Skip to main content

Impian semua BuMil

Buat ibu-ibu hamil, kayanya nggak 'klop' kalau belum browsing-browsing stroller ya. Bisa dipastikan hampir semua ibu-ibu hamil pengen beli stroller. Karena emang lucu-lucu banget bentuknya. Dan stroller itu jadi seringkali jadi simbol status sosial kalo kita lagi jalan-jalan ke mall. Ya, kan? Coba aja, kalau liat ibu-ibu strolling Maxi Cosy stroller, minimal tasnya Kate Spade deh hihihihihi....

Begitu juga dengan aku. Belum apa-apa, yang diliat-liat itu adalah stroller. Belum juga hamilnya keliatan membuncit, udah sibuuuk aja browsing-browsing belanja online atau mampir ke Mothercare buat liat-liat stroller. Bahkan, sampai rajin banget baca review merk apa yang paling OK.
Sampai-sampai aku punya kriteria stroller OK sendiri:
1. Bisa 2 muka, menghadap atau membelakangi si pendorong.
2. Yang ringan dan mudah dilipat. Supaya, kalau pergi sendiri nggak repot.
3. Modelnya ringkes tapi bisa mulai dari umur 0 sampai 3 tahunan.
4. Kalau ada bonus infant car seat, wah itu bisa jadi added value banget
5. Nah ini, last but not least, ... the price!

Betapa lucunya stroller-stroller itu, sampai kita kadang nggak peduli bahwa stroller yang rodanya besar dan biasanya cuma terdiri atas 3 roda itu sebenarnya didisain untuk country strolling alias jalan-jalan di daerah berbatu atau kasar. Jadi, nggak cocok kalau dibawanya ke Mall.

Kadang, eh... sering deeeeeeh, ujung-ujungnya stroller dipakai untuk naruh barang dan didorong oleh baby sitter. Bayinya? Ya tentu lagi digendong sama ibunya. Lebih nyaman, lebih interaktif, lebih empuk, sehingga waktu mau ditaruh kembali ke stroller si bayinya nangis deh.
Akhirnya, stroller itu cuma jadi trolley buat naro barang belanjaan.

Nah, sebenarnya stroller ini ternyata agak kurang berguna buat aku. Karena jarang jalan-jalan juga sih hehehe. Berdasarkan pengalaman anak pertama yang enggak mau ditaruh di stroller, akhirnya sekalinya jalan-jalan pun jarang sekali bawa stroller. Ditambah lagi, saya suka merasa geli sendiri kalau melihat anak sudah besar dan sudah bisa jalan tapi masih aja didorong-dorong di kereta bayi.

Akhirnya, stroller pun dengan cepat berpindah tangan kepada yang lebih membutuhkan. Dan Malicca, untungnya dia lebih suka jalan kaki. Kalau udah capek, nggak ada deh tuh gendong-gendong. Mending pulang aja.

Buat aku, berdasarkan pengalaman juga sih, yang justru sangat berguna adalah carseat. Sampai Malicca umur 3 tahun, carseat itu masih terpakai. Banyak orang yang bilang "Tapi anakku enggak mau didudukin di carseat. Gimana dong?" Ya, ... kalau dibiasainnya umur setahun sih jelas-jelas anaknya pasti enggak mau ya. Tapi coba kalau udah dibiasain sejak lahir. Karena itu, kalau bisa nemu carseat yang bisa recline, bisa untuk newborn sampai berat 18 kg, rasanya kaya dapet arisan!

Etapi yah... tetep loh di hamil kali ini aku punya stroller impian yang cocoooook sekali dengan kriteria saya. Tadaaaaaaa.... the all in one stroller for infant to toddler :) Sayangnya, harganya tidak sesuai dengan kriteria aku :)


Comments

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…