Tuesday, April 02, 2013

Impian semua BuMil

Buat ibu-ibu hamil, kayanya nggak 'klop' kalau belum browsing-browsing stroller ya. Bisa dipastikan hampir semua ibu-ibu hamil pengen beli stroller. Karena emang lucu-lucu banget bentuknya. Dan stroller itu jadi seringkali jadi simbol status sosial kalo kita lagi jalan-jalan ke mall. Ya, kan? Coba aja, kalau liat ibu-ibu strolling Maxi Cosy stroller, minimal tasnya Kate Spade deh hihihihihi....

Begitu juga dengan aku. Belum apa-apa, yang diliat-liat itu adalah stroller. Belum juga hamilnya keliatan membuncit, udah sibuuuk aja browsing-browsing belanja online atau mampir ke Mothercare buat liat-liat stroller. Bahkan, sampai rajin banget baca review merk apa yang paling OK.
Sampai-sampai aku punya kriteria stroller OK sendiri:
1. Bisa 2 muka, menghadap atau membelakangi si pendorong.
2. Yang ringan dan mudah dilipat. Supaya, kalau pergi sendiri nggak repot.
3. Modelnya ringkes tapi bisa mulai dari umur 0 sampai 3 tahunan.
4. Kalau ada bonus infant car seat, wah itu bisa jadi added value banget
5. Nah ini, last but not least, ... the price!

Betapa lucunya stroller-stroller itu, sampai kita kadang nggak peduli bahwa stroller yang rodanya besar dan biasanya cuma terdiri atas 3 roda itu sebenarnya didisain untuk country strolling alias jalan-jalan di daerah berbatu atau kasar. Jadi, nggak cocok kalau dibawanya ke Mall.

Kadang, eh... sering deeeeeeh, ujung-ujungnya stroller dipakai untuk naruh barang dan didorong oleh baby sitter. Bayinya? Ya tentu lagi digendong sama ibunya. Lebih nyaman, lebih interaktif, lebih empuk, sehingga waktu mau ditaruh kembali ke stroller si bayinya nangis deh.
Akhirnya, stroller itu cuma jadi trolley buat naro barang belanjaan.

Nah, sebenarnya stroller ini ternyata agak kurang berguna buat aku. Karena jarang jalan-jalan juga sih hehehe. Berdasarkan pengalaman anak pertama yang enggak mau ditaruh di stroller, akhirnya sekalinya jalan-jalan pun jarang sekali bawa stroller. Ditambah lagi, saya suka merasa geli sendiri kalau melihat anak sudah besar dan sudah bisa jalan tapi masih aja didorong-dorong di kereta bayi.

Akhirnya, stroller pun dengan cepat berpindah tangan kepada yang lebih membutuhkan. Dan Malicca, untungnya dia lebih suka jalan kaki. Kalau udah capek, nggak ada deh tuh gendong-gendong. Mending pulang aja.

Buat aku, berdasarkan pengalaman juga sih, yang justru sangat berguna adalah carseat. Sampai Malicca umur 3 tahun, carseat itu masih terpakai. Banyak orang yang bilang "Tapi anakku enggak mau didudukin di carseat. Gimana dong?" Ya, ... kalau dibiasainnya umur setahun sih jelas-jelas anaknya pasti enggak mau ya. Tapi coba kalau udah dibiasain sejak lahir. Karena itu, kalau bisa nemu carseat yang bisa recline, bisa untuk newborn sampai berat 18 kg, rasanya kaya dapet arisan!

Etapi yah... tetep loh di hamil kali ini aku punya stroller impian yang cocoooook sekali dengan kriteria saya. Tadaaaaaaa.... the all in one stroller for infant to toddler :) Sayangnya, harganya tidak sesuai dengan kriteria aku :)


No comments:

Post a Comment

Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...