Sunday, September 18, 2016

dream.

perhatian, posting ini isinya tentang pamer ya. 
supershowoff. totally.


now, what is a dream?

mimpi, bisa jadi bunga tidur yang sering kejadian sama kita. tapi mimpi yang dimaksud saya di mimpi ini adalah sesuatu yang kita inginkan banget. yang sepanjang hari, sepanjang tahun, terus dikejar sampe kejadian. bukan cuma sekedar wishlist.

dulu, salah seorang pacar saya pernah bilang. mimpi ya mimpi, nggak perlu dikejar. kalau udah dikejar, namanya tujuan. saya harus bisa membedakan itu.

ah, ya ... bener juga sih itu. tapi kan nggak papa juga bilangnya mimpi, karena kadang kalau disebut tujuan tapi set up nya jauh banget dan tinggi banget, kesannya jadi berat banget. kalau mimpi kan kayanya ada kesan 'magical'nya kalau bisa kejadian.

now, what is my dream?

setelah dipikir-pikir, saya itu sama banget sama bapak saya. atau, mungkin memang didikan bapak berhasil banget nancep di kepala saya. saya inget banget, waktu kita-kita anaknya masih kecil, bapak sering bilang gini "bapak nggak akan ninggalin warisan apa-apa, tapi kalau kamu mau sekolah, apa aja, kemana aja, asal selesai, inshaa allah bapak usahain. bapak turutin."

pada akhirnya, anak-anaknya bisa sekolah di tempat yang pada masanya cukup diakui. kakak pertama saya bisa masuk arsitek trisakti yang pada tahun 1991 itu kayanya sekolah yang top banget. kakak ke dua saya bisa masuk ke sma taruna nusantara, yang juga pada saat itu jadi sekolah yang hangat banget diomongin anak-anak smp di seluruh indonesia. saya, alhamdulillah masuk sma favorit 68 walaupun bikin saya stres. kamudian, mampu ngebuang peluang masuk sastra ui tuh kayanya udah bangga banget. kenapa saya buang, ya? karena memang itu pilihan terburuk saya: sastra cina, demi kata-kata just-in-case saya termasuk mereka yang memiliki filsafat hidup 'gapapa jurusan apa aja, asal negri dan bergengsi.'

alhamdulillah, saya termasuk anak yang ngga kemakan gengsi. akhirnya saya masuk d3 komunikasi di ui dan nerusin ke s1 di jurusan yang sama.

sekarang, saya udah punya anak dan ternyata saya pengen banget anak-anak di sekolah yang paling bagus yang saya bisa usahain. yes, i am a great sucker of finding a great school. dari titan umur dua tahun, saya mulai rajin trial sekolah. tentunya, dengan mengeliminir sekolah-sekolah yang nggak saya mau tanpa harus trial. sekolah islam, misalnya. yang anak-anak tk nya udah suruh keliling ka'bah boongan demi belajar tawaf. atau sekolah swasta yang dengan ngaconya bilang sekolah internasional karena ada embel-embel ib atau cambridge. percayalah, sekolah internasional itu cuma sekolah-sekolah yang berada langsung di bawah pengawasan kedutaan negara yang dianutnya. kalau sekolah swasta biasa, mana boleh pakai kurikulum luar negeri plek ketiplek? kita cuma boleh mengadaptasi kurikulum dan sistem pengajarannya aja. gak boleh tuh ngasal main bilang sekolah internasional. kita cuma sekolah nasional plus, kacaw deh!

the best school. this is my dream number one. nothing beats this. 

kalau orang punya believe terhadap sebuah brand seperti apple, adidas, my tulisan, i am a great sucker of high scope. kalau ditanya kenapa, jawaban saya simpel banget. saya suka aturan mereka bahwa gak ada ketua kelas absolut yang memegang tampuk pimpinan sepanjang tahun. sekolah ini menganut visi bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk berkembang. karenanya, ketua kelas di sekolah ini berganti setiap hari. dan dalam sehari, semua anak dapat tugas merawat kelas mulai dari nyusun daftar pelajaran, hapus papan tulis, nulis tanggal, bagiin piring, sendok, gelas saat makan. apapun. sekolah ini selalu menemukan cara untuk membagi tugas dan memastikan anak-anaknya menjalankan tugas tersebut dan merasa bahwa tugas mereka sama pentingnya dengan yang lain.

buat saya, filosofi ini indah. 

highscope juga nggak bohong. mereka ngaku bahwa mereka bukan sekolah internasional. kemudian, nggak ada uang-uang tambahan terselundup di dalam program-programnya. spp naik tiap dua tahun, dikemukakan sejak awal masuk.

sekolah ini juga penganut faham active learning, sampai termasuk soal bermain dan berkomunikasi secara nyata. karenanya, haram hukumnya siswa bawa handphone ke sekolah. penggeledahan random dilakukan secara berkala. jika ditemukan handphone, maka akan dirampas dan baru akan dikembalikan pada liburan kenaikan kelas mendatang.

buat saya, ini penting. 

walaupun kemudian setelah masuk selalu ada kekurangannya ya, dua hal ini saya ingat betul kalau ada yang bertanya kenapa saya memilih anak-anak untuk bersekolah di sana. well, selain lokasi yang juga dekat dari rumah dan pengenalan perencanaan sejak pendidikan dini lewat kurikulum plan - do -review, highscope di negara asalnya adalah sebuah institusi riset yang menekankan bahwa observasi, pengambilan kesimpulan dan penentuan sikap adalah penting, sepenting konsekuensi logis dari tiap tindakan.

pendidikan anak-anak ini yang kemudian jadi mimpi buat saya. jadi cambuk, bahwa anak-anak berhak untuk dapat kesempatan yang lebih baik dari saya. alhamdulillah, luna lebih beruntung nasibnya bisa mulai menyecap sistem sekolahan ini dari mulai paud. jaman titan, saya masih jadi single parent. dan bisa mengumpulkan uang untuk memasukkan dia ke sekolah ini dan membayar bulan demi bulan yang besarnya hampir sebesar cicilan rumah (lebih besar maksudnya hahaha), rasanya banggaaaa sekali. rasanya mungkin lebih bangga daripada bisa beli mobil cash!

walaupun, walaupun ya, masih belum terlihat hasilnya seperti yang saya bayangkan. mungkin karena ekspektasi saya terlalu tinggi.

walaupun, bundanya ini harus ngecrek nggak bisa beli tas dan sepatu branded, nggak bisa liburan jauh lagi dan gak bisa hias-hias rumah dengan instan. semua budgetnya udah buat investasi hidup. sekarang malah dikali dua hahaha.

jujur, kadang suka nyinyir juga. soal prioritas temen-temen yang punya gaji di atas 50 juta, tapi kok tega-teganya nyekolahin anak di sekolah yang spp-nya ratusan ribu doang. bukan berarti sekolah bagus nggak berarti mahal ya. saya yakin, di negara ini, jumlah sekolah alternatif berbanding terbalik dengan harga sppnya. tahu bahwa semua ada perhitungannya, financial planner pun setuju bahwa biaya pendidikan masih bisa sampai platform maksimal 30% dari seluruh pendapatan.

so yeah, this is my dream. one of them. semoga nggak berhenti sampai di sini, semoga bisa kejalanin. amin!


No comments:

Post a Comment

Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through ...