Tuesday, January 31, 2012

Ibu tidak boleh sakit


Ibu.


Hari ini aku berada di rumah. Padahal, tidak biasanya aku berada di rumah. Biasanya aku pergi ke kantor meninggalkan buah hatiku di rumah. Tampaknya, berada di rumah masih menjadi hal yang mewah untukku dan ternyata aku masih belum bisa menebusnya. Masih mimpi. 


Giliran aku berkesempatan ada di rumah, seperti hari ini, adalah ketika aku terpaksa harus berada di rumah. Kali ini karena sakit. Sedih sekali rasanya. Saat kesempatan itu ada, namun aku tidak memiliki tenaga untuk bisa berfungsi sebagaimana seharusnya. Tidak bisa menggendong satelitku karena lemas. Tidak bisa bermain karena terlalu lama berdiri pun aku sakit kepala. 


Cucian piring bertumpuk sebanyak tumpukan dedaunan di halaman. Mataku sepat melihatnya. Tapi apa daya tenaga terbatas. Ingin makan ini ingin makan itu, tapi berdiri menunggu jerangan air pun rasanya lemas. 

Sedih. Akhirnya aku tertidur menelan pusing. Mengusung mimpi yang masih terkungkung.


Anak.


Aha! Bunda ada di rumah hari ini. Aku senang sekali, tralala trilili… gembira hati ini. Biasanya bundaku pergi ke kantor. Akhir bulan, dia membawa uang untuk sekolahku, untuk susuku, untuk mainan-mainanku, dan untuk pupur dan gincu-gincunya. Tapi hari ini Bunda ada di rumah, asyiiiiiik! 


Oh, aki membisikkan sesuatu ke telingaku. Katanya Bunda sakit. Tapi aneh, tidak ada luka di tubuhnya. Sakit apa memangnya Bunda? Tampaknya ia masih bisa berjalan, masih bisa bicara, masih bisa bernyanyi walau suaranya pelan. Ah, Bunda tidak sakit ah. Mumpung Bunda ada di rumah, aku ingin bermain dengannya. Ingin dimasakkan spaghetti kesukaan dan pancake bertabur gula. Aku ingin dimandikan, aku ingin semua-mua dengannya, mumpung Bunda ada di rumah. Karena besok-besok, ia akan pergi ke kantor lagi. Tapi lagi-lagi aku ingat, kata aki bunda sakit. Aku harus hati-hati, aku tidak boleh ini itu untuk sementara waktu. 


Sedih. Akhirnya aku pun tertidur di sampingnya sambil mengesampingkan keinginanku. 

When life is less

When life is more.

More than complaining about how you missed the midnight sale, or the iPhone 4s ridiculous price in Indonesia, or Jakarta’s traffic, or your meeting journey the whole day, or pencitraan on twitter, or your failed diet, lifestyle coffee and gym, or more than thinking of how to escape routines and problems.

When life is less.

Less judgemental, less wanting, less expecting. 

I miss those.

Friday, January 27, 2012

A love letter


I used to write love letter to you, everyday. 
Maybe because that was all I could do. 
Then imagined the existence of you.
If I lucky, 
I would met you in my dream or had a slight vision of you.

Now, there are so many things I can do with you.
And I miss writing you again.  

But how can I write?
Letter H becomes a 'hug', 
U becomes 'us' 
and letter G becomes 'giggles' that can’t stop bursting from your lips.

How can I?

Wednesday, January 25, 2012

babble ramble #1401

What is with falling down.
Can you avoid?
Or the question should be:
Should you avoid?

Why didn’t you let the wind tore you apart
Why didn’t you let your out loud scream choked you
Why didn’t you let yourself lost your senses
and let the hamster in your brain runs backward; giving you sceneries of the darkest nights

Isn’t nice to follow the gravity?
Isn’t it nice to think nothing but the deeper ground?

Crash. Crushed. Cursed.
Die.
Dust.
Naught.
It’s what you were, until you start over.

babble ramble #1801

when you feel someone you love is hurting you, these might be the reasons why.

that they don't know what they're doing
or
they are doing things what they thought they have to do.

and someday, you would do the same thing too. can be to them or to other people you love. having said that, knowing all reasons might help us to understand. therefore, to forgive.

Tuesday, January 24, 2012

Malicca's first line

I am not english native, but I try to introduce english to my son.
Today, January 24th 2012, I heard his first line on the age of 4 years and 8 months:
"Malicca tummy is full."

Amazing how kid's brain connect things, including a sentence.

:)

Thursday, January 19, 2012

Empat belas tahun

Apa arti empat belas tahun? Dalam bentuk apapun, empat belas tahun tidaklah tergolong tua dan dewasa. Tapi tetap, sebuah waktu yang lama.

Jika ia menjelma menjadi sebuah pohon, batangnya tentu tidak terlalu besar untuk menahan badai. Tapi ia telah menemukan bentuknya dengan cabang-cabang utama yang menjulang ke atas dan ke samping mencari cahaya. Batang-batangnya lentur namun kokoh menopang bocah-bocah berayun. Dedaunannya menghijau. Kalau beruntung, ia telah berhasil menghasilkan dua atau tiga panenan. Untuknya, usia empat belas tahun mungkin belumlah apa-apa.

Lain lagi dengan anak ABG umur segituan. Lagi bau-baunya, lagi centil-centilnya, lagi pengen tau urusan orang dan kadang hal yang seharusnya belum tahu pun bisa jadi tahu. Baru mulai tumbuh bulu-bulu halus atau tonjolan-tonjolan di bagian tertentu. Usia labil tapi pengen eksis. Pengen eksis, tapi tertutup semua-mua dikasih password. Masa-masa ‘hayu ajah!’ Diajak nonton, hayu. Diajak bolos, hayu. Diajak nonton bokep, … apaan tuh? Hayu’ lah! Masa-masa yang bikin kangen karena saking bebasnya.

Bagaimana jika ia terjelma dalam sebuah botol anggur merah. Terdistilasi selama empat belas tahun. Matang. Dengan rasa manis dan sedikit pahit, paduan simfoni rasa yang siap hinggap di ujung-ujung syaraf indera pengecap. Merahnya menua. Tidak memabukkan, tapi mungkin akan membawamu pelan-pelan ke sebuah alam yang lembut lalu perlahan matamu pun menutup.

Bagaimana jika ia hadir dalam sebongkah awan? Dari sejak empat belas tahun lalu hingga sekarang warnanya tetap sama. Tetap lembut. Tetap menghiasi latar langit yang kerap kali sendiri. Yang tetap lucu dan tak tersentuh. Yang telah milyaran kali berubah bentuk dan berlari berarak-arak mengelilingi matahari. Awan yang selama empat belas tahun telah menjadi saksi bisu apa yang terjadi di bawah dan di atasnya.

Dalam empat belas ribu kilometer, ia adalah asteroid yang hampir mengenai bumi dan itulah jarak terdekat planet tempatku berdiri dengan sebuah benda langit.

Aku, memilih kamulah empat belas tahunku. Yang pernah hilang, terlupakan, terabaikan, namun akhirnya kembali. Pun serpihan yang hilang terserak dimana-mana dalam perjalanan empat belas tahunmu, jadi tak ada artinya dengan hadirmu hari ini.

Tuesday, January 17, 2012

Now and Then

Little did I know about having a child (or more), is that the more they grow up the more hard-working the parent needs to be. 

When I was pregnant and hoped to give birth soon. After I gave birth, I got cranky I needed to breastfeed anytime anywhere. I complained I needed to wake up 4 or 5 times in the middle of the night. I hoped he would start weaning soon. After he reached 6 months and started eating solid foods, I got cranky for I needed to prepare his meal in three different menus for breakfast, lunch and dinner. Not to forget, some snacks. After that, I hoped he would walk soon. After he walked, I started cranky because I was too tired to catch him. And I hoped he would go to school soon. After he reached the school age, I started to wonder why there are so many more I had to do. I needed to wake up way earlier, prepare his lunch box, prepare his school projects and performances, birthdays, class party, parent-teacher meetings and much much more. 

There. There I wondered, why did I wish everything to move faster? Life was so much simpler when he was in my womb. He listened to me, he ate what I ate without complain, he never say no. On the breastfeeding era, wasn’t my life was way simpler as well? I didn’t need to cook, let alone of thinking what menu. Everything he needs is here, on my chest. Every time he gets hungry all I needed to do was unbutton my clothes and there, he would find his heaven in a heartbeat. By the time he was sleepy, he could sleep in my arms for he weighted no more than 10 kilos and I could just bring him anywhere I go. 

Imagine when he becomes ABG and smelly, college student and rebellious, wants to work as something people never knew before but doesn’t know what it is. Imagine the time when he is able to do everything I fuss about today. The time he would be able to overcome what I am worrying now and there will be so much more to worry about. 

Then I asked my self, again, why couldn’t I just enjoy the now moment? Now is way simpler than the future.

Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through ...