Sunday, October 11, 2009

sore yang indah

Mereka duduk di beranda. Dengan sebatang rokok di tangan masing – masing. Bara merahnya perlahan melahap puntung tanpa bantuan hisapan. Tak pernah salah satu dari mereka bisa menerka, waktu yang berserak terkumpul menjadi sebuah rasa tanpa disengaja.

Di sebuah sore yang indah.

Di sebuah kafetaria, dia duduk sendiri. Menikmati setiap detik yang bergulir. Tanpa lagi memikirkan kemarin dan hari esok. Bahkan tak ada sisa tadi pagi. Yang ada hanya saat ini, pertama kali dalam hidupnya menjadi sahabat bagi dirinya sendiri.

Di sebuah sore yang indah.

Seorang laki-laki menggelendot manja di pundak seorang perempuan, sibuk menghirup aroma kuduknya. Perlahan tangannya bergerak ke depan, memeluk perempuan itu. Dia tak ingin berkedip, supaya tak akan lepas pandangan darinya. Ingin menikmati setiap sepersekian detik yang tersisa, dia tidak tahu perempuan di depannya berderai air mata tanpa suara. Apa yang selalu diinginkannya kini hadir di depan mata. Tapi bukan untuk waktu yang lama. Dan tak akan jadi miliknya.

Di sebuah sore yang indah.

Satu orang telah berhasil mengerti apa artinya cinta. Saat dia membuka dirinya untuk menjadi sakit dan terpuruk dengan penghianatan orang yang dia percaya.

Di sebuah sore yang indah.

Seorang laki-laki duduk sambil membaca buku. Halaman demi halaman yang membalik dan aksara yang dilafalkannya dalam hati, tak ada yang menempel karena kosongnya hati. Dia tidak percaya mimpi. Dia tidak mengenal fiksi. Tapi tak pernah dia kehilangan harapan akan datangnya sebuah sore yang indah.

Seperti hari ini.

1 comment:

  1. Di sebuah sore yang indah.

    Bubungan awan bergumul, membentuk barisan.
    Cantik dipandang, walau sedikit berantakan.

    Si perempuan coba - coba menghitung banyaknya.
    Apakah jumlahnya cukup untuk sampai ke sana?

    Untuk menghampiri satu hati.
    Yang dirindunya setengah mati.

    Berharap akan ada ampas yang tersisa.
    Sedikitnya hanya agar ia tak lupa suaranya.

    Renyah. Resah. Gundah.
    Perlahan disekanya pipinya yang basah.

    ReplyDelete

Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through ...