Tuesday, September 29, 2015

01:39 am


just went down the stairs to see him.
kinda miss my guy.
but of course, i have that big pride to say it *palm face*
and so i brought him a bowl of apple and warm toast with melted cheese inside.
i saw him sipped the ginger tea i made for him previously.
he has been working late.
much as always.

before our life now, i ever had a dream of us.
that we sat together on a couch.
me busy watching the telly and he got busy with his laptop.
as what is happening now.
i had those dreams (literally) a lot back then.
me and him.
as our path united, the dreams started to fade and becomes reality.
he was obviously the antidote.
he keeps my astral. he keeps me sane and throw away my anxiety when i sleep.

he is one of the passionate person i know.
he knows what he wants, full of determination but has a great faith of destiny.
when he fails, he just stops to start again.

he waited me for fourteen years.
the only thing if i ever have to repeat life, this is the thing i don't want to.
even if it is the last thing to do.
too much coincidence in fourteen years that we neglected.
too busy with the mind, we cannot read the signs.

but we are together now.
even though sometimes, this mushy feelings were killed by responsibilities.

maybe,
one day.







Thursday, September 24, 2015

The horrifying era.

Akhir-akhir ini, sering kepikiran soal masa pensiun. Saya bekerja sekitar 13 tahun. Kalau dihitung usia pensiun dari umur 55 dan saya hidup sampai umur 80 tahun, berarti ada 25 tahun masa pensiun yang harus saya biayai. Itu kalau saya berhenti bekerja di umur 55. Karena saya berhenti bekerja di umur 34, maka jumlah tahun tidak produktif saya menjadi 25 ditambah 21 tahun.

Yep, 46 years in total.

Tinggal berdekatan bersama orang tua yang sudah belasan tahun pensiun, sedikit banyak membuka mata saya. Hidup di usia tujuh puluhan dan bersahabat dengan suplemen. Melihat anak-anak beranak pinak dan ikut memikirkan masalah mereka yang semakin pelik; lebih pelik daripada memikirkan mau memilih sekolah dimana saat mereka kecil dahulu. Kebosanan yang amat sangat ketemu pasangan terus menerus dan berdiam di rumah berzaman-zaman (bukan lagi berjam-jam). Belum lagi perasaan sensitif karena post-power symdrome, jadi melihat segala sesuatu termasuk kritikan menjadi negatif dan menyalahkan diri sendiri. Atau perkembangan di sisi lainnya, menjadi lebih patronistik dari sebelumnya.

Oh, I don't know whether I can handle those.

Kalimat 'Semua sudah ada takdirnya' terkadang memang menenangkan. Tapi seringnya, menghanyutkan. So still, they got me thinking. A lot.

Bekerja itu selalu baik. Selalu. Karenanya setiap main job atau side job harusnya bisa dipikirkan untuk menjadi bekal saat tua. Usaha apapun yang kita lakukan hari ini, walaupun kecil, seharusnya bisa jadi celengan utuk masa depan. Kadang hal ini juga yang jadi tendangan buat saya saat malas mengaduk caramel. Karena, masih sangat tergantung mood dan memanjakan keadaan saat saya sedang tidak memungkinkan untuk mengaduk gula.

Tapi ya gitu deh, seringkali kata MALAS memang menjadi raja. Selalu, bukan?

Kemudian saya juga berpikir tentang pentingnya menemukan hal yang kita sukai dan bergabung dalam sebuah komunitas. Supaya ada celah venting-out kala kita berusia tujuh puluhan dan memiliki pikiran 'hidup ya gini-gini aja' ... alias ... bosaaan.

Saya masih ingat sebuah kejadian beberapa tahun lalu saat masih bekerja. Di sebuah makan siang, ramai-ramai sama teman-teman. Tiba-tiba, datanglah seorang ibu yang ternyata ibu dari teman saya yang memang janjian untuk ketemuan di restoran itu. Dan tiba-tibanya lagi, tahu-tahu kita semua ditraktir sama ibu teman saya itu. Saya langsung salim. Kontan ibu itu jadi salah satu idola dalam hidup saya. Saya ingin menjadi seperti dia. Di saat yang sudah renta, masih bisa masuk sendiri ke restoran; ikut ngobrol sama teman-teman anaknya dan mentraktir mereka seperti beliau mentraktir anak-anak kecil di McD.

Yes, that power.

Kebayang gak sih kita ngejalanin masa tua tanpa kekuatan itu (lagi)? Tanpa power untuk sehat? Tanpa power to finance ourself (and our loved ones)? Tanpa those small treats, not necessarily a big vacation trip? Trus kita hanya hidup meratapi diri dan menerima belas kasihan anak-anak yang menghidupi kita? Then how can we earn that power if we do not start it from now? Damn, ... gue benci deh sama kata satu ini: investment! Tapi memang sehat dan uang itu adalah masalah investasi *nangis di pojokan*.

And me being me, yang setelah menulis ini bakal kembali menjalani hari dengan biasa aja, berbisik doa buat masa pensiun nanti.

Semoga saya diberi rasa syukur yang besar akan setiap rezeki yang saya dapat. 
Semoga saya tidak menjadi sensitif dan masih dapat berjiwa besar sekalipun dihidupi anak. 
Semoga saya diberi kemampuan untuk legowo atas semua hal yang pernah saya punya dan kini tidak ada lagi di hadapan mata (dan di dompet, tentunya).

Amin. 









Wednesday, September 23, 2015

Those who took swimming lessons, for dinner

I think,
one of the bless for a wife is to have a husband who will eat anything she cooks for him.
Imagine if you have to take another complaints after hours of cooking and clean up all the dirty utensils after you cook. What even more hurting is when he doesn't touch the food at all.
Aw, it is so rude!

Since Ariawan changed his eating habit to food combining, I must say that I am a little bit out of hands. Morning is easy. Lunch is a bit tricky. But dinner, is the hardest part because I need to vary my recipes of cooking animals. The two legged animals are boring, the four legged animals are hard to bite (because I don't have pressure cooker) and those with fins are smelly.

I managed to bake the fins tonight, anyway. Tasted so so, hubby and kids did not look excited but they ate it anyway. Need to try harder next time.


Garlic, pepper, lemon, honey

The cuttlefish are good, however.


Thank you, universe!

Having a house is a forever commitment. After ten years, we finally managed to have a kitchen and dining table just as we wish for it to be. The colour, the organizing (yes! I managed myself to declutter all those stuffs!) the stool and the dish dryer rack I have been searching for quite sometimes; I found it in coincident.

It five boxes out to declutter.
I am proud of myself how I can live less in the kitchen.
I am happy.

Suppa happy!





Sunday, September 20, 2015

The one that is so me.

Kinfolk. What Kinfolk?
My house is so way way way out of monochrome.
Sometimes I wanted its kind of style. But real life gives me much colors. That means drawings of my kids and the wall for them to show off.

I cannot stand 'cold' and 'clean' settings.
I think it is not ... organic.
It is so ... pretentious.

The house I am living now, a bestie said that it is so me.
Oh well, ... who else can it be?
Hubby always say, do whatever you wish for them to be.


Every corner is kid's corner

I always love warm and unexposed lighting

Express yourself #madonna

Our family picture

Sunday, September 13, 2015

This is my boy!


I am a blessed mother. 
Sometimes I am afraid that it is too much and I will expect so much more. 
Sometimes I am afraid I cannot bear the disappointment. 

I am raising such a gentle boy. 
The one who communicates really well since he was a toddler. 
The one who took care of me really really well when there was no one but just the two of us. 
The one who seals my mouth when he was being sarcastic, ... he got it from me. 

God knows how much the love I have for you. 



His poem last week

His poem this week

A little not in front of my door as he went off to school


Akhirnya, saat itu datang juga.

Kali ke dua mencoba menyapih Luna. Malam ini tepat malam ke tujuh Luna bisa bobo malam tanpa nenen. Perlahan mulai hilang crankynya, walau masih kebangun tengah malam mencari sudut kenyamanannya di dadaku.

Ternyata benar, menyapih itu butuh kekuatan dan keberanian bagi keduanya. Like it takes two to tango, masing-masing saling menguatkan. Terima kasih pada alam, yang membuat semua ini terjadi. Karena kalau enggak ada edisi muntah-muntah lagi seperti Juli lalu; mungkin saat ini Luna masih nenen juga.

Aku enggak pernah nge-set timing kapan Luna harus berhenti menyusu, karena seperti yang pernah aku ceritain di sini beberapa bulan lalu; kegiatan ini sama-sama menyenangkan buat kita berdua. Jadi mau sampai 3 tahun atau 4 tahun pun aku enggak keberatan. Tapi, terima kasih sama dokter rossie yang mengingatkan, kalau umur 3 tahun fase oral harus sudah selesai. Itu artinya, fase nenen dan coba-coba semua masuk ke mulut udah harus selesai. Luna sudah harus bisa dididik untuk berhenti itu semua. Plus, toilet training. Wah, ... tugas yang berat untuk umur 2 tahun ya.

And I am so proud, my baby girl is getting through them so very well. Kalau mau ke belakang, udah bilang dan langsung lari sambil copot celana sendiri. Walaupun masih suka ketuker mau poop atau mau pee. And for the weaning part, ... it is gorgeous.

Betapa hebatnya masa menyusui, namun enggak kalah hebat juga masa-masa menyapih. Setelah seminggu ini disapih, mamnya makin lahap dan semua mau dicobain. She gained another 500 grams within a week. Dan yang paling signifikan adalah, dia makin berani mengeksplorasi lingkungan sekitar. Bangun tidur sendiri, buka pintu dan mencari sendiri dimana ibunya. Kalau dibawa ke tempat umum pun dia sudah mau jalan-jalan sendiri dan menyapa orang-orang asing. Mau bobo pun sekarang mau di sekitar bubunya instead of under my armpit hehehe.

So what are the tips for this lovely weaning with love?
1. Understanding. Understand that both mom and kid needs time and follow your motherly intuition to notice which time is the right time.
2. Talk talk and talk. Give her understanding in a way she understands. Di kasus Luna, kayanya anaknya tipe benefit oriented. Jadi, daripada aku kasih tau dia soal sekarang udah gede dan anak gede enggak menyusu lagi; aku kasih tau dia kalau menyusu takutnya akan muntah-muntah lagi (dan memang itu kejadiannya, bukan bohong) ... and it works.
3. Load some more lots of activities to distract her from thinking of leyeh-leyeh sambil nenen
4. Introduce more variants of taste and textures to the tongue.
5. Some 'old school' tricks like putting band aids or even lipstick to your breast might needed, never be ashamed or feeling guilty just because of that.

And it's all folks!


Put up lots of activities ... 


... I mean LOTS!!! 

These are the series of persuading face 'Minta Nenen' 



Friday, September 04, 2015

Egos down

Nini cerita, sepulang sekolah tadi Aki langsung memeluk Titan.

"Titan, aki minta maaf ya semalam marah-marah ngajarin Titan. Abis Titan sih, kalau diajarin tuh yang fokus dong. Titan maafin aki, enggak?"

"Iya Ki, Titan maafin aki kok."


Selang beberapa waktu kemudian ... 


"Bunda, Titan udah temenan lagi sama aki."

"Oh ya?"

"Iya, aki sudah minta maaf sama Titan."

"O gitu, bagus dong. Trus Titan maafin enggak?"

"Iya dong, masa orang udah minta maaf enggak dimaafin."


Men of my life. How I love them. 



Wednesday, September 02, 2015

A gentle reminder


Seringkali kita berdoa meminta kemudahan, 
tapi kita lupa meminta kekuatan untuk melaluinya.
Seperti halnya kita sering berdoa agar diberi petunjuk, 
tapi kita lupa berdoa untuk diberi kemampuan 'membaca' petunjukNya. 



Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through ...