Skip to main content

guru yang baik. gimana, sih?

titan udah tiga minggu ini efektif belajar di kelas dua. selain duitnya, yang lain enggak berasa udah berjalan sejauh ini. yes, memasuki tahun ke tiga sekolah high scope. memasuki tahun ini, jujur saya agak deg-degan. guru di grade 1 bisa bilang bahwa pengajaran tidak memberatkan pada akademis, tapi di kelas 2 ini mereka wanti-wanti bahwa beban akademis pasti akan meningkat.

lalu, hal pertama yang saya cari tahu saat initial meeting dengan principal adalah, mencari tahu siapa guru-guru titan nanti. dan menurut teman-teman sesama orang tua murid, kelas titan mendapat guru terbaik yang pernah mereka temui: Miss P.

pertama saya bingung, seperti apa sih guru yang OK banget itu?

hari demi hari, saya mengumpulkan fakta seperti apa si miss P ini. berusaha untuk memahami apa maksud teman-teman dengan definisi guru terbaik di sekolah. well, saya enggak punya checklist dan kriteria sendiri tentang guru terbaik, tapi so far ini yang saya dapat.

pertama.
di hari pertama titan masuk sekolah, saat saya menjemput; miss P menghampiri saya dan berpesan:
"Ibu, tolong dibantu supervisi di rumah. Tadi, saat review, Malicca kurang detail dengan penulisan huruf besar dan huruf kecil. Kemudian saya suruh hapus dan perbaiki. Tapi, masih salah. Akhirnya saya contohkan, dan dia tinggal copy paste aja. Tapi, masih salah juga. Nanti di rumah, dilatih aja ya Ibu."

ke dua.
kemarin, titan mengingatkan saya bahwa miss P mengingatkan supaya orang tua selalu menandatangani setiap pengumuman yang ditulis di buku agenda.

ke tiga.
setiap minggu, saya selalu mendapatkan email mengenai progress report kegiatan anak di sekolah. tapi sudah beberapa hari ini, di agenda titan selalu ditulis bahan-bahan pelajaran mereka dalam bentuk link-link website yang bisa saya akses, bukan per minggu tapi hampir setiap harinya. jadi, saya enggak deg-degan lagi sudah belajar apa saja anak-anak di sekolah hari ini. karena, maklum, sekolahnya titan ini enggak pakai buku sama sekali. jadi emang sering banget orang tua bertanya-tanya sudah sepinter apa anaknya dibanding anak-anak lain yang di sekolahnya pakai text book. catatan-catatan kecil dari miss P ini menolong sekali. bangeeeet. enggak seperti tahun lalu dimana saya agak lost track dengan bahan pelajaran titan sehingga saya harus provide buku-buku text book sendiri.

well, udah ada tiga poin yang saya rasain untuk kategori guru terbaik ini. semoga bakal nambah lagi di minggu-minggu berikut. amin!




Comments

  1. ke empat.
    beberapa hari lalu titan cerita, semua anak-anak di kelas dapat buku tulis yang dikasih judul Reflection Book. Kalau di kelas sebelumnya, reflection itu adalah waktu untuk merefleksikan kesalahan setelah mendapat warning. Tapi di tahun ini, reflection book ini adalah untuk menulis kegiatan mereka di sekolah sepanjang hari itu.

    Great idea, miss! Selain melatih menulis, juga jadi tahu mereka ngapain aja :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Life. Just like what I wanted.

Sounds so snobbish ya, saying life is just like what I wanted. But then I realized, semua itu karena emang aku enggak pengen apa-apa. Sekarang juga (ternyata) masih begitu. Dulu emang I treat my life like a blue print. Things to do piling up my list and my aims were to accomplish them. Alhamdulillah, semua tercapai. Tapi kemudian seperti ada titik tolak dalam hidup yang bikin  berhenti ingin terlalu banyak dari hidup. Entah karena merasa udah cukup banyak pencapaian pribadi baik yang bagus atau yang buruk, entah karena pernah kecewa berat sama yang namanya manusia atau karena alasan klise yang digadang-gadang semua manusia: anak.

Sekarang ini, lebih banyak menyambut apa yang datang ke dalam hidup. Termasuk, kembali ke agency lagi. Having thought that I am not some kind of 'Man in a mission' kind of person. I am just an 'I will do my best' of what comes in front of me kind of person.

Gini ceritanya.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setel…

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through both and also had a chance of being a working-from-home mom, it is even more ridiculous for me. Only stupid have a time discussing it and to elaborate on their social media status. Whoever we are, what kind of mom we are, what matters most is how we can make our life productive and progressing. Every single day.

Different mom has different ways of being productive. Some goes to work. Some clean up and cook for the family. Some works at home by selling stuffs online or being a freelancer. Productive means to produce something. Be it money, the foods, you name them all. But the question is, is productive enough? How about having a progressing life? Not as the wife of Mr. Blabla or as the mom of kid Zubidudamdam. But us, as a person. Me, as Wury; a 38 years old woman and how far I have made progress in  my life.

BUT. Let alone of being progressive, ... ar…