Skip to main content

Bukan berarti




Alhamdulillah. 

Cuma itu satu kata yang bisa aku ucap hingga pagi ini, masih bisa memerah susu dan jumlahnya semakin banyak (ah, macam Cimory aja jadinya). Freezer pun hampir penuh. Udah nggak muat lagi to be exact, karena laci yang tengah ternyata kurang tinggi dikit untuk ukuran botol asi. Jadi harus pakai plastik asi. 

I used to be one of those militant asi mommy. Every mother designed to breastfeed, no excuse. Sempet cynical sama ibu-ibu yang keliatannya sehat fisik dan sehat finansial, tapi lebih memilih untuk memberi susu formula untuk bayi-bayinya. Tapi ternyata bukan cuma itu, aku juga cynical sama ibu-ibu yang dari kelas sosial menengah bawah dan memberi susu anak pakai botol (yang tentunya isinya susu formula dong ya, yang harganya mahal dan komposisinya tidak sebaik susu asi). 

Intinya, I got cynical to all kind of non-breastfeed mommies. 

Sekarang, aku tetap berusaha yang terbaik untuk bisa ngasih asi exclusive lagi. Kalau bisa, sampai dua tahun malah. Tapi kesadaran untuk tidak lagi menjadi ibu militan justru datang bukan dari soal asi ini. Tapi dari tren baru perbayian: cloth diaper. Nama kerennya clodi. 

Awalnya aku juga nggak ngerti apa itu cloth diaper atau popok kain. Karena aselik deh, jenisnya banyak banget. Ada yang fleece, ada yang pocket, ada yang microfiber, ada yang bamboo, ada yang pull ups pants, ada yang button, ada yang snaps, ... binguuuuung! Sampe akhirnya aku beli satu biji di Suzana, itu pun ternyata setelah dipakai beberapa kali baru ngeh ternyata pakeinnya salah. Thanks to YouTube clodi tutorial. 

Lalu aku mulai terekspos dengan penjual-penjual clodi online di Facebook. Merambah ke forum-forum mommies. Tapi kok ... kemudian mulai terasa nggak enak. Karena ibu-ibu ini tiba-tiba menjadi judgemental dan tiba-tiba aja mereka merasa jadi pencinta lingkungan yang super hebat hanya dengan memakai cloth diaper. Ya iya sih, ngerti banget berapa jumlah pohon yang bisa diselamatkan jika kita nggak pakai diaper sekali buang. Ngerti banget, berapa banyak sampah yang bisa kurangi hanya dengan tidak memakai diaper sekali buang. 

Sayangnya enggak semua orang sadar bahwa segala sesuatu yang menjadi trend itu pasti berujung menjadi mahal. 

Bukan hanya barang, tapi juga filosofi. Pemberian asi eksklusif, misalnya. Gerakan asi for baby ini menggema dimana-mana tapi justru fasilitasnya malah menjadi mahal. Let's say pompa asi yang minimal harganya 800 ribu. Plastik asi yang harganya 40 - 198 ribu per 25 lembar. Belum lagi kalau asi membludak, harus beli freezer tambahan dan jangan lupa genset untuk jaga-jaga laga PLN yang suka ngambek. Ditambah coolbox dan blue ice buat mobile mommies

Nah, begitu juga dengan clodi. Kayanya ridiculous kalau harus mengeluarkan uang mulai dari 70 ribu sampai 270an ribu untuk sebuah clodi. Sehari bisa pakai 6 clodi. Walaupun bisa dipakai hingga berat badan 18 kilogram atau lebih, bayangkan modal yang harus dimiliki untuk memiliki 12 clodi yang bisa dicuci bergantian setiap hari. Itu baru dari sisi finansial. Sangat menohok kalau keadaannya seperti saya ini yang tidak memiliki pengasuh atau asisten rumah tangga. Sehingga harus cepat-cepat menyempatkan diri mencuci dan menjemur clodi supaya segera bisa dipakai. Apa kabar bayi yang nangis, rumah yang berdebu dan perut yang keroncongan kalau saya harus selalu melakukan cuci mencuci itu? 

Dari situ saya mulai berpikir, bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan dan berada di konteks yang sama. 

Menyusui secara eksklusif ataupun menggunakan popok kain yang ramah kulit dan ramah lingkungan. Siapa sih yang enggak mau? Kalau enggak usaha, itu lain soal. Tapi kalau sudah dicoba dan ternyata enggak memungkinkan, bukan berarti enggak sayang anak-anak kan? Dan enggak salah juga kan kalau setiap orang ingin mencari sesuatu yang tidak terlalu membebani diri. Tidak terlalu memaksakan? 

Segala sesuatu di dunia ini, yang bersifat material, apapun itu, semua berujung ke bisnis. Segala filosofi atau gerakan apapun, seringkali berujung pada kapitalisme juga. Pernah nonton Zetgeist? eh ini di luar konteks sih, tapi coba deh sekali-sekali download filmnya trus nonton. Mungkin harus juga tuh ibu-ibu militan nonton Zeitgeist

Menyusui dan membesarkan anak itu butuh keseimbangan jiwa dan kepala. Pun situasi yang menenangkan. Enggak perlulah ditambahin dengan beban-beban yang kita bikin sendiri harus begini dan harus begitu. Menyamakannya dengan si dia yang begini dan aku memilih untuk begitu. Ribet nggak sih? 

Ahhh, jadi ingat kata-kata Ariawan. 

"Kalau bisa, ya dikerjain. Kalau sudah dicoba tapi kayanya berat, ya udahlah enggak usah. Kalau cape, ya berhenti. Gampang, kan?"

Comments

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…