Skip to main content

Satu langkah lagi


Di bulan Juli ini, Malicca officially pindah ke sekolah baru. Well, only God knows how much I want him to get in to this school and only God knows what my efforts were to get him in. Konon, kata orang pada akhirnya kita akan mendapatkan apa yang kita mau. Hanya saja, kita mendapatkannya di saat kita sudah enggak menginginkannya lagi. Well, I guess God is very very kind to me. I got what I want right on time.

Pemilihan sekolah ini berdasar pada dua hal, kesepahaman konsep dan letaknya yang sama sekali tidak jauh dari rumah. Cuma 12 menit, coba bayangkan. Luxurious sekali kan, dibanding anak-anak lain yang harus bangun pagi buta untuk berangkat sekolah supaya tidak terlambat. Again, I am such a lucky mom.

Aku udah datang ke acara Open House sekolah ini sejak Malicca umur 6 bulan, lho! Saat itu memang aku lagi rajin-rajinnya survey ke sekolah-sekolah. Maksudnya sih, supaya tahu harus menabung berapa banyak saat Malicca harus masuk sekolah nantinya. Cuma untuk manage expectation aja, sekaligus juga mengenal kembali sistem pendidikan yang sudah jauh berbeda dengan jaman aku sekolah dulu.

Sebelum akhirnya sekolah di High Scope ini, Malicca sekolah di sebuah TK di deket rumah juga. Sekolah tawon, dia nyebutnya. Karena memang lambang sekolahnya gambar tawon dan dinding sekolahnya itu mirip sarang tawon. Cuma anehnya, dia enggak suka sekolah di sini. Setiap hari pasti datang telat. Enggak kira-kira, telatnya bisa sampai 1 jam! Kenapa? Karena ngebujuk bangun tidurnya aja udah setengah jam sendiri. Belum lagi, karena malas dan tidak suka; semuanya dilama-lamain. Belum lagi kalo mandek di gerbang sekolah enggak mau masuk. Aduuuh, stres banget deh kalau ingat saat-saat itu.  Tapi mau dipindahin juga tanggung. Saat itu memang aku belum tahu apakah aku nantinya bisa memasukkan dia di sekolah impian(ku) ini. Jadi, ... setiap hari harus sabar-sabar memberi pengertian dan aku juga pada akhirnya enggak terlalu memaksa Malicca untuk pergi ke sekolah. Alhasil, hampir setiap malam setelah pulang kerja bundanya ini harus mengajarkan ulang calistung. Thanks to phonic system dan Kumon yang mengeluarkan buku-buku panduan yang menurut saya sangat cerdas, akhirnya Malicca bisa mengikuti pelajaran di sekolah dan progressnya pada term ke dua di TK kecil sangat bagus. Dan akhirnya, dia naik ke TK besar.

Nah, di TK besar inilah Malicca mulai bersekolah di High Scope. Karena SD di sekolah ini dimulai dari TK besar. Setelah serangkaian trial dan ngobrol-ngobrol sama psikolognya (enggak ada test sama sekali), akhirnya Malicca bergabung dengan sekolah barunya. Aseli ya, deg-degan abis bundanya ini. Karena kalau ternyata dia enggak suka (lagi), aku sama sekali enggak punya back up plan mau disekolahin dimana. Sempet kepikiran home schooling sih, etapi kok ya ... walau aku senang mengajar, tapi kok ya ragu juga.

Akhirnya, tanggal 18 Juli kemarin Malicca officially mulai sekolah. Di hari pertama ini dia sempat tertidur selama kira-kira satu jam hahahaha.... Kaget kali yah, biasanya sekolahnya cuma sampai jam 11.30 sementara ini kan sampai jam 15.00. Ngapain aja anak TK sekolah sampai jam segituuuuu? Hahahaha... ternyata banyak sih kegiatannya. Tapi kalau ditanya "Hari ini belajar apa aja?" Jawabannya pasti satu: "Main, Nda. Enggak belajar." (Duh, serangan panik ke dua).

Lucunya, walaupun sekarang harus bangun lebih pagi dan pulang lebih sore, anaknya enjoy-enjoy aja sekolah. Kalau dulu, setiap malam dia selalu bertanya "Nda, besok sekolah ya?" "Iya dong." Jawabku. Lantas dia menghela nafas panjang sambil bergumam "Yaaaaah...."

Sekarang, dia masih bertanya sih. Tapi kalau aku jawab "Iya, besok sekolah." Jawabnya "Yeay! I like going to school!"

Ih, senang! Rasanya terbayar semua jerih payah pulang malam di tahun-tahun lalu dan stres-stres mencari sekolah terbaik untuk anak, saat kita tahu si anak menyukai belajar di sekolah. Kayanya, selesai satu PR besar dan  berhasil membuat satu langkah untuk masa depannya.

Insya Allah.

Sekarang, selain Malicca juga menikmati sekolahnya; aku juga menikmati saat-saat mengamati Malicca di sekolah. Teman-temannya, cara bermainnya, problem solving skill-nya. All in all, we are all happy. Yeay!


















as posted on Emaklicca.

Popular posts from this blog

Life. Just like what I wanted.

Sounds so snobbish ya, saying life is just like what I wanted. But then I realized, semua itu karena emang aku enggak pengen apa-apa. Sekarang juga (ternyata) masih begitu. Dulu emang I treat my life like a blue print. Things to do piling up my list and my aims were to accomplish them. Alhamdulillah, semua tercapai. Tapi kemudian seperti ada titik tolak dalam hidup yang bikin  berhenti ingin terlalu banyak dari hidup. Entah karena merasa udah cukup banyak pencapaian pribadi baik yang bagus atau yang buruk, entah karena pernah kecewa berat sama yang namanya manusia atau karena alasan klise yang digadang-gadang semua manusia: anak.

Sekarang ini, lebih banyak menyambut apa yang datang ke dalam hidup. Termasuk, kembali ke agency lagi. Having thought that I am not some kind of 'Man in a mission' kind of person. I am just an 'I will do my best' of what comes in front of me kind of person.

Gini ceritanya.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setel…

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through both and also had a chance of being a working-from-home mom, it is even more ridiculous for me. Only stupid have a time discussing it and to elaborate on their social media status. Whoever we are, what kind of mom we are, what matters most is how we can make our life productive and progressing. Every single day.

Different mom has different ways of being productive. Some goes to work. Some clean up and cook for the family. Some works at home by selling stuffs online or being a freelancer. Productive means to produce something. Be it money, the foods, you name them all. But the question is, is productive enough? How about having a progressing life? Not as the wife of Mr. Blabla or as the mom of kid Zubidudamdam. But us, as a person. Me, as Wury; a 38 years old woman and how far I have made progress in  my life.

BUT. Let alone of being progressive, ... ar…