Friday, July 06, 2012

Welcome definitely maybe!



“Leaving your comfort zone is not easy and it is only for the bravery.” For me, those who support them to leave the comfort zone, is even braver.”

Setelah hampir 12 tahun bekerja di dunia korporat periklanan, finally… yes I finally resigned and decided to be a freelance copywriter instead. Sebenarnya kepinginnya sih udah sejak dua tahun lalu ya. Tapi karena beribu dan lain hal termasuk ketidakberanian diri ini untuk memasuki lembah ketidakpastian finansial, akhirnya tertunda-tunda. Tapi kali ini, I made up my mind.

Aneh sebenarnya saat aku mengambil keputusan ini. Unlikely what I always did, to make plans, kali ini aku ambil keputusan tanpa punya long term plan akan apa yang akan aku lakukan setelah kehidupan bekerja full time. Yang aku tahu saat itu adalah, aku sebaiknya berhenti dulu bekerja.

Sebenarnya, keputusan ini juga enggak yakin-yakin banget waktu memutuskannya. Tentu faktor utamanya adalah kemandirian finansial. Ya iyalah ya, udah lebih dari satu dekade terbiasa  menerima uang gaji. Terbiasa punya plan dan merasa aman karena tahu saat uang habis, pundi akan terisi kembali. But in the freelancing world, everything is uncertain. That is the part that worried me much. Secara ya bo, buat perempuan yang penting itu kan kepastian. Kepastian tuh cowok sayang sama kita atau enggak. Kepastian bakal dikawinin apa enggak (aih, curcol deh ah hahaha), yang pasti sih kepastian supaya bisa manage expectation. Karena kuciwa itu aduh ampuuuuun… berat sekali rasanya.

Untungnya, aku didukung penuh akan keputusanku ini. Dan menurutku, itulah bagian terpenting saat kita mau ambil langkah penting dalam hidup. Sebenernya bukan hanya keberanian dari diri, tapi juga dukungan. Dan orang yang mendukung, buat aku jauh lebih berani daripada orang yang didukung.

Banyak yang tanya sama aku “So, whats the push button?” Hmmm, sebenarnya karena niatan itu sudah ada di dalam diri sejak lama. Cuma butuh pemantik untuk menyulut. Dan pemantik itu adalah satelitku (oh so very typical ya hehehe…) But trust me, it was not as easy as you thought. Segala sesuatu yang klise itu emang jatuhnya lebih sulit buat yang ngalamin dan lebih sederhana bagi yang melihatnya.

Triggernya adalah karena Titan entah kenapa enggak suka dengan sekolahnya. Akibatnya, dia jadi enggak suka sekolah dan enggak suka yang namanya belajar. Udah gitu, makannya juga makin susah sampe akhirnya berat badannya enggak nambah-nambah. Beberapa waktu terakhir ini aku coba untuk ngajak belajar terutama baca dan berhitung. Ndelalahnya, apa yang aku ajarin justru lebih masuk dan dia lebih suka belajar sama bundanya ini ketimbang belajar di sekolah. Trus kadang di weekend pun kita masak bareng dan ternyata dia lebih lahap kalau makanannya disiapin bareng-bareng. Dari situ aku berpikir bahwa mungkin anak ini bukannya enggak suka belajar dan enggak suka makan, tapi memang enggak banyak orang yang memahami cara dia belajar dan makan.

Selain itu, ada juga sih hal-hal yang bikin tekadku makin bulat untuk berhenti dari dunia korporat. Tapi rahasia dong aaaaaah J

One thing for sure, I pre-conditioned myself that I will not be a jobless housewife. I am a work from home mother. I will have working hours and I have to create something within the hours, be it freelancing jobs or writing.

So yes, this is my last day working in a corporate advertising and I am sad yet happy yet anxious yet overwhelm… it is a Berty Bott’s three flavor taste candy. What would happen next? I do not know. What if I fail? What if I not. Will I be back to corporate life someday? Maybe. Will I be happier? Maybe. Uh oh, ... just wish me luck!






Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through ...