Monday, 28 December 2009


A dearly friend was having a birthday yesterday. And she spent most of the day pampering herself. Did a massage, bought a pair of jeans and bangles, but I am very sure what matter the most was she enjoyed herself of being 29.

And at the same day, I surrendered myself getting trapped in a bookstore I always love: Kinokuniya, while the rain was pouring hard. There I was, sitting on the floor facing hundreds of books in hobby and craft section with Bono banging my ears. It has been a very long time since I had my Kinokuniya time. The last time I remembered was … maybe eight years ago.

“Happiness is a word for a feeling. Feelings are rarely understood; in a moment they are quickly forgotten and misremembered.” – Dr. Henry Carter, Shrink movie.

Yes, I most of the times lost in things I thought would make me happy. And it turns out, that I was not really happy after all. Instead, a simple thing like being alone for a while and got drown in the ocean of words could really made my day. And I just simply forgot that. Because I have been very busy misremembering things I thought would make me happier.

What is happiness?

Is it true that we will be happy if we know what we want?
Or will we be happy if we manage to differentiate our needs and wants? And which one will make us happier, when we got what we want or when we got our needs fulfilled?

After a journey to my past, I found out that for me; happiness is when I can embrace myself, little me and my alter ego (yes, those are the angels and nemesis deep in me) together. And is when I can forgive myself of not knowing what is happening or what to do.

Happy birthday, Ruri :) Though the first step toward happiness is always the hardest, I know you can do it.

Wednesday, 16 December 2009

an epilog to my journey

There I was, flying in between the clouds. With my two hands that were so tiny to bear the huge clouds. Clouds that used to be white and light as cotton, it became dark and swollen. It was almost raining. Then I stopped flying for a little while and enjoyed the scenery while floating in the air.

In a point of your life, when you just don’t know what to do, all you need is just admitting. And amazingly, the bulky swollen dark clouds started rearranged themselves into thin layers. It was thinner and thinner until I finally saw the clearer sky.

There I was with a beautiful stranger. Tanned skin, brownish shoulder-length hair, his hazel eyes greeted me. The sand beach sprinkle on his cheek gave a little spark for my day. In one word, he was an olive. We chat, we laughed under the starry sky and lulled by the whisper of the wave. No judgments, no assumptions, no demands, no expectation. For we thought we would never meet again in the other day. We just cherished the day we met and be grateful of what we had. Period. Sometimes, or many times if I may say, a stranger can really be your true friend.

The word ‘stranger’ is somewhat beautiful. If only I knew that I have always been a stranger everyday, I would never be afraid to always find the new me. For it will give me the strength to admit who I was and what I have done wrong. If only I knew the person I love has always been a stranger in everyday, I would never feel tired to know more about the new him/her in every single day. For the first time in my life, I realized that being inconsistent is good.

There I was, got drown in the wild ocean. Looking for a help but no one was there. When I got choked. When I lost my breath. When I felt I had enough. When I would rather die. But it did not kill me, anyway. It only made my lungs stronger to breathe more volume of the air. I have learnt that I need to scream louder. I have also learnt that I was my own savior and will always be. And I realized the wave that drowned me, was the one that pushed me up to the surface. Many times, it is a disaster or those people you hate that saved you.

May the positive energy stays in me and the people I love.

Anantara Seminyak, 2009.

Saturday, 12 December 2009

1212 greetings from bali


saat mata sudah tenggelam,
ada orang-orang yang baru saja menyongsong harinya.

- Anantara, untuk pesawat yang baru saja lepas landas di merah jingga surya -

Thursday, 10 December 2009

912 greetings from bali

itukah kenapa Tuhan memberiku rasa?
agar aku tak melulu bertanya kenapa dan bagaimana?

-Anantara, amongst the sips of Bali Colada-

Tuesday, 8 December 2009

812 greetings from bali

Matahari di Anantara

(aku pikir)
hari yang biasa
dimana ia telah selesai menempuh perjalanannya
dengan mata yang melorot, menyentuh ujung senja

(aku pikir)
hari yang biasa.
(aku rasa)

di sini, hari ini,
di tempat yang sama
tapi dengan rasa yang berbeda

saat berada di titik akhir, aku berpikir bagaimana semua berawal

saat hari berkumpul, bergumul, meluncur tak beratur serta tak lagi mampu diatur dan aku, kamu, dia, dan mereka menjadi satu dalam hari. kita bertemu, bersinggungan dan bergandengan. kenapa hari ini? kenapa tidak hari kemarin? kamu. dia. mereka. aku. seringkali semua membuatku meronta. tapi lebih seringnya, … membuatku lupa.

(aku pikir)
hari yang biasa.
(aku rasa)

tiga puluh kali aku mengelilingi matahari. tapi tak penuhnya aku mengerti diri, hingga detik ini. mungkin nanti, saat ragaku berganti dengan yang lain lagi. itulah kenapa Tuhan memberiku rasa? hingga aku tak hanya bertanya kenapa dan bagaimana?

(aku pikir)
hari yang biasa.
(aku rasa)

seperti yang selalu digariskan, hari ini berbeda dengan hari kemarin. dan hari manapun. sama asingnya dengan hari-hari sebelum dan sesudahnya. seandainya aku tahu aku bisa selalu belajar dari keasingan di hadapanku, tak akan lelahnya aku ingin mengenalmu. karena aku dan kamu tak pernah sama, tapi bukan berarti kita selalu berbeda. dan kita bertemu lagi. bersinggungan lagi, bergandengan lagi sampai tiba waktunya. lagi.

(aku pikir)
hari yang biasa.
(aku rasa)

saat mata menyentuh ujung senja dan hari telah hilang, menyisakan garis jelas berupa keyakinan dan harapan yang selalu menjadi bayang. maka ia pun pulang. mengepakkan sayap ke garis awan. kadang lelah, kadang patah, kadang menyerah. kadang cahaya kemarin lebih terang dari hari ini. dan esok, tak pernah memberi janji. tapi ia tahu, hari tak boleh berhenti. karena dia percaya, akan selalu ada cahaya yang membangunkannya esok hari.

(aku pikir)
hari yang biasa.
(aku rasa)

Monday, 7 December 2009

a prologue to my journey

funny. what a funny life. no matter how hard I tried ( I mean it when i wrote the 'hard' part), this is the journey I have to bear alone.
Even at the last minutes of the departure, when i still try (even harder).

in life or death, we are all gonna be alone.

and this is my first flight alone, to go to somewhere I do not know what I'm looking for.
viva la vida is banging my ear, as the plane took off its ground.
and I laughed.

gracias ala vida.
thanks to life.
what have I not experienced in my year of 30.
i felt so rich.
i have experienced a life full of love.
and full of those people around who loves me.

thank you God.
i know I always be the one who always have my fear deep in me: to be alone.
but I knew somehow, also deep in me, I always have the courage to always try.

the plane took off its ground.
giving me a beautiful scenery of the cottony clouds.
and I was looking at my own tiny hands.
can i bear these?
and the clowds slowly rearranged themselves.
spreading into thin layers, .. clear thin layers.
that is life.

when you stop rebelling, took out yourself from the satanic circle and just be an observer for a while.
forgetting of what you want, of what you are expecting, of your judgements.
you will see much clearer though.

'walking after you' is banging my ear now.
i know, someone will always be walking after me.

- in between the clouds, 06:50 -

Friday, 4 December 2009

Colorblind - counting crows

I am color...blind
Coffee black and egg white
Pull me out from inside
I am ready
I am ready
I am ready
I am

taffy stuck, tongue tied
Stuttered shook and uptight
Pull me out from inside
I am ready
I am ready
I am ready
I am...fine

I am covered in skin
No one gets to come in
Pull me out from inside
I am folded, and unfolded, and unfolding

I am
Coffee black and egg white
Pull me out from inside
I am ready
I am ready
I am ready
I am...fine
I am.... fine
I am fine

ps: Rio, thank you for the song!

Thursday, 26 November 2009


one of them is:
a courage to destroy a success you made for another victory - me -

thanks to soapgirlninja for her twitopic today. it did make me think :)

Wednesday, 18 November 2009

beri tahu

yang mana mimpi?
saat kemarin kamu datang,
atau besok saat kamu pergi?

lalu, ... apa yang kumiliki hari ini?

Tuesday, 10 November 2009


ini rumahku dan aku lahir serta dibesarkan di sini.


bahkan jika kamu memiliki kunci rumahku, akankah kamu memasukinya saat aku tidak di sana? kamu memang tidak akan merampok, tapi di situ masalahnya. kamu hanya ingin melihat-lihat. kamu hanya ingin tahu.
oh, … dan akhirnya kamu tahu aku memiliki mesin waktu. sekarang kamu tahu aku hidup di waktu pilihanku: kemarin, sekarang, dulu, sayang aku tidak bisa hidup di hari esok. lalu kamu menemukan seekor naga di kamarku. ia sedang tertidur pulas. dan … hey, perapianku masih menyala. itulah jawaban kenapa rumahku selalu hangat. dan kamu pun tahu aku memajang awetan mereka yang aku sayang di dinding. buat kamu, itu mengerikan. tapi buat aku, mereka menyenangkan. dan akhirnya kamu pun tahu, aku memiliki pemintal benang yang tak hentinya merajut mimpi-mimpiku.
kamu. memutuskan memasuki rumahku saat aku tak ada di sana untuk menyambutmu. dan kini kamu lari terbirit-birit ketakutan, tak siap melihat sebuah kebenaran.


berbondong-bondong mereka melewati rumahku. tapi bahkan jika mereka mengenal diriku, dan tahu pasti aku sedang berada di rumah, kenapa mereka bertanya kepada tetanggaku bagaimana kabarku? dan kamu tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. maka kamu bertanya ke tetangga yang lain lagi.
kamu bilang, kamu kenal aku. tapi apa yang telah kamu lakukan, membuatku tak lagi mengenalmu.


dan dia berdiri di depan pintu rumahku. karena aku mengundangnya. kubuka pintuku lebar-lebar hingga hangatnya perapian menyembur ke pipimu yang merah. “ini rumahku.” kataku. airnya tawar. piringnya retak. sendok dan garpunya berkarat. tapi kemudian kamu berpaling, dan berbisik kepada mereka, … "ternyata pemilik rumah ini seekor babi!"


aku, tidak lagi dihormati di rumahku sendiri. itulah kenapa kini aku menjelma Durga.

Monday, 9 November 2009


i am working in communication industry. but, it is not making me a better communicant.

i spend hours everyday, juggling for straightforward messaging. but i wonder why i cannot simplify things when i am talking to you. or talking about you.

i am fully-effort digging consumer insights, but i cannot understand what's inside your heart.

isn't it ... ironic? NO. it's just ... pathetic.

a little hi to my dream

someday, on April 30th 2009, at 02:38

once i was told about dream.
once i was told about aim.
once i was told about life.
once i was told about reality.

now i am facing them all.
turning my dream in to real aims in life.

when did i have the excited feeling of pulling my whole energy to reach my dream?
when did i last feel my heart beating fast, ... knowing of my dream is coming?
when did i feel my cheeks blush like a strawberry when i see ... hope?
when did i cried so hard, realising my dream has passed me by without a word.
when did i see it joyfuly alive?
when did it sing me a lullabye beneath the starry night?
when did it last wake me up with a gentle kiss?

it is dying. choked by realities.
and i'm kneeling down in devotion.

and with its last breath, it smiles at me.

Friday, 6 November 2009

bayang dalam gelap

di batas mimpi
dan embun pagi
rembulan masih menyisakan senyumnya
sisa semalam

dan pagi datang dalam hitungan jengkal
siap mencabik gelap
membangunkan yang masih terlelap


masih di sini.


... berpikir mengapa harus berhenti.kalau memang itu yang harus terjadi.

04:56 am, dalam perjalanan pulang mengejar bayang.

Wednesday, 4 November 2009


apa kabar kamu hari ini?
telahkah kamu menjamah malam dan
membiarkannya merengkuh telan ringkih tubuhmu

sampaikan rinduku akan hangat

Sunday, 1 November 2009


entah kenapa, hidupku seperti sebuah karnaval yang tak berkesudahan beberapa waktu terakhir ini. walau malam telah larut dan berganti pagi, suaranya masih memekakkan telinga. genderangnya masih berdentam meregang hati. bayangan confettinya yang berwarna warni masih mengejar menjadi bayang kelabu yang tak hentinya berlari.
badut-badut itu masih memakai kostum yang sama, setiap hari. seutas benang yang membentang menguji nyali, masih di sana untuk dilewati.

semuanya berteriak. semuanya hingar bingar. semuanya terdengar. semuanya harus dilakukan. semuanya tidak bisa ditinggalkan.

aku. beberapa waktu yang lalu aku bisa menghadapi semuanya.

tapi entah kenapa, aku ingin diriku.
lebih banyak lagi.

Friday, 16 October 2009

Layang. Terbang. Pulang.

Akulah sang layang. Merentang, membentang, menari-nari di angkasa; gemulai mengikuti kemana angin bertiup. Berteman langit dan pepohonan, berpayung pelangi, bermata embun pagi. Menyapa burung, bernafas debu, telingaku meliar mendengarkan setiap bisikan.

Aku menatap ke kejauhan. Melampaui pandanganmu.

Ada jingga yang menyapaku di penghujung hari. Seraya melambaikan tangannya, ia berkata “Sampai Jumpa!” Dan aku pun tersenyum. “Aku tidak pernah pergi. Aku selalu di sini. Dan kutahu kamu akan datang lagi esok hari.” Kataku dalam hati.

Lalu aku dengarkan ceritamu, burung kecil bersayap mungil. Sayap yang mengantarmu menjelajah angkasa, meniti setiap lekuk angin dan menyecap gelombang dengan ujung jemari kaki.

Dan aku melihat batas biru diantara langit dan pelupuk mataku. Menggelegak, melambai-lambai memanggilku dari jauh. Aku membalas lambaiannya. Aku di sini. Kamu di sana. Ada antara disela-sela. Kamu terlihat begitu damai, tapi aku tidak pernah tahu betapa dalam kamu menyimpan. Aku hanya bisa melihat derumu dan mendengar desahmu. Dan bagiku, itu cukup.

Aku tidak sendiri di kegelapan. Ada jutaan bintang yang bernyanyi mengantarku ke alam mimpi. Dan embun pagi yang menyelimuti sekaligus menepis dahaga di setiap titiknya; membangunkanku di pagi hari.

Akulah sang layang. Dengan ribuan kilometer benang membentang. Rindu terbang.

Wednesday, 14 October 2009


seperti marathon yang terus berlari tak terkendali mengejar tanpa henti berhari-hari menyisakan gelembung kantuk di bawah mata dan kemerahan amarah serta setetes lelah yang terus menguntit kemanapun aku pergi tanpa tega membiarkan semuanya berhenti

apa sih mau kamu tanyaku dalam hati dan kutahu kamu tidak akan pernah mau menjawab selain membuntuti langkah dan deru nafasku kemarin, hari ini, dan mungkin esok hari saat mataku tak ingin lagi berteman dengan cahaya

dini hari ini aku turuti maumu untuk istirahat dari lelahnya tidur tanpa tahu apa yang harus aku rasa pikir laku selain sebentuk kosong yang membingungkan dan kusingkap selimut tanda tanya menggantikannya dengan secangkir susu hangat

untuk pertama kali dalam hidup kurindukan mimpi mimpiku

... yang terburuk sekalipun.

Monday, 12 October 2009

sore yang indah

Mereka duduk di beranda. Dengan sebatang rokok di tangan masing – masing. Bara merahnya perlahan melahap puntung tanpa bantuan hisapan. Tak pernah salah satu dari mereka bisa menerka, waktu yang berserak terkumpul menjadi sebuah rasa tanpa disengaja.

Di sebuah sore yang indah.

Di sebuah kafetaria, dia duduk sendiri. Menikmati setiap detik yang bergulir. Tanpa lagi memikirkan kemarin dan hari esok. Bahkan tak ada sisa tadi pagi. Yang ada hanya saat ini, pertama kali dalam hidupnya menjadi sahabat bagi dirinya sendiri.

Di sebuah sore yang indah.

Seorang laki-laki menggelendot manja di pundak seorang perempuan, sibuk menghirup aroma kuduknya. Perlahan tangannya bergerak ke depan, memeluk perempuan itu. Dia tak ingin berkedip, supaya tak akan lepas pandangan darinya. Ingin menikmati setiap sepersekian detik yang tersisa, dia tidak tahu perempuan di depannya berderai air mata tanpa suara. Apa yang selalu diinginkannya kini hadir di depan mata. Tapi bukan untuk waktu yang lama. Dan tak akan jadi miliknya.

Di sebuah sore yang indah.

Satu orang telah berhasil mengerti apa artinya cinta. Saat dia membuka dirinya untuk menjadi sakit dan terpuruk dengan penghianatan orang yang dia percaya.

Di sebuah sore yang indah.

Seorang laki-laki duduk sambil membaca buku. Halaman demi halaman yang membalik dan aksara yang dilafalkannya dalam hati, tak ada yang menempel karena kosongnya hati. Dia tidak percaya mimpi. Dia tidak mengenal fiksi. Tapi tak pernah dia kehilangan harapan akan datangnya sebuah sore yang indah.

Seperti hari ini.

Tuesday, 6 October 2009

Monday, 5 October 2009


ada kalanya dimana kita memang harus terjatuh dan terjatuh lagi
bukan karena bodoh
bukan karena kita nggak belajar dari kesalahan
tapi karena terkadang kita butuh menguji batas kemampuan

untuk tahu.
hanya itu.

apakah setiap rasa
masih terasa sama
akan tetap sama
atau semuanya mati tak bersisa

dan saat kamu menatapnya
tanpa ada definisi menyelip di setiap kedip
apakah itu menjadi isyarat
bahwa kita sebaiknya berhenti mencoba?
apakah saatnya berhenti menguji batas
karena kita sudah jauh melewati batas
dengan membawa hari esok
menjadi hari ini

Thursday, 1 October 2009

second chance

I had never imagined I would have ever wanted a child. So bad. To me marriage itself is a strange thing; let alone of having another bunch of little me or him in our life. But one day, in my life after marriage, I felt so lonely. I want to have a bump on my flat stomach.

There will come a moment when you realize that life is not only about yourself or the one you love. Not only about to get what you want and reducing what ifs from your brain. There will come a moment when you want to start giving. On the day you'll never know, it will just ... come.

And ever since, I recited “Yaa Mushawwir” after I pray. And sometimes, all day long.

To get what you want, is not easy. When you get it easy, consider it’s a temptation. But when you get it harder, consider it’s a reward. I’d never think The Almighty was too busy to hear my pray. He just wanted me to rethink how bad do I want that little bump that will cause me excess weight, stretch marks all over the place, hormonal yo-yo and more over, a lifetime commitment. No commitment takes your life but being a parent. There will always be ex-hubby/wife, ex-boy/girlfriends, but there will never be ex-child.

What made me want the little bump so bad?

Yes. I wanted a second chance. To make a better me. Better future. That’s why I named him Titan, a satellite of Saturn. It was made of the same material like the Earth, which I thought my one and only hope to live in. Titan is my second chance. And hopefully, our hope.

You can lose power. You can lose love. But you can not ever lose hope.

And there I was, hugging a little me in my arm with his bursting cry. For the first time, my tears and his became one. We cried in silence. I had never thought I could ever split myself in two. Share my oxygen, my heartbeat, he took away my calcium for his bone so I could have an osteoporosis someday in my old days. There flows my blood inside his veins and my breast milk sculpted in his bone.

And for this little bump, I have been very selfish. I have prayed for one specific thing all along: I hope I can always learn from him. And God really works in a mysterious way. My son is a little me. When I’m standing in front of my little man, it is like that I am standing in front of a gigantic mirror and see my reflection.

The way he nags, how he got mad, his mischief, his ignorant look, his testing the limit habits, his love for water; stars and the moon, the way he tells story, his expressive eyes, his spontaneous dance, ... we are just a perfect drama pair. Poor hubby for having them all :)

There was a time when he happily held my hand and dragged me to a corner of a Plaza where he saw gigantic tv screen. And he asked me to dance with him following the 3D midgets. And we just ... danced. Suddenly, my mind blasted to a night where I had coffee with someone and I spontaneously dragged him outside the cafe and asked him to hug me beneath the starry sky.

There was a time when I got angry. And I only looked into his eyes, sharply. But do you have an idea of how he reacted? He would only gave me a nasty grin combined with his cute smile, blinking eyes ... and kissed me on the lips. Sometimes with a hug, if did something veeery bad. At that time, my mind blasted. I was on my 6th grade, and dad is standing in front of me. Very mad. And all I did was, well... like always, just grinned and ask him in the end "Mau dibikinin lemon tea, Pap?"

Dear God,
You really work in a mysterious way. You want me to learn about myself by giving the second me. For you have given me a second chance to be a better me. And I am so grateful. Thank You.

(This is surely the most narcistic writing about me as a person, a wife, and obviously ... as a mother :) )

Tuesday, 29 September 2009

Lentera Langit

Dulu, dulu sekali. Langit begitu terang benderang dengan kemilau bintang. Semua saling beradu jauh melemparkan cahayanya. Tidak, mereka tidak akan membutakanmu. Cahaya mereka begitu terang, namun juga begitu lembut. Cahaya gemintang itu akan terbias di bola mata mereka yang kamu sayang saat kamu memandangnya.

Di langit yang dulunya terang itulah duduk seorang peri di ujung biduk rembulan dengan cahayanya yang temaram. Sendirian dan kedinginan, ia memandang ke kejauhan. Di belakangnya, menggantunglah lentera-lentera langit malam yang biasa kamu sebut bintang. Dan peri dengan sayap kecil inilah yang menjaga agar lentera-lentera itu agar senantiasa bercahaya. Sayap kecilnya telah mengantarnya menjelajah angkasa selama jutaan tahun lamanya. Ia berkelana mencari bintang-bintang yang mulai temaram. Dan jari-jarinya yang mungil akan menggosok permukaan setiap bintang supaya kembali bercahaya. Dan ia akan mengecupnya, supaya apinya kembali terang. Seperti dulu.

Tiba – tiba sebuah lentera yang menggantung di atas peri itu bergetar hebat. Tanpa ragu-ragu, peri itu segera mengambil ancang-ancang dan siap terbang. Dibungkukannya tubuhnya dan kaki kirinya yang mungil pun maju, bersiap mengambil langkah seribu. Dan … hop! Ia pun terbang. Tapi telat. Lentera yang bergetar hebat itu terlanjur jatuh. Meninggalkan buntut panjang yang berwarna keperakan dan melintas di kegelapan. Dan peri itu hanya menatap diam.

Setiap anak manusia menangis, gugurlah satu bintang di angkasa. Karenanya, hilanglah satu cahaya yang menerangi wajah sang peri. Hanya kamu yang bisa mengembalikan kilau mereka. Melalui tawa dan hangatnya pelukmu.

Fur Titan.

Monday, 28 September 2009


God arranged a little nice surprise. That satisfies my visions of you. With a sunny gold wallpaper and artificial chilly breeze, I look at you carefully. Those eyes I used to stare at every single day. So close that I could even count how much eye lashes had fallen off from your eyes. And you start talking things you have always told repeatedly. I forgot how much you have told me those stories. And I forget how much I have laughed.

Then it starts raining. The fragrant of the wet soil starts to tickle my nostrils and brings me to the old days of ours. We were just two little girls who hugged and quarreled at the same time. You shared your bread; I gave you my apple. We drank the same bottle and read the cloud. And when it rained, we would happily dance until the rainbow come. And we would stand under the rainbow that spread like angel's wing. In between the clouds. I took a brush, pick a color of the rainbow and gave it to you. You smiled, and started painting the sky.

And the rain stops. I know your rainbow is sitting in front of me. Yours. Not ours. I muffle my lingering thoughts by looking at my frozen bluish nail.

What’s with our rainbow? Don’t you like its color? Do you want a darker vermillion or rather a lighter blue? Need a little bit injection of cyan on the lime? I ask you in my heart.

Suddenly I feel the intense heat of the sun burning my skin. So I just look up and that is the time I see your rainbow, if I can say it is a rainbow. It is made of one tone of color, just like the color of ... yours! If only I could pick the rainbow’s ink and shoot it through my veins, maybe I would. So I can be the same color as you. But I would not do such a thing. Even if I have to lose you, I cannot lose myself.

Thursday, 17 September 2009


sambil melangkah dengan script-script radio di genggaman, aku memandangnya. tanpa sadar, aku melangkah ke arahnya. dan tiba-tiba ....

"boleh meluk nggak? baru sadar kamu akan pergi."

dan dia hanya tersenyum dan memelukku kembali.
"aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..." bisiknya datar.

sementara itu, suaraku mulai bergetar.
"saat hari itu datang, aku harap kamu mengerti kenapa aku memilih pulang"

dia tetap datar, dan meredalah getarku.
mungkin dia tidak peduli. mungkin dia tak mampu berekspresi.

tapi aku senang. aku lega.
sampai bertemu di suatu sore.


Tuesday, 15 September 2009

diantara, dan yang menyertainya.

tanpa terasa. karena terbiasa, semakin hari jarak itu semakin dekat. dan karena terbiasa, tak lagi terindahkan apa yang ada di sekeliling kala perjalanan menuju ke sana. tak ada yang tak biasa, semua terlihat sama. sekarang, atau di hari-hari sebelumnya.

saat jarak menjadi begitu dekat, semua menjadi begitu kabur. seperti saat kamu memicingkan mata, maka tak terlihat lagi salur-salur bulu mata di sana. dan saat jarak menjadi begitu dekat, semua jadi begitu buram. semua menjadi satu pandang. tak ada lagi garis tegas. tak ada lagi bentuk yang jelas. ini menjadi itu. itu menjadi ini. aku menjadi kamu. kamu menjadi aku. aku kehilangan kamu. kamu kehilangan aku. aku kehilangan aku. kamu kehilangan kamu. aku tak lagi kenal kamu. kamu tak lagi kenal aku. kamu tak kenal kamu. dan aku, tak kenal aku.

karena jarak yang mendekati, tidaklah sendiri. ia datang bersama waktu. dan hanya waktulah yang tetap menjadi dirinya sendiri. ia menggilas apa yang ada di hadapan, karena ia harus terus berjalan. perlahan, tapi pasti. waktu telah melakukan pembunuhan. itulah mengapa tak ada lagi jarak diantara kita.

dan kamu meminta waktu?

ia selalu ada di sana, sayang. tanpa diminta ia selalu mengiringi kamu. begitu juga aku. tidak kurang. tidak lebih. dalam bentuknya yang konstan. tidak akan ia menunggumu. atau aku. dan tidak pula ia akan mengejar.

jika pertama kali rasanya begitu menyenangkan, kenapa sekarang rasa itu terlupakan?

waktu telah membunuh rasa. waktu telah membunuh jarak. waktu telah menghapus apa yang dulu kita ingat. dan waktu tidak akan menyembuhkan perasaan sakit yang ditimbulkan karenanya.

tapi waktu dapat menghidupkan kembali jarak yang hilang. atau mendekatkan yang membentang. hingga terbentuk cukup ruang. untuk kamu. untuk aku. untuk kita berkembang.

Friday, 11 September 2009

pagi itu akhirnya datang juga

angin yang bertiup pelan disela kudukku malah membuatku terbangun, dan aku menatap ke kejauhan
membentanglah lautan biru yang luas berbatas pandang
tak ada fatamorgana
sebuah garis dengan jelas membelah samudra dan langit cantik di atasnya

baru saja, sang awan menumpahkan amarahnya
baru saja, langit menumpahkan tangisnya
angin pun tak kalah gaya, ia ikut mengacaukan segalanya
saling mengejar dan terus menyakiti
sampai akhirnya datanglah matahari

pagi yang indah itu akhirnya datang
dan laut selepas badai memang jauh lebih tenang

aku duduk sendiri
dulu, ada istana pasir di sini
namun sang ombak menjilatnya untuk yang kesekian kali
tanpa perlawanan,
saat ini aku hanya ingin menggenggam butiran yang tersisa
kan kupunguti satu per satu butiran yang menempel di telapak tangan
di sela kuku-kuku
yang berceceran di jalan
untuk kubawa pulang

tapi itu nanti

saat ini aku hanya ingin menikmati
membiarkan ombak-ombak kecil tertawa
membiarkan telingaku meliar
berserah pada angin yang mendesah

inilah titik yang pernah kutanya
titik yang memaksaku berhenti
untuk merasa sakitnya sakit
untuk aku bisa mengerti

dan itulah indahnya menjadi seorang manusia



do you know when is the perfect timing to hurt someone?
it is when that someone is changing her / his life: simply because of you.

all you gotta do is, toss a little nasty thing, only a 'little' nasty please remember. and the explossion will be way out beyond of what you expected. you will twist the climax, put a bit more drama, and a sure thing; you might change the end of the story.

and good movie doesn't have to be a happy ending, rite?

Wednesday, 9 September 2009

kamu dan aku

dimana kamu?

hanya ada jawaban kesenyapan.

kamu tidak pernah terlahir untuk ini.
kamu tak pernah hadir menjadi saksi perselingkuhan mimpi dan embun pagi
kamu takut gelap.
kamu takut tentakel-tentakel malam yang siap menjerat
hingga bahkan kamu tak mampu lagi mengerjap.

tidak seperti aku
akulah malam, akulah durga, akulah sang memedi.
aku yang mengangkangi malam dengan perut buncit kekenyangan akibat tak habisnya menjilati asin tubuhku.
entah keringat, entah air mata.
apalah bedanya?

dimana kamu?

kamu lebih senang meringkuk dalam selimutmu.
berteman dengan malaikat dan bintang-bintang yang selalu menghiasi mimpimu.
dengan lantunan lantunan nina bobo yang lembut, yang membuat aku semaput.

sementara aku?
sedang asyik bergaul dengan buruknya nyata
berteman akrab dengan setan setan kecil yang tak hentinya membuat aku menari bertelanjang kaki

kita memang tidak sama
dan itulah sebabnya kenapa kita saling merindu

sayang, kita tidak pernah bertemu.

Monday, 7 September 2009


berharap aku bisa berhenti.
tanpa memikirkan satu hal pun.
tanpa memikirkan aku.
tanpa memikirkan dia.
tanpa memikirkan mereka.
aku ingin jadi ruang yang hampa.
aku ingin jadi benda yang tak berupa.
untuk sejenak saja.
aku ingin titikku.
aku ingin dia memaksaku berhenti:
aku ingin titikku. .
aku ingin menjadi beku.
aku ingin menjadi kaku.
sejenak saja.

tapi tidak bisa.

karena aku ingin yang telah hilang diantara.

Friday, 28 August 2009

Rain King

I’m the mother earth. The only woman without vagina. I am the only mother with obligations to nurse children who aren’t mine. Not any of them even came out of my womb. I wipe their tears. I watch them play. I feed them. I did not even dare to shed a tear when they gouged me for slender feet of a carrousel. Deeply buried within me. For the children’s laughter to me is the most beautiful song I have ever heard.

And all my life, what I want to taste is the kiss of the Rain King. Even only for a split second, I would give up my all to taste the suck of his lips. I would close my eyes, and would never mind to be blind if I have to. For my eyes will only tell the truth.

I had never seen the king. I do not even know what he looks like. All I know is the moaning sound of the sky, when she and the king are making love. And from beneath, I can only see their sparks of lust. And at that time, I know that the king and sky become one.

But not long after that, the king would cry. He would cry so hard, that the sky could never retain his tears.

And me the mother earth, will let his tears poured-down upon me. Pour it down, pour it down and let me absorb your grieve oh my king of rain.

And I envy you; sky upon me. You are a woman with so many faces. Your soft cottony fake smile would cherish the day of everyone’s. And my children would love you so much as you are the best escort for their kites.

You, at least you have ever felt the feeling I have been craving for. His lick, his saliva that would quench your thirst , his sucks on your lips, his twirling tongue that forms the elixir of love.

Damn you, coward woman queen of masquerade.
If only you knew, you and I will be stand as one in the end.


people say your heart will speak louder than the sea wave roars.
why can't i hear mine at this moment?

Thursday, 27 August 2009

air, bejana dan api

air di bejana mendidih
membeleguk di suhu seratus derajat selsius
dan tetap berada di suhu tersebut, apapun yang terjadi

itulah kemarahan.

didihan dibiarkan, lalu uapnya terbang ke udara
dan bejana pun mengering
walau dengan jangka waktu yang lama

itulah melupakan.

air didihan dituang ke cangkir
lebih cepat dingin,
bejana pun lebih cepat mengering.

itulah berbagi.

dan bejana rusak dimakan api
meninggalkan cacat yang lama kelamaan menjadi karat
tapi perlahan, bejana bisa diperbaiki dan dibersihkan

itulah memaafkan.

-intermezo di sela 3 hari hibernasi-

perempuan di titik nol

seorang perempuan terlihat acak-acakan
dia baru saja melaju kencang
memacu kendaraan dengan semangat yang tak terpatahkan
begitu kencang sampai kecelakaan tak lagi dapat terelakkan
ia pun berhenti

ia berada di titik nol.

perempuan yang satu lagi terlihat kelelahan
ia telah melalui perjalanan yang panjang
dengan kemacetan yang begitu membosankan
perjalanan masih belum selesai, namun dia terlalu lelah untuk melanjutkan
ia pun berhenti

ia berada di titik nol.

perempuan yang lain begitu menikmati perjalanan yang menyenangkan
dengan lagu dan angin sepoi-sepoi menyapu rambutnya yang panjang
ia melaju santai, tak terasa angin dan lagu begitu lembut memabukkan
ia pun tertidur di tengah jalan
ia berhenti

ia berada di titik nol.

perempuan terakhir dalam kebingungan
ia pernah melaju kencang
ia pernah terperangkap di kemacetan
ia pernah ketiduran

ia berada di titik nol.

entah ingin berhenti
atau baru saja menepi
atau sebenarnya,
ia belum menyalakan mesinnya

selamat tidur, titan

pejamkan matamu, nak

lalu kuelus lembut alis matamu
dan kau pun menurut
membiarkan tirai-tirai matamu bergelayut

lalu dengar,
dengarkan semua hingar bingar
biarkan telingamu pergi jauh merantau, biarkan mereka meliar


dengarkan rintik hujan yang meneduhkan
dengarkan sang rembulan
dengarkan bintang-bintang
dengarkan embun malam di ujung dedaunan
dengarkan katak dan jangkrik bernyanyi
dengarkan dengung mesin-mesin tak bernyawa tapi bisa mati
dengarkan detik waktu
dengarkan pendar lampu
dengarkan doaku
dengarkan degup jantungku

dan jauh, jauh di sana
terus, terus hampiri

makin dekat
sedikit lagi
bisa kamu dengar, nak?

itu suara hatimu.

Wednesday, 19 August 2009

i, me and myself

can you imagine living in denial? that you will not be able to sleep, to eat, to think, because of things that keep lingering at the back of your head. and your heart, of course. everything becomes wrong. totally wrong. you are wrong, people are wrong.

and have you ever betrayed yourself? and do you have an idea of how it feels? that you would curse yourself and you will wish that you would rather die for you have no more reasons to live. that you could not even stare at your own eyes because they can see what you feel. and you would rather be blind, for you do not want to see the truth.

have you ever been deaf, that you could not even hear what your heart tells you?
and you start asking yourself what the hell are you doing in here and start asking what ifs.

isn't it just nice if you can make peace with yourself? therefore you can make peace in this universe.

Monday, 17 August 2009

Temui aku lagi di sini (2)

selamat malam,

sampai kaku mulutku lelah ribuan kali menyebut
dan bintang yang biasa kusematkan di matamu, kian meredup
tak lagi pendarnya mampu menemani
dan cerita-cerita yang biasa kubisikkan menumpuk
acak-acakan tak berurutan ujung dan pangkal
tirai antara kamu dan aku yang mendesah hangat seperti sinar mentari pagi
membentang laksana jeda di antara dua galaksi
dan putaran bulan mengitari bumi
melintasi matahari, kini dan nanti
perlahan menggumpal mewujudkan aku dan kamu dalam satuan waktu
dan sinar itu pun melesat diantara kedip mata
menyisakan sedikit rasa
sayapmu yang dulunya kecil kini membentang siap menantang
cukuplah aku mengajarimu tentang kebebasan, seperti kamu mengajariku apa arti pulang

saatnya kamu pergi.

temui aku lagi
di sini

Tuesday, 11 August 2009


matahari sudah lama mati
dan bintang yang biasanya ada di sana, hilang entah kemana
aku memanggil cahaya yang menjawab di ujung purnama
dan ia pun datang membawa keenam saudara kembarnya
dua diantaranya memberiku harapan
dua lagi mengajarkanku untuk memiliki keinginan
dan dua terakhir, memintaku untuk melupakan
apa yang dahulu telah mereka ajarkan

selamat datang, ramadhan :)

Friday, 7 August 2009

Temui aku lagi di sini (1)

selamat pagi,

lalu kukembalikan ke langit bintang yang pendarnya menemanimu semalam
dan kulipat cerita-cerita yang kubisikkan di mimpimu
lalu kubuka tirai harimu
agar hangatnya menjemputmu

sampai nanti,
temui aku lagi
di sini

magical imagination

Every word is part of a picture. Every sentence is a picture. All you do, is let your imagination connect them together. If you have an imagination that is.

- The Mighty -

Tuesday, 4 August 2009

karma (editted)

after those couple cups of poisons
nicely served upon your face
now it is much easier for you
to spit what you almost chew

i wish you were dead
i wish you were dead
i wish you once again
were dead

so i could meet you
in here
let me show you

it is our next life
and you would lick my wound
and you would wipe the dirt on the top of my corpse
which no longer but a mere mortal
and you would kiss me with your rottened lips
that would taste sweeter like never

and i would hug you with my broken wings
lull you with an eerie fairy song
and i would cut my hand with the sharpest tongue
to fulfill your crave of flesh and blood
until i'm running out of my light

i wish you were dead.

like me.

and we would happily dance together
under the sky of grieve
and a sparkling tear drops

you and me.


serpihan air itu datang lagi
menderu wajahku, menghalau pikiranku kembali ke masa itu
semasa aku kencing di celana

ternyata masih sama.

Friday, 24 July 2009

sisa hari ini

aku tidak tahu apa-apa.
aku hanya pengumpul kata-kata.
aku hanya menyambung makna.
aku hidup di titik sekarang. dan sedikit kemudian.

untuk itukah aku Kamu ciptakan?

-Lowe, 24.07.09 / 21.30-

Monday, 8 June 2009


Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Lalu tanpa ba-bi-bu, ibu jariku mulai menari di atas keypad hibrida handphone dan walkman-ku.

When is your flight? Save flight, get well soon … jangan lupa pulang ya!

Dan tak berapa lama, ciptaan hibrida itu bergetar. Sebuah amplop muncul di permukaannya. Dengan sekali klik, amplop itu mudah sekali digelitik untuk membuka rahasia pengirimnya.

“Thanks, dear friend!”

Dan tiba-tiba Pikiranku pergi meninggalkan raganya. Ia menari dengan leluasa tanpa perlu merasa berdosa. Seperti biasa. Lalu kamu melesat secepat kilat ke ujung langit. Tanpa pamit. Dan meninggalkanku dalam kehampaan. Dalam ribuan kuadrat pertanyaan. Di saat yang sama, di ujung sana, kamu tersenyum ke arahku. “Dari sini, aku selalu bisa memandangmu.” Katamu, masih duduk santai di tepian bintang. Kecil, namun kamu begitu terang di langit malam yang tak lagi perawan. Tak ada lagi selaput kabut yang membatasi. Aku dan kamu.

Pulanglah, pikiranku.

Seperti dia yang kini pulang ke pelukan ibunya. Lalu ia bergelung dalam pelukan erat. Mendekap hangat. Menyusu. Kali ini tanpa nafsu. Mulutnya mencucu sambil mendengarkan irama detak jantung perempuan yang pernah meregang nyawa melahirkannya. Lalu tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir di kedua sudut matanya. Sama hangatnya dengan susu yang sedang mengalir di kerongkongannya. Kehangatan itu mendesis, mengiris-iris sepi di sekujur tubuhnya yang dingin. Terlalu lama diterpa angin. Bukan ia tak ingin pulang. Hanya saja, ia telah lama hilang.

Kenapa kamu inginkan aku pulang? Tanyamu. Masih sambil duduk santai di tepi bintang. Kelap-kelip di tengah gelapnya malam. Pulang. Artinya kembali ke sarang. Tempat dimana seharusnya aku atau kamu tidak pernah merasa terbuang. Tapi kamu yang ingin aku pergi dari kepalamu! Kamu yang mengusirku, ingat? Kata kamu aku bejat. Aku pikiran laknat. Aku harus disunat. Karenanya aku minggat!

Lalu meledaklah tangisnya. Dan saat itu langit seolah menggelegar seperti serpihan kelopak mawar yang tersebar di galaksi. Berkelap-kelip di tengah gelapnya malam, serpihan air matamu menjelma serupa bintang. Yang tak terlihat di langit siang. Yang memang tak pernah muncul di saat aku berpikir terang.
Dan kamu selalu di sana. Dengan wajah malu-malu kamu menampakkan diri dalam kegelapan yang terdalam. Di batas mimpi. Antara sepi dan embun pagi. Antara ingin dan pasti.

Langit terang benderang.
Kegelapan bertabur bintang.
Dan aku berada di kedua ambang.

Kapan kamu pulang? Aku mendesah putus asa. “Kapanpun kamu inginkan, perempuan suci.” Katamu.
Dan aku hanya terpaku. Tergugu. Apalah aku tanpa kamu. Apalah suci tanpa benci. Apalah pahala tanpa dosa. Dan aku tertunduk. Menatapi kakiku yang jenjang dan telanjang. Yang telah menjejak ribuan ranjang.

Dan detik itu juga kamu hinggap di benakku. Melilitku dengan sayap lembutmu. Menggelitikku dengan lidahmu. Menelanjangiku hanya dengan satu kedipan matamu. Lalu aku pun berteriak. Bukan! Bukan minta tolong. Tapi seperti anjing yang melolong. Penuh kerinduan.

Kamu pulang. Dan aku seakan terbang melayang.

Dan aku akan mengejarmu.
Sampai kamu pergi lagi.

Di batas mimpi dan embun pagi, 8 juni 2009, 02:30:57

Thursday, 4 June 2009


aku hanya ingin duduk berdampingan.
terbenam dalam kabut, mengurai kalut.
lalu kita ikut menghirup kabut tebal yang melubangi paru-paru.
menghisapnya dalam-dalam, lalu perlahan ia merangkak naik lewat sela hidungmu.
melewati lubang yang menyempit, ia menggelitik ujung ubun-ubun. tanpa ampun.
mendesak neuron-neuron yang membuatku sesak.
di dada, juga di kepala.

dan kita hanya akan diam.
tenggelam, dengan pikiran-pikiran yang dalam.
kamu pikirkan dia. kamu pikirkan mereka. aku pikirkan kamu. kamu tak peduli. aku juga.
lalu kita diam tanpa bicara. tanpa harus ada aksara. tapi punya makna.

Lowe, 22:02

Tuesday, 28 April 2009

nite shadow

blinded star sparkling eye
lies beneath the stormy sky
warmth wind kisses chill
isn't it true that you are here?

flies flapping lies flying
all becomes the words dying
clinking through snapping glasses
still i should believe in you without cause

for i have thought a million things
for i have flown a million wings
share the love ignored them
where you are, therefore i am.

- duet puisi gue dan burat via Yahoo! Messenger, ... sekitar 4 tahun yang lalu, dan baru kemarin kita duduk bareng untuk ngasih judulnya -


Wednesday, 22 April 2009

chapter three

and the bubble pops off into thin air.
and so is my love.

-dedicated to darkfuchsia-

Monday, 30 March 2009

Take My Hand

Yes, we are crossing the road my dearest secret love.
Indeed the day is so busy. They’re busy looking at us, maybe. Can’t you see that?
They’re jealous. Never mind them.

Yes, take my hand my dearest secret love.
Take them and hold them tight, and never let me go.
Let them know,
… yes I want them to know.

Run, run my dearest secret love.
Run as fast as you can!
Just like I ran from reality, just like you ran away from your feelings for me.

Yes, take my hand my dearest secret love.
Take and hold them tight, and never ever let me go.

(30.03.09 / 16.42)

Tuesday, 24 March 2009

It’s been a while

It’s been a while since I last laughed out loud in this office.
going through all deadlines,
all hatreds,
all well-jealous thingy,
all disappointment s and those promises,
all stupidities,
all targets, all cuts by a million buts,
all those moronic people,
all those ego.

This morning, I had just asked myself. I like this industry, but do I love what I am doing?
Well, .. these are some of the things that make me hanging here. Still.
I love you guys!


Thursday, 19 March 2009


what makes it wonderful when you have crushed on someone?


when everything is so unclear.
when you have so many things to ponder.
when you cowardly look at his eyes.
when you feel there is something with him but you do not know and too afraid to ask.
when bumping into his eyes makes your cheek flushes like strawberry ... so delightful to be kissed.
when you imagine his soft, marshmellowy lips touch yours.
when you imagine you are crossing the road in Paris, hand in hand in a summer rain.
when you just don't know what to do.
when you just want the whole world to know but you can not tell.
when your heart is pounding hard, and you do not know wether it is happy or worry.
when you suddenly become creative making pick up lines.
when a 'hi' hears like a pope's sermon
when you just pretend not to hear his voice, and try not to look at where the voice comes from.

when everything is so beautifuly captured in your mind.

and when you know that he loves you to,
slowly everything will be back to normal.
and you just keep looking and asking where the love has gone.


(19.03.09 / 19.30)

Wednesday, 18 March 2009

i miss again

as the rain starts falling
to the ground
time and time
as i sit on the bench
here with the wind, with the sky
with the spring, with the autumn
with love season, never spoken
with a word, without a sound

Tuesday, 10 March 2009

it's been a while

it's been a while since we left our dreams

that is now like scattered pearls

and we slipped away

as the time passes by

"Don't leave me" I say

"Why don't you try to catch me, this time? it says.

Tuesday, 3 February 2009

Just another day

Woke up from the King Koil land, and a fluffy Romance comforter.

I took a gasp of free unbranded air. Touched the moist morning dew with no price and watched the green velvety grass through the magnificent pixels of my eyes.

A drop of Dove and a pail of fresh water, just a perfect combination to sweep my sleepy eyes away. A swipe of ROC on my cheek, and a Body Shop comb softly touch my hair. A sprinkle of baby powder and a perfect smear of the Mennen Lady Speed Stick deo. And an Estee Lauder Pleasure, squirted on my neck.

Such a day-booster. *Finger crossings.

A miss sixty brown turtle neck matched with an A-line unbranded jeans skirt. Last, a pink hooded jacket warmth me up from this never ending summer rain.

A Jesselyn loaf bread. With a spread of Elle & Vire 75% trim fat butter and colorful chocolate sprinkle. A strawberry jam with a glass of low-fat Ultra Milk. A package of nutrition to start my day.

I surely hope so.

On my lunch box: rice, Indonesian steak, mixed veggies and two cubes of a fried bean curd.

And off me go. Bubble my Titan a good bye through my Honda City.

Once arrived, need to get to my Niaga ATM. Pay some Citibank and Telkomsel bills.

There I was. Watching the ads on some kind of branded (but I forgot what it is) TV panel while waiting the elevator to stop by. 6th floor.

My another phase of life.

And here I am, staring at the Pandora Box called monitor. An HP. Opening Yahoo messenger, Facebook, Multiply, Google, and Outlook Express application. Getting autistic with the Sennheiser headphone.

Chit and chat.
This and that.

Waiting the time goes by. Till I’m back to my King Koil land. And let the other day begins.


Lowe, Feb 3rd 2009

Thursday, 29 January 2009

Perempuan Sederhana

Dingin pagi itu menggigit. surya yang rabun ayam. Bulu kuduk segera berdiri menyambut tetes embun yang begitu murni. Kusibak jendela. Dan tertatih, perempuan tua itu melewati rumahku. Membawa cangkul, membawa arit dan sekantung karung beras kosong temuan dari tempat sampah. Tentu bukan bekas karung beras miliknya. Mana pernah punya?


Mata surya mulai terbuka. Semua denyut kehidupan mulai berdetak. Begitu pula denyut hidupku.

Dan perempuan itu kembali . Kini makin jelas rautnya. Gurat kehidupan menggelayuti matanya. Mengikis senyumannya. Dengan cangkul dan arit di tangan kanan. Dan setengah karung bunga mawar kuburan di kanannya. Hasil petikan di pagi buta. Kakinya yang titpis, lebar dan memekar, bertelanjang menjejak aspal yang mulai panas.

Di depan rumahnya menunggu anaknya. Nongkrong di warung sambil merokok dan minum kopi. ”Hari ini gue pengen makan kepiting, Mak!”

Perempuan itu diam. Diam sediam diamnya batu yang tetap diam terkikis air. Yang hanya diam dikerayapi lumut. Membisu di bawah telapak kaki anjing.

Lalu ia berdoa. Sebuah doa yang sederhana. Ia berdoa, agar banyak orang yang mati hari ini. Lebih banyak dari kemarin. Agar bunganya laku. Agar anaknya bisa makan kepiting.

January 29th 2009