Skip to main content
Puasa dulu, pasti bantuin mamah bikin kue. Kebagian marut keju oles-oles kuning telur dan menghias bagian atas kue. Puasa sekarang, bayar orang untuk bikinin kue yang sama.

Puasa dulu, suka dimarain kalo nunggu-nunggu waktu buka di meja makan sambil ngeliatin makanan yang tertata di meja. Puasa sekarang, seringkali buka seadanya dan nggak terlalu napsu ngeliat makanan karena mumpung puasa sekalian pengen nurunin berat badan.

Puasa dulu, abis saur pasti maen badminton di luar sama temen-temen. Puasa sekarang, abis saur langsung bablas tidur karena justru biasanya baru bisa tidur setelah saur.

Puasa dulu, semangat milih baju lebaran sejak jauh-jauh hari. Puasa sekarang, liat-liat koleksi lama baju muslim trus disetrika pada saat malam takbiran buat dipake besok.

Puasa dulu, sibuk ngitung-ngitung bakalan dapet salam tempel berapa. Karena udah puasa sebulan, karena uang saku nggak kepake jajan, belom lagi dari om dan tante tersayang. Puasa sekarang sibuk ngitung zakat dan mau dikasih ke siapa aja. Kaget ngeliat besarnya karena ngeluarin sekaligus, tapi lupa sama betapa besarnya yang sudah didapat ... dan itu pasti JAUH lebih besar.

Puasa dulu, suka marah-marah kalau dibangunin sahur. Puasa sekarang; gampang banget dibangunin karena emang belum belum memasuki fase tidur lelap di jam segitu. Sekali ketuk, langsung bangun.

Puasa dulu, saat berbuka adalah saatnya menikmati tajil yang dibuat mamah sambil duduk bersama di meja makan dan saling cerita. Puasa sekarang, justru terbalik. Saat sahur adalah saat aku pasti duduk bareng keluarga dan cerita kemarin ngapain aja. Setelah makan, ditutup dengan tajil bikinan mamah di sore sebelumnya.

Banyak perubahan yang terjadi antara puasa aku dulu dengan puasa sekarang. Tapi ada satu hal yang tetap sama. Sama-sama belum mendalami hikmah Ramadhannya. Tapi Alhamdulillah, masih dikasih kesempatan untuk kumpul bersama. Masih, hingga saat ini.

Comments

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…