Friday, May 23, 2014

It's time for some manners

dulu, awal-awal saya jadi freelancer dan sebelum luna lahir, saya dan titan emang suka jalan bareng berduaan aja. entah itu ngemall, minum kopi sehabis pulang sekolah atau sekedar belanja bulanan atau mingguan ke supermarket. setelah sekian lama absen dari nge-date berduaan, tadi malam akhirnya kita kesampean lagi untuk jalan bareng. sayangnya, tujuannya ke tempat yang rada enggak enak: rumah sakit, karena saya terkena radang telinga hanya gegara keisengan mainan kilikan kuping yang terbuat dari bulu burung dara hasil mungut di halaman.

tapi bukan sakit telinganya yang pengen saya ceritain, melainkan cerita tentang titannya. entah kenapa, kalau pergi berduaan dia tiba-tiba dia jadi gentleman banget ngejagain bundanya ini. kaya semalam yang tiba-tiba turun hujan saat kita mau pergi. saya memang masih rapi-rapi, saat titan bilang gini:

nda, titan ke rumah nini dulu ya. nanti kalau bunda sudah siap, panggil titan aja nanti titan payungin.

it is okay, nanti bunda lari aja ke rumah nini trus kita berangkat. okay?

no no, kalau gitu titan di sini aja nunggu bunda, trus kita payungan bareng ke rumah nini.

lho, kenapa?

it is raining. i won't let you to get wet by running around to nini's house

how very nice of you, nak. oke bunda cepet-cepet deh rapi-rapinya ya.



*bunda is blushing*


di perjalanan, kita ketawa-ketawa dan ngobrol panjang x tinggi x lebar sampai lupa ngebahas apa. entah kenapa kalau berduaan aja; saya lebih bisa menempatkan diri jadi temannya ketimbang jadi emak bawel hehehe.

di kesempatan kaya gini, biasanya saya juga 'mengisi' titan. karena dia kalau jalan masih pecicilan, kemarin saya minta dia untuk jalan seperti laki-laki.

"walk like a man. spine up, chin up and walk beside your woman. not in the front, not at her back." 

dia mencoba mentaati kata-kata saya, tapi segera pecicilan lagi setelah melihat gerai donat.

*phewww... boys will be boys*

puncaknya, adalah ketika kita nunggu obat. di samping saya duduk seorang laki-laki yang sudah berumur. tiba-tiba titan menghampiri saya sambil berkata "bunda, is he chinese?"

*dueng! kalo di film kartun, kaya pengen ngeluarin martil balon besar dari dalam tas buat noyor kepalanya titan. atau melesep ke dalam tanah juga boleh.*

karena dia terus bertanya (dengan suara agak keras), akhirnya saya berkata
"nanti ya, bunda jawab kalau kita sudah di mobil."
"Oke!" Katanya senang.

Sampai mobil, dia langsung mengingatkan saya. tapi pertanyaannya berubah.

"Bunda, I already know that the old man is chinese. tapi kenapa bunda ngebahasnya harus di mobil?"

Akhirnya, sambil nyupir saya bilang gini.

"Titan, ada beberapa hal yang tidak boleh dibahas di depan umum. tepatnya, tiga hal. bunda kasih tau ya; apa aja tiga hal itu. pertama, ras manusia. manusia itu banyak jenisnya; ada orang cina yang matanya sipit. ada orang bule yang kulitnya putih, matanya biru dan rambutnya pirang. ada orang negro yang warna kulitnya hitam sehitam-hitamnya. itu namanya ras. nah, kita enggak boleh ngomongin soal ras di tempat umum. kenapa? karena ras itu sifatnya fisik. coba titan inget-inget. mata, warna kulit, warna rambut, semua itu fisik kan? nah, kita enggak boleh membahas tentang fisik orang lain; karena itu bisa menyinggung perasaan mereka."

Titan ngangguk-angguk.

"ke dua, agama. sangat enggak sopan bertanya ke orang lain "agama kamu apa?" atau kalau kita udah tau dia agama islam, kita tanya-tanya ke dia "kamu sholat enggak? kamu zakatnya berapa?" nah, agama itu urusannya sama allah, kita enggak boleh urusan sama agama orang.

Emangnya kenapa, Nda? Titan suka ngebahas di sekolah siapa yang christian, siapa yang budhist, temen-temen titan enggak papa tuh.

iya, tapi kalau masih kecil kan biasanya nanyanya tanpa maksud apa-apa. kalau sudah besar, seringkali nanya soal agama itu jadi sensitif. orang jadi merasa enggak enak ditanyain tentang agamanya.

iya, tapi kenapa?

karena, enggak semua orang menjalankan perintah agamanya. dan biasanya, kalau ketahuan enggak menjalankan perintah agamanya, jadi merasa malu. kalau kita tanya-tanya trus ternyata pertanyaan kita bikin orang lain merasa malu atau tersinggung, kan enggak enak. iya kan?

o, gitu. jadi enggak boleh karena takut malu ya.

saat itu saya mau meralat lagi, tapi untuk di tahap ini biarlah itu yang dia mengerti.

nah, yang ke tiga, tentang disabilities atau ketidakmampuan orang. misalnya, ngebahas orang yang enggak bisa lihat, enggak bisa ngomong, enggak bisa jalan, di depan orangnya. nah, itu juga enggak boleh ya. kenapa? karena bisa membuat orang tersinggung dan jadi enggak enak juga. Okay?

ooo ya ya ya, titan ngerti sekarang.

good boy! sekarang kita sudah sampe, boleh tolong buka pintu gerbangnya?

Oke, Bunda!

sembari nunggu titan buka pintu gerbang, saya jadi mikir. para ahli di luar sana itu pintar sekali ya, dan mereka bener banget kalau di usia tujuh tahun itu anak melompati sebuah milestone yang sungguh pesat. dan itulah sebabnya, di saat umur tujuhlah kita harus mulai bisa menanamkan bibit empati, logika dan sopan santun kepada anak-anak. karena pada saat yang sama, mereka mulai mengerti hal-hal yang abstrak, yang tidak mereka dapat di masa-masa penjelajahan di tahun-tahun sebelumnya.

Oh no, welcome school years!
*pukpuk diri sendiri*


It's time for some manners


No comments:

Post a Comment

Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through ...