Skip to main content

tick tock

teman baik saya, farika, menulis tentang ini persis dengan apa yang saya rasakan. begitu cepat anak-anak kita tumbuh tinggi, tumbuh besar dengan beribu pertanyaan yang terkadang terlontar dan entah berapa banyak lagi yang tersimpan. dengan rasa senang, kesal, kecewa, sedih, yang seringkali terucap tapi entah ada berapa banyak yang terlintas di benak mereka yang kita tidak tahu.

sekitar tiga tahun yang lalu, cara dia bicara saja masih kacau. masih cadel. saya masih punya rekaman dia bercerita panjang lebar dengan kakeknya. iya, panjaaaang ... dan lebaaar ... dan lama. hanya untuk menjelaskan satu hal, karena terbata-bata dan berusaha sekali supaya kakeknya mengerti apa yang dikatakannya.

tapi sekarang, malicca sudah bisa blogging. biar juga tanda baca masih ketinggalan di sana sini, kordinasi memori, logika dan tangan tiba-tiba sudah sempurna sekali.

saya hampir lupa bagaimana saya mengajarkan malicca membaca, tahu-tahu sekarang dia sudah bisa membaca kalimat dalam dua bahasa. saya bahkan tidak ingat kapan mengajarkan grammar, tapi sekarang dia sudah bisa membedakan mana past tense dan mana present tense.

walaupun sekarang saya bekerja di rumah, menyiapkan setiap kebutuhannya sejak dia bangun tidur sampai tidur lagi, melihat mukanya saat mengantar dan menjemputnya dari sekolah, mendengar laporan kegiatan di sekolah plus ekstra 24 jam bersama di akhir minggu, waktu tetap terasa kurang. saya ingin waktu yang lebih banyak lagi untuk mengajarkan dan berbagi tentang banyak hal. saya ingin memasak lebih enak lagi, bermain lebih kreatif lagi ... karena saya tahu saya berpacu dengan waktu.

dan hari ini, malicca jadi imam saat sholat dengan saya. untuk pertama kalinya. dia keliatan bangga dan tentunya senang bisa mengimami. biar juga bacaannya baru surat al-ikhlas aja. biar juga rakaatnya kebanyakan. enggak terasa air mata ini menetes. mendengar suara lembutnya melantun ayat demi ayat al-fatihah.

ada rasa haru mencekat. tapi bukan itu saja, karena juga ada rasa khawatir yang besar. what kind of man he will be in the future? have i taught him the right path? have i provide him the right ammunition to face the world? what if he got hurt? what if I cannot protect him any longer? what if he starts keeping secrets? what if he blame me on several things? what if I cannot answer his questions? what ifs.

but then, nobody ever read a perfect parenting. nobody knows about the future. all I can do now is to be beside him anytime he needs me. every bad or worse. every unfinished worksheets, every minecraft's glitch, every smile, every cry, every cough, every story he wants to share me.






Comments

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…