Thursday, January 07, 2016

Everyone is facing a battle we don't know.

Pagi hari waktu mau berangkat kerja, sebenarnya badan udah ngilu-ngilu enggak enak dari malamnya. Tapi, teman-teman bilang itu cuma sindrom kerja. It happens all the time. Khususnya, setiap habis liburan. Padahal, di kerjaan ini aku cuma dikontrak 10 hari. Masa iya masih harus punya sindrom juga, padahal udah libur 2 tahun?

Briefing pun berjalan lancar. Alhamdulillah koneksi internet hari ini bersahabat. Telecon dengan 5 negara enggak menemui gangguan apapun selain gangguan konsentrasi; karena team leader di ujung sana mukanya mirip banget sama matt damon. Sigh, ... aren't i too old for this hahaha.

Asik-asik kerja, badan tiba-tiba menggigil. Kirain cuma masalah ac aja. Dengan malu hati, dikeluarinlah wind breaker yang biasa dipake naik ojek jadi penghangat tubuh di ruangan itu. Tentunya, ... enggak stylish banget. Warna turquoise gonjreng juga bikin orang nengok dan bertanya "kedinginan???" ... "Bingiiiiiiits" jawab aku.

Jam 4 sore, udah bener-bener enggak tahan lagi. Segera manggil kamen rider kesayangan alias bang iwan ojek yang untungnya, segera datang. Karena enggak tahan dengan dinginnya kantor, akhirnya aku memilih untuk nunggu di halte pinggir jalan aja. Yap, masih dengan pakaian lengkap dong. Udahlah pakai kaos tangan panjang, long vest, plus wind breaker.

Bang Iwan pun ngebut, demi mencapai apotik terdekat dari rumah untuk beli obat. Di kepala yang udah berat banget ini plus ditambah beban helm, udah jelas mau beli apa. Obat dewa aku cuma cefixime dan pantozol.

Begitu sampai apotik, tanpa lepas helm aku langsung lari ke kasir penerimaan resep. Tapi di sana ada bapak tua yang lagi galau memilih obat. Demi rasa hormat karena dia udah datang duluan, aku tunggu dengan sabar. Bapak itu banyak tanya-tanya, salah satunya bertanya tentang obat platogrik. Aku terhenyak. Oh, itu kan obatnya mamah. Dari situ aku langsung menguping.

Rupanya, platogrik terlalu mahal buatnya. Mungkin, harus dikonsumsi jangka panjang jadi harus dipikirkan konsistensinya. Kemudian si bapak bertanya tentang isi, miligram, merk lain, alternatif ini dan itu. Menelfon, konfirmasi ini dan itu, ada kali setengah jam. Sementara kepala udah beraaat banget. Tapi bapak itu mengingatkan sama orang tuaku juga. Mungkin, eh ... pastinya, ini yang terjadi juga sama mereka. Sakit di masa tua, sedih banget rasanya. Harus mengkonsumsi obat jangka panjang yang sudah enggak lagi ditanggung kantor. Enggak terasa tiba-tiba malah jadi nangis. Rasa amarah dan ketidaksabaran tiba-tiba hilang aja gitu.

I was totally sick. I had a fever for 39,6. I felt bad. But I thank god, I did not make myself even worse by getting angry for the old man. Indeed, everyone is facing a battle we don't know.

Just be nice.
Hope I can always be a nice person. A nice daughter.


Anak perempuan antar ayah ke dokter. Rapinya si ayah.

Anak perempuan antar ibu ke dokter. Pakai kaos kaki warna warni. 


No comments:

Post a Comment

Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through ...