishing we would be able to remove ourselves from everything. To see if we could work out some things in our head.

But it actually created more problems. I learned it does not work that way. 

Just that if we cannot figure out our problems when we are together, we are probably not going to figure them out by running away from each other. 




- for a dear friend of mine - 



Susahnya bangun tidur di kala hujan



When it's rain, rain rain rain 
Baby when it's rain, rain rain rain 

Dulu sering banget nyanyi bareng lagunya Mika yang satu ini, karena Titan juga suka. Sekarang, sejak Titan sudah punya selera pilihan musik sendiri; kita udah jarang nyanyi bareng lagi. Bahkan kalau aku nyanyi lagu-lagu favoritnya waktu dia toddler dulu, he completely forgot and asked me "lagu apa itu? sounds nice. Teach me!"  Oh, how time flies.

Anyways,
hari-hari terakhir ini Jakarta memang sedang diguyur hujan. Mungkin bukan diguyur, tapi di 'seblokin' ember-ember gede isi air hujan sehingga banjir dimana-mana. Hujan rintik-rintik semaleman bikin kita semua nyenyak tidur selimutan sampai pagi. Alhasil, berantem-berantem di pagi hari sama Titan jadi terasa lebih sering. Berhasil ngebangunin tidur bukan berarti kemenangan. Karena habis bangun dari kamar atas, pindah bobo ke sofa lima menit. Dibangunin, mampir lagi ke tempat tidur bawah for another five minutes. Matanya diolesin air dingin, baru deh beranjak ke kamar mandi. Itupun duduk-duduk bengong dulu di toilet.

Habis itu, terbayang rentetan langkah lelet dan emak nyap-nyap selama pakai baju, sisiran, pakai kaos kaki, sarapan, sampai akhirnya berangkat sekolah.

Setiap hari, selalu begitu. Dan di saat musim hujan begini, kebayang banget rutininas nyap-nyap di pagi hari menjadi semakin sering karena ibu-anak sama malasnya ketika harus bangun pagi dan berutinitas.

Capek banget rasanya musti marah-marah terus. Akhirnya, saya 'curhat' ke Titan kalau saya capek harus marah-marah terus di pagi hari. Dan saya bilang, kalau enggak mau sekolah ya terserah.

"Besok bunda akan menghadap Miss Amel (sang principal), bilang kalau Titan mau mengundurkan diri dari sekolah. Tapi, kalau sudah besar dan Titan enggak bisa jadi orang berguna, jangan nantinya menyalahkan atau bahkan merepotkan orang lain."

Dulu, supaya Titan semangat sekolah, saya suka mencontohkan dengan anak-anak yang suka ditampilkan di TV. Mereka semangat ke sekolah walau harus menempuh perjalanan yang panjang. Menyusur sungai, melewati pematang, hanya untuk sampai ke sekolah. Walaupun susah, mereka tetap semangat ke sekolah. Tapi kayanya saya memberi contoh yang salah, deh. Karena Titan jadi pengen sekolah yang seperti itu. Mungkin karena kurang menantang dan semua 'serba ada', jadi bikin dia malas berjuang.

Saya pikir-pikir juga, letak salahnya ya ada di saya juga. Seandainya saya bangun lebih pagi, membangunkan Titan lebih awal, mau tiap setopan dia bobok lagi 15 menit kan enggak masalah. Ya, kan?

Orang tua ya, ... kadang emang kita jadi seperti orang tua kita yang dulunya senengnya marahiiin melulu. Yang kemudian menuntut anak, sebagai imbas karena tuntutan menjadi orang tua; tidak mampu kita penuhi.

Leading by example is always hard!





"Bundaaaa... for you." He said while coming into the bed room.
"Lookin good, where did you get the vase?" 
"I found it in the kitchen"

I am grateful for having a little gentleman in the house, an addition after the senior: my husband.
Not only this time, not only because he sees what hubby did to me with flowers, he did give me flowers since he was a little boy.

Yes, he has always been my guy.

Not only because we have the mother and son's bound, but there were times when all we got were just the two of us. me and malicca's father got separated when he was three, and he managed to protect me ever since.

Being born as a real Taurian makes him a sensitive guy. So sensitive sometimes I get worried he will be a mushy boy.

He knows when I am sad, when I get angry, and he always asks.
"Are you sad? Am I being a bad boy?"
"Are you crying? What happened?"
"Are you angry?" 

and when I really do angry (to him), I only say "Yes I am. Do you know what you have to do?"
and yes, he always knows what he has to do. (many times, i need to be angry first to make him do what he has to do, though hahaha).

He is six now and still racing with time to reach his minimal weight: 21 kgs in five months. I sometimes wonder what's his thinking. To have a step sister, a step father. Though he always says he is happy there is a slight worry in me.

Malicca, I want to talk to you.
Yes bunda ibu yang cantik dan punya bayi cantik, what do you want to talk about?

and we started to talk about many serious things.

Do you have any questions? Bilang gitu dong Bunda. He said.

Do you have any questions? I said.
No. He said.
Thank you for reminding me. He continued.


How can I not love you, malaika? 

I wish you to grow healthy and strong.
To be able to responsible for your own, and for others.
Full of respect to others, and love and softness to women.
I know you have that empathy for others and it is a good start.

Amien. 

You are good, you are kind, you are important.
Remember  that.


...

titik titik titik
sampe bingung mau kasih judul apa saking banyaaak banget yang pengen ditulis. yang mana udah risain harusnya lebih banyak waktu untuk blogging. tapi ternyata rajin blogging itu karena memang gak banyak kerjaan di kantor sehingga punya 'me time' lebih banyak. ya kan ya kan ya kan?

*senyum dikulum*

di rumah justru adaaa aja yang dikerjain. waktu rasanya cepet banget berlalu. bangun tidur langsung siapin sarapan dan snacking buat kakak titan. anter titan sekolah, habis itu mandiin adek luna. boboin luna. selama luna bobo, pelan-pelan beresin rumah. luna bangun, biasanya sih taro di crib dan saya lanjutin beres-beres sambil naro cucian dan membiarkan mesin cuci meraung. kalau si adek nangis dikit, saya datengin trus tuker mainannya (skenario ini berulang selama beberapa kali) sampai akhirnya dia nangis beneran, baru deh diangkat tapi lalu ditaro lagi. nah, kalau sudah nangis frustasi baru deh saya ajak jalan-jalan :)

sekarang ini jam 00:45 ... waktunya blogging ya memang jam segini. ini juga bersyukur belum ngantuk, karena biasanya jam 8 malam sudah masuk kamar. sambil nyusuin sampai luna bobo saya juga nemenin titan belajar. nah, seringnya emak-kakak ketiduran dengan laptop masih 'nganga' :D

so ... sekarang udah tahun 2014 ya? tetep lho, saya masih nagih entah kepada siapa untuk mobil terbang, robot rumah tangga, teleport dan chip yang ditanam di kulit untuk segala akses kebutuhan. ya kaaaan? semua juga pada nungguin kaaaan?

the unplanned plan, continues.

di 2013 kemarin saya mencoba untuk hidup lebih santai dengan tidak terlalu berencana dan tidak terlalu berharap. dijalanin aja. dan ternyata, alhamdulillah semuanya justru lebih menyenangkan dan lebih mengejutkan. karena itu di 2014 ini resolusi saya adalah to have the unplanned plan continues.

animo tahun baru dan segala sesuatunya yang baru, buat saya datang lebih awal. tepatnya di awal desember. karena kebetulan saya dan suami sama-sama berhenti dari pekerjaan dan benar-benar menghabiskan waktu berdua juggling urusan rumah tangga bersama. mulai dari anter-jemput kakak titan, mandiin adek luna, beberes rumah, cita-cita kita sih pengen liburan panjang. berhenti dari kemacetan jakarta dan sumpah serapah kapitalis. tapi apa daya, hampir seluruh desember dihabiskan dengan penyakit yang bergiliran melanda orang-orang di rumah. mulai dari kakak titan yang panas, bubu-bunda yang flu berat tak berkesudahan, luna demam tinggi berulang dan masuk UGD lalu kembali ke demam si kakak. rasanya kesel banget. pengen marah sama diri sendiri, kenapa saat sudah risain kok ya malah pada sakit. akhirnya, setelah kakak titan menghabiskan seminggu waktu liburannya di ranjang karena demam yang enggak jelas dan mulai membaik, kita pun memutuskan untuk pergi berlibur ke yogya - solo naik mobil.

absurd? memang.
naek mobil bawa anak baru sembuh dan bayi umur 5 bulan yang lagi teething was totally challenging and beyond my sanity yang biasanya segala sesuatu itu harus dengan perencanaan matang. this time, it was totally unplanned and it happened. rencana ke solo pun sebenernya kejadian karena kita enggak dapat penginapan di yogya saat tahun baru. dan, konfirmasi dapat kamar penginapan di kedua kota baru dapat hari minggu jam 3 siang padahal kita rencana berangkat hari senin pagi. jadi hari minggu itu semuanya berjalan paralel antara ngecek kelayakan mobil, cari penginapan dan crazy packing. sekali lagi, tanpa harapan (lebih tepatnya takut 'ngarep' sih). dan alhamdulillah, semuanya bersinergi dan hari senin kita cus ke Solo dan menghabiskan waktu 17,5 jam di jalan dengan menyenangkan.

just do.

pelajaran lain yang saya dapat di akhir tahun 2013 ini dan masih akan saya adopsi di 2014, adalah untuk terus berbuat sesuatu. berbuat dulu, mikirnya nanti. dan ini juga yang kejadian dengan Bebikinan hahaha. gara-gara iseng bikin samples eh malah jadi banyak yang pesan dan jadi diseriusin. yang di plan lama malah enggak jalan-jalan ... sigh.

feeling happier when i can do for others too.

2012 adalah kali pertama aku donor darah. 2013 absen donor lagi karena hamil. awal 2014 ini kali pertama mendonor asi.

awalnya sih karena merasa freezer udah kepenuhan dengan timbunan asi yang hampir tidak dipakai lagi karena sekarang sudah menyusui langsung. akhirnya didonorkan aja satu rak yang isinya kurang lebih ada 29 botol yang totalnya kira-kira 2,9 liter asi. si penerima (yang pertama nelfon enggak lama setelah ngeblast message di path) namanya dina. anaknya umur 2 bulan dan ibunya stress berat karena harus anter-jemput kakaknya yang sekolah di tk kepompong kemang, sementara rumahnya di ciputat (oh well, ya iya jauh sih). akhirnya si ibu pun stress berat dan enggak bisa mompa banyak.

sambil nunggu asi diambil, enggak terasa gue menjalani kegiatan bersih-bersih rumah sambil nyanyi-nyanyi. rasanya kok seneng ya. dan hari itu juga, sore hari, suaminya datang menjemput asi dengan membawa thermal bag yang cukup besar. ndelalah, ternyata si suami mantan anak industri iklan juga hahaha! abis itu, dina whatsapp2an sama aku tanya2 rahasia asi banyak. ternyata setelah dia menerima kedua puluh sembilan botol itu, dia jadi termotivasi lagi untuk mompa karena senang bolak balik freezer isinya setengah penuh.

well, ... i somehow have another daughter on the other spot of the region. kan konon yang minum asi dari ibu yang sama menjadi saudara sepersusuan.

so yeah, ... dua ribu empat belas sudah dua belas hari berlalu. inshaa allah, tetap optimis. oh, cuma pengen satu hal yang belum kejadian sih. pengen waktu bergulir lebih lama. supaya kalo mandi, bisa sempet nyikat-nyikat gitu sambil nyanyi. bisa makan santai sambil nonton tv. bisa bikin camilan di sore hari. can i can i can i? can laaaa... and one more thing, i wish healthy life for the whole universe.

amien!


percakapan malam ini sebelum bobok.

T: nda, nanti kalau titan sudah besar gimana bajunya sudah enggak muat lagi
B: ya beli yang baru, yang muat sama badannya titan
T: tapi titan enggak punya uang
B: inshaa allah, bunda beliin. i will take care of you
T: tapi kalau titan mau kerja gimana? masa pake baju kecil? 
B: oh, tenang. nanti bunda modalin deh buat hari pertama titan kerja. kemeja yang bagus, sepatu mengkilap, celana panjang, itu kalau titan kerja formal. atau nanti kita bisa juga pilih baju yang lain. 
T: nanti kalau enggak muat gimana? 
B: ya diukur dong
T: titannya berarti harus ikut ya waktu bunda beli
B: percaya deh, titan enggak ikut pun, bunda tahu ukuran badan titan. 

another absurd convo and I did not know where the conversation was going. either he got worry about the future or simply delaying bed time routines.

one thing for sure, Malicca.
i will take care of you as long as i live.

perasaan itu, masih tetap sama.

Baru enam tahun menjadi ibu. Baru lima bulan lebih jadi ibu beranak dua. Belum pernah ada perasaan yang lain kalau anak-anak sakit. Rasanya cuma satu. Sedih. Tabiatnya pun cuma satu. Panik. Maunya cepet-cepet ke dokter. Kalau kenapa-kenapa maunya langsung SMS dokter, jam empat pagi sekalipun. Syukurlah punya kakak ipar dokter dan dokternya anak-anak juga selalu ngebales walaupun di-SMS di jam-jam 'aneh' sekalipun.

Untuk kasus Luna kemarin, saya paniknya bukan kepalang saat dia demam tinggi berulang. Berbagai hipotesa lalu-lalang di kepala, padahal punya ilmu kedokteran juga enggak. Enggak tidur (itu sih biasa ya, namanya juga punya bayi dan pekerja iklan) dan stress membuat saya merasa masuk angin keesokan harinya. Pusing bukan kepalang. Muntah-muntah. Kerokan tanpa hasil gemilang kepala ces pleng. Dan ternyata setelah di cek, ... ya ampun saya mendadak darah tinggi! 139 / 97 itu hitungannya sangat tinggi bagi saya yang biasanya 100 / 67.

Sekarang, setelah sebulan virus flu-demam itu muter-muter di rumah, ndelalah balik lagi ke Titan. Sampe bingung gimana harus memutus rantainya.

Kalau ditilik ke belakang, saya bingung apa yang salah. Kayanya udah melakukan segala yang terbaik yang saya bisa, terutama untuk Titan yang (menurut saya) sering sakit. Titan sampe punya tiga dokter. Dokter Noenoeng Rahajoe sp.A untuk alerginya, Dr. Widodo Judarwanto untuk picky eating habitnya dan Dr. Rossie di RS. Gandaria untuk regular check-ups. Tapi ya tetap aja, ... tetap panik dan tetap sedih banget kalau dia sakit seperti sekarang ini.

Kadang saya berpikir, apa karena dulu waktu hamil Titan ada virus Rubella dan CIMV di tubuh saya sehingga dokter harus memberi booster daya tahan tubuh selama hamil. Titan memang lahir sehat, kuat dan tidak pernah sakit pada awalnya. Pertama kali sakit saat Titan berumur 8 bulan, jauh banget sama Luna yang demam pertama kali di usia hampir 5 bulan. Tapi setelah Titan lahir dan saya tidak lagi mengkonsumsi obat itu, baru terasa bahwa sepertinya daya tahan tubuh Titan kurang baik.

Titan, Titan kenapa Bunda udah enggak kerja eh malah jadi lebih sering sakit? 

Enggak tahu Nda, Titan juga enggak pengen sakit. Titan tau sakit itu ngerepotin Bunda. 

Bukan itu. Jadi orang tua memang harus mau repot dan Bunda enggak keberatan untuk jadi repot. Tapi kan yang kasian badannya Titan sendiri, setiap kali mau besar eh enggak jadi karena sakit. Makanya harus makan yang bener, jangan pilih-pilih. 

Ah, ... jadi sedih. Lagi sakit aja, anakku itu masih bisa berempati sama Bundanya ini.

Cepet sembuh ah, Nak. Ini kan liburan, masa sakit?
Kasian tu papan tulisnya sendirian aja enggak ada yang gambarin.

Oke? Sehat ya, Nak!

Hari Ibu

enggak mau banyak nulis ah.
yang jelas, saya bahagia sekali.
*caramel heart*

Selamat hari ibu juga, semua :)


From my little guy


From my big guy

Reason or Excuse?

T: bunda,  titan boleh bikin teh manis? 
M: boleh, sayang. 
T: *ambil gelas besar*
M: lho, gelas titan mana? 
T: ada, di atas
M: dipakai lagi aja, jangan ganti-ganti gelas terus biar enggak banyak cucian piring
T: tapi gelasnya ada airnya
M: ya diambil, dipake lagi. 
T: tapi ada airnya. 
M: air putih? 
T: iya, titan enggak suka ada air putihnya. 
M: kamu mau buat apa? 
T: teh manis
M: emang teh manisnya Titan nanti enggak dicampur air putih? 
T: hmmm *mikir* ... dicampurlah Nda, kalau enggak nanti pahit. 
M: kalau begitu air putihnya yang di dalam gelas di atas aja. 
T: hmmm... iya juga yah. Tapi Titan enggak mau, Nda. 
M: kenapa?
T: nggak mau, gelasnya basah. 
M: lho, emang nanti titan ambil gelas baru, isi air teh, isi gula, isi air putih hangat, gelasnya enggak basah? 
T: hmmm... iya juga sih
T: tapi titan enggak mau, Nda. Yang di atas itu gelasnya kecil, Titan pengennya gelas yang ini, besar, jadi teh manisnya banyak. 
M: nah, kalau itu alasannya, baru tepat. Ya udah, sekarang tolong bantu Bunda ambil gelasnya, taruh di tempat cucian piring dan baru Titan bikin teh pakai gelas yang baru; yang lebih besar. 

and off he went.

Panjaaaaaaaaaang!

But I learnt:
bahwa anak-anak itu enggak bisa menyampaikan alasan. Mereka belum bisa menjawab 'kenapa'. Cuma tahu konsep enak dan enggak enak, cuma tahu mana  yang dimauin dan mana yang enggak dimauin.

Salah satu tugas kita orang tua untuk ngajarin bagaimana mencari alasan yang tepat, enggak dibuat-buat, dan yang paling penting: alasan jujur.

Here, now

1:21 am and wide-awake.
Sleepy, but there is this feeling that I am feeling and I still want to enjoy every second of it.

The "now-what?" or "what's next" question that is no longer haunting me, unlike yesterday.

The "I do not know" answer that I used to hate and now has become my favourite one.

I am feeling fuzzy and content at the same time and I am so much enjoying it I cannot believe and keep asking "how did I get to this point?'

I feel overwhelmed of my resignation. Yes, after 13 years working in the industry.
Today is my last day working in the office and I sealed the day with a quick-but-cute mom & son date over ice tea and Malayan toasts.

Yeah, ... how did I get this point? I think these might be the answers.

I am not alone. 

I am blessed with a loving husband who can make me feel secure about life and my day-to-day mayhem. He taught me life is not about who-do-what, but a let's-do-something-about-it-spirit instead. So when I told him my intention to resign, he said "Then do it."

When life is not a solid rock but a rhythm we dance and we can do adjustment at anytime.
I asked him "What if's?" he said "Just try it first. If it fails, then we can discuss it again."

We live based on priority.

We avoid malls and unnecessary tangibles. We invested on education and renovated the house to have activity room so we can have better quality time for the family. We lessen watch the TV and do a family project instead. Hence, we can save more money and I feel secure about my resignation.

Carefully do the math.

To do the math of living, it is important for me to know myself. To know what I am doing and why.

Not so long ago, there was a point when I asked myself "What the hell am I doing here where I can be way more useful in some other place?" The point when I realise I have been too much working-on life and not living it instead.

Well,

I think those are the points that has led me to this point, and I am so grateful.
For my life now.
For what happened in the past.
For the people I love, ... and they simply love me back.

#bebikinan weekend

Akhir minggu ini kita sekeluarga full bebikinan. projectnya titan untuk merakit mobil pengasih uwaknya udah dimulai dari malam-malam sebelumnya. Hari sabtu pagi digeber supaya selesai dan ... voila ... jadilah mobil kuno yang bundanya ini enggak tahu apa namanya.

Project bubu dimulai dari Sabtu siang setelah mobil-mobilan titan selesai. Terus terang, projectnya bubu ini emang paling lucu diantara project lainnya. Dia pengen banget bikin reversible baby booties buat adek Luna.

Dan emejing, ... akhirnya jadi juga! Bundanya ini sampe minder. Sayangnya, kita enggak punya bahan motif lain untuk pendampingnya, jadi enggak terlalu keliatan bicolor deh.

Sementara itu, bundanya bikin lasagna aja.
Seperti biasa, dengan resep kira-kira. Not bad lah ....

Briefing awal

Voila!

Menjahit ala bubu, tetep gadgety 

Ta Daaaaa!

She's loving it 

Nom nom nom



Berserah atau Menyerah?

  Qur'an Surat Maryam: 6 يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا  ۝٦ yaritsunî wa yaritsu min âli ya‘qûba w...