Skip to main content

revolusi setengah hati

ini bukan soal perang. tapi, soal memisahkan cinta dua pihak yang amat sangat saling mencinta dan telah lama memadu kasih dalam bentuk kegiatan yang mengasyikkan bagi keduanya: nenen! bagai candu, pernenenan ini dinikmati banget oleh si pelaku dan yang dipernenenkan.

awalnya, pengen benar-benar weaning with love tanpa batas waktu. toh aku sama luna masih sama-sama menikmati. tapi kenyataan berkata lain. aku harus segera menyapih luna karena ada kemungkinan harus pergi ke luar kota untuk waktu yang agak lama.

enggak pernah ada tenggat waktu yang jelas kapan benar-benar ingin memulai. sampai pada suatu waktu, luna selalu muntah kalau habis nenen. aneh. enggak tahu juga sebabnya kenapa. bahkan dikasih obat penawar rasa mual paling ampuh pun dia tetap saja muntah.

ok, mungkin ini saatnya harus menyapih. batin saya saat itu.

dua hari berhasil. luna juga mengerti kalau setiap kali dia nenen, pasti berujung muntah. rasa kemeng-kemeng di payudara pun akhirnya berkurang setelah saya perah. sedih juga sih harus buang-buang asi, padahal masih banyak bayi yang butuh asi. tapi kalau anak sendiri aja muntah-muntah, apa iya harus didonor ke anak lain? ya enggak kan yaaaaaa.

di hari ke tiga, tiba-tiba luna mengamuk sejadi-jadinya. sakaw nenen. saya baru liat juga nih dia kalo udah ngamuk kaya gitu. menyeramkanlah pokoknya. mana tenaganya kuat banget. digendong dan dipeluk-peluk pun dia melonjak-lonjak dan meronta-ronta. lelah sekali saya dibuatnya.

demikian lelahnya sehingga tiba-tiba saya tertidur. dan saat terbangun, saya mendapati luna lagi asyik nenen. yaaaaaaah, kecolongan! mau saya lepas, dia lagi asyik merem-melek ngantuk-ngantuk nikmat. tiba-tiba ingat lagi saat-saat awal kita berkenalan lewat payudara di detik-detik awal luna menghirup hidup. dalam setiap hisapan, setiap kecupan, setiap dekapan. menenangkan dan menghangatkan.

trus luna pun tertidur. pulas sekali. bangun-bangun enggak ada tanda-tanda dia bakal muntah.
and that's it. dia enggak percaya lagi dibilang nenen itu bikin muntah. karena sudah terbukti, dia nenen dan enggak kejadian apa-apa.

trus dia minta nenen lagi. lagi. lagi lagi lagi lagi lagi lagi lagi dan lagi.
dan saya juga ladeni aja. karena memang sama-sama menyenangkan. membahagiakan. menghangatkan hati.

gitu deh. revolusi setengah hati.
trus gimana dong nanti luna kalau ditinggal? yaaaa ... lihat aja nanti. mudah-mudahan kalau enggak liat botol susu besarnya ini dia enggak inget-inget pengen nenen.

amiiiiiiiin!

Comments

Popular posts from this blog

Life. Just like what I wanted.

Sounds so snobbish ya, saying life is just like what I wanted. But then I realized, semua itu karena emang aku enggak pengen apa-apa. Sekarang juga (ternyata) masih begitu. Dulu emang I treat my life like a blue print. Things to do piling up my list and my aims were to accomplish them. Alhamdulillah, semua tercapai. Tapi kemudian seperti ada titik tolak dalam hidup yang bikin  berhenti ingin terlalu banyak dari hidup. Entah karena merasa udah cukup banyak pencapaian pribadi baik yang bagus atau yang buruk, entah karena pernah kecewa berat sama yang namanya manusia atau karena alasan klise yang digadang-gadang semua manusia: anak.

Sekarang ini, lebih banyak menyambut apa yang datang ke dalam hidup. Termasuk, kembali ke agency lagi. Having thought that I am not some kind of 'Man in a mission' kind of person. I am just an 'I will do my best' of what comes in front of me kind of person.

Gini ceritanya.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setel…

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through both and also had a chance of being a working-from-home mom, it is even more ridiculous for me. Only stupid have a time discussing it and to elaborate on their social media status. Whoever we are, what kind of mom we are, what matters most is how we can make our life productive and progressing. Every single day.

Different mom has different ways of being productive. Some goes to work. Some clean up and cook for the family. Some works at home by selling stuffs online or being a freelancer. Productive means to produce something. Be it money, the foods, you name them all. But the question is, is productive enough? How about having a progressing life? Not as the wife of Mr. Blabla or as the mom of kid Zubidudamdam. But us, as a person. Me, as Wury; a 38 years old woman and how far I have made progress in  my life.

BUT. Let alone of being progressive, ... ar…