Skip to main content

selamat datang kelas tiga!

enggak terasa si bocah udah naik ke kelas tiga. selama liburan kemarin, iya liburan yang 6 minggu itu, kita bikin kesepakatan-kesepakatan baru. quite big leaps, i guess.

issue pertama adalah matematika. subject dimana titan dan beberapa temennya harus dapat remedial untuk pelajaran yang satu ini. tahun kemarin titan memang dapet guru yang agak akademis banget. tapi untungnya juga baik hati banget yang mau ngasih kelas tambahan tanpa pungutan biaya. suka bagi makanan pula. tahun ini, belum tentu dapat guru yang sama sementara kebutuhan mempertajam logika matematika masih sama. so, ... kesepakatan pertama: ikut kumon.

dulu, suka ngetawain orang tua yang ambisius banget masukin anak-anaknya ke kumon. bayangan saya, mereka pengen banget punya anak-anak yang jago berhitung di luar kepala. tambah-tambahan, kali-kalian, memecah desimal dan ahli bilangan pecahan.

kasihan anaknya. pikir saya selama ini.

tapi hari ini. iya, hari ini. akhirnya saya mendaftarkan titan ke kumon *sound efek geledek di udara*
tentunya, sekali lagi, dengan persetujuan si anak. kumon ini rela diambil titan karena selain memang butuh tapi dia juga minta kumonnya diseimbangkan dengan ikutan art class with hadiprana di sekolah. after a deep thought yang juga diiringi dengan penghitungan mendalam soal dompet, ... "yaaa okelah." kata saya.

sebenernya udah lama saya 'beriklan' tentang les matematika ala jepang ini. tapi baru kali ini iklan saya mau dicoba. iya, dicoba. belum tentu jadi loyal customer. padahal ibunya dua belas tahun di dunia iklan *sound efek penonton ketawa*

saya selalu beranggapan bahwa yang namanya les itu harusnya untuk mempertajam apa yang sudah bagus. dalam hal ini, kemampuan bahasa inggris titan jauh lebih baik daripada kemampuan matematikanya. tapi sebaliknya, saya rasa ini juga momen yang tepat untuk mendorong kemampuan matematikanya itu karena rupanya titan juga mulai merasakan kebutuhan untuk perform lebih baik di bidang matematika. keputusan saya makin kuat saat saya ajak dia untuk placement test. saat gurunya bertanya "kenapa baru kumon sekarang?" titan menjawab "karena titan baru siap sekarang."

lega banget dengernya. dia mengerti kendala dia selama ini, mengerti perasaan dia terhadap matematika dan berani mengambil keputusan hari ini.

trus, apa alasan saya mengambil langkah mainstream ini?

sebenernya jawabannya simpel. supaya titan disiplin berlatih. karena matematika itu masalah latihan, kok. dan disiplin adalah issue kita selama ini. kadang saya berpendapat sekolahnya terlalu loose, di satu sisi anak-anak terlalu dibebaskan untuk hal yang harusnya bisa didisiplinkan. dan kalau ibunya yang bertindak untuk melatih dia belajar matematika, selain anaknya juga suka kabur-kaburan ibunya juga (seringnya) capek ngejar-ngejar. akhirnya situasi jadi memanas, ibu jadi kesal anak pun tegang. walhasil pembelajaran jadi percuma. disitulah saya mulai berpikir bahwa saya dan titan butuh pihak lain yang memang expert di bidangnya.

sometimes a mother doesn't have to be everything.

lagian, setelah saya pikir-pikir, kumon juga ada bagusnya. bukan masalah kontennya. tapi sistemnya. enggak ada klasifikasi kelas dan bukan dengan metode guru menjelaskan di papan tulis, tapi ngerjain masing-masing level sesuai kemampuan masing-masing. belajar fokus karena harus mengerjakan sesuai tenggat waktu. enggak perlu menghafal, tapi karena sering melihat angkanya dan bolak-balik dikasih hal yang sama; pasti ada yang nempel. alah bisa karena biasa.

untuk art class, titan masih bingung mau ikut acrylic painting atau drawing with crayon. awalnya dia mau ikutan crayon, karena menurutnya gambarnya pengen lebih bagus lagi dan lebih variatif lagi topiknya. sementara, kalau melukis kan sering dilakukan di rumah. tapi entah kenapa hari ini tiba-tiba dia pengen gabung melukis acrylic.

issue berikutnya adalah physical education. lucu deh, dengan gayanya dia bercerita bahwa dia punya issue berat dengan pelajaran yang satu ini. "titan tuh bermasalah banget sama PE. kalau lari, enggak bisa bener larinya karena sepatunya kendor. harus dibetulin terus tapi strapnya enggak bisa kenceng." saya senyum-senyum. kesempatan yang baik untuk 'jualan' berlatih mengikat.
"kalau begitu, sudah waktunya titan pakai sepatu sport yang diikat. karena kalau diikat itu pasti lebih kencang. coba, kalau titan ice skating enggak ada kan sepatu yang pake velcro strap? semuanya diiket. nah, itu tuh supaya kenceng. tahun ini kita beli sepatu yang proper ya, dan titan musti belajar ngiket tali sepatu sendiri." lalu titan mengangguk yakin. dan ternyata, hanya dalam semalam dia sudah bisa menguasai cara mengikat tali sepatu sendiri. dia seneng banget! saya juga sih.

BIG YEAY banget untuk mengawali tahun ajaran baru kali ini:
bisa ngiket tali sepatu sendiri dan memutuskan untuk les kumon.

oh noooooo, tetiba bundanya mellow. anakku udah gede.

selamat datang kelas tiga! bismillah.







Comments

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…