Skip to main content

Everyone is facing a battle we don't know.

Pagi hari waktu mau berangkat kerja, sebenarnya badan udah ngilu-ngilu enggak enak dari malamnya. Tapi, teman-teman bilang itu cuma sindrom kerja. It happens all the time. Khususnya, setiap habis liburan. Padahal, di kerjaan ini aku cuma dikontrak 10 hari. Masa iya masih harus punya sindrom juga, padahal udah libur 2 tahun?

Briefing pun berjalan lancar. Alhamdulillah koneksi internet hari ini bersahabat. Telecon dengan 5 negara enggak menemui gangguan apapun selain gangguan konsentrasi; karena team leader di ujung sana mukanya mirip banget sama matt damon. Sigh, ... aren't i too old for this hahaha.

Asik-asik kerja, badan tiba-tiba menggigil. Kirain cuma masalah ac aja. Dengan malu hati, dikeluarinlah wind breaker yang biasa dipake naik ojek jadi penghangat tubuh di ruangan itu. Tentunya, ... enggak stylish banget. Warna turquoise gonjreng juga bikin orang nengok dan bertanya "kedinginan???" ... "Bingiiiiiiits" jawab aku.

Jam 4 sore, udah bener-bener enggak tahan lagi. Segera manggil kamen rider kesayangan alias bang iwan ojek yang untungnya, segera datang. Karena enggak tahan dengan dinginnya kantor, akhirnya aku memilih untuk nunggu di halte pinggir jalan aja. Yap, masih dengan pakaian lengkap dong. Udahlah pakai kaos tangan panjang, long vest, plus wind breaker.

Bang Iwan pun ngebut, demi mencapai apotik terdekat dari rumah untuk beli obat. Di kepala yang udah berat banget ini plus ditambah beban helm, udah jelas mau beli apa. Obat dewa aku cuma cefixime dan pantozol.

Begitu sampai apotik, tanpa lepas helm aku langsung lari ke kasir penerimaan resep. Tapi di sana ada bapak tua yang lagi galau memilih obat. Demi rasa hormat karena dia udah datang duluan, aku tunggu dengan sabar. Bapak itu banyak tanya-tanya, salah satunya bertanya tentang obat platogrik. Aku terhenyak. Oh, itu kan obatnya mamah. Dari situ aku langsung menguping.

Rupanya, platogrik terlalu mahal buatnya. Mungkin, harus dikonsumsi jangka panjang jadi harus dipikirkan konsistensinya. Kemudian si bapak bertanya tentang isi, miligram, merk lain, alternatif ini dan itu. Menelfon, konfirmasi ini dan itu, ada kali setengah jam. Sementara kepala udah beraaat banget. Tapi bapak itu mengingatkan sama orang tuaku juga. Mungkin, eh ... pastinya, ini yang terjadi juga sama mereka. Sakit di masa tua, sedih banget rasanya. Harus mengkonsumsi obat jangka panjang yang sudah enggak lagi ditanggung kantor. Enggak terasa tiba-tiba malah jadi nangis. Rasa amarah dan ketidaksabaran tiba-tiba hilang aja gitu.

I was totally sick. I had a fever for 39,6. I felt bad. But I thank god, I did not make myself even worse by getting angry for the old man. Indeed, everyone is facing a battle we don't know.

Just be nice.
Hope I can always be a nice person. A nice daughter.


Anak perempuan antar ayah ke dokter. Rapinya si ayah.

Anak perempuan antar ibu ke dokter. Pakai kaos kaki warna warni. 


Comments

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…